Aizetsu x Genya
Part 4. REINCARNATION DESTINY TERORRIST
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)
.
Genya menatap pagar rumah Aizetsu yang besar dan dia memencet bell rumah tersebut.
"aku akan merapikan rumah sebesar ini?" Batinnya.
Ia memencet bell berkali-kali dan keluarlah pria berambut gondrong dengan alis mengkerut kesal melihat kearah Genya.
"aku sudah datang dan beritahu saja apa tugasku?"
Pria itu menatap Genya dengan bingung. Dia menatap Genya dari atas sampai bawah.
"maksudmu? Maaf kita tidak menerima sumbangan"
"hah?" Genya bingung menatap kearah pria itu dan kesal. "semalam aku sudah menelponmu kan?! Kenapa kau malah mengatakan hal itu?!"
"hah? Menelpon? Siapa yang kau telpon?" Pria itu mencengkram pipi Genya kesal.
Genya berusaha memukul pria didepannya dengan kesal. "begitu perlakuanmu dengan orang yang kau pekerjakan?!"
mereka berdebat di pintu pagar dan tidak ada yang mau itu, Aizetsu yang hanya memakai handuk dipinggulnya mau tidak mau keluar dan memeluk Genya.
"bisakah kalian tenang sedikit? Kalian itu sungguh menyedihkan"
Genya tersentak kaget melihat Aizetsu yang asli dan ia menatap pria yang sejak tadi dia pukul.
"eh? Eh?"
"jadi dia siapa?"
"kaki tanganku" ucap Aizetsu membawa masuk Genya. "Mulai hari ini dia bekerja untukku"
Genya masih menatap dengan penuh kebingungan.
"oh? Ada tamu?" Tanya pria lainnya yang muncul dari lantai dua. Wajahnyapun sama seperti Aizetsu namun alisnya lebih relaks.
"Jadi ini Genya, sekarang ia akan jadi managerku"
"eeeh?!"
"Genya, mohon bantuannya ya" ucap Aizetsu yang masih memeluk Genya dari belakang. "tugasmu hanya mengurusku kok"
"oi! Kau serius?" Ucap pria dengan alis mengkerut kesal.
"aku serius" Aizetsu memeluknya mesra dan menaruh pipinya di kepala gadis itu. "Genya adalah takdirku"
'oh iya Genya kenalkan, ini saudara kembarku, yang ini namanya Sekido, dia selalu marah mulu, manusia menyedihkan, yang diatas namanya Karaku, manusia termenyedihkan juga, dan ada lagi yang dikamar namanya Urogi, manusia yang sangat bahagia, menyedihkan juga sih"
"tu- tunggu!" Ucap Genya semakin pusing. "Kau punya kembaran?!"
"Ah? Aku belum cerita?" Tanyanya. "iya, mereka bertiga kembaranku"
Genya memucat pasi dan memegang kepalanya. Ia merasa sangat pusing melihat mereka. Entah rasanya perasaan ini pernah terjadi jauh sebelum gadis ini hidup. Ia terdiam.
"untuk pekerjaanmu-" Aizetsu membawa gadis itu kedalam kamarnya.
Genya melihat kamar Aizetsu yang sangat rapi dan dia membanting tasnya kesal.
"KAU BILANG KAU BUTUH PENGURUS RUMAHMU?!''
Aizetsu yang sedang mengelap rambutnya yang basah menatap Genya sambil mengambil bajunya.
"ah memang benar, mulai dari kamu datang, aku akan membayarmu" ucapnya.
"KAMARMU SANGAT RAPI! KAU TIDAK BUTUH PENGURUS!" Pekik Genya. "OH, APA KAMAR SEBELAH?"
Aizetsu menggenggam gadis itu. "Genya, kau hanya pengurus milikku, jadi kau hanya mengurus aku saja"
"urus apa?" Geramnya.
"kau akan ikut kemanapun aku pergi"
"hah?"
"setelah pulang sekolah, aku akan jemput kamu dan ikut denganku. Kalau hari minggu juga kau boleh datang jam berapapun tapi kalau aku sibuk, diharapkan pagi sudah ada ditempatku. Aku akan bilang kok kalau memang sedang sibuk"
"apa-apaan itu?"
"Kau hanya pengurus pribadiku" Aizetsu menggenggam pipi Genya dan ingin mengkecup gadis itu, namun Genya kembali menampar Aizetsu sebelum ia menyentuh bibirnya.
"terus hari ini Aku harus apa?" tanya Genya menanyakan job desknya.
"hari ini kau ikut kita ngeband" ucap Aizetsu memakai bajunya dan mempersiapkan dirinya.
"hah?"
"ah kau ganti bajunya jadi ini" ia memberikan baju ganti cewek.
"kau punya baju cewek?"
"aku pinjem sama Ume karena kuyakin kau tidak bawa" ucap Aizetsu menatap tubuh Genya. "Kupikir cukuplah"
Genya mengganti bajunya dan bersiap sedia ikut mereka. Ia mengikuti Aizetsu keluar dan membawa barangnya.
"jadi hari ini performance kita harus maximal!" Ucap Karaku terkekeh.
"yoi" jawab Urogi.
Semua barang sudah disiapkan dan mereka masuk ke mobil.
"Sekido kamu yang nyetir!"
"aku lagi?"
"karena aku mau tidur sebelum konser!"
"kalau gitu Urogi saja deh!"
"gimana kalau Aichan aja?" Semua menatap Aizetsu. Aizetsu menghela nafasnya melongos dan memeluk Genya.
"aku nyetir berarti Genya didepan bersamaku" ucapnya.
Semua terdiam lalu mengangguk setuju.
"let's go menuju Tokyo Dome!"
Aizetsu mulai menyetirkan mobilnya. Genya terdiam bingung. Ini seperti sangat mendadak sekali dan proses di otaknya melambat. Apa tadi? Tokyo Dome? Ga salah? Itu kan tempat gede banget. Ngapain mereka konser di tempat segede itu? Genya ingin berteriak tapi ia mengurungkan niatnya.
"tunggu!" Ucapnya bingung. "Tokyo Dome?"
"iya"
"tunggu! Tunggu! Kalian mau ngapain?"
"konser"
''di?"
"tokyo Dome"
"KALIAN INI SIAPA?" pekik Genya panik.
"hah? Kau ga tau kita?" Tanya Sekido bingung. "Kau serius, Aizetsu? Punya pacar kudet seperti ini?"
"serius" jawab Aizetsu singkat.
"aku bukan pacar pria ini!" Bantah Genya menunjuk Aizetsu.
"kau tahu, kami sangat terkenal loh" ucap Karaku yang ingin tidur tapi tidak jadi. "kami dari band Kidoairaku yang sangat dipuji-puji oleh gadis-gadis"
"hah?" Genya terdiam dan bingung.
"kau itu mendengarkan lagu ga sih?" Kesal Sekido
"maaf saja aku jarang melihat entertainment!" Kesal Genya melihat belakang.
"Aichan, kau serius bersama manusia kudet seperti ini?" Ambek Urogi. "bahkan dia sepertimya tahunya lagu-lagu kenangan"
"kalian menghinaku?!" Geram Genya kesal.
Aizetsu hanya melihat mereka yang berdebat dari kaca spion dan tetap menyetir.
Genya tidak habis pikir bahwa dia dikelilingi oleh artist-artist yang terkenal saat ini. Dia memang jarang mendengarkan lagu-lagu yang sedang ngetrend karena pikirannya hanya kerja untuk menabung demi keluarganya. Ia sangat berniat untuk membantu keluarganya san sekarang ia berpikir bahwa ia harus lebih giat nabung lagi kalau-kalau ada kejadian seperti semalam.
Kini ia berdiri di belakang stage dengan gemetaran. Jiwanya bergejolak, berpikir bahwa ini tidak nyata. ia tidak pernah tahu kalau orang yang selama ini mendekatinya adalah seorang drumber dari band Kidoairaku, band terkenal yang sedang ngehits beberapa tahun belakangan ini. Sekarang Genya semakin pusing dan rasanya kepalanya mau pecah dengan kejadian yang mendadak ini.
Aizetsu melihat Genya dan memeluknya dari belakang.
"Genya, kau tidak apa-apa?"
"uh, aku tidak apa-apa hanya ini seperti mendadak untukku" ujar Genya memucat pasi. Ia berdebar-debar melihat penonton bersorak-sorai didepan panggung. "kau tidak gugup?"
"pertama kali dulu sih aku gugup, tapi sekarang sudah biasa"
"memang pro" ujar Genya. Aizetsu tertawa kecil.
"kaupun akan terbiasa" Aizetsu mencium pipi Genya. "aku akan membayarmu kok, tugasmu disini ga perlu repot-repot"
Genya menjambak rambut pria itu kesal. "siapa yang membolehkan kau menciumku?! Jangan mentang-mentang aku lengah, kau mengambil kesempatan"
Ia begitu kesal dan menjauh dari Aizetsu.
"yak, sekarang kita saksikan Kidoairaku band" ucap sang MC. Genya dibalik panggung menatap keempat kembar itu masuk ke panggung.
"hai guys!" Seru Urogi dan Karaku menyapa dan terdengar sorak-sorai para penonton. Mereka memberikan siulan, dan teriakan-teriakan panggilan nama mereka.
Genya tidak menyangka bahwa mereka seterkenal ini. Ia pangling dan mendengarkan mereka menyanyi dan bermain alat musiknya. Genya sangat takjub dengan band tersebut dan sorak sorai penonton yang sangat ramai.
"permainan musik mereka mengasyikan kan?" Tanya Ume menghampiri Genya.
"ah iya, lagunya begitu mengasyikan" ujar Genya. "aku baru pertama kali mendengar lagunya"
"eh? Kukira kamu penggemar mereka juga seperti yang lain"
"nggak!"' Ucap Genya merona. "aku ini korban paksaan Aizetsu"
"hah? Korban paksaan?" Ume menatap Genya bingung.
"dia selalu bilang bahwa aku adalah takdirnya" Genya menghela nafasnya. "padahal dia kan bisa mendapatkan gadis yang benar-benar mencintainya atau cantik sepertimu, Ume"
"hah, cowok membosankan yang memikirkan kehidupan sebelumnya itu tidak akan pernah mau melihat orang lain" ujar Ume menopang wajahnya. "aku pernah ditolak olehnya saat SD"
"eh?!"
"iya! Dia bilang 'takdirku hanya untul orang bernama Shinazugawa Genya', begitu" jawab Ume mempraktekan ekspresi Aizetsu. "Saat itu semua mempertanyakan 'siapa Shinazugawa Genya ini?' Bahkan Urogi yang sekelas dengannya tidak mengenal anak bernama itu"
Genya menatap Ume dengan bingung dan merona. Ia berpikir dan melihat para penonton lagi.
"tapi aku mencintai orang lain" ucap Genya senyum kecil. "Lagipula dia selalu memaksaku dan mendekatiku"
"Eh?! Kalau kau suka orang lain, kenapa kau bisa disini?"
"dia bilang ada pekerjaan untukku dan bayarannya lumayan" ucap Genya. "karena ada masalah dengan keuangan, aku terima tawarannya"
"Aichan selalu menyedihkan ya" ucap Ume.
"aku berharap dia menyerah denganku dan berpaling dengan salah satu dari orang-orang itu"
"kenapa kau tidak mencoba untuk jadian dengannya? Siapa tahu kalian benar jodoh kan?"
"aku ini sudah punya pacar! Aku tidak mau mengkhianati pacarku, dia sangat baik dan pengertian padaku. bahkan dia mengesampingkan kepentingan kencannya karena tahu aku bekerja part time"
Ume menatap gadis itu lalu menatap Aizetsu.
"kalau kau memang tidak menyukainya, lebih baik dari awal kau tidak mendekatinya"
"aku juga inginnya seperti itu tapi, dia selalu memaksaku dan menjemputku di depan sekolah"
"Aichan memang suka maksa sih kalau memang sudah niat"
"ya kan?" Ucap Genya tersenyum pahit mengingat dirinya selalu dipaksa seperti itu. "Ume sendiri masih menyukainya? Kalau Ume berusaha, mungkin dia akan menyerah denganku"
"aku selalu berusaha untuk masuk kehatinya, tapi dia tidak pernah membuka hatinya ke gadis lain" Ume tersenyum. "Berkali-kali kucoba, Ia selalu mengatakan hal yang sama dan bahkan ia berkata jahat tentangku sampai ia berantem dengan oniichan hingga guru-guru menghentikan mereka"
Genya terdiam mendengarkan.
"sejak itu, aku menyerah mengejarnya" ucapnya. "Dia tidak dapat kuraih"
Genya terdiam menatap gadis itu.
"yah, intinya aku disini hanya untuk bekerja" jelas Genya. "aku tidak ada perasaan lebih"
Ume tersenyum. "hmm? Yah, kalaupun ada rasa, sainganmu hanya fans-fansnya saja"
"huh?" Genya bergidik Dan menggelengkan wajahnya. "aku ga suka!"
Aizetsu menatap kearah Genya saat lagu terakhir selesai dimainkan. Gadis itu memberi tepuk tangan bersamaan dengan sorak-sorai dari para penonton. Mendengar penonton minta anchore, Kidoairaku memainkan lagi lagu-lagu mereka.
.
"heee? Jadi Aizetsu drummer, Sekido bass, Karaku Gitar dan vocalisnya Urogi?" Tanya Genya memberikan handuk kepada Aizetsu. Dirinya belum bisa membedakan yang mana Urogi dan Karaku. Ia hanya bisa membedakan Sekido dan Aizetsu.
"Dan tentu saja, karena suara vocalisnya lah kita jadi terkenal" ucap Urogi membanggakan diri.
Genya menatap kearah Urogi bingung. Aizetsu melihat Genya lalu memberikan buku tabungan padanya.
"Genya, aku buatkan buku tabungan untukmu jadi aku langsung transfer uangnya ke tabunganmu"
Genya menatap angka dibuku tersebut dan terkaget. "eh? Banyaknya?"
"ah, itu bonus untuk jaga-jaga"
"aku ga mau! Aku mau harga biasa!"
Aizetsu melirik dan menghela nafasnya.
"sudahlah terima saja, anggap saja itu sebagai tanda terimakasihku telah menemanilu datang ke konser pertama kali. Aku tidak meminta pamrih"
Genya memicingkan matanya kepada Aizetsu, tidak percaya.
"kau minta hatiku?"
"aku meminta hatimu, tapi aku melakukan itu dengan caraku sendiri" jelas Aizetsu menatap gadis itu.
Genya terdiam dan melihat kearah lain dengan malu. "terimakasih sudah membuatkan tabungan"
Ia merasa tidak enak hati namun ia harus memilikinya. Ia memasukannya kedalam tasnya. Saat ia memasukannya, handphonenya berdering. Ia mengangkatnya dengan panik.
"ha- halo?"
"Genya? Kemana sudah malam gini?" Tanya Sanemi dengan nada yang keras.
Genya terdiam dan menelan ludahnya.
"ma- maaf niichan, aku tiba-tiba diajak teman nonton konser dan dibayari"
"kamu tidak memberi kabar?!"
"ma- maaf, aku lupa" Genya merasa sangat takut kali ini. Ia lupa memberi kabar dan merasa bersalah. "A- ku akan pulang sekarang"
"kuantar" ucap Aizetsu mengambil barang-barangnya.
"kau bersama pria itu?" Tanya diujung telpon.
"i-iya" jawab Genya ragu. "aku bersama temanku yang lainnya juga"
"hhh, yasudah, pulang segera! Besok kau sekolah pagi"
"baik, niichan"
Aizetsu membawa barangnya kedalam mobilnya dan semua bersiap-siap untuk pulang. Aizetsu menyetir dan Genya duduk disebelahnya harap-harap cemas kakaknya tidak membunuhnya.
"maaf" ucap Aizetsu .
"tidak, ini salahku lupa memberi kabar" senyum Genya dengan terpaksa. "aniki memang seperti itu kok"
Aizetsu mengelus kepala gadis itu dan mengantarnya sampai depan rumah untuk meminta maaf kepada keluarganya lalu pulang.
"wah wah pacarmu manis sekali Genya" ucap sang ibu tersenyum. "besok-besok bawa dia makan malam bersama kita"
"di- dia bukan pacarku!" Bantah Genya merona. "kenapa sih kalian semua menyangka dia pacarku?!"
"eh? Tapi dia ganteng loh" ujar Sanemi meminum birnya, mengejek adiknya.
"tapi aku ga suka!" ucap Genya malu-malu. "ngomong-omong, ibu tau band Kidoairaku?"
"oh band yang disukai Teiko dan Sumi? Kenapa?"
"eh? Mereka suka?"
"mereka selalu membicarakan itu kan?"
Genya merasa sangat kudet sendiri dan terdiam mengingat kedua adiknya membicarakannya.
Keseharian Genya dilalui dengan menjadi manajer pribadi Aizetsu setelah pulang sekolah. Terkadang ia memang sibuk, terkadang ia sama sekali tidak ada kerjaan. sebagai pengurus pribadi Aizetsu, tugasnya tidak terlalu banyak, bahkan ia yang sering dimanja oleh pria itu.
"Untuk konser berikutnya, boleh aku bawa adik-adikku?" Tanya Genya yang sudah terbiasa bersama mereka. "adik-adikku penggemar kalian ternyata"
'boleh saja" ucap Aizetsu menatap gadis itu.
"heee? Adikmu suka kita? Siapa yang paling mereka suka?" Tanya Karaku nimbrung.
"uhm aku tidak menanyakannya sih" jawab Genya. "Sabtu ini ga apa kan aku bawa mereka?"
"ga apa-apa, bawa saja" jawab Karaku.
"Teiko dan Sumi pasti senang banget" jawab Genya tersenyum.
Aizetsu mencium pipi gadis itu sehingga Genya mendorongnya malu.
"kau itu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan ya!" Kesalnya merona.
"Genya manis soalnya, aku tidak sabar ingin melahap Genya"
"omonganmu mengarah kemana huh?!" Geramnya kesal.
"kakakaka, Aichan benar-benar bertahan sama kamu ya"
"seharusnya aku yang bertahan sama pria macam kalian!" Pekik Genya menjitak Aizetsu dan Karaku. "kalau ga demi uang tabungan, aku ga akan bekerja seperti ini"
"yah ga apalah, kan ada bagusnya" Aizetsu menatap kearah Genya. "kita bisa sedekat ini"
Genya menatap kesal ke pria itu namun ia tidak bisa berkomentar apapun. Baginya, berkat Aizetsu, dia dapat menabung dan bahkan membantu keluarganya.
"ah ngomong-ngomong aku ada PR, bisa bantu?" Tanya Genya membuka buku matematikanya. Aizetsu menatap kearah tugasnya.
"oh ini pakai rumus yang ini kan?"
"bagaimana caranya?'
Aizetsu mengajarkan gadis itu sehingga Genya mengerti. Selama berjam-jam mereka belajar sehingga ia tersadar hari sudah malam.
"ah?! Aku harus pulang"
"akan kuantar kamu"
"tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri"
"akan sangat menyedihkan kalau seorang gadis pulang sendirian malam-malam begini" Aizetsu mempersiapkan diri untuk mengantar. Ia memberikan jaketnya kepada Genya. "malam ini begitu dingin, lebih baik hangatkan diri pakai ini"
Genya mengangguk dan tersenyum. "terimakasih"
Aizetsu mengantar Genya pulang kerumahnya dengan mobilnya.
"Mau mampir?" Tanya gadis itu menatap Aizetsu. Aizetsu menatap balik dan mengelus rambut Genya.
"Mungkin nanti saja" ucap pria itu
Genya tersenyum kecil. "konser besok, aku beneran boleh bawa Teiko dan Sumi?"
"tentu saja" jawab Aizetsu.
"aku tidak sabar menunggu besok" seru Genya semangat. "aku penasaran mereka akan bereaksi seperti apa ya"
Aizetsu menatap gadis itu lalu menarik gadis itu, mengkecup bibir gadis itu. Genya terkesiap dan segera mendorong pria itu.
"kau?!" Wajah Genya merona merah dan mengelap bibirnya dengan tangannya. "kenapa sih kau selalu saja menciumku?!"
"Aku sudah bilang kan, kau itu takdirku dan aku percaya itu"
"aku itu bukan takdirmu! Kita takdir hanya sebagai rekan kerja saja. Aku tidak bisa menganggapmu lebih!"
"kau bisa pikirkan matang-matang untuk kedepannya. Tidak usah buru-buru"
"bukan masalah itu!" Genya menatap kearah lain "sudahlah! Aku disini bersamamu hanya karena aku bekerja untukmu!"
Genya berlari sampai kerumahnya dengan rona wajah yang sangat memerah padam bagaikan tomat. Ia tidak habis pikir dengan perlakuan Aizetsu padanya. Setiap hari kalau ada kesempatan, pria itu selalu saja mencumbunya. Bahkan karena hal itu, ia menjadi sering bingung sendiri saat menghadapi pacarnya, mob san, saat mereka ingin bermesraan.
"Genya neechan?" Panggil adiknya yang bingung melihat kakaknya tampak seperti tomat. "Genya neechan kenapa? Neechan sakit?"
"eh? Ah nggak, ini- ehn-" jawab Genya panik. "AH?! Teiko, Sumi besok kalian ga ada acara kan? Mau nonton konser Kidoairaku?"
Genya teringat tentang konser itu dan menatap adik-adiknya.
"eh? Sejak kapan Genya neechan suka Kidoairaku?" Tanya Sumi penasaran tapi bersemangat.
"ah, nggak, hanya aku ada tiketnya" jawab Genya berboghong.
"eh kami mau! Mau banget" jawab Teiko. "Jarang-jarang Genya neechan mengajak nonton konser"
"benar juga" jawab Sumi. "Genyaneecha kan kudet masalah artis"
"kalian ini!" Pekik Genya kesal.
"kami menantikan konser besok, Neechan" Teiko dan Sumi memeluk Genya.
Genya tersenyum dan memeluk mereka. "kalau gitu bangun pagi ya? Karena aku harus sudah siap sedia dari pagi"
"eh? Kenapa dari pagi? Konsernya kan malam?"
"yah, kamu bisa puas-puasin menghajar mereka" ucap Genya tertawa puas berpikir adik-adiknya bisa mengerjai keempat orang itu.
"hah?" Teiko dan Sumi terdiam dan saling pandang.
Genya mulai mempersiapkan dirinya dan tidur cepat agar besok bisa bangun pagi. Saat pagi menjelang, ia membangunkan kedua adiknya dan mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. Saat baginya sudah selesai, ia segera berangkat bersama kedua adiknya.
"kita mau kemana sih?" Tanya Sumi menatap kakaknya bingung.
"yah kalian pasti akan tahu kok"
'kenapa kita harus dari pagi?"
"ne, Genya neesan?"
"untuk membalaskan dendamku pada mereka!"
"hah?"
Genya memencet bell rumah Aizetsu saat sudah sampai namun ia mengambil kunci rumah tersebut dari tasnya. Ia mendapatkan kunci cadangan dari Aizetsu
"ah? Neechan mau pacaran ama pacar neechan ya?!" ucap Sumi. "AH?!kenapa pacaran bawa-bawa kita?!"
"aku ga pacaran!" Kesal Genya.
Genya membuka pintu rumah tersebut dan masuk kedalamnya bersama kedua adiknya. Adik-adiknya menatap kedalam rumah itu dengan takjub.
"Pasti masih tidur" batin Genya menghela nafas.
"Teiko, Sumi, kalian tunggu disini! Aku mau bangunkan orang dulu"
Genya berjalan ke kamar Aizetsu dan masuk seperti biasanya dengan brutal seperti saat ia membangunkan pria itu setiap sabtu dan minggu paginya. Saat ia membuka pintunya, ia terkaget menatap pria itu sudah bangun dan baru saja selesai mandi dan kini tanpa busana sehelaipun ditubuhnya. Dalam seketika itu juga Genya teriak dan segera membanting pintunya. Wajahnya memerah padam melihat sesuatu yang bahkan tidak ingin ia lihat. Karena teriakan Genya, semua orang didalam rumah keluar dari kamarnya masing-masing.
"apaan sih pagi-pagi sudah ribut?!" Pekik Sekido kesal.
Genya masih menutup matanya dan berlari kearah adik-adiknya dengan wajah yang benar-benar memerah. Ia memeluk kedua adiknya dengan perasaan malu.
"biasanya dia ga pernah bangun jam segini! Mana aku tahu kalau hari ini sudah bangun dan memarkan gajahnya seperti itu!" Pekik Genya.
"kakakaka! Wah, Genya baru pertama kali melihat gajah ya?" Tawa Urogi yang muncul dari atas.
Aizetsu keluar dari kamarnya dengan memakai bajunya. "ah maaf, aku kepagian bangunnya"
"eh?! Pria ini kan pacar neechan?!" ucap Sumi yang teringat dengan siluet Aizetsu saat malam hari.
"eh?! Bohong? Genya neechan pacaran sama member Kidoairaku?!"
"dia bukan pacarku, dibilangin!"pekik Genya kesal.
"ah kaian adiknya Genya? Sumi dan Teiko?" Ucap Aizetsu. "aku calon kakak ipar kalian, Aizetsu"
"kau jangan menyebar fitnah!" Pekik genya menjambak rambut Aizetsu.
Jadi selama ini Genya neechan pacaran sama Aizetsu niichan?! Mohon bantuannya, terimakasih atas kerja kerasnya atas Genya neechan"
"Teiko! Sumi!" Pekik Genya kesal. Wajahnya memerah malu dan memukul Aizetsu keras. "ini semua salahmu!"
"kakakaka! Pagi-pagi sudah membuat kegaduhan saja!" Ucap Urogi keluar dari kamarnya. "pantas saja Sekido mendumel keras sejak tadi"
"itu Urogi?! Itu Urogi!" Kyaaaa" Teiko dan Sumi memerah padam dan mendekatinya. "Urogi san, boleh minta tandatangan?"
"tentu saja"
"kita beruntung sekali, Sumi, neechan berpacaran sama salah satu artis"
'Genya neechan berguna juga" tawa mereka.
"ada Karaku dan Sekido juga?!" Ujar mereka. "'aaaah, minta tanda tangan juga"
"kami fans berat kalian tapi aku suka banget sama Urogi, kalau Sumi suka Karaku Shuya suka Sekido "
"kalau begitu, kakak kalian buat aku ga apa kan?" Tanya Aizetsu memeluk Genya dan menyenderkan gadis itu kepadanya.
"hihihi, kami tidak masalah"
"kalian ini ngomong apaan sih!" Genya menjitak Aizetsu kencang. Wajahnya memerah padam bagaikan tomat. Ia sudah tidak tahu harus ngomong apa biar adiknya mempercayainya bahwa dia dan Aizetsu tidak berpacaran.
"Ngomong-omong kalian belum makan kan? aku masakin sarapan ya?"
"sekalian kita kan?" Tanya Karaku yang sedang foto-foto bersama Sumi dan Teiko.
"iya iya" ucap Genya kesal dan segera masuk ke dapur. Ia membuatkan sarapan untuk semuanya.
Aizetsu memeluknya dari belakang dan mengkecup pipinya. Genya tersentak kaget lalu mendorong pria itu.
"lepaskan! Kalau Teiko dan Sumi melihat, nanti mereka salah paham!" Jelas Genya mendorong.
"tidak apa kan? mereka juga sudah berpikir bahwa kita pacaran"
"karena itu jangan buat mereka salah paham lebih dalam!" Pekik Genya. "Kalau ketahuan pacarku, nanti dia-"
Aizetsu mengkecup bibir Genya dan mengkulum lidah gadis itu. Genya meronta namun genggaman pria itu begitu kuat. Wajah Genya memerah padam dan ia mulai luluh dengan ciuman itu. Ciuman yang memabukkan yang pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Ia terlena dengan ciuman itu dan membiarkan Aizetsu mengkecupnya. Aizetsu menatap gadis itu dan mengelus rambutnya.
"manisnya" ujarnya. "perlihatkan wajahmu yang seperti ini hanya padaku, Genya"
Genya terdiam dan membuang mukanya. Wajahnya memerah padam dan jantungnya berdetak cepat. Ciuman tadi seakan menggerakan gejolak di jiwanya. Ia diam dan melanjutkan masaknya tanpa bicara satu patah katapun kepada Aizetsu. Aizetsu masih memeluknya dan memendamkan wajahnya kebahu gadis itu dan melirik wajah merah gadis itu.
Genya memasakkan untuk semuanya termasuk Sumi dan Teiko yang belum sarapan dirumah.
"kau ga sarapan?" Tanya Karaku yang melihat Genya terdiam berdiri.
"ah aku tadi sudah sarapan" jawabnya.
"bohong! Neechan belum sarapan kan?" Ini makan bareng kita" ujar Sumi.
"ah nggak! Aku ga apa" ucap Genya yang sejak tadi merasa tubuhnya bereaksi aneh. Sejak ciuman tadi, Genya merasa gugup bila berada didekat Aizetsu dan merasa agak aneh didalam dirinya.
"makanlah punyaku!" Ucap Aizetsu memberikan setengah sarapanya.
"tidak usah! Aku tidak lapar"
"nanti kau sakit" Aizetsu menghampiri gadis itu dan menggeretnya ke bangku sebelahnya. 'kalau kau sakit, adikmu akan sedih"
Genya terdiam dan memalingkan wajahnya. Ia mengambil setengah sarapan milik Aizetsu dan memakannya dengan pelan. Wajahnya begitu merah dan debaran didirinya tidak bisa ia hentikan.
hari itu, mereka berangkat dari pagi untuk bermain-main santai dulu. Teiko dan Sumi begitu bahagia bisa pergi dengan band favorite mereka dan bermain juga foto bareng mereka. mereka bermain ke pantai walau ini bukan musim panas.
Genya duduk di pinggiran melihat kedua adiknya bersenang-senang dengan Karaku dan Urogi juga Sekido. Ia senang melihat adik-adiknya senang.
Aizetsu melihatnya dan duduk disebelahnya. "Kau tidak ikutan bermain bersama mereka" tanya Aizetsu.
"kau sendiri?" Genya balik bertanya. Ia teringat ciuman memabukkan itu lagi dan duduk sedikit menjauh dari Aizetsu.
Aizetsu menyadarinya dan menatapnya sedih. Ia melihat lurus kedepan dan menghela nafasnya. Mereka terdiam seribu bahasa tanpa tahu harus bagaimana. situasi begitu terasa tegang dan aneh. Aizetsu mencoba untuk membuka topik pembicaraan.
"Genya"
"y- ya?"
" tahu harus bagaimana. situasi begitu terasa tegang dan aneh. Aizetsu mencoba untuk membuka topik pembicaraan.
"Genya"
"y- ya?"
"Mau melanjutkan yang tadi?" tanya Aizetsu duduk mendekati gadis itu.
Genya terkesiap dan wajahnya merona padam. Belum sempat dia menjawab, Aizetsu kembali mencium bibirnya dan memegang kedua tangan gadis itu sebelum ia kena pukul gadis itu. Genya terdiam dan menikmati ciuman itu, ia sama sekali tidak memberontak dan hal itu membuat Aizetsu memeluknya erat. Genya merasa sangat dillema dengan perasaannya. Ia menyukai Mob-san, tapi sentuhan-sentuhan dari Aizetsu membuatnya semakin terbiasa dan membuatnya berdebar-debar, terutama ciuman dipagi ini.
Aizetsu menyentuh pipi Genya dan mengkulum lidah gadis tersebut. Melihat sang gadis menikmati ciuman tersebut, Aizetsu tidak mau melepaskannya dan tetap menciumnya. Beberapa menit berlalu, Aizetsu memberanikan dirinya mengkecup leher gadis itu. Genya yang menikmatinya sedikit mendesah namun ia tersadar dan segera mendorong kembali pria itu. Wajahnya begitu merona seperti tomat yang baru matang.
"Genya-"
"hentikan! Aku- aku suka mob san" jawabnya bimbang. Dadanya bergemuruh kencang dan wajahnya tak dapat ia sembunyikan.
"Genya, aku mencintaimu" ucap Aizetsu memegang tangan gadis itu. "Kau adalah takdirku, ingatlah itu!"
Genya terdiam, wajahnya begitu bimbang menahan perasaan yang ia rasakan saat ini. ia tidak tahu harus bereaksi apa dan bagaimana. Ia benar-benar dillema.
.
.TBC
