"Hei, Kambe. Suatu saat, entah kapan ..."


"HEUSC! Lacak lokasi terkini dari Inspektur Kato!"

[Dapat dimengerti.]

Mengerang kesal, Daisuke membanting setir mobil dengan keras. Rona frustrasi sangat kentara pada wajahnya dan kedua alis tebalnya saling bertautan. Berbagai macam umpatan tak absen terucap oleh lidah sebagai pelampiasan.

Ia marah, kesal, dan berbagai emosi negatif lainnya memenuhi kepala hingga dada, membuat jantungnya berdebar keras, dan rasanya Daisuke seolah lupa bagaimana cara bernapas dengan tenang.

Bagaimana ia bisa tenang jika rencananya ternyata menuai kegagalan?

Rencana yang telah disusunnya matang-matang, hingga sempat menimbulkan pertengkaran dengan Divisi Pertama, harus berantakan di tengah jalan. Rencana yang disusun demi misi rahasia; menyergap sindikat pengedar narkoba, yang diduga berasal dari salah satu keluarga yakuza paling disegani di dunia bawah yang akhir-akhir ini mulai meresahkan, sebab mereka melancarkan serangan pada penduduk sipil tak bersalah. Misi yang seharusnya bekerja sama dengan Divisi Pertama.

Ya, seharusnya.

Dan seharusnya pula, Daisuke mengerti, bahwa orang-orang dari Divisi Pertama tak akan pernah tunduk pada perintahnya, bahwa mereka adalah sekumpulan manusia tinggi hati yang begitu congkak menerima saran dari seseorang berpangkat rendah seperti dirinya.

Setelah mendapat kabar jika musuh berhasil mengendus pergerakan mereka, dengan cepat Daisuke—yang ditunjuk sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dari misi penyergapan ini—mengubah strategi, tetapi, tentu saja, dalam setiap sepatu akan selalu terselip kerikil kecil yang mengganggu. Kerikil yang Daisuke lupa akan keberadaannya, yang membuat seluruh rencana dan strateginya berantakan; pembangkangan yang dilakukan oleh para anggota dari Divisi Pertama, terutama oleh bocah sialan bernama Hoshino Ryo, berhasil menyulut sesuatu dalam dirinya.

Tak mampu menahan gejolak emosi, dinding pertahanan yang Daisuke bangun, hancur hanya dalam kedipan mata. Sikap tenangnya tak lagi ada di sana. Masih beruntung, Daisuke tak mengarahkan moncong pistolnya pada kepala Ryo, ketika bocah sombong tersebut mulai melancarkan kritik pedas, yang menurut Daisuke sama sekali tak menguraikan benang kusut pada otaknya.

"Heh, manusia-manusia tak tahu diri. Kau pikir siapa yang sedang kau lawan, eh?"

[Tuan, saya menemukannya. Ada sinyal berfrekuensi lemah yang saya tangkap memancar dari lokasi dengan koordinat xx dan xx. Kemungkinan besar, sinyal tersebut berasal dari GPS yang terpasang pada sepatu Inspektur Kato, tetapi saya tak mampu memprediksi secara akurat lokasinya, sebab sinyal yang dipancarkan terlalu lemah.]

"Aku tak peduli! Tunjukkan jalannya, HEUSC!"

[Dapat dimengerti, Tuan.]


"... kau akan kehilangan sesuatu yang tak akan mampu kau kembalikan, bahkan dengan uang sekalipun ..."


Terakhir kali yang Haru dengar, adalah suara-suara tembakan, yang kemudian bertransformasi menjadi rasa perih nan pedih merambat dari tiga titik menuju seluruh tubuhnya; betis kanan, lengan kiri, dan perut bagian kiri. Bukan titik vital, tetapi tetap memberi sensasi tak menyenangkan bagi saraf-sarafnya.

Darah segar mengucur deras dari lubang di mana tiga timah panas tersebut menancap dan walaupun Haru telah melilitkan kain pada betis serta lengannya, mengikat dengan kuat demi menghentikan laju darah, tetapi rasanya sia-sia. Cairan kental berbau amis tersebut masih mengalir, bahkan bukan tak mungkin akan berubah menjadi genangan sebentar lagi.

Hanya tinggal menunggu waktu hingga ia kehabisan darah, kemudian mati dalam keadaan mengenaskan.

Dan yang paling parah, Haru tak berhasil meringkus musuh mereka, musuhnya.

Sambil menahan sakit yang dirasa tubuhnya, Haru menyandarkan punggung pada salah satu sisi dinding bangunan. Keringat dingin mulai membanjiri pelipis, mengalir turun hingga menuju leher, respon alami tubuhnya ketika tak mampu lagi menampung seluruh perih. Dahinya mulai berdenyut-denyut, menimbulkan rasa pusing menyakitkan, membuat pandangan mata menjadi buram.

Sebenarnya, Haru bisa saja mengeluarkan peluru yang masih bersarang di dalam sana, tetapi terlalu berisiko untuk saat ini, apalagi dengan kondisinya yang melemah. Alih-alih pulih, Haru akan membuat luka terbukanya semakin parah.

Melihat kondisinya yang begitu menjijikkan, Haru terkekeh, kemudian berbisik lirih, entah pada siapa.

"Aku ... akan mati di sini ..."


"... dan ketika hari tersebut datang ..."


Di suatu hari, ketika matahari bersembunyi malu-malu di kaki-kaki langit, menciptakan senja indah yang tak lama akan berganti menjadi malam, ketika Daisuke selesai melaksanakan misi kecil bersama Haru, di dalam kantor sempit mereka. Terucap sebuah janji—walau sesungguhnya tak bisa disebut janji—dari bibirnya, disaksikan oleh seluruh benda mati yang ada dalam ruangan dan berakhir mendapat respon tawa keras dari sang rekan kerja.

Janji yang sangat konyol, begitu yang Haru ucapkan.


"Dalam misi tersebut, aku berjanji, tak akan ada korban. Terutama dari pihak kita."

"Jangan bicara konyol, Kambe."

Mendengus remeh, Haru menambahkan.

"Jangan pernah mengucap janji yang tak akan kau tepati. Lagipula, Kambe, di setiap misi rahasia seperti ini, korban akan selalu ada, meski hanya satu orang."


Dan Daisuke baru mengerti, jika Haru adalah seorang peramal.

Setelah beberapa anggota dari Divisi Pertama yang terluka parah, tak lama, Daisuke mendapat kabar melalui HEUSC, jika Shinnosuke ditemukan dalam kondisi mengenaskan; luka tembakan pada lima titik di tubuhnya serta tulang rusuk remuk akibat dihantam oleh benda tumpul yang keras. Meski tak mengenai organ vital, tetapi dengan lima luka tembakan, ditambah remuknya tulang rusuk, dapat dipastikan jika Shinnosuke bisa tewas di tempat bila tak segera ditolong.

Musuh yang mereka hadapi benar-benar tak memberi ampun.

Melalui masing-masing earphone yang terpasang, Daisuke memerintahkan untuk menarik pasukan sementara. Sambil memanggil bantuan dari tim medis, ia mengajak perwakilan dari setiap tim agar mengadakan rapat darurat untuk mengolah kembali strategi yang sebelumnya telah dibuat.

"Aku akan menjadi umpan."

Masih segar dalam ingatannya, bagaimana Haru mengucap kalimat tersebut dengan lantang di tengah-tengah rapat, ketika setiap anggota benar-benar kehabisan akal bagaimana cara agar memancing musuh keluar. Tak ada rasa takut dan gentar dalam nadanya, ditambah sorot mata yang memancarkan tekad kuat. Masih segar dalam ingatannya pula, bagaimana ia menolak usulan tersebut dengan tegas. Meski Daisuke tahu bahwa Haru adalah mantan anggota Divisi Pertama, tetapi dengan kondisinya yang tak mampu menembak, tentu akan mendatangkan lebih banyak risiko ke depan.

Sebab, Daisuke tak akan pernah tega mengumpankan rekan kerjanya, tidak setelah ia menyaksikan sendiri bagaimana Shinnosuke dibuat hampir menjumpai kematian.

Tetapi, Haru tetaplah seorang Kato Haru, yang keras kepala pada keputusannya, seorang polisi yang begitu menjunjung tinggi amanah profesi, rela menderita demi menyaksikan masyarakat hidup bahagia tanpa ketakutan, bahkan dengan senang hati akan mengorbankan nyawa demi menjaga kedamaian yang telah susah payah didapat. Dan Daisuke tetaplah seorang Kambe Daisuke, yang tak mampu melawan ketika sifat keras kepala Haru muncul ke permukaan, yang entah kenapa, ada sesuatu dalam dirinya yang tak mampu menolak apapun keputusan yang terucap dari bibir Haru.

"Profesionalitas, Kambe! Jangan pernah melibatkan perasaan di saat-saat genting seperti ini! Aku memang belum sepenuhnya pulih dari trauma, tetapi jika dengan itu maka seluruh teror ini berakhir, akan kulakukan. Aku akan menjadi umpan yang bagus untuk kalian."

Hujan menjadi saksi akan kefrustrasian Daisuke mencari di mana tepatnya lokasi terakhir sang inspektur terlacak oleh radar milik HEUSC. Tak peduli setelan mahalnya yang basah akibat air hujan atau sepatu bermerek yang berlepotan oleh lumpur, Daisuke tak akan berhenti mencari hingga ia menemukan di mana sesungguhnya Kato Haru berada. HEUSC tak mampu lagi membantunya, sebab sinyal yang dipancarkan oleh GPS milik Haru mendadak kembali hilang di tengah pencarian.

Menyusuri gedung-gedung tinggi menjulang yang dicurigai menjadi sarang dari sindikat pengedar narkoba yang mereka cari hingga menuju gang-gang sempit, Daisuke masih terus mencari. Tubuhnya mulai menggigil akibat hawa dingin yang menusuk dan pendengarannya mulai terganggu akibat desau bising dari earphone miliknya, menandakan jika seseorang dari Divisi Pertama sedang mencoba untuk menghubungi. Alih-alih menjawab, Daisuke memilih tak peduli.

"Kato ... harus ke mana lagi?"

[Tuan, saya mendeteksi adanya tanda-tanda kehidupan dibalik gang sempit yang berada di antara gedung xx dan gedung xx.]

"Apa yang kau ketahui?"

[Saya mendeteksi adanya detak jantung yang mulai melemah dan perbedaan suhu di sana, tetapi kemungkinannya sangat kecil—]

Daisuke tak lagi mendengarkan apa yang asistennya tersebut ucapkan, sebab tungkai kakinya lebih dulu bergerak. Berlari, menghampiri gang sempit yang dimaksud oleh HEUSC.


" ... aku ..."


"INSPEKTUR KATO!"

Ah, sungguh.

Daisuke begitu membenci cara takdir berjalan, cara takdir mengabulkan konklusi terburuk yang dihasilkan oleh otaknya, cara Tuhan tak sengaja memperlihatkan bagaimana jika seandainya, ia benar-benar melihat pemandangan Haru yang terbunuh; Haru yang terkulai lemah, bersandar pada salah satu sisi dinding bangunan, dan bermandikan darah dibawah kucuran derasnya hujan. Kedua kelopak matanya menutup sempurna, begitu damai dan tenang. Tak ada gurat amarah di sana, seolah Haru benar-benar lepas dari segala bentuk keduniawian.

Tidak.

Daisuke benar-benar tak menyukai bagaimana otaknya kembali menarik sebuah gagasan baru, yang lebih pahit daripada menelan buah zaitun bulat-bulat; Haru tergeletak di sana, dalam kondisi tak bernyawa.

"JANGAN BERCANDA!" Daisuke berteriak keras, sambil berlutut di depan Haru, mencengkeram kedua bahunya dengan kuat. "Bangun, bodoh! Kau mengatakan akan menjadi umpan yang bagus dalam misi ini! Jawab aku, Kato!"

Tak ada respon berarti dari sosok di hadapannya.

Entah untuk yang ke berapa kali, Daisuke kehilangan kewarasan. Segala bentuk logika dan rasionalitas yang menjaganya agar tak lepas dari realita, menguap habis, terbawa bersama air hujan yang mengalir menuju gorong-gorong bawah tanah. Ia kalap, emosinya lebih dulu bertindak daripada otak.

Merengkuh tubuh yang lemas dengan erat, kemudian tangannya sedikit meraba pada salah satu pergelangan tangan Haru, mencoba menemukan sisa-sisa kehidupan yang HEUSC sebutkan. Tetapi sebelum Daisuke menemukan denyut yang diharap-harapkan, indra perabanya lebih dulu mengirim sensor jika suhu tubuh Haru begitu dingin. Lebih dingin dari malam, lebih dingin dari hujan. Bahkan, Daisuke tak mampu membedakan, apakah suhu tubuh Haru menjadi dingin sebab diguyur hujan atau dikarenakan sebab yang lain.

"Tidak ..."

Dan tanpa sadar, sesuatu yang hangat mengalir dari kedua matanya. Bukan, ini bukan air hujan, melainkan air yang lain. Mendadak dadanya diselimuti perasaan sesak, perasaan yang sama ketika ia melihat Suzue harus dikebumikan, tetapi untuk kali ini, rasanya benar-benar sesak hingga Daisuke seolah merasa kesulitan meraup oksigen. Sorot mata yang sebelumnya berapi-api, kini perlahan-lahan memudar, digantikan oleh sorot terluka yang begitu kentara. Sarat akan kehilangan mendalam.

"Haru ..." suaranya melemah, diiringi dengan aliran air mata yang meluncur deras, sederas hujan mengguyur tubuhnya. Daisuke kembali merengkuh sosok Haru. "Tidak ... kau tak boleh pergi. Kita—aku—berjanji bahwa tak akan ada korban dalam misi ini ... a–aku ..."

Di tengah tremor yang menyerang, suara dari HEUSC tertangkap oleh gendang telinga.

[Detak jantung tak ada. Suhu tubuh pelan-pelan mendekati dua puluh derajat. Otaknya tak mendapat suplai oksigen yang memadai, sehingga seluruh kinerja organnya pelan-pelan menurun—]

"Haru ... aku mencintaimu ..."

Begitu lirih, Daisuke berbisik lembut pada sosok dalam dekapannya. Berharap jika sosok tersebut mendengar ungkapan afeksi yang selama ini tak pernah tersampaikan secara lugas, walaupun Daisuke tahu, selamanya, pernyataannya tak akan pernah terjawab.


"... aku akan menjadi orang pertama yang akan menertawakanmu."


Bahkan dengan seluruh harta kekayaannya, Kambe Daisuke tak akan pernah bisa mengembalikan sosok Kato Haru.


Fugou Keiji: Balance Unlimited © Yasutaka Tsutsui

a/n: abis liat fanart daiharu yang haru bilang ke daisuke kalo suatu saat dia bakal kehilangan sesuatu yang nggak bakal bisa dia kembaliin meski pake uang, dan jadilah penpik ini. maafkan bila masih terdapat banyak kesalahan, saya masih belajar, senpaitachi T^T