Another Fairy Tales Story
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp yang punya.
Warning : Typo, Cerita berbelit.
.
Chapter 10
Para Mage itu..
Di sebuah puncak gunung yang tinggi, lebih tepatnya gunung yang ada di daerah pusat, berdirilah sebuah kastil yang sangat besar dan sangat suram, disanalah para Mage tinggal.
"Kenapa Kanon-chan? Kenapa kau malah meninggalkan mereka! Bukankah lebih bagus kalau kau menghabisinya saat itu!" Kata gadis yang berambut sama dengan Kanon itu.
"Anon-chan, aku kecewa dengan mereka." Kata Kanon yang sudah memakai pakaian berbeda, kini dia memakai pakaian dress hitam tanpa lengan dengan sarung tangan hitam yang menyelubungi hingga ke lengan atasnya, tetapi membiarkan jari-jari nya terekspos, roknya menutupi seluruh kakinya dengan ronda-ronda hitam, kuncirannya kini berhias tiara dari mutiara hitam. Dia memandang ke arah jendela yang selalu menampakkan pemandangan yang sama, langit hitam dan beberapa kilat disana.
"Kecewa bagaimana?" Tanya Anon masih tidak paham jalan pemikiran kembarannya itu, Anon juga memakai pakaian yang sama dengan Kanon, tetapi bedanya, Anon tidak memakai sarung tangan, melainkan beberapa gelang dari kulit yang terjalin dan beberapa gandul menghiasi tangannya sebelah kiri, kepalanya di hias bandana dari mutiara hitam yang membentuk rajutan indah di kepalanya.
"Karena, mereka lemah! Sangat lemah malah! Tidakkah bisa kau bayangkan, seorang lawan yang di elu-elu kan mereka akan melawan kita, bahkan membunuh kita ternyata lebih lemah! Kemana kebanggaan diri kita sebagai Mage Anon-chan!" Kata Kanon menatap wajah saudari kembarnya itu. Anon kemudian mengangguk paham.
"Baiklah, aku sekarang tahu kenapa, kau benar, tidak akan seru kalau hanya dengan anak buah kita saja, mereka mati." Kata Anon sambil berjalan kembali ke singgasana nya.
"Nee.. Anon-chan, aku punya pemikiran bagus." Kata Kanon dengan senyuman jahatnya.
"Pemikiran apa itu?" Tanya Anon tertarik.
"Bagaimana kalau kita membuat sayembara!" Kata Kanon sambil merentangkan kedua tangannya.
"Sayembara apa memangnya?" Tanya Anon merasa menyesal sudah tertarik tadi.
"Kita sebarkan kepada para anak buah kita, siapa yang bisa membunuh mereka, kita akan hadiahkan keabadian dan kekayaan tak terbatas!" Kata Kanon, Anon kemudian turun dari singgasananya.
"Kau dengar apa yang dikatakannya tadi bukan? Cepat buat selebaran sayembaranya!" Kata Anon sambil memerintahkan seseorang disana.
"Ba-baik nyonya!" Kata orang itu sambil pergi.
"Gargogyle disana, Vivet! Kau awasi orang itu! Jangan sampai anak buahku ada yang tidak mendapatkan sayembaranya!" Kata Anon sambil menunjuk sebuah patung gargogyle di sana, gargogyle itu mulai bergerak dan terbang menembus jendela dan membuat lubang besar di sana.
"Anon-chan! Aku sudah capek tahu membetulkan kastil ini! Kenapa setiap aku baru membenarkan satu bagian, kau hancurkan bagian lainnya!" Kata Kanon sedikit marah, karena dia yang membangun kastil ini, dia sungguh sayang dengan kastil ini.
"Tehehe, gomenne Kanon-chan." Kata Anon sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Haish, Anon-chan! Bila kau merusak kastilku lagi! Buat kastil sendiri saja!" Kata Kanon merasa sebal dia kemudian mengeluarkan kipasnya, sebenarnya dia bisa melakukan sihir tanpa perantara seperti Anon, tetapi dia menyukai sihir dengan perantara kipasnya itu. "Redire ad Pristinum." Ucap Kanon sambil mengarahkan kipasnya yang tertutup ke arah jendela yang lubang itu dan kaca-kaca yang berhamburan itu terbang kembali ke asalnya dan seperti tidak pernah ada lubang disana sebelumnya. Anon kembali duduk di singgasana nya.
"Lagipula, meskipun mereka berhasil mengumpulkan semua lambang itu, semuanya tidak akan lengkap tanpa ini." Kata Anon sambil menunjukkan sebuah lambang yang melayang di atas telapak tangannya, sebuah lambang netral yang menjadi penyatu semua lambang, tanpa lambang netral ini, semua lambang itu akan saling menyerang satu sama lain.
"Kau benar Anon-chan, baiklah kalau begitu aku mau ke kastil dua pemalas itu." Kata Kanon. "Rencana kita terancam gagal karena anak dari Shion-san memberontak." Kata Kanon.
"Tenang saja Kanon, lagipula aku sudah memprediksinya, bawa saja mereka kemari, ada tugas khusus untuk mereka." Kata Anon sambil tersenyum. Kanon hanya mengangguk dan mengipas dirinya, sebuah jubah melingkar dari lehernya menuju bawah hingga menyentuh lantai, ada sebuah kerah di atasnya yang berdiri panjang layaknya kerah drakula. Dirinya kemudian mengibaskan jubahnya dan menghilang di balik asap. "Sayembara seperti ini pasti ada yang curang. Mereka sebaiknya menjadi mata-mata kami dan mereka benar-benar membunuh kelompok ramalan itu." Kata Anon melihat ke arah lambang yang berhasil dia rebut dari penjaga gunung ini. Ada seseorang yang mengetuk pintu ruang singgasana. "Masuk!" Perintah Anon.
"Yang mulia." Kata orang itu berlutut di hadapan dua singgasana, yang satu kosong, sedangkan Anon menududuki satunya.
"Ada apa?" Tanya Anon dengan posisi angkuh.
"Hamba hanya ingin meminta maaf karena putra hamba yang memberontak keluar dari mengikutimu." Kata orang itu.
"Shion-san, itu bukan salahmu kok, apa yang dia lakukan, adalah tanggung jawabnya." Kata Anon sambil bertopang dagu dengan satu tangan, dia sudah bosan menghadapi permintaan maaf dari orang ini.
"Ta-tapi hamba merasa bersalah Yang Mulia." Kata orang itu masih tetap berlutut.
"Baiklah, baik! Kau akan aku maafkan dengan satu syarat!" Kata Anon mulai kehilangan kesabaran.
"Apa syaratnya Yang Mulia." Kata orang itu.
"Berhentilah meminta maaf kepadaku atau Kanon-chan seperti ini! Kami sudah bosan mendengar permintaan maafmu, yang sudah ya sudah! Lalu aku memiliki satu tugas untukmu." Kata Anon kembali duduk tegak. Orang itu mendongak.
"Apa tugasnya Yang Mulia?" Tanya orang itu.
"Kalau kau bisa membuat Kaito kembali menjadi pengikutku, aku akan mewujudkan janji kami langsung ketika Kaito mengucapkan sumpah setia nya kepada kami." Kata Anon sambil tersenyum.
"Ka-kalau gagal?" Tanya orang itu lagi.
"Kalau gagal ya sudah, kau tunggu saja istrimu kembali ketika kami menang." Kata Anon menatap orang itu datar, dia kemudian menghilang dan muncul di hadapan orang itu dan memegangi dagu orang itu. "Aku tahu kau bisa melakukannya, Akaito Shion, aku mempercayaimu dalam hal ini, kami sungguh suka dengan kesetiaanmu, bahkan bila tugas ini gagal, kami tidak akan menghukummu, maka dari itu Shion-san, jangan kecewakan kami ya? Apalagi anakmu itu menyimpan kekuatan yang sangat besar, yang akan sangat menguntungkan kita" Kata Anon, matanya berubah menjadi semerah darah.
"Ba-baik! Akan aku usahakan Yang Mulia!" Kata Akaito a.k.a ayah dari Kaito dengan mantab, Anon berjalan mundur dan mengisyaratkan agar Akaito berdiri.
"Baiklah, segera laksanakan tugasmu!" Kata Anon sambil menunjuk pintu keluar, Akaito langsung pergi keluar, di pikirannya sedang memikirkan bagaimana agar anaknya kembali mengikuti para Mage.
"Ne.. ne.. kau sungguh memanfaatkan orang itu yah?" Kata Kanon yang sudah duduk di singgasana dengan menyamping, kakinya dia naikkan ke sandaran lengan.
"Maka dari itu, jatuh cinta itu bodoh! Sebodoh kalian berdua!" Kata Anon sambil melihat ke arah Mayu dan Lenka yang saling berpelukan takut.
"Ma-maafkan kami berdua Anon-Nee-sama!" Kata Mayu.
"I-iya, maafkan kami! Kami mengaku salah hingga di kutuk peri itu!" Kata Lenka sambil menangkupkan kedua tangan di hadapan wajahnya.
"Sudahlah, aku ada tugas khusus untuk kalian." Kata Anon duduk kembali ke singgasananya.
"Tugas apa itu?" Tanya Lenka penasaran.
"Kalian awasi saja para pengikut sayembara itu, mereka pasti akan melakukan segala cara, tetapi ada beberapa hal yang tidak boleh, yaitu, mengklaim telah membunuh padahal mereka berdusta, mengklaim mereka membunuh padahal yang membunuh orang lain. Kalian juga jangan sampai terlihat oleh mereka." Kata Anon. Mayu dan Lenka mengangguk patuh.
"Itu urusan gampang Anon-nee-sama!" Kata Mayu.
"Serahkan saja kepada kami tugas itu!" Kata Lenka sambil menepuk dadanya.
"Kalau kalian sampai terlihat, hukumannya adalah itu." Kata Kanon sambil menunjuk ke atas, tepat dimana patung-patung yang dulunya manusia betulan berada. Mayu dan Lenka menelan ludah. Kanon kembali melanjutkan aktifitasnya dengan mengikir kukunya yang di pulas warna ungu.
"Mengerti kan? Sekarang cepat pergi, kami ingin istirahat." Kata Anon, Mayu dan Lenka langsung menghilang di balik asap.
"Memangnya kenapa kau sungguh menginginkan Kaito?" Tanya Kanon, ruangan singgasana itu kembali sepi.
"Apa kau tidak melihat rambutnya? Ibunya adalah keturunan Mage murni yang tidak menyadari kalau dirinya adalah Mage! Rambut biru itu menandakan kekuatan yang sangat besar! Lebih besar dari yang kita miliki sekarang ini Kanon-chan!" Kata Anon, Kanon berhenti dari kegiatannya.
"Sayangnya Kaito tidak tahu akan hal itu bukan?" Tanya Kanon, Anon mengangguk.
"Tidak, ibunya saja tidak tahu, apalagi ayahnya. Maka dari itu, kita harus membuat Kaito berada dalam pihak kita." Kata Anon.
"Makanya rambutnya sama sekali tidak mirip ibunya ataupun ayahnya." Kata Kanon kembali mengikir kukunya. "Aku kira dia bukanlah anak kandung mereka, ternyata memang karena kekuatan itu." Kata Kanon.
"Mau merekrut kerajaan lainnya?" Tanya Anon sambil memunculkan jubah yang sama dengan milik Kanon tadi.
"Bagaimana kalau kita serang keluarga siapa itu yang di sukai Lenka?" Tanya Kanon.
"Hhmm.. Maksudmu keluarga Kagime? Ah benar juga, kenapa keluarga itu sungguh susah kita taklukkan!" Kata Anon menggerang kesal.
"Lagipula masih banyak kerajaan yang belum bergabung dengan kita. Tenang saja, kalau ini mereka tidak juga bergabung dengan kita, kita rekrut lainnya dulu." Kata Kanon masih dalam posisi seperti tadi.
"Ayo Kanon-chan! Kau turunlah dari singgasana mu!" Kata Anon sambil mengisyaratkan supaya ikut dengannya, Kanon kemudian terangkat dan mendarat dengan pantat nya terlebih dahulu.
"Ittai!" Kata Kanon sambil menggosok pantatnya yang sakit. "Hidoi na Anon-chan! Lagipula, kesana dengan baju ini tidak cocok! Aku mau ganti baju!" Kata Kanon sambil berdiri, dia itu seorang Mage yang paling stylish dalam sejarah Mage. Anon hanya mengisyaratkan agar Kanon cepat berganti baju. "Ayo Anon-chan! Kau juga harus memakai baju yang sama denganku!" Kata Kanon menarik Anon menuju kamar mereka.
"Kau ini tidak ada bosan-bosannya yah memakai baju kembaran." Kata Anon, Kanon kemudian menatapnya, tatapannya berkaca-kaca.
"Hiks, apa kau sudah bosan jadi kembaranku? Hiks." Kata Kanon sambil berkaca-kaca.
"E-enggak kok Kanon-chan, ja-jangan menangis lagi." Kata Anon, dia kemudian menghela nafas. "Baik, baik ayo kita memakai baju yang sama." Kata Anon sambil tersenyum, Kanon kemudian tersenyum menang dan menarik Anon menuju kamar mereka.
Kanon kemudian memilih sebuah baju yang seperti baju yunani kuno, sebuah jubah terpasang di kedua lengannya, gaun itu berwarna putih gading, tidak hitam seperti yang biasa mereka pakai.
"Tumben kau tidak memilih baju hitam?" Tanya Anon sambil memasang sebuah jepit rambut berwarna hitam.
"Sesekali juga kita harus memakai putih dong!" Kata Kanon sambil membenarkan rambutnya, kali ini dia memasang pita putih besar untuk mengikat rambutnya yang selalu di ikat side ponytail. Tidak lupa sarung tangan tanpa jari berwarna putih yang menyelubungi hingga lengan atas.
"Iya deh, ayo ke kediaman keluarga Kagime!" Kata Anon sambil menepuk bahu Kanon, kemudian mereka menghilang di balik asap hitam.
.
Another Place (Len's castle)
.
Kanon dan Anon pun sudah berhadapan dengan Rinto Kagime, ayah dari Len Kagime.
"Apa mau kalian kemari!?" Tanya Rinto dengan marahnya.
"Sabar dulu Rinto-san, kami kesini masih dalam tujuan sama seperti biasanya." Kata Anon, mereka ada di ruang singgasana kerajaan Kagime.
"Kalian boleh berhasil menghasut semua teman-temanku, bahkan teman terbaikku, Akaito, tetapi aku akan tetap mendukung anakku yang sedang dalam perjalanan membunuh kalian!" Kata Rinto sambil berdiri dari singgasananya.
"Oh, mengenai anakmu, dia sungguh lemah! Bahkan dia kalah dariku padahal aku hanya bermain-main saat itu." Kata Kanon sambil memandangi rangkaian bunga disana.
"Kalian membunuh anakku!?" Tanya Rinto terkejut.
"Itu tergantung." Kata Anon sambil tersenyum jahat. "Kalau kau bergabung dengan kami, kami akan menghidupkan kembali anakmu, dan kalian akan bertemu lagi." Kata Anon berbohong, padahal Kanon tidak membunuh Len dan yang lainnya. Kanon hanya menatap Anon tersenyum, dia kemudian melihat ke arah Rinto yang badannya mulai gemetar.
"A-apa kalian bisa melakukannya?" Tanya Rinto, badannya sudah bergetar hebat mengetahui anaknya sudah mati.
"Tentu saja bisa, lihat." Kata Kanon kemudian melayu kan rangkaian bunga di sana, kemudian dia menghidupkan lagi bunga itu.
"Dunia ini memang selayaknya para Mage yang mengatur, kalau kau bergabung dengan kami, semua keinginanmu menjadi nyata." Kata Anon sambil tersenyum licik, kini mereka mengambil kerajaan Kagime.
"Baiklah! Aku akan bergabung dengan kalian! Asal kalian menghidupkan lagi anakku!" Kata Rinto putus asa. Anon dan Kanon tersenyum penuh kemenangan.
"Datanglah ke kastil kami besok, akan kami tunggu kedatangan kalian Kagime-san." Kata Kanon dengan tersenyum lembut.
"Kapan aku akan mendapatkan anakku kembali?" Tanya Rinto.
"Ketika kami sudah menaklukkan dunia ini!" Kata Anon.
"Baiklah.." Kata Rinto putus asa. Kanon kemudian teringat sesuatu.
"Anon-chan, bagaimana soal sayembara itu, dia akan tahu kalau kita berbohong." Telepati Kanon kepada Anon.
"Tenang saja, suruh si duo bodoh itu agar memberitahu, kalau hanya penerima selebaran yang boleh membunuh mereka, juga jangan beritahu siapapun tentang sayembara itu." Telepati Anon, Kanon hanya mengangguk.
"Kalau begitu aku akan ke mereka dulu." Kata Kanon kemudian menghilang di balik asap.
"Ke-kemana Kanon-sama?" Tanya Rinto.
"Tenang saja, dia hanya merasa lupa akan sesuatu." Kata Anon sambil tersenyum, akhirnya mereka bisa menaklukkan semua ayah dari kelompok itu, karena para ayah mereka yang sungguh berpengaruh di dunia ini, pemimpin mereka saja ikut mereka, maka anakbuahnya akan mudah. "Saa.. Len, apa yang akan kita lihat, mengetahui ayahmu bergabung dengan kami." Pikir Anon sambil tersenyum. Langkah mereka menaklukkan dunia semakin mudah dengan ini.
.
.
.
TBC
Kali ini ceritanya berfokus kepada Anon dan Kanon-desu, sang Mage Terkutuk kita-desu, namanya juga Mage Terkutuk-desu, mereka pasti menempuh segala cara untuk mendapatkan pengikut-desu, atau anak buah bagi mereka-desu.
Balasan Review :
Miza Fuyumi : Terima kasih semangatnya-desu. Zeca-chan ternyata baru sembuh dari yandere yah?
Kebab Nyamnyam : Arigatou na, kebab nyamnyam-san, minta saja sama Kanon baju nya-desu.
Resira : Ini sudah lanjut-desu, ya enggak apa-apa lebih imut lagi-desu, (^^).
