Another Fairy Tale Stories
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp yang punya.
Warning : Typo's.
.
Chapter 11
Keadaan semakin memanas.
Miku, Rin, Luka, Gumi, Yuuma, Gakupo, Len dan Kaito yang sedari tadi nongkrong di perpustakaan mulai gerah.
"Gaaahh! Aku tidak cocok berada di lingkungan penuh buku seperti ini!" Teriak Kaito yang kemudian di hadiahi penghapus papan yang menimpa wajahnya dari penjaga perpustakaan. "Aku mau keluar dulu cari angin segar." Bisik Kaito kemudian keluar dari gedung perpustakaan kota. Mereka telah sampai di salah satu kota di daerah musim gugur.
"Gakkun, apa kau menemukannya?" Tanya Luka mulai bosan karena mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk.
"Minna, sebaiknya kita hentikan pencarian ini." Kata Len sambil menutup buku di tangannya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Rin.
"Kalau kita cari di daerah ini sampai Kaito menjadi alim pun tidak akan ketemu." Kata Len.
"Maksudnya?" Tanya Yuuma.
"Di sini bukan daerah yang pernah di tinggali para klan elemen matahari." Kata Len.
"Jadi kita harus mencari di tempat yang pernah di tinggali klan elemen matahari?" Tanya Gakupo, Len kemudian mengangguk.
"Darimana kau tahu?" Tanya Miku.
"Ada di sini." Kata Len memperlihatkan bukunya yang bersampul kulit dan memiliki judul 'Sejarah persebaran klan elemen di Voca.' "Dan di sini para klan elemen matahari tidak pernah menyentuh kota ini." Kata Len membuka kembali bukunya dan memperlihatkan sebuah peta Voca yang kemudian banyak sekali noktah-noktah berbentuk matahari di beberapa wilayah, beberapa dari mereka bergelumbul membentuk klan.
"Klan terdekat dari sini.. ada di kota Utau. Itu sekitar 5 jam perjalanan kaki dari sini." Kata Gakupo membaca peta disana.
"Jadi kita kesana?" Tanya Luka.
"Mau bagaimana lagi? Kita harus menolong Miku agar dia bisa menggunakan kekuatannya untuk menyerang." Kata Gakupo.
"Kau baca apa Miku?" Tanya Rin melihat Miku sama sekali tidak memperhatikan Gakupo dan malah asyik membaca sebuah buku.
"Membaca sejarah perjalanan dari klan matahari." Kata Miku sambil menunjukkan bukunya disana hanya terlihat gambar matahari berjejer di halamannya.
"Bagaimana kau bisa membacanya? Gambarnya matahari semua." Kata Rin.
"Entahlah, tetapi aku tetap paham, ini hampir seperti sandi rumput di kegiatan pramuka Rin, hanya saja bentuknya melingkar dan setiap kata di awali oleh satu garis ini." Kata Miku sambil menunjukkan satu garis yang tegak lurus dari lingkaran pusat.
"Pantas saja kau sungguh ahli membaca itu ketika ekskul." Kata Rin.
"Kalian semua! Ayo cepat pergi!" Teriak Kaito yang terlihat kelelahan, beberapa luka tonjokan ada di mukanya.
"Ke-kenapa.." Kata yang lainnya terkejut.
"Jangan lama-lama! Kita harus pergi kalau tidak kita akan mati!" Kata Kaito yang membuat dirinya menjadi sasaran penghapus papan kapur itu lagi, tetapi kali ini Kaito menangkapnya dan melemparkannya kembali kepada petugas perpustakaan itu hingga mengenai kepalanya yang membuat petugas itu pingsan seketika. Kaito langsung menarik Miku, Miku memegangi Rin, Rin memegangi Len, Len menjambak rambut indah(?) Gakupo, Gakupo menarik Luka, Luka menarik Gumi, dan Gumi menarik Yuuma untuk ikut bersama, ketika Kaito menoleh kenapa tarikannya semakin berat, dia sweatdrop seketika. "Kalian ini! Ini bukan permainan kereta-keretaan! Ini aku serius tahu!" Teriak Kaito marah. Kemudian mereka langsung melepas pegangan masing-masing dan bergerombol keluar, kecuali Miku yang pergelangan tangannya sudah di pegangi erat oleh Len.
"A-apa yang terjadi di sini?" Tanya Yuuma melihat beberapa orang bertarung.
"Nanti saja aku jelaskan pokoknya kita harus segera kabur dari kota ini!" Kata Kaito kemudian berlari di ikuti yang lainnya.
"Itu dia mereka! Sumber kekayaan kita!" Kata beberapa orang di sana melihat Kaito juga rombongan dan mulai mengejar mereka.
"Cih! Mereka tidak berhenti juga!" Kata Kaito kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menelpon. "Kalian cepat ulurkan waktu untuk kami!" Perintah Kaito kemudian mematikan lagi ponselnya, beberapa orang muncul menghadang gerombolan yang mengejar mereka.
"Si-siapa mereka?" Tanya Miku sambil sedikit menoleh ke belakang.
"Tenang saja mereka adalah anak buahku." Kata Kaito. "Kalian semua juga harus membantu bila ada yang menghalangi!" Kata Kaito, semua kemudian mengangguk.
Ketika ada yang mendekat dari samping, Kaito langsung membakar orang itu dengan api ungu nya. Gakupo membuat sebuah tameng juga tombak. Yuuma, sama seperti Kaito, membakar rambut seriap orang yang mendekati, bila orangnya botak, ya dia membakar bajunya. Gumi membuat tumbuhan rambat yang sangat berduri untuk menghambat. Luka mengambil air dari tumbuhan yang di tumbuhkan Gumi di belakang mereka untuk menghempaskan mereka. Len meniup mereka sekuat tenaga dengan elemen anginnya. Rin mengendalikan satu orang untuk menjadi tameng mereka.
"U-Uwaahh! Kenapa aku bergerak sendiri!" Kata orang yang di kendalikan oleh Rin.
Mereka terus berlari hingga akhirnya keluar dari gerbang kota dan menuju hutan untuk bersembunyi, Gumi kemudian menciptakan semak-semak untuk bersembunyi, sementara Miku mencoba memelankan tarikan nafasnya, dia tidak pernah berlari secepat ini dan sejauh ini, dia bukan anak olahraga di sekolahnya, kecuali Rin, bintang olahraga di kelasnya.
"Kelihatannya mereka sudah tidak mengikuti, ayo kita cari tempat aman untuk menceritakan apa yang terjadi." Kata Kaito kemudian menarik Miku untuk berdiri, tetapi baru beberapa langkah Miku sudah terjatuh. "Miku kau tidak apa-apa?" Tanya Kaito.
"A-aku tidak apa-apa kok!" Kata Miku mencoba bangkit lagi. Dia merasa dia tidak boleh membebani mereka dan menyembunyikan kalau kakinya sudah sangat sakit. Akhirnya mereka berjalan dengan sedikit cepat, Rin mulai menatap Miku curiga. "A-aku tidak apa-apa kok Rin." Kata Miku mencoba menyembunyikan kalau kakinya sudah sangat sakit.
"Kelihatannya di sini sudah aman." Kata Gakupo sambil melihat ke sekeliling, Miku langsung mengistirahatkan kakinya.
"Baiklah darimana ya aku mulai, ah, tadi saat aku keluar dari perpustakaan semua orang menatapku aneh, para anak-anak di giring masuk rumah, aku kemudian mendapatkan telepon dari mata-mataku di kerajaan Otou-san, kelihatannya Para Mage itu membuat sebuah sayembara kepada para pengikutnya, isinya, 'siapapun yang bisa membunuh kita, akan di hadiahi keabadian dan kekayaan tidak terbatas.' Dan kota tadi adalah kota benukan para Mage itu, di buat untuk para pengikutnya, kemudian keadaan memanas, semua mulai mengincarku jadi aku masuk untuk mengajak kalian semua pergi." Jelas Kaito.
"Jadi para Mage itu sudah mulai serius." Kata Gumi.
"Meskipun kita berhasil mengumpulkan semua keempat lambang, mereka tidak akan mau berkerja sama tanpa ada lambang ke 5." Kata Yuuma.
"Lambang ke 5?" Tanya Luka. "Aku tidak tahu kalau ada lambang ke 5." Katanya lagi.
"Lambang ke 5 adalah lambang netral, lambang yang menyatukan keempat lambang lainnya untuk berkerja sama dan menghasilkan kekuatan paling hebat di Voca." Kata Yuuma menjelaskan. "Aku baru baca tadi di perpustakaan." Kata Yuuma menjelaskan semua tatapan penuh tanya mereka semua.
"Lalu dimana lambang ke 5 itu?" Tanya Len.
"Ada di gunung pusat daerah ke 5." Kata Yuuma.
"Bukankah itu tempat kerajaan para Mage itu berdiri?" Tanya Gakupo. Yuuma hanya mengangguk.
"Juga mereka mendapatkan lambang ke 5 itu." Kata Yuuma menjelaskan.
"Jadi tugas kita yang terakhir adalah merebut lambang ke 5 itu?" Tanya Gakupo, Yuuma mengangguk.
"Ketika kita usdah sampai di kerajaan mereka, kita sudah menjadi kuat bukan?" Tanya Luka. Semuanya mulai mengangguk.
"Jadi selanjutnya kita kemana?" Tanya Gumi.
"Mau ke kota tempat tinggal Klan Matahari?" Tanya Len.
"Bi-bisa kita istirahat dulu?" Tanya Miku. "A-aku capek habis berlari jauh tadi." Kata Miku menyembunyikan kalau dia merasa kakinya sudah bengkak. Dia mulai mengutuk begitu lemahnya dia.
"Baiklah, kita akan beristirahat dulu." Kata Gakupo, Miku diam-diam memegangi pergelangan kakinya sebelah kanan dan mulai menyembuhkan diri.
"Miku, temani aku cari sungai ya?" Kata Rin berbisik ke arah Miku.
"A-aku tidak bisa Rin, cari orang lain saja." Kata Miku.
"Huuh.. ayolah Miku, kau kejam kepada adikmu ini!" Kata Rin mulai mengeluarkan sisi manja nya.
"Len, bisa kau temani Rin mencari sungai?" Tanya Miku kepada Len, Len hanya mengangguk dan mulai mengajak Rin ke sungai.
"Kau kejam Miku! Ini memalukan tahu!" Kata Rin akhirnya mau tidak mau pergi bersama Len setelah melihat Miku memegangi pergelangan kakinya dan dari balik tangannya sedikit ada cahaya keluar, Rin tahu Miku sedang terkilir kakinya.
'Gomenasai Rin, kalau kakiku tidak seperti ini aku pasti mengantarmu.' Batin Miku.
"Ehm, Rin, bagaimana tentang kehidupanmu di dunia manusia?" Tanya Len membuka pembicaraan.
"Biasa saja, aku lumayan populer loh di sekolah!" Kata Rin sambil tersenyum, dia sudah tidak mempermasalahkan soal Miku tidak mau menemaninya.
"Jadi apa kau sudah punya pa-pacar?" Tanya Len, dia sedikit merasa sakit hati, sakit hati? Iya dia sudah lama menaksir Rin sih.
"Apa yang kau bicarakan? Justru para laki-laki takut kepadaku, jangankan menembakku, mereka bahkan kabur ketika melihatku." Kata Rin sambil tertawa, sebenarnya jantungnya sedari tadi tidak karu-karuan.
"Ja-jadi aku punya kesempatan?" Tanya Len kembali senang.
"Kesempatan apa?" Tanya Rin.
"Kesempatan untuk menjadi pacarmu.. mungkin." Kata Len sambil membuang muka, dia takut wajah bersemu merahnya.
"Ke-kenapa mungkin?" Tanya Rin ikut membuang muka.
"Ha-habisnya, aku takut kau mungkin tidak menyukaiku.." Kata Len.
"Asal kau tahu ya.. a-aku juga su-su-suka sama kamu Len, tetapi aku takut." Kata Rin masih membuang muka, Len langsung menatap ke arah Rin yang memalingkan muka.
"Kenapa takut?" Tanya Len.
"Aku takut di anggap anak yang hanya memandang kekayaanmu saja, kau tahu aku kan miskin." Kata Rin masih memalingkan mukanya, tiba-tiba dia sudah merasa bersadar ke sebuah pohon, Len berada di hadapanya membuat sebuah kerangkeng di dekat kepala Rin dengan sebelah tangan Len, sebelah lainnya mendongakkan muka Rin.
"Jangan pernah berfikiran seperti itu bila kau berada di sebelahku, aku tahu kau bukan gadis seperti itu, selama aku sudah tahu sifat aslimu, aku tidak akan peduli komentar orang-orang." Kata Len sambil menatap penuh kesungguhan kepada Rin.
"Benarkah?" Tanya Rin.
"Aku selama ini sudah menyukaimu Rin, sebenarnya sih aku ingin seperti yang lainnya, tetapi apa kau mau?" Tanya Len, Rin mulai mengetahui apa maksud Len.
"Memangnya kamu mau terjebak selamanya hingga kau mati denganku?" Tanya Rin.
"Tentunya aku mau Rin." Kata Len dengan penuh percaya diri.
"Ba-baiklah, kalau begitu.." Kata Rin sambil memalingkan muka. Len kembali memegangi dagu Rin dan mulai mencium bibirnya. Rin mulai merasakan perasaan hangat.
'Apakah kau mau menjadi pendamping hidup Len Kagime selama hidupmu hingga kau mau?' Sebuah suara muncul di kepala Rin. Seketika Rin menjawab 'iya' dan dia merasakan sebuah rasa terbakar di pergelangan tangannya bagian dalam, Len kemudian melepaskan Rin dan memegangi pergelangan tangan Rin dan menggabungkan lambang di sana dengan miliknya.
"Lihatlah, lambang kita bisa menjadi satu begini!" Kata Len sambil tersenyum, Rin juga merasa terpana dengan lambangnya yang terbuat. Akhirnya Rin ingat kenapa dia mencari sungai.
"Le-Len.. bisa menoleh kesana sebentar aku sudah tidak kuat!" Kata Rin sambil menunjuk ke sebuah arah, Len kemudian tersadar, dan segera menoleh ke tempat lain.
Akhirnya Rin sudah selesai dengan urusannya.
"Jadi tidak sampai ke sungai deh.." Kata Rin.
"Oh iya, kenapa tadi Miku tidak mau mengantarmu?" Tanya Len.
"Kakinya terkilir, memang sih, dia selama di sekolah tidak pernah jago dalam olahraga apapun. Apalagi berlari adalah hal terberat baginya." Kata Rin.
"Jadi kita berlari tadi itu.." Kata Len menggantung.
"Dia menahannya, kurasa kakinya sudah sangat bengkak kalau ingat dia tadi langsung duduk." Kata Rin.
"Kau sungguh menyayangi Miku ya?" Kata Len.
"Mau bagaimana lagi? Dia sudah aku anggap keluargaku satu-satunya selain kakek. Kita sudah senang dan sedih bersama-sama, aku pandai di fisik, dia pandai di otak. Banyak yang bilang kami adalah saudara yang saling melengkapi." Kata Rin sambil tersenyum.
"Eh.. yakin kita tadi lewat sini?" Tanya Len. Rin kemudian menyadari, padahal mereka berjalan tidak terlalu jauh, kenapa mereka tidak sampai-sampai ke tempat yang lainnya.
"Kelihatannya kita tersesat." Kata Rin sambil menengok kanan dan kiri. Len mengeluarkan ponselnya.
"Bahkan di sini juga tidak ada sinyal." Kata Len sambil mencoba mengangkat-angkat ponselnya untuk mendapatkan sinyal.
.
Another Place
.
Miku merasa khawatir karena Rin belum datang juga.
"Mana maniak pisang dan remote controller itu." Kata Kaito, dia takut akan ada yang menyusul kemari.
"Apa mereka tersesat?" Tanya Gumi.
"Tersesat? Rin kurasa bukan orang yang bisa tersesat, dia itu jago dalam hal arah." Kata Miku.
"Lebih baik kita bagi menjadi 3 kelompok untuk membantu mereka, bila sudah ketemu segera hubungi yang lainnya." Kata Gakupo, kemudian mereka berpencar, untung saja kaki Miku sudah sembuh bengkaknya akibat dia obati diam-diam.
"Riiinn! Leeeennn!" Teriak Gumi.
"Oooiii! Riiinn! Leenn! Kalian dimana!" Teriak Yuuma.
"Lagian kenapa sampai bisa tersesat sih mereka." Kata Gumi.
"Benar padahal mereka kan tidak sebegitu jauh." Kata Yuuma.
"Hutannya lebat sekali! Bahkan hampir tidak ada cahaya di sini." Kata Gumi. Yuuma kemudian menyalakan api di tangannya untuk penerangan.
"Riiinn! Leeenn!" Teriak Yuuma lagi.
"Rriiinnn! Llleeeeennn! Kalian dimanaaa!" Sebuah suara menggelegar dari arah kejauhan.
"Tuh pasti Gakupo di suruh buat toak sama Luka." Kata Yuuma sweatdrop.
"Bukankah kekuatan Gakupo cuman bisa membuat senjata ya?" Tanya Gumi ikut sweatdrop.
"Mungkin juga Luka berteriak lewat laras bazooka." Kata Yuuma masih sweatdrop.
Sementara itu di atas pepohonan seorang laki-laki berambut hitam berdiri mengawasi mereka dari atas, dia mengambil alat komunikasi nya.
"Mereka sudah berpencar Rei, kau bisa memberitahu master." Kata laki-laki berambut hitam itu.
"Oke nii-chan!" Kata orang di seberang. Sebelah kiri mata laki-laki itu, pupilnya berubah menjadi memiliki sebuah bintang segi enam dengan lingkaran mengelilinginya yang berwarna putih terang, retinya matanya berubah menjadi warna keunguan. "Onii-chan jangan terlalu sering memakainya, ingat kekuatannya belum sempurna." Kata Rei dari alat komunikasi laki-laki itu.
"Tenang saja Rei, aku hanya akan membuat mereka semakin tersesat, ini boleh kan Mayu? Lenka?" Tanya laki-laki itu sambil menengadah keatas. Di dahan atasnya sudah ada Mayu dan Lenka yang sedang duduk.
"Selama itu adalah kekuatanmu sendiri tidak masalah." Kata Mayu, mereka masih harus bertugas mengawasi jalannya sayembara ini.
"Onii-chan, kata master, dia akan mengirim Dex-san dan Daina-san untuk mengendalikan para nightmare beast." Kata Rei.
"Nightmare beast?" Gumam Laki-laki itu.
"Hu-um.. master ingin segera memusnahkan mereka." Kata Rei.
"Terserah saja." Kata Rei, mereka bertiga kemudian menghilang di balik asap hitam.
.
.
.
TBC
Yohoho! Clara update-desu! Kali ini perjalanan mereka semakin tidak mudah-desu.. Tehehehe..
Gomen Clara jadi random gini updatenya-desu.
Balasan review :
Yuu Yukimura (atau tetep Clara panggil Christa saja?) : Ini sudah lanjut-desu. Kalau soal ayahnya Kaito bisa membujuk atau enggak lihat saja nanti-desu.. Huwehehehe.
Miza Fuyumi : Kalau soal deket tamat-desu.. kelihatannya masih jauh Miza-chan –desu.
