Another Fairy Tale Story

.

.

.

Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp yang punya

Warning : Typo, penjabaran panjang.

.

Chapter 15

Latar belakang

Miku pov

Aku mulai bisa merasakan jari-jariku kembali dan mencoba untuk menggerakkannya, ugh, sekarang aku harus bisa membuka mataku, seluruh badanku terasa sangat kaku, ketika membuka mata, yang pertama kali aku lihat adalah tumpukan jerami dan lantai batu. Aku mencoba menggerakkan anggota badanku yang lain, terasa sungguh berat badan ini, seperti sudah lama tidak aku gunakan.

Ketika tubuhku sudah dalam posisi duduk, aku kemudian melihat ke sekelilingku, di salah satu sisi ada jeruji besi, dan di hadapannya adalah lorong, dan selain itu hanya ada dinding dengan batu-batu besar, sementara aku terbangun di atas tumpukan jerami, apa aku kini menjadi tahanan? Apa ini penjara?

Benar juga aku kalah dari ayahnya Kaito, apa sekarang aku jadi tawanannya? Aku menggeleng-geleng mencoba untuk menjernihkan pikiranku.

"Hei nak, kau sudah bangun?" Tanya seseorang, aku pun menoleh ke tempat asalnya, aku melihat seorang kakek-kakek yang berbadan sungguh kekar, meskipun rambutnya memutih, tetapi tatapan matanya tidak menunjukkan kalau dia sudah tua.

"Kakek siapa?" Tanyaku kenapa dia ada di sini juga, pakaiannya seperti seorang butler, tetapi terlihat sangat lusuh.

"Aku adalah kepala pelayan di rumah ini," katanya, pertamanya aku hanya mengangguk, beberapa detik kemudian aku baru sadar.

"Haaahh! Kepala pelayan? Rumaaahh! Apa memang ada penjara di dalam rumah hah?!" Kataku terkejut sampai tidak bisa mengendalikan suaraku.

"Urusai!" Bentak seseorang.

"Maaf, maaf," kata kakek itu membelaku. "Yah, kurasa aku harus bercerita kepadamu, apa kau tidak akan bosan mendengarkannya?" katanya sambil menatap kepadaku, tanpa sadar aku sudah menempelkan mukaku di jeruji besi itu, aku penasaran dengan ceritanya.

"Aku siap mendengarkan," kataku, setidaknya walaupun aku di sini aku harus bisa berguna kepada yang lainnya, mungkin ada beberapa hal yang bisa di katakan oleh kakek itu yang membuatku bisa membantu yang lainnya.

"Aku bekerja di sini sudah lama, ketika Akaito-sama masih anak-anak," Katanya, dia kemudian mengambil nafas panjang.

"Heee," hanya itu yang aku keluarkan.

"Orangtua Akaito-sama bertempur melawan mage terkutuk terdahulu, tetapi akhirnya mereka meninggalkan Akaito-sama seorang diri, saat itu hanya aku yang mengasuhnya, bisa di bilang semua kebutuhan Akaito-sama aku yang mengurusnya. Ketika Akaito-sama memasuki umur 15 tahun, dunia ini akhirnya merdeka, mage terkutuk itu sudah tiada, itu adalah saat-saat yang menyengkan bagiku dan Akaito-sama, ketika Akaito-sama dewasa, dia bertemu Meiko-sama, melihat mereka bersama merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku, mereka bertemu di pesta dansa tahunan yang di selenggarakan di daerah musim semi, pesta yang hanya boleh di hadiri oleh kalangan bangsawan, Akaito-sama tentu saja sungguh menyukai pesta, bahkan sampai sekarang dia masih menyukainya, keadaan segenting apapun itu, Akaito-sama pasti akan menyempatkan diri, kurasa itu adalah karena dia kehilangan orangtuanya di usia yang sangat muda karena mage terkutuk itu, jadi dia melampiaskannya dengan menghadiri pesta, akhirnya ketika bertemu Meiko-sama, Akaito-sama jatuh cinta dengan sosok Meiko-sama yang keibuan, lebih tepatnya setahun setelah mereka sering bertemu, Akaito-sama melamar Meiko-sama, dan Meiko-sama tentunya menerimanya.

Kemudian lahirlah Kaito-sama, mereka seperti keluarga yang bahagia, dimana mereka kini saling melengkapi, akan tetapi, dunia ini seakan tidak memperbolehkan adanya ketenangan, ketika Kaito-sama masih umur 5 tahun, sang mage terkutuk membuktikan kutukannya, datanglah dua orang anak kembar dari dunia antah berantah dan tiba-tiba menguasai kekuatan mage terkutuk itu," Kata Kakek itu.

Aku kemudian berfikir 'Apa ini ada kejadiannya dengan saat itu?' pikirku.

Kakek itu meneruskan ceritanya lagi "ketika para mage terkutuk itu mencoba kekuatannya, mereka tidak bisa menguasainya, alhasil, kekuatannya menyebar ke seluruh dunia, menghanguskan siapapun yang di luar rumah atau tidak terhalang apapun, dan saat itu Meiko-sama tidak berhasil sampai kedalam rumah, tetapi dia bisa mendorong anaknya Kaito-sama menuju rumah, tubuh Meiko-sama menjadi lenyap tak bersisa karena serangan," Kata kepala pelayan itu, kemudian aku teringat suatu hal,

"Bentar, jadi ibu Kaito-kun tidak meninggal ketika melahirkan Kaito-kun?" tanyaku, pasalnya Gumi mengatakan demikian, apa Gumi berbohong.

"Tentunya yang benar adalah kejadian itu yang menyebabkan Meiko-sama meninggal, semua orang telah di beritahu hal yang salah oleh Akaito-sama," kata kepala pelayan itu. Aku kemudian mengangguk mengerti. "Akaito-sama sungguh depresi dengan hal ini, bahkan Kaito-sama sampai di acuhkan, aku pun berusaha menasehati Akaito-sama kalau tidak baik menelantarkan anaknya, Akaito-sama pun mulai bermain kembali bersama Kaito-sama, memang ada makam Meiko-sama, tetapi, tidak ada jasad di dalamnya, dan hampir 1/3 penduduk dunia ini tewas karena kekuatan itu. Perpecahan pun kembali terjadi, aku kemudian terkejut melihat Akaito-sama berada di pihak para mage terkutuk itu, aku ingat ketika mereka kemari, aku yang menyuguhkan teh kepada mereka, pertamanya, mereka tidak menampakkan diri dengan aura kejamnya, ketika aku keluar dari ruang pertemuan itulah dimana aku bisa merasakan betapa kejam aura dari ruangan itu.

Dan tiba-tiba saja Akaito-sama berada di pihak mereka, aku khawatir Akaito-sama di cuci otaknya oleh mereka, aku pun mencoba kenapa Akaito-sama berpihak kepada mereka.

'Mereka dapat membangkitkan lagi Meiko,' Itulah yang di katakan Akaito-sama, aku mencoba menentang nya dengan mengatakan itu hal yang mustahil, mereka memang mage, tetapi sejauh pengetahuanku, sesakti apapun para mage, mereka tidak bisa membangkitkan orang dari mati," Kata pelayan itu, aku kemudian mengangguk setuju, para mage memang sakti, tetapi membangkitkan orang dari kematian namanya mustahil.

"Lalu," Pelayan itu melanjutkan, "Awalnya Akaito-sama percaya kepadaku, karena bagaimanapun, aku telah merawatnya semenjak kecil, tetapi para mage itu terus datang dan bahkan bersedia menyerahkan Kaito-sama sebagai anak buah paling setia para mage itu," Aku kemudian terkesiap, jadi memang benar, Kaito adalah anak buah yang paling disayangi para mage itu. "Aku tentunya menentangnya, tetapi apa mau dikata, aku lalu di jebloskan kedalam sel ini, yang aku tahu semua menjadi lebih buruk," Kata kepala pelayan itu, aku kemudian ikut prihatin dengan kepala pelayan itu, hm.. yah keluarga Shion memang memiliki riwayat tidak menyenangkan. "Kalau kamu nak, apa yang terjadi?" tanyanya kembali.

"Bisa di bilang, aku adalah anak yang di ramalkan, yah walaupun aku tidak tahu apa-apa sebelum Gakupo-san memberitahuku tentang hal ini dan kemudian menuju dunia ini," kataku, dia kemudian mengangguk, kemudian terkejut.

"Anak ramalan sudah tiba?" tanyanya terkejut, aku hanya mengangguk. "Jadi kau tinggal di dunia manusia selama ini?" tanya kepala pelayan itu, aku hanya mengangguk.

"Aku kemudian bertemu dengan Kaito dan kemudian.." aku bingung apa aku harus mengatakan ini atau tidak.

"Kemudian apa?" tanya kepala pelayan itu, aku hanya menunjukkan tanda itu di tanganku dia kemudian terkesiap. "Bukankah Kaito-sama telah di tunangkan dengan salah satu anak buah para mage itu?" tanya kepala pelayan itu. Dia kemudian menggeleng. "Tidak tidak, itu adalah janji suci, janji yang tidak bisa di manipulasi apapun bentuknya," katanya, dia kemudian tersenyum kepadaku. "Terima kasih telah menerima Kaito-sama, gadis muda," katanya kepadaku sambil menatapku dengan mata berbinar. Aku hanya mengangguk. "Aku sungguh pelupa, aku sampai lupa memperkenalkan diri, Namaku Ahlphone," katanya kepadaku.

"Namaku Hatsune Miku," kataku menimpali, dia hanya menatapku sambil tersenyum.

Aku kembali memandangi sel penjara ini, beberapa tumpuk jerami di pojok, hanya terdengar suara tetesan air setelah cerita panjang itu, aku mulai merasa kasihan dengan Ahlphone-san, dia sudah sendirian hanya di temani tetesan air ini dalam waktu yang lama, aku pun tidak ingin berada di sel ini lebih lama, terlebih aku melihar rambutku yang sudah tidak terikat sungguh berantakan.

Lantai batu ini pun terasa sangat dingin, kakiku yang terbungkus sepatu beserta kaos kaki saja bisa merasakan dinginnya lantai penjara ini, aku mencoba melangkah ketika aku mendengar air mengalir aku melihat ke arah suara dan ternyata ada air yang datang dan tiba-tiba membanjiri penjara ini, memang tidak tinggi sih hanya semata kaki.

"A-air darimana ini?" tanyaku terkejut.

"Itu adalah air laut," katanya kepadaku, aku semakin terkejut.

"Air laut? Ini di dekat laut?" Tanyaku, suasana semakin dingin di sini, aku melihat kepala pelayan itu tidak memiliki apapun untuk menghangatkan dirinya, dia kemudian berdiri.

"Ini di tebing laut nak. Penjara ini ada di tebing di bawah kerajaan Shion yang berada di puncak tebing ini, dan setiap air pasang saat malam hari, air mulai masuk, biasanya sampai sepinggangku kalau sedang badai, dan ketika pagi, air ini surut sendiri," katanya kepadaku.

"Paman tidak kedinginan?" tanyaku, dia hanya menggeleng.

"Penjaga! Aku minta jerami tambahan!" teriak paman itu, aku kemudian memandang penuh tanya, seseorang dengan baju zirah mulai datang dengan satu ikat jerami, dan melemparnya ke dalam sel paman itu, paman itu lalu membakar jerami itu dengan elemen api nya, benar juga, ini adalah dunia elemen, dan paman itu pasti punya elemen, dan aku baru tahu kalau elemennya adalah api. "Kau ingin beberapa nak?" tanya paman itu.

"I-iya, mulai dingin di sini," kataku sambil memeluk diriku sendiri, dia kemudian mengisyaratkan agar aku minggir, aku pun minggir dan dia menyalakan api disana.

"Cepat pisahkan sebelum membakar yang lainnya," katanya, dia mulai tidur, sepertinya sudah malam karena suasana penjara ini menjadi lebih gelap, tidak ada obor di sisi luar dinding penjara seperti yang biasanya aku lihat di film-film era pertengahan.

Aku memisahkan jerami yang terbakar itu dan menumpuk tinggi jerami di sana untuk aku tidur, katanya kalau badai bisa lebih buruk lagi, aku berdoa supaya tidak badai. Tetapi sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak kepadaku, aku mendengar suara guntur, dan paman itu terjaga.

"Baru juga aku cerita," katanya, dan udara semakin dingin, angin mulai berhembus, aku kemudian menghela nafas, seperti air semata kaki ini masih kurang. Bajuku bukanlah baju untuk musim dingin, bagaimana ini, aku mulai kedinginan. Dan air mulai naik. "Nak kau tidak apa-apa nak?" kata paman itu khawatir. Aku mulai bersin lagi, alergi dinginku kembali. Aku tidak menjawab paman itu.

"Haaahh.." aku menghebuskan nafas dari mulutku dan berbubah menjadi uap air yang terlihat di udara, air mulai naik sebetis.

"Nak, jawab aku!" panggil paman itu.

"Paman.. aku.. tidak kuat.. dingin.." kataku, aku mencoba untuk berbicara, kakiku tidak bisa berdiri lagi, aku mulai terduduk, air mulai membanjiri sampai ke bahuku karena aku terduduk.

"Nak bertahanlah nak!" teriak paman itu, tetapi aku tidak bisa menjaga kesadaranku, ini terlalu dingin, aku tidak bisa merasakan jemariku lagi, nafasku mulai berat, aku melihat rambutku melayang-layang di air yang tergenang di sekelilingku. Kepalaku mulai pusing, aku tidak bisa merasakan tanganku, ini terlalu dingin dengan bajuku yang tanpa lengan ini.

Mataku mulai terpejam.

.

.

.

i-ini dimana?

Kenapa semuanya sungguh terang?

'Miku! Miku! Itu kamu kan?!' panggil seseorang. Aku mencoba menoleh ke segala arah, aku tetap kedinginan disini.

'Ka-i-to?' gumamku.

'Mikuu!' panggilnya lagi, aku kemudian menuju suatu arah, dan benar, dia ada disana berlari kearahku.

'Kaito!' panggilku, aku tidak bisa bergerak tanganku terus mendekap diriku sendiri. Dia kemudian memelukku.

'Kau kenapa Miku? Kau seperti kedinginan,' tanyanya kepadaku.

'Di-dingin sekali Kaito, disini dingin, aku tidak kuat,' kataku mengeluh kepadanya, dia semakin erat memelukku.

'Kamu dimana Miku?' tanyanya dia menyerahkan syal nya kepadaku, tetapi tetap saja tidak berdampak apapun.

'Sebuah penjara, paman itu bilang penjara di bawah mansion mu Kaito,' kataku, aku mencoba merapatkan diriku lebih rapat kepada Kaito, aku ingin kehangatan saat ini, 'Kaito, di sini dingin sekali Kaito, aku tidak kuat, air membanjiri membuat tambah dingin' kataku mengeluh kepadanya.

'Sabar Miku, aku sedang kesana, bertahanlah,' katanya kepadaku, tatapan hangatnya seolah-olah memberiku kekuatan untuk bertahan dengan keadaan ini. 'Miku ada hal yang ingin aku katakan kepadamu,' katanya kepadaku.

'Apa Kaito?' tanyaku.

'Apapun yang terjadi nanti ku benar-benar memohon kepadamu, jangan pernah putus harapan kepadaku, aku masih mencintaimu dan akan selalu begitu sampai aku meninggal Miku, kuharap apapun yang terjadi nanti, aku tidak ingin kau lepas harapan kepadaku,' katanya sambil mencium tanganku yang di pegangnya. 'Tangan mu sungguh dingin Miku, ku mohon bertahanlah malam ini Miku, aku mencintaimu, tolong berjanjilah kepadaku untuk yang satu itu,' katanya kepadaku. Aku hanya mengangguk.

'Aku berjanji Kaito, demi tanda cinta kita di tangan kita ini,' kataku sambil mengusap pipinya, dia memegangi tanganku dengan tangan yang ada tanda nya juga.

'Aku juga berjanji di atas tanda ini, bahwa aku akan selalu mencintaimu dengan sepenuh hatiku, aku sayang kamu Miku,' katanya, tetapi tiba-tiba keadaannya mulai menghilang.

'Ka-Kaito?' tanyaku kaget, sosoknya bagaikan tumpukan daun yang perlahan tertiup angin, bagian bawahnya sudah mulai menghilang.

'Waktunya sudah habis rupanya,' dia hanya tersenyum.

'Waktunya habis? Apa maksudnya waktunya habis?' tanyaku tidak mengerti.

'Tanya kepada Rin, dia akan menjelaskannya kepadamu Miku,' katanya sambil mengusap pipiku.

'Kaito, jangan lama-lama kalau kau pergi,' pintaku kepadanya, dia hanya mengangguk, kemudian dia menunduk dan tangannya menggerakkan kepalaku untuk mendekat kepadanya, hidung kami sudah bersentuhan.

'Pejamkan matamu Miku,' katanya kepadaku, aku hanya menurut dan menutup mataku. Dia mulai mengecup bibirku, dan aku tidak merasakan kedinginan lagi, dan rasanya damai.

.

Normal pov

.

Paman itu hanya mendesah lega, usahanya untuk membuat gadis itu hidup tidak sia-sia, dia tadi sampai membuat keributan agar bisa menolong Miku yang tidak sadarkan diri.

'Dia daritadi menggumamkan nama Kaito-sama terus, Kaito-sama, gadis ini merindukanmu,' batin paman itu, air masih belum surut, tetapi setidaknya Miku tidak kedinginan lagi dengan banyaknya api yang dia buat di sekeliling mereka.

.

.

.

TBC

Akhirnya Clara bisa up-desu!

Setelah berminggu-minggu mengalami WB (Write block) akhirnya bisa selesai juga ini-desu, mwahahahahahaha..

Bletak!

Clara : Aduhh.. apaan sih.. sakit-desu!

Hatsuka : tugasmu masih banyak, jangan bersantai-santai, cepat selesaikan itu *nunjuk ke tumpukan kertas.

Clara : iyaa iyaaa.. ini juga mau ngerjaiin-desuuuu.. *kabur

Hatsuka : maafkan author yang sedang stress karena mengalami kebuntuan tanpa henti, akhir kata mohon RnR

Balasan review :

Aiza tangerina : Maaf telah menunggu lama untuk kelanjutannya-desu, yang ini semoga puas-desu.

Yuu Yukimura : Ini sudah update Yuu-san, silahkan menikmati-desu. ^_^