Another Fairy Tale Story

.

.

.

Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp. Yang punya

Warning : Typo, mengandung banyak momen KaiMi.

Chapter 7

Hari 3, Rahasia kediaman Hatsune.

Normal POV

Akhirnya mereka bertiga mendarat di sesuatu yang empuk.

"Eh? Kenapa jatuhnya tidak sebegitu sakit ya?" Tanya Rin.

"Iya, malah sangat empuk.." Kata Miku.

"Kalau kalian baik-baik saja, bisakah menyingkir dari atasku, aku tidak bisa bernafas di sini.." Kata suara di bawah mereka, dan mereka akhirnya menyadari, mereka mendarat di bawah Len.

"Ups, gomen!" Kata kedua gadis itu hampir berbarengan dan kemudian menyingkir, sedangkan Len langsung bangkit.

"Apa-apaan tombol itu tadi, Miku, lain kali jangan tekan tombol sembarangan!" Marah Len, sementara Miku hanya menggaruk kepalanya sambil tersenyum 3 jari tanda bersalah.

"Sudah-sudah, kalau kau tahu tombol itu kau juga ingin menekannya bukan, Len?" Tanya Rin mencoba melerai.

"Tapi dimana ini? Miku kau tahu sesuatu?" Tanya Len sambil melihat ke sekeliling, sebuah lorong gelap di hadapan mereka.

"Ini mungkin rumahku atau rumah Rin, karena ada foto kami disana, tetapi ini milik siapa lebih tepatnya, aku tidak tahu, kalaupun benar ini rumahku, aku bahkan keluar dari rumah ini ketika berumur 3 tahun! Bagaimana aku tahu hal-hal di sini?" Tanya Miku. Rin pun mengangguk setuju karena Len juga menatap kepadanya.

"Baiklah, ayo kembali ke atas!" Kata Len mulai terbang dengan pengendalian anginnya, tetapi tangannya di pegangi oleh Rin.

"Aku penasaran akan apa yang ada di sini, ayo kita menjelajah dulu." Kata Rin. "Atau aku 'kendalikan' kau seperti Kaito?" Kata Rin dengan senyum yang mengancam. Mau tidak mau Len mulai berkeringat dingin dan mulai turun.

"I-iya, aku akan ikut berkeliling." Kata Len, Miku mulai mengeluarkan bola cahaya lagi dan menyorot lorong itu.

"Semoga saja di sana tidak ada kecoak." Doa Miku, akhirnya mereka mulai memutuskan untuk menyusuri lorong itu dengan Miku di depan, lagi.

Gakupo's POV

Begitu mendengar suara teriakan dari rumah di dekat tempat duduk kami, aku mulai siaga.

"Ada apa Gakkun?" Tanya suara manis di sebelahku, hime ku tercinta, Luka.

"Kau mendengar suara teriakan bukan?" Tanyaku, Luka hanya mengangguk.

"Kaito! Kau mau kemana?" Teriak Yuuma tiba-tiba, aku pun melihat Kaito sudah berlari menuju rumah yang terakhir di masuki Miku, Rin juga Len.

"Ayo kita ikuti dia!" Kataku, mereka akhirnya menyusul Kaito, akhirnya Kaito berhenti di sebuah lukisan besar. "Itu kan.." Kataku menggantung.

"Iya, foto Miku Hatsune dan Rin Kagamine ketika kecil dan kedua orangtua mereka." Kata Kaito, kemudian aku melihat lubang besar di bawah lukisan itu, sebuah lubang yang sangat besar lagi.

"Apa mereka jatuh kesitu?" Tanya Luka.

"Kita cek saja, ayo, turun dengan sulur ini." Kata Gumi sambil membentuk sebuah sulur untuk mereka menuruni lubang itu. Aku sebagai ketua yang baik turun terlebih dahulu dan melihat sebuah lorong yang sangat gelap.

"Apa mereka kesana?" Tanyaku.

"Kemungkinan, lihat ada 3 jejak sepatu masih baru, mereka pasti kesana." Kata Yuuma, aku kemudian membentuk tiga buah pedang dan memberikan kepada Kaito juga Yuuma, untuk berjaga-jaga kalau ada apa-apa di dalam lorong itu, aku juga menyalakan senterku sementara Luka mencengkram bajuku erat. Suasana di sini memang sungguh mencekam, kami menyusuri lorong yang memang hanya ada satu lorong disana.

"Lihatlah, bekas lampu dan listrik, pasti dulu di sini adalah tempat yang di gunakan." Kata Kaito sambil mengarahkan senternya ke arah langit-langit.

"Dari lukisan itu, apa ini rumah Rin dan Miku?" Tanya Gumi sambil mengingat lukisan besar itu.

"Tidak, kelihatannya orang elemen Matahari berkumpul di sini dulu dan membentuk sebuah perkampungan di sini, kelihatannya ini adalah rumah Miku." Kataku melihat begitu banyak lambang elemen cahaya di tembok lorong ini juga di rumah itu tadi. "Rumah Miku yang bahkan tidak di ketahui Miku sendiri." Tambahku.

"Ada pintu.." Kata Luka menyorot ke depan, sebuah pintu dengan tulisan abjad cahaya. Karena banyaknya elemen yang ada di dunia Voca ini, bahkan mereka membentuk desa tersendiri dan membuat abjad mereka sendiri sebelum dunia ini menjadi satu kesatuan dan menggunakan abjad yang lainnya untuk berkomunikasi, dan abjad ini adalah abjad yang di gunakan untuk para pengendali cahaya berkomunikasi.

"Hanya sang pengendali cahaya yang bisa melewati pintu ini." Bacaku, semua orang di sana kemudian kehilangan semangatnya.

"Yaaahh, tanpa Miku kita tidak bisa masuk dong.." Kata Yuuma yang kelihatannya benar-benar kecewa karena dia sungguh penasaran.

"Kata siapa tidak bisa?" Sahut seseorang barambut pirang madu sambil mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.

"Kyaaaa!/Gyaaa! Hantu!" Teriak semua orang di sana. Hingga akhirnya tiba-tiba saja mereka terbungkam oleh kekuatan misterius, kecuali Kaito yang tiba-tiba saja menampar mulutnya sendiri.

"Berisik, pintu ini memang hanya bisa di buka oleh pemilik elemen cahaya, tetapi kalau dari dalam bisa." Kata Rin yang kemudian di ikuti anggukan kepala mengerti dari yang lainnya, akhirnya Rin membuka lebar pintu itu dan melihat Miku yang menatap sebuah bola kristal sambil menangis.

"Kenapa dengan Miku?" Tanya Kaito.

"Begini kejadiannya.." Kata Len memulai cerita ketika Rin kembali menghampiri Miku yang menangis.

Flashback

Normal POV

Membaca tulisan di pintu itu membuat Miku mencoba membuka pintu itu dan terbuka, mereka kemudian menjelajahi isi dari tempat itu.

"Wah ruangan yang cukup besar!" Gumam Rin melihat ruangan itu sungguh terang dengan banyaknya lilin disana dan ruangan itu terlihat sungguh megah.

"Cahaya dari Miku telah menyalakan lilin-lilin di sini." Kata Len, kemudian dia melihat Miku sudah sangat asyik dengan sesuatu hal di sana, pantas saja, dia sudah 'pulang'.

"Eh bola kaca apa ini? Boleh aku sentuh?" Tanya Miku kepada Len dan Rin, Len hanya menghela nafas dan mengiyakan. Miku pun menyentuh bola kristal itu dan tiba-tiba ruangan meredup dan sebuah cahaya muncul di atas bola itu. Muncullah sesosok bayangan wanita dengan warna rambut sama dengan Miku.

"Miku? Apakah itu kau? Kau berhasil menemukan rumahmu kembali Miku.." Ujar wanita itu.

"Okaa-san?" Gumam Miku pelan, dia tahu wanita itu karena telah melihat lukisan itu.

"Kau pasti sudah besar sekarang Miku, aku dan ayahmu sungguh menyayangimu, maka dari itu ibu meninggalkan ini untukmu bila sudah pulang. Seperti yang kau lihat sebelumnya, ini adalah rumahmu Miku, okaerinasai." Kata wanita itu dengan senyuman bak malaikat itu.

"Ta-tadaima.." Kata Miku pelan, suaranya sudah bergetar menandakan dia menangis. Rin yang mencoba menghampiri Miku di pegangi pundaknya oleh Len, Rin menatap Len penuh tanya, sedangkan Len menjawab dengan gelengan kepala, bermaksud mengisyaratkan 'biarkan dia dulu'.

"Perjalananmu sekarang sungguh berat Miku, seperti yang kau lihat di desa, semua hancur karena Mage jahat itu, akhirnya hanya kita yang bertahan, tetapi sesuai kutukan itu, ibu dan ayah hanya bisa menemanimu hingga umur 3 tahun, setelah itu kami serahkan kepada Rugon-sensei untuk merawat kalian, tetapi mage yang baru tidak akan membiarkanmu selamat Miku, kau juga temanmu, Rin, kalian akan di hadapkan dengan petualangan yang mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan semua lambang musim itu, kau harus kuat Miku, ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, tidak perlu mengalahkan mage itu, tetapi cukup membuat mereka kembali tidak berbuat semena-mena saja, itu sudah cukup untuk mengembalikan kedamaian di sini, karena pada dasarnya kita hanyalah manusia yang di beri kekuatan oleh para Mage sebelumnya. Miku tolong jaga Rin baik-baik, sebagai tambahan, ambil buku di samping bola kristal ini dan jadikan itu panduanmu, juga ambil cincin di atasnya, di situ ada kekuatan ayah dan ibu, kalau kau mengenakannya, kau akan mendapatkan kekuatan dari ayah dan ibu, kami menyayangimu Miku. Tetaplah hidup untuk melihat kedamaian di dunia ini." Begitu pesan itu berakhir, bola kristal itu retak dan tidak bisa di gunakan lagi, seperti tidak boleh ada yang mengulang percakapan itu.

"Okaa-san!" Jerit Miku kemudian menangis deras dan Rin mulai memeluknya, akhirnya mereka berdua terjatuh terduduk.

Flashback off

Gakupo POV

"Oh jadi begitu, aku paham." Kataku melihat Miku masih menangis.

"Pasti berat bertemu orang yang belum pernah kita lihat." Kata Luka ikut bersimpati kepada Miku. Tiba-tiba saja Kaito berjalan menuju Miku dan mengeluarkan sebuah suara.

"Bisa tinggal kami di sini sendirian, aku sekaligus ingin meluruskan kesalahpahaman itu." Kata Kaito.

"Kaito ini saat yang tidak tepat." Kataku menahan tangan Kaito.

"Justru sekarang adalah waktu yang tepat Gakupo, kumohon, aku tidak betah melihat Miku menangis." Kata Kaito, akhirnya aku menyuruh yang lainnya untuk keluar dan membiarkan mereka memiliki waktu untuk berdua.

Normal POV

Kaito berjalan menuju tempat Miku yang masih menangis sambil terduduk itu, dia mengambil cincin dan buku itu kemudian berlutut di hadapan Miku dan mengambil salah satu tangannya, Miku yang merasa tangannya di pegang itu mulai membuka mata dan melihat Kaito lah yang memegangi tangannya, Miku mencoba untuk menarik tangannya tetapi tidak bisa, hingga ada sebuah cincin berbentuk lambang cahaya bersemat di jari tengah tangan kanan Miku.

"Itu adalah cincin peninggalan ibumu bukan? Pakailah, maka ibumu juga ayah mu akan selalu dekat denganmu." Kata Kaito sambil menatap mata sembab Miku.

"Hiks, kenapa kau di sini? Kalau kau mencoba untuk menyakitiku maka jangan sekarang." Kata Miku, Kaito hanya menghela nafas dan memeluk Miku. "Lepaskan aku, tunanganmu itu bisa terluka kalau kau terus bersamaku! Hiks!" Kata Miku mencoba melepaskan diri.

"Miku aku memang memiliki seorang tunangan." Kata Kaito yang membuat Miku jantungnya terasa di hujam panah. "Tetapi, aku sama sekali tidak mencintainya Miku, kalau aku bisa menentang ayahku, aku pasti akan memutuskan hubungan pertunangan ini, ada gadis lain yang sangat aku cintai." Kata Kaito masih tetap memeluk Miku, kini Miku merasa nyawanya terjabut mengetahui ada orang lain yang di sukai Kaito, bukan suka lagi, tetapi cinta.

"Kalau begitu, hiks, lepaskan aku, orang yang kau sukai itu malah akan menjauhimu.." Kata Miku menggantung, Kaito kemudian tertawa pelan.

"Apa ini hanya aku, atau kita pernah mengulang hal ini sebelumnya? Orang yang ku cintai adalah kau Miku! Maka dari itu tetaplah bersamaku!" Kata Kaito semakin mempererat pelukannya.

"Kau tidak bercanda kan?" Tanya Miku terkejut.

"Sayangnya tidak, aku tidak bercanda soal ini Miku, tunanganku boleh merebut status 'tunangan' darimu, tetapi kau adalah pemilikku sepenuhnya Miku. Aku mencintaimu Miku." Kata Kaito, mau tidak mau Miku yang mukanya menempel di dada bidang Kaito bersemu merah.

"A-apa buktinya kalau kau benar-benar mencintaiku?" Tanya Miku, Kaito kemudian melepaskannya dan mengusap airmata terakhir dari Miku dengan kedua ibu jarinya kemudian mengecup kening Miku, tiba-tiba saja tubuh Miku terasa sungguh hangat dan nyaman, kemudian sebuah suara ada di dalam pemikirannya.

'Apakah kau bersedia untuk menjadi pendamping hidup Kaito Shion selama hidupmu hingga kau mati?' Kata suara itu.

'Ya.' Entah kenapa batin Miku menjawab 'Ya' pertanyaan itu. Kemudian rasa terbakar berada di pergelangan tangan kanannya yang bagian dalam, dia pun mengaduh dan melihat ke arah tangannya yang ada rasa terbakar itu, sebuah lambang bersemat disana, Kaito pun menyudahi ciumannya.

"Heran yah dengan tanda itu? Aku juga memilikinya yang sama." Kata Kaito menunjukkan tempat yang sama seperti milik Miku.

"Ta-tanda apa ini?" Tanya Miku khawatir dengan tanda di tangannya itu.

"Jangan khawatir, itu adalah tanda bahwa kita tidak akan bisa terpisah apapun yang terjadi, sebuah tanda pengikat, bila kau mati, maka aku juga akan mati, kita tidak akan bisa terpisahkan, sejauh apapun aku pergi darimu, aku pasti akan kembali untukmu Miku. Dan tanda ini hanya bisa di buat sekali seumur hidup." Kata Kaito, tiba-tiba saja Miku merebak matanya. "A-ada apa Miku? Apa prosesnya menyakitkan?" Tanya Kaito.

"Tidak, hanya saja, aku sungguh senang, Arigatou Kaito!" Kata Miku.

"Ini, kalau kau ingin mengalahkan para Mage itu, maka pelajari lah isi buku ini seperti nasihat ibumu." Kata Kaito menyerahkan buku itu kepada Miku dan di terima dengan senang hari oleh Miku. "Ketika kau mengingat orangtuamu, maka mereka akan dekat denganmu, kalau kau kesepian kau bisa datang kepadaku." Kata Kaito dengan hangatnya.

"Kaito, kau tidak sedang di kendalikan Rin bukan untuk mengatakan ini?" Tanya Miku sedikit curiga.

"Kalau aku tidak mengatakannya dengan tulus, tanda itu tidak akan terbentuk Miku, sudah ayo kita temui yang lainnya, mereka pasti menunggu kita." Kata Kaito sambil menarik Miku berdiri, mereka pun keluar dari lorong itu dan Miku mengucapkan selamat tinggal kepada rumahnya.

"Jadi mari kita lanjutkan perjalanannya?" Tawar Gakupo, semuanya pun mengangguk, sementara Kaito tiba-tiba saja menarik Len, Gakupo, dan Yuuma menjauh. "Semuanya tunggu sebentar yah di sini." Kata Gakupo sebelum pergi.

"Memang apa saja yang kalian bicarakan selama di sana?" Tanya Luka kepada Miku.

"Hanya meluruskan kesalah pahaman saja kok." Kata Miku sambil tersenyum.

"Akhirnya kau mulai melupakan anak sialan itu Miku." Kata Rin sambil menggosok kepala Miku.

"Jangan begitu nee-chan." Gurau Miku, Rin yang merasa di panggil Nee-chan itu hanya tertawa.

"Ayolah, aku tidak ingin Nee-chan juga bersedih terus." Gurau Rin, Miku juga ikut tertawa.

"Miku, gomenasai kalau kemarin aku membuatmu bersedih." Kata Gumi masih merasa menyesal.

"Gumi, kau tidak salah apa-apa kok, berhenti merasa bersalah seperti itu." Kata Miku sedikit dengan nada memarahi, akhirnya Gumi tersenyum.

"Baiklah, aku tidak akan merasa bersalah lagi, baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan!" Kata Gumi sambil berjalan kemudian ada tiga pasang tangan menghambatnya.

"Apa kau lupa, para laki-laki belum kembali! Kalau kita tinggal, nanti perjalannya jadi kacau Gumi!" Kata Luka, sementara Gumi hanya tersenyum tiga jari mengetahui kesalahannya.

Akhirnya para laki-laki pun kembali dan mereka mulai melanjutkan perjalanan, dan Len berjalan di samping Rin hingga membuat Rin sedikit memerah wajahnya, mengetahui hal itu Miku langsung meninggalkan mereka berdua.

"Eh Miku! Kau mau kemana!" Tanya Rin.

"Aku ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Kaito, kau di sini saja dengan Len." Kata Miku sambil berjalan lebih cepat menuju tempat Kaito, untuk memperjelas mereka selalu berjalan dengan formasi dari depan : Gakupo, Luka, Kaito, Gumi dan Yuuma berjalan beriringan, lalu Len, dan terakhir Miku dan Rin yang biasanya berjalan beriringan.

"Etoo.. Kenapa kau tidak kembali ke tempatmu saja di depan kami." Kata Rin malu-malu memulai percakapan.

"Aku hanya ingin berjalan di sini, entah kenapa, mungkin kau mengendalikanku untuk berjalan di sisimu?" Tanya Len sambil menatap ke arah Rin.

"Aku sama sekali tidak mengendalikanmu Tuan Kagime!" Kata Rin, sementara Len hanya tertawa.

"Yah, berarti itu keinginanku sendiri untuk berjalan di dekatmu Rinny." Kata Len.

"Ka-kau memanggilku apa?" Tanya Rin merasa tidak percaya. "Apa itu panggilan ejekanmu untukku?" Tanya Rin sarkastik.

"Tentunya bukan Rinny, hanya saja panggilan 'khusus' ku untukmu?" Kata Len yang membuat muka Rin bersemu merah.

'Apa yang kau pikirkan Rin? Bisa saja dia hanya menggodamu!' Pikir Rin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian dia melihat Luka yang begitu dekat dengan Gakupo, juga Gumi yang bergelayut manja di lengan Yuuma sedangkan Yuuma hanya tersenyum menanggapi sikap Gumi membuat Rin sedikit iri, iya, dia bahkan masih bergumul dalam hati, apakah dirinya pantas bersanding di sisi Len.

Mereka terus berjalan mengingat daerah musim dingin sungguh luas, akhirnya mereka sampai di sebuah hutan yang semuanya putih.

"Waaahh! Lihat semua salju ini!" Kata Miku, akhirnya alergi dinginnya sudah hilang. Kini mereka di hadapkan dengan salju yang sudah bertumpuk di sana-sini.

"Perang salju!" Teriak Yuuma sambil membuat sebuah bola salju di tangannya dan menimpuk punggung Gakupo, sementara yang di timpuk hanya diam, suasana mulai canggung.

"Rasakan pembalasanku!" Teriak Gakupo tiba-tiba sambil berbalik dan menunjukkan sebuah mesin pelompar bola salju yang baru saja di buatnya. Semua sontak berteriak sambil berlindung kecuali Yuuma yang tidak sempat berlindung dan berakhir dengan dia tertimbun tumpukan salju itu, akhirnya perang salju tidak terelakkan lagi, gelak tawa terdengar dari mereka, sedangkan Gumi malah membuat bangunan dari salju yang menimbun Yuuma. Sungguh pacar yang 'baik'. Sementara itu di kejauhan seseorang semakin membenci sosok Hatsune Miku.

"Cih, dia malah sudah mendapatkan lambang kesetiaan itu! tidak akan ku maafkan gadis tidak tahu diri itu! Lebih baik aku memberitahunya, agar segera mengambil Len, tidak akan aku biarkan gadis temannya itu juga mendapatkan Len!" Kata perempuan berambut putih itu sambil meremas-remas gaunnya kesal, dia juga mencairkan beberapa salju di sana hingga satu meter jauhnya dengan api kegelapannya. Kemudian dia lenyap kembali menghilang di balik asap hitam, dia kemudian muncul di sebuah rumah yang sangat megah, di samping sebuah kasur yang juga sangat megah, di sana seorang gadis tertidur dengan rambutnya yang pirang madu. "Bangun pemalas!" Kata gadis itu sambil menendang gadis yang tertidur itu hingga jatuh dari kasurnya.

"Bisakah kau membangunkanku dengan cara lain hah?" Keluh gadis berambut pirang madu itu.

"Kalau kau pemalas seperti ini bagaimana kau bisa merebut Len-san hah?!" Marah gadis berambut putih itu.

"Memang ada apa dengan Lenny-kun?" Tanya gadis berambut pirang madu itu sambil duduk di lantai dan memeluk selimutnya.

"Kalau kau tidak cepat-cepat! Kalau dia membuat lambang kesetiaan dengan gadis lain baru tahu rasa kau!" Kata Gadis berambut putih.

"Kau mengatakannya seperti Kai-kun sudah di ambil saja." Kata gadis berambut pirang madu.

"Memang benar! Hiks! Kaito sudah membuat perjanjian itu dengan gadis berambut lumutan sialan itu!" Kata gadis berambut putih sambil menangis dan memeluk gadis berambut pirang.

"Apa? Ini tidak bisa di biarkan! Bisa-bisa Lenny ku di ambil! Baiklah, aku memiliki rencana, aku harap kau membantu saat ini, ada hal yang bisa membatalkan perjanjian itu, tenang saja!" Kata gadis berambut pirang madu sambil tersenyum.

"Apa kau akan bertanya kepada Nee-sama?" Tanya gadis berambut putih.

"Tidak, kita datangi saja perwujudan sumpah itu!" Kata gadis berambut pirang madu tersenyum licik.

"Maksudmu, sang peri yang mengetahui semua sumpah yang terjadi di dunia ini?" Tanya gadis berambut putih, sekedar info, peri yang di maksud adalah peri perwujudan sumpah kesetiaan itu, dia lah yang menanyai setiap hati dengan kalimat, "Apa kau bersedia untuk menjadi pendamping ... selama hidupmu hingga kau mati?" kepada kedua belah pihak yang menyatakan sumpah itu, konon tidak ada yang bisa membohongi peri itu, setiap hati yang di tanyai akan menjawab sesuai kejujuran.

"Benar, sumpah seperti itu, seperti sumpah pernikahan, mereka bisa berpisah, atau dengan kata lain cerai di kehidupan pernikahan, maka sumpah itu ada cara untuk 'cerai' nya, mereka belum melangsungkan pernikahan, jadi kau masih sempat untuk merebutnya kembali." Kata gadis berambut pirang madu itu. "Cepat ganti pakaianmu! Kau tidak mungkin menemui kalangan peri dengan dandanan seperti itu, yang ada dia malah akan menolak untuk bertemu!" Nasihat gadis berambut pirang madu, memang benar, kalangan peri di dunia Voca ini sungguh mencintai keindahan, dan mereka tidak bisa terkena pengaruh para Mage, sihir mereka, ataupun di serang dengan berbagai elemen, mereka tidak bisa kalah, mereka abadi.

Akhirnya gadis berambut putih itu merasa ada harapan dan segera berganti baju.

.

.

.

TBC

Tehehe, gomen Clara update nya telat-desu, momen KaiMi sungguh di hadirkan banget di sini-desu, doakan saja pairing yang lain mendapatkan kesempatan mereka untuk menunjukkan kemesraan mereka-desu.. Tehehe, sampai di sini dulu, Clara pamit dulu, sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Balasan Review :

Kebab Nyamnyam : Enggak kok enggak nyampahin-desu, ya ampun, entah kenapa peribahasa Kebab nyamnyam-san bikin Clara sedikit gimana gitu, tapi kan emang seperti itu kenyataannya-desu. Terima kasih semangatnya-desu.. \(^_^)/

Lovelymerz : enggak kok, enggak spam-desu, Clara malah seneng, tehehehe. Ini sudah lanjut.

Kuro Furea : Jangan di bunuh dong Furea-chan, nanti gak bisa lanjut dong ini fanfic, tehehe, ini sudah lanjut, maaf menungu lama.