Another Fairy Tale Story

.

.

.

Disclaimer : Vocaloid Milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp. Yang punya

Warning : Typo's,

Chapter 8

Hari 3 - Hari 4, Meet Fairy?

Setelah puas bermain perang salju, mereka melanjutkan perjalan, hari sudah semakin sore tentunya.

Mereka kemudian melintasi sebuah hutan dengan banyak sekali keanehan, banyak sekali pohon-pohon yang tinggi dan besar yang memiliki jendela, pintu, juga bahkan balkon, tetapi tempat mereka sungguh tinggi.

"Kita ada di mana?" Tanya Rin memandang takjub, bahkan rerumputan di sana sungguh berwarna warni. Di hari yang menjelang gelap ini, mereka melihat banyak sekali warna dari pepohonan dan cahaya berwarna biru lembut dari balik kaca-kaca itu. Bunga-bunga juga memancarkan cahaya sesuai warna mereka dengan lembut.

"Ini adalah desa para Peri." Kata Len menjelaskan.

"Peri?" Tanya Miku bingung.

"Benar, mereka berukuran sama seperti kita, tetapi mereka mempunyai sayap kaca yang sungguh indah, kita ada di desa mereka, mereka terkenal menyukai orang yang rapi dan sopan, terlebih lagi mereka menyukai keindahan, kehebatan mereka adalah, mereka adalah pihak netral, mereka tidak bisa terpengaruh elemen kita, juga mereka tidak bisa terpengaruh sihir para Mage, mereka hidup abadi. Mereka terkadang adalah perwujudan dari beberapa tradisi di sini." Kata Gakupo menjelaskan.

"Maksudnya?" Tanya Rin tambah bingung.

"Maksudnya adalah, seperti ketika kau di tanyai di dalam hati mu tadi itu Miku, yang menanyakannya adalah peri dari lambang dari kesetiaan, nah beberapa dari mereka adalah lambang dari beberapa tradisi di sini, seperti peri yang menjadi lambang tradisi perayaan panen." Jelas Kaito. Miku dan Rin hanya mengangguk paham.

"Kelihatannya di sana ada sedikit kekacauan." Kata Yuuma sambil menunjuk sebuah rumah yang lampunya berkedip-kedip. Kemudian ada gadis berambut cream lebat yang kemudian terpental keluar dan membentuk pohon di hadapannya, lalu jatuh ke tanah. Gakupo dan yang lainnya langsung menghampirinya, gadis itu menggerang kesakitan, tetapi di punggungnya terdapat sayap kaca yang sangat indah.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Len sambil membantu gadis itu berdiri.

"Dasar bawahan Mage sialan!" Gerutu gadis itu, gadis itu memakai nekomimi di kepalanya. Kemudian terdengar suara berdebum keras di belakang mereka.

"Cepat beritahu kami kalau kau tidak ingin kesakitan lagi!" Ancam orang di belakang mereka.

"Mayu?" Tanya Kaito melihat kedua gadis dengan nada mengancam itu.

"Lenka?" Tanya Len juga tak kalah terkejut.

"Kaito-kun? Lenny?" Tanya gadis berambut pirang madu yang di panggil Lenka itu.

"Kenapa kalian ada di sini?" Tanya Kaito, rahangnya mengeras melihat kedua gadis itu.

"Mayu lebih baik kita pergi, kita bisa kalah kalau sekarang menyerang, apalagi ada Peri di sana." Kata Lenka sambil memegangi lengan Mayu.

"Tunggu, kalian pikir bisa semudah itu membuat masalah dengan Peri kemudian pergi seenaknya!" Kata peri itu tadi sambil berdiri kemudian sayap nya mengeluarkan asap hitam menandakan dia sungguh marah. "Kalian akan aku kutuk! Berhubung kalian kan abadi, Kalian akan aku kutuk tidak akan bisa melakukan perjanjian suci itu hingga 50 tahun lamanya!" Kata peri itu sambil menunjuk kedua gadis itu, rambutnya melayang-layang. Kemudian kedua gadis itu langsung menghilang di balik asap hitam dengan wajah terkejut.

"Apa kau tidak apa-apa?" Ulang Len menanyakan keadaan peri itu.

"Ah, iya, aku tidak apa-apa, terima kasih." Kata peri itu sambil tersenyum manis. "Siapa kalian? Kenapa kalian bisa mengenal para bawahan Mage itu?" Tanya peri itu sambil menunjukkan wajah imutnya. "Oh, lancangnya aku, namaku SeeU, senang berkenalan dengan kalian." Kata Peri itu sambil membungkuk.

"Ceritanya panjang, dan namaku adalah Gakupo Kamui, ini Kaito Shion, ini Len Kagami, ini Yuuma Jirou, Gumi Megpoid, Luka megurine, Rin Kagamine dan Miku Hatsune." Kata Gakupo memperkenalkan kami semua.

"Oh, kalian adalah anak dalam ramalan itu yah? Pantas saja kalian kenal, ayo masuk, kalian pasti lelah, mau sekalian menginap?" Kata SeeU dengan sangat ramahnya, peri memang begitu, bila dia mendapat perlakuan baik maka dia akan menjadi baik, sebaliknya kalau dia di perlakukan kasar, maka itu dia, selain marah, mereka juga akan memberikan kutukan. Akhirnya mereka masuk melewati tangga sulur yang di buat Gumi.

"Ettoo.. apa kami tidak mengganggu bila harus menginap di sini?" Tanya Gumi.

"Tidak apa-apa hitung-hitung ini sudah malam dan kalian sudah menyelamatkanku, lagipula peri peramal mengatakan kepadaku tentang ini, aku sungguh bersemangat ingin bertemu dengan kalian! Juga kelihatannya kedua gadis itu takut kepada kalian." Kata SeeU panjang lebar.

"Oh begitu yah, hehehe." Kata Gumi sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Jadi kalian bisa cerita? Dengan minum teh mungkin? Aku suka dengan cerita kalian." Kata SeeU sambil menunjuk meja makan dengan teko teh yang melayang dengan ajaib dan menuangkan beberapa cangkir teh, mereka pun duduk mengelilingi meja itu, sementara Gakupo dan Yuuma bergantian bercerita. "Jadi kedua gadis itu siapanya kalian?" Tanya SeeU di akhir cerita.

"Gadis yang di panggil Lenka adalah gadis yang selalu mengejarku, dan gadis yang di panggil Mayu itu adalah tunangannya Kaito, atau mereka di jodohkan." Jawab Len datar sambil meminum teh nya.

"Tapi Kaito kan tadi.." Kata SeeU menggantung kemudian menggeleng pelan. "Tapi memang pertunangan tanpa ketulusan tidak ada artinya, kalian memang tidak di takdirkan bersama." Kata SeeU pelan. Miku sedikit kaget dengan siapa tunangan Kaito itu, gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut putihnya dan style gothic nya yang memang sangat cocok dengannya, sejenak Miku menatapi style berpakaiannya, sungguh berbeda jauh dengan stlye Mayu tadi. "Baiklah, kalian pasti lelah, silahkan tidur dulu, aku akan menunjukkan kamar kalian." Kata SeeU sambil terbang dengan indahnya dan menunjukkan beberapa kamar, ralat, beberapa kasur yang mengambang. Tetapi melihat Rin yang sedari tadi gelisah semenjak bertemu kedua gadis tadi.

"Rin, kau tidak apa-apa?" Tanya Miku kepada Rin yang terduduk di balkon.

"Kau lihat sendiri kan bagaimana cantiknya mereka?" Tanya Rin sambil memandang daun pepohonan yang menutupi desa ini secara keseluruhan yang menampakkan beberapa warna seperti sebuah aurora di bawahnya. Miku pun tentu paham tentang hal itu kemudian duduk di samping Rin.

"Aku juga aku tidak pantas di sisi Kaito, mereka atau para bawahan Mage itu sangat cantik kau tahu, sampai kapanpun aku tidak akan bisa menyamainya." Kata Miku sambil memeluk kedua lututnya.

"Kau beruntung, kau sudah mendapatkan lambang itu, bagaimana denganku? Len bahkan tidak menunjukkan keseriusannya kepadaku Miku. Aku harus bagaimana?" Kata Rin mulai menangis. Miku langsung menghapus air mata Rin.

"Jangan berlebihan ah, kalian kan hanya belum sebegitu dekat, percayalah kepadaku Rin, kalau Len sampai memilih Lenka-san, aku akan mengiris pergelangan tanganku sendiri." Kata Miku sambil menggerakkan tangannya dengan gerakan seperti mengiris-iris lengan kanannya.

"Jangan berlebihan seperti itu dong Miku." Kata Rin sambil menyenggol pundak Miku dengan pundaknya.

"Lagipula kau sendiri yang berlebihan, kau tadi kan di hampiri sendiri oleh Len, tidak mungkin lah dia tidak tertarik kepadamu, kau ini manis, imut, cantik kalau kau mengenakan make up, tanpa make up pun kau sudah imut, baik hati, penyayang, loli, dan saudaraku satu-satunya." Kata Miku sambil memeluk Rin.

"Iya Miku, terima ka.. eh? Kau bilang apa? Loli?!" Kata Rin tiba-tiba berdiri. "Mentang-mentang oppai milikmu berisi sampai menghina oppai ku?!" Kata Rin tidak terima.

"Heh? Milikku juga tidak sebegitu berisi kau tahu! Tuh yang paling berisi milik Luka!" Kata Miku ikut tidak terima. "Kau kan kalau berdandan loli juga cocok bukan?!" Kata Miku.

"Len, lebih baik kita pergi dulu, biarkan saja mereka masih berdebat soal itu." Kata Kaito yang ternyata dia dengan Len mencuri dengar dari balik pintu, dia mendorong Len untuk menjauh.

"Benar, aku tidak paham hubungan adik kakak, tadinya berbicara soal itu, malah bicara soal ini." Kata Len menuruti Kaito. Mereka sebenarnya ingin mengetahui masalah mereka, eh malah disuguhi pertengkaran khusus perempuan.

"Iya, tetapi bukan berarti oppaiku tidak seberisi itu!" Kata Rin masih tidak terima.

"Kan ada juga orang berdandan loli yang memiliki oppai besar!" Kata Miku.

"Tuh kan mengejek oppai milikku lagi mentang-mentang milikmu besar!" Kata Rin sambil menunjuk-nunjuk Miku.

"Oppai ku tidak besar tahu! Lagipula siapa sih yang memiliki oppai besar di sini?" Kata Miku masih melanjutkan debat.

"Luka tuh yang punya oppai besar!" Kata Rin masih kesal.

"Memang kenapa dengan Oppai ku hah?!" Sahut seseorang di belakang mereka. Miku dan Rin mulai merinding untuk melihat siapa yang menyahut tadi.

Bletak!

Bletak!

"Ittai!" Kata kedua orang itu mendapat jitakan manis dari Luka.

"Cepat tidur sana! Jangan berdebat soal Oppai lagi, kalian berdua sama-sama berisi kok! Cepat tidur!" Kata Luka mengakhiri pertengkaran mereka, bagaimana Luka bisa ada di sana adalah ketika dia ingin ke kamar mandi, dia di mintai tolong oleh Kaito dan Len untuk melerai pertengkaran Miku dan Rin, kalau mereka yang melerai, bisa-bisa Miku dan Rin salah paham besar! Luka pun mengangguk menyetujui dan mulai ke lokasi pertengkaran itu.

Akhirnya Miku dan Rin tidur, tetapi kini bergantian Rin yang kini tidak bisa tidur. Akhirnya dia berjalan-jalan mengelilingi rumah peri ini.

"Ara, Rin-san, ada apa tidak tidur?" Tanya sebuah suara.

"SeeU-san sendiri kenapa tidak tidur?" Tanya Rin, dia melihat SeeU sedang ada di perpustakaannya sambil membolak-balik sebuah buku.

"Oh, bangsa peri memang tidak memerlukan tidur, bangsa kami hanya tidur bila kami ingin mengumpulkan kekuatan." Jelas SeeU.

"Kebetulan, ada yang ingin aku tanyakan." Kata Rin, SeeU pun mengisyaratkan untuk duduk di sebelahnya.

"Tanyakan saja." Kata SeeU.

"Apa yang Lenka-san dan Mayu-san lakukan di sini tadi?" Tanya Rin sambil menunduk.

"Oh mereka, mereka ingin mendapatkan cara untuk membatalkan mantra pengikat itu." Kata SeeU sambil membalik halaman buku di hadapannya.

"Eh? Memangnya bisa?" Tanya Rin. SeeU hanya mengangguk.

"Setiap ritual, ataupun janji mengikat itu bisa di patahkan." Kata SeeU, Rin mulai terlihat panik.

"A-apa kau mengatakan kepada mereka caranya?" Tanya Rin, SeeU hanya menggeleng.

"Aku tidak pernah suka siapa yang ingin menghalangi cinta tulus seseorang, tentunya tidak ada yang pernah menanyakan kepadaku apa pematahnya, karena, mereka sudah bahagia. Melihat mereka bahagia, membuatku bahagia juga. Jadi aku tidak mengatakannya kepada mereka, lagipula mereka sungguh kasar." Kata SeeU sambil tersenyum manis.

"Syukurlah, setidaknya aku bisa melihat raut wajah bahagia Miku." Kata Rin.

"Kau sungguh peduli dengan sahabatmu itu ya?" Kata SeeU. Rin hanya menggeleng.

"Dia sudah lebih dari sahabatku, dia adalah saudaraku, kakakku sekaligus adikku di saat yang bersamaan, aku juga menjadi kakaknya sekaligus adiknya terkadang, kami berdua saling mengisi peran." Kata Rin. "Dan aku tidak tega melihatnya bila dia harus mengalami sakit lagi, apalagi dia sudah pernah disakiti." Kata Rin.

"Waaah, ikatan kalian sungguh kuat, aku senang melihatnya." Kata SeeU sambil tersenyum ke arah Rin, dia kemudian terbang untuk mengambil buku di ketinggian.

"Aku penasaran, bila semua ikatan itu terputus, dan tradisi itu terhapus, apa kau akan menghilang SeeU-san?" Tanya Rin. SeeU hanya mengangguk.

"Karena keberadaan peri perwujudan sepertiku ini bergantung kepada itu, kalau hal yang membentuk seorang peri perwujudan menghilang, maka peri itu juga akan menghilang. Tetapi, kekuatanku sudah lebih dari cukup untuk mempertahankan tradisi ini." Kata SeeU "Tugas seorang peri perwujudan selain sebagai wujud dari tradisi itu, juga memastikan agar tradisi itu tidak menghilang, dan setiap tradisi itu di lakukan, maka kekuatan sang peri perwujudan akan semakin besar. Keistimewaan ini hanya di miliki oleh para peri perwujudan, para peri lain atau peri normal tidak memiliki hal ini." Kata SeeU menjelaskan.

"Oohh.. jadi begitu, dalam kerusuhan ini, apakah ada peri perwujudan yang sudah menghilang?" Tanya Rin, SeeU hanya mengangguk lesu.

"Iya, dan korbannya adalah temanku sendiri, Yukari, dia adalah peri perwujudan kedamaian." Kata SeeU, Rin hanya menatap SeeU sedih. "Seorang peri perwujudan bisa terlahir kembali bila tradisi yang menyebabkan mereka muncul di lakukan kembali." Kata SeeU sedih. "Tetapi kedamaian? Di suasana konflik seperti ini bagaimana bisa?" Kata SeeU sedih.

"Aku turut bersedih SeeU-san." Kata Rin.

"Sudah banyak sekali korban dari kejadian ini." Kata SeeU sedih. "Tetapi kalau kondisi kembal semula, maka mereka juga akan kembali." Kata SeeU mencoba tersenyum.

"Kau sungguh kuat SeeU-san, disaat teman-temanmu menghilang karena peristiwa ini, kau malah bisa setegar ini." Kata Rin bersimpati, SeeU kemudian memegangi kedua tangan Rin.

"Rin, baru kali ini aku melihat manusia sepertimu, tidak bukan manusia biasa, melainkan kalian adalah Vocaloid, sang peneman mage sesungguhnya, kau mendapatkan loyalku Rin." Kata SeeU, kemudian sinar berwarna kuning lembut menyelimuti mereka berdua. "Aku, SeeU, sebagai peri perwujudan dari lambang kesetiaan cinta, dengan ini memberikan loyalku kepada Rin Kagamine, dimana pun kau membutuhkanku, kau bisa memanggilku, dan aku akan selalu membantumu apapun itu masalahnya, Rin Kagamine!" Kata SeeU, matanya sedikit mengeluarkan cahaya kuning lembut, kemudian dia mengedipkan mata dan sinar itu menghilang.

"A-apa itu barusan?" Tanya Rin tidak paham.

"Itu adalah sebuah sumpah dari para peri untuk menyatakan loyalnya kepada makhluk lainnya, Manusia, Vocaloid, Mage, seorang peri memang berada di pihak netral, tetapi mereka terkadang menyukai seseorang dan melakukan sumpah itu." Kata SeeU menjelaskan, Rin meraba lehernya yang sedikit gatal.

"Apa tandanya sekarang ada di leherku?" Tanya Rin. SeeU hanya mengangguk.

"Dan soal laki-laki yang berambut sama denganmu itu, kau tidak perlu khawatir." Kata SeeU tiba-tiba.

"Eh? Apa maksudnya?" Tanya Rin. SeeU hanya menggeleng.

"Tidak ada maksud apa-apa, seperti yang aku katakan, kau tidak perlu khawatir. Sekarang tidurlah, malam semakin larut kau tahu." Kata SeeU, Rin langsung pamit dan pikiranannya masih mencerna apa maksud perkataan SeeU barusan.

~Skip Time~

"Kalau begitu kami pamit dulu, terima kasih telah membiarkan kami menginap." Kata Gakupo sambil menunduk diikuti yang lainnya.

"Tidak apa-apa, semoga kalian bisa menempuh perjalanan kalian!" Kata SeeU sambil melambai dan tersenyum manis.

"Terima kasih atas bantuannya." Kata Luka sebelum pergi, akhirnya mereka berjalan keluar dari lingkungan tempat tinggal peri dan kembali di sambut udara dingin.

"Dingggiinn!" Kata Miku, Luka, Rin dan Gumi bersamaan.

"Sekarang kita akan menuju daerah musim gugur, kalian bersiaplah." Kata Gakupo serius.

"Hah? Itu apa?" Tanya Len sambil menunjuk sesuatu yang memancarkan aura gelap.

"Sudah muncul rupanya." Kata Kaito sambil menunjukkan grins-nya.

"Jadi mereka adalah.. Beast?" Tanya Yuuma.

"Bagaimana bisa Beast ada di sini?" Tanya Gumi.

"Beast? Apa itu?" Tanya Miku.

"Beast adalah makhluk ciptaan para Mage Terkutuk itu. Mereka adalah para binatang yang disihir oleh mereka, mereka tidak bisa menembus tempat tinggal para peri karena kemurnian sihir mereka." Kata Gumi menjelaskan.

"Jadi, mereka kemari setelah kita mengusir para jalang itu yah, banyak juga 5 Beast, para jalang itu pasti marah." Kata Luka.

"Ayo kemarilah, aku sudah tidak sabar untuk membunuh kalian!" Kata Kaito dengan semangat. Para Beast itu kemudian berlari kearah mereka.

.

.

.

TBC

Pertamanya, Gomen kalau Clara telat banget update-desu. Habis Clara sok sibuk-desu, tehehe.

Clara sengaja membuat Lenka jahat di sini-desu, habisnya bosen melihat Lenka yang jadi baik-desu, sekali-sekali jadi jahat dong. Kyahahaha!

Hatsuka : "Kumat lagi deh sadisnya."

Clara : "Ayolah Hatsuka-chan, tanpa cewek sadis, apa kata dunia-desu? Kyahahaha!"

Clara potong disini-desu, pertarungannya chapter depan yah, mohon bersabar-desu. Tehehe, Oke saatnya membalas review.

Balasan Review:

Kebab Nyamnyam : Terima kasih atas semangatnya-desu, Clara juga enggak tahu bagaimana bisa membuat adegan perang salju itu-desu.

Kuro Furea : Gomen tebakannya salah-desu, tehehehe. Kalau mereka mati, lihat saja nanti, mati atau enggak-desu. Soal kenapa tahu, kan Furea-chan sendiri yang nyebutin diri Furea-chan. Tehehe.

Resira : Ini sudah lanjut, maaf menunggu lama-desu, dan terima kasih atas semangatnya-desu! \(^0^)/