Aizetsu x Genya
Part 7. REINCARNATION DESTINY TERORRIST
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)
Warning: yuri hentai
.
Genya tengkurep dikasurnya sambil mengecek grup Beberapa teman kantornya di handphonenya. Ia diajak menginap di Ryokan dua hari satu malam. Ia berpikir ingin sekali ikut namun ia tidak bisa menghadapi yang namanya cowok. Ia terdiam dan fokus terhadap handphonenya hingga tanpa sadar, Aizetsu melihat isi grup tersebut di belakangnya.
"kau akan ikut pergi ke ryokan bersama mereka?"
Genya tersentak dan terbangun dari lamunannya. Ia menatap Aizetsu kaget.
"Kau lagi-lagi masuk ke apartementku diam-diam!?" Geramnya. Wajahnya merona dan melihat ke arah gadis itu. "kembalikan kunci cadanganku yang kau curi itu diam-diam!"
"Aku butuh itu untuk memastikan kau tidak kesepian disini"
"siapa yang kau pikir kesepian?!"
Aizetsu memeluk Genya dan menciumnya. Genya merona dan menatap kearah lain.
Aizetsu selalu memaksa Genya walaupun Genya sudah terang-terangan menolak dan bahkan menggamparnya terus-terusan. Gadis itu pantang menyerah sampai Genya mencintainya. Ia bahkan sering mencumbui Genya sehingga gadis itu terbiasa dengan sentuhannya. Ia sering datang ke apartemen Genya dan menginap tanpa izin dan bahkan sering memuaskan Genya sehingga tubuh gadis itu terbiasa dengan sentuhannya.
"Genya, kau tidak perlu ikut ke ryokan bersama mereka!"
Genya menatap gadis itu dan bingung. "Suka-suka aku dong mau pergi atau tidak"
"Genya aku bilang begini karena aku peduli padamu" ujar Aizetsu. "Aku mencintaimu setulus hatiku, karena itu aku ingin yang terbaik untukmu"
"Kau selalu seperti itu-"
"mengertilah Genya, mereka adalah lelaki brengsek" Aizetsu melingkarkan tangannya ke pinggul Genya. Bibirnya kembali mengkecup Genya dan megkulum lidah gadis itu.
"kalau kau memang ingin pergi, aku akan ikut denganmu"
"tapi kamu kan ga ada di grup"
"kalau gitu izinkan aku"
Genya melingkarkan tangannya dileher Aizetsu untuk menanyakan tentang keikutsertaan gadis itu. Aizetsu masih mengkecup bibir Genya dikala Genya mengetik. Aizetsu mengkecup leher Genya dan menggigit kecil lehernya sehingga Genya meringis kesakitan.
"Ai!" Rintihnya menjambak rambut Aizetsu.
Ia melihat Aizetsu dengan kesal dan mulai ngambek. Namun ia melihat balasan dari teman-teman satu grupnya yang menolak kehadiran cewek murung itu. "kau ditolak ikut"
aizetsu semakin murung dan mengambil handphone Genya dan menjawab bahwa Genya juga ga akan ikut acara itu.
"ah?!" Ucap Genya pucat.
"kalau aku tidak ikut, berarti kau tidak boleh pergi" ucap Aizetsu. "Kalau kau ingin pergi, sebisa mungkin bawalah aku"
Genya merona dan mengambil kembali handphonenya saat Aizetsu mengembalikannya.
"uh, ngomong- omong aku lapar" seru Genya
"kau ingin aku masak atau kita makan diluar?" Tanya Aizetsu yang masih menindih Genya dan menciumi pipi gadis itu.
Genya teringat bahwa ia belum belanja bahan-bahannya. "kita makan diluar saja"
"baiklah" mereka bersiap-siap untuk makan diluar lalu mereka berjalan bersama. Aizetsu menggandeng tangan Genya "kau ingin makan apa?"
"aku ingin makan masakan China"
"baiklah"
Genya menatap kearah Aizetsu dan tersenyum kecil. Ia merasa sedikit senang bahwa cewek disebelahnya begitu mengkhawatirkannya. Ia merasa ia begitu special sejak kehadiran Aizetsu. selama hidupnya, ia tidak pernah merasa seperti ini. Aizetsu selalu memperhatikannya dan memanjakannya walau memang selalu memaksanya. Genyapun tak bisa memungkiri bahwa ia telah jatuh kepada gadis ini. Namun, Genya masih mempunyai tekad bahwa ia adalah wanita normal yang menginginkan kaum adam. Ia berpikir, kalau memang masih bisa mendapatkan lelaki, mengapa ia harus bersama wanita. Namun memang perasaannya, tak bisa ia pungkiri.
Mereka masuk ke restauran dan memesan makanan yang diinginkan. Selama mereka menunggu makanan tiba, Genya masih saja sibuk dengan handphonenya. Aizetsu menatap Genya. Mereka berdua diam tanpa bicara. Genya benar-benar sibuk dengan handphonenya sehingga seakan masuk kedunianya sendiri. Aizetsu hanya menatapnya tanpa berkata apapun dan membiarkannya asik sendiri. Saat makanan datang, Genya masih asik sendiri dengan handphonenya. Aizetsu memanggilnya tapi Genya tidak bereaksi. Aizetsu mulai mengambil handphonenya.
"Genya!" Panggil gadis itu menaruh handphone Genya disebelahnya. "makanlah! Makanan sudah datang"
Genya tersentak namun melihat makanannya. "ah, maaf, aku keasyikan sendiri" ucap Genya lalu mengambil sumpitnya.
Aizetsu menatap gadis itu mulai memakan makanannya.
"apa yang menyenangkan ngobrol bersama mereka?" Ucap Aizetsu semakin murung.
Genya terdiam merasa bersalah. ia hanya memakan makanannya tanpa menjawab pertanyaan Aizetsu. Aizetsu hanya menatap Genya tanpa memaksanya untuk menjawab.
Mereka makan tanpa bicara satu patah katapun. Mereka melahap makanan mereka hingga habis dan Aizetsu membayar makanan tersebut setelah rebutan membayar dengan Genya. Mereka berjalan pulang dengan bergandengan dan Genya terdiam menatap Aizetsu.
"apa?" Tanya Aizetsu yang masih menatap lurus ke depan.
Genya masih menatap gadis itu sehingga gadis itu melihat balik. Ia melihat Genya dan merangkul bahunya. "kau kedinginan? Atau ingin dimanja?"
Genya merona padam dan membiarkan gadis disebelahnya merangkulnya. "Bakatare!"
Ia berjalan bersama sambil dirangkul oleh gadis disebelahnya, sampai apartementnya. sesampainya, Genya melepaskan baju hangatnya dan merebahkan dirinya di kasurnya.
"ah, kenyangnya" serunya. Ia melanjutkan ngobrol dengan teman-temannya di handphonenya.
"Genya" panggil Aizetsu yang melihatnya dengan handphone kembali. "kalau kau ingin segitunya jalan-jalan, lebih baik jalan-jalan denganku ke suatu tempat"
"eh? Denganmu?" Genya mengeluh. "Aku bahkan ingin pergi tanpamu"
Aizetsu menimpanya dan mengkecup pipinya. "kau yakin kau bisa pergi tanpaku?"
"Sebelum ada kamu, aku ini selalu pergi kemana-mana sendirian dan itu semua baik-baik saja"
Aizetsu menghela nafasnya. Ia menatap Genya seksama.
"tidak semua orang baik padamu seperti yang aku lakukan padamu, Genya" jelasnya. "Seperti salah satu contohnya adalah pria-pria yang ada di grup itu"
"kau selalu bilang seperti itu" keluh Genya. "karena kau tidak pernah diajak ngobrol dengan mereka, lantas kau mengatakan bahwa mereka lelaki brengsek?"
"Genya mereka itu bukan lelaki yang baik-baik. Mereka mencari keuntungan dengan mendekatimu dan mereka akan mengambilnya darimu"
"mengambil keuntungan dariku? Keuntungan apa?"
Aizetsu menatap tubuh Genya dan menyentuhnya. "seperti mereka mengambil tubuh ini diam-diam"
Genya merona dan menepis tangan Aizetsu. "me- mereka tidak mungkin melakukan hal itu!"
"mereka lelaki, Genya" ucap Aizetsu. "kau pernah menjadi lelaki kan, kau pasti tahu tidak semua lelaki sebaik dirimu"
"a-apaan sih aku wanita tulen"
Aizetsu menghela nafasnya. "sepertinya kau memang tidak ingat masa-masa dikehidupan sebelumnya. Intinya, jangan termakan dengan srigala berbulu domba!"
Genya terdiam dan merona. Ia berpikir bagaimana ia bisa jatuh ke lain hati apabila yang selalu terang-terangan mendekatinya adalah gadis didepan matanya sekarang. Ia berdiri dan mengambil minum.
"Genya, maukah kau tinggal bersamaku?" Seru Aizetsu menatap gadis itu. "menikahlah denganku, Genya"
Ucapan Aizetsu membuat Genya semakin merona. Ia membelakangi Aizetsu dan terdiam sementara.
"aku akan menikah denganmu" ujar Genya. Mendengar itu, mata Aizetsu membesar dan berseri. Genya menatapinya dengan serius. "Apabila memang tidak ada lelaki yang layak kunikahi"
aizetsu menatap Genya dengan murung dan kecewa dengan jawaban gadis itu. Ia menunduk menatap bantal.
"Aku akan membahagiakanmu, Genya" ucapnya sedih. "Kau tidak perlu membahagiakanku, cukup aku saja yang membahagiakanmu"
"tak pernahkah kau berpikir untuk membahagiakan dirimu sendiri?"
"bagiku cukup berada dekat denganmu, aku sudah puas dan bahagia"
'kau bisa mendapatkan lelaki lain atau perempuan lain yang bisa membahagiakanmu"
"dan itu tidak akan cukup" Aizetsu memeluk Genya dan membawanya ke dekat kasurnya. Genya terdiam menatap gadis didepannya tersebut.
"Asal Genya bersamaku seperti ini, semua sudah lebih dari cukup bagiku"
Aizetsu mengkecup bibir Genya dan memangku Genya di pangkuannya. Genya melingkarkan tangannya ke leher Aizetsu dan mengkecupnya balik. Wajahnya merona dan menikmati sentuhan tangan Aizetsu di tubuhnya.
"pikirkanlah lamaranku, Genya" bisik Aizetsu dikuping Genya. Ia menyentuh bokong Genya sehingga gadis itu terkesiap melonjak mendesah.
Aizetsu menggigit leher Genya dan memberikan kissmark ditubuh gadis itu. Aizetsu membuka baju Genya dan mengkecup tubuh gadis itu sehingga Genya mendesah menikmati sentuhan dan kecupan tersebut. Tubuhnya menginginkan lebih dan membiarkan gadis itu menyentuhnya. Aizetsu mengkulum dan menjilati puting payudara Genya dan memainkannya dengan seksama. Ia lalu mebuat Genya tiduran dan menghimpit gadis itu dan memberikan kissmark ditubuh Genya.
"Aizetsu" panggil Genya mendesah meremas rambut gadis didepannya. Ia begitu menikmati masa-masa saat Aizetsu menyentuhnya.
Aizetsu mencium gadis itu lembut dan penuh kasih. Ia lalu membuka celana Genya dan mengkecup paha gadis itu. Genya mendesah menikmatinya. Berkali-kali ia mendesahkan nama gadis didepannya. Seluruh tubuhnya terasa panas dan degupan jantungnya berdebar lebih cepat. Ia menyukai tekhnik Aizetsu saat melakukannya. Tubuhnya selalu bereaksi dan memintanya lebih walau ucapannya bertolak belakang.
Aizetsu menjilat vital Genya dan memuaskannya. Ia memasukan jari-jemarinya kedalam vital tersebut dan menggesekkannya sehingga Genya dibuat terbuai seakan ada di surga. Ia menggesekkannya sambil menjilatinya dan bahkan menyedotnya. Genya membuka kakinya lebar-lebar dan merasa akan keluar.
"Ai~ ke~ keluar~ ah~" serunya berusaha menahannya.
"keluarkan saja Genya!" Aizetsu masih mengkocok dan menjilatinya. Genya mengeluarkannya dan diminum oleh Aizetsu.
Genya merasa sangat dipuaskan oleh gadis itu dan ia menarik nafasnya. Aizetsu mencium bibir Genya dan memeluknya erat. Ia tidak pernah meminta Genya memuaskannya dan selalu menahan dirinya. Baginya, asal bisa memuaskan gadis yang ia cintai itu, itu sudah cukup baginya.
"Genya" seru gadis itu memanggil nama gadis yang ia cintai.
Genya mengkecupnya dan meremas rambut Aizetsu. Ia menindih Aizetsu dan meraba tubuh gadis itu. Aizetsu terbelalak dan menatap Genya tidak percaya. Genya membuka baju Aizetsu dan mengkecupnya.
"Genya?" Aizetsu tak percaya dengan perlakuan Genya kepadanya. Selama ini setelah kejadian mabuk itu, ia tak pernah mengharapkan Genya memuaskannya balik. Ia menatap Genya dengan mata lebar.
"sudahlah! Berikan saja! Selama ini kau selalu menahannya dan melakulannya sendirian dikamar mandi kan?!" Ucap Genya malu-malu. "ini pertama kali bagiku, jadi aku tidak tahu ini akan membuatmu nikmat atau tidak"
wajah Aizetsu merona padam seperto tomat. Wajah murungnya tampak berseri bahagia mendapatkan gadis yang dicintainya mencintai dia balik. Di wajah murungnya terburat senyuman. Genya merona melihat wajah senyumnya yang manis itu.
Genya menanggalkan tubuh Aizetsu dan mengkecup tubuh tersebut. Ia mengkulum dada gadis itu dan menyedotnya. Karena baru pertama kali, ia meragu dan bertanya kepada gadis itu berkali-kali. Aizetsu memeluknya erat dan mengkecupnya.
"Genya, tidak apa-apa" ujarnya tersenyum. "dapat dipuasi olehmu, itu sudah menggairahkanku. Nanti kau akan terbiasa, pelan-pelan saja"
Genya menggesekkan tangannya ke vital Aizetsu sehingga Aizetsu mendesah merasakan kenikmatan. Mereka melakukannya sampai pagi.
.
Genya membuka matanya dan mendapatkan Aizetsu tertidur pulas sambil memeluknya. Ia menatap gadis itu dan memeluknya balik. Ia terdiam dan mengelus rambut gadis itu. Genya tahu bahwa dirinya sudah jatuh hati pada gadis ini, tapi ia masih bersikeras dengan pendiriannya. Ia masih ingin menikah dengan lelaki dan mencintai lelaki, walau dirinya sangat payah dengan lelaki. Namun, ia kembali berpikir bahwa ia benar-benar tidak pernah ada pengalaman menyatakan perasaannya kepada lelaki ataupun lelaki menyatakan perasaannya padanya. Ia begitu sedih mengingat hal itu.
Genya lalu mengambil handphonenya dan membaca pesan masuknya. Ia menolak ajakan-ajakan ke ryokan tersebut dan berpikir bahwa ia akan menerima lamaran Aizetsu. Ia menatap gadis itu dan tanpa disadari ia hampir mencium gadis itu. Ia tersadar bahwa Bibirnya hampir mengenai bibir Aizetsu. Aizetsu membuka matanya dan dilihatnya Genya begitu dekat dengan wajahnya.
"Genya?" Ucap Aizetsu yang bangun dari tidurnya.
Wajah Genya memerah padam dan membalikkan badannya. Aizetsu memeluknya dari belakang dan senyuman terburat di wajah murungnya.
"Genya, manis sekali" ucap Aizetsu. "Aku senang akhirnya kau menerima lamaranku. Perlakuanmu semalam sangat berarti bagiku, terimakasih"
Genya terdiam malu dan masih menatap kearah lain.
"-beli makan" ucap Genya malu. "aku ingin beli makan. Kamu mau makan apa?"
"ah, aku ikut-"
"ga usah! Aku beli sendiri saja!" Genya memakai bajunya dan bersiap-siap.
Aizetsu menatap gadis tersebut dan menunduk sedih.
"aku makan apapun yang dibelikan oleh Genya" ucapnya tersenyum kecil.
Genya keluar dari apartmentnya dengan perasaan yang tidak menentu. Wajahnya merona dan dadanya begitu sakit untuk memikirkan bahwa dirinya benar-benar jatuh pada gadis itu. Ia tidak tahu harus merasa senang, sedih ataupun marah. Ia pergi ke sebuah restauran dan berniat membungkus makanannya.
"eh? Shinazugawa?" Panggil seorang pria. "kau makan disini juga? Kebetulan sekali! Ayo makan bareng!"
"ah?" Genya diseret masuk kedalam restaurant tersebut tanpa bisa menolak.
Mereka duduk di pojokan ruangan dan memesan makanan.
"Shinazugawa, kau beneran tidak akan ikut ke ryokan?" Tanya pria itu.
"ah iya, aku tidak bisa" jawab Genya tersenyum kecil.
"kau sudah punya pacar ya?"
"eh? Nggak! Aku ga punya kok" bantah Genya malu.
"oh, syukurlah" jawab sang pria lega dan malu. "sebenarnya aku sudah lama menyukaimu, Shinazugawa"
'eh?' Genya terdiam dan merona mendengar kalimat itu. Ia tidak menyangka dikala ia berfikir untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada seorang cewek, akhirnya ada yang menyatakan perasaannya kepadanya.
"maukah kau jadi pacarku, Shinazugawa?"
Genya terdiam bingung. Baginya, ini kesempatan untuknya mendapatkan seorang pria untuk menjadi teman hidupnya dan mungkin apabila ia mempunyai pria, Aizetsu akan berhenti mengganggunya.
"aku tidak tahu, tapi mau coba menjalaninya?" Tanya Genya.
Pria itu tampak senang mendengar jawaban Genya. Genya menatapnya dengan perasaan yang sakit. Ia merasa begitu sakit didadanya saat berpikir untuk melepaskan Aizetsu dari hidupnya. Ia tahu ini tidak adil untuk Aizetsu, tapi kapan lagi ia bisa mendapatkan seorang pria.
Mereka makan bersama sehingga pulang. Saat pulang, sang pria mengkecup bibir Genya. Genya terkesiap dan merasakan ciuman yang berbeda. Tubuhnya bereaksi berbeda, menolak ciuman tersebut, namun ia memaksakan ciuman itu.
Ia pulang dengan membawa bungkusan makanan untuk Aizetsu. Dilihatnya gadis itu tertidur dikasurnya dengan memakai baju kesayangan milik Genya. Genya terdiam dan merasa begitu sedih.
"Genya, kau sudah pulang?" Aizetsu membuka matanya dan memeluk gadis itu. Ia mencium bibir Genya dengan perasaan yang berseri.
"Aizetsu" ucap Genya meragu. Ia menatap gadis itu dengan sedih. "aku tidak bilang aku ingin menikahimu"
"eh?"
"aku- aku sudah punya pacar" lanjutnya. "dia Mob-san dari divisi sebelah. Barusan kami bertemu dan ia menyatakan perasaannya padaku"
Aizetsu menatap Genya tidak percaya. Ia terkejut dan wajahnya memucat pasi.
"kau bohong kan?" Tanya Aizetsu menatap Genya semakin murung.
"aku tidak bohong, kami pun sudah berciuman"
aizetsu melihat Genya dengan pucat. Ia lalu menunduk dan membalikkan badannya. Ia tidak menyangka bahwa dirinya di khianati seperti ini oleh gsdis yang ia sukai. Airmatanya seketika mengalir dipipinya.
"Genya, kenapa kau lakukan ini padaku?" Ucap Aizetsu kecewa.
"maaf, tapi aku sejak awal sudah bilang padamu kalau aku memang mencari pria"
"kalau aku adalah pria, kau mau bersamaku?"
"bu- bukan begitu-"
"apanya yang bukan begitu?!" Aizetsu mengambil barangnya dan mengeluarkan kotak berisi cincin tersebut. "sejak awal, kau memang tidak mencintaiku. Aku tahu, karena itu aku berusaha untuk mendapatkanmu"
"Ai-"
"aku selalu berusaha mendapatkanmu, walau aku tahu aku tidak mungkin mendapatkanmu, walau aku tahu aku yang tersakiti, tapi aku tetap mencintaimu. Perasaanku padamu tidak bisa memudar" Aizetsu menatap kearah Genya. "Tak bisakah kau memilihku walau aku perempuan sekalipun?"
Genya terdiam. Dadanya begitu sakit. Ia tahu bahwa ia membohongi gadis itu dan ia tahu, ia membohongi perasaannya sendiri. Ia ingin menangis tapi ia menahannya.
"maaf-"
"aku mengerti" ucap Aizetsu menatapnya dengan perasaan yang sedih. "Maaf kalau mungkin aku selalu memaksamu. Aku tidak akan mengganggumu lagi"
aizetsu keluar dari apartment Genya dan meninggalkan cincinnya. Genya menangis sedih. Ia merasa hampa saat ia tahu Aizetsu meninggalkannya karena dirinya. Genya mengambil cincin Aizetsu dan memeluknya.
"maaf, maafkan aku Aizetsu" ucapnya didalam tangisnya.
seharian Genya menangis memikirkan gadis itu. Ia begitu hampa dan sedih saat tahu bahwa gadis itu pergi meninggalkannya. Ia memikirkannya seharian sehingga tidak makan dan minum dalam satu hari itu. Ia merasa kehilangan yang amat sangat sejak gadis itu pergi dari apartmentnya. Ia berpikir untuk meminta maaf pada gadis itu dihari esok dan memakai cincin pemberiannya dan menaruhnya dilehernya sebagai kalung.
Senin itu Genya mencari Aizetsu tapi ia tidak menemukan gadis itu seharian. Ia berpikir apakah gadis itu marah padanya. Ia menghubungi Aizetsu via telpon dan message, namun tidak ada balasan dari gadis itu. ia mulai khawatir selama tiga hari gadis itu tidak ada kabar. Genya mendatangi bosnya.
"ah? Aizetsu? Gadis itu pulang ke kampungnya' jawab sang bos.
Genya begitu shock saat tahu bahwa gadis itu pulang ke kampungnya. Genya meminta data Aizetsu dan ia izin cuti seminggu untuk pergi ketempat Aizetsu.
Ia pergi ke kampung Aizetsu dan mencari alamatnya dengan susah payah. Terkadang ia tersesat karena salah mendapat info. Dikala ia jalan menelusuri sawah, ia melihat seseorang yang sangat mirip Aizetsu dari belakang. Genya berlari menghampiri gadis itu dan menimpuknya pakai tasnya.
"KENAPA KAU TIDAK MEMBERI KABAR PADAKU KALAU KAU KELUAR DARI KANTOR DAN PULANG KE KAMPUNG?!" Teriak Genya kesal. Wajahnya ingin menangis menahan rindu kepada gadis itu.
Orang yang ia timpuk itu terdiam dan menatap Genya dengan relaksnya. Ia terdiam berpikir dan melihat Genya dari atas sampai bawah.
"hmm? Kita pernah bertemu?" Tanyanya bingung.
Genya menatap gadis tersebut dan menggamparnya berkali-kali.
"AKU TAHU KAU MARAH PADAKU TAPI KETERLALUAN SEKALI KAU BERPURA-PURA TIDAK MENGENALKU!"
Wanita itu terpukuli dan ia tersadar lalu berteriak. "AIZETSU! AIZETSU!"
Genya tersadar dan menatap gadis itu. ia bingung kenapa gadis ini memanggil namanya.
"Aizetsu ada dirumah bersama jiji" ucapnya memegang bekas pukulan Genya. "kau datang untuk mencari Aizetsu, kan?"
"kau bukan Aizetsu?" Genya terdiam dan merasa begitu lega saat mengetahui bahwa orang didepannya bukan gadis yang ia cari. Ia menangis lega saat tahu dirinya tidak dilupakan.
"aku Karaku, kembaran Aizetsu- UWAH?! KENAPA KAU MENANGIS?!'" Karaku mulai panik dan membawa Genya kerumahnya.
"jiji, Aizetsu dimana?" Tanya Karaku masuk kedalam kamar Hantengu.
"Aichan dikamarnya" ucap Hantengu ia lalu melihat kearah Genya.
"permisi" ucap Genya membungkuk. "saya Shinazugawa, saya datang untuk bertemu Aizetsu."
"masuk saja, kamarnya sebelah sini" ucap Karaku menuntun Genya masuk.
Genya masuk kedalam kamar tersebut dan mendapati Aizetsu yang tengah tertidur dengan baju miliknya yang dibawa. Genya menatap gadis itu dan mendekatinya.
"Aizetsu" panggilnya pelan dan mengkecup bibir gadis itu. Aizetsu masih tertidur pulas sehingga Genya menunggunya.
"kau mau makan dulu selama menunggu Aichan bangun?"
"terimakasih" ucap Genya. "Anu, maaf untuk yang tadi"
"uh, tidak apa. Ini pertama kalinya aku dipukul oleh seseorang" keluhnya tertawa. Genya merasa tidak enak dan meminta maaf berkali-kali.
Genya menunggu Aizetsu terbangun sambil mengelus wajah gadis itu. Ia duduk dikasur gadis itu dan memainkan alisnya yang mengkerut sedih itu. Merasa disentuh seseorang, Aizetsu membuka matanya dan tersentak kaget menatap Genya didepan matanya.
"Genya?!" Ucap Aizetsu terduduk menatap gadis didepan matanya. "kenapa kau ada disini?"
Genya tersenyum kecil dan merona. Tak lama, ia mendaratkan tamparan yang sangat kencang ke wajah gadis didepannya itu. Aizetsu terbelalak kaget dan menatap kearah Genya bingung.
"kukira aku tidak bisa bertemu denganmu lagi! Kenapa kau tidak menghubungiku dan keluar dari kantor tiba-tiba?! kenapa tidak menghubungiku kalau kau pulang kesini?!' Genya terisak dan menangis "aku kesepian. Kukira kau benar-benar akan meghilang Dariku"
Aizetsu menatap gadis itu dan memeluknya erat.
"aku tidak bermaksud menyerah dari menggapaimu. Aku masih mencintaimu sampai kapanpun"
"lalu kenapa kau tidak memberi kabar? Kenapa kau keluar?"
"Aku masih dikantor kok" ucapnya sedih. Kemarenan saat aku pulang le apartementku, aku dapat telpon dari Sekido kalau jiji jatuh disawah, makanya aku pulang dan mengambil cuti seminggu. Karena buru-buru, aku malah meninggalkan handphoneku disana"
"ja- jadi aku mengkhawatirkan sesuatu yang tidak ada?" Tanya Genya menyesal.
"kau khawatir?" Aizetsu menatap gadis itu dan mengelap airmatanya.
Genya menatap balik dan wajahnya merona padam. Ia terdiam dan mengkecup Aizetsu secara tiba-tiba. Aizetu terkesiap dan mencium balik Genya dan memeluk gadis itu erat. Ia menggigit kecil bibir bawah Genya dan mengkulumnya.
"aku sudah berpikir matang-matang" Genya membenamkan wajahnya di bahu Aizetsu. "Aku ingin menikah denganmu"
Aizetsu merona dan memeluk Genya dengan erat.
"benarkah?" Tanyanya tidak percaya. Genya mengangguk dengan pasti dan memeluknya erat.
"aku ingin bersamamu dan menikmati hidup bersamamu" Genya menatap Aizetsu dengan pasti walau wajahnya merona merah. "aku mencintaimu"
"aku mencintaimu juga Genya" aizetsu mengkecupnya kembali dan meraba tubuh Genya. Ia menjatuhkan dirinya dan diri gadis itu keatas kasur. Aizetsu mengkecup leher gadis itu dan memberikan kissmark. Saat ia menandakannya, ia melihat cincinnya keluar dari baju gadisnya. Ia merona dan menatap cincin tersebut.
"kau memakainya?" tanyanya.
"ah, iya" jawab Genya malu. "sejak kau berikan padaku"
"lalu hubunganmu dengan mob san?"
"aku sudah putus sebelum aku kesini" jawabnya kembali. "ku sadar bahwa aku telah membohongi diri sendiri dan dirinya apabila kuteruskan".
Aizetsu tersenyum senang demgan alis murungnya. Ia begitu bahagia bisa mendapatkan gadisnya.
"Genya, kalimatmu begitu berarti untukku"
.
TBC
