「誕生日を持つ灰色の少年の為に」
Pairing: 写納 (fluff; not centered)
.
.
.
"Hai, sedang apa kalian—"
"Sstt, diam Mike, kau akan membuat kita ketahuan."
Mike mengernyitkan alisnya. Apa maksud Norton berkata seperti itu. Dan kenapa pula dia beserta William, Naib, dan Eli sedang bersembunyi di balik dinding seperti ini?
Mike ikut mengintip, melihat apa yang sedang keempat temannya pantau. Aesop yang sedang berbincang akrab dengan sang Fotografer, Joseph Desaulnier di depan kamarnya. Mike semakin tidak mengerti. Apa yang aneh dari itu, sampai-sampai mereka bak mata-mata menguntit mereka seperti itu? Semua orang juga sudah tahu bahwa mereka memang menjalin hubungan khusus dan sebentar lagi akan menuju ke tingkatan yang lebih serius.
Ada-ada saja kelakuan teman-temannya ini.
"Joseph sudah memberi aba-aba, waktunya siap-siap semuanya," ucap Naib tiba-tiba. Dari ujung sana Mike dapat melihat Joseph yang menoleh ke arah mereka dan mengacungkan jempolnya sembari mengajak Aesop pergi menjauhi kamarnya.
Mike sudah mulai curiga kalau dia awalnya sedang tidak diajak untuk melakukan "misi kecil" mereka.
"Jahat yah kalian, mau iseng gak ajak-ajak," bisiknya manyun. Norton sebagai sahabat karibnya langsung mengerti maksud dari kata-kata Mike tersebut.
"Maaf, lupa. Kalau mau ikut, ayo sini sekarang," ajaknya sembari menunggu Eli membuka pintu kamar Aesop menggunakan kunci cadangan; entah darimana bisa dia dapatkan. Dari Brooke, mungkin?
Wajah Mike langsung bersinar.
"Tentu saja, serahkan padaku. Keisengan adalah salah satu dari keahlian terbaikku."
"Tumben sekali, kau mengajak ku kesini Joseph," ucap Aesop tiba-tiba. Mereka sekarang sedang berada di Moonlit River Park; Joseph yang membawanya ke sini.
"Yah… mumpung map ini sedang tidak dipakai sekarang kan," dalih Joseph menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Lagipula kau tak perlu khawatir, aku sudah meminta izin pada host lewat Miss Nightingale dari kemarin, hehe…"
Aesop menatap curiga. Joseph alihkan pandangannya. Menghela nafas, Aesop kembali memandang ke depan.
"Baiklah, jadi sekarang mau apa?" tanya pria bersurai abu-abu itu. Lawan bicaranya hanya tersenyum lembut sembari menggengam tangannya.
"Temani aku bersenang-senang hingga siang di sini yah, Aesop."
"Guys, guys, mereka sudah selesai dengan kencan mereka," seru William yang berlari kencang ke arah teman-temannya yang sedang sibuk mendekorasi aula Penyintas dengan berbagai jenis pita dan juga balon.
"Apa?" DOR! Saking kagetnya, Fiona tak sengaja memecahnya balon yang sedang ditiupnya.
"Fiona!" desis Vera yang sedang memasang pita di langit-langit kesal, hampir saja dia terjatuh dari tangga akibat terkejut oleh suara balon yang meletus.
Fiona memasang wajah meringis. "Maaf…" kekehnya malu.
Martha maju mendekati William yang panik.
"Jadi bagaimana ini? Kita masih belum selesai, progress bahkan baru sampai setengah."
"Aku juga tidak tahu, Martha! Seharusnya Joseph menahannya lebih lama lagi," jawab William sesekali melihat ke belakang, takut bila mereka ketahuan dan seluruh rencana menjadi berantakan.
"Maaf, tapi saya punya ide," tutur Michiko yang entah sejak kapan mengikuti percakapan mereka.
"Tiga orang datangi Tuan Carl dan katakan bahwa ada pertandingan dadakan. Bila dia bertanya melawan siapa, katakan saja dengan saya," usulnya.
"Hmm… ide yang bagus, Nona Michiko," puji Martha sembari memasang pose berpikir.
"Naib, Eli, kalian temani William dan katakan pada Aesop ada pertandingan dadakan."
"Baik!"
"Baik."
Ketiga pria tersebut pun segera melaju ke depan pintu masuk.
Martha memijit kepalanya.
"Aku harap ini berhasil…"
"Joseph, berhenti menahan-nahanku," pinta Aesop yang memaksa untuk masuk gedung Oletus Manor. Joseph masih tetap menahannya dengan memeluk pinggangnya.
"Janjinya kan sampai siang saja, sekarang sudah siang, aku mau balik ke kamarku dan istirahat sekarang." Joseph geleng-geleng kepala. Aesop menghela nafas kesal.
"Joseph, hentikan," ucapnya serius. Dia paksa tangan Joseph, meminta untuk dilepaskan. Joseph pun menyerah dan melepaskan pelukannya.
Aesop membuka pintu manor.
Dia disambut oleh ketiga teman dekatnya.
"…ada apa? Tumben berkumpul disini," tanya Aesop heran.
Mereka hanya saling lirik-melirik. Naib menyenggol tangan William.
"A-ah, itu… umm…" ucap William terbata-bata. Dia memang tidak pandai dalam berbohong.
Aesop memasang padangan curiga. Naib cepat-cepat menjawab agar Aesop tidak semakin curiga pada gelagat mereka.
"Ada pertandingan dadakan. Kamu dapat giliran maju bersama kami sekarang juga." Mata Aesop terbelalak kaget.
"Sekarang? Kenapa tidak bilang-bilang sebelumnya?" tanya Aesop sedikit terganggu. Ada apa ini, biasanya kalaupun ada pertandingan dadakan, para Penyintas diberi tahu 30 menit sebelumnya untuk bersiap-siap.
Naib menarik tangan Aesop tiba-tiba.
"Sudah, tidak usah banyak tanya. Ambil kotak make up-mu lalu langsung ke lobby pertandingan segera," perintahnya.
Aesop menuruti perkataan Naib dan berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua… lewat aula Penyintas.
"Jangan lewat aula!" pekik William secara refleks. Yang lain memasang tatapan "apa yang kau lakukan, ingin membeberkan semuanya?" kepada William. Seketika William menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Aesop kini menjadi semakin curiga.
"…memangnya ada apa di aula?" tanyanya sambil membuka pintu sembari menatap mereka.
William cepat-cepat berlari dan menubruk pintu itu agar kembali tertutup. Aesop terkejut dengan gelagat kameradnya yang aneh itu, sampai-sampai dia tak sengaja jatuh terjengkang.
"Ellis, apa-apaan yang barusan kau lakukan?" desis Aesop menaikkan suaranya. Oke, sekarang dia benar-benar merasa terganggu. Apa-apaan mereka ini?
William masih mengatur nafasnya, sebelum dia membantu Aesop untuk bangun kembali.
"Di… aula… ada… banyak orang… Jangan… masuk dulu…" jawabnya setengah jujur.
Aesop menatap datar William. Apaan ini, sebuah lelucon? Aesop sudah tidak takut lagi dengan keramaian. Tidak ketika dia sudah kenal dan dekat dengan banyak dari mereka. Aesop sudah berubah, dia bukan lagi si ansos yang dulu pada saat awal-awal masuk permainan kejam ini.
"…aku sudah tidak takut akan hal itu lagi, kau tahu itu kan?" delik Aesop tajam. Mereka berdua hanya diam saling tatap. Beruntunglah Eli sigap dan segera datang untuk mencairkan suasana.
"Ah, itu… Mungkin maksud William itu baik, Aesop," Eli berdehem. "Saya juga sarankan kamu jangan lewat sini—"
"Kenapa?"
Eli berpura-pura melihat sekitar. Dia lalu berbicara pelan, hampir berbisik.
"Mungkin kamu pikir sudah bisa disembunyikan dengan baik, tapi saya masih dapat melihat jelas bekas-bekas merah di leher kamu," lirihnya sambil menyeringai malu-malu.
Pipi Aesop seketika memerah. Dia pun segera menaikkan kerahnya, mencoba menyembunyikan bercak-bercak merah tersebut.
Dari belakang Aesop, Eli dapat melihat Naib sedang memberikan dua jempol dan cengiran lebar pada Joseph yang juga malu dan ikut-ikutan tidak lihat.
"Jadi benar kata William. Saya sarankan kamu lewat jalan lain. Kecuali jika kamu memang ingin memperlihatkannya pada yang lain," guraunya sambil terkekeh. Aesop menunduk malu.
"B-baiklah, aku lewat jalan lain."
"Huft… selamat," batin Eli lega. Dewi Fortuna masih berada di pihak mereka. Beruntunglah lewat mata Brooke Eli dapat melihat bekas merah itu sekilas dari kejauhan.
Joseph pun datang memberi bala bantuan.
"Sudah, ayo sini ku temani ambil kotakmu. Ada yang masih ingin kuceritakan juga lagipula," tawarnya. Aesop menghela nafas dan mengangguk. Mereka pun pergi meninggalkan tiga pria lainnya.
Yang ditinggal semua menghela nafas lega.
"Baik, sekarang kita tinggal pastikan Aesop membawa kotak itu. Eli, kau ikut aku. William, kau kembali masuk ke aula dan beri kabar yang lain, setelah itu langsung ke lobby agar Aesop tidak semakin curiga lagi padamu," komando Naib.
"Baik."
"Siap!"
"Sudah, sampai sini saja," ucap Aesop di depan pintu lobby. Sedari tadi Joseph enggan lepas darinya.
"…kau yakin?"
"Joseph—"
"Aku tahu, aku tahu…" Joseph menggenggam tangan Aesop dan menaruhnya di pipi.
"Hanya saja ini hari yang spesial untukmu, jadi aku ingin berada di sisimu terus khusus hari ini," akunya.
Ah, jadi ini mengapa dia bersikeras mengajaknya bersenang-senang di Moonlit tadi. Sekarang Aesop tahu alasannya. Tatapannya pun melembut.
"Joseph, sudah berapa kali ku bilang, aku tidak ingin hari ini dirayakan. Hari ini bagiku seperti hari-hari yang lainnya, tidak begitu spesial," Aesop berhenti sejenak, lalu menunduk dan tersenyum miris. "Kemarin baru lain cerita," gantungnya.
Joseph tersenyum sendu. Tangannya ganti membelai pipi Aesop.
"Aku yakin dia sudah tenang dan bahagia melihatmu tumbuh seperti sekarang ini," hiburnya.
"Terima kasih," Aesop memeluk Joseph, bibirnya tersenyum di balik masker yang dia gunakan; dia ingin memakainya untuk pertandingan hari ini.
Aesop melepas pelukannya.
"Jadi sudah yah, aku beneran harus masuk lobby sekarang," pamitnya. Joseph mengangguk dan melepas genggamannya. "Aku tunggu kau di ruang pemantauan, oke?"
Aesop mengangguk sebelum tubuhnya hilang menuju di balik pintu.
Aesop sedang duduk di lobby bersama ketiga temannya; Eli, Naib, serta William. Aesop kurang dapat melihat siapa Pemburu mereka kali ini, tapi sepertinya adalah Michiko; Aesop sangat yakin dia tadi melihat kipasnya sekilas.
"Hhh… semoga bukan aku yang ketemu pertama kali," harapnya. Aesop melihat ke ketiga rekannya. Aneh, biasanya mereka berisik, terutama Naib dan William. Tumben sekali mereka semua terdiam bungkam seperti itu.
Kalau boleh jujur, Aesop merasa tidak nyaman jadinya.
"Ehem," Aesop berdehem, berusaha memecahkan keheningan. "Jadi… um—semoga berhasil?" basa basinya.
Hening. Tidak ada yang bergeming.
Aesop mulai benar-benar merasa canggung. Dia membetulkan kerahnya; tiba-tiba seketika dia merasa sesak. Dia kembali melirik ke arah teman-temannya yang bisu.
Ketiganya sedang menatap lekat kotak make up miliknya.
Aesop mulai ketakutan. Apa-apaan ini? Jika sekarang mereka sedang iseng dan sedang melakukan kelakar padanya, jujur saja ini sudah mulai tidak lucu.
Atau mungkin mereka sedang memberikan kode padanya?
Aesop kemudian memeriksa kotak make up-nya. Kalau dipikir-pikir memang ada yang aneh dengan kotaknya hari ini. Terasa lebih ringan dari biasanya; seperti ada barang yang diambil atau ditukar—
Aesop menatap panik ke arah timer. 10 detik lagi sebelum waktu habis dan pertandingannya dimulai. Sudah tidak sempat lagi dia kembali ke kamarnya dan mengecek apa yang salah dengan kotaknya.
Tapi Aesop tidak peduli, dia harus tahu apa yang salah dengan kotaknya sekarang. Isi kotak ini sangat berharga baginya. Diary mandatori-nya ada di situ.
3
2
Dengan gegas Aesop membuka kotaknya.
1
DUAR!
Ledakan kecil serta kepulan asap keluar dari kotak make up Aesop.
Dan tubuh Aesop penuh dengan confetti.
"SELAMAT ULANG TAHUN!"
Orang-orang yang sudah sedari awal bersembunyi di sana secara seragam berteriak dan mengerubungi Aesop; baik Penyintas maupun Pemburu.
Michiko melesat cepat dari kursi Pemburu dan memeluk Aesop sebelum yang lain bisa.
"Selamat ulang tahun Tuan Carl, saya sangat senang untuk anda."
Aesop melepaskan dirinya dari pelukan Michiko sembari bergumam pelan, "Nona Michiko, maaf—saya kurang suka dipeluk."
"Hahaha—selamat ulang tahun, sobat!" cengir William bahagia sembari merangkul bahu si surai abu. Aesop hanya bisa diam saja, dia tidak akan bisa lepas dari rangkulan William sampai sang Forward itu sendiri yang melepaskannya; William terlalu kuat untuknya.
"Selamat ulang tahun, Aesop. Maaf sudah mengerjai kamu seperti ini," ucap Eli lembut. Eli ingin mengatakan hal yang lebih banyak lagi tapi dipotong oleh sang Tentara Bayaran.
"Eli, buat apa minta maaf? Bukankah sudah tradisi untuk mengerjai seseorang di hari ulang tahunnya? Setidaknya itu yang mereka lakukan di kampung halamanku," cerocosnya.
"Sudah, sudah semuanya," ucap Emily Dyer sang Dokter; salah satu yang bersembunyi di lobby.
"Yang lain sudah menunggumu di aula. Mari, kita ke sana," ajaknya.
"Aesop, selamat ulang tahun!"
"Selamat ulang tahun, bung,"
"Tuan Carl, selamat hari lahir."
Banyak yang menyalaminya dan memberi selamat. Aesop turuti saja dan berterima kasih atas ucapan-ucapan baik mereka.
Norton dan Mike berlari mendatangi Aesop yang masih bersama Eli, Naib, dan William.
"Yo, jadi bagaimana prank-ku, birthday boy? Seru kan?" seringainya.
"Ide ledakannya datang dariku, loh! Gimana, seru kan?" cengir Mike. Kedua pria usil ini pun saling tos.
Aesop hanya menghela nafas sembari geleng-geleng. Naib pun terkekeh.
"Anu, Tuan Carl," panggil Fiona yang ditemani oleh Patricia.
"Mari kita potong kue, setelah itu anda boleh menerima hadiah-hadiah anda," ajaknya sembari menggenggam tangan Aesop, mengajaknya ke arah kue ulang tahun tiga tingkat yang dibuat oleh Hastur, José, dan Violetta; Aesop tahu dari Fiona.
"Iya, baiklah." Aesop sudah ada tepat di depan kuenya.
Kue yang menjulang tinggi itu sudah hampir dia potong sebelum tiba-tiba ada yang berteriak.
"Aesop, tunggu!" pekik Tracy yang berlari kencang. Dirinya membawa dua lilin berbentuk angka 2.
"Hhh… hhh… hhh…— tunggu…" ucap Tracy yang masih menstabilkan nafasnya. "…kau belum meniup lilinmu. Kau tidak boleh memotong kuenya sebelum meniup lilin dan membuat permohonan. Aturannya seperti itu bukan?" tanya Tracy secara retorik sambil menaruh kedua lilin itu di puncak kue dan menyalakannya dengan korek api.
"Nah, silahkan."
Aesop menatap lilin yang menyala hangat itu. Harapan, yah? Aesop tersenyum dan melepas maskernya dengan satu tangan.
Iya, Aesop tahu harapan apa yang dia ingin dikabulkan. Aesop memejamkan matanya.
"Harapanku adalah…"
Sekarang sudah malam. Pesta sudah selesai. Semuanya pun sudah mulai pamit satu persatu.
Aesop sedari awal sudah pamit duluan.
Duduk di kursi taman, Aesop memandangi air mancur yang ada di depannya. Tatapannya kosong, entah apa yang sedang dia pikirkan, dia pun tidak tahu. Mungkin sama sekali tidak ada, mungkin juga banyak hal sekaligus. Mungkin keduanya.
Hari ini bagaikan rollercoaster bagi hati Aesop.
"Sudah kuduga kau akan disini, mon petite oiseau," ucap seseorang yang baru memasuki taman. Tanpa melihat, Aesop pun sudah tau itu siapa.
"Joseph…"
Joseph tersenyum manis dan duduk di sebelah Aesop.
"Sedang apa disini? Pestanya baru selesai sekarang, dan kau sudah pergi pamit jauh sebelum ini."
Aesop menghela nafas dan menatap Joseph.
"Kau tahu kan kalau aku—"
"Tidak suka dengan pesta dan keramaian. Iya, aku tau. Kau sudah berkali-kali mengatakan itu padaku, sampai aku bosan sendiri haha," gurau Joseph. Aesop menunduk sambil bergumam "oh…" dan kembali melihat air mancur. Joseph berhenti terkekeh.
"Maaf."
"Tidak apa-apa…"
Mereka saling diam. Canggung.
Joseph berdehem, bermaksud tuk mencairkan suasana.
"Jadi… tadi kau berharap apa?" tanyanya penasaran.
Aesop melihat ke arah Joseph.
"…kau tau kan sebuah permohonan itu harus disimpan rapat-rapat agar berhasil terkabul?"
Joseph menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Iya juga sih, tapi…"
Joseph merangkul badan Aesop dengan lembut. "Aku ingin tahu karena aku ingin mencoba untuk mengabulkannya untukmu."
Aesop menatap Joseph lekat-lekat. Dia lalu tersenyum.
"Sebenarnya… aku bisa saja mengatakannya kepadamu sekarang."
"Tapi kamu bilang nanti jadi tidak terkabulkan—"
"Bagaimana kalau aku bilang kalau permintaanku sudah dikabulkan?"
Joseph menatap Aesop heran. Maksudnya?
"Hah?"
Aesop terkekeh pelan. Menundukkan kepala, dia menatap lekat tangan kirinya. Sebelum dia lepaskan sarung tangan yang menutupinya.
Sebuah cincin perak menghiasi jari manisnya dengan indah.
"Aku berharap untuk selalu bisa hidup bahagia denganmu, melihat senyummu, canda tawamu. Aku berharap setiap kali aku bangun dari tidurku, yang pertama kali ku lihat adalah wajah tampanmu," Aesop menangkup pipi Joseph; netra biru langitnya sudah berkaca-kaca. "Karena aku mencintaimu, Joseph Desaulnier. Sangat… mencintaimu."
Joseph menahan isakannya.
"Bodoh," kekehnya. "Kita belum akan menikah dan kamu sudah ucapkan janji pernikahanmu duluan," lanjutnya tertawa kecil. Airmatanya mulai mengalir tak terbendung.
Aesop tersenyum malu. "Maaf…"
Joseph menyeka airmatanya sambil menggeleng.
"Tidak perlu minta maaf, sayangku. Justru aku sedang terhibur sekarang. Untuk seorang pendiam sepertimu, mulutmu ternyata bisa sehalus cassanova juga yah?" gurau Joseph. Aesop tertawa pelan.
"Malam ini…" Joseph mengelus pipi Aesop dengan lembut dan penuh cinta. "Bolehkah kamu tidur di kamarku? Aku ingin tidur memelukmu, hanya untuk malam ini saja pun tak apa," ucapnya sembari memeluk lalu mengecup kening Aesop.
Aesop tersenyum luluh. Siapa sangka salah satu dari Pemburu yang paling ditakuti bisa semanis ini?
"Baiklah, ayo kita ke kamarmu."
「Happy Birthday, Aesop Carl」
-Tamat-
.
.
.
HAPPY BIRTHDAY, TERUNTUK MY BABY BOY ECOP!
Sebenarnya aku dah posting ini di FB-ku pas tepat hari ultahnya sih, but hey—akun FFn-ku sepi kering kerontang belom diisi, so why not isi ini saja? w
I hope you guys enjoy my fic, sampai juga di karyaku selanjutnya~!
/Also check out my other social media
Facebook: Windi Jihan Salsabila
Twitter: MamaPhoebe_VB
IGN: BuluKetek_Mary [server Asia]
Bubye~!
