Aizetsu x Genya
Part 8. REINCARNATION DESTINY TERORRIST
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)
Warning: yuri hentai
.
.
Aizetsu memeluk Genya dikala tidurnya. Semalaman mereka melakukan sampai pagi berkali-kali. Ia begitu bahagia akhirnya cintanya tidak kandas dan ia bisa mendapatkan hati gadis yang ia cintai. Akhirnya gadisnya mengatakan ingin menikahinya dan bersamanya. Kalimat itu sangat berarti baginya. Ia merasa bahwa tidak ada salahnya menjadi seorang wanita.
"Aichan!" Tiba-tiba suara gaduh dari depan kamarnya terdengar. Suara tersebut masuk kedalam kamar Aizetsu sehingga Genya terbangun kaget.
Genya menatap kearah gadis yang masuk itu dengan terkesiap dan gadis tersebutpun diam tak berkutik. Wajah Genya memerah karena ia tidak memakai sehelai baju dan hanya ditutupi selimut. Gadis itu menatapnya dengan bingung.
"kau siapa?"
"eh?!" Genya bingung dengan pertanyaan gadis itu yang mana ia kira gadis itu adalah Karaku.
"uh, pukulanku kemaren sekeras itu ya? Sampai tidak mengenalku? Atau kau sengaja melupakanku karna marah denganku?"
"hah? Pukulan?" Gadis itu semakin bingung. "Aichan!" Gadis itu mengguncang-guncangkan badan Aizetsu. "cewek jelek ini siapa?"
Genya merasa begitu kesal dengan kalimat gadis itu. Aizetsu terbangun dan menatap Genya lalu duduk memeluk gadisnya.
"Genya" Aizetsu memeluk erat gadisnya dan mencium bibir gadis itu. Genya begitu malu saat Aizetsu memgkecupnya didepan gadis lain.
"hah?! Genya?" Gadis itu shock. "kau menemukan orang yang kau bilang takdirmu itu dengan sungguh-sungguh?!"
"uuh, Urogi berisik sekali pagi-pagi, menyedihkan" keluh Aizetsu yang masih memeluk Genya. "kami sudah janji akan menikah"
"hah?! Ga salah? Kukira kamu akan menikah dengan cowok!" Jelas gadis bernama Urogi itu.
Aizetsu menatap kembarannya dengan sedih dan memeluk Genya semakin erat.
"aku tidak peduli Genya cewek atau cowok, asal ia bersamaku, itu sudah lebih dari cukup" ujarnya dan hal itu membuat Genya merona padam.
"oi Urogi! Cepat bantu aku!" Tiba-tiba Karaku muncul. Genya tersentak kaget melihat kearah Karaku.
"eh?! Eeeeehhhhh?!" Teriak Genya kaget melihat tiga orang yang sama. Aizetsu menatap Genya dengan bingung. "ka-kalian kembar tiga?!"
"ah aku belum bilang?" Tanya Aizetsu. "kami kembar empat sih"
"empat?!" Genya terdiam pucat.
"tapi kau tetap milikku, Genya" Aizetsu mengkecup Genya dengan perasaan senang.
"kalian daripada bermesraan, lebih baik bantuin aku!" Ucap Karaku sambil menarik Urogi keluar ruangan.
Genya bersiap-siap memakai bajunya dan bersiap-siap membantu. Aizetsu mengikutinya dan memeluk Genya dari belakang.
"ngomong-omong kau disini sampai kapan?" Tanya Genya kepada Aizetsu.
"aku? Sebenarnya sampai besok sih" jawab gadis itu. "tapi bagaimana kalau kita liburan? Kau izin satu minggu kan?"
"iya sih" Genya merona dan memotong kentang untuk dimakan nanti.
"maukah kau menikah disini Merayakan bersama keluargaku?"
"boleh sih. Berarti dalam waktu dekat ini?"
"besok?"
"besok?! Cepat sekali?!"
"kenapa? Kau tidak mau?"
"bukan begitu, tapi mendadak sekali. Bukankah perlu persiapan?"
"tidak perlu pesta besar-besaran" Aizetsu mengkecup pipi Genya. "yang penting saudari-saudariku mengetahuinya"
Genya terdiam malu dan memotong kentangnya.
"lalu mau bagaimana?"
"pergi ke pencatatan sipil dan pesta dirumah saja" jawab Aizetsu. "kalau kau ingin pesta, kita lakukan saat sudah balik"
"aku tidak muluk sih" ucap Genya. "yang penting kakakku pun tahu"
"kakak?" Aizetsu menatap Genya. "Pria itu?"
"eh? Kau tahu kakakku?"
"nggak, aku tidak yakin kakakmu masih mengingat kehidupan yang lalu" ucap Aizetsu.
"kau serius mengingat saat-saat kehidupan yang lalu?"
"yah, aku masih mengingatnya dengan jelas" ucapnya. "Dan aku masih dapat mengingat sentuhanmu"
"eh?! Me- memangnya kita nga- ngapain aja?!" Genya merona lalu menepis tangan Aizetsu dengan malu.
"nggak sampai ngapa-ngapain sih" Aizetsu mengkecupnya. "kita hanya seperti biasa"
"biasamu dan biasaku berbeda!" Malu Genya. "lagipula daripada kau begitu, lebih baik kau bantu menyiapkan makanan juga kan?"
Aizetsu terdiam dan menatap ke arah bahan makanannya. Ia lalu membantu masak dan memotong bahan-bahan yang diperlukan. Genya mempersiapkan bahan-bahannya.
"kalau memang mau menikah besokpun, aku tidak mempermasalahkannya" ucap Genya begitu random untuk menjawab keinginan Aizetsu.
Aizetsu tersenyum kecil di wajah murungnya dan memeluknya seketika. "benarkah? Kau tidak terpaksa kan?"
"tentu saja tidak terpaksa!" Ucap Genya. menjitak Aizetsu dengan pelan. "sudah kubilang kan, kau sukses menjerat hatiku!"
Ia mengkecup Aizetsu namun lanjut mempersiapkan makanannya. Aizetsu kembali membantunya.
"Aichan? Makanan sudah siap?" Tanya Karaku datang menghampiri.
"ah, sebentar lagi" Aizetsu memasukan bahan makanannya ke dalam wajan gede dan mengaduknya.
Genya terdiam menatap Aizetsu yang sedang memasak dan menuangkan masakannya ke piring besar.
"kamu sering masak seperti itu?"
"ah, iya, kami makan bersama jadi langsung pakai wajan gede seperti ini"
"dirumahku juga seperti itu" seru Genya membantu membawanya ke meja makan.
"bagaimana kabar yang lainnya?"
"eh?"
"adik-adikmu dan ibumu?"
"Oh, mereka baik-baik saja" serunya dan tersenyum malu. "- kuharap mereka menerima keputusanku"
"aku berharap kakakmu tidak segalak dulu"
Genya tertawa dan menaruh makanannya di meja. "dia memang seperti itu sejak dulu.
Mereka sarapan bersama-sama. Sekido dan ayahnya, Zou Hakuten pulang dari sawah.
"ayah, ini Genya, pacarku" ucap Aizetsu memperkenalkan Genya, sambil makan.
Genya merona dan membungkuk kecil.
Zou Hakuten menatap Genya kesal.
"kau malah mencari seorang gadis bukan pria?!" Tanya Zou Hakuten.
"ayah masih bisa mengharapkan dari ketiga gadis lainnya" jawab Aizetsu. "ayah tau sejak dulu aku selalu mencari gadis ini. Aku ingin restu dari ayah dan menikah besok"
"besok?!" Ketiga saudarinya pun tersentak dan hampir saja Karaku mengeluarkan makanannya dari hidungnya.
"aku meminta Genya menikah besok karena aku ingin kalian tahu bahwa aku mencintainya"
Zou Hakuten menatap anak gadisnya dan masih santai makan makanannya.
"kalau memang keputusan kalian seperti itu, aku tidak akan melarangnya" ucapnya menyuap makanannya.
"Aizetsu menatap ayahnya dan menggenggam tangan ayahnya. "Terimakasih ayah"
"makanlah!"
Aizetsu meneruskan makannya dan terkadang ia menambahkan porsi untuk Genya hingga Genya merasa kekenyangan. Genya merebahkan dirinya di kursinya, kekenyangan. Ia menatap piringnya yang telah kosong itu dan menghela nafasnya.
"kau tidak apa?" Tanya Urogi melihat gadis itu tersiksa.
"uh, tidak apa" ujar Genya pasrah.
"kau benar-benar mencintai Aichan?"
Genya melihat kearah Urogi yang terlihat sangat serius. "sejak kecil, akulah yang paling akrab dengan Aichan, jadi aku tidak ingin ada seseorang yang mempermainkan perasaannya"
Genya terdiam namun ia menatap serius. "aku serius ingin bersama Aizetsu. Mungkin awalnya aku mengatakan aku menginginkan menikah dengan lelaki lain, tapi kegigihan Aizetsu membuatku luluh. Kalaupun kalian tidak setuju ia bersamaku, kalaupun aku harus diusir dari rumahku, aku akan tetap bersamanya dan akan kawin lari"
Urogi terdiam, sebenarnya ia tidak suka saudarinya yang paling dekat dengannya diambil oleh orang lain, tapi kalau memang kebahagiaan saudarinya adalah seperti ini, ia pun harus mengikhlaskannya.
"asal kau tidak mempermainkan saudariku, aku akan merestui kalian" Urogi membalikkan badannya dan berjalan keluar ruangan. Ia pergi ke tempat Aizetsu mencuci piringnya bersama Karaku. Genya terdiam dan merebahkan diri kembali di bangkunya.
"uh, kenyang" ucapnya tersiksa.
Aizetsu menyentuh tengkuk lehernya dan membuat Genya terkesiap.
"geh?! Dingin" ujarnya lalu menatap kearah Aizetsu.
"Genya, mau jalan-jalan ke sawah?" Tanya Aizetsu memeluk muka gadisnya dan memendamnya ke dadanya. Genya memerah padam dan mendorong gadisnya.
"bisa ga, ga perlu begini apalagi di depan jiji?"
Hantengu sejak tadi ada disitu duduk dengan gemetaran. Aizetsu melihat kearah Hantengu namun ia tetap meneruskannya. Genya begitu malu dilihat oleh orang lain dan akhirnya ia menggeret Aizetsu keluar ruangan.
"a- ayo keluar!"
Genya merasa begitu malu dan jalan menjauh dari rumah gadisnya sambil menggenggam tangan gadisnya.
"Genya" panggil Aizetsu menatap gadisnya. "mau kemana?"
Genya tersadar bahwa dirinya sudah jauh dari rumah gadis itu dan ia jongkok dengan lemasnya.
"aaaaahhh, kau itu bisa ga sih jangan terlalu mesra di depan jiji atau ayahmu?" Keluhnya memegang kepalanya.
"memangnya kenapa?"
"ma- malu tau! Kau ga malu dilihat mereka?"
"nggak. Karena mereka tau Genya adalah orang yang kucintai" ucap Aizetsu mengkecup dan memeluk gadisnya.
Genya mengkecup balik Aizetsu dan merona. mereka lalu berjalan-jalan mengitari sawah dan Genya bertanya-tanya seputar masa kecil Aizetsu. Mereka bersenang-senang bersama-sama sambil bergandengan tangan.
Malam itu Aizetsu memeluk gadisnya dan mengkecup kening gadisnya.
"Genya, besok akhirnya kau official milikku" ucapnya merona bahagia. "selama bertahun-tahun aku menunggumu, akhirnya aku bisa mendapatkanmu"
Genya menatap Aizetsu dengan rona wajah yang memerah padam. Ia tidak menyangka gadis didepannya yang gigih akhirnya bisa mendapatkan dirinya yang selama ini menginkan seorang pria dalam hatinya.
"mungkin memang benar katamu, bahwa kau adalah takdirku" Genya tersenyum merona dan duduk di atas kasur memakai baju tidurnya.
Aizetsu menatap gadisnya lekat dan menyentuh pipi gadisnya.
"kau menyesal bersamaku? Walau aku bukan lelaki?"
Genya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "nggak. Aku sadar aku tak bisa tanpamu, Aizetsu" ia memegang tangan Aizetsu yang menyentuh pipinya. "saat kau pergi meninggalkanku, aku merasa hampa dan sangat sedih seakan ada sesuatu yang hilang dariku"
Genya menaruh tangan Aizetsu ke dadanya. Wajahnya merona dan mengkecup Aizetsu.
"mungkin kalau kamu tidak ada, aku sudah jatuh ke srigala berbulu domba"
Aizetsu mengkecup bibirnya kembali dan meraba tubuh Genya. Genya memeluknya dan merebahkan dirinya sambil menarik tubuh gadisnya. Aizetsu meraba tubuh gadis itu dan tangannya dimasukan kedalam baju gadisnya. Genya terkesiap dan memegangnya.
"Aichan!" Urogi masuk kedalam kamar Aizetsu mendadak dan memeluk saudarinya. Ia lalu tersadar bahwa Aizetsu sedang ingin bermesraan dengan kekasihnya namun ia masa bodo dengan semua itu. "temani aku tidur!"
Urogi bahkan merebahkan dirinya ditengah-tengah Genya dan Aizetsu sambil masih memeluk saudarinya. Aizetsu menatap Urogi lekat-lekat dan menghela nafasnya.
"Urogi-"
"walaupun kau mengusirku, aku ingin tidur bersamamu seperti saat kita masih kecil dulu" sanggah Urogi merasa sedih. "sejak kau pergi mencari cewek jelek ini, kita jadi tidak pernah tidur bareng!"
Genya kesal dan menjitak Urogi. "maaf saja kalau aku jelek!"
Urogi menatap Genya namun masih memeluk Aizetsu. Mereka saling menatap dengan aura membunuh satu sama lainnya. Aizetsu menghela nafasnya dan menjitak keduanya.
"kau boleh tidur disini tapi tidak di tengah kami"
"yay, aku sayang Aichan~" seru Urogi memeluk kembali saudarinya. Aizetsu tidur di tengah Urogi dan Genya sambil memeluk keduanya.
"besok bangun pagi dan pergi ke pencatatan sipil.
Genya mengangguk dan tidur disebelahnya hingga pagi. Saat pagi menjelang, Genya terbangun duluan dari tidurnya. Ia melihat jamnya dan mulai mengerjakan aktivitasnya. Ia keluar kamar dan mendapatkan Karaku dan Sekido sedang mempersiapkan sarapan.
"pagi" sapa Genya mendatangi. "hari ini sarapannya apa? Biar kubantu"
"kita berencana ingin masak nikujaga untuk sarapan. Urogi semalam meminta itu. Genya tolong potong ini ya" jawab Karaku memberikan setumpuk kentang kepada Genya.
"Aichan dan Urogi masih tidur?" Tanya Sekido menatap Genya.
"iya, mereka masih nyenyak tertidur" Genya mengambil bahan-bahan yang akan ia potong dan bersiap-siap untuk memotongnya.
Sekido dan Karaku juga memasak bersama. Karaku memang pada dasarnya santai jadi dia sangat santai ngobrol dengan Genya seakan mereka sudah akrab sejak lama.
Aizetsu terbangun dari tidurnya dan melihat disebelahnya tidak ada Genya dan ia sedikit panik. Ia segera berlari kearah Karaku dengan wajah begitu sedih.
"Genya-"
Genya yang sedang meniupkan api, menatap kearah Aizetsu.
"aku kenapa?" Tanyanya bingung.
Aizetsu menatap Genya dengan perasaan lega dan memeluk gadisnya hingga jatuh.
"ah?!"
"syukurlah" ucap Aizetsu. "kukira kamu pergi meninggalkanku"
Genya menatap gadisnya dan menghela nafasnya. Ia menjitak rambut gadisnya dan tersenyum.
"bodoh! Untuk apa aku pergi meninggalkanmu kalau tekadku sudah bulat?!"
Aizetsu menatapnya murung.
"karena aku seperti didalam mimpi saat mengetahui Genya benar-benar bersamaku" ucap gadis itu. "aku takut Genya akan melepaskanku"
Genya memeluk Aizetsu dan mengkecupnya lembut. "percayalah padaku, aku menginginkanmu. Aku ga akan melepaskanmu karena aku mencintaimu"
"kalian ini bisa ga tidak interupsi waktu masak kami? Kalian keluar dari dapur kalau kalian bermaksud mengganggu" seru Sekido kesal lalu menendang mereka berdua keluar dari dapur.
"ah, karena kamu aku jadi ikutan dikeluarin" Genya menghela nafas. "masih jam lima pagi, mau ngapain?"
"aku ingin memeluk Genya" Aizetsu memeluk gadisnya. Ia begitu bahagia bisa bersama gadisnya setelah berabad-abad ia mengejarnya akhirnya ia bisa bersama dengan orang yang ia kasihi. Genya terdiam dan balik memeluknya.
Mereka makan bersama setelah Karaku dan Sekido menyelesaikan masakan mereka. Genya begitu cepat akrab dengan keluarga Aizetsu dan bahkan ia bertengkar dengan Urogi hingga akhirnya mereka dibentak oleh Zou Hakuten.
"kau sudah siap, Genya?" Tanya Aizetsu menggenggam tangan gadisnya yang gugup menatap tulisan kantor sipil, didepannya.
Genya mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya dan ia menggenggam erat tangan Aizetsu dan tersenyum.
"iya, aku siap"
mereka mulai menjalankan proses pernikahan mereka di catatan sipil. Akhirnya mereka resmi menikah setelah menandatangani perjanjian.
Aizetsu mengambil cincin yang dikalungi Genya dan memakaikannya ke jari manis Genya. Begitu juga Genya, memakaikannya ke jari manis Aizetsu. Terburat senyuman di wajah mereka dan mereka tertawa bersama.
"aku mencintaimu, Genya" Aizetsu memeluk Genya dengan perasaan senang.
"aku juga mencintaimu, Aizetsu" balas Genya bahagia. Mereka berciuman satu sama lainnya.
.
Liburan mereka dipakai untuk bulan madu di kampung Aizetsu. Walau terkadang Urogi sering mengganggu mereka, namun Genya tak gentar untuk berduaan bersama Aizetsu.
Seminggu tak terasa sehingga mereka harus balik lagi ke kenyataan, yaitu bekerja. Sebelum mereka kembali bekerja, mereka balik dengan cepat agar bisa mengurus kepindahan apartment Aizetsu ke apartmen Genya.
"mulai sekarang, kita tinggal bareng ya" ucap Genya tersenyum. "aku tidak pernah menyangka akan tinggal bareng orang lain"
Genya duduk memeluk Aizetsu yang duduk diepannya. Aizetsu menggenggam tangan gadisnya dan menatap kearah Genya.
"kenapa?"
"tidak apa-apa sih, hanya rasanya aneh saja" ujar Genya cengingisan. "selama ini aku tinggal sendirian dan tiba-tiba ada seseorang didalam yang akan mengatakan selamat datang saat aku pulang atau selamat pulang saat kamu pulang"
Genya memeluk Aizetsu erat dan begitu senang. Wajahnya yang merona padam dipendamkan ke bahu gadisnya dan dikecupnya bahu gadisnya dengan kasih. Ia tak menyangka dirinya benar-benar terjerat oleh gadis didepannya. namun itu tidak jadi penyesalan baginya, karena ia tidak bisa mundur meninggalkan gadis itu. Ia tahu bahwa dirinya terasa hampa saat ditinggal gadis itu pulang kampung diam-diam. Terasa begitu kosong dan kesepian seakan separuh hatinya diambil lari oleh gadis itu.
"Aizetsu" ucap Genya menggigit bahu gadisnya dengan pelan. "Mau makan apa?"
"aku mau makan Genya" Aizetsu menggenggam erat tangan gadisnya dan menatap Genya lembut.
Ia mengkecup Genya dan memeluknya, mengubah posisinya. Aizetsu menautkan lidahnya dan meraba tubuh gadisnya. Genya menerimanya dan memeluknya erat. Sentuhan Aizetsu membuatnya mendesah kenikmatan. Aizetsu mengkecup leher gadisnya dan memberikan kissmark di beberapa tempat di tubuh gadisnya. Aizetsu menanggalkan tubuh Genya dan mengkulum puting susu Genya sehingga Genya terkesiap.
"ahn?!" Tanpa sadar Genya mendesah dengan kencang sehingga ia menutup mulutnya segera, dengan tangannya. "Aizetsu, pindah posisi!"
Genya menanggalkan pakaian Aizetsu dan mengubah posisinya sehingga mereka bisa saling memuaskan. Ia mengkulum puting dusu gadisnya dikala sang gadis melakukan hal yang sama. Genya memberikan beberapa kissmark di tubuh Aizetsu.
"kau milikku, Aizetsu" serunya meraba bsgian vital gadisnya.
"Genya juga milikku" Aizetsu mengkecup tubuh gadisnya dan ia mulai mengulum vital Genya. "hmm, tempat ini begitu menggairahkan"
Genya memukul bokong Aizetsu dengan malu. "ja- jangan merusak suasana"
Aizetsu menjilat vital Genya dan memasukan kedua jarinya dan menggesekkannya kedalam vital gadis itu. Genya mendesah menikmati gesekan itu dan mengkulum vital Aizetsu. Ia melingkarkan kakinya ke kepala Aizetsu dan tidak melepaskannya. Aizetsu tetap menjilati dan menggesekkan vital Geya sampai gadis itu keluar. Genyapun melakukan hal yang sama sampai Aizetsu mengeluarkannya. Mereka melakukannya sampai berkali-kali.
.
Genya mengetik menginput data dikomputer kantornya. Ia begitu konsentrasi sehingga tidak sadar bahwa dirinya dipanggil.
"SHINAZUGAWA!"
"eh?!" Genya tersadar dan menatap kearah yang memanggil. "ah? Mob san? Ada apa?"
"bisa bicara denganmu sebentar?"
"oh ya? Silahkan?"
"maksudku berdua saja denganmu" pria itu menatap kearah Aizetsu yang memandanginya sejak tadi. Genya menoleh kearah Aizetsu lalu bingung.
"oh ada apa? Ga bisa diomongi disini saja?"
'ini tidak bisa diomongi disini-" Mob melihat cincin yang dipakai dijari manis Genya. "-kau sudah menikah?"
"ah iya baru ini" jawab Genya merona.
"karena itu kamu memutuskanku?"
"ah bukan itu" Genya berdiri.
"aku memang sejak awal tidak berpacaran dengannya, jd kupikir pernyataan cintamu membuatku senang, tapi saat aku memberitahu hubungan kita, ia pergi dariku. Saat tahu dia meninggalkanku, aku tahu aku aku tidak bisa tanpanya. Maaf" jawab Genya merasa bersalah. "saat akhirnya kami berbaikan, aku yang memintanya menikah"
pria itu terdiam dan masih tidak percaya. "kau mempermainkanku, Shinazugawa"
"maaf, aku benar-benar tidak bermaksud"
pria itu pergi meninggalkan gadis itu. Genya merasa bersalah dan kembali duduk ditempatnya.
Aizetsu melihatnya dan menggenggam tangan gadisnya. Genya menggenggam balik dan tersenyum kearahnya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Aizetsu menatap gadisnya. Genya menggeleng dan menggenggam tangannya erat.
"tidak apa-apa, keputusanku sudah bulat untuk memilihmu"
Genya kembali melanjutkan kerjanya dan hingga pulang.
"Aizetsu, aku mau pergi ke minimarket sebentar, kamu mau makan apa?"
"aku ingin burger"
"yasudah kalau gitu, aku pergi du-" Aizetsu menarik tangan Genya dan menatapnya.
"aku pergi bersamamu"
"tidak apa, aku bisa pergi sendiri"
"kalau pergi berdua bukannya lebih menyenangkan?"
Genya merona dan salah tingkah. "a- ah benar juga"
Aizetsu menggandeng tangan gadisnya dan mereka berjalan bareng ke minimarket. Disana mereka memilah-milah barang yang akan dibelidan terkdang bercanda.
"Genya, ada semangka" ucap Aizetsu menunjuk semangka tersebut.
"eh? Tumben sekali dimusim seperti ini?"
"Ingin beli? Kau suka semangka kan?"
"eh? Aku pernah ngomong ya?"
"aku sudah bertahun-tahun mencintaimu, Genya, aku tahu apa yang kau suka dan kau benci"
Genya merona dan memasukan semangka tersebut ke dalam keranjang.
"ayo kita bayar"
mereka membayar belanjaan mereka dan bermaksud pulang ke Apartemen. Namun dijalan, mereka dengan tiba-tiba ditikam oleh seseorang dari belakang dan mengenai jantung mereka.
Aizetsu dan Genya menghembuskan nafas terakhirnya sambil menautkan jari-jemari mereka.
.
TBC
