Another Fairy Tale Story
.
.
.
Chapter 15
Sebuah rencana penyelamatan
.
Normal POV
Sehari sebelumnya
Semenjak Miku di bawa pergi sejam yang lalu, Kaito hanya terduduk termenung. Lebih tepatnya semuanya sekarang termenung, tidak ada yang membuka suara sedari tadi, diam termenung merenungi kejadian yang baru saja terjadi, mungkin lebih tepatnya di kepala mereka masing-masing bergumul dengan pikiran masing-masing. Di ruangan yang temaram itu hanya di selimuti keheningan, walaupun banyak orang di dalamnya. Mereka telah kembali ke aula kota, lebih tepatnya sebuah ruang pertemuan yang di sediakan oleh sang kepala desa untuk mereka.
"Jadi, kita harus ke mansion mu?" tanya Gakupo memecah keheningan, sudah berapa lama mereka mempertahankan keheningan hingga Gakupo memecahnya tadi. Kejadian serupa tidak hanya terjadi di ruangan temaram ini, para warga desa di luar ruangan ini seolah-olah di bungkam oleh kejadian tadi, semua keceriaan tadi seolah tidak ada apa-apanya dengan yang terjadi barusan.
Kaito hanya menggeleng, dia tidak mengerti harus melaukan apa sekarang, pikirannya sekarang kacau, dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, dia bingung harus melakukan apa sekarang, pikirannya di penuhi oleh ayahnya juga Miku. "Apa menurut kalian aku harus melakukan yang di katakan Tou-san?" tanya Kaito, dari semua cara dia hanya bisa memikirkan itu. Semua yang di sana pun terkejut dengan perkataan Kaito dan mereka menatap Kaito hampir bersamaan, hampir tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Kaito.
"Tidak Kaito, ini jebakan Tou-san mu! Iya kau akan kembali ke sana tetapi Miku akan di bunuh, mengingat Miku dan Rin kini menjadi buronan," Kata Luka sambil bersandar di tembok, dia mencoba mengingatkan temannya itu tentang betapa bodohnya keputusan yang dia utarakan tadi. Mendengar beberapa percakapan dari ruangan itu, seorang maid datang ke ruangan itu sambil membawa nampan berisi beberapa cangkir teh.
"Mi-Miku akan di bunuh?" mendengar hal itu Rin langsung syok, dia tidak ingin kehilangan keluarganya lagi, sudah cukup kedua orangtua nya yang meninggal ketika penyerangan Mage terkutuk itu, sedari tadi Rin hanya duduk di pojokan sambil memeluk lututnya, mendengar kata-kata Miku akan di bunuh membuat bertambahnya kesedihan dalam diri Rin.
"Tenang saja Rin, kami akan memikirkan jalan apa yang bisa kami lakukan tanpa harus menyerahkan Kaito dan menyelamatkan Miku," tenang Gumi sambil menepuk-nepuk pelan Rin, Len juga memeluknya untuk menenangkan Rin, tentu saja mereka tidak akan membiarkan Miku mati, membiarkan salah satu diantara Rin dan Miku mati sama saja perjalanan mereka selama ini sia-sia.
"Tapi bagaimana caranya penjagaan disana sungguh ketat, sekali saja elemen kita terendus oleh medan elemen yang berada di sekitar mansion Kaito, mereka akan menyerang kita," Jelas Yuuma, dia sedari tadi duduk sambil menyeduh teh yang di sediakan oleh salah satu maid tadi, setidaknya ketegangan sedikit mereda di antara mereka.
"Medan elemen maksudnya apa?" Tanya Rin bingung, dia memang sudah beberapa hari di dunia ini, tetapi masih sedikit yang di ketahui tentang dunia ini.
"Medan elemen adalah sebuah medan yang mengelilingi sebuah mansion atau bangunan apapun, yah bisa di bilang sebuah sensor yang membentuk kubah menyelimuti gedung tersebut yang tidak dapat kita lihat tetapi mereka yang ada di dalam medan tersebut tahu kalau ada orang asing masuk, kalau mereka mengenalnya maka mereka akan membiarkannya, tetapi kalau tidak di kenal maka pasukan Gargoglye akan menyerang kita," jelas Len kepada Rin, sementara gadis itu hanya mengangguk mengerti.
"Kaito, memang seberapa luas medan kegelapan di mansion mu?" Tanya Gakupo, setidaknya mereka harus mengetahui berapa jarak medan itu untuk menyusun strategi bagaimana mereka masuknya.
"Sekitar 500 atau 600 meter dari mansion," jawab Kaito. Semuanya kembali menunduk. "Aku bahkan tidak tahu Miku akan di letakkan dimana," kata Kaito lagi, mengingat rumahnya banyak sekali ruangan rahasia yang dulu tidak ada ketika ibunya masih hidup, ruangan-ruangan itu ada ketika ayahnya menjadi pengikut kegelapan, sebuah mansion yang cerah berubah menjadi suram, bahkan warnanya dari putih susu menjadi kehitaman sekarang .
"Aku bisa membantu," kata seorang wanita tua. Semuanya menoleh kepada orang tersebut, orang itu sungguh kelihatan tua dengan rambut putihnya, jubah berwarna ungu kotor dan orang itu berpakaian seperti seorang penyihir di dunia manusia, dengan tubuh bungkuk juga dia memegang sebuah tongkat kayu yang sedikit menggembung di atasnya.
"Ce-cenayang?" tanya Rin tidak mengerti. Dia bingung bagaimana di dunia serba elemen seperti ini ada seorang cenayang yang merupakan bangsa manusia di dunia asalnya, sementara penyihir yang menciptakan dunia ini tidak berpakaian seperti itu.
"Kau mengetahuiku ya anak muda," tawa nenek itu, dia kemudian kembali terdiam dan membuka tudungnya, menampakkan rambut uban yang putih mengkilap menghiasi kepalanya, rambutnya cukup panjang yang di gelung di bawah kepalanya. "Aku sebenarnya bukan dari dunia ini, aku terdampar di dunia aneh ini ketika aku berumur 14 tahun, dan saat itu aku sudah menyadari bakat cenayangku,aku kemudian di temukan mereka dan di bawa ke desa ini, mereka menerima ku dengan senang hati dan aku tumbuh di sini, aku tidak memiliki niatan untuk kembali, karena aku seperti di takdirkan di sini," kata wanita tua itu menjelaskan kepada Rin dan juga yang lainnya.
"Kau akan membantu kami seperti apa tepatnya?" tanya Gakupo, dia sebenarnya tidak tahu menahu dengan penyihir yang tersisa dunia manusia tempat Rin berada tetapi bila ada yang menawarkan bantuan kenapa tidak. Matahari semakin redup sinarnya, menandakan sdah hampir sore.
"Aku bisa menyambungkan kau si rambut biru dengan anak yang di culik itu," tunjuk nenek itu kepada Kaito dengan jari-jarinya yang berkeriput juga berhias banyak sekali batu cincin, sementara anak yang di tunjuk itu menunjukkan raut muka terkejut karena di tunjuk seperti itu. "Nanti malam, ketika bulan bersinar, terang, aku bisa membantumu untuk terhubung dengan gadis itu, di situ kau bisa menanyakan dimana dia berada dan apa saja," kata cenayang itu sambil menunjuk ke atas sekarang.
"Apa yang kau minta sebagai imbalan? Mengubungkan pikiran seseorang tidak mudah bukan bagi seorang cenayang?" tanya Rin masih memeluk kakinya sambil di peluk Len.
"Sungguh anak yang pintar, aku tahu kalian akan membantu dunia ini, bayaranku adalah, kalian mewujudkan pedamaian di dunia ini, dengan begini aku bisa mati dengan tenang," kata cenayang itu.
"Apa maksudnya dengan mati dengan tenang nek?" Tanya Yuuma, sedari tadi Yuuma yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, tetapi di dalamnya dia benar-benar menyesal telah membiarkan Miku bersama dengan ayah Kaito yang menyamar.
"Menyambungkan pikiran tidaklah mudah, kita tidak tahu kapan Miku akan tidur dan bangun, kita harus terus mencoba memanggil hingga Miku tertidur, atau pingsan, dan kalau yang melakukannya seseorang seumuran nenek, maka, nyawa adalah taruhannya," kata Rin sambil memeluk kakinya lebih erat, dia tidak menyukai akan ada yang mati lagi karena hal ini, apalagi di depannya. Cenayang itu hanya tertawa menanggapi omongan Rin sedangkan yang lainnya menatap tidak percaya kepada cenayang itu.
"Lebih baik tidak usah nek, kita akan memikirkan cara lain untuk mengetahui dimana letak Miku," kata Kaito sambil menepuk bahu cenayang itu, tetapi cenayang itu hanya menggeleng tidak suka.
"Tidak, tidak, ini tidak benar," kata cenayang itu, kemudian dia menangis. "Miku dulu menyelamatkanku saat aku berumur 7 tahun dari sebuah jurang, walaupun saudarinya memaksanya untuk memanggil orang yang lebih tua tetapi dia bersihkeras menyelamatkanku walaupun akhirnya aku baru bisa di angkat saat para orang tua datang," kata cenayang itu sambil tertawa dan bulir air mata yang lolos dari matanya yang terpejam.
"Lia? Kau Lia?" tanya Rin tidak percaya sambil menghampiri cenayang itu.
"Perbedaan waktu di sini sungguh menyakitkan ya?" kata cenayang itu.
"Lia!" Kata Rin sambil memeluk cenayang itu atau yang bernama Lia itu.
"Aku sungguh senang bisa melihat mu lagi Rin!" balas cenayang itu, suasana haru memenuhi ruangan itu antara Rin dan temannya yang sudah lama hilang perbedaan waktu yang membuat Rin dan Miku tetap muda sedangkan Lia sudah menua di sini. Tanpa di ketahui mereka sang kepala desa mendengarkan tiap kata yang mereka ucapkan, bersiap bila ada yang bisa mereka bantu.
"Setidaknya ini bisa sedikit membuat kita lega," kata Len sambil tersenyum.
"Rencana, kita butuh rencana, sembari menunggu hasil dari nanti malam," kata Gakupo kembali bersemangat, dia merasa bisa membuka lubang yang membiarkan secercah harapan itu masuk menjadi sebuah cahaya harapan yang lebih terang lagi. "Kita terlalu terpaku dengan menyerang melalui darat, tetapi tidak dari udara," kata Gakupo sekali lagi.
"Kenapa tidak terpikirkan karena kita tidak mungkin menyusup dari atas," gumam Yuuma sambil menaruh telunjuk dan ibu jarinya ke dagunya. "Setiap medan elemen selalu memiliki lubang di atas, mari kita asumsikan," lalu Yuuma menyeret kertas dan pena terdekat untuk menggambar kemungkinan yang terjadi juga menghitung berapa besar lubang yang berada di atasnya tersebut, semuanya ikut nimbrung ke dalam hal ini dan mempertimbangkan bagaimana hasil yang ada di sana, Kaito dengan senang hati menunjukkan tata letak mansionnya kepada Yuuma sementara Yuuma mencoba menggambar petanya.
"Tidak! Aku tidak ingin Lia mati!" kata Rin tiba-tiba memecah keseruan mereka berdiskusi.
"Rin.." kata Kaito, dia kemudian di hambat oleh Gakupo dengan isyarat gelengan kepalanya.
"Rin, Miku telah menyelamatkan nyawaku, umurku juga tidak menjadi abadi di sini, aku sudah tua dan cepat atau lambat aku akan mati, lebih baik aku menolong di sini, setidaknya aku ingin kematianku ini berguna bagi kalian," kata Lia sambil tersenyum.
"Aku tahu ini berat untukmu Rin, tetapi korban jiwa tidak bisa kita elakkan di saat seperti ini, permintaannya juga ingin kita membawa perdamaian bukan? Dia ingin kematiannya juga damai," kata Luka sambil menenangkan Rin yang sudah menangis sedari tadi, Luka menghapus air mata Rin dengan tenang sementara Rin mencoba menegarkan hati nya, memang benar korban jiwa tidak bisa terelakkan.
"Lia! Bersumpahlah kepadaku kalau kau ini melakukannya tanpa ada paksaan siapapun!" kata Rin kepada Lia, Lia hanya tersenyum sambil mengucapkan kata sumpah, dia memang benar-benar ingin menolong Miku, tidak peduli apapun resikonya, bahkan nyawanya sendiri. Mendengar kata-kata itu Rin kembali menangis keras sambil memeluk Lia.
.
Skip time
.
Matahari sudah sejam yang lalu tenggelam, dan rembulan mulai muncul di temani oleh para bintang yang menghiasi langit, hari sudah memasuki waktu malam. Di sebuah desa yang telah di sinari oleh cayaha lampu itu hanya satu bangunan yang tidak di terangi lampu, beberapa warga berjaga dengan tombak dan senjata di sekeliling bangunan itu. Sebuah bangunan yang akan menjadi salah satu saksi penting sebuah kejadian yang akan merubah dunia ini. Bangunan itu hanya berisi beberapa orang, para pengembara, kepala desa juga beberapa maid yang membantu.
Ruangan besar di tengah aula di bersihkan hanya untuk ritual ini, semua kursi, meja, dan sebagainya di pinggirkan ke sisi tembok, memberikan sebuah ruangan luas di tengah ruangan itu. Sebuah lingkaran besar yang berisi beberapa garis berbentuk bintang juga bentuk-bentuk lainnya yang terbuat dari batu kapur menghiasi lantainya, lingkaran itu juga di kelilingi oleh beberapa tulisan mantra yang berbentuk seperti simbol-simbol aneh yang mengelilingi lingkaran itu. Di atas lingkaran itu ada dua orang yang duduk di sana sambil berhadap-hadapan dengan di kelilingi beberapa lilin yang menyala redup di kegelapan.
Upacara penyambungan pikiran akan di mulai sebentar lagi, suasana tegang menyelimuti ruangan itu, di salah satu sisi lingkaran itu terdapat gadis berambut kuning dengan pinta membentuk telinga kelinci di atas kepalanya, gadis itu telah merelakan temannya tersebut pergi selamanya bila memang itu yang terjadi, selain itu dia juga berharap agar Miku segera tidur agar mereka bisa segera terhubung, semakin lama mereka terhubung, semakin banyak juga energi yang harus di gunakan Lia.
Di pemakaman desa telah di siapkan sebuah lubang untuk si cenayang itu, tentunya ini permintaan si cenayang itu sendiri, berada di sanding liang milik suaminya yang telah meninggalkan si cenayang semenjak lama.
"Malam ini aku Lia Toria akan menghubungkan pikiran anak di hadapanku yang bernama Kaito Shion, kepada perempuan yang memiliki tanda yang sama di pergelangan tangan anak ini Miku Hatsune, kami memanggilmu." Kata cenayang itu sambil menggenggam kedua tangan Kaito yang sudah berlumur tumbuhan mantra yang telah di haluskan, di dahi nya pun ada beberapa tanda yang di gambar oleh Lia sebelumnya, sebuah tanda yang sama dengan yang di dahinya sendiri. "Datanglah," cenayang itu mulai melakukan pemanggilan dengan mengatakannya berulang kali.
Sudah hampir dua jam Lia bergumam 'datanglah' tanpa membuahkan hasil.
"Kenapa dia terus menggumamkan hal itu?" tanya Yuuma, keheningan masih mencekam ruangan itu. Bahkan Yuuma tadi mengatakannya sambil berbisik.
"Karena Miku belum tidur," kata Rin sambil ikut berbisik, semuaya menatap Rin kaget, mereka memang tidak tahu kalau Miku masih terjaga karena apa. Tetapi, perasaan Rin sungguh tidak enak, ada hal buruk yang terjadi kepada saudara tak sedarahnya itu. Lilin yang mengitari kedua orang yang duduk itu mulai bergoyang, pertama hanya satu, kemudian di susul yang lainnya hingga semua lilin di sana sepenuhnya bergoyang.
Lia sudah tidak menggumamkan hal tersebut lagi, Kaito menegang badannya, dan cengkraman itu mengerat, kemudian rautnya menjadi senang seperti sudah bertemu dengan Miku, kemudian wajahnya menjadi khawatir, wajah Kaito ini membuat Rin semakin tidak enak perasaannya. Suasanya ini berlangsung secara intens, tidak ada yang berani berbicara, hanya melihat Kaito dan raut muka yang dia tunjukkan. Akhirnya Lia menghembuskan nafas. Acara sudah selesai, Kaito membuka matanya dan melihat cenayang di hadapannya hampir ambruk dan Kaito menangkapnya sebelum tubuh renta orang itu menyentuh lantai. Rin meledak tangisannya dan menyembunyikan muka di badan Len, sementara Len hanya berusaha menenangkan separuh jiwa nya itu.
"Rin, ku mohon, jangan menangis, kau harus fokus dengan penyelamatan Miku," kata cenayang itu, dia masih bisa bertahan walaupun tubuhnya sekarang di topang oleh Kaito, semuanya menggerumbul ke arah cenayang itu.
"Li-Lia, maafkan aku, aku tidak kuat menahannya," kata Rin.
"Selamat tinggal," katanya sambil tersenyum.
"Selamat tinggal!" kata Rin ikut menangis, Lia memejamkan mata dengan sangat pelan seakan masih ingin berada di dunia ini, dan tubuh itu sepenuhnya lemas tak bertenaga, tangisan Rin menular ke Luka juga Gumi, mereka berdua ikut menangis walaupun tidak sekeras Rin, mendengar tangisan Rin yang meraung-raung, para warga datang karena hasil terburuk telah terjadi. Para warga yang mengenal sang cenayang itu mulai perlahan menitikkan air mata, satu lagi korban telah jatuh. Acara pemakaman pun di lakukan secepat mungkin, agar keesokan harinya mereka membantu Gakupo dan kawan-kawannya untuk menyusup.
Sebuah malam yang lambat bagi orang-orang yang ada di desa itu dan tidur yang cepat bagi mereka, karena tidak lama setelah mereka tertidur, sang mentari menampakkan sinarnya di ufuk timur.
Para warga dengan beberapa pedati juga lembu yang menarik hasil kebun mulai berjajar di lapangan desa, mencoba menjalankan rencana ini dengan matang, dan Len dia masih tidur karena kekuatannya yang menjadi penentu keberhasilan misi ini, sukses atau tidak. Para pedagang desa mempersiapkan barang dagangan yang akan mereka bawa nanti. Mereka mengucapkan doa bersama kepada sang mage pertama agar mereka bisa melaksanakan rencana ini.
Akhirnya detik-detik eksekusi rencana yang di buat semalam pun tiba, para pedangan dengan pedati mereka juga beberapa lembu mulai berjalan ke daerah kerajaan Kaito yang berada di dekat desa ini, bisa di bilang bersebelahan dengan desa ini. Len di bangunkan dari tidurnya dan kemudian bersiap, Gumi membuat sebuah tempat yang terbuat dari jalinan tumbuhan yang akan di terbangkan oleh Len.
'Kalian para pedagang akan memberi keributan di bawah sehingga semuanya fokus ke bawah,'
Para pedagang yang datang berbondong-bondong tersebut tentu saja membuat para penjaga heboh.
"Whoaa, kenapa kalian datang ramai-ramai seperti ini, kita tidak sedang memesan jasa kalian," kata penjaga gerbang dengan baju zirah komplit nya juga sebuah tombak di tangannya.
"Maaf kan kami, tetapi hasil panen menjadi lebih liar dari dugaan kami, bila tidak kami jual, maka hasil panen ini akan menjadi busuk," kata pedagang yang berada di barisan terdepan. Terlihat ketegangan di sana para penjaga mulai berkumpul di pintu kedatangan mendengar keributan yang terjadi.
"Tolonglah kami penjaga, kami akan menjual ini dengan murah bila kalian membiarkan kami masuk," kata orang tadi sambil terus memohon kepada sang penjaga berbaju zirah, kemudian seseorang dengan baju zirah yang berhiaskan rubai hitam di atasnya telah datang mendengar keramaian tersebut.
"Ada apa ini?" tanya sang jenderal itu sambil menatap ke arah rombongan pedati yang datang.
"Kami ke mari untuk menawarkan dagangan jenderal, hal ini terjadi karena hasil ladang kami matang sebelum waktunya," kata pimpinan pedangang itu. Jenderal itu mulai menghubungi seseorang dengan walkie talkie nya, sepertinya mereka sedang sedikit berdiskusi.
"Baiklah, tetapi sebelumnya bawaan kalian akan kami geledah dulu, seperti prosedur keamanan biasanya," kata jenderal itu sambil duduk di dekat pos penjagaan, karena jumlah pedati dan lembu penarik yang membawa barang yang sangat banyak, mereka hampir mengerahkan separuh pasukan penjaga untuk memeriksa bawaan para pedagang itu secara menyeluruh. Mendapat aba-aba dari orang yang berada di barisan belakang sendiri, Gakupo dan lainnya menaiki tempat dari daun yang di buat Gumi barusan dan Len meniupkan angin yang kuat untuk menerbangkan tempat mereka.
"Jadi sesampainya kita di sana, kita akan berpencar, Luka dan Kaito denganku, Len dan Rin, Yuuma dengan Gumi, siapapun yang dapat mencapai penjara bawah tanah yang di katakan oleh Miku, harus memberitahu yang lainnya dan mengirim sinyal GPS!" kata Gakupo sambil duduk di sebuah tempat melayang yang terbuat dari dedaunan tersebut, semuanya mengangguk mengerti kepada Gakupo, Kecuali Kaito yang di pikirannya sedang terjadi sebuah pertempuran akan apa yang harus dia lakukan.
.
.
.
TBC
Minna gomenasai Clara updatenya telat-desu, itu semua di akibatkan oleh beberapa faktor di bawah ini-desu:
AOV, OSU!, Minecraft, ML, Omnyouji, Episode, Pinterest, Tugas menggila, Kerjaan tanpa libur, dan Anime-desu.
Dan karena bebeb Clara sering ngajak mabar jadinya sering terbengkalai ini fic-desu, Clara minta maaf-desu telah membuat kalian menunggu. Dan terima kasih telah menunggu seri Clara ini-desu!
Balasan review :
Yuu Yukimura : Akhirnya selesai kelanjutannyaa!
Miza Fuyumi : Tenang aja nyelametin kok, tapi.. ah sudah lah.. tunggu saja kelanjutannya!
