Demon Slayer Belongs to Koyoharu Gotouge
.
A/N : Ikut meramaikan kapal GiyuuTan, kali ini untuk merayakan dua kesayangan author sampai ending ternyata baik-baik saja setelah mengalahkan Muzan. Giyuu and Tanjiro, they deserve to be happy.
.
Thank you Koyoharu Gotouge.
Hari ini adalah hari terakhir penggambilan gambar untuk rangkaian set ending serial Demon Slayer. Semuanya bersuka cita, tentu saja. Koyoharu Gotouge sang penulis skrip sekaligus sutradara dan produser proyek ini membuat semua orang yang bekerja di bawahnya (dan yang menikmati karyanya) terombang-ambing dalam lautan perasaan yang berulang kali diterjang badai.
Satu persatu karakter kesukaan dibuat mati olehnya, tanpa diketahui pemain peran, kru rekaman, dan pembaca. Semua rencana itu matang begitu saja ada di kepalanya, ditulis di atas kertas sakral satu kali seminggu turun layaknya wahyu yang siap menggoncang perasaan semua orang terdekatnya. Tak ayal pemeran Kanao sempat pingsan beberapa kali karena lelah batin membaca skrip mingguan, dia jadi tahu siapa saja yang ditakdirkan mati berurutan.
Hari ini adalah hari terakhir bagi mereka berkumpul, tapi semua orang terlihat bersuka cita. Tidak ada raut sedih di sana. Berulang kali jantungan melihat satu persatu tokoh kesayang meninggal membuat kru dan pembaca di rumah sana takut sang sensei diam-diam punya sisi sadis untuk membuat sebuah akhir sedih.
Mereka membaca skrip terbaru Gotouge-sensei, bagian terakhirnya untung indah cerah seperti pelangi setelah badai berlalu. Oh, atau mungkin inspirasi sensei itu memang dari pelangi yang beberapa minggu lalu muncul setelah badai menerpa daerah tempat penggambilan gambar dilakukan.
"Jadi nanti aku tertawa dan Giyuu-san menatapku dengan tatapan bersyukur?" Pemeran Tanjiro Kamado menyebut lawan mainnya dalam set terakhir dengan nama karakter yang dia mainkan. Sudah kebiasaan baginya, hingga semua orang di sana memanggil aktor dan aktris dengan nama karakter untuk membantu mereka stay in character.
"Hm, ini mudah." Giyuu menggulung skripnya, kemudian menatap kaca di depannya yang menampilkan wajah segar dan cerah, jauh dari dari tatanan make up beberapa minggu lalu saat dia harus terlihat begitu kelam penuh penderitaan.
Oh, dan dia juga bersyukur rambutnya kembali pendek. Penata rambut benar-benar mengembalikan tatanan rambutnya seperti saat pertama kali dia datang untuk audisi. Rambut pendeknya di layar nanti adalah gaya natural yang Giyuu pakai sehari-hari.
"Rambutmu bagus." Giyuu merasakan Tanjiro di belakangnya menyentuh ujung rambut yang masih segar habis kena potong. Penata rambut akan kembali sebentar lagi karena dia memiliki briefing tentang rambut Giyuu harus dimodel seperti apa setelah dipotong pendek.
"Aku menyukainya."
"Kau menyukai setiap bagian tubuhku, Tanjiro."
Mendengar itu Tanjiro memerah. Dia menghentikan kegiatannya menyentuh rambut Giyuu, memilih duduk diam di kursi riasnya sendiri sembari pura-pura sibuk membaca skrip yang sudah dihapalnya di luar kepala.
Tanjiro dipanggil dari China saat audisi masih digelar, sementara Giyuu sendiri dihubungi di Amerika karena masih memiliki proyek film di sana. Keduanya tidak saling mengenal baik, bahkan Giyuu jujur mengakui dia belum melihat satu pun serial atau film yang dibintangi oleh Tanjiro. Pria yang lebih tua itu agak terkejut Gotouge-sensei merekrut bocah muda seperti Tanjiro menjadi pemain utama, tapi kemampuannya memang terlihat menjanjikan, dan Giyuu sama sekali tidak kecewa.
Satu-satunya yang tahan dengan tatapan dingin, suaranya yang keras, serta tindakan Giyuu yang tanpa aba-aba akibat improvisasi hanyalah Tanjiro. Dia melengkapi Giyuu dengan sangat baik. Sementara itu, Shinobu akan terdiam beberapa detik untuk berpikir lalu tertawa, sisa pemain lain akan memberikan respons hampir sama diikuti lupa akan skrip hingga membuat pengambilan gambar berulang kali gagal dan harus diulang.
Semua orang mengagumi Giyuu, tapi mereka akan jujur jika beradu peran dengan Giyuu itu susah-susah gampang dan mereka memilih menghindarinya. Di setiap interview, hal ini sudah sering dibicarakan bahwa aktor dan peran yang dibawakan Giyuu bernasib sama baik di cerita maupun di kehidupan nyata.
"Ngomong-ngomong tentang interview," Giyuu memulai. "Aku mendapat satu pertanyaan yang tidak bisa diganti. Ini tentang kita."
Oh. Tanjiro segera merasakan pipinya memerah. Dia mengangkat skripnya semakin tinggi, semakin menutupi wajahnya. Tentang kita, Tanjiro tahu Giyuu akan membicarakan apa.
"Aku ingin mengatakan pada mereka bahwa kita akan menikah."
"Giyuu-san!"
Tanjiro mencengkram skrip di tangannya dengan kencang. Dia tidak kuat jika Giyuu sudah menyinggung hubungan mereka. Pemain lain sudah tahu, kru sudah tahu, Gotouge-sensei juga sudah tahu, semua orang tahu di antara Giyuu dan Tanjiro ada sesuatu. Entah kebetulan atau tidak, karakter mereka di layar kaca dan kehidupan nyata saling melengkapi, cocok. Yang terbawa perasaan bukan hanya penggemar. Aksi penggemar yang ramai membicarakan GiyuuTan, nama keduanya yang digabungkan untuk dimaknai sebagai sesuatu yang romantis, ternyata berdampak bagi pemeran aslinya.
Di salah satu pesta perayaan karena mendapat rating tinggi, Giyuu mabuk dan berakhir tidur dengan Tanjiro. Malam sebelumnya, mereka memadu kasih hanya karena mabuk, merasa esok hari akan kembali normal jika salah satu dari mereka bangun lebih dulu dan meninggalkan satu lainnya dalam keadaan terlelap. Sehingga saat akal mereka kembali waras, malam waktu mereka memadu kasih itu akan diingat sebagai mimpi konyol belaka.
Sayang, keduanya terjaga hingga pagi hari. Pikiran keduanya terlalu berisik. Dengan punggung saling berhadapan, dengan pikiran yang masih mabuk karena alkohol dan sisa kenikmatan yang mereka dapatkan, keduanya sibuk menebak isi hati satu sama lain.
Ini semua salah penggemar. Dua hari sebelum pesta itu Tanjiro kaget menemukan namanya ada di mesin pencari online dipasangkan dengan Giyuu dalam sebuah kisah romansa pelik. Apa yang tertulis di sana begitu mirip dengan apa yang akan Giyuu dan dirinya katakan jika menghadapi masalah seperti yang ada dalam cerita buatan penggemar itu. Tanjiro merinding, dia mulai berpikir kalau pembuat cerita itu adalah Giyuu sendiri. Karakternya yang diam membuat semua orang tidak bisa menebak apa isi kepalanya, bagaimana dia yang sebenarnya.
Siapa tahu kan?
Sementara itu, yang ada di kepala Giyuu adalah tingkah Tanjiro di setiap interview dan sesi foto promosi. Laki-laki yang lebih muda darinya itu ternyata tertangkap kamera terlalu sering dekat dengannya. Senyum dan perhatian yang dia berikan terlihat memiliki makna. Giyuu punya satu sesi interview solo beberapa hari lalu. Dua pertanyaan dibiarkan tidak direkam. Apa dua pertanyaan itu? Giyuu menyesal hari itu bertanya.
Dia segera ditunjukkan foto dan video kompilasi yang dikumpulkan oleh penanya. Itu semua berasal dari internet, buatan fans, dan Giyuu sama sekali tidak tahu kalau ternyata selama ini Tanjiro menyimpan perhatian padanya.
"Apakah kalian berkencan?" Penanya menunjuk foto mereka yang saling menautkan jari di red carpet, Giyuu tidak sadar dia pernah melakukan itu. Kemudian telunjuknya menggeser layar tablet, gambar Tanjiro yang menatapnya dengan penuh perhatian saat sesi tanya jawab meet and greet Demon Slayer'cast beberapa bulan lalu. Lagi, Giyuu tidak menyadarinya. Lagi dan lagi, semua foto dan video yang diabadikan oleh penggemar seolah membuktikan bahwa selama ini Tanjiro bermaksud memberi hati untuknya.
Ditambah apa yang baru saja mereka lakukan, meski pikirannya masih sedikit tertutup kabut mabuk, Giyuu sadar dia telah mengambil keperjakaan Tanjiro.
Apakah mereka akan berakhir hanya dengan one night stand? Setelah semua foto dan video berisi Tanjiro yang begitu perhatian padanya?
Giyuu tidak akan melakukan itu.
Pagi hari saat kicau pertama terdengar, dia menggulingkan tubuh untuk menindih Tanjiro. Untuk kali pertama, Tanjiro tidak bisa menebak apa yang akan Giyuu lakukan. Akhirnya, dia merasakan apa yang aktor dan aktris lain rasakan saat beradu akting dengan Giyuu.
Bingung dan gugup.
"Menikahlan denganku, Tanjiro."
Tanjiro sama sekali tidak habis pikir Giyuu akan mengatakan itu.
Hingga hari ini, jawabannya belum Tanjiro berikan. Tanjiro masih terlalu malu untuk mengangguk setuju, dia takut emosinya akan memengaruhi performa akting, dan Giyuu mencoba memahami itu.
"Menikahlah denganku, Tanjiro."
Sekali lagi Giyuu mengatakan itu, Tanjiro tidak tahan dan hanya mampu membalasnya dengan lemparan skrip. Laki-laki yang lebih muda itu memilih keluar ruang rias, dia akan bersiap untuk pengambilan gambar bersama dengan yang lain, meninggalkan Giyuu sendiri dengan senyum tampan menyebalkannya.
.
Tanjiro tertawa dan Giyuu menatapnya dengan tatapan bersyukur.
Deskripsinya begitu singkat, tapi satu bagian itu ternyata menjadi bagian paling banyak memerlukan take. Tanjiro yang bersalah, dia mengacaukan saat Giyuu menatapnya dengan pandangan penuh syukur. Tawanya berubah canggung, senyumnya tidak in character, dan wajah merah sisa tertawanya membuat kru dan pemain lain merasa kesal sekaligus gemas karena Tanjiro begitu lucu, tapi demi apa pun ini adalah take terakhir. Semua orang tau bagian ini harus masuk dalam episode terakhir, tidak bisa digantikan atau dihilangkan.
"Maaf-maaf." Tanjiro mencoba membuat Nezuko tidak kesal, gadis yang menjadi adiknya di serial Demon Slayer itu terlihat frustrasi hingga membuat tatanan pita di rambutnya rusak. Tanjiro benar-benar parah, ini adalah rekor take terbanyaknya selama pengambilan gambar.
Briefing dilakukan, keputusan hari itu membuat Tanjiro dan Giyuu dipisahkan beberapa meter. Tempat duduk mereka tidak lagi bersebelahan. Mereka diminta menjiwai karakter dan tidak bertatap muka untuk mengurangi bercandaan yang terjadi di antara mereka. Masalah seperti ini lumrah terjadi, apalagi saat para pemain begitu dekat di kehidupan nyata. Kru dan pemain lain di sini paham Giyuu dan Tanjiro dekat, ada sesuatu di antara mereka. Kebanyakan menganggapnya sebagai sahabat, tapi yang terjadi sebenarnya adalah sesuatu di antara mereka itu lebih dari sekadar sahabat.
Giyuu sudah melamar Tanjiro berulang kali.
.
Tanjiro tertawa dan Giyuu menatapnya dengan tatapan bersyukur.
Arahan dari sutradara terdengar jelas di telinga Tanjiro. Upaya tambahan seperti dia, Giyuu, Nezuko, dan Urokodaki berbincang seolah sedang menikmati akhir yang bahagia disarankan oleh Gotouge-sensei. Dia tidak akan merekam suara, dia hanya mengabadikan momen yang terjadi saat perbincangan itu terjadi.
"Deskripsinya begitu singkat, kupikir improvisasi yang membuatnya terlihat natural akan terlihat lebih baik."
Tanpa dialog yang pasti, mereka hanya perlu bersenda gurau hingga terlihat sedang bahagia penuh syukur, dan tugas tambahan berupa tawa senang bagi Tanjiro. Oh, untuk tatapan penuh syukur sendiri itu adalah masalah Giyuu. Giyuu terpisah beberapa meter sedang diarahkan oleh asisten direktur. Mungkin pria itu sedang menerima arahan bagaimana menatap penuh syukur, bagaimana pun juga wajah datar Giyuu perlu diantisipasi apakah dia bisa cukup ekspresif untuk ditangkap oleh kamera.
"Ready?"
Urokodaki bersiap dengan Nezuko. Sementara Giyuu dan Tanjiro ada di samping mereka, terlihat canggung karena enggan saling menatap, sama sekali tidak melakukan pemanasan bersenda gurau seperti yang dilakukan oleh Urokodaki dan Nezuko.
Meski begitu, keduanya kompak mengangkat jempol tanda siap diambil gambar.
"Action!"
Gotouge menghela napas. Take kali ini akan bernasib sama seperti take sebelumnya. GiyuuTan belum terlihat akrab dan natural di kamera. Gotouge jengah, tapi dia tetap menahan kru agar tetap melanjutkan pengambilan gambar. Gotouge percaya, sesuatu akan terjadi, dan kameranya tidak boleh ketinggalan merekam barang sedetik pun.
"Nee, Giyuu-san. Apakah aku sudah mengatakan kalau rambut pendek begitu cocok dengan wajahmu?" Tanjiro memulai, Giyuu berusaha menghargai usahanya mencari topik dengan memberikan tatapan penuh perhatian dia ingin mendengar pendapat Tanjiro lebih banyak.
Laki-laki yang lebih muda tertawa kecil. "Rambut panjangmu memang menakjubkan, tapi aku lebih suka rambutmu yang pendek. Sosok tegasmu semakin terlihat, aku menyukainya. Aku mengatakan ini bukan sebagai Tanjiro Kamado, aku mengatakan ini sebagai diriku sendiri." Giyuu masih memperhatikannya, menunggu apa yang sebenarnya ingin Tanjiro katakan, menunggu kapan yang lebih muda memberi waktu yang pas bagi dirinya menuntaskan tugas melakukan tatapan bersyukur.
"Nee, Giyuu-san. Tentang lamaranmu itu … aku menerimamu. Aku ingin menikah denganmu." Tanjiro mengangkat wajahnya dengan senyum cerah andalannya yang ampuh melelehkan es kutub di dalam hati Giyuu.
"Maaf aku terlambat memberikan jawaban."
Anak itu tertawa.
Tanjiro tertawa dan Giyuu menatapnya dengan tatapan bersyukur.
Tanpa diberi skrip pun, Giyuu akan otomatis menatap balik Tanjiro dengan tatapan penuh syukur.
Cintanya terbalas. Giyuu telah jatuh, dan Tanjiro ada di sini untuk menangkapnya.
"Cut!"
Semua orang bersuka cita. Pernyataan Tanjiro tadi terekam dan semua orang di sana menyaksikan bahwa GiyuuTan resmi berlayar dalam kehidupan asli para aktornya. Gotouge-sensei adalah yang pertama memberikan selamat untuk pasangan baru jadi itu, disusul Urokodaki, Nezuko, lalu semua orang yang terlibat dalam pembuatan serial Demon Slayer.
Giyuu dan Tanjiro meminta semua orang bekerja sama untuk menjaga kabar ini tetap rahasia. Mereka tidak ingin kesuksesan Demon Slayer ternoda oleh skandal yang meski bagi penggemar mereka begitu terlihat indah, tapi mereka tidak akan naif memperhitungkan orang-orang yang membenci pernikahan sesama jenis. Biarlah fakta ini terbongkar jauh setelah masa emas Demon Slayer terlewati.
Namun, penggemar tetaplah penggemar dengan mata mereka yang amat jeli. Hari pertama episode terakhir itu tayang, semua orang kompak membicarakan adegan Tanjiro tertawa dan Giyuu menatapnya dengan tatapan bersyukur.
"Mereka terlihat seperti pasangan yang baru saja menikah!" Begitulah kira-kira rangkuman singkat dari tweet dan postingan di portal sosial media mana pun.
Gotouge di kursi hanya bisa tersenyum melihat reaksi penggemarnya. Apa yang mereka katakan mendekati kebenaran.
Mereka belum menikah, baru hampir menikah karena yang terjadi saat itu adalah GiyuuTan sebatas melaksanakan lamaran.
"Tapi aku yakin mereka akan segera menikah," gumam Gotouge-sensei sambil mengamati foto yang dipotongnya dari hasil rekaman episode terakhir Demon Slayer. Foto itu dipajang dalam sebuah figura kecil nan manis bertengger di meja kerjanya.
Tanjiro tertawa dan Giyuu menatapnya dengan tatapan bersyukur.
Tiga tahun berikutnya, foto itu menjadi foto pre-wedding GiyuuTan di pesta pernikahan mereka. Ukurannya jauh lebih besar, dalam figura putih nan mewah bertengger di depan pintu masuk tenda tempat resepsi.
Agar orang tahu,
GiyuuTan is real
End
