Another Fairy Tale Story
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp yang punya, game COC dan karakternya bukan milik Clara.
Warning : Gaje, Typo's.
.
Chapter 9
Hari 4 - Para Mage mulai muncul
Kaito langsung menonjok jatuh beast yang pertama mendekati.
"Kau berurusan denganku!" Ucapnya dengan penuh semangat, Gakupo juga mengatasi satu beast, begitu juga dengan Yuuma dan Len, mereka menangani satu beast dengan elemen mereka masing-masing. Sisa satu beast yang menunggu untuk di kalahkan.
"Lebih baik kita saling membantu saja!" Kata Rin.
"Aku setuju dengan Rin, kita ini perempuan, kita bertiga harus berkerja sama!" Kata Gumi.
"Baiklah, Gumi, kau jerat beast itu sehingga tidak bisa bergerak, kau juga Rin bantu yang lainnya agar beast yang mereka lawan gerakannya tersendat, aku akan menenggelamkan beast yang di jerat Gumi." Kata Luka membagi strategi.
"Bertiga? Lalu aku bagaimana?" Tanya Miku.
"Kau itu Healer, kau bertugas untuk menyembuhkan, kau juga enggak bisa berperang juga kan?" Kata Rin.
"Healer? Kau kira ini game COC apa pakai Healer segala?" Tanya Miku.
"Benar kata Rin, tanpa Healer, pertarungan tidak akan berarti." Kata Luka, otomatis Miku pundung dengan tidak elit nya.
"Ayo kita serang!" Kata Gumi, dan anehnya beast yang akan menyerang mereka malah menunggu diskusi itu selesai. Akhirnya beast itu mulai menyerang.
Rin mencoba menahan gerakan setiap beast disana dengan kekuatan pengendali pikiran miliknya. Kaito dengan semangat memukul beast di hadapannya dengan pukulannya yang berselimut api hitam, Gakupo dengan alat seperti gada memukul-mukul beast yang berhadapan dengannya hingga terpental, Yuuma membakar beast yang berhadapan dengannya, sedangkan Len, dia membuat beast yang berhadapan dengannya terjebak di antara tornado dan membuat beast itu mual-mual hingga akhirnya beast itu mati karena mual. Beast milik Gumi dan Luka sudah terkapar sedari tadi karena tenggelam oleh air buatan Luka yang di kumpulkan di muka beast itu, sedangkan Miku? Dia masih pundung sambil menghitung semut yang berbaris rapi sambil membawa makanan.
Akhirnya semua beast itu lenyap seperti menguap setelah kematian mereka.
"Kalian mulai sekarang bersiaga lah, mulai dari sekarang, para Mage dan bawahan mereka akan menunjukkan diri mereka." Kata Gakupo sambil mengusap peluhnya, Miku melihat ke arah mereka tetapi tidak ada yang terluka, Miku semakin pundung, dirinya adalah Healer yang tidak di perlukan.
"Eh? Miku kau kenapa pundung seperti itu?" Tanya Kaito menyadari sedari tadi Miku hanya duduk berjongkok sambil menghitung semut yang lewat.
"Kalau kalian sekuat itu, untuk apa Healer coba?" Gumam Miku.
"Healer? Apa maksudnya?" Tanya Len tidak paham.
"Miku, kami hanya bercanda saat itu." Kata Gumi sambil menatap Miku yang masih pundung.
"Memangnya apa yang kalian bicarakan sedari tadi?" Tanya Kaito.
"Miku, kalau kau enggak pundung lagi aku traktir makan sepuasmu deh." Kata Rin yang sudah tahu kebiasaan Miku, Miku otomatis langusung berdiri dan mukanya berseri-seri.
"Janji?" Tanya Miku sambil tersenyum lebar.
"Janji!" Kata Rin.
"Aku bingung dengan perempuan jaman sekarang." Gumam Yuuma melihat kelakuan Miku.
"Baiklah, sudah ayo kita sudah dekat perbatasan wilayah." Kata Gakupo sambil melihat ke arah peta. Mereka tidak menyadari kalau sedari tadi mereka di awasi dari kejauhan.
Seorang gadis berambut putih dan gadis berambut kuning pucat mengawasi mereka, si rambut kuning berdecak kesal.
"Cih, aku jadi dapat kutukan kan? Sekarang malah di hukum sama Nee-sama, ini semua karena kau!" Kata si rambut kuning kesal.
"Gomenasai~~! Habisnya apa kau rela Len di rebut gadis kelinci itu, Lenka?" Tanya Si rambut putih.
"Tidak sih." Kata Lenka.
"Lagipula tidak apa-apa 50 tahun tidak berarti apa-apa bagi kita. Lagipula Nee-sama membuat sesuatu yang spesial kalau mereka berhasil mengalahkan Nee-sama." Kata si rambut putih.
"Apa itu, Mayu?" Tanya Lenka.
"Nanti kau juga tahu, 50 tahun tidak akan ada apa-apanya, kau masih memiliki kesempatan!" Kata Mayu.
"50 tahun ya?" Kata Lenka sambil menerawang.
"Ayo, Nee-sama sudah memanggil kita." Kata Mayu, mereka kemudian menghilang di balik asap lagi. Kembali ke kelompok Miku, Miku pun menyudahi pundung nya, dia berencana membeli banyak sekali olahan negi dengan uang dari Rin.
Akhirnya di kejauhan terlihat sebuah gunung yang terlihat coklat karena banyak pohon maple disana. Gakupo yang sedari tadi asyik dengan peta nya, Kaito berjalan dengan diam saja, sejujurnya dia sedikit kelelahan, dia sudah lama tidak bertarung lagi, Yuuma menghangatkan diri dengan api yang muncul dari telapak tangannya, Len sibuk melihat kesana kemari, sementara para gadis, mereka sedang menggosip tidak jelas di belakang barisan. Akhirnya mereka sampai di sebuah sungai, sungai itu seperti terbagi dua bagian, satu sisi airnya membeku, satu sisi airnya mengalir dan membawa daun-daun kering.
Mereka sudah sampai di perbatasan Daerah salju dan Daerah musim gugur. Ada jembatan penghubung disana, mereka melewati jembatan itu dan sampai di Daerah musim gugur. Mereka melepas semua baju musim dingin mereka dan menyisakan jaket dan syal yang melilit leher mereka.
"Waaahh! Lebih hangaat!" Ujar Rin. "Maple!" Kata Rin kegirangan sambil menuju setumpuk daun Maple yang berguguran.
"Miku, apa kau mendengar nya?" Tanya Gakupo, Miku menggeleng.
"Aku masih belum mendengar 'dia' memanggilku." Kata Miku sambil menunduk.
"Lebih baik kita berjalan ke arah gunung itu saja, mungkin kalau sudah dekat, Miku akan mendengarnya." Saran Kaito.
"Aku setuju, ayo kita kesana, sebentar lagi kita akan menemukan desa." Kata Gakupo, semuanya mengangguk dan berjalan menuju gunung yang terlihat sangat jauh itu, hampir semua daerah di sini di penuhi hutan, jadi tidak heran kalau mereka memasuki hutan lagi. Tetapi ketika mereka sudah 10 meter masuk ke hutan itu, sebuah jurang dalam tiba-tiba muncul di hadapan mereka, mereka sontak berhenti untuk menghindari jurang itu, mereka mulai kebingungan kenapa bisa ada jurang tiba-tiba muncul.
"Ma.. ma.. Cukup di situ saja kalian berjalan, tidak akan aku biarkan kalian mengambil lambang yang lainnya." Kata seseorang di atas dahan pohon, dia adalah seorang gadis, pakaiannya seperti pakaian gothic loli milik Mayu, tetapi lebih mewah, rok nya menggembung pendek di depan, sekitar 10 cm dari atas lutut dan semakin panjang ke belakang, rambut kuningnya di ikat di samping dengan hiasan sebuah mawar hitam, di tangannya ada sebuah sarung tangan berbentuk jaring kecil yang menutupi hingga siku nya dan di lapisi lagi oleh sarung tangan hitam tanpa jari pendek yang hanya menutupi hingga pergelangan tangannya. Selain pakaiannya yang gothic, riasan wajahnya tidak kalah gothic-nya.
"Kau adalah.." Kata Kaito menatap nanar gadis itu. Gadis itu mulai turun dari dahan tempatnya berpijak. "Kanon, sang Mage!" Kata Kaito bertepatan ketika gadis itu, Kanon, mendarat dengan satu kakinya. Dia kemudian membuka kipas tradisional yang juga memiliki corak hitam dan mendekatkannya dengan wajahnya.
"Ara, Kaito-kun yah? Apa ayahmu sudah tahu kau disini?" Kata Kanon yang berdiri di seberang jurang itu, separuh wajahnya tertutupi kipas yang dia buka tadi.
"Gara-gara kau! Kehidupanku yang sekarang adalah gara-gara kau!" Teriak Kaito marah, Gakupo dan Yuuma menahan Kaito supaya tidak lepas kendali.
"Hahahaha! Kau ini konyol sekali, kehidupanmu yang sekarang itu bukan karena aku! Salah ayahmu sendiri yang mau menjadi pengikut kami! Kyahahaha!" Kata Kanon sambil tertawa.
"Sialan kau!" Teriak Kaito mulai melemparkan api hitam ke arah Kanon, tetapi Kanon hanya tersenyum.
"Ventum." Kata Kanon sambil mengibaskan kipasnya pelan, sebuah angin besar menimpa mereka dan api hitam yang di lemparkan Kaito kembali ke Kaito. Untungnya mereka dapat bertahan karena Len menghalau angin yang datang itu.
"Pergi dari sini, sadar Mage Terkutuk, atau.." Ancam Len.
"Atau apa?" Tanya Kanon dengan senyum menantang, dia tidak lagi menutupi wajahnya dengan kipasnya. "Kaito-kun, kau sungguh kejam kepadaku, padahal aku sudah memilihkanmu calon untuk di sandingkan kepadamu, kenapa kau malah mengikat janji suci dengan gadis itu, Mayu-chan sungguh kasihan." Kata Kanon sambil menutup kipasnya.
"Aku tidak perlu kau atur untuk menemukan pasanganku sendiri!" Ucap Kaito marah.
"Kanon, aku bersumpah akan membunuhmu! Kau telah membunuh orangtua ku dan Miku!" Kata Rin penuh amarah.
"Kalau kau bisa bertahan dari semua seranganku, maka kalian pantas untuk berkata begitu." Kata Kanon dengan senyuman menantang. "Ventum!" Teriak Kanon sambil mengibaskan kipasnya lebih kuat, bahkan Len tidak bisa menghalau angin itu hingga mereka terhempas beberapa meter. "Foramen acus transire!" Ucap Kanon sambil kembali mengibaskan kipasnya, kini yang muncul adalah ribuan jarum, Gakupo segera membuat shield untuk mereka, belum sempat mereka melawan Kanon sudah siap dengan mantra berikutnya. "Humi fossam faciunt!" Kata Kanon sambil mengarahkan kipas nya yang sudah tertutup ke arah mereka, dan ada sebuah lubang di bawah mereka dan mereka langsung terjatuh, sebelum sempat mereka bangkit dari jatuh mereka, Kanon sudah ada di bibir lubang itu, dia bersiap untuk mantra selanjutnya. Dia menggerakkan kipasnya berputar seperti melilit mereka dengan benang imajiner. "Vites teneantur." Ucap Kanon masih memutar-mutar kipasnya dan tumbuhan rambat langsung mengikat mereka, gerakan kipasnya berhenti begitu tumbuhan itu sudah melilit semua anggota gerak mereka. "Flos lectum est in." Ucap Kanon, beberapa bunga kuncup mulai tumbuh. "Germinabunt." Ucap Kanon bunga itu seketika mekar, dan mereka tidak bisa menutupi hidung mereka dan akhirnya menghirup serbuk sari bunga itu.
Mereka benar-benar di hajar habis-habisan tanpa bisa melawan, Miku yang kesadarannya masih ada itu mencoba menyembuhkan dirinya agar tidak ikut tidur, Miku bisa melihat wajah kecewa Kanon di bibir lubang itu.
"Aku sungguh kecewa, dengan ini saja kalian sudah kalah, padahal aku menyerang kurang dari separuh kekuatanku, Anon-chan pasti marah soal ini, tetapi aku membiarkan kalian dan tidak merebut lambang yang kalian miliki, kalian harus membalasnya dengan membunuhku!" Katanya, entah kenapa Miku bisa melihat raut muka kesedihan di akhir kalimat Kanon. "Sampai jumpa, sampaikan apa yang aku katakan tadi kepada yang lainnya yah? Miku-chan!" Kata Kanon kemudian lenyap di balik asap hitam.
Miku berusaha menghentikan dirinya tertidur, dan mengambil kehidupan dari bunga tidur itu, kata Gumi, dirinya bisa memberi kehidupan, jadi seharusnya dia bisa mengambil kehidupan. Miku mengarahkan cahaya nya ke arah bunga-bunga itu, dan berhasil! Bunga itu kering, Miku langsung membangunkan yang lainnya dengan cahayanya.
"Ugh.. Kepalaku rasanya sakit." Gumam Gakupo yang pertama kali sadar, di susul yang lainnya, Gumi mengerahkan kekuatannya untuk menghilangkan tanaman yang menghambat mereka.
"Kita kalah dari Mage Terkutuk itu, bagaimana kita bisa mengalahkan mereka kalau begini saja kita sudah.." Ujar Luka menggantung.
"Lalu, kenapa dia membiarkan kita hidup?" Tanya Yuuma.
"Dia bilang tadi, dia kecewa dengan kita, dia juga tidak mengambil lambang kita sekarang, sebagai gantinya, dia ingin kita bunuh." Kata Miku mengingat perkataan Kanon tadi.
"Kenapa dia malah minta di bunuh?" Tanya Gumi.
"Siapa peduli dengan kemauan mereka, ayo kita harus keluar dari lubang ini!" Kata Kaito sambil menggosok kepalanya gusar. Gumi membuat tumbuhan rambat yang bisa untuk memanjat naik, Miku masih kepikiran dengan ekspresi kesedihan Kanon tadi. "Sudah jangan di ingat-ingat lagi soal tadi Miku." Kata Kaito ketika mereka semua sudah keluar, dari lubang itu.
"Kita harus lebih banyak berlatih!" Ucap Gakupo.
"Tidak! Tidakkah kalian paham, di pertarungan ini kita lah yang salah." Kata Luka.
"Salah bagaimana?" Tanya Yuuma.
"Kita salah karena kita terlalu terkejut dengan pertemuan dengan Mage Terkutuk itu sehingga kita lupa menyerang padahal dia memperlihatkan banyak sekali celah." Kata Luka. Dia adalah pengamat pertempuran yang terbaik di kerajaannya, makanya dia sampai tahu soal ini.
"Baiklah, lain kali harus ada salah satu dari kalian yang menyerang sementara yang lain bertahan, kita harus kerja sama sebagai kelompok. Setuju semuanya!" kata Gakupo.
"Hooo!" Teriak yang lainnya menimpali.
"Kita juga harus mengasah kekuatan kita, kita tidak boleh puas hanya karena kesalahan ini." Kata Kaito.
"Kau benar Kai-kun, dia hanya menggunakan tidak sampai setengah kekuatannya, bagaimana bila dia mengerahkan kekuatan penuh?" Kata Miku. "Tapi aku bahkan tidak bisa menyerang." Kata Miku kembali pundung.
"Pasti ada cara untuk kau bisa ikut bertarung Miku." Kata Gumi.
"Benar, aku pernah tahu kalau elemen itu bisa untuk bertarung juga." Kata Yuuma. "Lebih baik kita cari perpustakaan begitu kita sampai di desa." Kata Yuuma.
"Kekuatan Mage seperti itu ya?" Kata Rin menerawang. "Bisa mengendalikan semua elemen hanya dengan mantra." Kata Rin lagi.
"Tadi dia sama sekali tidak mengendalikan pikiran kita kan?" Tanya Kaito.
"Kau benar, padahal yang tidak mempan kan hanya Rin?" Kata Yuuma.
"Lebih baik, kita lebih cepat menemukan perpustakaan lebih baik." Kata Gumi, mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan perasaan sedikit malu karena telah kalah dengan mudah tadi.
.
.
.
TBC
Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin-desu, Clara tahu ini telat sehari-desu, tapi mohon maaf kalau Clara tanpa sadar merubah character di fic-fic Clara-desu. Bagi yang tidak merayakan, Clara juga mohon maaf-desu.
Balasan Review :
Kuro Furea : Zecami-san jangan kasar-kasar dong, nanti di laporin Furea-chan atas tuduhan KDRT loohh~~ (Tehehe, bercanda). Arigatou semangatnya. (^_^)
Kebab Nyamnyam : Gomen ne, tebakannya salah, tehehe, Clara setuju denganmu-desu, dan itu berlaku ke semua cewek, semuanya cantik dengan cara kalian sendiri-desu, arigatou semangatnya.
