Another Fairy Tale Story
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp yang punya.
Warning : Typo's,plot twist.
.
Chapter 17
Pengkhianatan
.
Mangkuk terbang yang terbuat dari jalinan sulur, dedaunan dan ranting yang di buat Gumi telah berada di angkasa, dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara di angkasa untuk menghindari agar para prajurit mendongak. Tetapi perjalan tidak semulus itu, Luka takut di tempat tinggi dan terbuka seperti ini, dia kemudian di bungkam oleh Gakupo agar tidak berteriak sementara dia terus berteriak di dalam bungkaman itu.
Yah, saat menyusun rencana mereka lupa, Luka takut berada di ketinggian di tempat yang terbuka, bahkan orang yang takut pun lupa kalau dirinya takut ketinggian di kondisi seperti itu. Dan hasilnya seperti ini, mangkuk itu sedikit bergoyang-goyang sementara Len mencoba menstabilkannya. Sedikit lagi mereka sudah sampai di lubang medan areal yang berada di pusat kastil kediaman Shion
Kaito melihat dengan pandangan cemas ke bawah ke tempat para prajurit mulai menggeledah isi gerobak yang di bawa para pedagang itu, dimana semua dagangan yang berasal dari tumbuhan di sana sengaja di buat matang lebih cepat oleh Gumi. Sementara Yuuma dengan teropongnya mencoba melihat posisi mendarat yang aman, dan mengarahkan Len untuk menghindari pandangan dari para penjaga. Kekurangan dari para penjaga itu adalah, mereka cenderung melihat ke bawah daripada ke atas.
Akhirnya sebuah titik aman ketemu dan mereka mendarat, wajah Luka sudah pucat pasi di karenakan ketakutannya, lalu di sini Len membuat angin yang hebat untuk menyamarkan mangkuk terbang mereka tadi. Sebuah cara yang cukup menguras tenaga Len tetapi efektif untuk menyamarkan 'kendaraan' mereka tadi.
Sesuai rencana mereka kemudian berpencar sesuai kelompok yang mereka bentuk sebelumnya. Mencoba menyelinap di antara lorong dan ruangan demi mencari lokasi menuju penjara bawah tanah yang menurut informasi Kaito, letaknya berada di tebing belakang kastil miliknya. Jadi mereka terfokus untuk mencari tangga menuju ke bawah yang berada di belakang bagian mansion ini. Sementara Gakupo memiliki rencana lain.
"Kaito kau ingat dimana pusat kemanan kastil mu ini?" tanya Gakupo, sementara Kaito hanya mengangguk. "Kastil besar pasti memiliki cctv yang aktif, kita harus menyerang kesana dan memastikan yang lainnya menyelinap dengan tenang, ayo tunjukkan kemana arahnya," kata Gakupo sambil menyuruh Kaito untuk berada di depan.
Mereka menyusuri lorong menuju ruang pusat keamanan, tentunya mereka sudah berada dalam mode tempur, kecuali Kaito pikirannya masih melayang ke tempat Miku semalam. Cuaca di sebagian daerah bisa saja sangat berbeda jauh. Semalam di desa cerah sementara di kastil sedang badai.
Akhirnya mereka menemukan pusat keamanan dan tanpa ba bi bu mereka menghadiahi penjaga di sana dengan serangan untuk membungkam mereka agar tidak ada yang datang karena seseorang memberitahukan posisi mereka. Total ada sepuluh penjaga di sana yang kemudian di lumpuhkan oleh mereka, kemudian Gakupo mengambil alih kendali cctv disana dan juga beberapa alarm yang di pasang di sana di non aktifkan, mereka sengaja membiarkan medan areal terpasang karena bila mereka menghilangkannya, dari sisi mereka tidak membutuhkan hal itu lagi, juga mereka bisa ketahuan. Para penjaga yang telah lumpuh di kunci di gudang.
Tiap penjaga yang datang kemudian di hadiahi bogem mentah dari Luka yang sudah pulih dari rasa takut ketinggiannya tersebut.
"Oh Kaito, aku ingin tanya, kenapa kau memakai sarung tangan sekarang? Biasanya juga kau tidak mengenakannya bukan?" tanya Luka. Kaito hanya memandangi sarung tangan yang menutupi tanda perjodohan itu di punggung tangannya.
"Hanya untuk rencana cadangan," kata Kaito singkat, entah kenapa sikapnya sekarang menjadi sangat aneh dibanding biasanya, yah Kaito memang dingin dulunya, tetapi tidak se aneh ini. Dia terlalu, diam. Seolah-olah sebuah pertanyaan atau sesuatu yang benar-benar mengganjal pikirannya membuatnya menjadi tidak fokus dengan rencana ini, tetapi dia juga berusaha untuk tidak membuat rencana ini berantakan.
Dengan cctv itu juga Gakupo mencoba untuk menuntun Len dan Yuuma menuju penjara ruang bawah tanah yang di bilang itu, dari cctv hanya terlihat lorong penjara itu yang terlihat basah karena terendam semalam. Bahkan beberapa genangan masih ada di situ. Badai semalam memang benar-benar buruk bila dalam pandangan warga sini. Tentu saja kelompok Len dan Yuuma harus menghajar penjaga yang mereka temui saat mereka mengikuti tuntunan Gakupo.
"Len apa yang kau lakukan! Arahnya ke kiri! Bukan ke kanan!" kata Gakupo lewat ponselnya yang berada dalam mode panggilan grup.
"Masalahnya cuman ada lorong ke kanan di sini baka nasu!" ucap Len.
"Oh tidak!" kata Kaito yang seketika menyerbu panel di sana mengutak atik tombol di sana dan seketika gambar di sana berubah, dari yang belok kiri menjadi kanan. "Kita telah di permainkan!" ucap Kaito kesal.
"Maksudnya?" tanya Luka.
"Gambar yang di tampilkan menjadi terbalik! Ingat orang di dekat panel ini tadi, dia yang merubahnya!" kata Kaito sambil menggebrak meja panel di sana.
"Jadi maksudmu aku telah membuat mereka kebingungan dengan instruksi ku? Lalu kenapa kau tidak bilang sedari awal hah? BaKaito!" kata Gakupo sambil mencengkram kerah Kaito dengan tatapan mengajak berkelahi!
"Aku tidak tahu tentang hal ini baka nasu!" bela Kaito dengan tatapan tidak takutnya.
"Tidak tahu apanya?! Ini rumah mu BaKaito!" kata Gakupo masih berapi-api.
"Kalian berdua sudahlah! Kaito sudah lama tidak pulang ke rumah, bisa saja selama itu semuanya telah di rubah!" bela Luka.
"Haah, maafkan aku, aku hanya merasa sia-sia telah memandu mereka," kata Gakupo sambil menghela nafas. Kaito juga menghela nafas dan membereskan pakaiannya, menurutnya meneruskan pertengkaran di saat seperti ini sungguh tidak mungkin, juga tidak ada gunanya di teruskan.
"Tidak apa-apa kita semua dalam keadaan tegang di sini," kata Kaito, Gakupo kembali membantu Len dan Yuuma ke penjara tersebut. Semakin mendekati penjara, semakin banyak penjaga yang mereka habisi, Rin dan Gumi tentunya tidak tinggal diam melihat kedua cowok yang bersama mereka bertarung sendirian, mereka menggunakan kekuatan mereka untuk membantu sebisa mungkin, Rin sering mengendalikan pikiran salah seorang prajurit dan membuat mereka melawan kawan mereka sendiri. Kaito kembali melihat ke arah cctv yang mengarah ke lorong penjara itu. Kemudian terlihat sebuah lambaian tangan dari salah satu sel di sana. Apa maksud tangan itu?
"Apa dia minta di selamatkan juga?" tanya Gakupo berasumsi, Kaito lebih memerhatikan layar itu lebih seksama lagi. Tangan itu mengisyaratkan sesuatu, pertama menunjuk sel di hadapannya, kemudian melambaikan tangannya. Seperti itu terus menerus, hingga akhirnya Kaito menangkap sesuati dari balik isyaratnya kemudian merebut ponsel Gakupo ketika Len dan Yuuma berhasil kesana.
"Serahkan ponsel kalian kepada kakek tua di sel itu!" kata Kaito, Len menyerahkan ponselnya kepada kakek tua itu, sebuah sapaan nada tua menyambut hormat Kaito. Kaito menarik nafas dan segera menghembuskannya, dia harus menanyakannya. "Dimana Miku?" tanya Kaito dengan berharap kemungkinan terburuknya terjadi.
"Maafkan aku tetapi tuan Kaito sungguh telat, dia telah di seret oleh tuan Akaito, aku tidak tahu mereka akan kemana, maafkan aku telah gagal melindunginya tuan Kaito," kata kakek tua itu, kaki Kaito seketika melemas dan dia terjatuh terduduk, dia berfikir, cara itu adalah satu-satunya cara.
"Len, bebaskan dia, kumohon," kata Kaito kepada Len, dia terduduk di lantai seperti sudah habis sudah , Luka dan Gakupo menghampirinya dan menanyakan ada apa. "Luka, Gakupo, berikan ini kepada Miku nanti bila kalian berhasil lolos, dan berjanjilah kepadaku sesuatu," kata Kaito, dia kemudian mengutarakan semua isi pikirannya sehingga membuat Gakupo dan Luka ternganga, mereka tidak menyangka akan jalan pikiran Kaito.
"Tidak! Tidak mau!" kata Luka sambil mundur.
"Luka, tenang saja, dia masih bersama kita, dia nanti akan bergabung kembali," tenang Gakupo sambil menepuk pundak Luka pelan.
"Aku akan memastikan Miku selamat, tenang saja," akhirnya Luka setuju, setelah perdebatan panjang tadi. Akhirnya sebuah sirine merah menyala berbarengan dengan suara sirine yang memekakkan telinga, setelah setengah menit berbunyi, sirine itu mati, dan speaker di ruangan mereka terbunyi.
"ehm, tes tes," sebuah suara yang membuat Kaito membelalakkan mata semua hal yang ada di pikirannya terbukti, penyergapan mereka telah di ketahui dan kemungkinan terburuknya Miku di pindahkan ke tempat yang jauh dari jangkauan mereka. "Pertama-tama terima kasih telah mengacau lagi di mansion ini Kaito, sudah berapa lama semenjak kau mengacau dan akhirnya kau pergi dari rumah ini, kau menginginkan gadis twintail ini kan? Keluarlah ke halaman mansion,atau akan aku bunuh gadis ini," Hanya itu, hanya itu yang membuat Kaito langsung berlari menuju halaman mansionnya, tanpa mendengarkan . Tanpa basa basi dia menumbangkan setiap prajurit yang berhadapan dengannya.
Misinya saat ini hanya satu, melihat dan memeluk Miku, walaupun bila ini menjadi yang terakhir kalinya. Memeluk gadis yang telah berbagi takdir darinya, berharap ini bukan yang terakhir kalinya bagi dirinya bertemu gadis yang telah mengubah takdirnya ini. Selain itu, berharap akan misi akan berhasil.
"Kaito! Tunggu!" teriak Luka berusaha untuk memperlambat lari Kaito yang sangat cepat menuju halaman mansionnya. Di tengah perjalanan Luka bertemu dengan yang lainnya yang juga ikut mengejar Kaito, atau berusaha mencapai halaman mansion labirin ini.
Sesampainya di halaman mansion, mereka melihat Akaito berdiri di sebuah balkon yang panjangnya hingga 3 m dari pintu keluar lantai 3. Di sebelahnya terdapat Miku yang matanya tertutup dan di pegangi oleh dua prajurit yang memakai zirah besi dan di tangan mereka ada pedang yang mengarah ke leher Miku.
"Selamat datang di mansion kami, dan okaerinasai Kaito-kun," ucap Akaito dengan baju serba hitamnya, di kerahnya terdapat hiasan dari bulu, rambut merahnya benar-benar mirip Kaito dari segi model rambutnya, wajahnya juga mirip, seolah-olah Kaito adalah kembarannya Akaito bila rambut mereka tidak sama. Tetapi Kaito memiliki kecerdasan seperti Meiko, ibunya.
Kondisi mereka telah terkepung, tidak ada jalan keluar, para prajurit ber-zirah pun mengepung mereka dengan tombak yang bagian runcingnya mengarah kepada mereka, ada yang aneh dengan para prajurit itu, mereka bukanlah seorang manusia, melainkan sebuah immo sesosok prajurit yang di bangkitkan dari kubur, bisa di bilang mereka adalah sebuah zombie. Mereka lebih seperti sebuah boneka tali dibandingkan mayat hidup, mereka di kendalikan oleh benang-benang tak terlihat oleh tuan mereka. Jumlah mereka tidaklah sedikit bahkan mungkin 100 prajurit lebih.
Akaito memandang puas, dia telah menangkap para buronan sang Mage terkutuk. Kaito, Luka, Gakupo, Len, Rin, Yuuma dan Gumi menatap Akaito dengan berbagai pandangan, mulai dari marah, tidak percaya, dan ingin segera merebut Miku dari tangan Akaito. Terlebih Len dan Yuuma yang merasa mereka telah gagal melindungi Miku malah membiarkannya sendirian dengan Akaito yang menyamar. Walaupun Kaito berulang kali berkata itu bukan salah mereka berdua, tetapi mereka tetap saja mempermasalahkannya.
Semenjak tadi Akaito menyebut nama Kaito, Miku mulai melihat kesana kemari sambil memanggil-manggil namanya. Kaito pun semakin tidak tega melihat kondisi Miku sekarang ini, bajunya basah, begitu juga dengan rambutnya yang masih menetes beberapa tetes air. Semalaman Miku benar-benar berendam di dalam air laut ketika badai, bisa di pastikan Miku akan demam nantinya.
Gakupo meneriakkan kepada semuanya untuk mencari dan memotong benang yang tersambung dengan boneka mayat itu juga mencari celah untuk meraih balkon itu. Mereka berpencar kecuali Rin, dia kebingungan, kemampuannya tidak mempan kepada boneka yang tidak memiliki pikiran. Ini adalah kelemahan dari kemampuan Rin, dan untung saja Len masih bisa membantu Rin. Kaito dengan marah membuat api itu ada di sekujur tubuhnya, membaradengan api ungu kehitamannya.
Tetapi para immo itu mencoba menghalau mereka untuk mendekati balkon dimana Akaito dan Miku berada. Akhirnya Kaito mendapatkan celah untuk melakukannya, dan dia merebut Miku langsung dari para prajurit itu. Kaito membawanya kembali ke tempat yang aman tetapi mereka telah terkepung, Kaito membawa Miku dengan gaya bridal style dan Rin menghampiri mereka untuk melepaskan tutup mata Miku, melihat dirinya sudah berada di dekat Kaito, Miku memeluk Kaito juga Rin, dirinya telah kembali.
"Kaito, bisakah kau hentikan semua ini, dan kembalilah kepada ayah nak, ayah berjanji bila kau kembali, ayah akan melepaskan teman-temanmu sekarang," ujar Akaito, Kaito terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka kata-kata itu keluar.
"Tidak! Kau kira kami akan menyerahkan Kaito begitu saja?! Dia bersama kami," kata Yuuma ambil suara.
"Apa yang kau lakukan Akaito! Ini tidak seperti perjanjiannya!" ujar seorang gadis berabut putih dengan dandanan loli nya. Mayu.
"Aku memiliki rencana Mayu, dan kau tidak perlu tahu," ujar Akaito. "Bagaimana, selama di daerah ini, temanmu akan aku jamin keselamatannya hingga batas daerah ini, bahkan akan aku bantu Miku mengambil lambang musim gugur? Bagaimana?" tawar Akaito, sebuah tawaran yang membuat kelompok itu tercengang, bahkan juga Mayu.
"Ka-kau kira kami akan percaya begitu saja?!" tanya Gumi. Tetapi sesuatu yang tak terduga terjadi, Kaito melangkah maju, Luka dan Gakupo melihat Kaito dengan tatapan khawatir.
"Ayahmu ini tidak pernah berbohong, bukan begitu Kaito?" tanya Akaito dengan sikap seolah menyambut Kaito yang berjalan perlahan ke arahnya, Miku memegangi tangan Kaito agar tidak kemana-mana, tetapi dengan cepat Kaito menghentakkan tangannya agar Miku tidak bisa memeganginya lagi. Semuanya tidak tahu apa yang akan di lakukan Kaito saat ini. Dia akhirnya berhenti di tengah-tengah jarak kerumunan teman-temannya dan mansion tersebut.
"Ayah tidak perlu membujuk seperti itu, bahkan kalau bisa bawa saja mereka, aku yang sengaja membawa mereka kemari," kata Kaito yang membuat semua teman-temanny terkejut, bahkan Miku sampai tidak tahu harus berbuat apa. Semua mulut terkunci, melihat Kaito. Dia kemudian meloncati beberapa balkon untuk sampai ke balkon ayahnya, sama ketika dia menyelamatkan Miku tadi.
"A-apa yang kau bicarakan BaKaito!" teriak Rin tidak terima. Sementara Miku menutup mulutnya seolah-olah tidak percaya, kejadian ini, benar-benar terjadi. "Berani-beraninya kau mengkhianati kami! Kau bahkan meninggalkan Miku sekarang?!" teriaknnya lagi, tetapi Kaito yang sudah berada di balkon tersebut hanya membelakangi mereka. Tidak memperdulikan teriakan Rin.
"Ayah, aku akan kembali menjadi anak buah para Mage itu," kata Kaito yang membuat Len, Rin, Yuuma, Gumi, Luka, Gakupo, Miku terkejut.
"Kau mengkhianati kami Kaito? Padahal ku kira kau sudah berubah!" teriak Yuuma. "Pikirkan Miku! Pikirkan perasaannya!" teriak Yuuma lagi. Kaito berbalik dengan tatapan sinis nya.
"Miku? Hah, aku hanya mempermainkan dia selama ini, dia sungguh gadis yang polos yang dengan mudahnya ku permainkan," ujar Kaito dengan tatapannya. Sementara Miku merasa hatinya tertusuk pisau yang sangat dalam. Saking dalamnya, dia merasa tidak bisa bernafas.
"Hentikan," bisik Miku, walaupun tidak bisa di dengar yang lainnya, semuanya memiliki satu emosi saat ini, marah akan pengkhianatan Kaito yang mereka kira sudah berubah.
"Jadi kau masih bersamaku?" tanya Mayu sambil mendekat dan merangkul sebelah tangan Kaito. Mayu bersikap manja dengan Kaito yang membuat Miku semakin sakit hati, Kaito hanya mengangguk sambil mengusap pipi mayu dengan punggung tangannya.
"Hentikan," bisik Miku lagi, dia merasa tidak kuat menghadapi ini semua, melihat Kaito yang ini, dia tidak kuat. Dadanya semakin sakit saat matanya sudah berlinang air mata, dia hanya ingin hentikan tatapan itu. Dirinya telah di permainkan lagi, dan lagi. Tangannya menangkup di dada dan menundukkan wajahnya, dia tidak kuat menengadah melihat pemandangan di atas itu.
"Ayah, sudah tangkap saja mereka," kata Kaito, yang lainnya mulai bersiap kalau mereka di tangkap, mereka akan melawan hingga titik darah penghabisan.
"Tidak, ayah sudah berjanji, dan janji ayah adalah mutlak, mereka akan di lepaskan," kata Akaito masih memegang kata-katanya, walaupun Akaito adalah pengikut Mage, tetapi Akaito tidak kehilangan prinsipnya, sekali dia berjanji, dia akan memenuhinya, walaupun nyawa adalah taruhannya. Semua immo berhenti dan kembali ke kegelapan.
"Baiklah, usir mereka dari sini! Aku tidak ingin melihat muka mereka lagi," Kata Kaito sambil pergi kedalam mansion itu ditemani dengan Mayu, bagi Mayu perginya mereka tidak masalah, yang penting dirinya bisa bersama dengan Kaito. Menurutnya, bahkan bila para mage itu mengamuk asalkan ada Kaito, dirinya akan menerimanya sepenuh hati. Para prajurit manusia menggiring mereka keluar dari lingkungan istana, semua anggota kelompok hanya merasa mereka telah di khianati selama ini, Luka hanya mencoba memeluk dan menenangkan Miku dengan pelukannya. Mereka kembali ke desa tersebut sementara Rin melampiaskan kemarahannya dengan menendang-nendang pohon.
Miku sama sekali tidak bereaksi dan akhirnya dia pingsan dengan semua tekanan batin itu. Semuanya pun mengerumuni nya dan Gakupo menawarkan untuk mengangkatnya, mereka pergi dari mansion keluarga Shion dengan perasaan marah, sedih, tidak percaya, menjadi satu.
Malam kembali datang dan Miku telah sadar, Luka menemaninya selama ini. Gadis itu telah di bersihkan badannya, dan untungnya dia baik-baik saja meskipun telah semalaman terendam banjir. Tidak ada suara yang muncul di ruangan itu, Miku pun diam seribu bahasa.
"Kami tidak menyangka dia melakukan itu Miku, ku harap kau menerimanya, aku tidak tega melihatmu seperti ini, juga, kau masih memiliki kami," kata Luka sambil menggosok kepala Miku, rambutnya tergerai hingga ke lantai. Dia kemudian menyerahkan surat yang di titipkan oleh Kaito. "Ini dari Kaito, ku harap, kau membacanya," kata Luka memberikan surat itu ke tangan Miku dan berjalan pergi meninggalkan gadis itu seorang diri di kamarnya.
Miku membukanya dan membacanya, semenjak air matanya kembali menetes membaca isi surat itu. Dia melihat pergelangan tangannya, dimana tanda pertunangan itu menghiasi punggung tangan kiri nya.
"Jadi, aku adalah boneka mu huh?" senyum Miku miris.
.
.
.
Tbc
Konnichiwaa! Jumpa lagi dengan Clara-desu!
Sudah lama ya Clara tidak update lagi-desu, mungkin kalian juga sudah menemuka author favorit lain-desu. Daijobu-desu.
Kuharap kalian senang dengan ini-desu. Clara akui, chapternya berantakan-desu. Nanti Clara benerin lagi-desu.
Soal Kaito-desu?
Nurufufufu!
Sore jaa,, himitsu-desu!
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
