Aizetsu x Genya
Part 3. REINCARNATION DESTINY TERORRIST
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)
.
.
Shinazugawa Genya, gadis belia kelas dua SMA yang membutuhkan uang demi membantu keluarganya, giat bekerja diberbagai tempat, diam-diam dari kakaknya. Ia bekerja dari menjadi baby sitter sampai kerja di restauran. Bukan karena kakaknya tidak mampu membiayai, tapi memang Genya sangat ingin membantu. Kalau ketahuan kakaknya, dia akan disuruh berhenti. Genya juga sangat ramah terhadap orang, namun payah berurusan dengan lelaki.
Hari ini Genya sedang bekerja di restauran instant dua puluh empat jam. Ia melayani pelanggan dengan sangat giat dan ramah. Ia berpikir apabila dia giat, ia akan dapat gaji yang lumayan. Dengan penuh senyuman, ia membuat para lelaki datang ke restaurant itu untuk memesan berkali-kali.
"Silahkan pesanannya" ucapnya tersenyum melayani pelanggan pria yang baru saja datang.
Pria dengan rambut gondrong memakai topi dan kacamata hitam itu menatap kearah Genya terus-terusan dan itu membuat Genya sedikit bingung.
"disini yang cukup terkenal pake B, loh" Genya mempromosikan makanan yang sering dibeli oleh orang-orang tapi pria itu masih terdiam menatap kearah Genya.
"anu, pesanannya?"
Pria itu masih menatap gadis itu lalu ia melihat kearah menu.
"aku mau pesan paket C dan-" pria itu terdiam.
"oh paket C ya?" Genya mengetik di komputernya. "apa lagi?"
"- aku ingin pesan kamu"
Genya terdiam bengong karena ucapan pria itu.
"ah maaf, kita tidak menjual yang lain selain makanan" senyum Genya. "mungkin ada yang lain?"
"uhm, aku cuma ingin beli kamu, berapa?"
"maaf saya tidak dijual" Genya masih tersenyum demi pekerjaannya tapi dirinya mulai sedikit kesal
Pria itu membuka kacamatanya. Alisnya yang mengkerut murung itu menatap kearah Genya. Genya merasa pria itu bersedih karena tidak bisa membeli dirinya tapi memang kenyataannya dia tidak dijual.
"-berapa hargamu?"
"Oh paket C saja ya? Paket C jadi 630yen!" Seru Genya memesankan paket C untuk pria itu dan meninggalkan untuk mengambil pesanannya.
"Genya kamu bentar lagi pulang kan?" Ucap seseorang kepada gadis itu.
"iya" setelah ini aku masih ada kerja lagi.
"jaga kesehatan ya! Nanti pacarmu kasihan ditinggal sakit" ucap orang itu dan dibalas tertawa oleh gadis itu.
Genya balik ke pelanggannya yang tampak murung dengan pesanannya. "silahkan, pesanannya sudah komplit ya? Ada lagi yang bisa dibantu?"
"aku ingin minta nomor telponmu"
Genya terdiam menatap pelanggannya.
"maaf saya tidak memberikan informasi pribadi"
"Shinazugawa Genya"
"eh?"
"namamu terpampang di dadamu dan barusan aku mendengar nama kecilmu" ucap pria itu dengan wajah murung. "aku ingin mengenalmu"
"maaf saya tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut" ucapnya menatap dengan kesal.
"kenapa?"
"bagiku kamu adalah orang lain dan saya tidak akan memberikan informasi kepada orang lain"
Pria itu bersikeras tapi Genya tetap tidak ingin memberikan.
"yak, next customer!" Panggilnya sembari mengusir pelanggan didepannya.
Ia mendiami customer itu dan melayani customer lain sebelum pulang. Pria itu keluar dari restauran itu dan menunggu Genya di pintu belakang. Genya bersiap-siap untuk pulang dan keluar dari pintu belakang. Ia kaget saat melihat pria itu menunggu dirinya disitu namun ia berpikir untuk mendiami dan jalan melewatinya. Tanpa diduga sang pria menggenggam tangan Genya dengan segera.
"tunggu!" Ucapnya Menatap kearah gadis itu.
"apaan sih? Lepaskan! Aku ingin pergi kerja ditempat lain!" Ujar Genya menepis tangan pria itu.
"biar aku antar"
"ga usah! Aku sibuk ga ada waktu buat bermain sama kamu!"
pria itu masih menggenggam tangan Genya namun menariknya sampai ke mobilnya.
"naik! Akan kuantar!"
"ga usah! Aku bisa pergi sendiri! Aku ga mau berhutang pada orang yang tidak kukenal"
"sudahlah naik saja! Aku tidak akan menagih hutang itu" ucap pria itu dengan wajah yang murung. Genya menatap dengan kesal namun akhirnya ia menurut dan naik. Kapan lagi ia pergi kerja part timenya naik mobil?
Pria itu naik dan mulai menyetir.
"jadi kenapa kau, orang asing, tiba-tiba melakukan hal ini kepada orang yang baru pertama kali kau temui? Apa kau sering seperti itu?" Tanya Genya cemberut menatap kedepan.
"nggak, hanya kamu saja" jawab pria itu. "aku merasa pertemuan kita adalah takdir"
Genya terdiam dan memelototinya.
"takdir? Bagaimana kau bisa bilang bahwa pertemuan kita takdir? Kau bahkan tidak memperkenalkan namamu"
"namaku Aizetsu" ucap pria itu melirik kearah Genya dan masih menyetir.
Genya terdiam kembali dan melihat kearah lain.
"Genya" panggil pria berwajah murung yang bernama Aizetsu itu. "kau sudah punya pacar?"
"sudah" jawab Genya singkat. "DAN JANGAN PANGGIL NAMAKU SEENAK UDELMU!"
"apa dia tampan? Kamu kenal dimana dengannya? Apa dia menjagamu dengan baik?"
"hah? Kenapa kamu menanyakan pacarku?" Genya merasa dibuat bingung oleh pria didepannya.
"aku hanya ingin tahu bahwa kau hidup bahagia"
''ya, ya, aku hidup sangat bahagia kok bersamanya" ucap Genya yang bergidik dengan kalimat pria bernama Aizetsu itu.
"orang ini siapa sih? Menanyakan kehidupanku dan pacarku padahal baru kenal" pikir Genya bingung.
Genya mengeluarkan handphonenya dan mengetik pesan untuk orang dirumahnya karena pulang telat. Aizetsu melihat kearah ponsel tersebut dan mengambilnya.
"hei!" Genya protes. "Kembalikan handphoneku!"
Aizetsu menelpon ke handphonenya sendiri dengan nomor gadis itu dan menyimpan nomor gadis itu. Genya merasa kesal dan mengambil handphonenya segera saat Aizetsu mengembalikannya.
"dengan begini, aku bisa menghubungimu"
"kau stalker! Sudah turunkan aku disini!" Geram Genya.
"Genya" Aizetsu menarik tangan Genya dan mengkecup bibirnya. "aku akan menjemputmu nanti"
Genya terdiam shock atas ciuman barusan. Ia mematung melototi pria didepannya dalam hitungan detik lalu ia segera mendaratkan tamparannya kepipi pria itu.
"kau! Kembalikan ciuman pertamaku!" Pekiknya kesal dan rona wajahnya memerah padam.
"eh? Kamu belum ciuman sama pacarmu?"
''ka- kami baru jadian jadi kami menunggu waktu yang tepat! Tapi kau mengambilnya" pekik Genya mengelap bibirnya.
Aizetsu menatapnya murung dan menggenggam tangan Genya.
"Kalau gitu aku beruntung mendapatkan ciuman pertamamu"
kembali Genya mendaratkan tamparannya ke wajah Aizetsu dan segera keluar dari mobilnya.
"dasar pria brengsek" batin Genya kesal dan geram. Ia berjalan menuju tempat kerjanya yang berikutnya tanpa ia sadari bahwa Aizetsu mengikutinya dan menunggunya diluar.
Berjam-jam ia menunggu diluar, hanya melihat handphonenya. Tak memikirkan berapa jam ia menunggu gadis itu selesai, tangannya sampai memerah karena udara malam yang sangat dingin itu. Saat Genya keluar dari ruangan, ia terkesiap dengan sosok pria itu.
"kau sedang apa?"
"menunggumu"
"eh?! Aku ga minta kau menungguku, kan?!"
"tidak apa, ini kemauanku" ucapnya menatap kearah Genya. "aku antar kau pulang"
"ga usah! Aku bisa pulang sendiri"
"tidak apa, lagipula sudah tengah malam, bahaya untuk gadis jalan malam hari"
"tidak usah!"
Aizetsu menatap gadis itu sedih dan mencengkram tangan Genya lalu membawanya kedalam mobilnya. Genya memintanya untuk melepaskannya tapi Aizetsu tidak menggubrisnya. Ia tetap menarik gadis itu sampai ke dalam mobilnya dan menyetirnya. Genya cemberut terdiam dan melihat keluar jendela. Ia bahkan tidak tahu apakah dirinya akan dibawa pulang atau bahkan malah dibawa ketempat lain. Ia hanya menyebutkan tempat dirinya tinggal tapi tidak ngepas di tempatnya.
"Genya sudah makan? Mau makan dulu sebelum pulang?" ucap pria itu.
"aku tidak mau makan bareng orang yang tidak kukenal! Lagipula ibuku pasti sudah memasakkan makanan untukku"
"kalau gitu kita makan di restauran didekat sini" ucap Aizetsu memarkirkan mobilnya. Ia memakai kacamata baca dan topinya lalu turun dari mobilnya dan membukakan pintu Genya untuk turun.
"kau itu stalker pemaksa ya?!" Ucap Genya turun dan Aizetsu menggandengnya. "aku bilang ibukku pasti sudah memasak makanan untukku"
"tadi kau sempat mengatakan akan pulang telat kan? Aku yakin ibumu tidak memasakkan bagianmu"
"uh" ia baru ingat saat handphonenya diambil pria ini, ia sempat menulis bahwa ia akan pulang telat.
Aizetsu membawanya masuk ke restauran sushi terdekat dan memesan satu loyang besar sushi. Genya memucat pasi.
"ngomong-ngomong kenapa harus disini? Aku takut ga sanggup bayar"
Aizetsu menatap Genya lekat. "siapa yang bilang kamu harus membayarnya?"
"aku ga mau kalau aku ga bayar!"
"anggap saja ini permintaan maafku atas kejadian mendadak hari ini?"
Genya terdiam dan akhirnya menurut. Mereka duduk berhadapan dan Genya masih cemberut. Menatap Aizetsu seakan ingin membunuhnya. Aizetsu menatapnya murung dan tidak melepaskannya sejak tadi.
"kau pria aneh" ucap Genya bingung. "Kenapa kau berbuat begini padaku? Kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Aku merasa kau adalah takdirku, Genya" ucapnya yang membuat bulu kuduk Genya berdiri. "aku merasa sudah jauh mengenalmu sebelumnya"
'uwaaaahhh, stalker yang menyeramkan" ucap gadis itu pucat.
"aku sungguh-sungguh" jawab Aizetsu menatap Genya lurus.
"aku ini sudah punya pacar, dia lebih baik dan aku mencintainya, lebih baik kamu menyerah saja. Aku tidak akan putus dengannya"
"selama kau belum menikah dengannya, aku masih bisa berusaha menakhlukan hatimu"
"Hah? Aku tidak mungkin jatuh hati sama stalker sepertimu" ucap Genya bergidik.
"aku belum mencobanya kan?" Ucapnya murung. "aku mencintaimu dari jauh sebelum kau lahir didunia ini"
"kau itu gila ya?" Ucap gadis itu bingung. Ia cemberut dan meminum tehnya.
"maaf menungu, ini paket sushinya" ucap pelayan menaruh paketan sushi dan kembali bekerja.
Genya mengambil sumpitnya dan menyocolkan sushinya ke souyu dan memakannya. Aizetsu menatapnya dan meminum ocha hangatnya. Ia tidak mengambil satu sushipun dan membiarkan gadis itu memakannya.
"ku tidak makan?" Tanya Genya.
"tadi aku sudah makan paket C mu" ia menatap gadis itu lurus seakan tanpa kedip.
Genya terdiam dan merasa tidak enak hati.
"eh? Tapi aku tidak mau menghabiskan ini semua"
"tidak apa-apa, kau habiskan saja" Aizetsu meminum tehnya lagi. "ngomong-omong, kau bekerja dibanyak tempat, apa keluargamu membutuhkan uang?"
"ah nggak, hanya saja aku ingin membantu keluargaku" ucap Genya malu-malu. "Sejak kecol, ibuku bekerja keras demi kami, dan kakakku pun setelah SMA tidak melanjutkan kuliah demi sekolah kami. Jadi kupikir aku ingin meringankan beban mereka"
'- hee?"
"kalau kakakku tahu aku bekerja seperti ini, dia pasti akan memarahiku dan menyuruhku berhenti"
"aku ada pekerjaan untukmu dan gajinya juga lumayan kalau kau mau"
"tidak terimakasih" ucap Genya langsung menolak. "Aku tidak ingin berhutang pada orang lain. Sushi ini akan kubayar suatu saat"
Aizetsu menatap Genya semakin lurus dan tanpa berkedip. Ia semakin menyukai gadis didepannya.
"besok pagi kau ada waktu?"
"aku sekolah"
"eh? Kau masih sekolah?"
"kau pikir aku umur berapa? Aku kelas dua SMA" ucap Genya kesal.
"- menyedihkan sekali"
"kau itu mau ngomong apa hah?" Geramya.
"aku kira kau sudah lulus sekolah dan bekerja" Aizetsu memangku tangan kepalanya dan menatap Genya. "ternyata kamu masih kecil"
''ga sopan kamu!" Geram Genya malu. "Gini-gini badanku sexy ga seperti bocah! Aku bisa jadi model kalau aku mau"
"mau kenalkan dengan satu model?"
"Hah? Kau kenal seorang model?"
"iya, seperti Ume"
"Eh? Bohong?"
"aku tidak bohong"
"Kau itu kerja?"
"aku hanya magang, aku kuliah di Kimetsu University jurusan arsitek"
"ah?! Kampus yang ingin kutuju" ucap Genya. "ah tapi aku tidak ingin kuliah, aku ingin membantu ibu dan niichan saja sih. Kalau niichan tau aku ga mau lanjut kuliah, dia pasti marah besar"
Genya menggerutu sendiri, naun Aizetsu mendengarnya.
"kalau kau jadian denganku, kau tidak perlu khawatir akan kondisi keuangan untuk keluargamu"
"aku tidak mau jadian denganmu!" Genya menjawab langsung. "lagipula kenapa harus aku? Aku itu tidak ada apa-apanya dibanding Ume si model temanmu itu"
"karena kau satu-satunya yang cantik dimataku" ucap Aizetsu membuat Genya merona namun cemberut. "aku sudah bilang kan, aku merasa pertemuan kita sudah takdir"
Genya diam dan hanya makan sushinya sampai habis. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi pria egois didepannya.
Aizetsu membayar sushi yang dipesannya dan mengantar gadis itu sampai sekitar rumahnya. Genya tidak mau memberitahukan rumahnya kepada orang asing, karena itu ia minta di anterkan sampai tempat yang tidak terlalu dekat.
"kalau kau ingin diajarkan untuk belajar, aku bisa mengajarkanmu dengan cuma-cuma'' ucap Aizetsu setelah membukakan pintu mobil tempat Genya berada. Ia menatap gadis itu seakan ingin menerkamnya.
"kalau cuma belajar sih-"
"Genya?!" Seorang pria berambut perak dengan banyak luka di wajahnya menatap kaget adiknya keluar dari mobil. Pria itu menggendong adik bontotnya dan menggandeng adik perempuannya. "siapa dia?"
Aizetsu dan Genya menatap kearah pria berambuk perak itu.
"Sanemi niichan?! Ah ini-" Genya kalang kabut dan panik.
"wah, Genya neechan sudah punya pacar?"
"bukan!" Pekik Genya membantah.
Aizetsu membungkuk sedikit.
"Oh pacar Genya? Kalau tidak keberatan , mampir saja dulu" ucap Sanemi memelototi Aizetsu.
"terimakasih, tapi sudah malam, mungkin lain kali" jawab Aizetsu simpel. "kalau begitu, aku balik dulu"
Aizetsu menatap Genya dan pergi dengan mobilnya.
"kau hebat juga punya pacar dengan mobil seperti itu" ucap Sanemi "kamu tidak ngapa-ngapain kan?"
"dia bukan pacarku! Kami baru kenalan!" Pekik Genya kesal.
Mereka jalan bareng sampai rumah.
"ibu! Kami tadi ketemu pacarnya Genya neechan" ucap Sumi berlari kearah ibunya.
"itu bukan pacarku!" Bantah Genya.
"neechan malu-malu" ucap Sumi tertawa dan diikuti tawa adik bontotnya.
Genya merasa sangat capai hari ini dan segera tidur cepat. Ia merasa sangat pusing menghadapi pria yang baru ia temui itu. Ia tidur sangat pulas malam itu.
pagi itu, Genya berangkat ke sekolah seperti biasa, berinteraksi dengan teman sekelasnya seperti biasa dan juga makan berdua dengan pacarnya seperti biasa.
"eh? Minggu ke taman ria?" Tanya Genya kepada pacarnya, Mob-san.
"iya kalau kamu bisa"
"sebentar, aku harus tanya temanku dulu, dia bisa gantiin aku atau tidak, karena setiap minggu aku part time jadi baby sitter, aku harus tanya dulu"
"kalau tidak bisa tidak apa-apa" ucap Mob-san. "karena kerjaan Genya lebih penting kan"
"tapi, aku juga ingin pergi kencan denganmu" ucap Genya malu-malu dan rona wajahnya memerah padam. Mob-san mengelus rambut gadisnya dan tertawa.
Saat Mob-san ingin mencium Genya, tiba-tiba handphone Genya berdering. Genya mengangkat telpon tersebut.
"ya?"
"Genya kau ada waktu pulang sekolah?"
"kau!" Geram Genya kesal saat tau dia ditelpon oleh Aizetsu. "aku tidak ada waktu bermain denganmu! Kalau tidak ada keperluan lain, kututup!"
"tunggu, tunggu!" Ucap Aizetsu datar. "Hari ini kamu kerja dimana? Aku ingin mengembalikan barangmu yang ketinggalan"
"eh? Barang yang ketinggalan?"
"iya, ada di mobilku"
Genya tidak merasa meninggalkan barang, ia berpikir mengingat kejadian kemaren, sepertinya tidak ada yang ia keluarkan dari tasnya tapi karena Aizetsu bilang seperti itu, ia pikir lebih baik ia mengambilnya.
"nanti sih kerja di restauran keluarga dekat stasiun"
"oh kalau gitu aku tunggu di gerbang nanti sekalian saja kuantar kesana"
"eh? Tidak usah!"
"aku sekalian ketemu teman didaerah sana" Aizetsu menutup telponnya dan Genya dibuat pusing kembali.
"Telpon dari siapa?"
"ah kenalan saja" jawab Genya bingung. Saat Genya ingin merapikan bekal makannya, bell masuk berbunyi.
"ah harus cepat-cepat?! Guru matematikanya galak"
"ah, iya?!"
Genya menjalani pelajarannya dengan biasa sampai waktu pulang. Saat pulang sekolah, banyak murid-murid melihat ke Aizetsu sambil berbisik-bisik. Pria itu kini menunggu Genya dengan topi dan kacamata hitamnya di depan pagar sekolahannya. Mobilnya ia taruh disekitar situ. Orang-orang melihatnya dengan bingung. Genya segera menghampiri Aizetsu yang tampak sangat mencolok perhatian.
"bisa ga sih kacamata dan topimu dilepas saja?" Keluh Genya protes.
Aizetsu memandang gadis itu dengan tatapan murung.
"kau lebih cinta aku tanpa topi dan kacamata ini?"
"kau itu mengundang perhatian banyak orang tau!" Pekik Genya kesal. "trus? Mana barangku?"
"ada dimobil" jawab Aizetsu. "Ayo naik ke mobil"
Genya mengikutinya dan naik kedalamnya. Aizetsu menyetir mobilnya.
"ngomong-omong kau mau makan apa?"
"aku tidak makan"
"nanti kau sakit. Kalau kau sakit akan sangat menyedihkan" ujar Aizetsu. "mau ramen?"
"tonkotsu ramen!"
"baiklah" Aizetsu mengendarai ke toko ramen yang enak disekitar situ. Ia memarkirkan mobilnya dan turun dari mobilnya bersama dengan Genya.
Mereka masuk kedalam restauran tersebut dan memesan dua tonkotsu ramen. Aizetsu menatap kearah gadis itu.
"kamu suka sekali pakai topi dan kacamata?" Tanya Genya melihat kearah Aizetsu.
"nggak, hanya aku tidak terlalu suka dipandang banyak mata"
"heee? Kenapa?"
"tidak apa-apa sih" jawabnya singkat. "Genya cantik pakai baju sekolah juga"
Genya merona memerah padam dan menatap kearah lain.
"kamu ngegombalin beginipun, aku ga akan suka kamu"
Aizetsu semakin mengerutkan alisnya, sedih. Ia menatap Genya yang sejak tadi menunggu makanannya dan lalu makanannya datang. Genya memakan ramennya dengan nikmat.
"wah ramen disini enak banget, besok-besok aku ingin mengajak Mob-san makan disini"
"mob-san?"
"tentu saja kan pacarku" jelas Genya.
'pacarmu bagaimana orangnya?"
"dia baik, pengertian, dan ketua osis yang manis. Minggu ini kami berencana ke taman ria" ucap Genya tersenyum bahagia.
"kau bahagia dengannya?"
"tentu saja kan? Cowok yang selama ini kusukai akhirnya bisa jadi pacarku" Genya cemberut melihat Aizetsu dan memakan ramennya.
"selama ini? Sudah berapa lama?"
"sejak kelas satu sih"
Aizetsu memakan ramennya dan tersenyum kecut.
"tapi sayang sekali, kau ditakdirkan bersamaku"
Genya geram mendengar kalimat itu lagi. Ia hampir membanting meja namun ia tahan. "kau itu kenapa percaya diri sekali bisa mendapatkan aku?"
"dahulu kala, ada seseorang mengatakan padaku untuk mengingat namanya karena namanya adalah nama orang yang akan membunuhku" ucap Aizetsu. "Aku mengingatnya karena bagiku, itu adalah pernyataan cintanya"
"hah?"
"Shinazugawa Genya, dia bilang" lanjut Aizetsu. "Sejak itu, mau berapa kalipun aku bereinkarnasi, aku pasti dapat menemukanmu"
Genya bingung dengan pria didepannya ini. Ia menatap Aizetsu dengan tatapan aneh.
"kau pasti salah orang"
"aku tidak mungkin salah orang" ucap Aizetsu menatap Genya murung. "karena aku yakin bahwa orang itu adalah kamu"
"Mungkin kamu perlu ke psikiater untuk melihat apa kamu sakit atau tidak" Genya masih lanjut makan.
"aku tidak perlu ke psikiater, karena aku akan terus mengingat dirimu"
Genya bergidik dan menghabiskan makannya.
"aku sudah selesai, aku bayar ramenku" Genya mengeluarkan uangnya. Aizetsu mencengkram tangan Genya.
"tidak perlu, biar aku antar"
Genya cemberut dan menepis tangan pria itu. "jangan sentuh, stalker mesum!"
Aizetsu membayarnya dan mengantar gadis itu.
"terus benda apa yang ketinggalan?" Tanya Genya menatap pria itu.
Aizetsu melirik sebentar dan kembali menyetir. "tidak ada"
''jadi kau membohongiku?!"
"-" Aizetsu terdiam dan tetap menyetir.
"ugh seharusnya dari awal aku tidak mempercayaimu" geram Genya.
Aizetsu menghentikan mobilnya dan mengambil bingkisan di belakang. Ia memberikannya kepada gadis itu.
"tidak ada barang yang ketinggalan tapi mungkin ini cukup untuk permintaan maafku membohongimu?"
Genya terdiam dan menatap bingkisan itu.
"apa itu?"
"buka saja"
Genya membuka bingkisan itu dan isinya adalah sweater, bantal dan gantungan handphone bergambar dan berbentuk semangka. Rona wajah Genya berubah berseri melihatnya. Ia tersenyum kepada barang-barang itu.
"tunggu! Kenapa kau membelikan ini?"
"karena aku tahu kau menyukainya"
"nggak! Aku ga menyukainya"
"wajahmu berbeda dengan hatimu" ucap Aizetsu melanjutkan nyetirnya. "ambillah kalau suka, aku beli khusus untukmu"
Genya diam dan memeluk barangnya.
"aku suka, terimakasih" Genya terssenyum kecil dan memakai phone strapnya di handphonenya. "lucu sekali"
Aizetsu menatap wajah Genya yang senang dan ikutan tersenyum kecil.
"ah sudah sampai" ucap Genya menatap restaurantnya. Ia mulai siap-siap untuk turun.
"Genya" Aizetsu kembali mencium gadis itu tiba-tiba dan kembali ia kena tamparan gadis itu.
Genya turun dari mobil tersebut dan bekerja melayani orang-orang direstauran itu. Aizetsu masuk kedalam restauran tersebut dengan topi dan kacamatanya dan membuat Genya memucat melihatnya masuk.
"mau apa kau masuk kesini? Jangan menggangguku kerja!"
Aizetsu tersenyum sarkas. "aku kan pelanggan"
Genya terdiam menahan amarahnya.
"aku ingin beli jus alpokat" lanjutnya.
"Aichaaaaannn~~~" ucap seorang gadis masuk ke restauran dan menemukan Aizetsu. Gadis tersebut berambut putih kehijauan dan ditemani seorang pria dengan bintik hitam diwajahnya. Gadis itu mendekati Aizetsu sehingga Genya terkesiap dengan kecantikan gadis ini.
"Ume!" Ucap orang disebelahnya menyuruh diam.
"tumben sekali kau ke restauran seperti ini?" Tanya gadis bernama Ume tersebut duduk didepan Aizetsu.
"ah, aku ingin pesan pasta dan jus lemon ya, mbak" lanjut Ume kepada Genya. Genya yang sejak tadi berdiri terkesima dengan kecantikan gadis itu lalu panik menulis pesanannya.
"phu" Aizetsu tertawa cekikikan dengan wajah murungnya. "HAHAHAHA"
Genya, Ume dan Gyuutarou menatap Aizetsu dengan bingung. Pertama kali dalam hidupnya ia tertawa terpingkal-pingkal seperti itu.
"ini pertama kalinya kami melihat kau tertawa" ucap Gyuutaro dan Ume.
"Ume, ini cewek yang kubilang, Genya"
"he?! Gadis yang kau bilang takdirmu dari jaman SD?!" Ucap Ume menatap Genya. "Akhirnya kau temukan juga?"
Genya menatap bingung. Ume berdiri disebelah Genya dan menatap dari atas sampai bawah.
"cocok juga kalau jadi model, ya kan Niichan?"
Genya merona dan menatap Ume bingung. Ia mendekatkan wajahnya ke Aizetsu dan membisik.
"kau beneran berteman dengan Ume si model?"
Aizetsu menatap lurus ke Genya dan tersenyum. "Sudah kubilang kan?"
Genya terdiam lalu teringat akan tugasnya. ia kembali ke dapur untuk pesanannya. Ia melayani beberapa customer namun ia melihat Aizetsu ngobrol bareng dengan Ume, sang gadis model. Saat ia sedang bekerja, tidak disengaja rekan kerjanya memecahkan beberapa piring dan gelas didepan customer. Genya membantunya membereskan. Temannya tampak sangat pucat dan gemetaran.
"bagaimana ini? aku akan dipecat" ucapnya takut dengan pelan.
Genya merasa tidak enak hati dengan temannya yang sedang hamil itu. ia tahu bahwa gadis itu tidak ada penghasilan lainnya selain dari sini. Ia memegang tangan gadis itu.
"tenang saja, pasti tidak akan dipecat" Senyum Genya memastikan.
"apa yang terjadi disini?" tanya sang bos keluar dari ruangannya dan mendapatkan tempat yang berantakan.
"ah maafkan saya pak" ucap Genya merasa bersalah. "tadi saya tidak sengaja kepeleset sehingga piring dan gelas ini jatuh dan mengenai A-san yang sedang hamil"
"apa?! Shinazugawa, kau tahu kan harga piring dan gelas disini tidak keluar dikit" marah sang bos.
"maaf saya benar-benar minta maaf"
'kau pikir dengan minta maaf, piring dan gelas itu akan kembali utuh?" Marah sang bos. Genya merasa bersalah dan si bos tetap memarahinya.
"kau kupecat!"
Genya sudah tahu apa yang akan dikatakan bosnya dan menunduk. Bosnya balik keruangannya dengan kesal.
"Genya chan maafkan aku, karena aku"
"tidak apa" ucap Genya tersenyum. "lagipula aku masih ada pekerjaan lain sedangkan kakak tidak ada kan?"
"tapi-"
''tenang saja kak, aku masih bisa cari ditempat lain"
Genya pergi keruangannya untuk mengganti baju.
Aizetsu melihatnya sedari tadi dan pergi menunggu Genya keluar dari restauran itu.
"kau tak apa?"
"ah, aku tidak apa-apa" ucap Genya senyum. "Yah setidaknya kakak tidak dipecat"
"kenapa kau menutupi kesalahannya dan membuat dirimu disalahkan?"
"karena aku masih muda dan masih bisa mencari yang lain"
"kau mau bekerja ditempatku?"
"eh?"
"kebetulan aku membutuhkan orang untuk mengurus rumahku"ucap Aizetsu.
"aku tidak butuh tanda kasihan"
"ini bukan tanda kasihan, aku memang butuh dan kebetulan sekali"
Genya menatap kearah Aizetsu.
"gajinya pun lumayan, satu jamnya 1000yen kalau mau setiap hari setelah pulang sekolah, datanglah kerumahku" Aizetsu memberikan alamatnya. "Pikirkanlah"
Genya terdiam menerima alamat dari Aizetsu. dirumah ia melihat alamat yang diberikan oleh Aizetsu dan memikirkannya.
"oi Genya" panggil sang kakak masuk ruangan.
"Sanemi niichan? Ada apa?"
"Dari tadi dipanggil untuk makan malam, yang lainnya sudah menunggu"
"ah, iya" Genya berdiri dan menghampiri ruang makan.
"Sanemi, kamu liat uang di atas tv?" Tanya sang ibu. "tadi ibu taruh sini"
"Eh? Tidak lihat, kenapa?"
"anehnya padahal tadi ibu taruh sini"
"Berapa uangnya?"
"empat puluh limaribu yen"
"geh?! Itu tidak sedikit kan?" ucap Sanemi. "coba diingat lagi ibu taruh mana?"
Sanemi membantu mencarinya namun hasilnya nihil. Genya melihatnya dan bantu mencarinya namun alhasil nihil. Genya berpikir ia ada tabungan dengan jumlah yang hampir sama. Ia mengambil tabungannya dan berpura-pura melihat uang ibunya didekat laci dekat jendela.
"ibu? Ini aku menemukannya tanpa amplop didekat jendela. Ibu hati-hati dong naruh uangnya"
"Eh? Memang ibu taruh situ ya?" ucap sang ibu. "Ibu lupa"
Genya tersenyum dan memberikannya pada ibunya. Lalu mereka makan dengan tenang dan seperti biasa penuh canda dan tawa.
"ngomong-ngomong pacar Genya Neesan yang kemaren tidak datang lagi?" tanya si bontot.
"eh?! itu bukan pacarku!" Genya memerah padam dan membantah.
"wajah neechan memerah"
Tawa canda dirumah itu terdengar sangat meriah. Selesai makan, Genya menelpon Aizetsu.
"tumben kau menelpon?" Tanya Aizetsu.
"Ung ini mendadak sih" ucap Genya. "tapi aku butuh pekerjaan darimu"
"Kalau begitu besok pulang sekolah kau bisa datang kerumahku"
.
.
TBC
