Aizetsu x Genya
Part 5. REINCARNATION DESTINY TERORRIST
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)

.

"Genya neechan!" Panggil Sumi melihat kakaknya bengong tanpa menyentuh makanannya. Ia melihat kakaknya dan mengguncangkan tangan kakaknya. "neechan sakit?"
"eh?" Genya tersadar dan melihat kearah adiknya. "ah nggak, aku hanya mendadak kepikiran hal lain"
Genya memakan makanannya dan tersenyum.
"tapi aku ga menyangka Genya neechan bisa berpacaran dengan Aizetsu san. Genya neechan ga pernah cerita" ucap Teiko. "kalian ini bagaimana bisa jadian?"
"Teiko!" Genya memerah padam kembali dan menggebrak sumpitnya malu.
"ah, aku yang mengejarnya" ucap Aizetsu. "saat ia sedang bekerja di restauran instant dua puluh empat jam, aku langsung mengajaknya kenalan dan dia langsung yes"
"jangan membuat karangan!" Pekik Genya kesal dan hampir mencolok lubang hidung Aizetsu namun ditahan oleh Aizetsu.
"heee, tapi Genya neechan kan kudet soal artis, dia pasti gatau kalau kamu artis" ucap Sumi dan diangguk semua orang. "eh? Serius?"
Sumi sangat malu kakaknya sama sekali tidak tahu bahwa mereka artis. Genya begitu kesal dan melahap makanannya dengan cepat.
"kalian bakatare!" Dumelnya sambil melahapnya.
"Genya manis sekali" ucap Aizetsu memeluk Genya. Genya mencolok lubang hidung Aizetsu dengan suksesnya dan pria itu terjatuh memegang hidungnya.
"Aizetsu san?!"
"ga usah pegang-pegang!" Teriak gadis itu kesal. Rona wajahnya memerah padam dan menatap kearah lain.
Ia merasa hari ini Pria itu begitu membahayakan jiwanya. Ia merasa pria ini semakin lama semakin melahapnya dan mengambil hatinya. Ia merasa semakin lama ia tidak bisa bersama pria ini terus-terusan, Karena ia tahu Semakin lama ia bersama pria ini semakin hatinya terebut oleh pria ini.
Genya merasa aneh sendiri dengan dirinya saat menghadapi Aizetsu. Hari ini dia lebih sering diam dan tidak terlalu banyak bicara. Bahkan saat dikonserpun, ia berusaha untuk tidak melihat performance pria itu dan jalan entah kemana. Ia benar-benar dilema saat ini. Ia mencintai pacarnya, Mob-san namun hatinya berkata lain dari seharusnya. Gadis itu terdiam berdiri di dekat mesin penjual minuman otomatis di dalam gedung tersebut. Ia terdiam agak lama dan akhirnya membeli minuman di mesin penjual otomatis. Ia meminum minuman tersebut dan segera balik ke tempat yang lain berada. Saat balik ia mendapatkan Aizetsu sedang rebahan dipojokan dengan es batu di hidungnya.
"eh? Ada apa?" Tanya Genya penasaran.
"kau kemana saja? Dari tadi dicari!" Ucap Sekido kesal. "ini karena kamu!"
"Sekido hentikan!" Ucap Aizetsu memegang es batunya.
"seharusnya tadi kamu tidak mencolok hidungnya!"
"Sekido-"
"tadi dia runtuh di akhir lagu dan ia jadi mimisan seperti ini!"
"Sekido!" Aizetsu akhirnya berteriak, membuat Sekido melihatnya. "ini bukan salah Genya! Aku memang kurang sehat saja dari semalam!"
Genya melihat kearah Aizetsu dan merasa bersalah.
"maaf, karena aku-"
"ini bukan karena kamu" Aizetsu menatap gadis itu dan tersenyum kecil. "ink sudah dari semalam kok"
"tapi-" Genya mendekati pria itu dan kebingungan. "darahnya mengalir terus"
Aizetsu menutupi mata Genya dan wajahnya merona.
"ugh aku ga cool sekali kalau seperti ini" Aizetsu begitu malu dilihat seperti orang lemah. "aku tidak ingin terlihat 'emah didepan cewek yang kusuka"
Mendengar kalimat itu,Genya yang masih ditutupi matanya oleh tangan Aizetsu ikutan merona. Ia bingung harus bereaksi bagaimana dan hanya bisa terdiam membiarkan pria itu menutupi matanya.
"maaf" ucap gadis itu merasa bersalah.
Aizetsu hanya terdiam menatap Genya. Ia masih menutupi mata Genya lalu mengkecup bibir gadis itu.
Genya terkesiap namun menerima ciuman itu. Ia hanya terdiam dan tak tahu harus bagaimana. Semua orang diruangan itu perlahan meninggalkan mereka keluar dari ruangan tersebut. Aizetsu memeluknya dengan tangan yang satunya dan ia membuka mata Genya dan menatap gadis itu.
Genya menatap Aizetsu dengan rasa bersalah dan hanya bisa terdiam. Dadanya begitu sakit menatap pria tersebut. Aizetsu mencium gadis itu kembali dan ia memegang kepala Genya. Genya terlena dan menerima kecupannya. Ia menggenggam baju pria itu erat. Gejolak di dada Genya bergemuruh dan tubuhnya terasa panas. Ia menikmati ciuman penuh gairah itu.

.
Genya melamun sambil mengemut sumpitnya dan mangkuk nasinya. Ia bahkan tidak mendengarkan Sumi dan Teiko bercerita tentang band Kidoairaku kepada mamanya dan kakak dan adiknya. Ia hanya melihat kearah makanan dengan tatapan kosong. Pikiraannya dipenuhi sentuhan-sentuhan Aizetsu seharian kemaren. Selama ini saat Aizetsu mengkecupnya ataupun mencumbunya, ia tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Tapi sejak kemaren, Genya merasa ada gejolak di dadanya.
"Genya?" Panggil sang ibu berkali-kali sehingga Genya tersadar akan lamunannya.
"eh? Iya?"
'kamu tidak apa? Dari tadi kamu tidak menyentuh nasimu"
"ah aku tidak apa-apa" ucap Genya tersenyum kecil.
"Genya nee pasti kepikiran ciuman kemaren tuh" ucap Sumi tertawa nakal. Wajah Genya merona seperti tomat matang kembali.
"a-apa sih?! Aku ga mikir itu!" Bohongnya memekik.
"eh? Genya berciuman?" Tanya Sanemi ga sudi adiknya dinodai.
"iya, pagi didapur, Genya neechan membuat sarapan untuk yang lain. Lalu di pantai,dan dibelakang panggung"
"KALIAN LIHAT?!" Genya memekik kencang dan wajahnya merona malu. Ia tak sanggup mengingat hal itu dan menutup mukanya dengan tangannya.
"Genya, besok bawa pacarmu untuk makan malam bersama kita"
"eh? Lagipula dia bukan pacarku!" Ambek Genya.
"tidak apa-apa, kan? Kamu pasti sering merepotkan dia juga" senyum sang ibu.
Genya terdiam dan menghabiskan makannya. Ia berpikir selama ini dia selalu dimanja dan merepotkan pria itu. Ia berpikir ia ingin membalas kebaikan pria itu juga.
"hhhh ya sudah deh, nanti aku bilang ke dia"
Genya mengambil handphonenya dan melihat ada panggilan dari Mob-san. Ia segera mengangkatnya.
"Ah, Mob- san? Ada apa?"
"Genya, kau ada waktu? Mau kencan hari ini?"
"eh? Mendadak sekali? Biasanya kamu selalu mengatakan sebelumnya"
"entah kenapa, aku ingin bertemu denganmu" jawab Mob-san.
Genya tersenyum namun ia memikirkan keadaan Aizetsu. "aku sebenarnya ingin sekali kencan denganmu hari ini tapi aku harus kerja, kalau aku izin mendadak, aku ga mungkin bisa"
"ah begitu ya?"
"maafkan aku Mob-san, tapi minggu depan aku bisa"
"kalau begitu minggu depan saja"
Genya menutup telpon dari Mob san dan memikirkan kondisi Aizetsu yang semalaman ambruk karena mimisan.
"ma, aku pergi dulu ya, mungkin pulang agak malam" Genya mempersiapkan dirinya dan berangkat pergi ke rumah Aizetsu. Ia sedikit khawatir dengan kondisi pria itu dan masih menyalahkan dirinya.
Sesampai dirumah pria itu, Genya segera masuk kedalam kamarnya. Ia mendapati pria itu sedang duduk dilantai sambil membaca buku. Ia melihat pria itu dan sedikit tenang.
"Genya?" Aizetsu menatapnya dengan murung.
"kau sudah tidak apa-apa? Ga ke dokter?"
"cuma mimisan begini sih tidak apa-apa" jawab pria itu memberi sinyal kepada gadis itu untuk duduk disebelahnya. Genya duduk disebelahnya melihat hidung Aizetsu yang memerah. Ia tersenyum kecil.
"Kenapa?" Tanya Aizetsu.
"nggak, wajahmu jadi tampak seperti anak kecil" ujar Genya. "kalau kusentuh, sakitkah?"
"sentuhlah kalau mau" Aizetsu menggenggam tangan Genya dan membuatnya menyentuh hidungnya.
"sa- sakit?" Genya memucat pasi.
"nggak" Aizetsu menatap Genya lekat dan masih menggenggam tangan gadis itu.
"Genya" panggil pria itu. Genya menatap kearah pria itu wajahnya merona. "Aku ingin menciummu"
Genya terdiam dan wajahnya memerah padam. "- ga boleh! Aku hanya mencintai Mob-san" ucap Genya sedikit meragu namun ia tidak memberontak saat Aizetsu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Ia menatap kearah lain. "Aizetsu san"
Aizetsu mengkecup pipi gadis itu dan menarik dagu gadis itu kearahnya.
"Aizetsu san hentikan" ucap Genya rilih. Aizetsu tetap mengkecup gadis itu dan mengkecup bibir gadis itu dengan pasti. Genya merona dan ia tak dapat mendorongnya. Tubuhnya hanya bisa terdiam dan jantungnya berdetak lebih cepat. Seakan ia sudah jatuh kepada pria didepannya ini. Aizetsu mengkecup gadis itu penuh dengan pasionate dan memeluk gadis itu. Genya sedikit memundurkan kepalanya untuk melepaskan ciuman tersebut namun Aizetsu tetap mengejarnya hingga kepala gadis itu terpentok dengan kasur dibelakangnya. Genya menikmati kecupan tersebut dan mencengkram baju Aizetsu erat.
Aizetsu mengkecup dagu gadis itu hingga ke lehernya yang terbuka lebar. Genya meringkih kecil dan menikmatinya.
"ngh" desahnya pelan. Wajahnya memerah dan tampak begitu pasrah.
"Genya" pria itu menggigit leher gadis itu memberikan sebuah kissmark tersembunyi sehingga Genya terkesiap dan mendesah dengan suara yang tidak biasa.
Aizetsu menatap Genya yang tampak begitu menggairahkan dan memeluk gadis itu erat. Ia menkecup bibir gadis itu kembali dan terburat sebuah senyuman diwajahnya yang murung.
"kau takdirku, Genya. Kau milikku" ucapnya tersenyum dan mengkecup pipi Genya. "aku mencintaimu sampai kapanpun"
Genya terdiam ia tak sanggup mengatakan apa-apa dan ia hanya melihat kearah lain menyembunyikan wajahnya yang memerah padam. Ia berpikir bahwa ia tidak bisa begini terus.
"a- aku ingin berhenti" ucapnya gugup dan ragu. "aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini"
aizetsu terdiam dan menatap gadis itu dengan mata yang terbuka lebar.
"-kenapa?"
"aku tidak bisa mengkhianati Mob san" ucap Genya. Ia tahu bahwa ia salah mengatakan hal ini tapi ia begitu dilema.
"Genya, lihat aku!" Ucap Aizetsu murung. "kau tidak serius mengatakan itu kan?"
"a- aku serius" ucap Genya menatap pria itu. Wajahnya memerah padam dan ia mulai berdiri. "maaf, gaji hari ini tidak perlu di transfer. Kalau kau mau mengambil semua uangku, ambil saja"
Genya berlari keluar meninggalkan Aizetsu dikamarnya. Ia tahu bahwa dirinya memang sudah jatuh cinta pada pria itu. Bahkan ia rela menolak ajakan pacarnya sendiri. Ia berlari sampai rumahnya dan mengurung diri dikamarnya. Sumi dan Teiko melihat Genya yang mengurung di balik selimut, dengan khawatir.
"Genya neechan" panggil Teiko. "Kau tidak apa-apa?"
"- a- aku tidak apa-apa, Teiko main saja sama yang lain" jawab Genya parau dan masih mengurung dibalik selimut.
"neechan berantem dengan Aizetsu san?" Tanyanya kembali
Genya terdiam dan masih mengurung dirinya di balik selimut. Ia tidak menjawab pertanyaan adiknya dan hanya mengurung. Bahkan panggilan telepon dari Aizetsupun tidak diangkat olehnya. Seharian itu Genya benar-benar tidak beranjak dari kasurnya dan terus berada dibalik selimut.
Pagi itu ia pergi ke sekolah dan begitu lesu. Genya berpikir semalaman dan lalu mengajak Mob-san berduaan.
"mob-san" panggil Genya lesu. "maafkan aku, tapi aku ingin putus"
'eh? Kenapa?"
"maaf, tapi-" Genya menunduk sedih dan ingin menangis. "Aku bukan oramg yang baik untukmu"
"kamu kenapa, Genya? Ada apa?" Mob san mendekati gadis itu. Genya mundur selangkah demi selangkah.
"maaf, aku memikirkan seseorang lain. Maaf aku jatuh cinta pada orang lain" ucap Genya menangis dan menunduk. "Maaf, aku tidak bisa bersamamu"
Genya berlari ke kelasnya dan merasa begitu jahat pada Mob-san. Ia tahu bahwa ia salah, tapi perasaannya tidak bisa ia hentikan. Ia benar-benar tahu bahwa dia mencintai Aizetsu. Genya menghindari kontak dengan Mob san dan ia berpikir bahwa ia sudah tidak akan bisa bersamanya. Ia merapikan barang-barangnya untuk pulang lebih cepat. Dari luar, terdengar suara berisik dan ramai. Genya yang masih dikelasnya berpikir untuk membereskan semua barangnya.
"Genya!" Panggil seseorang yang sangat familiar saat ia menemukan sosok gadis itu di kelasnya. Orang itu dikerubungi beberapa gadis-gadis sekolahan itu yang ramai meminta tanda tangan dan fotonya.
Genya menatap kearah pria itu dan didapatinya Aizetsu berdiri di depan kelasnya. Genya tersentak dan wajahnya memerah padam.
"kenapa kau ada disini?" Tanya Genya panik.
"aku kesini demi mengambilmu kembali" jawab Aizetsu. "Kumohon, jangan tinggalkan aku! Aku takdirmu! Dan kau juga takdirku!"
Aizetsu menatap Genya dengan murung dan mendekati gadis itu. Tidak peduli orang-orang teriak ataupun memanggilnya, bagi Aizetsu, suara Genyalah yang terdengar dikupingnya saat ini.
"kau bisa mendapatkan gadis yang layak selain aku-"
"tidak bisa! Mereka bukan kamu! Aku membutuhkanmu, Genya" ucap Aizetsu. "Aku sudah pernah bilang padamu, ingatlah Shinazugawa Genya, orang yang membunuhku dikehidupan sebelumnya bagiku adalah pernyataan cintanya padaku"
"- a-"
"aku selalu mengingatmu, dikehidupan sebelumnya, saat aku menjadi seorang wanita dan kau seorang pria, kita pernah bersatu" lanjut Aizetsu. "Aku mencintaimu dan aku akan selalu menemukanmu walau kau melupakanku, aku akan buat kamu menjadi milikku dan mencintaiku"
Genya terdiam dan merasa begitu bingung. Ia menunduk menahan airmatanya. Aizetsu mendekati gadis itu.
"-ka -kalau kau memang meminta hatiku, kau sukses menjerat hatiku" ujar Genya. Airmatanya berjatuhan di pipinya. "Aku juga mencintaimu, Aizetsu san"
aizetsu segera mendekap gadis itu dan menciumnya tanpa peduli banyak orang disekitarnya. ia menghapus airmata gadis itu dan tetap menciumnya. Genya mendekap balik dan menerima ciuman tersebut. Ia tidak dapat membendung perasaannya kini.
"maukah kau tetap bersamaku?"
"iya" jawab Genya mengangguk kecil dan mendekapkan wajahnya kebahu Aizetsu.

.
"ayo silahkan dimakan sebanyaknya" ucap sang ibu menyodorkan makanan kepada Aizetsu. "ini semua Genya yang menyiapkannya, katanya, uang hasil kerjanya"
'terimakasih" jawab Aizetsu memakan makananya.
"bagaimana?" Tanya Genya menatap prianya. "kau harus makan banyak dirumah ini"
Genya menambahkan daging kepiring nasi Aizetsu dan tersenyum lebar. Aizetsu menatap kearah gadisnya dan tersenyum kecil. Ia mengambil nasi yang ada dipipi gadis itu. Genya merona padam dan kembali makan.
Shuya mendekati Aizetsu dan memberikan gundu kepada pria itu.
"aku suka Sekido syan" ia menyangka Aizetsu adalah Sekido dan memeluknya.
"Shuya, Sekido san dirumahnya, yang ini pacar Genya neechan" seru Sumi tertawa.
"ara, Shuya jarang-jarang mau memeluk orang" ucap sang ibu.
Aizetsu melihat kearah Shuya dan mendekapnya.
"besok-besok, aku akan bawa Sekido bertemu denganmu" ucap Aizetsu.
"eh? Bukan Sekido syan?"
"Aichan" jawab Aizetsu.
"pacar Genya neechan" lanjut Genya memainkan pipi Shuya dan menggendong adiknya.
Aizetsu menatap gadisnya dan memeluk pinggul gadisnya. Sumi dan Teiko mengambil kesempatan dan memoto mereka.
"kalian jadi seperti sepasang suami istri loh" seru Teiko melihat foto yang di ambil olehnya.
"kirim ke aku ya nanti" pinta Aizetsu.
"hei! Jangan sembarangan ambil foto!" Ucap Genya malu.
"Genya neechan! Agak deketan lagi dong sama Aizetsu san! Kami mau ambil foto kalian"
Genya terdiam dan masih menggendong Shuya. Ia sedikit mendekatkan diri ke Aizetsu. Aizetsu merangkul pundaknya dan mendempetkan gadisnya ke pundaknya. Genya tersenyum kecil wajahnya merona saat tau dirinya didekap oleh prianya.
"Ah?! Sanemi niichan! Mengfanggu pemandangan saja!" Protes Sumi saat Sanemi ikut terpotret dibelakangnya.
"ara baru pulang, Sanemi?" Tanya sang ibu
"hari ini makannya Genya yang siapkan"
"ah" Sanemi menatap Aizetsu dan Aizetsu menatap balik.
"ini kakakku, Sanemi" ucap Genya. "niichan, ini Aizetsu yang waktu itu pernah bertemu"
"iya, akhirnya kau kenalkan juga pacarmu?" Sanemi duduk dibangkunya dan membuka kaleng bir. "minum?"
'terimakasih" tolak Aizetsu.
Mereka ngobrol dengan biasa dan suasana bahagia dan ramai. Terkadang Shuya tidak mau lepas dari Aizetsu karena dia menyangka ia adalah Sekido, artis favoritenya.
Saat Aizetsu sudah mau pulang, Shuya masih memeluk pria itu erat.
"biar sekalian kuantar sampai mobil" ucap Genya bersiap dengan sweater semangka pemberian Aizetsu.
"kau memakainya?"
"tentu saja! Ini kesukaanku, semua yang darimu aku pakai"
Genya mengantar prianya keluar. Aizetsu masih menggendong Shuya yang memeluknya dan hampir tertidur. Mereka berjalan ketempat mobil yang diparkir oleh Aizetsu
"keluargamu menyenangkan"
"begitulah" ujar Genya tersenyum.
"Genya" Aizetsu menatap gadis itu. "Aku bahagia dapat memilikimu, aku sungguh mencintaimu. Aku tidak menyesal pernah bertemu denganmu"
"aku juga" ucap Genya tersenyum lembut ia melihat Shuya tertidur dan mengambil adiknya ke pelukannya. Aizetsu mendaratkan ciumannya ke bibir gadis itu dengan seksama dan memeluk gadis itu erat.
"besok akan kujemput pulang sekolah"
'mau kemana?"
"kemanapun kau mau?"
"kalau gitu laut"
"boleh"
Aizetsu mencium gadisnya lalu ia pulang dengan mobilnya.
Keesokan harinya, Genya yang pulang sekolah, dijemput oleh pria itu dengan mobilnya dan mereka pergi ke pantai. Mereka menikmati suasana pantai sore hari dan melihat sunset sambil berpelukan. Saat mereka ingin pulang, tiba-tiba rem mobil Aizetsu blong dan tidak bisa menghentikan mobilnya. mobilnya menabrak sebuah tiang sehingga mereka kembali merenggangkan nyawa mereka.

.
"Apakah salah kalau kami bersatu? Tidak bisakah kami bersatu selamanya?"