Aizetsu x Genya
Part 1. REINCARNATION DESTINY
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)

.

"namaku Shinazugawa Genya, ingatlah itu selalu! Karena itu adalah nama pria yang membunuhmu!"
Setelah pertarungan sengit antara manusia dan demon di desa pembuat pedang, dan akhirnya pria bernama Shinazugawa Genya dapat mengalahkan demon bernama Aizetsu. Ia menjalani kesehariannya dengan melatih dirinya agar menjadi kuat. Namun setelah berapa lama, pertempuran melawan Muzan pun dimulai. Disanalah, ia gugur dalam pertarungan melawan Jougen satu, Kokushibo. Genya gugur menjadi butiran abu dan jasadnya tidak berbekas. Namun, setelah meninggal, mereka bereinkarnasi di kehidupan berikutnya, itulah yang manusia-manusia di dunia ini percaya.

.
Tahun x bulan Y, seorang pria berumur enam belas tahun, berambut Mohak terbangun dari tidurnya. Alarmnya berbunyi kencang sehingga pria ini mematikan secepat mungkin. Pria ini mulai bangun dari kasurnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk siap-siap.
"Genya! Sarapan!" Sapa seorang perempuan dari lantai bawah memanggil anak keduanya.
Genya bersiap untuk pergi ke sekolah dengan semangat. Ia turun dari lantai dua dan mendapati ibu dan kelima adik-adiknya sedang sarapan.
"loh? Sanemi nii chan kemana?" Tanyanya sembari duduk di bangkunya dan menyentuh sarapannya.
"Sanemi sudah berangkat sejak tadi, katanya ada yang harus ia lakukan sebelum anak-anak sekolah banyak yang datang" ucap sang ibu. "sarapannya, Sanemi yang buat loh, ayo cepat dimakan"
Genya menikmati sarapannya dengan semangat.
"seperti biasa, sarapan buatan niichan memang enak"
"benar kan!" Ucap Sumi, adik perempuannya tertawa dan menyetujui. "masakan Sanemi niichan memang paling enak"
Semua menyetujui dan tertawa. "ayo jangan bercanda! Nanti telat loh! Cepat habiskan makanannya"
''baiiiikk~" jawab keenam anak tersebut dan berusaha menghabiskan makanannya dalam sekejap.
"ibu, kami berangkat" ucap mereka berbarengan dan berangkat ke sekolah masing-masing. Genya mengkecup pipi ibunya sebelum berangkat.
Genya berlari ke sekolah dengan semangat agar tidak telat. Ia bertemu dengan ketiga temannya sedang berjalan bareng kearah yang sama.
"Tanjirou! Zenitsu! Inosuke!" Sapanya. "sup!"
"Genya?! Pagi"
"yo!"
"pagi, Genya!" Sapa ketiga orang itu. "Genya sudah buat PR sejarah?"
"sudah dong! Tapi aku ga yakin sama jawabannya"
"eh? Memangnya kita ada PR sejarah, Monitsu?"
"jangan bilang kau lupa sama PR yang dikasih Rengoku sensei, ya, babi?" Pekik Zenitsu. "Aku ga mau bantuin kamu kalau kamu sampai di hukum!"
Genya tertawa. "Hahaha kalian ini masih pagi sudah bikin masalah saja"
Mereka ngobrol sampai ke kelas mereka. Sesampainya di kelas, Zenitsu memberikan buku PR-nya ke Inosuke agar ia tidak dihukum.
"Ngomong-omong, hari ini kalian bawa bekal?" Tanya Zenitsu.
"aku sih nggak" jawab Inosuke dengan pedenya.
"aku bawa sih hari ini aku yang buat bekalnya" ujar Tanjirou. "sekalian bikin untuk adik-adikku juga"
"Kalau Genya?"
"uhm, kebetulan aku ga bawa hari ini karena tadi aku sedikit kelamaan ngobrol dengan adik-adikku sehingga aku lupa bikin, dan ibuku juga tadi pagi kebetulan sibuk sih" jawabnya. "yah aku nanti pergi ke kantin bareng Inosuke"
''nanti kita makan sama-sama saja, kita tunggu kalian"
"eh, ga apa! Kalian makan saja duluan" seru Genya. "ngomong-ngomong kalian sudah belajar untuk ujian matematika nanti?"
"memang ada ujian?"
"apa sih yang ada di otakmu, babi? PR saja tidak ingat, dan ujianpun juga tidak kau ingat?!" Cetus Zenitsu kesal dan suaranya memekik. "cepat kau salin PR dariku!"
Tanjirou dan Genya tertawa melihat Zenitsu dan Inosuke bertengkar.
Pagi itu begitu sangat menyenangkan dan cerah. Genya mengikuti pelajaran seperti biasanya dan hari-harinya seperti biasa.
Baginya hal ini sudah cukup memuaskan dan menyenangkan. Apalagi yang mau ia keluhkan? Tidak punya pacar? Yah Genya tidak pandai bergaul dengan makhluk bernama "wanita", jadi di umur enam belas ini kalau dia belum punya gadis dengan sifat seperti itu, wajar bukan? Sebenarnya ada gadis yang ia suka dan itu anak sekelasnya, "mob-chan", tapi karena Genya pemalu, ia tidak pernah mendapatkan gadis itu. Baginya cukup hanya memandang, ia sudah bahagia.
Bel istirahat siang berbunyi, Inosuke dan Genya pun pergi ke kantin bersama. Mereka mengantri untuk membeli makanan
"Bu! Roti mi nya beli lima!" Teriak Inosuke semangat. Ia membeli lima buah roti mie.
Genya dengan suara kecil membeli 1 buah saja.
"oi, Jangen! Beli minum di kotak itu dulu ya!" Ucap Inosuke saat jalan balik ke kelas melihat mesin penjual otomatis.
"uh, namaku bukan Jangen!" Protes Genya kesal, namun ia menyetujui permintaan temannya.
Mereka berencana membeli minuman di mesin penjual otomatis. Genya mencari uang recehannya di dompetnya, namun saat ia ingin memasukan uang tersebut, ia terbentrok dengan tangan seseorang yang juga ingin memasukan uangnya.
"eh?!" Ucap mereka berbarengan dan mereka saling menatap.
Genya melihat seorang cewek berambut panjang dengan wajah yang tampak sedih menatap kearahnya. Genya yang payah berhubungan dengan cewek, langsung panik dan kalang kabut.
"a- ah maaf, silahkan duluan" ucapnya.
"tidak, kamu saja duluan" jawab cewek itu dengan sedih. Genya merasa tidak enak hati saat mengetahui bahwa gadis disebelahnya tampak sangat sedih.
"ah, tidak apa-apa, wanita duluan" ujarnya malu-malu. Gadis itu menatap Genya seketika lalu memasukan koinnya. Ia membeli dua susu strawberry dan memberikan satu kepada Genya.
"eh?" Genya bingung dengan pemberian gadis itu.
"anggap saja sebagai tanda terimakasihku telah didahulukan" ucap gadis itu dengan wajah suramnya. Ia membalikkan badannya dan berjalan ke kelasnya.
"oi Genta, kau sudah selesai membelinya?" Tanya Inosuke. "ayo cepat balik ke kelas"
Genya masih menatap gadis itu dengan perasaan penasaran namun ia harus segera balik ke kelas. Ia penasaran mengapa gadis tadi tampak sedih sekali, tapi ia tidak tahu gadis itu anak kelas berapa dan siapa.
Genya pergi ke kelasnya bersama Inosuke lalu makan bersama. Ia tiba-tiba terbayang dengan wajah gadis yang sedang sedih tadi. Merasa tidak enak, Genya berpikir apakah ini salahnya, gadis tadi tampak sedih. Mungkin karena ia menabraknya kencang atau mungkin karena merasa tidak enak akhirnya ia dibelikan susu oleh gadis tersebut hingga akhirnya gadis itu tampak sedih. Genya menjadi kepikiran.
"oi pelajaran berikutnya gurunya tidak ada, kita disuruh belajar sendiri!" Teriak seseorang dari pintu dan disahut anak-anak dengan sorak-sorai.
"eh? Gurunya ga ada? Asik bisa tidur" seru Inosuke girang.
"kau selalu tidur dikelas" protes Zenitsu.
Bell berbunyi dan waktunya kelas belajar, namun kelas mereka tidak ada gurunya. Inosuke sudah jelas tidur dikelas sedangkan yang lain ada yang ngobrol dan ada yang belajar sendiri. Genya membuka buku matematikanya dan berusaha untuk mempelajari bahan ujian berikutnya.
"wah lihat anak kelas dua sedang olahraga!" Ucap seseorang. "cewek-ceweknya cantik-cantik ya"
Genya mendengar percakapan orang tersebut dan melihat kearah lapangan. Ia mendapatkan gadis yang sedih tadi sedang berdiri sendirian di tepi lapangan. Genya menatap gadis tersebut dengan heran.
"apakah dia di bully?" Pikirnya tanpa sadar menatap gadis itu terus-terusan.
"Genya sedang melihat apa?" Tanya Tanjirou menghampiri dan melihat kearah lapangan juga.
Genya panik dan gugup. "a- ah nggak aku cuma melihat gadis itu sendirian saja di tepi lapangan tidak ditemani oleh gadis lain"
"hmm?"
"aku berpikir, dengan wajah yang murumg begitu, apa ia dibully teman-temannya?"
"ah? Tapi beberapa orang mendekatinya tuh"
"hmm? Iya ya?" Genya begitu penasaran dan berpikir apa memang salahnya.
"jarang-jarang Genya melihat cewek?" Tanya Zenitsu.
"a-ah- ah nggak! Aku hanya merasa tidak enak, gadis itu tadi sampai membelikanku susu strawberry ini" wajah Genya memerah padam karena panik. "kupikir ia melakukannya apa karen takut atau bahkan bagaimana"
"heee? enaknya Genya dibelikan cewek"
"sekarang jadi berpaling dari mob-chan?"
"apa sih kalian ini? Bakatare!" pekiknya kesal dan wajahnya memerah padam.
Hari-hari Genya dilalui dengan seperti biasa penuh canda dan tawa dengan ketiga temannya dan seperti biasa Genya sangat malu dengan perempuan.
Suatu hari, saat ia sedang berjalan di lorong sekolah, ia melihat punggung gadis yang kemaren membelikan susu strawberry. Dengan memberanikan dirinya, Genya menyapanya.
"anu!" Panggilnya dengan sedikit meragu.
Gadis itu menatap Genya dengan ekspresi biasa.
"yang kemaren, terimakasih" ucapnya. "anu, kalau boleh tau-"
"hmm? Apa kita pernah bertemu?" Tanya gadis itu bingung tapi tersenyum lebar. Genya terdiam malu dan bingung.
"kemaren kita bertabrakan di depan mesin penjual otomatis-"
"Urogi, Sekido mencari-" gadis dengan wajah murung itu datang menghampiri kembarannya dan tersentak menatap kearah Genya. Genyapun kaget melihat wajah gadis itu mirip sekali.
"eh? A- ah?!" Genya mulai tampak sangat malu dan iapun kabur "maaf megganggu! Permisi!''
Genya lari begitu saja meninggalkan mereka berdua.
"kenalanmu?'' Tanya gadis bernama Urogi tersenyum.
"nggak"
"dia sempat mengucapkan terimakasih atas yang kemaren" Urogi tertawa dan balik ke kelasnya. 'bertabrakan? Aku bahkan baru pertama kali melihat si wajah preman itu"
"..." gadis berwajah murung itu masih menatap kearah Genya berlari.
"Aizetsu, kamu ga ke kelasmu?" Tanya Urogi menatap kembarannya.
"ah iya" gadis bernama Aizetsu berbalik dan masuk ke kelasnya.
Genya berlari sampai kedekat kelasnya. Ia begitu panik saat mengetahui ia salah orang. Ia melihat wajah gadis tadi masih tampak sangat murung dan ia penasaran.
"uh? Ia murung bukan karena aku kan ya?" Pikirnya sambil mengelap keringatnya. Ia begitu sebal dengan dirinya yang sangat tidak bisa bergaul terutama dengan wanita dan ia juga kesal kenapa ia harus kabur begitu saja karena panik.
"dasar pecundang" batinnya pada diri sendiri.
Ia lalu jalan ke kelas dan duduk ditempatnya. Dia mengikuti pelajaran seperti biasanya hingga pelajaran selesai.
"Genya! Mau ikut kita karaoke?" Tanya Tanjirou menghampiri.
"ah, maaf aku pass" ucap Genya. "hari ini aku harus ke toko buku membeli buku tulis"
"oh, kalau begitu kita duluan ya!" ucap Tanjiro Pergi bersama teman lainnya.
Genya merapikan buku-bukunya dan bersiap-siap untuk pergi ke toko buku. Ia berjalan seorang diri di lorong dan melihat kearah gadis berwajah murung tadi. Genya terdiam dan
melihat dengan bingung. gadis itu menghampiri Genya dan membuat Genya merasa malu.
"Anu-" ucap Genya. "Terimakasih atas yang kemaren, ah maaf tadi aku salah orang, kembaranmu?"
Gadis itu menatap Genya dengan murung dan menggandeng tangan Genya.
"namaku Aizetsu, kau?"
''uh, Shinazugawa Genya" ucapnya terbata namun ia bingung gadis ini tiba-tiba menyeretnya. "anu, senpai mau kemana?"
"ke toko creepes terdekat" ucap gadis itu singkat.
"uhm, tapi kenapa senpai menggeretku?"
"kau ingin mentraktirku kan?"
"Eh?" Genya bingung. "se- sebentar!"
Gadis dengan nama Aizetsu terdiam menatap Genya namun masih dengan santainya.
"a- aku tidak bilang aku ingin mentraktir senpai!" Ucapnya.
Gadis itu menatap pria didepannya dengan wajah murung namun ia masih menggandeng tangan Genya.
"Tu-tunggu dulu! Oi! Senpai? Kau dengar tidak?"
"jangan berisik! Kalau setiap kali kau selalu berisik, itu jadi menyedihkan, kan?"
"tapi aku tidak bilang ingin ikut denganmu!"
"pertemuan kita adalah takdir. Kita ditakdirkan untuk bersama" ucap gadis itu. Genya memucat pasi mendengar gadis itu mengatakan hal yang aneh. Ia pasrah mengikuti Aizetsu yang menggandengnya dengan erat.
"apa-apaan gadis ini? Ia bicara seolah-olah aku sudah menjadi pacarnya saja" batin Genya.
Genya dengan pasrah mengikuti Aizetsu sampai ke toko creepe itu.
"kau ingin beli?" Tanya Aizetsu.
"ah, nggak"
"ah, apa kau ga ada uang? Akan kubelikan kalau begitu"
"nggak usah! Aku bisa bayar sendiri!"
Aizetsu memesan creepes untuknya dua bungkus dan Genya memesan satu untuknya. Mereka bayar masing-masing dan duduk ditempat duduk yang disediakan. Genya menatap gadis yang duduk didepannya, wajahnya tampak sangat murung sekali, sehingga Genya berpikir ada masalah apa hidup senpainya sehingga wajahnya tidak terlihat bahagia. Aizetsu menikmati creepes yang ia pesan dan lalu ia merasa sejak tadi diperhatikan oleh Genya dan wajahnya memerah.
"apa ada sesuatu di wajahku?" Tanyanya murung.
"ah nggak, aku hanya sedang berpikir" jawab Genya yang gugup dengan cewek dan memakan creepesnya.
"berpikir apa?"
"senpai itu apa ada masalah dengan hidupmu? Karena senpai selalu tampak murung" tanyanya. "ah, maaf aku tidak sopan"
"aku pikir apa senpai dibully?" Lanjutnya kembali.
Aizetsu memerah padam malu mendengar kalimat kohainya.
"Kalau memang senpai di bully, senpai bisa minta tolong kembaran sempai yang tadi, kan?"
"ah, aku tidak dibully" jawab gadis itu langsung namun wajahnya masih tetap murung.
"eh? Kalau begitu apa senpai sedang ada masalah lain?"
Aizetsu menatap panik dan dirinya panik.
"tidak! Aku tidak ada masalah" jelasnya. "wa- wajahku memang seperti ini"
"eh?! Ah! Ma- maafkan aku" sekarang giliran Genya yang panik dan gugup. Ia menunduk sampai menjedutkan dirinya ke meja tanpa sadar.
"ah, dari tadi dicariin, ternyata kau disini, Aizetsu?" Ucap seorang gadis dengan wajah yang mirip dengan Aizetsu yang menghampiri mereka. Wajahnya tampak kesal sekali menatap mereka. Genya melihatnya dengan wajah bingung.
"ah? Cowok yang tadi siang?" Ucap Urogi yang muncul dibelakang gadis tersebut dengan tertawa.
"eh? Cowok yang kamu ceritakan tadi?" Ucap seseorang lagi yang wajahnya mirip juga dengan ketiga gadis ini yang berada di belakang mereka.
Genya terdiam memucat melihat keempat gadis ini mempunyai wajah yang sama namun beda ekspresi. Ia menatap keempatnya dengan bingung.
"apa kau melihat kami seperti itu?" Ucap gadis yang berwajah kesal yang bernama Sekido.
"ah, perkenalkan, ini saudari-saudariku" ucap Aizetsu memperkenalkan mereka. Genya menunduk sedikit memperkenalkan dirinya.
"jadi dia kenalanmu, Aichan?"
"dia siapa kamu?"
"mulai sekarang, dia adalah calon suamiku, Shinazugawa Genya" ucap Aizetsu menatap kearah saudarinya. Genya yang sedang minum, langsung menyembur mendengar ucapannya.
"wah, calon suamimu? Kau melamar saudariku?!"
"a-aku tidak melamarnya! lagipula kami baru kenal! Aku tidak berpacaran dengannya!" Pekik Genya.
"ah, jangan menangis, Aichan?" Seru Karaku melihat saudarinya menangis. Sekido melihatnya dan kesal.
"kau! Kau membuat saudariku menangis!" Kesal Sekido "tanggung jawab kau! Pria macam apa kau tega membuat gadis menangis?! Tarik ucapanmu!"
"eh? Tapi, kami memang tidak pacaran!" Pekik Genya.
"padahal kau menyuruhku untuk mengingat namamu, tapi kau melupakannya" isak Aizetsu. "Padahal saat itu, aku berpikir kau menembakku dan aku jadi mencintaimu pada pandangan pertama"
"kapan aku menyuruhmu mengingat namaku?!" Genya benar-benar dibuat stress dengan pernyataan gadis didepannya. Namun, sekilas ia tiba-tiba teringat bahwa ia pernah mengatakan hal itu tetapi ia tidak terlalu ingat kapan dan dimana dan bersama siapa. Ia terdiam dan berusaha mengingat kejadian itu tapi ia tidak bisa mengingatnya.
"kalau kau cowok, kau harus bertanggung jawab atas kalimat-kalimatmu!" Seru Sekido kesal.
Genya terdiam memucat dan ia berpikir bahwa dirinya dalam keadaan bahaya. Ia berpikir untuk kabur dari tempat itu namun gadis-gadis itu menyerbunya sehingga dia hanya bisa pasrah.
Hari-hari Genya sejak saat itu penuh dengan teror dari gadis bernama Aizetsu. Setiap hari gadis itu datang ke kelas Genya disaat istirahat maupun di waktu pulang.
"wah Genya, anak kelas dua itu lagi-lagi datang kesini" ujar Zenitsu. "Kenapa kau bisa jadi akrab denganya?"
"Ugh lebih baik kau tidak usah bertanya kenapa kami begini" ujar Genya yang pucat pasi.
"kalau kau keberatan, kau kan bisa bilang kedia"
"bagaimana aku bisa bilang? Aku dikeroyok begitu"
"Tuh kamu dicariin gadis itu" ucap Zenitsu menunjuk.
"Genya!" Sapa Aizetsu menghampiri. "Aku buatkan bekal untuk Genya"
ia memberikan kotak makan buatannya dengan malu-malu. Genya tersipu malu namun ia hanya bisa menahan diri.
"heee? Shinazugawa jadian sama cewek?" Tiba-tiba Mob-chan yang disukai Genya meghampiri.
Genya berdiri dengan panik dan wajahnya merona melihat Mob-chan. Wajahnya tampak berseri saat Mob-chan menghampiri.
"ah, bukan! Ini, senpai hanya teman" ujarnya panik.
Aizetsu menatap kearah Genya dan wajah murungnya tampak lebih murung.
"kami ini sudah tunangan! Genya itu calon suamiku!" Aizetsu menarik lengan Genya dan memeluknya.
Genya dan semua orang di dalam kelas tersentak kaget.
"eh?! Genya punya tunngan?!"
"eh?! Kau tunanganku?!"
"kenapa kau ikutan kaget?!" Pekik Zenitsu menabok kepala Genya.
"tunggu! Aku tidak pernah mengatakan-"
"saat itu kau melamarku dengan menyuruhmu mengingat namamu"
lagi-lagi sebuah siluet muncul dikepala Genya namun Genya tidak dapat mengingatnya pasti. Ia berpikir apa benar dirinya melamar gadis ini? Ia tidak ingat ada kalimat melamar. Ia teringat sepertinya ia mengatakan kepada seseorang untuk mengingat namanya, namun ia tidak dapat mengingat hal lain.
Aizetsu tetap merangkul lengan Genya dengan erat dan itu membuat Genya memerah padam.
"uhm, senpai! Bisa kita pergi berdua ke atap?"
Genya merasa semakin rumit saat satu kelas ribut menggosipkan dirinya dan menarik Aizetsu pergi ke atap.
Aizetsu merasakan tarikan tangan Genya seakan-akan pria itu menarik hatinya keluar. Wajah gadis itu memerah padam dan dia merasakan debaran yang amat sangat dahsyat. Ia menatap punggung Genya dengan wajah berseri dan mengikuti pria itu.
Genya melangkahkan kakinya sampai keatap sambil menarik tangan Aizetsu. Ia begitu malu saat dirinya menjadi bahan gossip teman sekelasnya. sesampainya di atap, ia melepaskan tangan Aizetsu dan menatapnya kesal.
"anu! Sepertinya kita ada kesalahpahaman disini!" Ujarnya kesal. "senpai, aku ada seseorang yang aku suka dan itu bukan senpai! Maaf!"
Aizetsu menatap Genya dengan sedih. Ia terdiam lesu. Melihat itu, Genya merasa tidak enak hati namun ia harus mengatakannya dengan tegas kepada gadis ini.
"maukah kau menerima bekalku?" Ucap Aizetsu menyodorkan bekal makanannya dengan murung. "aku sudah susah payah memasaknya"
Genya menatap kearah tangan gadis itu penuh dengan perban dan lalu mengambilnya.
"hanya untuk kali ini saja, senpai" Genya lalu memakan bekal buatan Aizetsu. Saat dia mulai memakannya ia terbuai dengan rasanya "enak"
Genya tersenyum sambil memakannya. Aizetsu menatap Genya dan wajahnya semakin memerah padam. Ia benar-benar mencintai pria didepannya hingga tanpa sadar, ia segera mengkecup bibir pria didepanya itu. Genya tersentak kaget saat ia merasakan ciuman pertamanya. Wajahnya memerah padam dan tanpa sengaja, ia menjatuhkan bekal tersebut dari tangannya.
"aku mencintaimu, Genya" ucap gadis itu dengan wajah yang murung namun rona merah terburat dipipinya. "sejak kau mengatakan untuk mengingat namamu, aku telah jatuh cinta padamu"
Genya terdiam dan wajahnya memerah padam dan malu. Ciuman pertamanya diambil begitu saja oleh orang yang tidak ia sukai.
"aku jatuh cinta padamu sejak lama bahkan sebelum kita lahir dan aku merasakan kau adalah takdirku disetiap kehidupanku" lanjut gadis itu. "walau kau tidak mencintaiku, aku akan membuatmu menyukaiku dengan caraku"
Genya berpikir bahwa dia telah masuk ke jurang yang sangat berbahaya. Dia mendapatkan gadis yang sangat berbahaya dan tidak bisa diajak kompromi. Ia hanya ingin hidup tenang di hari-harinya. Ia berusaha menjelaskan kepada Aizetsu namun Aizetsu tidak menggubris kalimatnya.
Setiap hari Aizetsu mendatangi Genya dengan penuh cinta walau dengan wajah yang murung, entah disetiap jam istirahatnya ataupun jam pulangnya sehingga pria itu dengan terpaksa dan pasrah membuat gadis itu menjauh dari kelasnya. Selain itu, teman-teman sekelasnya langsung mengolok Genya saat gadis itu datang.
"senpai! Maaf tapi bisakah senpai tidak datang ke kelasku?" Pinta Genya yang memucat pasi menghadapi Aizetsu.
"eh? Kenapa?" Aizetsu menatapnya bingung dan menyodorkan bekal makanan buatannya.
"Kita tidak ada hubungan apa-apa! Aku hanya menganggap kamu senpaiku dan tidak lebih"
Aizetsu menunduk murung. "apa cintaku masih kurang?"
"bukan begitu-"
"kalau begitu bagaimana kalau minggu ini kita kencan?"
"senpai dengarkan-"
"kita kencan ke taman hiburan saja" Aizetsu menatap Genya dengan wajah murungnya.
"senpai-"
"kita ketemuan jam delapan ya? Aku akan menunggumu didekat taman sekolah" rona wajah Aizetsu memerah.
"aku tidak akan pergi!" ucap Genya lalu pergi meninggalkannya. Perasaannya sangat tidak enak mencampakan perempuan, tapi ia pikir ia harus melakukannya.
Ia meninggalkan Aizetsu di atap sendirian dan berjalan sampai ke kelasnya. ia duduk dibangkunya merasa pusing sendiri dan tidak enak hati meninggalkan perempuan begitu saja. Ia terdiam menatap keluar jendela berpikir. Perasaan tidak enaknya menghantui, tapi ia pikir ia harus melakukannya. Karena, Setiap hari setiap hari gadis itu muncul dikelasnya membuat dia pusing sendiri dan berpikir untuk harus menolaknya. ia tidak ingin memberi harapan palsu.
Malam itu, Genya bermimpi buruk karena perasaan tidak enak. Ia terbangun hingga tidak bisa tidur kembali hingga berjam-jam. Sedikit gelisah, ia melihat kearah jam. Waktu menunjukan jam 8pagi.
"dia tidak beneran datang kan?"
"aku sudah bilang aku tidak akan pergi kok"
"Uh, dia menunggu ga ya?"
Pertanyaan-pertanyaan di batinnya bermunculan. Ia kepikiran sehingga berjam-jam dia mondar-mandir di ruang tengah.
"Genya niichan sedang gelisah" ujar Sumi bingung menatap kakaknya.
"pasti masalah gadis" ucap Hiroshi.
Sanemi yang melihatpun jadi ikutan penasaran.
"Genya!" Panggil sang kakak membuyarkan lamunan adiknya. "kau kenapa?"
"ah, tidak ada apa-apa" jawabnya dengan rona wajah yang memerah.
"kau tampak sangat gelisah, kalau kau mengkhawatirkan sesuatu, lebih baik kau periksa kan?"
Genya menatap kearah jam dan waktu menunjukan tepat pukul sepuluh. Ia lalu berlari keluar dengan segera. Ia berlari kearah taman dekat sekolahan dan berharap gadis itu tidak datang, namun takdir berkata lain, sang gadis sedang berdiri ditaman itu. Genya terdiam dan menghampirinya.
"senpai!" Panggilnya geram. "kenapa senpai menungguku?! Aku kan sudah bilang aku tidak akan datang!"
Aizetsu memandang Genya dan menatapnya murung. Rona wajahnya memerah padam.
"tapi kau datang juga"
"aku datang untuk menyuruh senpai pulang saja!" ucap Genya merasa bersalah. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"- kalau kau merasa bersalah, temani aku ke taman ria" ucap Aizetsu menarik kecil baju Genya.
Genya terdiam dan menghela nafasnya. "uh, baiklah! Kali ini saja"
Aizetsu tersenyum disela wajah murungnya. Genya terkesiap melihat senyumannya sehingga ia merasa ada yang masuk kedalam jiwanya. Wajahnya merona malu saat pertama kali melihat senyuman senpainya.
Genya berjalan disamping gadis itu dengan malu-malu. Ia berpikir ia hanya menemani gadis itu pergi ke taman ria.
"Genya" panggil Aizetsu. "boleh bergandeng tangan?"
Genya merona mendengar kalimat Aizetsu yang ragu-ragu memintanya. Ia berpikir untuk tidak menggandengnya tapi ia tidak mau berlaku jahat terhadap gadis yang menunggunya berjam-jam ditaman tadi. Ia terdiam, berpikir.
"kemarikan tanganmu! Jangan sampai hilang ditelan lautan manusia" ucap Genya menyodorkan tangannya malu-malu. Ia kembali berpikir bahwa sempainya begitu manis apabila tersenyum.
Aizetsu menggenggam erat tangan pria itu dan kembali tersenyum dengan kerutan alisnya yang murung.
Mereka mencoba berbagai atraksi di taman ria itu dengan penuh semangat. Genya sampai lupa bahwa tujuannya kesitu hanya untuk menemani senpainya. Ia terbawa suasana tersebut hingga ia mudah bercanda dengan Aizetsu.
"ngomong-ngomong senpai mau naik atraksi apa lagi?" Tanya Genya menatap senpainya.
"aku ingin naik bianglala itu" ucapnya menunjuk kearah bianglala.
"kalau begitu, ayo kita naik itu" Genya meggenggam tangan senpainya dan membawanya untuk naik bianglala.
Aizetsu mengikutinya dan ia tampak bahagia didalam wajah murungnya. Mereka menikmati pemandangan sore hari.
"Indahnya" ucap Genya melihat pemandangan dengan senang. Aizetsu menatapnya dan sedikit tersenyum.
"iya indah sekali"
"senpai lihat itu!" Genya menunjuk kearah kawanan burung berterbangan. "manis ya"
"iya manis sekali" ucap Aizetsu tetap memandang Genya. "terutama Genya"
Genya lalu terdiam dan menatap senpainya. Ia tersadar bahwa ia berencana menemaninya saja, tapi ia terbuai dengan kondisi.
"senpai! Kenapa senpai memilihku?" Tanya Genya. "senpai bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dibanding diriku"
"Genya lupa saat kita bertemu dulu? Saat itu aku adalah demon yang akan membunuh Genya tapi kau berhasil membunuhku"
"eh?!"
"saat itu kau menyuruhku untuk mengingat namamu" lanjut Aizetsu. "Aku selalu mencarimu karena aku merasa kau adalah takdirku"
Genya mendadak teringat kejadian saat ia melawan seorang demon bernama Aizetsu dan wajahnya memucat pasi.
"kau! Demon itu?!" Wajah Genya memucat dan tidak habis pikir demon yang ia benci saat dulu kini dihadapannya sebagai seorang gadis manis.
"aku merasa pertemuan kita adalah takdir dan aku mencintaimu sejak kau memintaku untuk mengingat namamu dulu dan aku akan membuatmu mencintaiku, Genya"
"begini-"
"walau mungkin dikehidupan ini aku tidak dapat dirimu, walau harus bereinkarnasi kembali, aku akan menemukanmu dan membuatmu mencintaiku dan memilikimu. Walaupun harus berkali-kali bereinkarnasi" Aizetsu menatap Genya dengan serius. Wajahnya tampak seperti demon yang ingin melahap targetnya. Genya memucat pasi, namun ia berpikir bahwa gadis yang dulunya demon ini sekarang adalah manusia biasa sehingga ia akhirnya tersenyum dan mengelus rambut senpainya. Aizetsu merona dan menatap kearah Genya.
"Aku bersyukur sekarang senpai dan yang lainnya adalah manusia"
Aizetsu menatap Genya dengan rona wajah yang semakin merah. Ia mencintai kebaikan pria didepannya.
"sudah waktunya turun senpai, ayo turun" Genya mulai turun dari bianglala dan mengulurkan tangannya kepada Aizetsu. Aizetsu menerima tangan pria itu dan turun dengan menatap pria itu terus-terusan. Ia terpesona dengan pria didepannya hingga ia tidak sadar ia tersandung dan jatuh ke pelukan Genya.
"ops?!" Genya menopang gadis itu agar tidak jatuh dan memeluknya. "senpai? Tidak apa-apa?"
Debaran jantung Aizetsu bisa terdengar oleh pria itu dan suasana gugup dan hening seketika. Genya terdiam dan wajahnya memerah menatap gadis itu. Aizetsupun hanya menatap Genya dengan wajah murungnya.
"senpai, ayo pergi ke atraksi lainnya" ucap Genya gugup, melepaskan pelukannya.
"iya" aizetsu mengangguk dan berjalan disampingnya.
mereka berkeliling-keliling mencari atraksi yang menyenangkan namun ditengah perjalanan, Aizetsu berhenti seketika.
"senpai?" Genya melihat kearah Aizetsu yang menunduk diam berdiri.
Aizetsu terdiam dan lalu ia mengkecup Genya tepat saat kembang api diluncurkan. Genya terkesiap Sekejap saat merasakan bibir Aizetsu menyentuh bibirnya, namun ia membalas ciuman tersebut dan merangkul gadis itu.

.

.
TBC