Naruto Uzumaki adalah pria tampan dan kaya. Ia adalah pendiri perusahaan elektronik di Jepang. Kekayaannya sangat melimpah. Siapapun akan tunduk jika melihat kekuasaannya. Namun, siapa sangka … jika pria angkuh nan berwibawa itu selalu tunduk kepada sang istri tercinta.

Pukul tengah malam, dia harus merelakan bangun dari peraduan mimpi. Karena istrinya meminta ramen. Pria tampan itu dengan cepat mulai menyeduh ramen instan dengan mata masih terpejam.

"Ramennya pedas atau tidak, Hinata?"

Ia meninggikan suara, hingga Hinata Uzumaki—istrinya mengalihkan atensinya dari televisi.

"Pedas, Naruto-kun. Kalau bisa lebih pedas lagi," balas si wanita dengan suara yang riang dan senyum yang mengembang. Bahkan Hinata juga tengah bersenandung kecil penuh euforia.

"Dasar, senang sekali, ya, mengerjai Tou-san?" gumam Hinata terkikik sembari mengelus perutnya yang sudah sedikit membesar.

Tak lama, Naruto kemudian datang dengan membawa semangkuk ramen instan pesanan sang istri. Pria itu meletakkannya di atas meja berkaki rendah di hadapan Hinata. "Hati-hati, masih panas."

"Aku tahu," Hinata mendudukkan dirinya di lantai yang berbalut karpet berbulu lembut. Sedari tadi si wanita tidak pernah melunturkan senyum manisnya. Membuat Naruto agak terperangah juga. "Terima kasih, Tou-san~"

Panas menjalari pipi Naruto tiba-tiba. "U-uh, sama-sama?"

"Ittadakimasu," Hinata mulai menyumpit ramen dan sedikit meniupinya. Kemudian wanita itu benar-benar baru menyantapnya. Pipi gembil porselen itu dihiasi sedikit rona-rona merah.

Naruto tahu istrinya ini memang sangat manis, dan dia merupakan seorang yang oportunis. Maka pria bermanik safir ini menunggui istrinya dengan sama-sama duduk di lantai, berhadapan dengan wanita yang sedang mengunyah ramen dengan tangan yang menopang dagu.

Baru tiga kali suapan, Hinata memilih menghentikan acara menikmati ramennya. Wanita itu kini tengah menyeruput ocha yang sebelumnya sudah dipersiapkan sang suami. "Gochisousama deshita, aku sudah kenyang. Naruto-kun tolong habiskan sisanya, ya? Sayang kalau dibuang."

Huh?

"Kau makan sedikit sekali, Hinata. Apa ada yang salah? Ramennya tidak enak? Ayolah, dihabiskan saja. Aku tidak bakal minta, kok." Tentu saja si kepala keluarga Uzumaki ini heran, biasanya istrinya ini memiliki nafsu makan yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Hinata menggeleng pelan, "Tidak, kok. Ramennya enak, dan pedas. Aku suka, pasti dedek bayinya juga begitu. Tapi, keinginan dedek bayinya memang hanya ingin mencicipi sedikit saja. Jadi, tolong habiskan, ya, Naruto-kun. Aku akan menunggumu, deh. Setelah itu itu kita tidur,"

"Eh?"

Jadilah Naruto menghabiskan semangkuk ramen instan pedas yang isinya memang masih banyak sekali.


Epitome of Love (c) kolaborasi faihyuu dengan Narukun10 (wattpad: lionsblue11)

Naruto (c) Masashi Kishimoto, Pierrot Studio.

Rated T plus

Warning(s): Ide yang terlalumainstream,Miss typo(s), Out Of Character, AU, absurd, etc.

Kami tidak mengambil keuntungan materiil apa pun dari cerita ini.


Naruto mengira bahwa semuanya akan berakhir ketika mereka kembali di peraduan mimpi lagi. Setelah sebelumnya diinterupsi keinginan ibu hamil yang menjadi istri ini. Bahkan menutup mata dan mulai menghitung domba imajiner mulai dilakukan Uzumaki.

3000 domba—zzzz.

Mimpi dan ketenangan baru saja dirasakan oleh Naruto. Namun namanya juga kenyataan, terkadang memang sangat menyakitkan.

"Naruto-kun,"

"Hmm?"

Pria itu hanya bergumam, bahkan enggan membuka matanya karena kantuk terlalu tega menyerang. Apalagi pagi nanti adalah hari paling sibuk untuk Naruto karena akan membuka cabang baru.

"Naruto-kun, aku akan pulang ke mansion Hyuuga kalau kau tidak bangun."

Gertakan Hinata seperti musibah untuk pria itu. Naruto membuka nayanika, bola mata bak batu permata nilakandi dilebarkan. Mengerjapkannya berulang kali. Ia menoleh, istrinya tersenyum lebar.

"Aku pengen sandwich telur!"

Hah?! Yang benar saja, pukul satu dini hari mencari sandwich telur. Ke mana?

"Sekarang pukul berapa, Sayang?" Naruto memberikan senyuman manis namun terkesan mengerikan.

"Keberatan? Aku akan menelepon Tokuma untuk menjemputku, lalu aku akan pulang ke mansion Hyuuga."

Sekuat tenaga Hinata berusaha untuk bangkit dari ranjang. Sang suami dengan sigap mencegah wanita hamil itu.

"Baik, aku akan pergi membeli sandwich telur!"

Naruto bangkit dari ranjang. Mengambil jaket jingga untuk menutupi piyama tidur yang dikenakan. Kemudian segera keluar dari mansion mewahnya.

Ia terpaksa memakai motor sport karena jarak Seven Eleven tidak terlalu jauh dari mansion megah Uzumaki. Dengan kecepatan penuh dan mata masih mengantuk, dirinya berusaha fokus untuk mengendarai motor.

Tangan Naruto sangat terampil memilih sandwich yang dipesan Hinata setelah dia sampai di Seven Eleven. Bukan hanya sandwich telur, semua sandwich dengan rasa apa saja diborong olehnya. Ketika ingin menuju ke kasir, kelereng safir itu menangkap sebuah kotak berisi seperti plastik namun sangatbermanfaat.

Naruto tersenyum lebar, bahkan menyeringai. Otak pintarnya mulai membayangkan hal aneh-aneh. Seperti membayangkan Hinata berada di kasur dan menyebut namanya dengan suara yang indah. Menatap permata ametis sang istri yang sayu, pipi gembilnya yang berona merah. Cukup Naruto!

Berusaha mengenyahkan pikiran aneh yang menjalari otak, dia terkekeh membayangkan betapa besar cintanya untuk Hinata. Dahulu Hinata adalah karyawan biasa di perusahaannya. Kecantikan dan kelembutan Hinata mampu membuat Naruto bertekuk lutut. Membuat dia berjuang mati-matian untuk mendapatkan restu dari Hiashi Hyuuga yang sialnya lebih kaya raya. Naruto pikir Hinata adalah perempuan yang mudah ditaklukkan, seperti perempuan di luar sana yang memberikan tubuh kepadanya secara cuma-cuma.

Namun dugaan Naruto salah. Hakikat mengatakan, Hinata sangat susah ditaklukkan. Butuh waktu hampir satu tahun untuk membuat Hinata jatuh dalam genggamannya. Ah, ya, perihal Hinata adalah karyawan Naruto memang benar. Meskipun wanita berambut indigo itu dari keluarga kaya dan terpandang, tapi dia selalu menghindar dari nama besar sang ayah.

"Istriku memang aneh. Tapi aku cinta," Naruto bersenandika sembari terkekeh pelan.

Tindakan itu membuat penjaga kasir mengernyitkan keningnya. Berusaha tak acuh dengan Naruto, penjaga kasir itu kembali dibuat kaget. Semua stok sandwich diborong, belum lagi sepuluh kotak pengaman juga ada di keranjang belanjaan Naruto.

"Maaf, Tuan. Apa benar sebanyak ini?"

Naruto menatap tajam, "Ya. Apa kau meragukan uangku? Aku bisa membeli minimarket ini jika aku mau!"

Penjaga kasir itu hanya menghela napas. Ia baru saja sadar jika orang di depannya adalah Naruto Uzumaki. Pengusaha muda, tampan dan angkuh.

"Semua totalnya ¥10.000," ujar penjaga kasir itu dengan sopan. Dan juga sedikit mengisyaratkan permohonan maaf.

"Hanya segitu? Ambil ini, tidak usah kembali. Anggap saja biaya untuk tadi perkataan tidak sopanku."

Naruto memberikan ¥20.000 kemudian pergi menuju ke rumah megah miliknya. Dengan kecepatan penuh dia mengemudikan motor, hanya membutuhkan waktu lima menit untuk sampai ke tujuan.

"Hinata," panggilnya membuka pintu kamar.

Ternyata Hinata tertidur sangat pulas. Naruto tersenyum simpul memandang istrinya yang hamil tertidur dengan nyenyak. Ia menghampiri Hinata dan mengecup kening wanita itu.

Kemudian atensi si pria Uzumaki beralih pada perut sedikit membuncit milik wanitanya.

Sembari mengelus perut Hinata, Naruto bergumam. "Kau ini nakal sekali, ya. Membuat Tou-san selalu kerepotan."

Dalam satu malam, Naruto dikerjai anaknya yang bahkan masih di dalam rahim sang ibu sampai dua kali. Namun tak mengapa, setidaknya hal ini akan dimasukkan ke dalam memori Naruto sebagai kenangan yang dirasanya bakal abadi.


Alunan musik klasik yang dimainkan sang jenius Mozzart menyapa siapa pun yang tengah berada di ruangan itu. Sebuah ruangan bercat krem yang menenangkan juga dihiasi beberapa rak buku.

Ruangan ini adalah sebuah perpustakaan mungil di dalam mansion mewah milik suaminya. Sebuah ruangan yang dihadiahkan Naruto pada Hinata ketika wanita indigo itu berkata dia selalu mencintai waktu untuk sekadar membaca. Maka dari itu, hampir tiap saat Hinata memang selalu ditemukan di sini dengan tengah menyelami jendela dunia.

Sebuah novel berjudul Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry kini tengah menemani Hinata dalam menghabiskan waktu. Menemani si wanita yang tengah berbadan dua itu menikmati kesendirian ditinggal suami dalam mencari pundi-pundi kekayaan. Ada rasa keengganan begitu mendalam memang, dia merasa terlalu diperlakukan bak ratu setelah dinikahi sang pria muda Uzumaki.

Hinata selalu dipeluk oleh rasa tidak enak ketika mengingat bahwa Naruto kini tengah sibuk berperang dalam kewajiban mencari pangan, sandang, dan papan. Sementara dirinya di sini saja dan melakukan aktivitas yang seringkali membuatnya bosan. Namun tak sekali saja Naruto selalu menunjukkan sisi absolut lagi dominan yang dimilikinya, dia selalu berhasil dalam menghentikan aksi Hinata untuk sekadar bekerja. Bahkan ketika Naruto tahu bahwa dia tengah mengandung, pria itu menjadi sangat menyebalkan. Naruto melarangnya untuk memasak, mengawetkan bunga atau terkadang membuat ikebana, dan bahkan pria kuning itu melarangnya untuk merapihkan kamar tidur mereka—beberapa hal remeh-temeh yang hanya bisa dilakukan Hinata ketika menunggu sang suami kembali.

Namun pada hakikatnya, Hinata merupakan orang yang penurut dan seringkali berpikir lurus ke depan. Perlakuan berlebihan sang suami selalu mendapat maaf olehnya, karena terkadang ia mengerti mengapa Naruto begitu ingin sekali menjaganya. Hinata menghargai hal itu walau rasa dongkol masih sering bercokol.

Waktu menunjukkan bahwa jam makan siang benar-benar telah usai, dan tentu saja sebenarnya Hinata sudah menyantap masakan makan siang dari koki yang ditunjuk Naruto semenjak dirinya memiliki bayi mungil di dalam rahimnya. Hinata memang merasa sudah cukup makan, tetapi entah mengapa tiba-tiba ia ingin sekali merasakan sensasi mengunyah.

Alias Hinata merasa anaknya ini ingin sebuah camilan. Ngidam. Lagi.

Dalam benak, Hinata memikirkan bahwa cinnamon rolls kesukaannya sangat nikmat kalau disantap sembari membaca karya sastra. Mana lagi dengan musik klasik yang menemaninya begini, pasti akan terasa lebih candu. Lalu, si wanita mengingat bahwa sebuah toko pastri di dekat kantor utama suaminya memiliki gulungan kayu manis terbaik yang pernah ia cicipi.

Seharusnya pada pukul segini, Naruto sudah menyelesaikan pertemuan-pertemuan penting dan semua kunjungan ke cabang baru. Apalagi tadi pagi pria itu bilang bahwa Shikamaru—asisten pribadinya—mengabarkan bahwa beberapa pembukaan cabang barunya ditunda sementara, tetapi diganti dengan hanya satu pertemuan penting yang dilaksanakan sebelum makan siang. Sehingga Hinata berpikir bahwa suaminya bisa pulang lebih cepat juga.

"Sabar, ya, Nak." Hinata menghidupkan ponselnya. Sebuah alat komunikasi manusia zaman modern itu kini menampilkan sepasang wanita juga pria yang berbalutkan pakaian khas pernikahan. Prianya tentu saja Naruto dan Hinata merupakan si wanita itu.

Senyum Hinata makin mengembang ketika melihat senyum Naruto yang memang secerah matahari sedikit diperhatikannya dengan lebih dalam. Senyum cerah yang dilontarkan Naruto tiap mereka berjumpa.

Wanita itu teringat saat mereka awal bertemu. Naruto yang sangat angkuh tapi memiliki hati yang baik. Naruto bagaikan eunoia untuk Hinata. Masih terekam dengan jelas dalam ingatan Hinata kenapa Naruto begitu tergila-gila kepada wanita pemilik mata ametis itu.

Berawal dari bento yang dibawa oleh Hinata yang tidak sengaja dimakan bos tampan--siapa lagi kalau bukan Naruto. Semenjak kejadian Naruto memakan bento buatan Hinata,

diam-diam pria berambut arunika mulai mendekati Hinata. Namun, terkadang Hinata menghindar.

Hingga pada musim dingin, tepat pada saat ulang tahun Hinata. Pria itu mengajak Hinata untuk bertemu di Taman Ueno. Pakaian mereka terbalut dengan bunga-bunga salju. Ucapan Naruto seakan membuat bunga-bunga salju di pakaian Hinata meleleh karena suhu tubuhnya memanas.

"Terkadang, suaramu selalu menyala-nyala di kepalaku. Tak heran, sudah tiga kali aku memutar ide-ide palsu tentang gemilangnya bersamamu di hari tua nanti. Aku benar-benar menunggu Tuhan memerintahkan malaikat untuk menakdirkan kau dan aku menjalin sebuah 'istimewa yang disengaja.'

"Putri dari Hiashi Hyuuga yang sialnya lebih kaya raya dariku, aku ingin kau menemaniku sampai hari tua nanti. Bersedia?"

Taman Ueno menjadi saksi atas bersatunya mereka berdua. Menjadi saksi bahwa Hinata bersedia menjadi milik Naruto seutuhnya.

Ah, bukannya Hinata harus menelepon?

Terkadang nostalgia memang datang tiba-tiba. Sekelebat ingatan memang suka sekali menjahili aksi dari manusia.


Berbagai kedongkolan terus Naruto ledakkan setelah pertemuan penting dengan investor besar dari Jerman usai. Tentu saja, semua orang jikalau berada di posisinya bakal mengamuk bak monster.

Pembukaan cabang baru yang biasanya bakal menjadi hal paling penting dan melelahkan memang ditunda sementara. Hanya saja, satu pertemuan penting sebagai gantinya justru malah menguras emosi. Naruto ingin sekali memukul para investor besar dari Jerman itu sampai babak belur. Jiwanya jadi bar-bar dan kasar begini juga karena kesan buruk para orang itu membekas sekali.

"Cecunguk-cecunguk sialan itu benar-benar tidak profesional. Kau yakin dia investor besar dari Jerman, Shikamaru? Masa iya seorang investor besar se-Eropa seenaknya mengubah jadwal hari dan tiba-tiba juga mengubah waktu pertemuan? Setahuku juga bukannya orang Jerman itu tertata sekali? Kenapa mereka acak-acakan sekali, sih? Sial!"

Pertemuannya dengan para investor besar Jerman itu seharusnya dijadwalkan seminggu lagi. Namun tiba-tiba saja para investor ini ingin dipercepat menjadi hari ini. Dituruti Naruto dengan senang hati sampai membatalkan pembukaan cabang baru karena investor itu merupakan investor paling berpengaruh di Eropa. Tentu Naruto tidak ingin melepaskan sebuah kesempatan besar.

Naruto menunggu sesuai dengan jadwal baru. Bahwa pertemuan penting ini dilaksakan pukul sembilan sampai pukul sebelas. Namun setelah pihaknya menunggu bagai orang gila, mereka semua malah mendapati sebuah pesan penting berisi permintaan maaf yang berisikan keterlambatan mereka. Dan sebuah isyarat bahwa pertemuan penting baru bisa dilaksanakan setelah jam makan siang usai. Mana lagi pertemuan itu juga terkesan bertele-tele dan memakan waktu yang lumayan lama. Sungguh tidak mencerminkan kedisiplinan.

Ya, walaupun begitu ... setidaknya pihaknya mendapat masukkan dana lebih besar daripada yang dijanjikan. Namun, emosi tetap tidak bisa dielakkan.

"Aku juga kesal, tapi mau bagaimana lagi. Setidaknya mereka juga membuat kita untung besar walaupun kurang ajar sekali," Shikamaru berkomentar singkat, wajahnya juga terlihat lelah. Kemudian sang pria Nara mulai pergi keluar dari ruangan itu.

Naruto mendesah lelah dan menyugar rambutnya. Pasti dirinya saat ini terlihat kacau sekali.

Seharusnya sekarang dia sudah bisa pulang. Apalagi Naruto baru menyadari bahwa ia belum mengecek ponselnya sama sekali sejak tadi pagi. Dengan segera pria itu menghidupkan ponselnya yang ternyata juga dari tadi memang tidak aktif.

27 pesan.

3 panggilan tak terjawab. Semua itu dari istrinya, Hinata.

Hinata menginginkan cinnamon rolls. Ia tersenyum tipis, senyumnya meluntur kala mengingat jika istrinya cepat marah dan sensitif dalam masa kehamilan ini. Naruto menggeram kesal lagi ketika mengingat dirinya tengah menunggu investor yang tak kunjung datang saat Hinata mencoba menghubunginya.


"M-maafkan aku, Hinata."

Ini yang paling Naruto takuti. Kemarahan istrinya, yang selalu berhasil membangkitkan sensasi bulu kuduk berdiri.

Hinata hanya diam. Tangannya masih setia memotong daging steak sajian makan malamnya dengan anggun. Kemudian, tentu saja mengunyah daging itu.

"Hi--Hinata aku—"

"—Kurasa aku sudah kenyang. Ayame-chan, maafkan aku. Steaknya enak sekali, tapi aku sudah merasa kenyang." Hinata tiba-tiba saja mengujarkan permintaan maaf kepada Ayame— koki sekaligus kepala maid sementara di mansion ini— yang ternyata sedari tadi tengah mengamati pasangan Uzumaki dari jauh dalam diam.

"T-tidak apa-apa, Hinata-sama." Ayame tertunduk takut ketika mendapati manik biru menatapnya tajam.

Naruto menghela napas, sebenarnya dia agak malu juga jikalau pertengkaran kekanak-kanakan ini dilihat oleh orang lain. Namun pria ini berusaha untuk memaklumi kehadiran Ayame dan juga ketidak acuhan sang istri yang sedang menyeruput jus jeruk dengan santai. Pria Uzumaki berusaha untuk menenangkan dirinya, "Ayame, aku ingin steak juga untuk makan malam."

"B-baik, Naruto-sama." Dan Ayame pun berlalu menuju dapur sembari membawa piring sisa makan Hinata.

Naruto menduduki kursi meja makan yang berada tepat di hadapan istrinya. Tak lupa juga, pria Uzumaki itu menaruh bungkusan khas toko roti di atas meja. Bungkusan itu berisi cinnamon rolls yang tadi diinginkan oleh Hinata. Naruto berharap agar istrinya itu melirik walau hanya sekejap saja.

"Hinata, aku membawa cinnamon rolls kesukaanmu, nih. Belinya di toko kue dekat kantor, kok. Tadi siang kau minta ini 'kan? Maaf,ya—"

"—Hooaam, aku mengantuk. Ayame-chan, maaf ya, aku ke atas duluan." Hinata tiba-tiba berdiri dan menguap. Wanita itu juga sedikit meninggikan suaranya agar dapat didengar oleh Ayame yang tengah berkutat pada dapur.

Namun, terkadang harapan memanglah hanya menjadi sekadar harapan.


Hinata menyadari bahwa dirinya sudah agak keterlaluan saat makan malam tadi. Wanita itu merasa dirinya menjadi sangat-sangat egois, dia mendiamkan suaminya benar-benar sepanjang makan malam. Permintaan maaf Naruto juga seakan-akan sama sekali tidak menembus pendengarannya.

Wanita itu memang sangat marah ketika mengetahui bahwa Naruto sama sekali tidak membaca semua pesannya. Bahkan saat Hinata mencoba untuk menelepon, ponsel pria itu tidak aktif. Namun yang paling membuat wanita itu emosi ialah kenyataan bahwa dia menelepon Naruto tiga kali dalam jangka waktu yang lumayan lama. Dan semuanya menunjukkan bahwa ponsel pria itu tengah tidak aktif.

Jarang sekali Hinata menemukan sang suami menonaktifkan ponselnya. Biasanya pada saat rapat maupun pertemuan penting, Naruto juga selalu menghidupkan ponselnya walau dalam mode getar. Bahkan pria itu juga selalu menanyakan kabarnya tiap dua jam sekali, memberitahukannya juga semua jadwal yang bakal dilalui pria itu. Namun, hari ini sama sekali tidak seperti itu.

Apalagi dengan keadaannya yang sedang berbadan dua begini, dia jadi mudah sekali merasa sensitif. Hinata juga menyadari betapa dirinya jadi menyebalkan ketika menginginkan sesuatu secara tiba-tiba.

"T-tapi aku hanya ingin cinnamon rolls yang dibelikan Naruto-kun saja," Hinata bermonolog pelan sembari menatap langit-langit kamar. Tak jarang juga tangannya mengusap perutnya yang mulai membesar, bukti bahwa anaknya bertumbuh dengan sehat di dalam sana.

Omong-omong, Hinata baru menyadari waktu. Biasanya pukul segini Naruto sudah menyelesaikan ritual membersihkan diri dan memeluknya menuju ke dalam mimpi. Ke mana pria itu sekarang?

.

Wanita pemilik helaian indigo berjalan menuju ke taman belakang rumah. Biasanya Naruto akan duduk di ayunan taman dengan ditemani ramen instan. Benar saja, suaminya duduk di ayunan sambil memakan permen. Ia memeluk Naruto dari belakang, pipi bergurat milik suaminya dikecup singkat.

Meskipun sempat terperangah, namun Naruto tahu siapa pelaku yang mencium pipinya. Bibir kecoklatan mengurva ke atas.

"Tidak ngambek lagi?" tanyanya kemudian.

Hinata mengerucutkan bibirnya. Jari jemari lentik otomatis menjambak pelan rambut kuning. "Kau suka jika aku ngambek, ya?"

Sang suami malah terkekeh kecil. Ia menarik tangan Hinata, memerintahkan Hinata untuk duduk di ayunan kayu tepat di sebelahnya.

"Setengah-setengah. Hinata semakin lucu jika merajuk. Tapi aku juga kesal, karena kau menjadi cuek."

Senyum terulas di bibir ranum Hinata. "Aku minta maaf, Naruto-kun. Kehamilan ini membuatku mudah marah dan kesal denganmu."

Safir Naruto berkedip beberapa kali karena tingkah lucu istrinya. Selain merapatkan tubuh Hinata ke tubuhnya, Naruto juga membelai rambut Hinata.

Entah kenapa, hati keduanya menghangat. Suasana di sekitar juga mendukung. Taman mini khusus untuk menghabiskan waktu berdua memang cocok untuk keadaan saat ini. Bukan hanya kolam renang, taman itu juga dihiasi oleh banyak tanaman hias. Alasnya menggunakan karpet rumput sehingga tidak perlu memakai alas kaki jika bermain di sana.

Masih ada beberapa halaman yang kosong. Naruto merencanakan akan membuat taman bermain di sana dan kolam renang mini untuk anak-anaknya nanti.

Suara merdu Hinata terdengar seiring angin malam. "Naruto-kun."

Naruto hanya menanggapi dengan gumaman. Hinata memukul pelan dada bidang suaminya. Hidung mancung istri Naruto itu menggesek dada bidangnya, membuat geli menjalari sekujur tubuh pria itu.

"Kenapa, Sayang?" Akhirnya Naruto membuka suara karena tidak tahan dengan tingkah calon ibu dari anaknya itu.

Hinata mengindahkan pandangannya ke arah Naruto. Menatap lekat netra biru indah itu. "Aku ingin berenang, Naruto-kun."

"Apa?! Tidak! Tidak boleh!"

Tentu saja Naruto marah, karena sekarang sudah pukul delapan malam. Angin malam juga tidak baik untuk Hinata. Ditambah terkena air kolam renang nanti.

Wanita cantik itu memasang raut melankolis. Mencoba membujuk sang suami yang menolak mentah-mentah.

"Tuntutan anak kita, Naruto-kun. Aku tidak mau kalau anak kita nantinya kenapa-kenapa!"

Menghela napas pasrah, Naruto menyetujui. Hinata segera melepas seluruh pakaiannya. Hanya menyisakan pakaian dalam. Tubuh indahnya membuat badan Naruto kepanasan. Setelah itu, Hinata masuk ke dalam kolam renang.

Satu menit termenung hingga sebuah suara bermakna sebuah ajakan yang dilontarkan Hinata membuat Naruto tersadar. Dia segera membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, dan hanya menyisakan boxer bermotif Naruto—topping ramen.

Naruto melompat ke dalam kolam renang. Airnya menciprat ke segala arah. Hinata yang kesal, mencipratkan air hingga mengenai mata Naruto. Mereka akhirnya berperang air hingga lima menit.

Mendudukkan Hinata di tepi kolam renang, Naruto yang berada di air kolam renang menatap istrinya lekat-lekat. Ternyata Hinata sangat cantik, apalagi dalam keadaan hamil begini. Tubuhnya juga hanya ditutupi oleh pakaian dalam. Naruto jadi teringat suatu benda yang dibeli di Seven Eleven kemarin.

Rambut basah Naruto menempel di perut yang sedikit membesar. Perut yang menampung buah hatinya dikecup berulang kali.

Naruto mengajukan sebuah pertanyaan. "Apa aku sudah boleh mendapatkan jatah, Hinata?"

Hinata menggigit bibir bawahnya, menjambak pelan rambut sang suami. Lalu mendongakkan kepala Naruto hingga mereka saling berpandangan. Hinata mengangguk memberikan sebuah jawaban. Jawaban yang membuat tubuh Naruto meremang.

Naruto beranjak dari kolam renang kemudian mengambil handuk mandi yang berada di kamar mandi tak jauh dari kolam renang. Memakaikan handuk itu ke Hinata, menggendongnya menuju ke kamar lantai atas. Tubuh Hinata dibaringkan dengan sangat hati-hati, mereka berciuman sangat mesra.

"Terkadang aku merasa seperti Polaris dan kau Sirinus, Hinata. Kau sangat sempurna," Naruto berbisik dengan suaranya yang memberat.

"Naruto-kun bukan Polaris. Tapi kau adalah matahari untukku. Kau adalah sebuah kehangatan bagiku."

Ucapan Hinata mampu memberikan efek bahagia untuk Naruto. Pria berkulit tan itu tersenyum sangat lebar. Kemudian mereka saling berpelukan. Saling menyalurkan kenikmatan. Membuat pengaman yang dibeli Naruto berkurang satu box.

Rumah tangga Naruto dan Hinata bertambah anggota seiring berjalannya waktu. Anak pertama adalah laki-laki dan anak kedua adalah perempuan. Tidak ada hambatan dalam kehidupan mereka, meskipun terkadang terjadi pertengkaran kecil. Naruto mengalah, dan Hinata meminta maaf. Mereka berdua seperti epitome dalam sebuah kisah asmara.

.

.

.

END

.

.

.

a/n: akhirnya—kesampaian juga buat kolab sama nih author wattpad :') wkwkwkw

Btw, sekalian promosi saja ya di sini. Saya dan juga Narukun10(lionsblue11) sedang merencanakan beberapa proyek kecil-kecilan di FP kami yang bernama 'Sunshina Family'. Masih kecil memang, maka dari itu mohon dukungannya juga gais :') wkwkwkw Dan juga kami lagi buka GA kecil-kecilan, lho~ silakan cek FP 'Sunshine Family'. Oya, di FP ini juga sedang open PO totebag dan ganci NH yang UwU siapa tahu saja kalian berminat ~