Another Fairy Tale Story
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp Yang punya.
Warning : Typo, penjabaran panjang.
.
Chapter 14
Rencana Akaito.
Pagi hari pun datang dan mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kota dimana leluhur Miku berada sebelumnya.
Tetapi di lain tempat seseorang tengah tertawa keras.
"Hahahahaha! Dengan ini Kaito pasti mau kembali kesini." Kata orang itu. "Kau cepat laksanakan hal ini!" Kata orang itu.
"Baiklah Akaito-sama." Kata orang yang di suruh Akaito, dia kemudian menghilang di balik asap.
"Sayangku, kita akan segera berkumpul lagi, dan kita akan kembali menjadi keluarga bahagia." Kata Akaito sambil memandangi foto istrinya yang sudah meninggal, iya dia menjadi pengikut Mage terkutuk itu karena para Mage itu berjanji akan menghidupkan istrinya lagi, asalkan mengikuti mereka. "Seharusnya kau tidak menunjukkan kelemahanmu sebesar ini Kaito." Kata Akaito sambil menatap suatu foto di tabletnya sambil tersenyum licik.
Kembali ke tempat Miku dan kawan-kawannya, mereka akhirnya sampai di kota tempat leluhur Miku berada. Ketika para penduduk melihat Miku, yang terjadi malah menghebohkan.
"Keturunan terakhir pengendali cahaya telah datang! Keturunan terakhir telah datang!" Kata seseorang yang membuat semua orang melihat ke arah Miku dan kelompoknya.
"Wah benar! Benar para anak yang di ramalkan datang!" Kata yang lainnya.
"Miku, kau benar-benar terkenal." Kata Gumi kepada Miku yang sepertinya bingung dengan apa yang terjadi sementara Kaito berada di depan Miku untuk melindungi Miku dari penduduk yang berkerumun.
"Kalian semua tenang sebentar, mereka kebingungan." Kata seseorang, para penduduk kemudian memberi jalan bagi orang itu. "Selamat datang di desa matahari Hatsune-san." Kata orang itu, orang itu terlihat sungguh tua. "Aku adalah kepala desa di sini, kami sudah menunggu kedatangan anda." Kata orang itu memperkenalkan diri.
"Yo.. paman sudah lama tak bertemu." Kata Yuuma kepada kepala desa.
"Wah, nak Yuuma, kau juga ikut dalam perjalanan ini rupanya, jadi apa yang bisa aku lakukan?" Tanya kepala desa.
"Mungkin tempat dimana paman menyimpan semua berkas buku atau dokumen tentang leluhur Miku?" Tanya Yuuma.
"Baiklah ikut aku." Kata kepala desa sambil menuju suatu arah, Miku dan yang lainnya pun juga ikut. Kemudian mereka sampai di sebuah bangunan yang cukup jauh dari desa. "Ini adalah bangunan yang di gunakan oleh leluhur Hatsune-san, yang bisa membukanya hanyalah sang pengendali cahaya, karena pintu ini terbuka oleh cahaya yang di ciptakan dari elemen." Jelas kepala desa itu.
Miku kemudian mengangguk dan mulai mengeluarkan cahayanya dan mengarahkannya ke pintu itu, pintu itu akhirnya terbuka.
"Nah silahkan masuk kesana, didalamnya adalah beberapa informasi tentang leluhur anda." Kata Kepala desa, mata Miku berbinar dan langsung masuk ke tempat itu. "Yah, walaupun di dalamnya hanya ada tulisan klan matahari sih, kalau kalian mau, kalian bisa berkeliling di desa." Kata kepala desa.
"Rin, Gumi, tadi kalian terpana melihat anak-anak taman bermain itu kan? Ayo kesanaa!" Ajak Luka menarik Gumi dan Rin.
"Kai.. Ayo." Kata Gakupo sambil menepuk bahu Kaito.
"Yuuma, Len, jaga Miku, kalau kalian membiarkan dia terluka, kalian akan mati!" Kata Kaito dengan background api hitam di belakangnya.
"Oke! Tenang saja, Gaku-kun! Aku titip Gumi." Kata Yuuma.
"Aku juga titip Rin." Kata Len. Akhirnya Gakupo dan Kaito pergi menyusul yang lainnya sedangkan Len, Yuuma dan Miku langsung menyerbu buku disana.
"Kalau kalian butuh apa-apa, datang saja ke balai desa." Kata Kepala desa itu kemudian pergi.
Di taman bermain, Luka, Gumi dan Rin sudah di kerubungi anak-anak.
"Huwaaaa! Bunganya jadi lebaatt!" Teriak anak-anak senang dengan 'keajaiban' yang di buat Gumi.
"Kalau kalian merawat bunga-bunga ini dengan baik, kalian bisa kok menumbuhkannya seperti ini." Kata Gumi sambil menggosok salah satu kepala anak-anak disana. Sedangkan Rin dan Luka berlomba membuat istana pasir dengan anak-anak disana, Kaito dan Gakupo sedang berbincang-bincang dengan Kepala Desa.
"Oohh.. aku tidak menyangka orang-orang yang tidak memiliki elemen juga ada." Kata Gakupo.
"Iya, kami semua di tampung di desa klan matahari ini, bahkan ketika kekejaman sang Mage terkutuk yang pertama terjadi, mereka bahkan sampai mengorbankan diri mereka sendiri untuk kami." Kata Kepala desa.
"Memang sih, di sih adalah dunia para Mage, para pengendali elemen, dan peri yang mereka semua memiliki kekuatan, manusia biasa akan di anggap budak oleh beberapa orang, kau masih ingat kan kasus si anak kembar itu?" Tanya Kaito kepada Gakupo.
"Ooh, Rui dan Rei? Kelihatannya dia adalah budak yang di paksa mengikuti praktik illegal." Kata Gakupo.
"Rui dan Rei? Oh! Dimana kalian melihat mereka?" Tanya Kepala desa.
"Kemarin, dia di perintah oleh Tonio-san untuk menyerang kami." Kata Kaito.
"Begitu ya, pantas saja mereka tiba-tiba menghilang, ternyata di pengumpul budak yang melakukannya." Kata Kepala desa.
"Apa dia dari sini?" Tanya Gakupo. Kepala desa itu hanya mengangguk.
"Iya, dia adalah yatim piatu yang kedua orangtuanya meninggal karena ikut berjuang dengan para pengendali elemen melawan mage terkutuk pertama itu." Kata Kepala Desa, Kaito dan Gakupo hanya mengangguk. "Dan Tonio-san adalah nama yang cukup menakutkan disini, karena siapapun yang lepas dari pandangan disini, akan tiba-tiba di bawa olehnya untuk di jadikan budak." Kata Kepala Desa.
"Apa ada desa manusia biasa lainnya di sekitar sini?" Tanya Gakupo lagi, Kaito sedari tadi hanya meminum kopinya.
"Sebenarnya setiap daerah bagian, ada desa manusia seperti ini, tetapi kebanyakan terpencil karena mereka takut akan di jadikan budak." Kata Kepala Desa.
Kemudian tanah mulai bergetar hebat.
"A-ada apa ini? Apa gempa?" Tanya Kaito.
"Cepat menuju speaker! Peringatkan yang lain untuk keluar dari rumah." Kata Kepala desa kepada salah satu pemuda disana. Pemuda itu langsung pergi dan sebuah pengumuman mulai terdengar. Kaito dan Gakupo berlari menuju luar rumah dan melihat semua orang ada di luar rumah, akhirnya getarannya berhenti, seketika ada seseorang mendarat dari angkasa, dia kemudian melihat ke sekeliling.
"Siapa kau!?" Tanya Gakupo, sedangkan Luka, Gumi dan Rin menenangkan para anak-anak yang ketakutan.
"Scan selesai, target tidak di temukan di sini." Kata laki-laki itu seperti sebuah robot. "Siap menerima perintah."
"De-Dell Honne!?" Kata Kaito terkejut.
"Kau kenal dia siapa?" Tanya Gakupo.
"Di-dia adalah android milik Tou-san." Kata Kaito.
"Android, maksudmu humanoid robot yang hampir sempurna?" Tanya Gakupo.
"Iya Gakkun!" Kata Kaito sedikit kesal karena dia sedari tadi bertanya terus.
"Memperlihatkan hasil scan, tuan Kaito ada di sini." Kata Dell.
"Bocah Madesu, apa yang terjadi?" Tanya Rin, anak-anak sudah di bangunkan tempat berlindung yang kokoh oleh Gumi, mereka kemudian berkumpul.
"Gumi? Hubungi Yuuma, Miku, atau Len!" Kata Gakupo.
"Ini aku sedang menghubungi!" Kata Gumi sambil mendekatkan ponsel di telinganya. "Moshi-moshi? Kalian dimana.. Apa maksudmu?" Tanya Gumi, semuanya menoleh kearah Gumi. "Tapi.. Kaito ada di sini!" Kata Gumi, perasaan Kaito mulai tidak enak.
"Perintah di terima sibukkan semua orang!" Kata Dell, kemudian muncul berbagai robot disana.
.
Beberapa menit sebelumnya.
.
Tanah kemudian bergetar hebat.
"A-ada apa ini? Gempa bumi?" Tanya Miku.
"Ayo kita keluar dulu!" Kata Yuuma keluar. Ketika mereka keluar mereka kemudian bertemu Kaito.
"Miku!" Kata Kaito langsung memeluk Miku.
"Kaito! Apa yang terjadi?" Tanya Len.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja ada gempa bumi, aku langsung kemari." Kata Kaito. "Ayo kita ke tempat yang lainnya!" Kata Kaito sambil mengajak yang lainnya berlari ke arah desa.
"Ka-Kaito, gomen demo, aku tidak kuat berlari lagi." Kata Miku, tempat itu memang lumayan jauh dari desa.
"Tenang saja ayo aku gendong!" Kata Kaito menggendong Miku kemudian meloncat entah kemana.
Yuuma kemudian merasakan getaran di sakunya, dia memeriksa ponselnya, Gumi menelpon.
"Hai, moshi-moshi kami sedang berlari ke arah kalian, kalau Miku, Len tunggu, bukankah tadi dia ada di sini?" Tanya Yuuma.
"Kemana Miku dan Kaito?" Tanya Len.
"Gomen, Miku menghilang, tapi tenang saja dia bersama Kaito.. Apa maksudmu Kaito ada disana?! Lalu yang di sini siapa?!" Tanya Yuuma.
"Yuuma, kau masih ingat wajah ayahnya Kaito?" Tanya Len tiba-tiba.
"Ah, iya aku ingat. Dia sungguh mirip Kaito!" Kata Yuuma, ketika mereka sadar, semuanya sudah terlambat. Mereka telah di kepung beberapa robot yang menggiring mereka menuju tempat yang lainnya.
.
Ke tempat Miku
.
Akhirnya Miku turun dari gendongan Kaito.
"Kai-kun, ini dimana?" Tanya Miku ketakutan, perasaannya tidak enak.
"Kau sungguh menempel dengan anakku ya?" Tanya orang itu, dia mulai melepas wig birunya menampilkan rambut merah, juga syal biru dan jubah putih biru yang di pakainya.
"Ka-kau siapa?!" Tanya Miku.
"Bisa di bilang, aku adalah calon mertua mu." Kata orang itu sambil mengenakan syal nya yang berwarna hitam dan merah sambil melirik tajam kearah Miku. "Dia suka sekali sih dengan warna biru menyebalkan seperti ini." Kata orang itu, kemudian berbalik menghadap Miku. "Kau imut sekali, kalau keadaanya berbeda, aku pasti merestui Kaito berhubungan denganmu, tetapi sayang sekali keadaannya seperti ini, tidak akan aku biarkan kau merubah anakku!" Katanya, Miku mulai menunduk sehingga matanya tertutupi poni nya. "Ah iya, tidak sopan sekali aku tidak memperkenalkan diriku. Namaku adalah Akaito Shion, ayah dari Kaito Shion." Kata Akaito kemudian menyerang Miku dengan api ungu-nya hingga menyelimuti Miku, ketika api mulai padam, Akaito melihat Miku sudah memasang perisai di sekitarnya.
"Kalau kau kira aku hanya bergantung kepada Kai-kun kau salah!" Kata Miku mulai menyerang Akaito.
"Hahahaha, aku suka ini." Kata Akaito sambil menyelimuti kedua tangannya dengan api ungu. Cahaya Miku berubah menjadi pedang. "Whoa, aku tidak tahu elemen seperti ini bisa berubah bentuknya!" Kata Akaito menghindari dan menangkis serangan dari Miku. "Tapi sayang sekali, kelemahanmu adalah kegelapan." Kata Akaito kemudian menyelimuti tempat itu dengan kegelapan total.
"Ke-kenapa ini?" Tanya Miku panik, dia tidak bisa melihat kemanapun. "Ugghh! Siaall!" Kata Miku.
"Dari katamu sepertinya kau tidak bisa mengeluarkan cahaya lagi. Biar aku katakan satu rahasia elemen. Elemen adalah hal yang berhubungan dengan alam, dan kau mengendalikan elemen di sekitarmu, jadi tidak ada cahaya di sini, kau tidak bisa mengambil cahaya itu untuk menjadi kekuatanmu, sayang sekali." Kata Akaito.
"Kyaaa!" Teriak Miku ketika ada benda tajam menggores pinggangnya. Dia terus terpental kedepan dan kebelakang karena serangan Akaito, dia bisa merasakan bahkan kuncir rambutnya telah terlepas semua, dia telah kalah telak disini. Dia kemudian teringat suatu teknik di buku yang dia baca tadi, dia berusaha berkonsentrasi untuk mengeluarkan cahaya dari tubuhnya, hingga akhirnya tubuh Miku bercahaya.
"Tidak mungkin!" Kata Akaito terkejut.
"Terkejut? Asal kau tahu! Tubuh manusia juga memiliki cahaya nya sendiri!" Kata Miku kemudian dia bisa melihat posisi Akaito, dia kemudian mengerahkan cahayanya kepada Akaito hingga dia terpental jauh dan lingkup gelap total tadi langsung menghilang, Miku merasa kekuatannya kembali. Dia ingin menyembuhkan lukanya hingga dia lengah, dia baru sadar ketika darah keluar dari mulutnya, dia menatap nanar perutnya. Sebuah garis lurus terbuat dari api ungu menembus perutnya, memang tidak benar-benar menembus perut Miku hingga menimbulkan luka, tetapi Miku bisa merasakan sakitnya. "Uuggghh!" Miku mulai mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Kau sungguh mudah sekali lengah." Kata Akaito yang bersandar di sebuah pohon tempat dimana dia mendarat tadi, di sudut bibirnya keluar darah. "Kau lumayan tangguh, tetapi juga sungguh mudah lengah." Komentar Akaito. Akhirnya Miku tumbang tak sadarkan diri, Akaito kembali menarik kekuatannya tadi dan kemudian menggendong tubuh lemas Miku. Dia kemudian menghubungi salah satu anak buahnya untuk membawakan helikopter.
"Tunggu!" Teriak seseorang, Akaito berbalik kemudian tersenyum. Mata orang itu menatap nanar kearah gadis yang di bawa Akaito.
"Kau selalu terlambat Kaito, dan lihatlah apa hasil dari keterlambatanmu." Kata Akaito, kemudian sebuah helikopter mendarat di belakang Akaito dan dia menaikinya. "Kalau kau ingin gadis ini kembali, datanglah ke kerajaanku." Kata Akaito sambil menaiki helikopter itu kemudian terbang menjauh, Kaito kemudian berlutut menatapi Miku yang di bawa pergi.
"Ti-tidaaaakk!" Teriak Kaito sambil menjambak rambutnya sendiri. "Kalau saja aku lebih cepat! Kalau saja aku lebih cepaatt!" Teriak Kaito.
"Kaito, tenangkan dirimu!" Kata Gakupo.
"Tiiiddaaakkk!" Teriak Kaito, dia mulai mengeluarkan api ungu dari sekujur badannya.
"Kai.." Ketika Yuuma hendak menghentikan Kaito, dia di hentikan oleh Luka.
"Jangan dulu, dia sedang marah, biarkan dia melampiaskan amarahnya dulu. Kita tidak akan bisa berbicara dengannya bila seperti ini." Kata Luka. "Kaito, bila kau sudah agak mendingan, temui kami di balai desa." Kata Luka kemudian mengajak yang lainnya pergi, sesampainya di balai kota, mereka di obati dan Rin terus menerus menangis di bahu Len.
"Sudahlah Rin, Kita pasti temukan cara untuk menyelamatkan Miku." Kata Len.
"Ta-tapi.. Kau ingat sayembaranya kan? Ayahnya Kaito kan ada di pihak para Mage jahanam itu! Aku tidak ingin kelihangan Miku.. huweeee!" Kata Rin sambil menangis.
"Maafkan aku, ini salahku karena aku bisa saja percaya dengan tiruan Kaito." Kata Yuuma menunduk menyesal.
"Ini bukan salah kalian semua. Ini salahku kenapa aku tidak di sisinya." Kata Kaito ketika dia baru kembali.
"Kaito.." Kata Yuuma.
"Kaito, lebih baik kau obati lukamu." Kata Gakupo. Kaito hanya menurut saja, dan duduk di sana sambil diam ketika lukanya dirawat.
"Aku memiliki rencana, itu kalau kalian mau membantuku." Kata Kaito.
"Aku akan membantumu!" Ujar Rin dengan semangat. Semuanya menatap Rin dengan tatapan 'dasar anak labil'.
"Kami juga akan membantumu. Miku adalah bagian dari kita, kita harus menyelamatkannya apapun yang terjadi." Kata Len.
"Kalian.. Baiklah, kita akan membicarakan strateginya nanti malam." Kata Kaito.
Dari kejauhan ada dua orang yang melihat mereka dengan tatapan senang.
"Nee, nee, Onee-chan, benar kan kataku! Ini akan menjadi menariikk!" Kata gadis berambut pirang dengan side pony tail, mereka kini memakai pakaian ala gadis penyihir, bahkan gadis yang barusan berbicara duduk di sapu terbangnya.
"Kau benar juga Kanon, tindakan Akaito sungguh di luar dugaanku." Kata seorang gadis dengan rambut sama tetapi pendek.
"Onee-chan, ayo pulang, aku capek seharian mengawasi terus seperti ini." Kata Kanon.
"Siapa juga yang menyuruh mereka membenarkan genting?" Kata Anon sebal, dia sering tidak paham cara berfikir Kanon.
"Onee-chan tahu, lucu tahu melihat mereka membenarkan genting, hihihihi." Kata Kanon. "Baiklah, mulai besok mereka akan kembali mengawasiii~" Kata Kanon sambil pergi.
"Oooii! Tega kau meninggalkanku sendirian disini!" Kata Anon ikut pergi.
.
.
.
TBC
Gomen Clara updatenya lama-desu, Clara mulai battle sama dosen Clara-desu, wkwkwkwk.
Gomen juga kalau ceritanya jadi aneh-desu.
Balasan Review :
Miza Fuyumi : Apa kebalik ya antara Rui sama Rei-desu? Clara juga mungkin sudah lelah saat itu-desu hingga akhirnya kebalik-desu, dan Rin, tidak kok, dia tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan-desu, hanya sebuah kesempatan dalam masalah-desu, (sama aja).
Aixa tangerina : Arigatou sudah mau menyempatkan diri untuk baca cerita Clara-desu. Arigatou juga buat review-nya. Tapi untuk beberapa orang boneka badut itu menyeramkan-desu (efek film IT).
Kamizukyz : ini sudah lanjut-desu, terima kasih telah membaca cerita Clara-desu. Terima kasih semangatnya-desu
