Hangat.

Dazai tak mengerti, mengapa orang menginginkannya.

Kehangatan tidak pernah memberi rasa nyaman.

Kehangatan tidak akan mengembalikan jiwa yang sudah hilang.

Kehangatan tidak bisa menjamin kebahagiaan.

Dazai tahu itu, dengan begitu jelas. Ketika kehangatan yang didambakan banyak orang itu justru menggerogotinya dari dalam. Ketika kehangatan itu menjerumuskan dirinya dalam mimpi buruk tiada akhir.

( Tubuh lelaki itu bersimbah darah. Dazai hanya bisa menangis dalam diam, melihat kekasihnya yang tergeletak dingin tak bernyawa. Cairan merah terus mengalir dari tubuh Odasaku, meresap dan membasahi perban di tangannya.Hanya kehangatan yang terasa, membebani indranya. Kehangatan yang menyiksa, kehangatan yang merenggut jiwa seseorang, kehangatan yang akan terus menghantui Dazai untuk selamanya.Berhenti, kumohon, berhenti-- )

Dazai membenci hangat.

Author note :

(Maaf tidak nyambung, ini cuma buat pelampiasan, karena lagi pengen nyiksa orang, ehehe /PLAK)

Sebenarnya, aku buat ini tuh sambil bayangin, gimana rasanya meluk orang yang akan mati karena kehabisan darah? Gimana rasanya waktu peluk mayat yang dingin, jauh berbeda dengan darah yang masih hangat? Nah, dan jadilah eksperimen ini :'v. Gak nyambung sih, tapi gapapa, toh ini cuma coba doang :D. Dazai, maafkan aku karena telah bikin kamu OOC :(. Tapi bisa juga sih, Dazai yang menyalahkan siapapun, bahkan, 'apapun' (sampe kehangatan lho, kamu sadar Zai ?!) selain dirinya atas kematian Odasaku, karena ga mau merasa bersalah. Tapi tetep aja gagal akhirnya~