Aizetsu x Genya
Part 6. REINCARNATION DESTINY TERORRIST
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)
Warning: yuri hentai

.

Shinazugawa Genya seorang gadis berparas model yang bekerja di bidang purchashing barang banyak di gandrungi cowok-cowok di kantornya. Badan gadis itu sangat sexy dan montog. Untuk umur, Genya sudah bisa untuk menikah, namun karena dia tidak pengalaman dengan pria atau alias tidak berani, ia pun tidak punya cowok satu orangpun. Saat ada cowok yang menyatakan perasaannya, Genya tidak pernah menerimanya karena takut. Bukan karena gadis ini mempunyai selera yg tinggi, bukan juga ia tidak ingin jadian dengan pria yang derajat keuangannya dibawahnya, tapi gadis ini begitu tidak pandai bicara dengan cowok. Ia tidak tahu harus bagaimana terhadap makhluk yang bernama 'lelaki'.
Hari ini, Genya sedang semangat mengerjakan pekerjaan kantornya. Ia ingin sekali mendapatkan promosi dari bosnya agar jabatannya naik. Yah, tak bisa mengejar lelaki, apalagi sih yang Genya harapkan dalam hidupnya selain naik jabatan?
"Shinazugawa" panggil bosnya kearah Genya yang sedang mengetik data yang harus diinput.
"ya pak?" Jawabnya segera dan mendatangi bosnya tersebut.
"Shinazugawa, kita kedatangan pegawai baru bernama Aizetsu. Mulai hari ini ia akan menjadi kouhai kamu, tolong ajari apa jobdesknya dia!"
"ah baik" Genya menatap kearah seorang gadis murung yang lebih tinggi beberapa senti darinya dengan body yang sangat bagus layaknya model tersebut. "saya Shinazugawa Genya, mulai sekarang mohon bantuannya, Aizetsu san"
"Aizetsu, mohon bantuannya, Genya san"
Genya terdiam memucat mendengar nama kecilnya langsung dipanggil begitu saja.
"anu, apa menurutmu kamu kurang sopan tiba-tiba memanggil nama kecilku?"
"ah, kalau begitu kau boleh memanggilku Aichan"
"bu- bukan begitu" Genya menghela nafas dan terdiam seketika. "Ah, sudahlah itu tidak masalah, untuk jobdesk, kamu tolong lakukan seperti yang ada dikertas ini"
Genya memberikan kertas jobdesknya kepada gadis itu dan mengajarinya.
"kau bisa memakai komputer?"
"bisa, tapi tidak semuanya"
"baiklah saya ajarkan, jadi untuk input data-" Genya membawa Aizetsu ke sebelah tempat duduknya yang kosong dan mengajarkan cara-caranya.
Gadis bernama Aizetsu tersebut terlalu dekat dengan Genya, namun Genya tidak menyadarinya. Ia terlalu fokus untuk mengajari Aizetsu dan berusaha untuk menjadi senpai yang baik dimata kouhainya.
"Genya san, kalau input yang ini bagaimana?"
"eh? Oh ini? Ini seperti ini" Genya mengajarkan lagi. Aizetsu mengangguk kecil dan menatap kearah Genya. "mengerti?"
"iya" jawabnya simple. Aizetsu mengerjakan tugasnya. Genya melihat sebentar lalu balik bekerja. Ia begitu fokus tapi masih bisa membimbing kouhainya hingga jam istirahat.
"Aizetsu, kau tidak makan siang dulu?"
Aizetsu melihat jamnya dan terdiam berpikir.
"ke kantin bareng aku saja" senyum Genya menarik gadis itu. "Atau mau makan diluar saja?"
"aku dimanapun boleh" jawab Aizetsu melihat kearah Genya murung. Genya mengajaknya untuk pergi ke kantin untuk merasakan makanan kantin. Ia memmbeli paket ebifurai dan Aizetsu membeli gyuudon. Mereka duduk berduaan dipojokan dan banyak lelaki yanng melihat mereka dengan terpesona.
"Aizetsu san sebelumnya bekerja dimana?"
"Aizetsu saja tidak apa-apa" ucap Aizetsu menatap Genya. "aku kerja di daerah utara dan aku pindah kesini demi seseorang yang selama ini aku cari"
"wah, kamu teryata getol sekali demi orang" senyum Genya.
Aizetsu menatapnya lembut dibalik wajah murungnya. "Genya san sendiri, sudah berapa lama disini?"
"aku? Ah kebetulan lima tahun sih"
"kau tidak ada rencana keluar dari sini?"
"eh? Yah kebetulan aku sudah suka kerja disini" seru Genya sambil mengunyah makanannya.
"Genya san sudah menikah?"
"ah, nggak. Aku tidak punya calon satupun" ucap Genya memucat pasi. Ia merasa sangat bodoh mengingat riwayatnya bersama kaum Adam.
"syukurlah" ujar Aizetsu sedikit tersenyum di wajah murungnya.
"eh? Apa?" Genya menatap gadis itu bingung. Ia berpikir apakah dia salah dengar atau memang benar Aizetsu mengatakan hal yang aneh.
"kalau kulihat, Genya san sangat cantik, kenapa belum menikah?"
"ah, sebenarnya aku agak takut dengan pria. Entah kenapa aku payah sekali" ujar gadis itu. "Aizetsu sendiri sudah menikah?"
"belum" jawab Aizetsu. "Tapi aku ingin berusaha merebut hati seseorang"
"wah? Kau serius sama orang itu?" Tanya Genya menyemangati. "ku yakin kau pasti bisa. Aku akan dukung. Kalau ada apa-apa, kau bisa curhat padaku, senpaimu"
Aizetsu menatap Genya lekat-lekat dengan wajah murungnya. Ia melanjutkan makannya.
"aku berharap ia benar-benar mencintaiku"
"aku yakin kau bisa membuatnya cinta padamu" senyum Genya.
"aku berharap" ucap Aizetsu yang masih memandangi Genya tanpa kedip.
Genya tetap makan sampai jam istirahatnya selesai. Dia melanjutkan pekerjaannya dan mengajari kouhainya yang sering menanyakannya.
Setiap harinya Aizetsu selalu mendekati Genya dan selalu bertanya padanya sehingga mereka menjadi dekat. Namun Genya selalu berpikir bahwa Aizetsu selalu menanyakan sesuatu yang kecil dan selalu dapat dikerjakan olehnya dengan mudah.
"bagaimana perkembangan Aizetsu?" Tanya si bos kepada Genya, sang senpai.
"ah dia bagus performancenya, tapi masih sering lupa" ucap Genya. "entah dia memang sengaja atau bahkan memang lupa"
"kenapa kau bilang begitu?"
"karena hal yang sepele saja, ia masih menanyakan kepada saya" jawab Genya berpikir. Sang bos tertawa
"hahaha, kalau begitu sebagai senpai, kau teruslah bimbing kouhaimu"
"baik pak" Genya keluar dari ruangan dan melihat Aizetsu berdiri di depan pintu menunggunya.
"Genya, aku tidak mengerti penginputan data ini" seru Aizetsu memberikan kertas yang dipegangnya.
Kepala Genya nyut-nyut-an merasa sangat pusing karena baginya ini sudah diajari sejak awal namun gadis itu masih tidak dapat mengingatnya.
"kau itu! Apakah kau lupa lagi? Bisa tidak kau ingat? Apa aku tidak jelas mengajarinya?" Tanyanya kesal. Aizetsu hanya menatap dengan murung dan memdengarkannya.
Sebenarnya Aizetsu sudah mengerti semua apa yang diajarkan oleh Genya tapi ia begitu ingin bersama gadis itu dan ngobrol dengan gadis itu. Ia menggunakan kesempatannya bahkan menelpon dengan alasan pekerjaan.
"Shinazugawa, nanti pulang kerja mau ikut kami minum kan?" Tanya teman sekantornya.
"ah, iya" jawab Genya.
"Aizetsu juga ikut kan?"
Aizetsu menatap Genya lalu mengangguk. "iya"
mereka bekerja hingga waktu pulang dengan giat. Saat pulang, mereka beramai-ramai pergi ke tempat minum dan mereka memesan bir. Aizetsu duduk disebelah Genya dan meminum birnya pelan-pelan. Ia menatap Genya yang meminum birnya dengan beberapa teguk. Aizetsu mengambil camilan di depannya sambil tetap menatap kearah gadis itu. Mereka ngobrol ria dengan santai dan ada yang joget-joget dan bernyanyi di depan. Wajah Genya begitu memerah akibat bir yang memabukkan itu dan meminumnya berkali-kali.
"Genya, kamu harus berhenti minum" Aizetsu menahan tangan Genya yang sudah ingin meminumnya.
"aku masih bisa minum" ujar Genya yang sudah mabuk.
"Kau sudah mabuk" ucap Aizetsu mengambil gelasnya. Genya merebut balik gelasnya dan wajahnya begitu dekat dengan wajah Aizetsu.
"Kembalikan! Aku masih bisa minum" ia meraih-raih gelas yang dipegang Aizetsu. Aizetsu memeluk punggungnya dan menatap kearah gadis itu. Ia hampir berhasil mencium pipi Genya hingga ada beberapa pria yang datang duduk disebelah Genya, mabuk. Pria-pria itu menatap Genya dan memegang punggung gadis itu.
"Shinazugawa" panggil seorang pria, mabuk. "kau cantik sekali"
"Wah benar, Shinazugawa kalau dilihat cantik sekali"
pria itu menyentuh gadis itu dan hampir memegang pinggul gadis itu, tapi ditahan Aizetsu.
"tuan-tuan, jangan pernah menyentuh gadis ini dengan tangan kotormu" Aizetsu memeluk Genya yang sudah mabuk. Ia menekan tangan pria itu sehingga pria itu hampir berteriak.
"aku ada disini untuk melindungimu, Genya" Bisik gadis itu dikuping Genya dan mengkecup pipi gadisnya.
"lebih baik saya antar Shinazugawa pulang bersama saya" lanjut Aizetsu membopong Genya. Genya melihat gelasnya.
"aku masih bisa minum" ucap Genya melantur.
"kau sudah tidak bisa minum" ujar Aizetsu tetap membopongnya keluar.
Genya merasa sangat pusing dan seakan melayang hingga jalannya sempoyongan. Aizetsu tetap membopongnya dan memperkuat pegangannya.
"hhh sudah tahu lemah minum masih minum juga" keluh Aizetsu dan semakin murung. Ia teringat bahwa ia tidak terlalu tahu alamat rumah gadis itu dan ia lalu membawanya ke hotel terdekat.
Aizetsu menidurkan Genya keatas kasur dan mengelus pipi gadis itu. Ia membuka sepatu gadis itu dan menaruhnya di sudut ruangan. Ia menatap kearah Genya dan mencium bibirnya dengan seksama. Genya membuka matanya dan menatap Aizetsu dengan lemas.
"Aizetsu san?" Tanyanya yang merasa pusing.
"Genya" Aizetsu mengkecup bibir gadis itu dan mengkulum lidah gadis itu. Genya yang mabuk itu mencium balik gadis itu dan memegang lengan gadis itu.
Aizetsu membuka kancing kemeja Genya satu persatu dan mengelus tubuh gadis itu pelan. Ia mengkecup leher gadis itu dengan seksama sehingga gadis itu mendesah kecil. Dibuangnya kemeja Genya ke lantai dan ia mulai mencium tubuh gadis di depannya.
"Genya, kali ini aku tidak akan menahan diri" jelasnya dan mengkecup bibir gadis itu lagi.
Genya yang setengah sadar tersebut merangkul leher Aizetsu dan mengkecupnya dengan pasionate. Ia tidak bisa berpikir jernih karena alkohol. Aizetsu menurunkan celana Genya dan kini ia menciumi paha gadis itu. Ia pun menjilati paha gadis itu dan terkadang menggigit kecil.
"Aizetsu ah~" desahnya menikmati sentuhan gadis didepannya. Melihat tak ada perlawanan dari Genya, Aizetsu membuka dalaman Genya dan membuangnya ke lantai. Ia mulai mengkecup bagian vital Genya dan menjilatinya.
"a- ah?!" Genya merasakan nikmat tak tertepi dan meremas rambut gadis yang menjilatinya. Ia merasa jilatan lidah Aizetsu terhadap vitalnya membuat dirinya terbuai seperti disurga. Ia terlonjak dan menggeliat kenikmatan dan mendesah kencang. Pertama kalinya ia dibawa kepada perasaan ini. Rasa yang bergejolak didalam dadanya. Tubuhnya bereaksi menikmati sentuhan itu. Aizetsu menggenggam pinggul Genya erat agar gadis itu tidak bergerak lebih jauh.
"Ai~" desah Genya mengkaitkan jari jemarinya kepada jari jemari Aizetsu. "Ai- Aize-tsu- aah- ke- keluar! Keluar~~"
mendengar desahan itu, Aizetsu semakin menjilatnya kencang. Genya tidak dapat menahannya dan mengeluarkannya. Aizetsu melihatnya dan meneguknya juga menjilatinya.
Genya menarik nafasnya lemas dan capai. Ia memejamkan matanya dan merebahkan dirinya lebih lagi. Aizetsu menanggalkan pakaiannya dan mengkecup payudara Genya dan memainkannya.
"Genya, kau menikmatinya?" Tanya Aizetsu lalu mengkecup bibir gadis itu.
Genya menatap Aizetsu dan mengkecup balik. "Iya, nikmat" ucapnya tersenyum dan meremas rambut Aizetsu dengan tenaga seadanya.
"Genya, puaskan aku" seru Aizetsu menaruh tangan Genya ke vitalnya dan menggesekkan tangan gadis itu di vitalnya. Genya melihat kearah vital gadis itu dan memainkannya dengan tangan. Kini giliran Aizetsu yang mendesah kenikmatan. Ia menatap Genya dan mengkecup bibirnya sambil menikmati tangan Genya yang memainkan vitalnya.
"Oh, Genya, tanganmu begitu nakal" serunya sambil memainkan vital Genya juga.
Genya masih memainkan vital Aizetsu dan menikmati sentuhan tangan Aizetsu di vitalnya. Mereka menikmatinya sampai mereka keluar. Aizetsu memberikan banyak kissmark ditubuh Genya dan memberikan banyak kepuasan kepada gadis itu.
"Genya, aku mencintaimu selamanya" ujar Aizetsu mengkecup gadis itu. "Genya mencintaiku?"
"kau kouhai yang merepotkan, tapi aku menyukaimu" ucap Genya tersenyum.
Malam itu mereka menikmati malam pertama mereka sampai pagi.

.
Pagi itu Genya yang tidur sambil dipeluk Aizetsu langsung terbangun tanpa busana satupun. Ia menatap dada Aizetsu yang tidak tertutup satu helaipun. Genya begitu shock dan duduk melihat kearah gadis itu dan merasa sangat lengket dibadannya.
"apa? Kenapa? Kenapa kita telanjang? Mengapa?" Tanya Genya dalam hati. Ia begitu shock saat ia ingat malam itu ia bersama dengan gadis ini. Ia rasanya ingin mati saja mengingat dirinya seperti orang kesurupan semalaman. Ia berjanji untuk tidak lagi-lagi untuk minum.
Aizetsu terbangun dan menyentuh pipi gadis itu lalu mengelusnya.
"Genya" sapanya lalu mencium bibir gadis itu. Genya mendorong Aizetsu dan menampar nya dengan perasaan yang sangat terkejut dan wajahnya memucat.
"kau! Apa yang kau lakukan padaku?!" Teriak Genya yang pucat dan kesal.
"Sudah tiga kali aku kena tamparanmu"
Ucap Aizetsu memegang pipinya bekas tamparan dan wajahnya makin murung. "genya bilang menyukaiku"
"hah?! Aku tidak mungkin mengatakan hal yang aneh seperti itu!" Pekik Genya. Wajahnya memucat pasi dan memakai bajunya.
"Genya, jangan pergi dulu" Aizetsu memeluk pinggul gadis itu dari belakang dan mencium bokong gadis itu, sehingga ia sukses kena pukulan maut dari Genya.
"INGAT! KAU ANGGAP SAJA INI TIDAK PERNAH ADA!" Pekiknya kesal namun rona wajahnya memerah padam saat merasakan sentuhan gadis itu. Seperti ada getaran kilat di dalam jiwanya dalam seketika. "aku masih mencintai cowok! Aku masih mencintai cowok! Aku masih mencintai cowok!"
Genya bergumam dan melihat tubuhnya yang banyak kissmark dari gadis itu di depan kaca.
"oh astaga! Ini tanda kematian bagiku, melakukannya bersama seorang cewek"
"tapi Genya menyukainya"
"aku tidak sudi menyukainya!" Genya ingin menampar Aizetsu kembali, tapi gadis itu dengan cekatan mengambil tangan Genya dan menariknya hingga jatuh keatas kasur dan menciumnya dalam. Genya memberontak tapi tangannya digenggam erat-erat oleh Aizetsu.
"ngh!" Genya meronta dan berusaha menghindar. "Aizetsu! Kau ada orang yang kau suka bukan?!"
Aizetsu menatap Genya lembut dan wajah murungnya dapat dilihat oleh Genya.
"orang yang aku suka adalah Genya. Aku pindah dari kampung kesini demi bertemu Genya" jawabnya. "aku disini untuk melindungi Genya dan untuk bersama dengan Genya berbagi kebahagiaan dan kesedihan"
"maaf, aku tidak tertarik dengan cewek-"
"tapi aku yakin kau adalah takdirku, Genya"
"aku lebih tertarik cowok-"
"Genya tidak pernah mengingatku padahal aku selalu mengingatmu" Aizetsu menatap Genya dengan murung. "Tuhan tidak pernah mempersatukan kita, bahkan dikehidupan kita sekarang, kita dijadikan cewek seperti ini"
Aizetsu bersedih dan tetap menggenggam tangan Genya.
"Genya ingatlah aku! Aku adalah takdirmu! Aku adalah orang yang mencintaimu selama ini. Sampai kapanpun, bereinkarnasi berkali-kalipun aku akan selalu mencintai Genya dan akan membuat Genya milikku" Aizetsu mengkecup bibir Genya dengan penuh nafsu Dan Genya meronta berusaha mendorong gadis didepannya.
"ngh!" Nnnnn"
"Genya! Genya! Genya ingatlah aku!" Ujarnya mengkecup pipinya dan membisikkannya. "Aku mencintaimu, Genya. Aku merindukanmu. Aku ingin mendekapmu dan menciummu selalu"
"menjijikan!" Ucap Genya pucat pasi.
Aizetsu terdiam dan terbelalak. Wajahnya memucat pasi dan tangannya mengendur. Merasakan hal itu, Genya buru-buru mendorongnya dan memakai bajunya secepatnya. Aizetsu terdiam menunduk sedih dan terjatuh.
"tidak bisakah kita bahagia bersama seperti dulu saat akhirnya kau mencintaiku balik? Saat kau akhirnya dengan bangga mengatakan aku adalah pacarmu kepada saudara-saudaramu?"
"kau gila? Aku tidak mengerti kearah mana omonganmu, aku tidak tahu hal itu! Kamu salah orang!" Genya memucat dan buru-buru berangkat. Ia meninggalkan uangnya dilantai untuk membayar separuh hotelnya. aizetsu menunduk sedih dan begitu down. Ia merasa dirinya menjijikan seperti apa yang dibilang oleh Genya. Ia menunduk merasakan sakit didadanya.
"mengapa? Mengapa harus seperti ini, Genya?" Keluhnya pada diri sendiri.
Ia memakai bajunya dan bersiap pergi ke kantor. Sesampainya di kantor, ia melihat Genya yang sudah berada di mejanya bekerja dan tidak memandangi gadis itu. Aizetsu berusaha menyapanya, tapi tidak ada jawaban dari gadis itu. Bahkan saat ia ingin bertanya, Genya selalu menghindari gadis itu. Aizetsu menyelesaikan tugasnya dan menggenggam tangan Genya.
"'Genya-" Genya menepis tangan itu dan melihat Aizetsu pucat.
"jangan sentuh aku!" Ujar Genya memelototi gadis didepannya. Ia begitu panik dan takut.
"Genya,mungkin aku memang menjijikan, tapi perasaanku padamu tidaklah bohong!" Kalau kau memang menginginkan aku jadi cowok, di kehidupan berikutnya, aku akan menjadi cowok seperti yang Genya inginkan"
"kamu ngomong ngelantur! Lebih baik kau istirahat! Ambillah cuti!" Genya mulai memfokuskan dirinya kepada pekerjaannya. "Jangan bicara padaku, kalau bukan tentang pekerjaan!"
Aizetsu menatapnya murung dan ia menghela nafasnya pelan. "kau bicara seperti itupun, aku tetap tidak akan menyerah sampai aku benar-benar bisa mendapatkanmu, Genya"
Genya bergidik dan berdiri dengan kesal. Ia merapikan barangnya dan segera pulang. Melihat hal itu, Aizetsu mengikutinya dari belakang. Genya mempercepat langkah kakinya dengan kesal, begitu juga Aizetsu yang mengikutinya. Genya merasa kesal.
"jangan ikuti aku!" Pekik Genya memelototinya. Ia begitu geram dengan gadis itu.
"tapi aku khawatir apabila terjadi apa-apa padamu"
Tidak akan terjadi apapun padaku! Sekarang pulanglah! Aku tidak mau melihatmu lagi!" Genya kembali berjalan pulang. Aizetsu tetap mengikuti. Genya begitu kesal dan mendekati Aizetsu lalu menamparnya.
"kau ini keras kepala banget! Pulanglah! Jangan ikuti aku!"
Aizetsu menatapnya murung namun serius.
"aku tidak akan pulang sampai aku tahu kau selamat sampai tujuan"
"selama ini aku baik-baik saja!"
"kau kemaren hampir disentuh sama teman sekantor saat kau mabuk!"
"-?!" Genya terdiam.
"kau tidak punya pertahanan sama sekali! Aku disini demi kamu! Demi melindungi kamu! Aku ada untuk kamu!"
"aku tidak membutuhkanmu! Aku hanya cinta pada laki-laki!"
Aizetsu mendekati Genya namun Genya mundur selangkah demi selangkah. Ia begitu takut mendekat Aizetsu.
"jangan mendekat!"
Aizetsu menggenggam tangan Genya dengan kuatnya.
"Genya! Aku mencintaimu. Aku menghalalkan segala cara untuk mendapatkanmu"
Genya terkesiap dan meronta. "aku akan berteriak kalau kau tidak melepaskanku dan pergi meninggalkanku!"
"aku tidak akan meninggalkanmu!" Aizetsu masih mencengkramnya. Genya meronta dan menepis tangannya lalu mundur selangkah demi selangkah. Saat ia mundur, ia menabrak dengan seorang lelaki sehingga lelaki tersebut kesal.
"maaf" ucap Genya yang sedang pucat pasi.
'hah? Dengan kata maaf kau pikir sakitku bisa hilang? Kamu menabrakku sampai tulang tanganku patah! Kamu harus ganti rugi!" Ucap pria itu.
"ah, butuh berapa?" Tanya Genya panik dan tidak dapat berpikir jernih. Baginya, masalahnya bersama Aizetsu belum selesai, muncul lagi masalah baru. Ia mengambil dompetnya dengan panik.
Aizetsu menarik tangan Genya.
"jangan kau berikan!" Ucap gadis itu terlihat semakin murung. "kubilang kau tidak ada pertahanan"
'hei! Siapa kamu cewek kurang ajar! Dia mau ganti rugi!"
Aizetsu menatap pria itu dengan sedih dan dengan segera ia mengambil kerah pria itu dan membantingnya ke tanah dengan lumayan jauh.
"menyedihkan sekali, mintalah ganti rugi pada dirimu sendiri" ucapnya.
Genya menatap Aizetsu tidak percaya dan terdiam seketika. Saat ia berpikir ada celah untuk kabur, ia sesegera mungkin lari meninggalkan Aizetsu.
Genya pulang kerumahnya sendirian dengan berhasil. Ia berpikir bagaimana ia harus menghadapi Aizetsu dihari esok. Ia berendam di ofuro dan berpikir.
"hari ini dia telah menolongku tapi aku malah kabur dan tidak bilang terimakasih" batinnya.
Ia berendam sekitar lima belas menit lalu ia segera pakai handuknya dan melihat kearah kulkasnya. Ia berencana untuk memberikan bekal untuk ucapan terimakasihnya telah ditolong hari ini.

.
Aizetsu menatap kearah kotak bekal makanan diatas mejanya dan lalu menatap kearah Genya yang sedang mengetik di komputernya. Pandangan Aizetsu membuat Genya bergidik tanpa perlu menatapnya.
"ambillah! Sebagai ucapan terimakasihku untuk kemaren" ucap Genya masih sambil mengetik tanpa melihat kearah gadis itu. "jangan salah sangka! Aku hanya memberikannya sekali ini saja! dan bukan berarti aku mau bersamamu! Setelah ini enyahlah dariku"
"Genya" Aizetsu memeluk Genya dari belakang dan mengkecup bibir gadis itu setelah mengetahui tidak ada orang yang melihat. Genya merona namun mendorong Aizetsu jauh-jauh.
"hentikan! Kalau orang lihat, mereka akan salah paham!" Teriak Genya berbisik dan menjambak rambut Aizetsu. Aizetsu tersenyum kecil diwajah murungnya.
'kalau begitu, biarkan aku menciummu sekali lagi sebelum ada yang melihat" bisik Aizetsu pelan dan mengkecup bibir Genya tanpa ragu.
Genya merona padam dan terdiam menerima kecupan tersebut. Ia tidak mau membuat kegaduhan di kantornya sehingga ia hanya terdiam.
Aizetsu mengambil kesempatan itu sehingga setiap harinya saat Genya sendirian atau tidak ada yang melihatnya, ia mencumbu gadis tersebut. Genya akhirnya merasa terbiasa dengan cumbuan-cumbuan Aizetsu dan hanya bisa terdiam menikmati sentuhan gadis itu. Setiap kali Genya ingin marah, Aizetsu mengambil kesempatan bahwa ada orang disekitar sehingga Genya mau tidak mau terdiam dan mengikuti apa yang dilakukan gadis itu.
Genya merasa bahwa gadis itu memanfaatkan keadaan. Ia merasa bahwa semakin lama, dirinya semakin jatuh ke tangan gadis tersebut. bahkan ia merasa tubuhnya pun tidak bisa menolak sentuhan gadis itu seakan tubuhnya meminta lebih dan lebih. Kini gadis ini tengah mengkecup dirinya didalam kamar mandi kantor. Wajah Genya merona dan rasanya tubuhnya begitu panas.
"Genya, aku mencintaimu" bisik Aizetsu menggigit pelan kuping Genya dan menjilatinya. Genya menahan desahannya dan memcengkram kemeja Aizetsu.
"Aizetsu hentikan! Kalau ketahuan, kita bisa dipecat!" Ucap Genya pelan
"tidak akan, kalau kau diam tanpa suara" Aizetsu mulai mengkecup leher gadis itu sehigga Genya tergelonjak dan mulai mendesah.
"Aizetsu" desah Genya berusaha mendorong gadis itu walau tubuhnya menginginkan lebih.
Rona wajahnya begitu memerah dan ia menunduk pasrah.
Aizetsu menatap gadis itu dan mengkecup pipi gadis itu dengan kasih. Ia begitu mencintai gadis ini dan memeluknya erat.
"aku tidak tahu apa yang akan terjadi apabila aku kehilangan dirimu, Genya"
Genya terdiam dan membalas memeluknya namun tidak begitu erat. Ia mendekapkan wajahnya dibahu gadis didepannya itu.
"aku selalu dapat mengingat jelas saat-saat dahulu kita bersama" ucap Aizetsu masih memeluknya. "saat kau akhirnya mencintaiku sebagai dulu kau mengatakan kau terjerat. Aku mencintaimu, walau berkali-kali harus bereinkarnasi, aku ada untukmu"
Genya tidak tahu harus membalas apa, ia terdiam menikmati pelukan hangat itu, setidaknya Aizetsu tidak melakukan hal yang lebih terhadap tubuhnya seperti yang dilakukannya disetiap ada kesempatan kosong.
Aizetsu melepaskan pelukanya dan menggenggam tangan Genya.
"Genya, aku bersyukur bertemu denganmu"
Rona wajah Genya memerah padam dan menatap kearah lain.

.

TBC