Another Fairy Tale Stories

.

Disclaimer : Vocaloid milik Cyrpton Future media dan Yamaha Corp.

Warning : Typo, Don't Like Don't Read

.

Chapter 18

Show Must Go On

Pagi telah datang di dunia Voca yang kecil ini, begitu juga di kerajaan para Mage terkutuk itu. Anon telah bangun terlebih dahulu di bandingkan kembarannya, di istananya yang masih saja sama dirinya menuju balkon terbesar disana.

Dia melihat rakyat nya yang sedang bekerja seperti biasanya dari sana, kondisi di sana masih berawan seperti biasa. Berita Kaito telah menjadi anak buahnya kembalil sudah terdengar olehnya, dan dia tentu saja sangat senang apalagi ketika Akaito menceritakannya.

"Hoaaamm! Kakak, kau bangun pagi sekali," kata Kanon masih menguap. Anon hanya menatap adiknya itu datar, dia melihat punggung tangannya yang terdapat tanda kutukan itu. Sudah beberapa tahun di dunia voca dimana dirinya dan adiknya mulai berkuasa di dunia yang kecil ini. Dunia yang hanya ada satu musim tiap tahunnya di berbeda daerah, dan dirinya bisa menguasai dunia ini, bila saja anak yang di takdirkan itu tidak menghambat pekerjaanya.

Anon berjalan menuju balkon kamarnya, yang menghadap ke kota di area utama, area dimana setiap tahun mendapat 4 musim. Dia menatap kota yang terlihat gemerlap itu, banyak pengikutnya yang sedang tidur di kota itu, iya, kota yang berada di dekat kastil milik Anon dan Kanon itu adalah kota spesial bagi para pengikut setia mereka.

"Kakak, kau tahu, sekarang kondisi kejiwaan Hatsune-san sungguh tidak stabil loh, akibat Kaito yang pergi saat itu," kata Kanon, Anon menoleh dan melihat Kanon sudah berpakaian dengan bagus, dan memegang sebuah kristal yang sebesar genggaman tangan di tangan kanannya. "Bagus, semakin lama mereka menghadapi kami, maka semakin kita di depan mereka jauh," Kata Anon.

Anon hanya melihatnya, sekarang kekuatan mereka bertambah dengan Kaito di pihak mereka. Kaito adalah anak emas mereka, karena Kaito sebenarnya memiliki kekuatan yang lebih dari Kaito tahu, dan hanya mereka yang mengetahui kekuatan asli dari Kaito.

"Tetapi, bila kita tidak berhati-hati dengan Kaito, kita bisa mati di tangannya," kata Anon sambil mengusap kepala adiknya lembut. "Kau tidak mungkin melupakan hal itu kan?" tanya Anon, Kanon hanya mengangguk.

Kekuatan Mage murni yang berada di darah Kaito bahkan lebih mengkhawatirkan daripada kekuatan Miku bila sudah berhasil mengumpulkan ke 5 keping lambang itu, Anon tentu berhati-hati agar Kaito tidak menyadarinya atau bahkan tahu, karena Kaito bisa pergi dari mereka lagi.

"Kak, jadi sayembaranya tetap berlangsung?" tanya Kanon, Anon hanya mengangguk. "Baiklah," hanya itu ucapan Kanon kemudian dia beranjak pergi

"Ah, Kanon," panggil Anon, Kanon pun menoleh. "Kurasa sekarang kau bisa memberitahukan keluarga Shion tentang sayembara itu," kata Anon sambil melihat bola kristal milik Kanon yang sejak kapan berada di tangannya.

"Hah, ironi sekali bila sampai Hatsune-san mati di tangan Shion," kata Kanon, dirinya kemudian menghilang di balik kabut. Menuju kastil tempat duo pemalas itu tinggal.

.

Other place (Miku and other)

.

Miku terbangun di pagi itu dengan suara bisikan.

'Miku, aku ada di sini, maafkan aku, aku baru menghubungimu,' Kata suara itu.

"Baiklah sekarang aku harus kemana?" tanya Miku seorang diri, perasaannya masih kacau, tetapi, dirinya harus bisa melakukan hal ini seorang diri, sudah saatnya Miku membuktikan omongannya kalau dirinya tidak bergantung kepada Kaito.

'Ada bukit di belakang desa yang kau tempati sekarang, di belakang bukit itu, ada pohon yang sangat besar, dengan elemen mu, kau akan bisa membuka pintu di sana' kata suara itu, Miku kemudian berganti baju dari piama yang dia pakai sebelumnya, dirinya harus memberitahu yang lainnya. Miku berusaha menguatkan diri setelah kejadian itu, dirinya sebenarnya tidak mengerti jalan pikiran Kaito seperti apa, tetapi, selama tanda itu masih berada di tangannya, dia tidak akan menyerah terhadap Kaito. Dirinya memakai sarung tangan untuk menutupi tanpa janji suci itu di tangannya, setidaknya dia akan menyembunyikan ini, sesuai isi dari surat itu.

Miku hanya memakai pakaian simpel, kaos, celana pendek dengan stoking di atas lutut, sepatu boot bulu satu-satunya miliknya, lalu jaket jeans. Syal menyelimuti lehernya, syal berwarna putih dengan dekorasi berbentuk rumbai kecil.

Miku akhirnya keluar dari kamarnya yang di sediakan oleh rumah bapak kepala desa.

"Aku harap kau tidak berpengaruh dengan keputusan Kaito, Miku, dia, tahu apa yang dia lakukan," kata Gakupo yang ternyata sudah bangun dan siap. Dari penampilannya, Miku bisa tahu.

"Tenang saja Gakupo, akan aku buktikan, aku tidak bergantung kepada Kaito," kata Miku sambil menunduk. Tiba-tiba ada sepasang tangan memeluknya dan menggosok kepalanya dengan lembut.

"Selama Kaito tidak ada, aku dan Gaku akan melindungimu Micchan," kata Luka.

"Oh iya, hanya kita bertiga yang tahu alasan Kaito seperti itu, ku harap kau jangan membocorkannya," kata Gakupo lagi. "Juga, biarkan saja Rin seperti itu," Kata Gakupo lagi lalu pergi. "Sekarang kita kemana?" tanya nya sambil berjalan pergi.

"Bukit belakang desa ini," Hanya itu kata Miku. Mereka lalu memberitahu yang lainnya bila mereka akan berangkat meneruskan misi. Setidaknya mereka akan meneruskan misi mereka, membawa kedamaian di dunia Voca dengan melenyapkan para Mage itu.

"Miku!" kata seseorang berambut madu lari kearah mereka.

"Ada apa Rin?" tanya Miku.

"Kalau kau mengalami mimpi buruk lagi, kau bisa langsung datang kepadaku, Ku harap dengan ini tidak mendambah mimpi burukmu Miku, tidak akan aku maafkan cowok brengsek itu!" kata Rin dengan penuh amarah, Miku hanya menatap Rin, mereka akhirnya berangkat meskipun dengan berat hati, setidaknya mereka berusaha, berkhianatnya Kaito tidak terlalu membawa dampak yang bisa memperlambat perjalanan mereka.

"Sial! Sial! Siaall! Si maniak lolita sialan itu malah meninggalkanku bermesraan dengan pangerannya sementara aku tidak," kata Lenka yang mengawasi kepergian grup itu dari kejauhan. "Semoga saja kau di hukum Anon-sama, Mayu!" Kata Lenka sambil meremas dahan pohon tempatnya berpijak.

.

Tempat lain

Kediaman shion

.

"Jadi Tou-san tidak di beritahu soal sayembara itu," kata Kaito sambil memandangi lukisan besar Ibunya yang ada di ruang keluarga.

"Benar, aku tidak tahu Kaito, soal sayembara itu, aku tidak menyangka sayembara seperti itu ada," kata Akaito sambil meminum wine dari gelas nya. Kelihatannya Akaito tidak terganggu sama sekali dengan kenyataan bahwa, dia hampir saja di suruh membunuh anaknya sendiri. Kaito hanya menatapnya, Kaito tahu, ayahnya adalah orang yang memegang janji, dan akan memegang janji nya itu sampai mati.

Kaito juga mengetahui bila ayahnya adalah orang baik, hanya saja, sedikit bodoh. Sebenarnya Kaito tidak ingin membuat ayahnya ini menjadi pengikut penyihir terkutuk itu, tetapi dirinya berfikir, bila seperti ini menguntungkan juga baginya.

"Tou-san, ada sesuatu yang ingin kau berjanji kepadaku," Kata Kaito akhirnya.

"Beritahu saja," kata Akaito santai.

"Aku ingin kau tidak ikut campur dalam perburuan kelompok itu," suasana mulai hening di sana, kemudian terdengar suara gelas di letakkan di meja. Kaito sedikit menelan ludah, dirinya tidak yakin akan permintaannya ini akan gampang di turuti oleh ayahnya.

"Jelaskan alasanmu kenapa aku kau minta berjanji seperti itu, lalu, janji itu tentunya apa yang aku dapatkan?" tanya Akaito menatap anaknya yang sedang duduk di sofa di hadapannya, menatap ke arah mata anaknya itu lekat-lekat.

"Alasannya, tentu saja aku merasa tidak terima dengan sayembara itu, bila saja ayah secara tidak sangaja membunuhku, ayah akan kehilangan satu-satunya keluarga ayah ini," kata Kaito.

"Baiklah, alasanmu cukup masuk akal, kau adalah anakku, setelah kehilangan ibumu, aku tidak ingin kehilangan siapa-siapa lagi, lalu sebagai bayarannya, jangan pergi lagi dari ayah, jangan lari lagi seperti itu lagi," Kata Akaito, Kaito hanya tersenyum miring.

"Tentu saja, ah, iya aku meminta satu hal lagi, jangan suruh aku memperlakukan Mayu lebih dari ini," kata Kaito sambil meninggalkan ruangan itu.

"Kau mau kemana?" Tanya Akaito.

"Hanya akan berkoordinasi dengan anak buah ku," Kaito sambil pergi. Ketika keluar dari ruangan itu dirinya lalu di sambut dengan Mayu yang langsung memeluk lengan Kaito sebelah kiri.

"Kaito-kun, ayo kita bertemu peri perwujudan perjanjian itu," kata Mayu sambil bergelayut manja. Kaito hanya menghentakkan tangannya, dia merasa Mayu sungguh merepotkan sikapnya.

"Maaf, aku sibuk sekarang, bukankah kau di tugaskan untuk mengawasi kelompok itu?" tanya Kaito.

"Aku menolaknya biar saja Lenka yang melakukannya, dia juga sedikit menyebalkan," kata Mayu masih mengekor Kaito menuju luar mansion itu, Kaito mengecek ponselnya dan tersenyum sebentar, lalu memasang muka serius kembali.

"Mayu, sampai kapan kau mengikutiku?" tanya Kaito memandang sebal.

"Memang Kaito-kun mau kemana?" Tanya Mayu lagi.

"Bertemu dengan anak buahku," kata Kaito, Mayu dengan tatapan mau ikut tetap mengikuti Kaito menuju garasi nya, "Mayu, tempat itu berbahaya untuk perempuan, aku tidak bisa bertanggung jawab kalau kau di apa-apakan di sana, apa kau mau tiba-tiba di culik salah satu anggotaku? Lalu kau di jual oleh mereka? Itu kalau kau di jual dalam keadaan utuh, kalau kau di mutilasi dulu?" kata Kaito.

"Ka-Kaito-kun kan ada!" elak Mayu lagi.

"Maafkan aku, tapi anak buahku sungguh banyak, aku tidak bisa mengontrol satu persatu, lagipula mereka adalah orang yang bebas, itu prinsip di geng ku," Kata Kaito masih berjalan lebih cepat daripada Mayu, Mayu yang kesulitan mengejarnya kemudian berhenti mendengar kata-kata itu.

Kaito hanya tersenyum menyadari Mayu tidak lagi mengikutinya. "Lebih baik kau bantu Lenka sana, nanti yan lebih di sayang Nee-sama adalah Lenka saja loh, kamu sudah tidak di sayang," Kata Kaito sebelum menghilang ke tangga turun.

Mayu hanya menghentakkan kaki nya kesal! Padahal setelah sekian lama, Kaito akhirnya kembali ke pelukannya, tetapi, tanda di tangan Kaito yang sungguh menghalangi, dan Kaito selalu bersama geng nya, kalaupun di rumah selalu ada urusan dengan Akaito, sementara Mayu sedikit takut berhadapan dengan Akaito, apalagi bila sudah membahas sesuatu yang serius.

.

Tempat lain

Miku dan kawan-kawan

.

Miku sudah menemukan pohon yang di maksud dengan suara tadi pagi itu. Dan ada lambang musim gugur disana, Miku lalu mengerahkan kekuatannya untuk menyelimuti lambang itu. Pohon itu mulai bergerak, seperti menyusut, menyisakan sebuah lubang menganga dengan tangga menuju tanah.

"Majulah Miku, kami akan menunggu di sini, tenang saja, kalau ada apa-apa kau tinggal teriak saja," Kata Yuuma, Miku hanya mengangguk dan mulai melangkah masuk. Rin yang ingin menemani Miku di tahan oleh Yuuma. "Rin, jangan, lambang itu tidak akan bisa kita dapatkan kalau kita ikut masuk, karena sisa kekuatan Mage pendahulu tidak akan aktif bila ada elemen lain yang masuk, itu sudah menjadi bentuk pertahanan disini," kata Yuuma menjelaskan kepada Rin, Rin hanya mengangguk paham, dirinya juga tidak ingin kelompoknya terhambat lagi.

Ketika Miku sudah sampai di dasar lubang itu, beberapa obor langsung menyala. Miku yang kaget pertamanya kini bisa mengendalikan kekagetannya tersebut mulai menelusuri lorong yang di kelilingi oleh banyak sekali akar rambat dari tumbuhan di atasnya. Akhirnya Miku menemukan sebuah tempat yang sungguh terang, banyak sekali tumbuhan yang telah berbunga di sekeliling dinding ruangan yang berbentuk lingkaran itu.

Miku mulai menyadari kehadiran sesosok orang, tidak, sebuah bayangan, wujud dari sisa kekuatan sang Mage penemu tersebut.

'Kau telah melewati banyak sekali rintangan, wahai keturunan klan matahari terakhir,' Kata suara itu. Miku sedikit menangis lalu mengusap air matanya cepat-cepat.

"Aku kemari untuk mengambil lambang yang kedua," Kata Miku. Sosok itu tidak seperti sosok yang dia ketahui saat berada di daerah musim dingin. Sosok itu lebih seperti sebuah sosok wanita yang memakai tudung dari ujung rambut dan menutupi hinga ujung kaki nya, sosok itu juga melayang. Miku sedikit tidak yakin kalau yang berada di hadapannya ini adalah perwakilan dari sang Mage penemu tersebut.

'Aku menyadari apa yang ada di pikiranmu, aku adalah sosok yang asli, aku seperti ini karena daerah ini merupakan daerah kekuasaan dari salah seorang bawahan mage terkutuk itu, tudung hitam ini adalah lambang dari sihir hitam yang menyelimuti tempat ini.' Jelas Mage itu, Miku akhirnya mengangguk, dan tepat di tengah ruangan muncul sebuah meja yang terbuat dari marmer berbentuk pilar yang indah.

Satu buah lambang muncul bersamaan dengan munculnya meja tersebut. Lambang musim Gugur.

'Ambillah,' kata sosok itu, Miku langsung mengambilnya, lalu bayangan itu mengampiri Miku dan mengulurkan tangannya, Miku langsung menerima lambang kecil dari tangan itu. 'Seperti biasa, ini adalah untuk teman-temanmu,' Kata sosok itu. 'Maafkan aku.. aku tidak bisa menjaga sosokku lebih lama, aku juga tidak bisa menjaga kesucian ini lebih lama, energi kegelapan ini membuat tenaga ku terus menerus menipis, selamat tinggal, kuharap kau berhasil, wahai keturunan terakhir klan matahari,' Kata sosok itu kemudian lenyap bersama dengan hebusan angin, seperti sebuah asap yang hilang karena di terpa angin.

Miku merasakan tempat itu akan rutuh dengan datangnya gemuruh dan tempat itu mulai berguncang, dia dengan cepat lari mencari perlindungan.

"Miku! Ayo cepat kita pergi! Tempat ini tidak bisa bertahan lebih lama lagi!" kata Gumi sambil menarik tangan Miku keluar dari ruangan itu. Mereka berlari sambil menghindari bebatuan yang runtuh dari tempat itu, tumbuhan Gumi telah menahan gua ini agar tidak runtuh secepat itu. Mereka berlari sambil menghindari akar rambat yang hampir memenuhi lantai gua itu, lalu tangga menuju permukaan telah terlihat.

Mereka menaiki tangga tanah itu, dan akhirnya berhasil keluar sebelum gua itu runtuh sepenuhnya.

"Bagaimana kau tahu tempat itu akan runtuh Gumi?" tanya Miku yang berusaha untuk menetralkan nafasnya kembali.

"Aku melihat pohon itu mulai semakin miring, lalu aku berlari menuju tempatmu," Kata Gumi juga sedikit kelelahan dan berbaring di tanah.

"Miku!" sepasang tangan memeluk Miku, Rin.

"Tenanglah Rin, aku tidak apa-apa, aku berhasil keluar Rin, aku baik-baik saja," kata Miku sambil menenangkan Rin.

"Baiklah Gakupo, sekarang kita kemana?" tanya Len.

"Kita akan ke daerah musim panas," kata Gakupo sambil menggulung petanya kembali.

.

.

.

TBC

Sudah lama banget dari Clara terakhir update-desu, gomennasai-desu, Clara sekarang kena Writer Block yang datang tidak terkira-desu. Semoga kalian menikmati chapter ini-desu.

Balasan review:

Muni : Soal itu mari kita lihat di chapter-chapter kedepannya-desu. Hihihi.

Hansel Aaron Ivar : Clara terima wajah polosmu-desu, semoga chapter ini Hansel-chan enggk ngamuk lagi-desu.