Another Fairy Tale Stories
.
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp.
.
Chapter 19
Pantai.
"Pantaaii!" Teriak Rin melihat pantai di sana. "Sudah lama rasanya tidak melihat lautan!" Kata Rin antusias. Gadis itu berlari menuju lautan yang membentang di hadapannya. Semua anggota terliha antusias dengan berkunjungnya mereka ke pantai. Tetapi, tidak dengan Miku yang masih menekuk wajahya. Dia merasa kehilangan sesosok laki-laki yang biasanya ada di sebelahnya.
"Apa tidak masalah kita berlibur seperti ini?" tanya Miku kepada Gakupo.
"Tidak masalah Miku, lagipula kita memerlukan sebuah pengalih suasana. Kita tidak bisa terus terpuruk karena pergi nya dia. Perjalanan kita masih lumayan panjang, apalagi daerah musim panas ini sungguh luas. Aku tidak bisa membiarkan kelompok ini terpuruk yang membuat kita gampang di serang oleh para antek-antek mage terkutuk itu." Ujar Gakupo sambil menepuk kepala Miku pelan.
"Baiklah kalau begitu." Hanya itu ucapan Miku. Dibandingkan yang lainnya, Gakupo sebenarnya sangat mengkhawatirkan Miku. Tidak ada yang tahu akhir dari perjalanan ini akan seperti apa. Happy ending atau bahkan sad ending. Mereka sudah memakai pakaian pantai mereka. Di pantai ini hanya ada mereka. Di saat seperti ini sungguh jarang orang yang merayakan liburan.
Miku memilih duduk di tepian pantai. Dia memang bertekad bahwa dia akan membuktikan bahwa dia tidak membutuhkan sesosok Kaito. Tetapi, Hatinya sekarang masih kosong. Kejadian itu sungguh mendadak.
'Seandainya saja Kai-kun disini, apakah dia akan mengomentari pakaianku?' Pikir Miku. Tiba-tiba, sebuah air membasahi kepalanya.
"Ayo Miku jangan bersedih terus!" Kata Rin, ternyata yang melakukannya adalah Rin. Miku yang terkaget karena badannya tiba-tiba basah hanya melongo lihat Rin.
"Ah, iya Rin." Hanya itu jawaban Miku. Rin menarik tangan Miku agar beranjak dari tempatnya.
"Ayo ikut kontes memukul semangka!" Tarik Rin. Miku hanya tersenyum.
'Benar juga, aku harus bisa melupakan masalah ini, kelompok ini adalah yang terpenting.' Batin Miku.
Akhirnya, Miku memaksakan dirinya untuk bisa tersenyum lagi.
"Ayo Luka! Maju kedepan sedikit!" teriak Rin. Luka yang di tutup matanya saat ini, memegang sebuah batang kayu untuk memecahkan semangka.
"Sedikit ke kiri Luka!" Teriak Miku juga. Luka sedikit berjalan menuju kekiri mengikuti arahan dari Miku. Sementara, para laki-laki menyiapkan barbeque untuk makan siang mereka. Barang-barang mereka taruh di tepian pantai. Barberque yang mereka lakukan sekarang adalah hasil dari tangkapan mereka di laut tadi.
.
..
Matahari mulai terbenam. Suasana hati Miku sedikit lebih membaik. Luka yang sedari tadi memperhatikan Miku, menyadari Miku mulai sedikit melupakan masalah itu. Sebuah senyuman terkembang di muka gadis itu.
'Syukurlah rencana Gakupo ke pantai saat ini tidak sia-sia.' Batin Luka.
"Hari sudah mulai malam, ayo kita mencari tempat untuk berkemah." Kata Gakupo sambil mengemasi barang-barangnya.
"Kenapa kita tidak berkemah di pantai ini saja?" ujar Gumi.
"Benar, lagipula di sini tidak ada larangan untuk berkemah." Kata Len. Gakupo menghela nafas, dia sedikit melihat ke sekeliling. Yah dia memang tidak menemukan tanda tidak boleh berkemah disini. Lagipula, di sini merupakan pantai di daerah terpencil. Pantai ini pun di kelilingi oleh tebing. Bahkan, tadi saat kemari pun mereka harus menuruni tebing-tebing itu.
"Baiklah, para perempuan dirikan tenda. Kami, akan mencari ikan lagi untuk makan malam." Kata Gakupo mengalah. Bahkan Miku terlihat antusias oleh rencana ini. Itu yang membuat Gakupo tidak tega menolaknya.
Yuuma, Gakupo dan Len kembali ke tengah lautan dengan tombak di tangan mereka untuk mencari makan malam. Sementara Miku, Luka, Rin dan Gumi membenarkan tenda mereka.
Matahari telah terbenam sepenuhnya. Api unggun dan sinar rembulan menjadi penerang mereka malam ini. Miku mencoba mengeluarkan sinar dari
.
..
'La.. laa.. laaa..' sebuah nyanyian terdengar oleh telinga Miku. Gadis itu terbangun.
'Tumben sekali sang mage bernyanyi.' Batin Miku. Gadis itu membuka tenda nya, dan suara nyanyian itu terdengar lebih jelas.
"Halo apakah itu kau sang mage?" tanya Miku lirih. Tetapi, tidak ada jawaban.
'Aneh, biasanya dia akan menanggapi omonganku. Lalu suara siapa yang aku dengar saat ini?' Batin Miku. Miku masih bisa mendengar suara nyanyian yang menyenangkan itu. Entah kenapa, rasa kantuk Miku terasa hilang. 'Suara siapa ini sebenarnya?' Tanya Miku di dalam hati.
Suara itu sangat merdu, tetapi entah darimana datangnya. Miku memilih duduk di pasir dan mendengarkan suara itu dengan diam.
"Miku kenapa kau terbangun?" tanya seseorang, Miku menoleh.
"Eh, Gumi. Aku hanya mendengar sebuah suara nyanyian." Kata Miku. Gumi berdiri di samping Miku.
"Nyanyian?" Tanya Gumi pertamanya. "Oh, suara ini." Kata Gumi ketika dirinya bisa mendengar suara nyanyian itu juga.
"Kau tahu suara apa ini? Pertamanya aku kira itu mage yang memanggilku. Tetapi, aku tidak mendapatkan jawaban darinya. Jadi aku memutuskan untuk mendengarkan suara merdu ini." Kata Miku masih menikmati lagu itu. Angin laut malam ini terasa sangat menyejukkan.
"Itu adalah suara Siren. Pantas saja sih, jarang ada yang tahu. Karena kebanyakan pinggiran pantai tempat ini adalah tebing curam. Hanya di daerah musim panas yang memiliki pantai yang bisa di akses. Tetapi ini kejadian langka." Kata Gumi sambil duduk di sebelah Miku.
"Kenapa bisa?" tanya Miku.
"Para siren hanya bernyanyi di tengah lautan sana. Dan mereka jarang menyanyi di dekat pantai seperti ini." Kata Gumi menjelaskan.
"Oh begitu. Apakah itu pertanda buruk?" Tanya Miku lagi.
"Tidak juga. Para siren sebenarnya hanyalah seorang mage yang di kutuk mage lain karena telah melakukan praktik terlarang." Kata Gumi lagi.
"Kalau begitu. Bukankah hal yang bagus misal kita meminta pertolongannya mereka?" Pikir Miku.
"Sayangnya, mereka adalah yang terkutuk. Mereka memang abadi. Tetapi, mereka masih sakit hati karena di kutuk seperti itu." Jelas Gumi
"Memangnya apa praktik terlarang itu?" tanya Miku lagi.
"Menghidupkan kembali manusia atau makhluk voca yang meninggal." Kata Gumi lagi. Miku menjadi paham kenapa mereka di kutuk. Bahkan para mage terkutuk itu hanya membangkitkan para hewan yang telah meninggal. "Miku, ayo ikut aku. Ada tanaman herbal yang tumbuh di pantai yang ingin aku cari." Kata Gumi. Miku hanya mengangguk, dan mereka bangkit dari duduknya.
Mereka mulai menyusuri tepian tebing untuk mencari tumbuhan itu.
"Gumi sebenarnya tumbuhannya seperti apa?" tanya Miku.
"Bentuknya seperti alga. Tetapi berwarna putih. Kau akan menemukannya di sekitat bebatuan tepi laut." Kata Gumi sambil memanjat salah satu tumpukan bebatuan. Miku mengekornya dan melihat ke kanan dan kekiri. Ombak laut malam itu membentur batuan dan terkadang membawa alga yang tersangkut di bebatuan. Tetapi, tidak ada yang berwarna putih.
Entah sudah berapa lama mereka mencari tumbuhan ini. Matahari mulai terbit di ufuk timur.
"Kurasa kali ini aku tidak beruntung. Tidak ada tumbuhan itu di sini. Lebih baik kita kembali saja Miku. Daripada yang lainnya khawatir mencari kita." Kata Gumi.
"Guna tumbuhan ini untuk apa?" tanya Miku penasaran.
"Bila kau terluka karena gigitan hewan beracun, tumbuhan ini obatnya. Tinggal membebatkan tumbuhan itu ke bekas gigitan dan di balut dengan kain perban. Seminggu lagi baru di buka perban itu, dan semua racun itu akan mengotori tumbuhan itu." Kata Gumi. Miku hanya mengangguk. Dia kemudian melihat sebuah seberkas putih di tumpukan bebatuan.
"Gumi, itu kah tumbuhannya?" tanya Miku sambil menunjuk tempat itu.
"Oh kau benar! Syukurlah, kita menemukannya. Tumbuhan ini sangat berharga mahal di situasi seperti ini." Kata Gumi sambil berlari menuju tumpukan batu itu. Dia mengambil tumbuhan itu dan sedikit memerasnya. Lalu, dia menaruhnya di tas kecil yang dia bawa. "Baiklah, ayo.. a-apa yang terjadi?!" Kata Gumi melihat sesuatu. Miku berlari menghampiri Gumi.
Begitu sampai, Miku terbelalak matanya. Tumbuhan itu banyak sekali ada di tepian bebatuan.
"I-ini sungguh banyak. Kita bisa menjualnya!" Kata Gumi sambil bergegas mengambil tumbuhan itu. Miku pun membantu memungutnya.
"Astaga. Gumi, ada orang terdampar." Kata Miku sambil memanggil Gumi. Miku bisa melihat sesosok perempuan tidak sadarkan diri, di hamparan pasir di dekat tumpukan bebatuan itu. Perempuan itu berambut kebiruan yang sangat indah. Tetapi kondisi perempuan itu telanjang bulat. Gumi mencoba mengecek pergelangan tangannya dan lehernya, mencari urat nadi. Ternyata gadis itu masih hidup.
"Ayo kita bawa ke perkemahan, akan aku obati dia di sana. Sepertinya dia tidak sengaja tenggelam di sini." Kata Gumi. Miku dan Gumi membantu gadis itu ke perkemahan mereka. Tak lupa, gadis itu telah di berikan jaket Miku. Jaket itu menutupi hingga ke paha gadis itu.
Ketika mereka sampai di perkemahan. Kelihatannya semuanya belum bangun. Gumi meletakkan gadis itu di tenda Miku yang memang sendirian disana.
"Gumi apa yang bisa aku bantu?" tanya Miku.
"Ada luka di kepalanya. Bisa kau sembuhkan? Dan juga, aku akan mengurus nya agar dia bisa bernafas kembali." Kata Gumi. Miku memegang luka di kepala gadis itu, dan Gumi sebisa mungkin memompa air dari pernafasannya dengan menekan-nekan dada orang itu.
Gadis itu terbangun dan bergelung. Dia terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya.
"Syukurlah, kau sadar." Kata Miku.
"Hah. Aku.. Dimana aku?" tanya gadis itu sambil memegangi kepalanya. "Eh, bukankah aku kemarin terbentur keras? Kenapa kepalaku tidak ada luka?" Kata orang itu panik.
"Tenanglah, namaku Gumi, dan ini Miku, dia tadi yang menyembuhkan luka di dahimu." Kata Gumi memperkenalkan diri.
"Aku merasakan elemen cahaya. Apakah, lukaku di sembuhkan dengan elemen cahaya?" tanya gadis itu. Miku hanya mengangguk.
"Aku yang menyembuhkan luka di kepalamu." Kata Miku.
"Bukankah pemilik elemen cahaya sudah punah? Jangan bilang. Kau anak yang di ramalkan!" Kata gadis itu terkesiap sambil memandangi Miku. Miku hanya mengangguk.
"Kelihatannya aku sudah mulai terbiasa dengan tatapan itu." Gurau Miku.
"Lalu baju siapa yang aku pakai ini?" tanya gadis itu. Miku hanya menunjuk dirinya sendiri. "Astaga! Aku mengotori pakaianmu!" kata gadis itu panik.
"Tenanglah, aku tidak keberatan." Kata Miku.
"Nama mu siapa?" tanya Gumi.
"Namaku Merli." Jawab gadis itu.
"Kau tahu tempat tinggalmu? Mau aku bantu kembali?" tanya Gumi.
"A-aku adalah salah satu mage yang di kutuk." Kata Merli sambil menunduk. Kedua gadis itu terkesiap. "Ta-tapi kumohon jangan takut kepadaku. Keadaanku saat ini pun, bukan kemauanku." Kata Merli lagi.
'Kau mau cerita?" tanya Miku.
"Sebenarnya. Dulu, sebelum penyerangan mage terkutuk pertama. Kami semua di tipu olehnya. Mereka menipu kami bahwa sihir seperti itu tidaklah terlarang. Dia langsung membuat kami membangkitkan para mayat. Dan, dia tiba-tiba menyudutkan kami karena melakukan sihir itu. Pemimpin mage saat itu sangat murka, hingga mengutuk kami. Kami hidup di lautann dengan ekor di kaki kami. Walaupun kami masih bisa mendapatkan kaki kami kembali bila kami berada di daratan. Semenjak saat itu kami membentuk rumah kami sendiri jauh di seberang lautan. Bersumpah tidak akan ikut campur urusan daratan." Kata Merli sambil memandang penuh kebencian.
"Ma-maafkan kami." Kata Gumi.
"Oh, tidak apa-apa. Aku malah berterima kasih terhadap kalian. Seandainya yang menemukan orang lain, dan mengetahui kalau aku adalah Siren. Orang itu akan membunuhku dan menjual dagingku. Kami memang bersumpah tidak akan ikut campur dalam urusan daratan. Tetapi, kelihatannya mage terkutuk itu menyebarkan bahwa daging kami bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Padahal itu sama sekali tidak benar. Banyak dari kami yang habis dari daratan dan tidak kembali." Kata Merli sambil sedikit sedih. "Tetapi, ternyata aku di selamatkan oleh sang gadis dalam ramalan itu!" Kata Merli sambil memeluk Miku senang. Miku bisa mencium bau lautan dari Merli. "Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas perlakuan kalian?!" Kata Merli.
Miku dan Gumi berpandangan sesaat. Lalu Gumi buka suara.
"Lebih baik kita diskusikan dengan Gakupo omongamu." Kata Gumi sambil keluar.
"Merli-san, kau tunggu di sini dulu." Kata Miku sambil meninggalkan Merli di tenda.
Ternyata mereka telah keluar dan sudah bersiap.
Gumi dan Miku menjelaskan keadaannya kepada Gakupo. Pertamanya Gakupo terkejut, tetapi dia memilih untuk tetap membiarkan pikirannya terbuka. Mendengarkan semua kisah dari Miku dan Gumi, Gakupo berfikir sesaat.
"Sebenarnya saranmu bagus, apalagi Siren masih terhitung Mage. Tetapi, kemungkinan dia menerima nya kecil. Para Siren bersumpah untuk tidak mencampuri urusan dataran." Kata Gakupo.
"Tetapi, lebih baik kita tanyakan saja kan? Kurasa selama kita menanyakannya baik-baik, dia bisa menolaknya dengan baik-baik pula kan?" Kata Rin.
"Miku, panggil gadis itu kemari." Kata Luka kepada Miku. Miku hanya mengangguk dan kembali ke tenda nya. Miku kembali dengan gadis Siren itu. Gakupo mencoba menanyakan dengan nada seramah mungkin, agar Merli tidak tersinggung.
"Aku tidak bisa memberikan jawaban soal itu. Yang bisa aku tawarkan kepada kalian hanyalah. Aku membawa kalian ke tempat para Siren tinggal dan menemui ketua kami. Maika-sama. Melihat kondisi nya sekarang. Kurasa ini juga kesempatan kami untuk membalas Mage terkutuk itu." Kata Merli sopan.
"Bagaimana kita kesana?" tanya Yuuma.
"Aku akan memberi kalian sihir untuk bernafas dalam air. Kita akan berenang kesana. Anggap saja ini sebagai balasan karena telah menyelamatkan nyawaku." Kata Merli. Mereka sempat berpandangan sejenak. Dan akhirnya mereka mengangguk.
"Baiklah, kami akan berganti ke pakaian renang kami dulu." Kata Gakupo. Yang lainnya kembali ke tenda mereka dan berganti pakaian bikini mereka. Dan, mereka kembali telah siap. Barang bawaan mereka di tinggal di pantai. Merli berjanji untuk menyembunyikan keberadaan tenda itu sampai mereka kembali.
Mereka berkumpul dan Merli menyiapkan mantra nya.
"wahai roh lautan, beri mereka berkahmu untuk hidup di lautan." Kata Merli. Sebuah lingkaran sihir menyelimuti mereka. "Ayo kita bertemu Maika-sama" Kata Merli sambil melepas jaket pemberian Miku.
Mereka berjalan perlahan ke air dan mencoba bernafas dalam air. Mereka bisa menarik nafas secara normal.
'Di dalam air, kita tidak bisa berbicara, tetapi melakukan telepati.' Jelas Merli menggunakan telepati. 'Mulut kalian harus tetap tertutup.' Jelas Merli lagi. Yang lainnya mengangguk.
'Whoaa! Ini seperti mimpi!' Pikir Rin.
'Lautan sangat luas ternyata.' Pikir Len sambil melihat ke kanan dan kekiri, melihat ikan-ikan berenang. Kaki Merli perlahan berubah menjadi ekor.
Dan mereka berenang mengikuti Merli. Menuju tempat Siren, para mage yang di kutuk.
.
.
.
TBC
Holla Clara kembali dan bisa update cepat-desu! Semoga kalian menyukai chapter ini-desu!
Read and review ya minna!
Menyadari ada yang berbeda dari Merli dan para mage terkutuk Anon dan Kanon-desu?
Sampai jumpa di Next Chapter-desu!
