Another Fairy Tales Story
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp yang punya.
Warning : Some Typo's, bahasa berbelit.
.
Chapter 12
Game kematian
Matahari mulai tenggelam ketika mereka mencari, kini mereka sudah sangat berpencar.
"Show time." Ujar Laki-laki berambut hitam membuat kirinya berubah lagi. "Ehm.. kurasa kalian mendengarkanku, sekarang kalian ada di dalam dimensi buatanku." Kata Laki-laki itu membuat keempat kelompok yang berpencar itu mencari dari mana suara itu.
"Keluar kau!" Ujar Gakupo dari kejauhan.
"Biar aku perkenalkan diriku. Namaku Rui Kagene, anak buah dari Tonio-sama, kalian sudah masuk dalam death game Tonio-sama, kalian kalau bisa bertahan dari serangan nightmare beast milik Tonio-sama selama semalaman ini, maka kalian akan kami bebaskan." Kata Rui memperkenalkan diri. "Kalian tidak akan bisa bertemu satu sama lain selama game ini, dan game ini akan di mulai ketika matahari sudah terbenam." Ujar Rui lagi.
Rin & Len centric
"Tonio-sama?" Tanya Len.
"Kau kenal dengannya Len?" Tanya Rin.
"Dia biasa di juluki twinmaker." Kata Len sambil mewaspadai sekitar.
"Twinmaker?" Tanya Rin tidak mengerti.
"Dia mengambil beberapa anak kembar dari dunia manusia biasa, lalu dia mengubah anak-anak itu menjadi memiliki kekuatan, bukan kekuatan elemen yang biasa ada di sini, melainkan kekuatan ciptaannya sendiri. Lenka juga salah satu anak buahnya." Kata Len menjelaskannya.
"Bukankah Lenka-san adalah anak buah Para Mage itu?" Tanya Rin.
"Iya memang, Lenka dan kembarannya, Rinto, merupakan manusia biasa awalnya, dia kemudian di bawa ke dunia ini oleh Tonio-san. Para Mage itu tertarik dengan Lenka jadi di angkat menjadi anak buah langsung para Mage itu, kekuatan Lenka dan Rinto merupakan yang terkuat dari semua yang di berikan oleh Tonio-san." Jelas Len.
"Jadi bagaimana sekarang?" Tanya Rin.
"Kita bertahan hingga besok pagi adalah pilihannya, sepertinya ini adalah salah satu upaya anak buah Para Mage itu untuk meramaikan sayembara ini." Kata Len.
"Baiklah, aku akan membantu Len, tetapi, aku tidak yakin dengan Miku." Kata Rin.
"Memang kenapa dengan Miku?" Tanya Len, dia masih bersiaga, sebentar lagi matahari tenggelam sepenuhnya.
"Dia telah kelelahan berlari sedari tadi, Miku sedari di dunia sana memang tidak bagus urusan fisik." Kata Rin.
"Tenang saja Kaito itu kuat kok." Kata Len menenangkan Rin. "Lagipula kalau kau tidak yakin, berteriaklah, kurasa kita masih bisa mendengar teriakan satu sama lain meskipun kita di buat tersesat seperti ini." Kata Len. Rin kemudian bersiap untuk berteriak.
"KAITO, KALAU KAU SAMPAI MEMBUAT MIKU TERLUKA, AKU BERSUMPAH AKU AKAN MENGENDALIKANMU UNTUK MENJADI BANCI TAMAN LAWANG! DASAR MADESU!"(oke capslock jebol) Ujar Rin dengan sekuat tenaganya. Len sampai harus menyumpal telinganya.
"TIDAK USAH KAU BERITAHU DASAR REMOTE CONTROLLER!" Balas Kaito dari kejauhan.
"Oke, jadi mereka bisa mendengar kita." Kata Len.
Back to normal centric
"Nii-chan, aku sudah sampai." Kata Rei dengan mata kanannya yang sama seperti mata kiri Rui.
"Baiklah kau bantu aku dalam game ini, buat Dex-san dan Daina-san tidak bisa di temukan mereka." Kata Rui menginstruksikan. "Aku akan memberitahu satu lagi kondisi kemenangan kepada kalian sebelum permainan ini di mulai, bila kalian bisa menemukanku, adikku, atau para pengendali nightmare beast sebelum matahari terbit, maka game selesai." Ujar Rui.
"Nii-chan.." Ujar Rei pelan, mereka kemudian saling memunggungi dan berdiri di atas pohon tertinggi di hutan itu, jari mereka saling bertautan dan mereka mulai memejamkan mata.
"Baiklah, 10 detik sebelum matahari terbenam sepenuhnya. 10.." Ujar Rui menghitung mundur. Suaranya terdengar oleh keempat kelompok yang sudah sangat terpencar.
Yuuma menyiapkan apinya, begitu juga dengan Gumi yang sudah menyiapkan dinding tumbuhan berduri di sekeliling mereka.
"9.." Ujar Rei.
Luka tangannya sudah sangat gatal ingin menghajar sesuatu itu menyiapkan airnya untuk menghajar, begitu juga Gakupo.
"8.." Ujar Rui.
Kaito melintangkan tangannya di depan Miku, sedangkan Miku ketakutan, kekuatannya masih belum bisa untuk menyerang.
"7.." Ujar Rei.
Len mulai bersiaga dan naik ke pohon dengan Rin di sebelahnya, Rin sudah siap untuk mengendalikan beast yang datang. Tetapi mengalahkan nightmare beast tidak semudah beast biasa.
"6.." Ujar Rui.
Dex yang menunggu di sisi utara sudah sangat bernafsu untuk menyerang, telinganya telah berubah menjadi telinga serigala akibat Tonio yang mengubahnya menjadi bisa mengendalikan beast, tidak hanya itu, dia juga menjadi memiliki ekor.
"5.." Ujar Rei.
Daina meregangkan ototnya, untuk melakukan penyerangan kali ini, para nightmare beast yang di kendalikannya menunggu di balik bayangan hutan, dia menunggu di sisi selatan.
"4.." Ujar Rui.
Kaito, Miku, Yuuma, Gumi, Rin, Len, Gakupo, dan Luka semakin tegang. Keringat dingin mulai bercucuran.
"3.." Ujar Rei. Senyuman mulai mengembang di muka mereka.
Dex dan Daina mulai menyeringai, menampakkan taring mereka.
"2.." Ujar Rui.
Saatnya akan tiba sebentar lagi.
"1!" Ujar Rui dan Rei bersamaan, mereka membuka mata mereka dan sebuah lingkaran dengan bintang mulai keluar dari mata mereka dan mulai membesar, bintang di tengahnya mulai berputar dan lingkaran itu sendiri mulai mengelilingi Rui dan Rei.
"Saa.. hajimemashou." Ujar Rui mengembangkan sebuah senyuman mengerikan.
"Nightmare Beast keluarlah!" Teriak Rei yang juga di ikuti senyuman persis kakaknya. Dex dan Daina langsung melepas nightmare beast mereka,
Gakupo & Luka centric
Gakupo mendengar gemuruh mendekat, dia kemudian menyiapkan tombak dan tameng, Luka menyiapkan airnya.
Grrooaar!
Seekor nightmare beast seperti serigala berukuran seperti kuda itu mendekat.
"Luka! Hati-hati!" Ingat Gakupo.
"Tanpa kau beritahu pun aku sudah tahu." Kata Luka, Gakupo menembakkan tombaknya ke arah beast itu, tetapi tidak mempan, Gakupo langsung mengeluarkan pedang dan menyayat-nyayat beast itu. Luka menghindar dengan gesit dan mencoba menyerang beast itu dengan semburan airnya.
Akhirnya beast itu kalah, tetapi muncul lagi dua yang seperti sebelumnya. Ketika Luka mencoba mengambil air dari pohon di dekatnya, tidak sengaja Luka mengendalikan beast itu.
"Luka?" Tanya Gakupo melihat hal itu. Luka langsung melepas pengendaliannya kepada beast itu. "Ja-jangan hentikan Luka! Tidak apa-apa kau melakukan teknik terlarang itu sekarang!" Kata Gakupo sambl memegangi moncong salah satu beast dan menusuk kepalanya dengan belati.
"Tidak! Aku telah melakukannya! Tidak!" Teriak Luka sambil menutup kedua telinganya.
"Luka! Tidak apa-apa sekarang ini keadaan terdesak! Aku yakin orangtua mu bisa mengerti!" Kata Gakupo melindungi Luka yang kini berjongkok ketakutan akan apa yang dia lakukan tadi.
"Tidak! Aku takut nanti malah mengendalikan Miku, Rin, Yuuma, Gumi, Len, Kaito dan juga kau Gakkun!" Kata Luka ketakutan. Akhirnya beast itu habis semua dan Gakupo berjongkok untuk menatap Luka.
"Luka, tatap aku! Selama kau tahu mana yang akan kau kendalikan, kau tidak perlu khawatir soal itu! Aku tahu mengendalikan darah itu teknik terkutuk, tetapi kita membutuhkannya sekarang, bahkan semuanya membutuhkannya!" Kata Gakupo, Luka kemudian membuka matanya pelan.
"Apa dengan ini kita bisa membantu yang lainnya?" Tanya Luka masih ketakutan.
"Benar! Ayo kita harus mencari dua orang yang kita dengar suaranya tadi!" Kata Gakupo sambil berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Luka.
"Hum.." Kata Luka sambil mengangguk dan menerima uluran tangan Gakupo, Gakupo hanya tersenyum dan menggenggam tangan Luka erat.
"Itu baru gadisku! Jangan pernah lepaskan tanganku." Kata Gakupo. Luka hanya mengangguk.
Yuuma & Gumi centric
Yuuma dan Gumi menghadapi seekor beast berbentuk beruang mini, memang mini sih, tetapi mereka di serang bergerombol-gerombol, tubuhnya banyak yang tidak utuh, ciri-ciri nightmare beast pada umumnya.
"Gah! Begini caranya aku lebih memilih beruang besar sekalian!" Kata Gumi sambil memukul para beruang di sana dengan kayu seperti memukul bola golf.
"Mana mereka banyak banget lagi!" Ujar Yuuma membakar habis para beruang itu.
"Kalau begini caranya bagaimana kita bisa membantu mencari pengendali beast ini!" Kata Yuuma kesal, dia kemudian mendapatkan ide. "Gumi! Cepat naik ke punggungku!" Kata Yuuma, Gumi langsung naik ke punggung Yuuma dan akhirnya Yuuma meloncat dan mengucapkan satu mantra. "Bom api!" Yuuma kemudian seperti meludah sebuah api kecil. Ketika api itu menyentuh tanah, sebuah ledakan sangat keras dan mencakup lingkup yang luas terjadi menghabiskan para beruang itu.
"Lihat Yuuma! Gerombolan beast itu muncul dari sana!" Ujar Gumi menunjuk sesuatu di utara.
"Kalau begitu ayo kita kesana!" Kata Yuuma kemudian mereka mendarat dan berlari menuju utara.
Kaito & Miku Centric
Miku melihat sebuah cahaya bola api di kejauhan.
"Kaito! Lihat!" Kata Miku yang ada di gendongan Kaito.
"Ada apa?" Tanya Kaito yang kini ada di atas pohon.
"Bola api, apakah Yuuma ada di sana?" Tanya Miku.
"Mungkin." Kata Kaito.
"Kyaaaa! Kaito! Kaito! Depan! Depan!" Teriak Miku sambil menjambak-jambak rambut Kaito. Ternyata beast yang mereka tangani berbentuk Kecoak seukuran anjing.
"Itte! Lepaskan aku jadi tidak bisa menyerang nih!" Teriak Kaito juga, akhirnya kecoak itu langsung mendekat.
"Kyaaaa!" Teriak Miku begitu kecoaknya mendekat Miku langsung mengeluarkan cahaya yang sangat terang dari tangannya. Kecoak di hadapannya langsung berubah menjadi abu.
"Eh?" Kata Kaito dan Miku berbarengan.
"Kelihatannya cahaya matahari adalah kelemahan mereka." Kata Kaito.
"Makanya mereka mengincar matahari terbenam." Kata Miku dari gendongan Kaito.
"Selamat Miku, kau sudah menemukan cara menyerang dengan cahayamu." Kata Kaito tersenyum, begitu juga dengan Miku.
"Oh iya, ada yang ingin aku coba, katanya cahayaku juga bisa membuat radar, aku akan melacak semuanya! Dengan begitu kita bisa bersama, bertahan bersama lebih baik bukan? Dengan itu kita juga bisa membahas langkah selanjutnya." Ujar Miku.
"Terserah kau saja. Sebelumnya.." Kata Kaito kemudian menarik nafas. "KALIAN SEMUA DIAM DI TEMPAT!" Teriak Kaito, Miku kemudian menarik nafas.
"Radar!" Teriak Miku, dia kemudian memancarkan gelombang cahaya yang kemudian menghancurkan seluruh beast di hutan itu. "Ketemu!" Ujar Miku.
"Miku?! Kau mimisan?" Tanya Kaito melihat Miku mimisan.
"Oh, benarkah?" Tanya Miku kemudian menyentuh bawah hidungnya, memang ada darah.
"Kau jangan melakukannya sering-sering." Ujar Kaito.
Rei & Rui centric
Tiba-tiba sebuah ledakan cahaya membuat salah satu lingkaran itu pecah dan Rui limbung, Rei langsung menangkap tubuh kakaknya.
"A-ada apa ini?" Tanya Rei, dari mata Rui keluar tangisan darah.
"Salah satu dari mereka berhasil mematahkan dimensi buatanku, kini mereka semua satu dimensi!" Kata Rui.
"Cih! Tenang saja Nii-chan, aku tidak akan membiarkan mereka mengetahui lokasi kita, Dex-san dan Daina-san, kita harus memenangkan ini, aku juga tidak mau menerima hukuman Tonio-sama!" Kata Rei sambil menangis. "Ultimate dimensions!" Teriak Rei sambil melihat ke atas, lingkaran itu berubah menjadi di atas mereka dan melebar, mata kanan Rei mengeluarkan tangisan darah juga.
"Rei! Jangan paksakan dirimu!" Kata Rui. Rei kemuian menatap kakaknya.
"Tapi, Nii-chan akan di siksa oleh Tonio-sama bila kita kalah." Kata Rei memeluk kakaknya.
"Daijoubu yo, yang penting kau tidak ikut di siksa Tonio-sama, maka aku akan baik-baik saja Rei, jangan paksakan dirimu." Kata Rui sambil ikut memeluk Rei.
"Tetapi sudah terlanjur Nii-chan, kekuatannya sudah terlepas, menariknya kembali harus menghilangkan semua ilusi dimensi ini." Kata Rei sambil tersenyum. "Aku kuat kok!" Kata Rei.
"Cahaya apa tadi?" Tanya Len.
"Hangat ini, ini cahaya Milik Miku!" Ujar Rin. "Cahayanya telah menghabiskan beast di sini."
"Jadi apa maksudnya Kaito tadi berteriak tidak boleh pergi dari tempat kita?" Tanya Len.
"Karena bakalan sulit menemukan kalian kalau kalian terus bergerak, sedangkan Miku bakalan pingsan kalau melakukannya lagi." Ujar seseorang di balik Len dan Rin.
"Kaito! Ta-tapi, bukankah kata salah satu dari suara itu kita tidak bisa saling menemukan?" Tanya Len.
"Kelihatannya ilusi itu telah di patahkan oleh radar milik Miku." Kata Kaito sambil menurunkan Miku, sudah tidak ada nightmare beast kecoak lagi.
"Riiinn!" Ujar Miku sambil berlari menghampiri Rin dan memeluk Rin.
"Akhirnya kau menemukan kekuatanmu untuk menyerang!" Kata Rin ikut memeluk Miku.
"Ayo kita cari yang lainnya, kau masih ingat tempatnya kan Miku?" Tanya Kaito, Miku hanya mengangguk.
"Asalkan mereka tidak beranjak dari tempat mereka, kurasa kita akan menemukannya sebentar. Ternyata posisi kita berdekatan, hanya saja karena ilusi dimensi ini, jadi kita terasa terpisah jauh." Kata Miku menjelaskan. Mereka kemudian berjalan mencari yang lainnya, benar kata Miku, baru 10 menit mencari mereka sudah berkumpul kembali.
"Jadi kekuatan radar Miku tadi langsung memecahkan ilusi dimensi yang di buat dua orang itu?" Ujar Gakupo, Miku hanya mengangguk.
"Selamat kau telah keluar dari zona healer!" Kata Gumi sambil merangkul Miku.
"Miku, apa ketika kau melakukan pelacakan tadi kau bisa melacak para pengendali nightmare beast itu atau para pengendali dimensi itu?" Tanya Yuuma.
"Apa para pengendali nightmare beast itu laki-laki dan perempuan yang memiliki telinga dan ekor seperti serigala?" Tanya Miku.
"Mungkin, sebelum melawan mereka kita harus mengetahui informasi tentang mereka." Kata Kaito.
"Aku sedikit tahu tentang mereka." Kata Len kemudian dia menjelaskan tentang para anak buah Tonio itu.
"Kemungkinan selama kita berbincang disini mereka sudah menyiapkan dimensi lain. Dan mengirimkan nightmare beast lagi." Kata Luka. "Aku memiliki rencana." Kata Luka dengan senyuman terkembang.
Daina pov
Apa-apaan cahaya itu tadi? Aku mencoba mendeteksi para peliharaanku, tidak ada tanda-tada dari mereka? Jangan bilang cahaya itu adalah cahaya matahari!
'Daina! Apa kau kelihangan kontak juga dengan para peliharaanmu?' Tanya Dex di kepalaku, aku mencoba menggerak-gerakkan kupingku mencoba mencari sesuatu tentang peliharaanku yang masih selamat.
'Tidak ada Dex! Mereka semua telah mati karena cahaya itu!' Pikirku.
'Tidak mungkin! Bukankah pengendali cahaya matahari sudah punah?!' Pikir Dex, ya ampun dia ini pelupanya kebangetan.
'Dex! Apa kau tidak ingat tentang ramalan itu! Mereka adalah anak ramalan itu! Aku barusan mendengar kalau Rui sudah tumbang, tinggal Rei yang bertahan sekarang!' Pikirku.
'Aku juga mendengarnya soal itu, jadi hanya ada dimensi yang melindungi kita saat ini?' Kata Dex, aku hanya mengangguk. 'Cih! Aku tidak percaya para peliharaanku di musnahkan dengan mudah oleh anak kecil! Daina! Ayo kita kerahkan peliharaan kita lebih banyak lagi!' Teriak Dex dengan marah.
'Dengan senang hati!' Sahutku, aku merentangkan tangan dan para nightmare beast mulai berdatangan. "Serang mereka anak-anakku!" Ujarku, aku dapat merasakan mata ku berubah menjadi mata serigala. Aku tidak menyesal di bawa kedunia ini dan di rubah menjadi manusia serigala, bahkan Dex sungguh senang, Tuan Tonio adalah orang yang sangat kami hormati.
Aku mulai mendengar sesuatu lagi.
"Radar!" Teriak suara yang sebelumnya kemudian cahaya itu datang, tidak mungkin dia akan memusnahkan semua nightmare beast milikku!
'Tidaaakk!' Aku bisa mendengar Rei berteriak.
'Rei! Kau tidak apa-apa!?" Sahut Rui.
"Tidak semua dimensi yang kita munculkan hilang!" Kata Rei, apa maksudnya?
"Radar!" Teriak suara itu lagi. Radar? Maksudnya adalah, tempat kita sudah di ketahui? Gggrrr.. tidak akan aku biarkan mereka menemukan tempat kami! Aku mengarahkan semua nightmare beast yang kami punya. Aku mengerahkan seluruh kekuatanku kepada para nightmare beast milikku agar lebih kuat, lebih kuat lagi! Hingga akhirnya aku merasakan tubuhku berubah.
'Daina! Kau terlalu memaksakan diri!' Ujar Dex, aku melihat tanganku sudah berubah menjadi cakar serigala.
'Apa boleh Buat! Dex! Kau juga lakukanlah! Kita.. Kita tidak bisa membiarkan Rui dan Rei tertangkap mereka dan permainan ini berakhir dengan kita yang kalah!' Kataku tidak peduli, akhirnya badanku sudah menjadi serigala seutuhnya.
'Baiklah kakak.' Ujar Dex, aku merasakan dia juga sudah berubah menjadi serigala.
"Ggggrrr... Aaaaauuuuuuuuuu!" Lolongku.
"Aaaaauuuuuuuu!" Jawab Dex dari kejauhan. Aku tidak akan membiarkan kita kalah semudah ini!
.
.
.
TBC
Yohoho, pertarungannya kurang greget ya? Gomen Clara emang kurang lihat anime genre pertarungan-desu. Oh iya, Daina kenapa ngomong 'Tuan Tonio' bukan 'Tonio-sama'-desu? Karena kan memang mereka VocaAmerica-desu.
Balasan review :
Yuu Yukimura : Arigatou sudah tambah suka-desu, ini sudah lanjut-desu. Baiklah, Clara panggil Christa saja-desu..
Miza Fuyumi : Jangan lama-lama nanti fic Clara jadi kaya' sinetron dong #plak. Len ngomong begitu kan soalnya di cerita kan Kaito orangnya jadi urakan enggak sepolos dulu-desu.
