Aizetsu x Genya
Part 2. REINCARNATION DESTINY TERORRIST
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)

.

.
Pagi itu Genya yang menguap masuk keruangan kelasnya. Ia begitu ngantuk karena kecapaian bermain di taman ria kemaren. Ia duduk di bangkunya dan menaruh kepalanya ke mejanya. Saat ia berpikir ingin tidur dulu, beberapa teman cowoknya menghampirinya.
"oi Genya! Kemaren kamu tampak asyik sekali dengan senpai" ucap mereka tersenyum iseng.
"huh?!" Genya menatap kearah teman-temannya bingung.
"kalian kencan di taman ria ya? Kau menikmatinya sekali" ucap mereks memperlihatkan foto saat Genya bersama dengan gadis itu.
"akhirnya kalian beneran jadian?"
"kalian?! Ha- hapus foto itu cepat!" Ucap Genya malu. Wajahnya memerah padam dan berusaha mengambil handphone temannya. "aku hanya menemani senpai!"
"eh? Genya beneran jadian dengan senpai itu?"
Genya memerah padam saat mengetahui bahwa Mob-chan yang ia sukai, bertanya.
"ah nggak! Aku hanya menemani senpai!" Bantahnya malu. "lagipula senpai tetap datang padahal aku sudah bilang tidak akan datang. Aku jadi merasa tidak enak"
"Genya selalu saja baik pada orang" ucap teman-temannya mengelus rambut pria itu sehingga Genya memekik kencang.
"kalian pagi-pagi bisa ga sih ga ribut!" Ucap Genya kesal.
Wajah Genya memerah padam, teringat malam itu ia mencium senpainya dan memeluknya erat. Ia memalingkan matanya keluar jendela.
"tapi syukurlah Genya tidak ada rasa sama senpai" ucap Mob-chan tersenyum lega. Genya terkesiap dan menatap kearah Mob-chan bingung.
"eh?"
"ah, nggak apa-apa" ucap Mob-chan malu-malu dan pergi ke bangkunya.
"Shinazugawa, kau dicariin senpai tuh" teriak seseorang dari pintu. Genya menatap Aizetsu dan merona seketika. Ia buru-buru menghampiri gadis itu.
"senpai? Kenapa?"
"semalam aku lupa memberikan ini untukmu" ucap Aizetsu memberikan gantungan handphone berbentuk semangka, sepasang dengan miliknya. Genya menatap gantungan semangka itu dengan wajah berseri.
"eh? Untukku?" Ucapnya. "terimakasih"
Genya tersenyum lebar melihat gantungan tersebut. Ia sangat menyukai semangka.
"Dan aku juga sudah membuatkan bekal untukmu" ucap gadis itu. Genya merona dan mengambil bekalnya.
"senpai tidak perlu repot-repot membuatkan aku bekal"
"tidak apa-apa, sekalian aku membuatnya"
''te-terimakasih" Genya merasa tidak enak apabila ia tidak menerima ketulusan hati gadis itu tapi ia tidak ingin memberikan harapan untuk gadis ini, namun ia teringat bahwa semalam ia mencium gadis ini karena terlena. Ia menjadi pusing sendiri memikirkan harus bagaimana dirinya. Lalu tanpa disadari oleh Genya sendiri, Mob-chan melihat mereka dengan perasaan cemburu.
"Genya pulang sekolah ada acara?" Tanya gadis itu menatap Genya harap-harap cemas.
"hari ini sih ada kerja part time"
"kerja part time? Genya kerja apa?"
"uhm, cuma jadi kasir di toko eskrim dekat stasiun"
"kalau gitu aku mau lihat Genya kerja"
"ga usah!" Ucap Genya malu dan segera. "teman-temanku bahkan tidak ada yang tahu!"
Aizetsu menatap Genya berseri dan senang sekali mendengar hal itu.
"berarti aku spesial, aku tahu Genya kerja apa dan dimana" ucapnya.
Genya merasa menyesal telah memberitahukannya.
"aku ingin part time bareng kamu"
"Jangan! Jangan! Jangan!"
"kenapa?"
"uh" Genya memegang antara alis Aizetsu. "Aku tidak mau kerja bareng senpai! Aku sudah cukup pusing didatangi senpai seperti ini!"
Aizetsu menunduk sedih dan wajahnya begitu murung sehingga Genya berpikir apa dia salah ngomong, tapi dia benar-benar ingin menolak senpainya.
"kau takut aku disukai orang banyak ya?"
"bukan!" Pekik Genya geram dan memukul kecil kepala senpainya. "sudahlah senpai ga usah memaksakan diri harus magang bersamaku"
"tapi Genya milikku, aku ingin bersamamu"
"- aku bukan milikmu!" Pekik Genya malu. Wajahnya merona.
"tapi kau mencium dan mendekapku semalam"
Genya makin merona dan wajahnyabmemerah padam mengingat kejadian itu.
"i- itu terbawa suasana! Terbawa!"
Aizetsu menatap Genya lurus dan begitu sedih.
"aku akan terus berusaha mendapatkanmu, Genya" ucapnya. "Sampai kau benar-benar mencintaiku"
"-" Genya terdiam dan merona mendengar perkataan gadis itu "-dasar demon"
"bekal buatanku dimakan ya" ucap Aizetsu lalu pergi ke kelasnya.
Genya terdiam memegang bekal dari Aizetsu dan menghela nafasnya. Ia kembali kebangkunya dan duduk.
"Genya, kau tampak kebingungan" tiba-tiba Mob-chan mendekatinya.
"ah, nggak apa-apa"
"sepertinya senpai selalu memaksamu. Kalau kamu tidak suka, kamu bisa langsung tolak saja dan diamkan saja"
Genya tersenyum kecil dan berpikir bahwa sebenarnya dia bisa saja mendiamkan senpainya tapi dia memang bukan orang yang tega terhadap gadis. Dia sendiri juga menyadari bahwa ia membenci sifatnya yang seperti ini tapi ia tidak enak hati. Namun khusus senpainya, entah mengapa ada yang membuat dirinya tidak bisa melepaskan pandangannya. Suka? Entahlah, karena sampai saat ini pun ia masih suka kepada Mob-chan. benci? Ia pun tidak merasakan hal demikian. Ia memang pernah membenci Aizetsu saat ia menjadi demon dikehidupan sebelumnya, tapi sekarang Aizetsu adalah manusia normal dan seorang wanita, Genya pun tidak merasa dendam padanya. tunggu! Kenapa gender Aizetsu dan saudara-saudaranya menjadi seorang wanita? Kini Genya berpikir. Ia sekarang penasaran. Ia terdiam berjam-jam untuk berpikir.
"karena aku ingin kau memilihku" jawab Aizetsu saat Genya bertanya. Gadis itu menghampiri kelas Genya saat Genya ingin pergi ke tempat part timenya. "kupikir, kalau aku masih jadi cowok, kau pasti tidak mau bersamaku"
Genya terdiam berpikir. "ya memang sih pasti"
"tapi kalau memang Genya menginginkan aku sebagai cowok, dikehidupan berikutnya aku akan mendatangimu sebagai cowok"
"Tunggu! Aku bahkan tidak bilang aku ingin bersamamu!"
Aizetsu menatapnya sedih.
"menyedihkan, padahal Genya yang takut dengan wanita bisa mendapatkan gadis dengan instant seperti ini"
''siapa yang kau bilang takut dengan wanita?!" Pekiknya kesal. Genya mencubit pipi Aizetsu dengan geramnya.
"aku akan membuatmu berpaling padaku, Genya" ucapnya. "walau dulu aku demon, tapi perasaanku tidak akan berubah. Akan kukejar dirimu kemanapun kau pergi! Aku akan merebutmu dari orang lain walupun kau mencintainya"
Genya merasa semakin gawat apabila ia bersama dengan gadis ini. Ia merasa semakin dalam menggali lubang kuburnya sendiri, Tapi entah mengapa, ia tidak bisa menghentikannya.
Ia berjalan sampai depan toko eskrim tempat dirinya bekerja dan mecengkram tangan Aizetsu.
"Aizetsu, aku kerja dulu, kamu jangan menggangguku kerja, kalau bisa pulanglah!"
Aizetsu menatap Genya lekat namun Genya segera masuk kedalam toko dan mulai mengganti pakaiannya dan mulai bekerja mengganti shift dengan temannya.
Genya melayani pelanggannya dengan semangat dan penuh senyuman sedangkan Aizetsu melihatnya dari depan toko dengan murung. Bekas cengkraman tangan Genya masih terasa hangat di lengannya. Ia tahu bahwa ia tidak mungkin mendapatkan hati pria itu tapi ia menginginkannya dan sebisa mungkin ia mencobanya. Aizetsu membalikkan badannya dan bersiap untuk pulang.
"Aizetsu" panggil Genya keluar dari tokonya dengan sebuah eskrim ditangannya. Genya menyerahkan eskrim strawberry itu kepada Aizetsu. Aizetsu menatap eskrimnya dengan bingung. Kedua matanya membesar. "maaf, aku mencengkrammu terlalu kencang"
"Genya?!" Ia menatap kearah Genya lalu mengkecupnya dengan tiba-tiba sehingga Genya merona.
"a- aku memberikan ini untuk permintaan maafku karena sudah menyakitimu barusan! Jangan langsung menciumku!"
"aku benar-benar mengharapkanmu! Sampai kapanpun aku akan menunggu perasaanmu menjadi milikku" Aizetsu tersenyum lebar dan mengambil eskrimnya. "Aku mencintaimu, Genya"
"- ba-bakatare" Genya merona dan menjitak pelan gadis didepannya. "hati-hati pulangnya"
Aizetsu pun berjalan pulang. "aku akan selalu datang kesini"
Genya menepuk kepalanya pelan dan merasa tidak bisa naik lagi kedaratan dari lubang yang ia gali. Wajahnya memerah padam melihat wajah senpainya tersenyum lebar seperti itu. Ia kembali kedalam untuk bekerja.
"eh? Siapa itu? Pacarmu, Shinazugawa?" Tanya rekan kerjanya.
"bukan!" Jawab Genya dengan rona wajah yang memerah. Ia kembali bekerja dan menghiraukan pertanyaan-pertanyaan teman-temannya.
Esoknya saat Genya sampai di sekolahnya, ia melihat kedalam lokernya terdapat sebuah surat. Ia membaca isi surat tersebut tapi tidak ada pengirimnya. Disitu hanya tertulis bahwa istirahat siang ditunggu diatap. Ia penasaran siapa yang menulisnya, namun ia tidak bisa menanyakan kepada teman-temannya. Ia melihat tulisan tangan tersebut tapi ia tidak mengetahui tulisan siapa. Ia berpikir apakah Aizetsu yang menulisnya tapi untuk apa? Biasanya Aizetsu selalu ke kelasnya tanpa tahu malu.
Saat istirahat siang, Genya segera pergi ke atap sebelum senpainya datang mengkerecoki. Ia menunggu orang yang menyuruhnya untuk menunggu disitu. Tanpa disadari, Aizetsu ada dibalik tembok di atap menunggu seseorang yang memberikannya surat juga. Mereka sama-sama menunggu di atap tapi tidak tahu sama sekali.
Tidak lama, Mon-chan datang menghampiri Genya dengan malu-malu.
"Genya!" Panggilnya. Genya berpaling lalu tersentak saat tahu gadis yang dia sukai yang memanggilnya. Dari balik tembok, Aizetsu dapat mendengar pembicaraan mereka. Ia penasaran dengan pembicaraan mereka dan menguping.
"Mob-chan? Ada apa?" Tanya Genya melihat Mob-chan.
"Genya, aku ingin jujur padamu" ucap Mob-chan ragu-ragu. "Selama ini aku menyukai Genya, jadianlah denganku"
Genya terbelalak dan terkesiap dengam pernyataan cinta Mob-chan. Wajahnya memerah padam dan debaran jantungnya terdengar kencang. Ia tak menyangka bahwa selama ini Mob- chan menyukai dia juga.
"aku meminta jawabanmu sekarang!"
"eh? I- ini terlalu mendadak" jawab Genya gugup. Ia tidak bisa menyangkal bahwa hatinya masih mencintai Mob-chan, tapi disisi lain, entah kenapa ia merasa tidak bisa berpaling dari Aizetsu. ia bingung.
"bisakah aku pikirkan dulu?" Tanya Genya.
"tidak bisa! Aku butuh jawabanmu dengan tegas!" Jelas mob-chan.
"a- aku senang dengan perasaanmu, aku juga menyukaimu-"
"kalau gitu kita sama-sama suka kan?"
"i- iya sih, tapi-"
'kalau gitu kita jadian" Mob-chan mencium Genya dan memeluknya. "aku bahagia akhirnya kita pacaran"
Aizetsu melihat dan mendengarnya dengan kaget. Ia menatap Genya tidak percaya. Ia terjatuh duduk dan wajahnya semakin murung. Genya mengikuti dengan pasrah dan perasaannya bercampur aduk. Ia bahagia mob-chan mencintai dia balik, tapi ia merasa ada sesuatu yang aneh.
"jadi Genya lebih memilihku, aku sangat bahagia" ucap Mob-chan dengan suara yang lantang Seakan disengaja lalu memeluk Genya dan menyeretnya pergi.
Aizetsu terdiam memeluk kakinya dan menangis. Ia lalu pergi ke kelas Urogi dan memeluk Urogi kuat.
"Aichan? Kenapa kau?" Tanya Urogi bingung. Aizetsu mendekapkan wajahnya di dada Urogi dan tetap memeluk saudarinya erat. Ia hanya diam tanpa berkata apapun dan menangis didada saudarinya. "Aizetsu?"
Sejak pulang, Aizetsu tidak keluar kamar dan hanya mengurung diri didalamnya. Berapa kalipun Sekido menyuruhnya keluar untuk makan, dia tidak keluar sama sekali. Saudari-saudarinya bingung ada apa dengannya. Mereka berusaha membujuk saudarinya keluar tapi Aizetsu tidak keluar juga.
Keesokan paginya, Aizetsu yang sudah menyiapkan bekal, langsung menaruh bekalnya di loker Genya. Ia berpikir untuk tidak bertemu dengan pria itu sesaat. Setelah menaruhnya di loker, ia segera pergi ke kelasnya.
Genya membuka lokernya saat ia sampai di sekolah. Ditemukannya bekal makanan buatan Aizetsu di lokernya. Wajah Genyabsedikit berseri melihat bekalnya. Ia membawanya sampai kekelasnya dan ia segera duduk dibangkunya.
"Genya, pagi" ucap Mob-chan. "wah hari ini bekalmu kamu yang buat?"
"ah, ini Aizetsu yang membuatnya" jelas Genya.
"buang saja! Nanti aku buatkan bekal untukmu"
"eh? Tapi sayang kalau dibuang" jawab Genya bingung. "lagipula senpai masakannya enak"
"aku kan pacarmu! Lagipula kau itu mementingkan aku atau senpai?"
Genya terdiam lalu mengangguk. "iya nanti aku beli makanan dikantin"
Genya merasa sayang untuk membuang bekal dari senpainya. Ia berencana diam-diam memakannya disuatu tempat. Saat istirahat, ia pergi bersama Zenitsu keatap.
"kau seriusan ingin membuang bekal itu?"
"ya tentu saja tidak mungkin, kan? Bekal seenak ini" ucapnya membuka bekal makan dari Aizetsu.
"kau beneran pacaran dengan Mob-chan?"
"iya, kenapa?'
"lalu Aizetsu senpai bagaimana? Ia sudah tahu?"
"uhm, belum" ucapnya bimbang. "Pagi ini dia tidak datang ke kelas, ia hanya menaruh ini di lokerku"
"Kau tahu, ini akan menyakitkan Aizetsu senpai loh"
"a-aku tahu" ucap Genya. "sejujurnya aku bahagia saat Mob-chan bilang suka padaku tapi aku gatau rasanya ada yang salah"
"kenapa?"
"entahlah, aku juga tidak tahu pasti" jelasnya. "Aku senang Mob-chan mencintaiku, tapi aku merasa hatiku bukan untuknya"
"lalu kenapa kau menerima Mob-chan?" Teriak Zenitsu greget.
"Mob-chan tidak memberiku kesempatan bicara, tiba-tiba ia mengatakan langsung bahwa kita jadian" Genya menghela nafasnya. "Makanya kupikir aku ingin coba mengetahui perasaanku pada Mob-chan untuk beberapa hari ini"
"kau itu" zenitsu memakan bekalnya dan berpikir.
Saat pulang sekolah, Genya pulang bareng Mob-chan. Aizetsu menatap mereka dari kejauhan dan begitu sangat murung dan sedih. Urogi menatapnya dengan bingung.
"apakah aku tidak boleh berbahagia?" Ujar Aizetsu menatap Genya dari kejauhan. "karena aku selalu saja sedih seperti ini makanya tidak ada yang menerimaku"
"Kau itu bicara apa? Genya memilihmu kan?"
Aizetsu terdiam murung dan menatap kearah lain. Ia tidak memberitahukan kepada saudari-saudarinya masalahnya karena yang pasti saudarinya akan mengkeroyok Genya. Ia tidak mau menyalahkan pria itu.
Setiap hari yang dilakukan Aizetsu hanya menaruh bekal diloker Genya, namun pergi tanpa menemuinya. Semakin hari, Genya semakin penasaran senpainya tidak kunjung memperlihatkan wajahnya. Entah mengapa pria itu ingin sekali melihat dan mendengar suara dan wajah senpainya. Belum lagi ia selalu diam-diam memakan bekal buatan senpainya.
Suatu sore saat anak-anak pada akan pulang, ia memberanikan diri mendatangi kelas Aizetsu. Ia melihat Aizetsu duduk menatap keluar jendela sendirian tiada teman lainnya. Ia memberanikan diri masuk kedalam kelas yang kosong itu dan mendekati senpainya.
"Aizetsu senpai" sapanya menghampiri.
Aizetsu terkesiap dan menatap Genya bingung dan murung. "senpai tidak pernah menghampiriku lagi, kukira senpai sibuk atau apa"
Aizetsu menatap kearah Genya lalu menunduk.
"Genya sendiri bagaimana bersama pacarmu?"
Genya terkesiap dan pucat saat tahu bahwa Aizetsu mengetahuinya. Ia mencengkram tangan Aizetsu.
"kata siapa?"
Aizetsu menatap Genya. "aku ada dibalik tembok itu, mendengar dari awal"
'ke-kenapa senpai ada disana?"
"ada seseorang mengirimku surat, aku menunggunya namun orang itu tidak kunjung datang" Aizetsu menatap kearah lain dengan murung.
Genya terdiam dan mencengkram kedua lengan Aizetsu hingga gadis ini kebingungan. Genya mengkecup bibirnya dan mencengkramnya lebih kuat. Aizetsu berpikir bahwa ini adalah kesempatan dan ia menggenggam tangan Genya dan mengkecupnya balik. Genya tahu ia tidak seharusnya seperti ini, tapi gejolak dihatinya tidak dapat ia bendungi. Ia mendekap gadis didepannya dan ia dapat merasakan debaran jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat. Ia merasa mencintai gadis didepannya lebih lagi dibanding Mob-chan.
"Aizetsu, aku menyadari bahwa dirimulah yang kubutuhkan" ucap Genya memeluk Aizetsu. Aizetsu memeluknya erat dan menangis dipundaknya.
"benarkah, Genya?"
"aku membutuhkanmu, aku sadar aku mencintaimu" jelasnya.
Aizetsu merasa bahagia mendengar hal itu dan mengkecup bibir Genya.
Genya lalu menjelaskan perasaannya kepada Mob-chan sehingga Mob-chan menamparnya dan menangis pergi.

Genya memeluk erat Aizetsu dan pulang bersama. Namun, di perjalanan pulang, mereka tidak melihat ada truk mengebut hingga menabrak mereka dan melindasnya. Genya dan Aizetsu melepaskan nyawa mereka di tanggal X bulan Y.

"Tuhan, apabila aku bereinkarnasi kembali, biarkan aku bersama dengannya"

.

TBC