The Second Half.

Disclaimer: Haikyuu milik Haruichi Furudate. I don't make any money from this.

Warning: …urmm…. Long oneshot(?)

Osamu suka Frozen.

Atsumu sering mencibirnya karena menurutnya selera film adiknya itu kekanakan, terlalu gemulai, dan mainstream.

Tapi Osamu tak ambil peduli, Atsumu sudah sering menikung Osamu dalam hal menghabiskan makanan, jadi ketika kakak kembarnya itu berkomentar miring tentang kegemarannya, Osamu hanya tunjuk jari tengah. Santuy.

Sebenarnya apa yang membuat Osamu suka dengan film anak-anak itu? Orang lain menyukai animasinya yang fluid dan detail. Suna pernah berspekulasi kalau Frozen 2 mungkin pakai PBR yang membuat proses render lebih dinamis dan realistis, Osamu sih dua menit kemudian lupa dengan apa itu PBR karena nggak ngerti pembuatan animasi. Ada juga yang beralasan karena plotnya, pesan moralnya, lagunya yang catchy, gaun-gaunnya Elsa yang oke banget buat cosplay…

Dan di antara kesemua kemungkinan itu, alasan paling valid dari ketertarikan Osamu nonton Frozen dan sekuelnya adalah satu, yaitu tokoh bernama Anna.

Apakah Osamu ngefans sama Anna dan berniat menjadikannya waifu? Osamu pribadi tidak gila cewek 2D. …Kalau cewek berukuran dada D, lain soal, ya.

Tidak. Alasannya bukan karena Osamu mau ngewibu, hanya saja dari awal dia merasakan empati sama Anna. Anna adik yang baik, berjuang keras dan bahkan rela mati buat Elsa dan kerajaan yang hampir beku karena salah pilih jodoh. Anna adalah karakter yang manusiawi, kadang melakukan kesalahan sendiri dan cukup fatal, tapi, hey, usahanya patut diapresiasi. Namun naas, Anna kalah pamor dari sang kakak.

Coba sekarang siapa yang menang polling karakter Frozen paling disenangi? Siapa yang dressnya sering dibuat ulang? Siapa yang sering dicosplayin? Siapa yang lebih dicita-citakan bocil-bocil ketika ditanya mereka besar nanti mau jadi apa?

Ya, sebab Osamu suka Frozen adalah karena animasi itu sangat dekat dengan kehidupan di dunia nyata. Bahwa ada sosok yang lebih bersinar daripada yang lainnya. Bahwa ada Anna-Anna yang seberapapun usahanya akan tetap dinaungi bayang-bayang orang lain. Osamu kepikiran siapa ya?

Bukan, kok. Ini semua bukan tentang Osamu. Bukan pula Osamu menemukan representasi dirinya dalam sebuah karakter animasi. Sama sekali bukan. Walau sebenarnya Osamu kadang menemukan kalau hidupnya sekedar komplementer abangnya yang talented dan ambis, sih….

Tapi bukan itu alasan Osamu belok dari voli, pilih kampus yang beda dari pilihan kakaknya, lalu meniti karir di bidang kuliner. Dia hanya ingin menata ulang hidupnya dan introspeksi tentang tujuannya selama ini. Kemana-mana Osamu selalu ngintil sama Atsumu. Jadi bemper kalau kakaknya itu lagi nggak beres. Jadi half twin yang tenang biar keseimbangan dunia tidak terancam dan jatuh ke dalam chaos. Sorry, deskripsi yang terakhir kejauhan.

Semua ini melelahkan. Osamu bukan Atsumu. Osamu punya keinginan yang ingin ia wujudkan. Osamu ingin menyetir hidupnya ke arah yang ia mau.

Jadi… sebenarnya ramblingan ini arahnya ke mana ya?

Nggak ada, sih. Semuanya itu tidak akan ada kaitannya dengan apa yang jadi concern Osamu saat ini (syarat dan ketentuan berlaku). Osamu sebenarnya tidak pernah reaktif ketika Atsumu lebih menonjol dan lebih terkenal dari pada Osamu. Palingan kecewa sedikit dalam hati, itupun dah biasa. Waktu cewek-cewek lebih milih mengelu-elukan Atsumu, Osamu ra popo. Lagian cowok-cowok lebih milih Osamu. Eh?

Yah, intinya gitulah. Osamu sebenarnya in control buat kondisi hatinya yang diam-diam insecure.

Kecuali sekarang Osamu sudah kenal yang namanya naksir cewek. Dan kakaknya yang mendokusei mau main sambil nginep bareng Osamu di kos-kosannya.

Iya, kakaknya yang pemain voli pro yang terkenal itu.

Yang pamornya sedahsyat Elsa itu.

"Samuuuu! I'm comiiiing!"

"Nggak usah teriak kaya cewek mau orgasme gitu. Berisik."

Yah. Osamu keburu judes dan mematikan telpon.

Pemuda itu rebahan. Tidak tahu mesti ngapain dengan kemunculan sang kakak. Soalnya yang jadi perhatian Osamu saat in adalah: kira-kira, kesan Osamu di mata cewek incerannya akan meredup nggak ya, ketika 'Elsa' datang?

"Eh~~? Senpai nggak jadi ke tempatku?"

"Iya, sementara aku mau di kosan dulu. Kakakku dateng nanti malam, jadinya aku mau beres-beres kamar sama beli beberapa bahan makan di kombini. Sepertinya aku akan sibuk."

"….Senpai, yang datang itu kan kakak senpai, bukan mertua."

"Sayang sekali, kakakku itu sepertinya lebih ekstra dari mertua manapun. Pokoknya kolokanlah. Sebelum tambah repot aku mau beberes dari sekarang."

Nanami tertawa, membuat Osamu yang tengah memegang sample print out flyer buat promo onigiri resep barunya ingin melihat gadis itu lama-lama. Rasanya baru kemarin Osamu minta bantuan Nanami jadi tenaga kreatif buat mempromosikan usaha kulinernya.

Osamu Miya melihat peta yang digambar oleh Suna. Mirip bekas cakar ayam yang habis keset di kertas. Katanya, cowok adalah makhluk yang berantakan dan pintar baca peta. Oke. Suna berantakan dan Osamu pintar baca peta, putus Osamu sepihak. Pokoknya kalau Osamu nyasar dia akan mengacak-acak hidup Suna. Soalnya dia akan rugi dua kali. Pertama buang-buang waktu dan energi. Kedua, dia harus mencari orang lain buat membuat mengerjakan promo usahanya.

Kata Suna, orang yang dia rekomendasikan ini skillnya lumayan, dan dia mau dibayar dengan murah. Makanya Osamu tidak pikir panjang dan langsung main samber ketika Suna memberinya alamat ini. Namun Osamu tidak menyangka ketika dia memencet bel dan menanyakan nama 'tenaga ahli' yang Suna beri, dia akan berhadapan dengan gadis ini.

"Nanami Fujiki? Itu aku," ujarnya ceria sambil buka pintu lebar-lebar. Seorang gadis berambut jingga tergerai sepunggung menyambutnya. Bulu matanya lentik membingkai mata yang sewarna rambut. Wajah mendongak hingga Osamu bisa melihat senyum ramahnya. Ketika berhadapan dengan Osamu tingginya cuma sebahu cowok itu. Di hadapan Osamu, gadis itu masih belum ganti seragamnya yang kena keringat di musim panas.

Osamu tak bisa menahan untuk berkedip dua kali. Yang benar saja, Suna, ini kan anak SMA. Bukan apa-apa. Osamu hanya kepikiran beberapa hal yang membuatnya khawatir. Misalnya skillnya beneran gak papa? Cara komunikasinya bagus nggak? Kinerja dan komitmennya bisa dipegang apa nggak? Lalu kalau misalnya mereka deal bayar pajaknya gimana? Namun untunglah setelah beberapa kali uji coba gadis itu memiliki skill yang memenuhi standarnya. Portofolio Nanami juga lumayan dan desainnya bersih. Dan saat Osamu nge-push buat mendesain sesuatu yang fun dan bernuansa hangat dan kekeluargaan, gadis itu masih bisa memberikan hasil yang sesuai ekspektasi.

"Kalau gitu bayarannya nanti sesuai kesepakatan awal ya," Osamu yang baru pulang kuliah kembali ke rumah gadis itu. Untung tidak jauh dari kosannya, tidak seperti peta Suna yang mbulet.

"Oke. Habis revisi yang ini ya," Nanami tersenyum ceria sambil memberbaiki typography di desainnya. Osamu melirik Nanami yang asyik bekerja. Gadis ini pekerja keras, bayarannya murah, masih SMA sih, belum nemu klien lain.

"Nanami, kau ku-hire buat promo selanjutnya. Mau?"

Wajah Nanami berseri menyamai rambutnya yang jingga. "Mau!"

He~~~ Osamu tidak mengerti kenapa dia ingat kenangan waktu dia masih jadi mahasiswa tahun pertama dulu. Tapi gara-gara itu dia jadi merasa memanfaatkan Nanami yang mau-maunya dibayar murah. Sekarang Osamu sudah jadi mahasiswa tahun ketiga, dan Nanami juga sudah jadi mahasiswa semester dua universitas yang sama, tapi masih mau mengerjakan proyek-proyek yang disodorkan Osamu.

'Syukurlah aku nggak harus nyari desainer lain yang lebih mahal.' Osamu masih nggak berubah.

"Kalau begitu aku saja yang ke tempat senpai. Mau kubantu beres-beres sekalian?" Nanami menawarkan dengan riang. Rambut panjang sepingganggnya bergoyang-goyang dan senyumnya yang cerah membuat Osamu dilanda dilema.

Nanami ke kosannya? Bukan yang pertama kali, sih. Tapi Osamu rasanya belum bisa menerima kalau gadis yang ditaksirnya ini nanti berkunjung. Bukan karena tidak senang, sebaliknya, dia malah sering membuat-buat alasan biar gadis ini tinggal lebih lama. Menyuruhnya merapikan tugas dari dosennya, misalnya. (Osamu kalau jatuh cinta jadinya makin oportunis)

Di sisi lain ada kakaknya yang datang. Kalau cewek-cewek biasanya jadi ribut dan norak hanya gara-gara Atsumu lewat, bagaimana nanti kalau Nanami ngobrol dengannya? Hal yang paling tidak Osamu inginkan adalah gadis yang disukainya malah kecantol sama saudara kembarnya sendiri. Amit-amit.

"Ayolah, senpai. Kali ini aku yang masak. Gimana?"

"Kau sepertinya bersemangat sekali ke kosanku," Osamu jadi curiga.

Nanami nyengir, "Soalnya aku mau liat orang yang mukanya mirip sama senpai."

"Heh~~~"

Tanpa sempat berkilah, Nanami sudah menarik Osamu untuk meninggalkan koridor kampus.

Benar kan dugaan Osamu. Seorang cewek ketemu Atsumu itu adalah ide yang buruk.

"Woah!" Sekarang Nanami malah mangap takjub dan lupa berkedip. Semua gara-gara Atsumu yang sedang berdiri gagah di dalam kamar kos Osamu. Atsumu datang pas banget ketika Osamu dan Nanami baru selesai beres-beres. Timing yang luar biasa banget, pikir Osamu kecut.

"Kenapa? Baru kali ini ketemu cowok cakep?" Atsumu senyum-senyum. Setahu Osamu kakaknya ini agak sadis sama cewek, jadi sejak kapan dia berperilaku layaknya protagonis anime harem? Pasti karena salah pergaulan. Kayanya Atsumu kebanyakan nongkrong sama setter playboy berambut coklat asal Miyagi, deh.

"Mukanya sama dengan Osamu-senpai!" Nanami berseru excited. Ganti-gantian gadis itu melihat ke Atsumu dan ke Osamu.

"Ya jelas, dong. Kita kan kembar identik," Atsumu menunjuk dadanya, "Tapi aku beda loh. Aku nggak membosankan seperti kembaranku. Mau main bareng?" Atsumu mengeluarkan jurus seduktifnya, yang malah dibalas dengan gebukan bantal dari Osamu.

"Main sendiri, sana. Sudah biasa, kan, fakboi."

"Ih, Osamu mesum. Padahal maksudku kan jalan-jalan, muter-muter kampus sambil makan gitu!"

Osamu mendecak kesal. Rasa lelah dan juga antisipasinya yang kelamaan dari kedatangan Atsumu membuatnya tidak bisa mentolerir ocehan Atsumu yang menjurus-jurus walau sedikit. Diseretnya Atsumu ke ruang tidur.

"Eh, eh, Samu mau ngapain? Jangan nggak sabar gitu dong. Ini belum tengah malam loh, masa aku udah diseret ke ranjang."

Osamu jadi heran kenapa pas di rahim dulu dia nggak menggigit ari-arinya sampai putus biar Atsumu gagal lahir ke dunia. …ya walaupun nanti si Osamu ikutan mati sih.

"Jijik, Tsumu, tidur sana."

"Tidak tanpamu sayaaang!" Teriakan Atsumu teredam di balik pintu.

Ini belum sehari, tidak, ini belum semalam dan Atsumu sudah membuat Osamu menyesal pernah satu rahim sama dia.

Nanami cekikikan. Gadis itu sepertinya menemukan sesuatu yang menghibur dan dia tidak berniat menyembunyikannya. Lihatlah dia, tertawa sampai memegang perut. Tawanya baru terhenti ketika Osamu ketahuan memperhatikannya tanpa kedip.

Nanami berdehem, "Senpai, aku mau pulang dulu. Pamit ya."

"Oh," Osamu kembali ke default wajah ngantuknya setelah sadar dia melihat Nanami selama kurun waktu tidak kurang dari dua menit, "Kuantar kalau gitu."

"Eh! Ti-tidak perlu-"

"Sampai depan gerbang kampus saja."

Nanami manyun, "Harusnya aku tahu."

Osamu menahan tawa.

Tentu saja Osamu tidak benar-benar membiarkan Nanami jalan sendirian ke rumahnya di malam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh ini. Mager-mager begitu dia juga gentlemen.

"Kalau dipikir-pikir ini pertama kalinya loh, senpai nganter aku sejauh ini kalau pas lagi nggak mau ke rumah."

"Jadi aku harus merasa bersalah gitu?"

Nanami mendengus. "Tidak perlu. Memangnya senpai bisa merasa bersalah?"

Osamu nyengir, "Apa Nanami mau diantar tiap malam?"

Sial. Barusan dia ngomong apaan? Osamu diam, sedikit tegang menunggu reaksi dan jawaban Nanami.

"Ya terus aku kerja lembur dong. Senpai pasti mau menyuruhku bikin disain macam-macam lagi."

Osamu menghembuskan napas lega, "Kadang aku berterima kasih pada Tuhan kau nggak diberikan bakat nyambung saat orang ngomong apa."

"Apa?!"

"Lupakan."

"Eh~~~" Nanami tidak tahu kenapa tapi dia merasa dicurangi. Sambil mendengus Nanami melihat Osamu dari atas ke bawah. Senpainya itu kalau ngomong, meskipun sama perempuan, tapi filternya kaya saringan.

"Senpai, sama paisen biasanya ribut seperti itu?"

Sambil terus melangkah melewati bangunan kampus, Osamu memiringkan kepala, "Paisen?"

"Ah, itu, kakaknya senpai. Bingung aku manggilnya apa."

"Jangan panggil dia paisen. Sebut saja pasien. Sakit jiwa dia."

Nanami kembali cekikikan, "Kualat loh, nanti." Gadis itu merapatkan jaketnya, "Memangnya kalian selalu bertengkar seperti ini?"

"Tidak juga. Biasanya aku kalem walau dia mengacau, ya kadang-kadang ribut juga sih. Tapi aku akui tadi aku tidak seperti yang biasa menghadapi kelakuannya."

Nanami memperhatikan senpainya itu. Alis berkerut dengan konsentrasi tinggi. "Mungkin senpai kangen sehingga sikap senpai tidak normal."

"Nanami," Osamu menghentikan langkah. Wajahnya terlihat mual hingga Nanami terkejut dan khawatir, "Jangan bilang seperti itu. Jijik, tau."

Tawa Nanami meledak. Sementara wajah Osamu masih seperti orang mabuk darat. Biru pucet. Dibilang kangen sama Atsumu itu another level of bullying buat Osamu.

Nanami berdehem demi menghentikan tawanya yang masih tersisa. Gadis itu mencoba terlihat serius, walau akhirnya dia malah tampak tegang karena perutnya masih geli menahan tawa.

"Ya sudah. Senpai pulang saja, rumahku sudah dekat."

"Aku kan mau mengantar-"

"Sudah, nanti Atsumu-paisen kangen loh!"

Osamu kembali menunjukkan wajah jijik, membuat Nanami yang berlari di depannya kembali terbahak. Gadis itu melambaikan tangan yang dibalas dengan Osamu. Sedikit demi sedikit sosoknya menghilang ditelan malam.

Ah, ya, setelah Osamu tidak melihat Nanami lagi, dia baru ingat kenapa dia tidak bersikap biasa dengan kedatangan Atsumu hari ini.

Theme songnya Anna tiba-tiba berputar di kepala Osamu, membuat cowok itu makin terlihat mabuk darat. Mana bisa dia bersikap normal sementara Atsumu ada di dekat cewek yang jadi incarannya?

"Samu! Jangan bikin onigiri melulu. Aku bosan."

"Kalau gitu pulang sana."

"Tapi kan rumahmu adalah rumahku. Kau adalah bagian dari hidupku. Akun bankmu adalah aku bankku!"

Osamu ingin menjejalkan onigiri yang ia kepal ke lubang hidung Atsumu. Ini kakaknya punya kelakuan kaya aki-aki jablay.

Atsumu menopang kepalanya. Senyuman tipis mirip rubahnya muncul kala melihat sang adiknya berusaha meredam emosi. Lalu dengan gerak yang lambat, bola matanya bergeser ke Nanami yang sedang duduk di sofa.

"Nanami, boleh aku tanya sesuatu?" Atsumu menuai lirikan tajam Osamu. Adiknya itu seolah berkata, 'Makan siangmu ada di tanganku. Mau norinya kulumuri arsenik? Jadi please behave.'

"Nanya apa, paisen?" Nanami mengangkat kepala dari laptop yang menampilkan ilustrasi gratisan untuk melihat Atsumu. Demi kesopanan.

Atsumu sempat-sempatnya melempar lirikan ke Osamu yang sedang berkutat di mini bar membuat makanan buat mereka bertiga. "Kalau bayi ngasih makannya gimana ya?"

"Ha?" Nanami sungguh tak mengerti, gadis itu menatap lurus ke mata Atsumu, berusaha mencari tahu saudara senpainya itu sedang serius atau tidak. "Kalau bayi sudah jelas disuapin, kan, paisen."

Senyum Atsumu mengembang bak bunga bakung, "Kalau begitu tolong suapi aku dong. Aku kan baby. Walaupun teman-teman cewekku seringnya memanggilku 'daddy'." Atsumu melirik Osamu dengan penuh kemenangan.

Osamu, mendengar gombalan kurang gizi ini, hanya memberi Atsumu wajah 'you didn't just say that, dude.' Osamu tak peduli apakah teman cewek Atsumu akan melayang hingga ke galaksi sebelah mendengar pick-up line ini, tapi Osamu di hari yang cerah ini seratus persen yakin Nanami-nya tidak akan terpengaruh sama sekali. Malah bikin malu ah, punya saudara norak begini.

Eh, tadi apa? Nanami-nya? Osamu nyengir. Dah kaya suami istri aja-

Terdengar suara seperti orang tercekik.

Baik Osamu maupun Atsumu otomatis melihat ke asal suara itu.

Nanami. Dia membungkuk dengan sangat rendah. Tangan di perut seolah kesakitan. Osamu langsung membanting sendok nasi yang ia pegang dan berlari ke arah gadis yang kini tak bergerak.

"Nanami-!"

Nanami merentangkan lima jarinya untuk mencegah Osamu mendekat. Dengan wajah tegang, Osamu berhenti di tempat. Sebaliknya, perlahan-lahan Nanami mengangkat wajah. Merah darah. Otot-otot pipinya tertarik. Detik berikutnya gadis itu menyemburkan tawa berderai-derai.

"Dasar. Bikin kaget saja."

Nanami mengunyah tempuranya dengan wajah puas meski diomeli Osamu. Dia ingat kembali dengan pick-up line Atsumu dan kebelet ketawa tapi ditahan karena takut tersedak.

"Habisnya aku baru pertama kali ini mendengar pick-up line yang … abstrak dan unik," Nanami melirik Atsumu. Takut si pemain voli ini tersinggung.

"Tuh, kan, sudah kuduga. Osamu jarang ngegombal ya? Payah ah," Atsumu berkata dengan penuh kemenangan.

Osamu sebaliknya, merasa makin tidak aman. Kakaknya itu kalau sudah bicara remnya suka blong. Makin pro main volinya, makin minus kelakuannya. Kenapa tingkah Atsumu malah mundur ke jaman pra sejarah sih? Malu-maluin. Apalagi sekarang Nanami malah makin sering main ke kosannya. Untungnya teman kosan Osamu alias Tendou, Daishou, Suna dan Kuroo lagi sepakat liburan di kampung masing-masing.

Kalau mereka semua ngumpul plus ada Atsumu pasti Osamu lebih memilih gulung tikar pindah kosan.

Osamu beralih ke Nanami, "Nanami, tolong kalau Atsumu lagi bicara jangan ditanggapi. Untung kau menjawab kalau bayi itu makannya disuapin. Kalau kau menjawab disusui gimana?"

Nasi yang Nanami kunyah lompat ke hidung hingga dia batuk-batuk, "Senpai! Seram, ah! Hentai!" Protes Nanami dengan wajah memerah.

Atsumu langsung berapi-api, "Iya, Nanami! Kenapa nggak jawab itu aja tadi?!"

"Ricecooker-ku mau terbang ke kepalamu, Tsumu."

"Che. Osamu rigid, ah. Kaya emak-emak menopause. Padahal aslinya mau juga kan disuapi Nanami? Nanami, aaaa. Mana nasinya tadi aku belum kenyang?"

Nanami merasakan dorongan buat mengirim Atsumu ke preschool di sekitar rumah, tapi urung karena merasa akan terlalu banyak effort. Gadis itu akhirnya mengambil sejumput onigiri dan mau menjejalkannya ke mulut Atsumu.

Osamu paused. Separuh jiwanya serasa melayang menyadari niatan Nanami. Tangan Osamu refleks mencekal pergelangan tangan adik tingkatnya itu. Nanami yang mau protes seketika diam saat melihat wajah serius Osamu. Pemuda itu tidak berkata apapun, hanya sorot matanya yang bicara.

Ah, jadi begini rupanya kalau senpainya itu sedang marah.

Osamu memperhatikan ketika Nanami mengusap peluh yang mengalir di dahinya. Kerja sambilan di musim panas itu rasanya nggak banget. Tapi katanya gadis itu mau dapat uang tambahan. Akhirnya mereka mendekam berdua di kosan lama Osamu yang panas tanpa AC. Usaha dari nol ya begini. Liburan kerja. Malam kerja. Tapi karena merasa Nanami masih cilik Osamu biasanya segera menyuruh Nanami pulang setiap menjelang sore. Selain bikin disain cetak, Nanami juga berdua sama Osamu mengelola websitenya. Perjanjian pra kerja merekapun berubah, termasuk fee-nya Nanami.

Diam-diam Osamu berterima kasih pada Suna yang mengenalkannya pada sosok pekerja keras seperti cewek berponi itu.

"Senpai, ini airnya. Jangan lupa minum nanti heatstroke."

Gelas berisi yang dingin-dingin terhidang di depan Osamu. Osamu yang sedang tepar dengan dagu nempel meja kini menengadah, memperhatikan gerak-gerik Nanami, "Kau ini manusia bukan? Apa bidadari? Sampai hal sekecil ini kau urusin."

Nanami tertawa kecil. Kalau tidak kenal Osamu beberapa bulan ini dia pasti kegeeran. Senpainya yang isi otaknya cuma kerja, kerja, makan, kerja itu mana mungkin ngegombalin cewek.

"Nggak apa-apa sih. Soalnya aku suka gatel kalau ngeliat orang lupa ngurus dirinya sendiri. Apalagi cowok doyan makan seperti senpai."

Kini secara ajaib sepotong jeruk ada di depan hidung Osamu. Cowok itu kembali mendongak, jeruk itu Nanami yang memegang. Dan tanpa pikir panjang Osamu melahapnya cuma untuk berhenti.

Ujung jari Nanami ikutan termakan, bertepatan ketika Osamu sadar kalau mungkin cewek itu tidak bermaksud menyuapinya. Mata Osamu membuat jejak, dari pergelangan tangan ke wajah Nanami.

Gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya terlihat bengong dengan mulut terbuka sedikit. Ekspresi wajahnya yang seperti kena mantra penghenti waktu itu bertahan selama beberapa detik. Dan Osamu masih ngemut jari Nanami. Entah kenapa jari lentik itu lebih enak ketimbang jeruk.

Osamu garuk-garuk kepala. Gara-gara tingkah alay Atsumu dia ingat musim panas tahun-tahun kemarin. Yang lebih menjengkelkan lagi, Nanami sepertinya tidak keberatan buat menyuapi Atsumu. Berbeda ketika gadis itu tidak sengaja menyuapi Osamu kala itu.

Segumpal perasaan cemburu membuat Osamu cemberut.

Apa Nanami sudah ikut arus dan mulai suka dengan 'Elsa'?

"Sejak kapan kau suka sama Nanami?" Adalah pertanyaan Atsumu. Es krim di tangan Osamu berhenti di antara bibirnya. Dengan mulut terbuka dan es krim setengah masuk, Osamu melirik Atsumu.

"Siapa bilang aku suka sama Nanami?"

"Kita hidup bareng bukan sehari dua, Samu."

Osamu tidak menjawab. Dia tidak mau menyangkal atau mengkonfirmasi apapun tentang perasaannya ke gadis berambut panjang itu. Itu bukan urusan Atsumu.

"Senpai," Manggil lalu bersin. Osamu, walaupun melihat Nanami pakai masker, tetap mundur teratur. Hasilnya gadis yang ada di depannya itu terlihat memicingkan mata tidak senang. "Tenang saja flu-ku nggak akan nular…"

"Tapi tetap saja…."

"Senpai payah ah. Jahat." Tidak ada rajukan di nada suaranya yang perlahan. Dan Osamu suka itu. Dia malas berhubungan dengan cewek manja. Tapi Nanami jauh dari manja dan clingy meski lebih muda beberapa tahun darinya.

"Kamu ngapain kemari? Sekarang dingin dan kau lagi flu, malah keluar rumah."

"Lah. Kan sekarang ulang tahun senpai."

Mata ngantuk Osamu melebar sedikit, "….Oh… kau ingat?" Orangnya sendiri lupa.

"….Iyalah, aku bikin remindernya. Sekarang ayo ikut aku."

"Kemana?"

Gadis itu menggumam tak jelas. Dan meski Osamu tak tahu mau diajak kemana, dia ikut saja. Berdua mereka menyusuri jalan kampus yang diguguri dedaunan keemasan. Dingin. Osamu baru ingat hal itu ketika matanya tertumbuk pada syal mocca yang Nanami pakai. Nanami berjalan lambat dengan sesekali melindungi wajahnya dengan syal. Hanya perasaan Osamu atau cewek itu kelihatan sedang ngantuk berat?

"Oi, Nanami, kau mau bawa aku kemana?"

"Tenang saja. Aku tidak akan merebusmu seperti cerita Hansel dan Gretel, kok…"

Ternyata mereka tiba di depan rumah kecil Nanami yang bagian depannya dipenuhi pot-pot tanaman. Osamu memberi Nanami tatapan curiga, main-main sih sebenarnya.

"Orang tuamu ada? Bawa-bawa cowok ke rumah…" Osamu berlagak skeptis.

"Pertanyaan apa itu?" jawab gadis itu dengan bibir manyun.

Mereka berdua masuk dan bingungnya Osamu, gadis itu langsung menggiringnya ke dapur. Di sana sudah ada adik dan ayah ibunya. Tampaknya mereka sedang siap-siap mau makan. Ada hotpot dan shabu-shabu segala. Osamu langsung lapar. Eh, tapi ini kan belum jam makan malam.

"Sudah ya, senpai. Nanti kalau makanannya siap, senpai makan saja."

Osamu belum menjawab apapun sudah ditinggal. Mata abunya melirik kikuk pada kedua orang tua Nanami yang hanya tertawa.

"Nanami suka bossy juga ya sama temannya. Suka semaunya, tanya tuh adiknya yang sering disuruh-suruh. Osamu-kun ayo duduk, sebentar lagi makanannya siap."

"Eh, iya," Osamu membungkuk, lupa tadi dia belum mengucap salam pada kedua orang tua gadis yang selama ini membantunya. Pemuda itu mengikuti gesture keluarga itu yang kini sedang sibuk memindahkan makanan ke mangkuk, tapi tetap saja walaupun Osamu mencoba nge-blend, dia kelihatan bingung.

"Ini… ada acara ya?" tanyanya canggung.

Tuan dan nyonya Fujiki berpandangan, "Nanami tidak memberitahumu?"

"Tentang apa ya?"

"Nanami ingin merayakan ulang tahun Osamu-kun, soalnya Osamu-kun kan klien pertamanya. Makanya dia belanja bahan shabu-shabu dari sore. Katanya Osamu-kun itu orang jauh, sayang kalau pas ulang tahun orang tua sama saudaranya tidak menemani. Makanya dia mau Osamu-kun makan di rumah."

"Oh…" Osamu tidak tahu harus menjawab apa. Harusnya dia tidak kaget dengan sifat Nanami yang ini. Anak itu suka run extra miles kalau buat mengurusi orang lain. Apa ya? Seperti guru TK. Osamu pernah melihat bagaimana dia dan teman sebayanya bergaul, dan Nanami bertingkah seperti induk mereka. Mengingatkan mereka makan. Meminjami mereka peralatan sekolah kalau mereka lupa (dan mereka sering sengaja lupa). Membenarkan syal teman ceweknya yang miring. Apakah ini naluri anak sulung? Osamu diam-diam membandingkan Nanami dengan Atsumu. Cih. Jauh. Kaya langit dan pantat panci.

"Eum….Kalau begitu, Nanami sendiri kemana, Fujiki-san?"

"Hm…palingan anak itu lagi tiduran. Badannya panas dari pagi tadi."

Di antara kelontang perjamuan makan, jantung Osamu rasanya berhenti.

Osamu berjalan pelan melewati pintu kamar Nanami. Gelap. Memang kadang saat demam lebih enak tidur dengan lampu dimatikan. Osamu meletakkan mangkuk berisi sup panas yang diperuntukkan pada Nanami di atas meja belajar. Pemuda itu sudah bukan lagi sekali dua ke kamar si gadis untuk keperluan kerjaan, jadi dia tidak canggung.

Setelah makan bersama tadi, orang tua Nanami menyuruhnya naik ke kamar anaknya saja waktu Osamu minta ijin menjenguk.

Suara kelotek tatami sepertinya membangunkan Nanami, terlihat dari selimutnya yang bergerak dan kepalanya yang miring ke arah Osamu datang.

"Shhh…" Osamu berbisik pelan ketika gadis itu menyibak selimutnya. Dirapikannya kembali selimut itu menutupi tubuh Nanami yang ramping.

Mata terang Nanami terlihat sedikit memantulkan sisa cahaya di kamar, namun gadis itu terlalu letih untuk bergerak.

"Dasar, sudah tahu sakit malah keluyuran." Osamu tidak buang waktu untuk mengomel, memanfaatkan kesempatan ketika Nanami tidak punya tenaga buat protes. Gadis itu hanya menggumam di tengah kantuk. Kemudian terpejam.

Osamu mendudukkan diri di pinggiran kasur, memperhatikan gadis itu memeluk guling. Tangan Osamu bergerak menyibak poni jingga Nanami. Hawa panas menyambutnya.

"Sudah ke dokter?" tanya Osamu pelan. Gadis itu mengangguk, malas buat bicara. Osamu tidak bertanya apapun lagi. Tangannya masih tinggal di kening Nanami, mengelusnya perlahan dengan sayang.

.dengan sayang.

Osamu terkesiap dengan realisasi yang datang dengan sangat lembut ini.

Jadi begitu ya? Sekarang Osamu sayang sama gadis ini. Sejak kapan?

Osamu teringat Nanami yang suka dengan tiba-tiba menyodorinya makanan saat mereka sibuk kerja. Lalu saat Osamu ujian dan malah Nanami yang terlihat ketar-ketir. Soalnya Nanami tahu Osamu hanya belajar sekenanya karena sibuk bikin pesanan acara kampus. Terus saat gadis itu bela-belain mampir ke arena tanding voli antar kampus padahal ada acara keluarga, hanya karena 'takut senpainya nggak ada yang dukung'. Nanami yang menemaninya mengantar pesanan ke pelanggan habis subuh…

Lalu perayaan ulang tahun Osamu barusan…

Osamu meraba pipi demam Nanami dengan ibu jarinya, seperlahan gerakan kupu-kupu terbang. Ia takut gadis itu terbangun.

Dan selama ini dia pikir dia adalah orang yang melakukan apa-apa sendiri. Padahal dia selalu dihujani dengan support dan perhatian.

Osamu beranjak dari kasur setelah membetulkan rambut Nanami yang menutupi sisi wajahnya. Dengan hati-hati dia menuju pintu.

"Senpai…"

Osamu berhenti di tengah jalan, melongok ke Nanami yang ternyata masih terpejam. Gadis itu memeluk gulingnya lebih erat, "Baju senpai tipis. Hati-hati… masuk angin…"

Osamu mendadak merasa ada yang membalut tubuhnya dengan selimut paling lembut dan paling hangat di seluruh dunia.

Hari ini sabtu dan Osamu ingin cuti sehari saja dari kerjaannya. Ia tidak ingin melakukan apapun. Guling-guling di kasur terdengar jadi ide yang bagus di kepalanya.

Tapi di kosannya yang secetar kosan di sinetron, ada Atsumu.

Sudah seminggu kakaknya jadi free rider di kosan Osamu. Kerjanya makan tidur sambil telponan sama teman setimnya di MSBY. Siapa namanya? Bokuto Kotarou? Yang mirip burung insomnia itu. Osamu bertanya-tanya kapan baliknya. Dan apakah pemain voli pro bisa leha-leha ongkang kaki seenak udel Atsumu? Osamu gagal paham.

Sekarang dia terjebak di akal-akalannya sang kakak yang otaknya mirip alien. Nanami bernasib tidak jauh beda. Osamu sudah pernah memperingatkan Nanami, kan, agar jangan terlibat terlalu jauh atau menanggapi sang kakak. Tapi tampaknya peringatan itu sudah Nanami lupakan. Dia malah sering sekali main sama Atsumu, membuat Osamu makin merasa seperti berjalan di atas kaca retak.

Karena Nanami terlihat semakin sering tertawa. Yang biasanya Osamu dan Nanami yang tek-tokan, sekarang ketambahan Atsumu. Segitiga ini bikin Osamu makin judes sama saudaranya. Atsumu juga sepertinya mengidap penyakit maso, tambah Osamu judes, tambah girang Atsumu. Mungkin kepalanya sering kena spike sama kaptennya di tim voli.

"Guys, karena sekarang weekend, kita main yang agak seru yuk."

"Agak seru? Memangnya kemarin malam kurang seru, Atsumu-paisen?" Jawaban Nanami bikin Osamu batal minum. Kalau Osamu tidak kenal Nanami, pasti dia mengira gadis itu punya innuendo waktu ngomong barusan.

"Liat konser dari layar laptop mana seru, Nanami?" Untuk sekali ini Osamu setuju sama Atsumu.

Osamu melihat kakaknya tanpa repot menoleh, "Tsum-tsum, aku nggak mau nanti ada polisi dateng ke kosan ya."

"Aku bukan boneka buntel punya Disney, Samu, jangan panggil aku Tsum-tsum!" Atsumu mulai tunjuk-tunjuk.

"Kalau gitu kupanggil lelaki kardus aja, mau?"

Nanami mundur di kursinya.

"Ki-kita main apa, paisen? Tadi katanya mau main?" Daripada dua raksasa di kiri kanannya baku hantam, mending Nanami alihkan perhatian mereka. Sungutan Atsumu berubah jadi seringai. Osamu mengernyit curiga.

"Akan aku jelaskan nanti sambil kita main. Sekarang, Nanami siap-siap kututup matanya ya."

"Hah?!"

Kan sudah dibilang jangan ditanggapi. Nanami berani bertaruh pasti itulah yang ada di otak Osamu sekarang. Gadis itu kini duduk tidak berani bergerak. Padahal tangannya ingin meraba, tidak, ingin menarik kain yang menutup matanya. Atsumu memang gila. Nanami bergidik. Permainannya juga bikin jantungnya jumpalitan ketakutan.

"Jadi permainannya gini," Atsumu tidak berusaha menyembunyikan senyum miringnya. Sakit, vonis Osamu. "-di permainan ini Nanami yang jadi bintangnya. Nanami sudah tahu kan kalau muka kami mirip. Cuma beberapa orang yang bisa membedakan kami. Sekarang, inti permainannya adalah," Pause sejenak buat efek dramatis, "Nanami harus nebak mana yang Atsumu ganteng dan mana yang Samu kampret dengan mata tertutup."

Osamu langsung mau menentang permainan berbahaya ini. Nggak mungkin yang melibatkan Atsumu nggak berbahaya. Tangan Osamu terjulur mau membuka penutup mata Nanami, tapi lehernya keburu dikunci sama Atsumu.

"Eits, bro. Aku tahu kau nggak setuju. Tapi aku jamin, Samu pasti akan berterima kasih padaku nanti."

"Senpai? Paisen?" Nanami memanggil dengan bingung. Sementara Osamu yang tidak puas didorong ke belakang oleh Atsumu.

"Kita mulai ya!" Atsumu mengumumkan secara sepihak. Atlet satu itu berjongkok di depan Nanami, masuk ke area jangkauannya. Tangan gadis itu mengenai wajahnya. Bibir Nanami mengernyit ragu begitu meraba wajah di depannya. Hapal kontur juga percuma. Kan wajah mereka sama.

Osamu yang memperhatikan wajah Atsumu digerayangi Nanami mulai nanar. Belum pernah wajahnya disentuh sama Nanami dengan hati-hati seperti itu. Hatinya panas. Apalagi waktu Atsumu nyengir mengejek ke arah Osamu, sementara tangan Nanami diarahkan Atsumu ke bawah, yaitu ke dadanya-

Osamu kebakaran. Dijenggutnya kepala sang kakak dengan emosi. Atsumu kalang kabut, digelandang mundur tapi malah sambil ketawa-ketawa kurang waras. Tawanya terdengar seribu kali lebih menyebalkan dari biasanya sehingga Osamu harus menendang Atsumu demi menghentikan tawa durjananya.

"Hentikan ini Atsumu," desis Osamu mengancam. Kerah kaos Atsumu di genggaman tangannya.

"He? Berhenti? Sayang tau. Apa kau tidak mau mencobanya?" Atsumu balik berbisik di sela derai tawa.

Osamu blank. Suara Atsumu terdengar seperti setan. Setan yang satu suara dengan gelombang otak Osamu.

Atsumu angkat tangan meski mukanya masih angkuh. Dia memilih mundur dan kabur ke dapur. Di kursi di depan Osamu, Nanami masih diam. Dia masih berusaha mencerna apa yang terjadi. Lalu tangannya kembali terjulur, membuat Osamu makin dipermainkan dilema.

…Nanami mengira permainan ini masih berlanjut.

Osamu berlutut di dekat Nanami, menatap dalam-dalam ke secarik kain yang dibaliknya ada mata cemerlang gadis itu. Dengan ritme jantung yang tidak karuan, tangan Osamu gemetar menangkap tangan Nanami, lalu menuntunnya ke wajah pria muda itu.

Osamu sudah sering memperhatikan wajah Nanami, tapi baru kali ini dia berhadapan dengan ekspresi lugu gadis itu. Apakah ini benar? Apakah ini boleh? Karena Osamu tidak pernah menatap Nanami selama yang dia lakukan sekarang.

Osamu memiringkan kepalanya, tenggelam dalam belaian penuh rasa ingin tahu dari Nanami. Lalu bisikan itu datang lagi, memprovokasinya, mempermainkan keinginannya yang terdalam. Osamu kembali meraih tangan gadis itu yang masih bermain dengan rambut kelam Osamu, menuntunnya turun ke leher, dimana pembuluh darah Osamu berdenyut tak sabar.

Cowok itu menelan ludah dengan gugup. Tangan Nanami masih dituntunnya perlahan, turun ke dadanya yang berdegup dengan serakah. Serakah akan gadis ini…

"Senpai…?"

Osamu tertegun melihat bibir Nanami bergerak, memanggil lirih dirinya.

"…Osamu senpai…?"

Osamu menarik kain penghalang mata Nanami.

Kilatan cahaya menghujam penglihatan gadis itu. Namun sensasi itu kalah dengan apa yang Nanami lihat sekarang. Di depannya. Osamu memandangnya dengan sorot mata yang tidak pernah Nanami lihat sebelumnya. Lalu tangan Nanami yang terlibat dengan kaos depan Osamu, ditekan oleh Osamu ke dada hangat pria muda itu.

Senja mekar di pipi dan sekujur wajah Nanami. Sementara di hadapannya mata Osamu terlihat makin kelam dan kuat.

"Ara-ara," Suara menyebalkan Atsumu datang lagi. "Osamu didiskualifikasi."

Jadi Osamu kalah.

Dalam permainan yang dicetuskan Atsumu, dalam mengontrol emosinya, dalam mempertahankan status hubungannya dengan Nanami.

Semua terjadi dalam sehari.

Dia kalah karena kata Atsumu dia melanggar aturan. Aturan yang mana?!

Dia kalah dalam mengontrol emosinya. Osamu malah tanpa pikir panjang kalas dengan hasratnya sendiri.

Dia kalah dalam mempertahankan status hubungannya dengan Nanami. Yang terakhir ini Osamu berharap dia salah. Semoga ini hanya halusinasi saja. Semoga dia overthinking saja.

Jemari Osamu menyisir rambutnya dengan kasar. Tapi kemarin Nanami pulang dengan terburu-buru tanpa melihat wajahnya. Apakah itu pertanda buruk? Osamu tidak tahu, tapi yang pasti itu bukan pertanda baik. Selama beberapa tahun ini dia dan Nanami berada dalam lingkaran pertemanan yang aman (kalau tidak menyedihkan seperti kata Suna). Friendzone memang aman tapi tidak akan membawa hubungan kemana-mana. Tahu-tahu kapal percintaannya karam, aja, tanpa pernah bergerak sama sekali.

Yang tersisa sekarang adalah Osamu sendiri. Dengan status kalah. Bahkan dia yang sudah berteman lama dengan Nanami juga kalah saing dengan Atsumu. Ah, ya. Atsumu. Baru sekali datang saja dia sudah membuat dinamika mereka porak-poranda. Tidak. Ini bukan salah Atsumu. Ini adalah salahnya sendiri yang tidak berbuat apapun buat Nanami. Semua ada di kepalanya dengan keraguan datang silih berganti.

Namun tiap Nanami bersama Atsumu, Osamu akan merasa semua kekalahan dan inferioritasnya datang berebutan.

"Osamu senpai… tidak ada di sini kan?"

Osamu yang dari tadi ada di kamar dan mau ke dapur kini buru-buru bersembunyi di balik tembok koridor penghubung kamar.

"Yup. Dia tidak ada di sini. Kau kangen denganku?" Adalah suara Atsumu yang kepedean.

Mata Osamu melebar terkejut.

Sementara itu, Nanami tertawa tertahan.

"Osamu senpai… tidak ada di sini kan?" Nanami bertanya ragu-ragu.

"Yup. Dia tidak ada di sini. Kau kangen denganku?" Adalah suara Atsumu yang kepedean.

Nanami menahan tawanya. Saudara senpainya itu suka melucu. Tapi tanpa diketahui orang, gadis itu sering berpikir sebatas apa dia bisa bergaul dengan setter andalan Jepang itu, makanya dia hati-hati.

"Ngomong-ngomong, kenapa Nanami ke sini? Tumben ketika tidak ada Osamu, lagi."

Nanami menunduk. Bagaimana menjelaskan kepada orang luar tentang kejadian kemarin yang bikin canggung?

"Aku… cuma mau menyerahkan proposal dari kampus buat support acara bulan depan. Minta tolong dikasi ke Osamu-senpai ya, paisen."

"Benar? Kenapa tidak ngasih ke orangnya sekalian?"

Nanami berdehem, tampak sekali di mata Atsumu kalau gadis itu sedang gugup, "A-aku tidak mau mengganggu Osamu senpai… lagipula sepertinya panitianya sedang perlu kepastian secara cepat."

"Hoo?" Atsumu masih senyum. "Kalau begitu kenapa tidak lewat email atau pesan saja?"

Dalam tertunduknya, Nanami makin salah tingkah.

"Kau sebenarnya ingin ke sini, kan?" Desak Atsumu.

"Paisen…" Nanami tertawa hambar, "Bisa tidak usah menanyakan yang satu itu, kan?"

Sekarang mulai menarik, pikir Atsumu di balik wajah santainya.

"Ya sudah kalau gitu duduk dulu."

Yah… sama saja bohong kalau Nanami duduk dulu. Resikonya ketemu Osamu malah makin besar. Padahal dia ke sini kan… cuma buat nitip ke Atsumu saja… tanpa ketemu senpainya.

"Tidak usah. Aku pulang dulu saja, paisen. Di toko masih banyak kerjaan."

"Heh? Malah buru-buru. Besok aku mau balik loh."

"Hah?! Balik? Cepat sekali." Nanami sejenak melupakan resah hatinya.

"Ya kan aku masih banyak urusan sama tim."

"Oh…." Nanami menjawab singkat. Wajah penuh perhitungannya mendadak keluar. "Kalau gitu paisen ke sini lagi kapan?"

Atsumu tertawa geli, "Mana mungkin dalam waktu dekat? Minggu depan saja belum tentu aku ada di Jepang. Kenapa?" Atsumu mendekat. Langkah-langkahnya tampak berbahaya. "Kau ingin bertemu denganku lagi?" tanyanya seduktif. Biasanya caranya ini akan berhasil membuat para wanita kalang kabut dan merona merah, namun Nanami hanya mengangguk jujur, tanpa menyembunyikan apapun.

"Paisen orangnya seru. Aku harap paisen kalau nggak sibuk sering ke sini." Jawabnya dengan tidak dibuat-buat. "Temani adikmu sering-sering, paisen."

Atsumu garuk pipi. "Menemani Samu? Dia kan dah gede."

Nanami tertawa, "Tapi kalau sama kakaknya dia bisa main dan nggak serius melulu. Pikirannya nggak kerja, kerja, kerja terus." Nanami menggigit bibir. "Kalau ada paisen, aku nggak takut dia kesepian."

Cengiran Atsumu makin mengembang. Sepertinya dia menemukan mainan baru, "Memangnya kalau dia kesepian kenapa? Kan ada Nanami. Lagipula Nanami sama Samu kan dekat."

"Ti-tidak-kami nggak sedekat itu!" Nanami mulai merasa gugup kembali, "Di antara kami nggak ada apa-apa kok."

"Oh… padahal kukira kalian pacaran."

Ucapan sekenanya dari Atsumu membuat Nanami nyengir perih. "Mana bisa….?"

Atsumu angkat alis. Apakah itu barusan kekecewaan di suara Nanami?

"Yah, kalau kau bukan pacarnya baguslah," Atsumu mendekat kembali. Dengan posturnya yang tinggi dan besar, dia dengan gampangnya mengintimidasi dan memberi kesan dominan. Gadis di depannya ini bukan pengecualian buat Atsumu untuk tidak bertindak kejam di permainannya, "Kalau begitu kau mau jadi pacarku?"

Di balik persembunyiannya, wajah Osamu menggelap.

Sementara di benderangnya siang, Atsumu senyum-senyum dengan penuh percaya diri. Dirinya tidak melihat penolakan di mata Nanami. "Yah, aku tidak tahu kau menyukai Osamu atau tidak, tapi kalaupun kau menyukainya, tidak perlu patah hati kalau dia tidak menanggapimu. Wajah kami kan sama. Aku mau kok sama Nanami."

Di luar dugaan, Nanami bertopang dagu seolah mempertimbangkan sesuatu, "Memang benar sih, wajah kalian sama. Kalau paisen tidak mengecat rambut aku juga akan bingung membedakan kalian."

Atsumu angkat bahu.

Sementara Osamu menyandarkan kepala ke tembok. Mata terpejam dalam lelah. Hatinya hancur lebur. Berakhir sudah semuanya…

"Tapi kau bukan Osamu senpai, Atsumu-san," terdengar jawaban pelan dari Nanami, "Yang kusukai dari dulu hanya Osamu senpai.….sampai sekarang juga hanya dia…"

Osamu membuka kembali matanya dan menatap ke dinding, fokus pandangannya mendadak ngeblur. Kupingnya tidak salah dengar? Tadi Nanami bilang… bilang kalau…

Frekuensi detak jantung Osamu mulai terburu, lalu makin cepat, makin kencang, hingga rasanya tidak bisa diredam oleh tulang rusuknya sendiri.

"Kalau begitu kapan kau mau nyatain ke adikku?" Atsumu rasanya ingin bertepuk tangan melihat Nanami shock, seolah Atsumu menyuruhnya naik ke gunung es di Himalaya saja. Gadis ini tidak buruk juga dalam menghiburnya. Atsumu cekikikan di dalam kepala.

"Eh? E-eh? Nyatain?" Nanami menggeleng keras berkali-kali. Lalu mengalihkan kegugupannya dengan tertawa kecil, "Mana mungkin aku nyatain? Paisen ada-ada saja. Lagipula aku tipe perempuan yang nggak mau nyatain duluan. Selain itu aku nggak mau nyatain kalau nggak ada jaminan aku diterima sama orang yang kusuka-" Nanami menutup mulutnya dan menunduk dalam-dalam. Mata mau keluar. Wajah terlihat kacau begitu sadar dia sudah meracau. Sedangkan lawan bicaranya hanya tertawa geli seolah masalahnya adalah hal yang akan selesai saat menjentikkan jari.

"Serius loh. Cinta itu harus dibicarain. Nanami juga harus berani nyatain lo," Atsumu bersidekap. Mata berkilat jenaka, "Bagaimana kalau sekarang?"

Apa-apaan paisen-nya itu? Ngajak bercanda di saat dirinya lagi kacau balau begini. Nanami mendadak diam. Soalnya Atsumu walaupun sedang berhadapan dengan Nanami, dia tidak sedang melihatnya, melainkan lurus ke belakang gadis itu.

Keringat dingin mengucur. Nanami mulai merasakan diam yang mencekik. Katakan tidak ada orang di belakangnya. Lamat-lamat dirinya berbalik dan bertemu muka dengan sosok yang ingin dihindarinya.

Osamu Miya.

Darah Nanami seolah membeku bersama sekujur tubuhnya.

"Osamu senpai…" suara Nanami hampir tak terdengar karena tercekat. Mata membulat tak percaya karena ini terjadi padanya. Bagaimana dia bisa melakukan kebodohan? Bagaimana dia mengacaukan semuanya?

Tiba-tiba kepala gadis itu seolah ada yang menghantam dengan semen.

Osamu…

Osamu pasti dengar…

Ketakutan makin menjalari belakang leher Nanami.

Di saat seperti ini tanpa bisa tertahan Nanami merasa sangat kecil. Di antara dua orang dewasa yang mengapit dirinya, Nanami merasa bukan apa-apa. Apalah dirinya? Seorang anak kecil yang menyimpan rasa pada senpainya. Yang Nanami ikuti sampai beberapa tahun. Sampai dia masuk ke universitas yang sama. Bahkan Nanami sering menghadiahinya dengan perhatian kecil yang remeh.

Selama ini dia bisa memperhatikan Osamu dari dekat, menghujaninya dengan cinta. Namun senpainya itu tak curiga. Sampai situ Nanami sudah cukup puas. Terkadang Nanami merasa menjadi penjahat yang menggunakan haknya dengan semena-mena karena mencurahkan perasaan secara sepihak.

Sekarang dia ketahuan memiliki perasaan yang memalukan ini. Apa yang Osamu pikirkan tentang dirinya sekarang? Pasti senpainya itu merasa dikhianati. Mungkin juga kecewa. Mungkin marah. Mungkin…

Pandangan Nanami mengabur bersamaan dengan dia merasakan rasa dingin air mata di pipi, meluncur turun ke dagunya dan menetes.

Osamu tidak akan memandangnya dengan sama lagi.

Osamu tidak akan mau bersamanya lagi.

Osamu akan mencari desainer baru yang bisa bekerja secara profesional tanpa melibatkan perasaan.

Osamu akan-

Osamu mendekati Nanami, membuat gadis itu merentangkan kelima jarinya dan mencegahnya bergerak lebih dekat. Namun kali ini Osamu tidak mempedulikannya. Pemuda itu tiba di sisi Nanami dan menariknya dalam pelukan. Belum selesai Nanami terkejut, Osamu menunduk dan mencium pipinya. Bahkan setelah semua letihnya datang, ciuman Osamu di pipi Nanami masih belum memudar.

Osamu memandangi gadis yang kini duduk di kasurnya hampir tanpa kedip. Sebenarnya Osamu merasa kejam. Nanami pasti risih dipandangi seintens itu. Dia masih menunjukkan kegugupan yang tadi terlihat di ruang tamu. Tapi selebihnya Nanami terlihat lebih tenang. Air matanya sudah mulai kering.

Mungkin canggung karena pengakuannya yang tanpa persiapan. Di hadapan Osamu, lagi.

Ah, ya. Cinta ya.

Osamu jadi seperti melihat gadis itu untuk pertama kali. Dia jadi bisa melihat semua harapan dan kasih sayang tersembunyi gadis itu. Nanami selalu memikirkannya. Entah jauh atau dekat, Nanami selalu memikirkan kondisi Osamu. Bahkan saat ada Atsumu pun perhatian Nanami buat Osamu.

"Nanami."

Gadis itu mendongak. Matanya penuh harap. Bahkan setelah ciuman di pipi yang Osamu berikan, Nanami masih terlihat gamang. Osamu tersenyum. Betapa miripnya mereka…

"Kau percaya kalau tanpa Atsumu aku kesepian?"

Nanami terlihat bingung pembicaraan mereka malah ke situ, "Eum… habisnya… senpai kalau sama paisen kelihatan beda sih."

"Beda gimana?"

"Senpai kelihatan lebih bersemangat. Walaupun senpai sering mengomeli kakak senpai, tapi senpai terlihat jauh lebih baik daripada saat sendiri."

Osamu melihat Nanami dengan aneh. Alisnya terangkat. Seperti guru yang mendengar jawaban salah dari muridnya. "Aku nggak pernah kesepian." Ujung telunjuk Osamu menyentuh hidung Nanami. "Mana mungkin kesepian kalau ada Nanami."

Tiba-tiba perasaan Nanami kembali jadi berat. Osamu bersikap sangat baik padanya. Terlalu baik. "…Senpai… seperti ini… apakah tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa kenapa?"

Nanami menunduk, "…tidak apa-apa kalau aku suka padamu?" Suara Nanami terdengar kalah. Sang lawan bicara jadi dilema antara mau tertawa atau meringis miris.

'Bahkan sampai tahap inipun kami masih mirip, ya.' Pikir Osamu sambil mengelus kepala Nanami. "Bagaimana ya?" Osamu bersikap serius, "Kalau kerja sambil pacaran akan banyak distraksinya. Aku agak pesimis usaha ini akan jalan semulus dulu-dulu."

Lagi. Keinginan Osamu terbelah antara ingin terbahak atau memberi Nanami pelukan hangat yang menenangkan. Soalnya wajah Nanami terlihat seperti seorang anak kecil yang kecewa.

Osamu menyerah. Osamu tidak kuat melihat gadis ini dia permainkan dengan kebohongan yang barusan. Kembali Osamu merengkuh Nanami, membuat gadis itu terkesiap. "Tapi kurasa tidak apa-apa kita bersama. Aku sudah tergila-gila padamu. Kurasa kalau kau tidak ada di timku atau hidupku lagi itu akan terlalu kejam buat kita berdua." Bisiknya di telinga gadis itu.

Nanami tidak menjawab, tapi dari caranya memeluk erat Osamu dan kaos depan Osamu yang basah karena air mata, dia tahu kalau Nanami setuju dengannya. Dengan tidak tega, Osamu mengecup pelan pipi gadis itu untuk menghentikan tangisnya. Lalu pipi satunya. Lalu pucuk hidungnya. Keningnya. Bibirnya…

Wajah Nanami seketika hangat. Namun ketika dia berharap ciuman kecil Osamu masih berlanjut, gadis itu dihadapkan dengan udara yang dingin.

Nanami membuka matanya. Osamu masih memeluknya, namun ekspresinya terlihat kaku.

"Kenapa, senpai?" Kok berhenti? Yang terakhir hanya diucapkan dalam hati oleh Nanami.

"Ti-tidak apa. Nanami, sepertinya kau harus segera pulang."

"Hah?"

Bibir Osamu merapat. Dia berdehem. Mata tidak fokus ke Nanami. Bilang tidak ya?

"Celanaku jadi sempit." Ucap Osamu akhirnya.

Nanami menatap Osamu dalam diam. Belum nyambung. Tiga detik kemudian gadis itu terlonjak dari duduknya saat pikirannya mulai terang.

"A-aku p-pergi dulu kalau begitu!"

Nanami ingin terbang sekarang juga buat menyembunyikan pipi dan telinga yang merona parah.

Tidak sampai semenit Atsumu muncul dan meraba daun pintu kamar adiknya. Dengan senyum iblis, pria muda itu nempel ke daun pintu dan menyapa dengan suara diseksi-seksikan.

"Samu masih sempit nggak celananya? Kakak bantu gantiin celana, cini tayang."

Atsumu ditendang.

Osamu berdiri sambil menyilang kaki di depan pintu rumah Nanami, menunggu Nanami siap untuk ke acara comic-con bersama dengan Osamu, kekasihnya.

Kekasih…

Osamu tidak bisa menahan senyum.

Kalau dipikir mereka jadian dengan cara yang ganjil. Dan itu tidak lepas dari campur tangan Atsumu. Walaupun metode Atsumu sering perlu dipertanyakan, Atsumu kalau sudah maunya ya pasti dilakukan. Termasuk campur tangan sama masalah percintaan adiknya. Osamu tahu kalau Atsumu pasti sadar kalau dirinya terlalu pasif. Makanya kakaknya itu gemas.

Atsumu yang semaunya dan panasan.

Osamu yang kalem tapi keras kepala.

Mau tidak mau Osamu jadi ingat waktu dirinya memutuskan untuk tidak mau menempuh karir di voli dan menjadikannya sebatas hobi saja. Kakaknya marah besar.

Waktu itu Osamu pikir Atsumu egois dan maksa. Sekarang sih Osamu masih berpikir begitu. Namun saat suatu benda ditimpa dengan cahaya dengan sudut yang berbeda, Osamu bisa melihat gambar yang lain. Mungkin bahkan pesan yang sebenarnya yang ingin ditunjukkan dari gambar itu. Mungkin Nanami benar. Mungkin Osamu sebenrnya kangen dengan keruwetan saat Atsumu masih bersamanya. Mereka merupakan dua sisi dari satu bagian yang sama, dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Mungkin sama seperti jembatan. Seperti Elsa dan Anna.

"Senpai."

Osamu menoleh, tahu kalau dia yang dipanggil oleh suara renyah itu. Mau tak mau mata abu-abunya membulat.

Nanami berdiri di hadapannya dengan canggung. Rambut jingganya yang panjang dikepang dan digelung. Dress hijau sederhana dengan motif helai bunga membalut tubuhnya.

Mulut Osamu sampai membulat. Telunjuknya mengarah ke Nanami, "Anna of Arendelle?"

Nanami masih kikuk tapi cengirannya mengembang, "Kata paisen, senpai suka sama Anna."

Osamu rasanya ingin mengacungkan jempol ke Atsumu sekarang juga kalau bocah besar itu ada bersama mereka.

"Kalau tahu kau akan cosplay jadi Anna kita nggak usah ke comic-con. Tapi ke kamar kosanku saja." Osamu spontan.

"Eh?"

"Eh?"

Nanami menggebuk lengan Osamu. "Jangan ketularan mesumnya paisen!"

Osamu tertawa geli. Dan di sebelahnya gadisnya itu juga tertawa dengan riang. Jemari mereka kemudian bertaut sebelum mereka berjalan bersama menuju stasiun kereta. Sepanjang jalan Osamu masih mengulum senyum. Ternyata, hidup jadi adiknya Elsa tidak terlalu buruk juga.

FIN

Notes:

Woah.

I made it.

Akhirnya proyek buat nulis fanfic tentang Osamu selesai juga. I really like him. Entah dia in character atau malah OOC yah? Yah, modal baca manga doang sih.

Saya nulis ini karena lagi suka-sukanya sama mas Osamu yang kalem-kalem ngantuk. Saat liat Osamu pertama kali, man, this cool guy hits different.

Dan siapa yang merasa asgj# $#%$% pas Osamu ngomong 'Arara' di animenya? Anybody? Only me? Okay… #nangis.

Ramblingan di awal fic tentang Frozen memang seriusan cuma ramblingan. Lol. Malah jadi benang merah di fic ini.

Dan, ohya, sebelum lupa, di sini saya nulis kalau ada rasa insecure di hati Osamu terhadap Atsumu. Ini cuma karangan saya kok. Terus terang, saya pribadi saat baca tentang Osamu di manga nggak ada kesan kaya gitu. Si dede Osamu tetep confident dan badai. But, this fic butuh drama. Hehe.

Hope you like this fic, minna.

And please leave some reviews if you like it here so I'll know how's your feeling.

XOXO

Tall-and-handsome