Haikyuu adalah milik Haruichi Furudate.
Saya tidak mengambil kepentingan apapun dari penulisan fiksi penggemar ini.
Enjoy!
I hate you
for giving up on me
Kata orang, sebuah hubungan akan berakhir jika keduanya telah menyerah pada hubungan tersebut. Nyatanya, ketika hanya satu orang yang menyerah, hubungan tersebut pun sudah hancur karenanya. Sebuah hubungan memerlukan kepercayaan dan komitmen dari keduanya. Tetapi, hanya memerlukan kata menyerah dari salah satunya.
Tidak adil memang.
Koushi mampu membuktikannya. Ketika Tooru menyerah dan hanya ia yang berusaha mempertahankan hubungan ini, ia tahu bahwa ia dan Tooru sudah selesai. Ia tahu bahwa Tooru sudah lelah dengannya, sudah muak, sudah tidak peduli. Tooru bukanlah sosok menyebalkan dan hangat yang Koushi kenal. Tooru tidak lagi memanggilnya dengan nada ceria dan panggilan manisnya. Semuanya sudah berubah dalam sekejap mata. Semuanya berubah dalam satu tarikan napas. Tooru sudah muak dengan dirinya.
Koushi benci hal ini.
I hate you
for giving up on us
I hate you
for hurting me
Sekeras atau sebebal apapun Koushi berusaha mengembalikan hubungannya dengan Tooru seperti semula, tetap saja ia tidak akan bisa. Koushi sudah berusaha semampunya untuk bertahan, untuk tidak ikut muak, untuk bersabar, untuk tidak menyerah. Koushi benar-benar tegar dan tabah mencoba merajut kembali benang yang sempat terputus di hubungannya dengan Tooru.
Namun, sekeras apapun usaha Koushi, hal itu tidak akan berhasil.
Tooru sudah menyerah dengan rasa muaknya. Ia tidak mau berjuang sebagaimana Koushi berjuang untuk hubungan ini. Ia lebih memilih mengikuti egonya sebagai seorang raja besar daripada berusaha membangun kembali hubungannya dengan Koushi seperti apa yang Koushi berusaha lakukan. Tooru menyerah atas keduanya. Atas hubungannya. Juga atas Koushi.
Ia buat Koushi menambah goresan pada hatinya.
Walau Koushi berusaha mengabaikan tiap sabetan yang mengiris hatinya, tetap saja pada akhirnya sakit itu akan terasa seiring bertambahnya luka. Yang bisa Koushi lakukan hanya menangis.
Koushi benci hal ini.
I hate you
for making me cry
I hate you
for leaving me
Ketika akhirnya keduanya berpisah, Tooru tidak sekalipun terlihat menyesal ataupun sedih. Matanya tidak menyorot emosi apapun. Ini membuat hati Koushi teriris lebih banyak dan dalam.
Oh, apa sekarang terkoyak? Tercabik-cabik? Koushi tidak tahu.
Ketika akhirnya kalimat tanda berpisah terucap dan disetujui oleh keduanya, Tooru sama sekali tidak terlihat ragu ataupun apa saja hal itu yang Koushi harapkan dapat ia temukan dari sorot mata teduh mantan kekasihnya tersebut. Tapi nihil. Tooru benar-benar sudah menyerah terhadap Koushi, terhadap mereka, terhadap hubungan mereka. Tidak. Koushi tidak marah ketika Tooru meninggalkannya. Koushi marah karena Tooru meninggalkan mereka.
Apakah Koushi menangis? Tidak.
Tetapi, Koushi benci.
I hate you
for not being there
when i needed you
the most
Koushi ingat malam di mana jantung lemahnya kambuh karena bangun secara tiba-tiba akibat mimpi buruk dan hujan lebat di luar sana. Tangannya berusaha meraba kasur di sebelahnya namun tidak ada kekasihnya di sana. Lagi, tangannya berusaha meraih nakas di sebelah tempat tidur, berusaha mengambil botol oksigen di salah satu laci. Ia sulit bernapas. Ia butuh bernapas. Ia kesakitan. Jantungnya sakit. Hatinya sakit.
Lagi, tidak ada Tooru di sana.
Tooru tidak pernah berada di sana ketika penyakit Koushi kambuh. Tooru tidak pernah berada di sana ketika Koushi butuh teman bercerita. Tooru tidak pernah berada di sana untuk memeluk Koushi.
Tooru tidak pernah berada di sana ketika Koushi butuh kasih sayang.
Bahkan, Koushi rasa, hati Tooru tidak pernah sekalipun jatuh untuk dirinya.
I hate you
for what you've done
I hate you
for ruining everything we had
Koushi sudah putus asa begitu Tooru pergi.
Semuanya hancur.
Hubungannya. Hatinya. Dirinya.
Semudah itu Tooru menyerah dan meninggalkan mereka. Semudah itu juga Tooru menghancurkan semuanya dalam sekejap mata.
Semudah itu Tooru membuat Koushi membencinya. Tidak hanya membenci Tooru, namun juga dirinya sendiri.
I hate you
for making me trust you
when you just gonna
break my trust
Kepercayaan adalah sesuatu yang selalu Tooru ucapkan dan janjikan kepada Koushi. Ia berjanji tidak akan menuduh Koushi macam-macam jika laki-laki itu pulang larut malam. Tooru juga berjanji kepada Koushi bahwa ia tidak akan pernah meneriaki dirinya jika mereka bertengkar. Tooru juga serta-merta berjanji tidak akan menyerah pada hubungan mereka jika ada sesuatu yang terjadi.
Koushi menelan bulat-bulat semua janji Tooru. Memilih percaya pada Tooru.
Memang tidak sekali-dua kali mereka bertengkar, namun pada akhirnya Koushi kembali percaya dengan segala janji Tooru.
Tapi, pada akhirnya pun Tooru tidak pernah menepati janjinya. Pada akhirnya, kepercayaan Koushi diabaikan begitu saja.
I hate you
for making me
love you so much
Perasaan bukan sesuatu yang mudah kau telan lalu kau muntahkan di detik berikutnya. Perasaan bukanlah mainan yang bisa kau lupakan jika kau bosan.
Hakikatnya, perasaan adalah sesuatu yang bertumbuh semakin dalam dan besar ketika seseorang berusaha memendam perasaan tersebut.
Perasaan tidak dapat disembunyikan.
Atau Koushi saja yang tidak mampu?
Koushi mencintai Tooru sebegitu dalamnya. Sedalam-dalamnya. Sampai ketika Tooru meninggalkannya, yang ia benci bukanlah Tooru, melainkan dirinya sendiri.
Ia benci terhadap dirinya yang dengan bodohnya menyimpan perasaan begitu dalam. Menumbuhkan perasaannya sebegitu besarnya. Ketika ia sendiri tidak tahu resiko apa yang berada di balik dari mencintai seseorang
Benci. Koushi benci.
I hate you
for making me
a fool,
because i still love you
despite
everything you make me
went through
Sebegitu dalamnya Koushi benci dengan dirinya sendiri karena merasa dibodohi oleh Tooru tentang rasa cinta dan kasih sayang. Janji-janji manis palsu dan kepercayaan yang diabaikan begitu saja.
Atau, Koushi saja yang memang bodoh?
Entahlah, Koushi tidak tahu.
Hubungan itu rumit. Menyakitkan. Buat sesak dada. Buat sulit bernapas. Hubungan itu terlalu mengikat. Terlalu dalam menarik Koushi ke dalam sebuah jurang tak berujung yang dipanggil dengan perasaan dan cinta.
Bodoh. Bodoh. Bodoh.
Kata yang selalu terngiang di kepala Koushi. Berputar-putar seakan-akan mengejek segala hal yang sudah Koushi pertaruhkan untuk mencintai segala aspek pada diri Tooru.
Koushi mempertaruhkan segalanya untuk mencintai Tooru sebegitu dalamnya.
Keluarganya. Temannya. Dirinya. Hatinya.
Juga berbagai aspek lainnya yang ia pertaruhkan hanya untuk bisa bersama Tooru. Namun, dengan mudahnya Tooru mengabaikan segala fakta itu dan memilih untuk meninggalkan Tooru.
Di titik ini, Koushi tidak tahu siapa yang harus ia benci.
a/n;
ini tuh nemu quotes di akun poems gitu di ig, terus kayak terinspirasi bikin? ahahahaha.
maaf jelek ya... terima kasih sudah membaca, uwu.
