Another Fairy Tale Story
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp yang punya, spongebob juga bukan milik Clara
Warning : Typo's, penjabaran panjang, humor tidak pada tempatnya, genre campur aduk.
.
Chapter 13
Ujung dari game
Normal POV
Beberapa menit sebelumnya
Luka mulai menjelaskan rancananya.
"Begini, Miku kau kuat untuk menggunakan radar mu lagi?" Tanya Luka.
"Chotto, Miku sudah tidak kuat melakukannya lagi!" Kata Kaito merasa keberatan soal itu.
"Sudahlah Kaito, aku baru kali ini berguna, ini adalah game hidup dan mati, aku ingin membantu kali ini, bila radar ku adalah jawabannya, aku rasa aku masih bisa melakukannya tiga kali lagi." Kata Miku sambil memegangi baju Kaito yang bagian lengan.
"Miku, kau baru bisa melakukannya, apa kau yakin kau bisa?" Tanya Kaito.
"Kata buku yang aku baca tadi, para pendahulu ku bisa melakukannya dengan mudah untuk mengetahui keberadaan musuh, aku harus bisa menguasainya." Kata Miku. Luka kemudian mengangguk.
"Kelemahan Nightmare beast adalah cahaya matahari, kita memerlukan dua gelombang saat ini, satu gelombang untuk memecah dimensi para pembuat dimensi itu, gelombang satunya adalah untuk mengetahui posisi musuh, ketika Miku mengeluarkan radarnya, secara otomatis para Nightmare beast langsung hangus. Di gelombang kedua kau harus memetakkan hutan ini dan lokasi para pembuat dimensi itu dan para pengendali Nightmare beast ini. Kau bisa?" Tanya Luka, Miku kemudian mengangguk.
"Lalu kami?" Tanya Gakupo.
"Tunggu Miku memetakkan lokasinya dulu. Kaito, ada sebuah resiko di sini, kau bisa bertarung dengan menggendong Miku, kemungkinan dia mungkin sedikit lemas setelah gelombang ke dua." Kata Luka.
"Miku, kau yakin melakukan ini?" Tanya Kaito menatap Miku. Miku mengeluarkan jurus puppy eyes nya kepada Kaito, akhirnya Kaito menghela nafas. "Baiklah, baik, lakukan sesukamu, aku cukup kuat kok untuk bertarung dengan menggendong Miku." Kata Kaito.
"Baiklah, ayo di mulai." Kata Luka. Miku kemudian bersiap di sebuah ruang terbuka, dia memusatkan pikirannya.
"Radar!" Teriak Miku kemudian memunculkan lingkaran cahaya, gelombang pertama telah di luncurkan.
"Tidaaaakk!" Sebuah teriakan mulai terdengar.
"Suara siapa itu?" Tanya Gumi.
"Jangan hiraukan dulu, baiklah Miku, gelombang kedua!" Kata Luka, Miku mengangguk dan mulai mengambil ancang-ancang.
"Radaaarr!" Teriak Miku lagi. Setelahnya Miku membuka mata dan mulai mengambil ranting dan menggambar di tanah. "Bentuk hutan ini adalah lingkaran, dan para pengendali dimensi itu ada di sini." Kata Miku menggambar sebuah titik di tengah-tengah lingkaran. "Lalu aku mendeteksi dua orang di titik sini dan sini." Kata Miku membuat titik di kedua sisi luar lingkaran itu. "Aku merasakan bahaya paling hebat di kedua titik ini." Kata Miku melanjutkan.
"Baiklah, Gakupo! Kau dan aku menuju titik di selatan, Kaito! Kau dan Miku menuju titik di utara. Rin, Len, Yuuma, Gumi, kalian kalahkan yang ada di pusat lingkaran, teriakan tadi kelihatannya menandakan mereka kehilangan kekuatan mereka." Kata Luka memberi penjabaran rencananya.
"Ayo kita laksanakan!" Kata Gumi, yang lainnya pun mengangguk dan mulai berpencar.
Gumi, Rin, Len, Yuuma Centric
"Ayo naik untuk melihat mereka!" Kata Rin, semuanya mengangguk dan mulai memanjat pohon.
"Itu mereka! Aku melihat mereka!" Kata Gumi. Rei dan Rui terkejut mereka telah ditemukan.
"Re-Rei buat dimensi!" Kata Rui, tetapi Rei menggeleng.
"A-aku tidak bisa melakukannya lagi Nii-chan.. maafkan aku.. maafkan aku.." Kata Rei sambil menangis.
"Kami menemukan kalian, kami menang." Kata Len menghampiri mereka.
"K-kumohon jangan sakiti kami!" Kata Rei menangis sambil memeluk kakaknya yang sekarat.
"Te-tenanglah, kami tidak akan menyakiti kalian kok." Kata Rin.
"Apa yang menyuruh kalian Tonio-san?" Tanya Len, Yuuma dan Gumi menatap Len terkejut. Rei hanya mengangguk. "Nanti akan aku ceritakan siapa Tonio-san." Kata Len menatap Gumi dan Yuuma.
"Tonio-sama tergiur dengan sayembara Mage-sama, mereka menyuruh kami untuk membunuh kalian." Kata Rei menangis.
"Lalu kenapa kau menangis?" Tanya Gumi.
"Karena kami kalah, Tonio-sama akan menyiksa Nii-chan, aku tidak ingin Nii-chan di siksa lagi, aku tidak sanggup melihatnya." Kata Rei masih menangis.
"Lalu, pergilah dari orang itu." Kata Yuuma, Rei hanya menangis.
"Tidak bisa, kami tidak bisa keluar semudah itu, kami sudah terkena kutukan budak, kami tidak bisa kabur kecuali tuan kami menjual kami atau tuan kami mati." Kata Rei menangis.
"Kalau begitu, kami akan membunuh Tonio-san dan membebaskan kalian. Jujur saja kami tidak tega melihat kalian." Kata Len.
"Kalau begitu, kami akan menunggu hari kebebasan kami." Kata Rei sambil tersenyum, sebuah asap kemudian menyelubungi mereka. "Tolong bebaskan semua budak Tonio-sama." Kata Rei sebelum tubuhnya dan tubuh kakaknya hilang di balik asap hitam.
"Kami berjanji." Kata Rin.
"Tidak kusangka, kukira semua anak buah Tonio-san memang loyal kepada Tonio-san, ternyata mereka terjerat kutukan budak itu." Kata Len.
"Bukankah kutukan budak itu illegal?" Tanya Gumi.
"Memang ketika masa para mage dan para pengendali elemen hidup bersama, hal itu illegal, sekarang kelihatannya itu di legal kan." Kata Len.
"Peri legalitas itu bukankah ada? Apa peri itu sudah mati?" Tanya Yuuma.
"Kau tahu sendiri kan Peri tidak bisa mati, kemungkinan peri peraturan itu di sekap di suatu tempat, dimana dia tidak bisa menggunakan kekuatannya." Kata Len.
"Kutukan budak itu kejam ya?" Komentar Rin.
"Sangat, maka dari itu, kutukan itu di buat illegal." Timpal Len.
"Jadi kita menunggu mereka menyelesaikan misi?" Tanya Yuuma.
"Apa kau pernah hanya menunggu di pertempuran Yuuma?" Tanya Len.
"Aku dan Yuu-kun akan ke membantu Luka-chan." Kata Gumi, Rin kemudian menarik Len menuju Miku dan Kaito.
Luka & Gakupo Centric
"Mereka telah berubah menjadi binatang? Eksperimen illegal? Kemana peri legalitas?" Kata Gakupo menghadapi Dex yang sudah menjadi serigala raksasa.
"Tidak akan aku biarkan kalian mengalahkanku!" Kata Dex.
"Kelihatannya lolongan itu menandakan mereka telah berubah menjadi serigala." Kata Luka menghindar.
"Kalian berhadapan dengan pengendali Beast terhebat di Voca, kecil kemungkinan kalian akan menang." Kata Dex yang sedari tadi mengeluarkan Nightmare beast nya.
"Kalau saja Miku ikut dengan kita." Kata Gakupo yang sedari tadi menghabisi monster yang tidak terhitung itu. Bahkan yang sudah di hancurkan kembali menyatu.
"Kalah Miku ikut kita, bisa-bisa Kaito ribut terus karena lepas dari pengawasannya." Kata Luka.
"Maaf kami datang terlambat." Kata Len turun dari atas. "Rin, mohon bantuannya." Kata Len, Rin hanya mengangguk, dia kemudian menatap Dex tajam.
"Kenapa kau malah diam saja gadis kecil, tidak mencoba menghindar?" Tanya Dex.
"Tidak perlu, karena kau juga tidak bisa bergerak." Kata Rin sambil menyilangkan tangan di dada dengan wajah sombong. Dex kemudian menyadari sesuatu.
"Apa yang kau lakukan kepadaku? Kenapa aku tidak bisa bergerak?" Katanya.
"Kau berada dalam kendaliku, jadi teman-temanku, kalian sudah bisa menyerangnya." Kata Rin dengan senyumban sombong.
"Dengan senang hati." Kata Gakupo.
"Da-dadaku sesak." Kata Dex.
"Nafasmu juga dalam kendaliku serigala besar." Kata Len. Luka mengendalikan aliran darah di tubuh Dex.
"Si-Sial." Kata Dex. Dirinya tahu dirinya akan kalah.
"Kau harus berfikir dua kali untuk berurusan dengan kami." Kata Gakupo kemudian memenggal kepala serigala itu dengan satu tebasan. Serigala itu langsung perlahan kembali ke sosok manusia, tetapi kepalanya masih ada.
"Huh.. aku kalah rupanya, kenapa kau mengendalikan darahku kalau tubuhku sudah di kendalikan olehnya?" Tanya Dex menunjuk Luka kemudian Rin.
"Aku tidak mau melihat proses pemenggalan yang berdarah-darah hanya untuk mengembalikan sosok manusia mu." Ujar Luka simpel.
"Tinggal saudariku di sana, semoga kalian beruntung." Kata Dex kemudian lenyap di balik asap hitam.
Miku & Kaito Centric
Miku sedari tadi menghalau nightmare beast mendekat dengan cahayanya.
"Ba-bagaimana bisa kegelapan dan cahaya menyatu?" Tanya Daina terkejut.
"Kau sungguh aneh bila menganggap kedua hal itu tidak bisa bersatu, setiap ada cahaya selalu ada kegelapan di baliknya, seperti kedua sisi koin, mereka adalah satu." Ujar Miku. Kaito langusng menghajar dari atas tetapi Daina berhasil menyingkir, tetapi, kemudian dia di selimuti api.
"Yo.. maaf menunggu lama." Kata Yuuma dari belakang mereka.
"Syarat kemenangan mereka adalah pemenggalan kepala serigala itu, maka dia akan kembali menjadi manusia normal." Kata Gumi.
"Kalau begitu kalian saja, aku sudah capek sedari tadi, dia sungguh gesit kau tahu." Kata Kaito sambil duduk di tanah.
"Kau ini.." Kata Yuuma.
"Panas! Panas! Singkirkan api ini!" Teriak Daina.
"Gumi, kau siap kan?" Tanya Yuuma, Gumi tanpa memberi respon langsung mengarahkan tumbuhan yang menjerat leher serigala itu erat hingga terpenggal, Daina kemudian kembali ke wujud manusianya lagi. Tentunya kepalanya masih utuh.
"Huh, tidak kusangka kalian mengalahkanku, selamat kalian berhasil lolos dari game ini." Kata Daina sambil berkacak pinggang, di sekelilingnya sudah ada asap hitam. "Oh iya, aku membuat hadiah khusus untuk si anak berambut toska itu, dan si pengendali pikiran itu, di buka ya?" Kata Daina sambil melemparkan dua buah kotak kepada Miku yang akhirnya menghilang di balik asap, tanpa curiga apapun Miku membukanya yang berwarna toska.
"Kyaaaaaaaaa!" Teriak Miku ketika membukanya, ternyata segerombol nightmare beast berbentuk kecoak yang kemudian merambati Miku, dia langsung mengeluarkan radar nya dan akhirnya pingsan.
"Miku!" Teriak Gumi, Yuuma, dan Kaito bersamaan. Kaito menangkap tubuh Miku.
"Ada surat di dalamnya." Kata Gumi membuka kotak itu, dia mengambil surat itu kemudian membawanya untuk di baca bersama.
'Balasan untuk orang yang dengan mudahnya membunuh peliharaanku, cheerss..'
"Dia adalah wanita tipe pendendam." Kata Yuuma sweatdrop melihat hal itu.
"Dia hebat bisa mengetahui kelemahan Miku." Komentar Gumi.
"Aku melihat radar milik Miku tadi, memangnya ada apa?" Tanya Gakupo yang datang dengan Luka, Rin dan Len.
"Kenapa Miku pingsan?!" Ujar Rin histeris.
"Ini bacalah." Kata Gumi menyerahkan surat itu kepada mereka yang baru datang itu.
"Dia sungguh pendendam.." Gumam Rin.
"Ah, dia menitipkan sesuatu juga kepadamu Rin." Kata Kaito sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna kuning sambil menggendong Miku di punggungnya.
"Hati-hati Rin, lihatlah Miku." Kata Len, Rin mulai menelan ludah. Ketika dia melihat ke sekeliling, semuanya langsung menjauh.
"Kita tidak tahu apa yang di takutkan Rin bukan?" Tanya Luka.
"Miku kurasa tahu, tetapi dia pingsan." Kata Kaito.
"Kita jaga jarak saja dari dia." Komentar Len, di ikuti anggukan kepala yang lainnya.
"Ka-kalian kejam.." Kata Rin yang terpaku di tempatnya sambil memegang kotak yang belum terbuka itu. Kakinya mulai gemetaran.
"Kau tidak merasa sesuatu yang bergerak di dalamnya kan?" Tanya Gumi.
"Kotak itu tidak berat kan?" Tanya Gakupo. Semuanya takut kalau yang di takutkan Rin lebih menakutkan dari ketakutan mereka sendiri. Mereka menebak kalau isinya adalah hal yang di takutkan seperti milik Miku.
"Hiks.. Len kesini kau!" Teriak Rin sambil mengendalikan pikiran Len untuk berjalan ke tempatnya, akhirnya berhenti di sebelah Rin.
"Ri-Rin.. ayo ce-cepat bu-buka kotaknya.." Kata Len ketakutan.
"I-iya..ini juga di buka.." Rin meletakkan kotak itu di tanah dan mengambil ranting, dia membuka kotak itu dan muncullah sebuah boneka badut yang langsung keluar. Sempat membuat mereka kaget sih, tetapi tidak ketakutan, muncul perempatan di dahi Rin.
"Ri-Rin.." Kata Len takut, kini dia takut marahnya Rin.
"Dasar jebakan! Aku kira itu tadi apa!" Kata Rin marah sambil menendang kotak itu menjauh, sebuah kertas kemudian jatuh ke tanah dan di ambil Gakupo.
'Kau tadi sudah membuat Dex terpaku di tempatnya kan? Bagaimana rasanya terpaku di tempat seperti itu? Hahahahaha!'
Rin mulai kesal kepada serigala itu.
"Sekarang yang jadi pertanyaan, kapan dia menyiapkan ini semua?" Kata Gakupo.
"Ini semua masih menjadi misteriii~~" kata Luka dan Gumi dengan menirukan gaya spongebob dan patrick saat mengucapkan hal itu. Bedanya tuh busa kuning menghilang ke sisi layar, ini Luka dan Gumi menghilang di balik pepohonan. Rin masih sebal.
"Lihat saja nanti kau serigala betina! Kalau sudah ketemu akan aku tendang bokongmu!" Teriak Rin.
Secara tidak sadar mereka sudah bertarung semalaman penuh, matahari sudah terbit.
"Wah, kita tidak tidur semalaman." Kata Luka. Dia sudah kembali dari pepohonan.
"Kita ber-siang dimana nih? Mendirikan tenda?" Tanya Len.
"Ber-siang?" Tanya Gumi.
"Iya, kan kalau malam kita ber-malam, lah karena kita tidurnya siang ya kita cari tempat untuk ber-siang." Kata Len hingga di jitak oleh Rin.
"Permainan kata yang tidak lucu!" Kata Rin, dia masih sebal karena ulah Daina tadi.
"Bangun tenda juga tidak apa-apa, toh hutan ini sudah aman, biar aku yang bangunkan tenda untuk kalian." Kata Gumi sambil menyulurkan beberapa tumbuhan. Kaito merasa Miku jatuh dari gendongannya hingga dia panik dan melihat ke belakang.
"Dia akan tidur bersamaku, tidak akan aku biarkan kau men-rape adikku ini." Kata Rin yang ternyata memindahkan Miku menjadi di gendong Rin yang masih dengan mode galaknya. Kaito hanya mengangguk, dia tidak mau membuat urusan dengan perempuan yang sedang dalam mode galak. Akhirnya 4 tenda sudah berdiri, Rin tidur dengan Miku, Gumi dengan Luka, tunggu, ada yang tidak setuju dengan ukuran tenda yang terakhir.
"Tunggu, jangan bilang semua tenda berisi dua orang, lalu aku dengan laki-laki berduaan, nanti kalau ada pemburu lewat di sangka sedang yaoi dong?" Kata Len.
"Itu benar, kalian perempuan tidak akan di lihat Yuri apapun posisi kalian, kami para laki-laki rentan dengan anggapan seperti itu." Kata Yuuma merasa ikut tidak terima.
"Baiklah, aku hanya akan bangun dua tenda, satu berisi perempuan satu berisi laki-laki." Kata Gumi, dia mengubah lagi bentuk tendanya. Dan yang ini berakhir dengan damai, akhirnya mereka beristirahat di siang hari. Satu malam yang sungguh menebarkan bagi mereka. Tetapi seseorang menatap mereka dari kejauhan dengan membawa pesan buruk.
"Target kutemukan Akaito-sama." Kata orang itu.
.
.
.
TBC
Huwahahaha.. Clara update-desu! Semoga yang ini kalian juga menyukainya-desu..
Balasan Review :
Efu-chan : Mungkin bakalan Clara munculin sih, tapi enggak tahu nanti ada di chapter berapa-desu.
Miza Fuyumi : Arigatou sudah suka-desu.. kenapa ngakak? Clara juga enggak tahu-desu.
