Aizetsu x Genya
Part 9. REINCARNATION DESTINY TERORRIST
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)
Rate: yaoi hentai
.
Shinazugawa Genya seorang remaja semester tiga jurusan Hubungan International menggandrungi music. Dia dan teman-temannya mempunyai sebuah band kecil-kecilan bernama Re-do. Band tersebut diisi oleh Himejima Gyoumei seorang pekerja kantoran biasa yang main drum, Shinazugawa Sanemi pegawai kantoran biasa yang bermain bass, Shinazugawa Genya gitar dan vocalisnya anak kelas 3SMA Tokito Muichirou. Terkadang mereka bermain music di acara-acara tertentu apabila ada panggilan. Mereka selalu kompak berlatih di studio.
Kini pria bernama Shinazugawa Genya, sedang makan di restauran dua puluh empat jam berdua bersama dengan Tokito Muichirou. Mereka asyik membicarakan tentang musik dan seputarnya.
"Genya, kamu membuat lirik lagi?" Tokito menatap kearah pria berambut mohak didepannya, sambil memakan burgernya.
"ah, iya. Aku kepikiran lirik yang ini sepertinya lebih bagus diganti" Genya mencoret-coret kertas liriknya sambil menyedot colanya.
"lirik buatan Genya selalu memikat hati. Genya memikirkan sekali lirik lagu kita" ucap Tokito tersenyum cerah. Genya merona malu dan tersenyum kecil. "Genya tidak ada keinginan pacaran?"
"eh? Kenapa tiba-tiba?" Genya menatap Tokito bingung.
"bagiku, lirik buatan Genya begitu romantis" ucapnya.
"-eh?" Genya merona "te- terimakasih-"
"-tapi aku belum menemukan seseorang yang cocok dihatiku" lanjut Genya, tersenyum kecil. "Tokito san sendiri? Katanya ada orang yang Tokito san suka?"
"aku tidak berani menyatakan perasaanku padanya" jawab Tokito. "dia tetanggaku dan masih kelas dua SMP. Sejak kecil kami selalu main bareng, aku takut kalau aku menyatakan perasaanku, ia akan menolakku"
"eh? Kenapa? Menurutku, bukankah lebih baik dicoba dulu? Kita tidak akan tahu kan perasaan dia sama seperti kita atau tidak"
Tokito menatap Genya seketika dan mulai menunduk pasrah.
"Genya tidak akan mengerti-''
"eh?!"
"yang aku bicarakan adalah lelaki di sebelah rumahku" wajah Tokito mulai memerah padam.
"e- eeeeehhh?!" Genya memekik kaget namun ia segera menutup mulutnya. "Ko- Kotetsu kun?"
Tokito mengangguk kecil dengan wajah masih merona. "Maka dari itu aku tidak berani mengutarakannya"
Genya mulai gugup dan panas dingin.
"ta- tapi kenapa? Selama ini kukira Tokito san menyukai teman sekelas-'' Genya memikirkan kembali cerita-cerita Tokito selama ini tentang orang yang disukainya. "- ah aku mengerti"
"ah, Tokito san? Genya san? Ternyata benar!" Sapa seseorang yang menghampiri mereka sehingga mereka terlonjak kaget. Suara yang begitu khas bagi mereka. Mereka menatap kearah suara tersebut dengan tersenyum gugup.
"Ko- Kotetsu kun?" Sapa mereka keringat dingin.
"sudah kuduga kalian ada disini" senyum bocah itu lalu duduk disebelah Tokito. "kalian sedang apa?"
"ah, kami sedang mendiskusikan lirik lagu buatan Genya" jawab Tokito memberi tempat.
"ah untuk band kalian?"
"iya"
Tokito menatap Kotetsu yang disampingnya terus-terusan namun Kotetsu tidak menyadarinya, sehingga membuat Genya yang melihatnya hanya bisa tersenyum iba.
"Kotetsu sendiri, sedang apa di sekitar sini?" Tanya Genya masih tersenyum iba.
"tadi aku baru pulang main dan sedikit lapar" jawab Kotetsu tersenyum. "Tokito san, habis ini akan pergi bersama Genya san?"
"kamu pulang? Kalau kamu pulang, kita pulang bersama"
"kau tidak pergi bersama Genya san?"
"tidak, habis ini aku ada kelas malam" jawab Genya. "karena kebetulan Tokito bisa menemaniku makan, akhirnya kita bersama-sama disini"
"heee? Kuliah sangat rumit ya?" Kotetsu memakan burgernya.
Tokito menatap pria disebelahnya dan duduk begitu dekat dengan pria itu namun Kotetsu tidak menyadarinya dan tetap mengajak bicara Genya. Genya terdiam manggut-manggut dan merasa iba dengan Tokito.
"lirik Genya begitu romantis loh" ujar Kotetsu ditengah obrolan saat ia melihat kearah tulisan tangan Genya. "aku boleh lihat?"
Genya memberikan kertas tersebut dan merona.
"pasti lirik ini buat pacarmu ya?"
Genya mulai panik dan wajahnya memerah padam layaknya tomat baru matang.
"ah, aku tidak ada orang yang kucintai kok" ujarnya panik.
"apa mungkin ada hubungannya dengan cincin yang kau jadikan kalung itu?" Tanya Tokito menatap kearah leher Genya.
"eh?"
"cincin?" Kotetsu menatap kearah Tokito bingung.
Genya menarik cincin tersebut keluar dari dalam pakaiannya.
"ah cincin ini? Ibu berkata saat lahir, cincin ini sudah ada di genggaman tanganku dan dipegang erat-erat tanpa terlepas"
"eh?"
Genya tersenyum. "aku sendiri tidak tahu mengapa aku bisa menggenggamnya. Bahkan rasanya cincin ini begitu berharga dan seakan tidak boleh hilang dari genggamanku"
"Mungkin itu benda yang berharga dikehidupan lalumu?"
''entahlah, aku tidak ingat pasti, namun aku selalu merasa benda ini begitu berharga dibanding semuanya"
"Tapi mungkin saja ini benda berarti di waktu sebelum aku lahir hingga saat ini aku menjaganya" lanjut Genya tersenyum lembut.
Kotetsu dan Tokito menatap Genya dengan polosnya. Melihat wajah Genya yang berseri membuat mereka tersenyum.
"Genya begitu menjaganya"
Genya mulai malu dan ia panik. "Ko- Kotetsu kun sendiri, apa ada orang yang Kotetsu kun sukai?"
Pertanyaan yang membuat Tokito merasa beruntung. Ia menatap Kotetsu sambil menyeruput colanya.
"eh? Aku? Nggak sih" jawab Kotetsu singkat.
"dasar bocah" balas Tokito.
"Apa?! Emangnya kau sudah punya orang yang kau suka?" Kesal Kotetsu ingin menjitak orang disebelahnya.
"ada" jawabnya menatap lekat kearah Kotetsu.
"he? Siapa? Siapa? Teman di SMA mu ya? Atau jangan-jangan ada fansmu ya?" Ejek Kotetsu.
Tokito terdiam cemberut menatap bocah didepannya.
"pokoknya aku tak akan memberi tahu bocah yang bahkan tidak mengerti arti cinta" Tokito memalingkan wajahnya yang memerah padam.
Genya tersenyum kecil melihat kelakuan kedua temannya dan tiba-tiba terpintas lirik yang bagus di benaknya sehingga dia mulai menulis.
"wah, Genya mendapatkan inspirasi"
Hampir sejam mereka duduk disana dan makan dengan santainya. Terkadang Tokito iseng kepada Kotetsu sehingga Genya hanya merasa iba.
"kalau begitu, kami pulang dulu ya" ujar Kotetsu sambil menggenggam tangan Tokito. "Tokito san ayo pulang!"
Mereka pulang bersama dan meninggalkan Genya sendirian. Genya mulai menyiapkan dirinya untuk pergi ke kampusnya. Ia merapikan barang-barangnya kedalam ranselnya dan mulai berjalan menuju kampusnya. Saat ia sedang jalan, ia tertabrak dengan seseorang.
"ah maaf" ucapnya. Orang tersebut menatap kearah Genya dan hanya mengangguk kecil. Genya mengangguk kecil dan kembali berjalan hingga kampusnya. Tanpa Genya sadari, oran itu menatap dengan lekat kearah Genya yang berjalan.
Kehidupan Genya sehari-hari seperti biasa hanya ke kampus, ngeband dan ngumpul bareng dengan teman-temannya, terutama Tokito dan juga Kotetsu. Walau kehidupannya biasa saja, namun ia begitu bahagia.
"eh? Konser? Di kafe dekat stasiun?"
"iya, kemarin Himejima dapat pesan dari manajernya dan sabtu malam kita diminta konser disana" ujar Sanemi sembari mengambil minumnya dan duduk di sofa.
"wah, aku jadi tidak sabar" ujar Genya tersenyum lebar, senang. Ia begitu senang saat mengetahui akan konser. Ia selalu menanti-nantikan hari dimana mereka konser kecil-kecilan.
"oh ya, aniki, aku buat lirik baru lagi" ujar Genya memberikan kertasnya.
"mana?" Sanemi mengambil kertasnya dan membacanya. "hmm, bagus juga, kalau gitu besok kita coba latihan lagu ini?"
"iya" Genya tersenyum senang dan segera berdiri. "kalau begitu, aku tidur dulu karena besok aku ada kelas pagi"
"oke, kalau gitu selamat tidur"
"mungkin aku akan pergi bersama Tokito san untuk konser itu"
Genya masuk kedalam kamarnya meninggalkan Sanemi di ruang tamu. Ia tidur dengan nyenyaknya malam itu. Saat pagi menjelang ia memulai dengan kegiatan seperti biasanya, menyiapkan sarapan dan membangunkan kakaknya dan berangkat ke kampusnya. Di kampus Genya akrab dengan beberapa orang, tapi Genya begitu payah menghadapi cewek. Dia sering menolak ajakan goukon teman-temannya.
Pernah suatu hari, Genya ikut acara goukon tersebut, namun ia mati ditempat saat ia duduk dikelilingi para gadis-gadis yang ikut acara tersebut. Bahkan pernah suatu hari ia ikut acara tersebut, gadis-gadis itu ketakutan dengan tampangnya yang tampak sangar itu. Genya terkadang berfikir bahwa dia tidak cocok mendapatkan seorang wanita. Bahkan ia merasa ia akan selamanya single apabila begini terus. Terkadang apabila memikirkan hal itu, ia rasanya ingin menangis.
Genya segera keluar dari kampusnya dan berencana makan siang disekitar kampusnya. Ia berjalan sambil menulis lirik lagu yang ia buat sehingga ia tidak sadar bahwa didepannya ada seseorang dan akhirnya ia menabrak orang tersebut sehingga kertas-kertasnya bertebaran.
"ah, maaf, saya tidak melihat" ucapnya membungkuk lalu meraih beberapa kertasnya.
Orang didepannya meraih kertas tersebut dan menatap kearah Genya. Ia membantu Genya merapikan kertas-kertas tersebut.
"tulisan yang indah" ujarnya.
Genya merona dan menatap kearah orang tersebut. Dilihatnya pria berambut gondrong dengan kerutan alis yang tampak murung. Pria itu menatap Genya begitu lekat.
"ah, terimakasih" ujar Genya tersenyum merona karena malu dipuji. Ia mengambil kertasnya dari tangan pria itu.
Pria murung itu tersenyum kecil. "kau sangat berbakat, Genya"
Genya tersentak mendengar namanya disebut dan menatap pria itu dengan seksama kembali. Ia merasa tidak memberitahukan namanya pada pria itu.
"apa aku memberitahumu namaku?" Tanyanya penasaran.
Pria itu menatap kearah Genya dan menunjuk kertas miliknya. "tertulis namamu"
"o- oh?" Genya tersenyum merasa bodoh akan pertanyaannya.
"sampai bertemu lagi" ucap pria itu. "kemarinpun, kita bertabrakan seperti ini juga"
pria itu berlalu meninggalkan Genya yang tampak syok.
Genya terdiam berpikir dengan kalimat pria itu lalu ia teringat bahwa ia tidak pernah menuliskan namanya di kertas liriknya. Ia kembali menatap pria tersebut namun pria itu telah menghilang di lautan manusia.
.
Genya berlari bersama Tokito dan Kotetsu kearah cafe tempat mereka akan konser. Mereka tidak sabar menantikan konser mereka disana. Genya berpikir walaupun pengunjungnya sedikit, asal ia puas bermain musik, itu adalah hal yang menyenangkan.
"ah akhirnya kalian datang juga" ujar Sanemi yang sedang berdiri berbicara dengan Himejima dan ownernya.
"maaf kami telat, tadi Tokito harus ke ruang guru dulu" jawab Genya menarik nafasnya dan berjalan mendekati kakak lelakinya.
Mereka mulai berbincang-bincang sambil menyiapkan persiapan konsernya. Mereka mengambil posisi masing-masing dan membuat orang-orang dicafe tersebut terdiam sejenak menatap kearah mereka. Mereka terpukau mendengar lagu yang dimainkan Genya dan yang lainnya sehingga mendengarkan dengan seksama. Genya melihat kearah penonton yang terpukau tersebut dengan bahagia. Ia bahagia bisa membuat mereka terkagum dengan lagu miliknya. Dalam pandangannya, tersorot pria yang bertabrakan dengannya tempo hari, sedang duduk di meja pojokan menatap kearahnya dengan lekat tanpa menyentuh makanannya. Genya menatapnya namun konsentrasinya tetap ke gitarnya. Ia berusaha untuk tidak merusak kemeriahan lagunya.
Beberapa lagu mereka mainkan sehingga orang-orang yang terkagum-kagum itu tidak beranjak dari tempatnya. Genya tampak begitu bahagia mellihat orang-orang tersebut bertepuk tangan untuk mereka. Ia segera turun panggung dan menghampiri pria yang bertabrakan dengannya tempo hari.
"kau!" Ujarnya menghampiri meja tersebut. Pria itu menatap lekat kearah Genya. "kenapa kau bisa tahu namaku?"
Pria itu tetap menatap kearah Genya.
"apa kau stalker? Kenapa kau disini? Kau kenal aku dimana? Kertasku tidak ada tulisan namaku!"
"-kau pasti capai sekali? Minumlah dahulu!" Ujar pria itu menyodorkan gelasnya.
"jawab pertanyaanku!" Geram Genya lalu sedikit memukul meja.
"duduklah! Aku akan beritahukanmu"
"kamu siapa?" Tanya Genya lalu mulai duduk disebelah pria itu. Ia menatap kearah pria itu dengan penuh penasaran.
"-" pria itu terdiam dan menyodorkan gelasnya kepada Genya. "-harus mulai darimana ya?-''
"sudahlah cerita saja! Apa kamu fansku?"
Pria itu menatap Genya dengan murung namun lekat.
"lebih dari penggemarmu" ia melihat kearah jari-jemari Genya.
"lebih dari penggemarku?" Genya mempertanyakannya. "siapa kamu?"
"- namaku Aizetsu" jawab pria itu menatap kembali kearah mata Genya, murung.
"Aizetsu? Nama yang aneh" jawab Genya.
"-kau tidak mengingatku?"
"aku ingat, kau yang kutabrak tempo hari itu"
"-kau tidak mengingatku"
"hah?" Genya berpikir dengan kalimat pria itu. "apa maksudmu?"
"tidak ada apa-apa"
"oi Genya!" Panggil Sanemi menghampiri dengan tiga temannya yang lain. "temanmu?"
Sanemi menatap Aizetsu dengan heran dan Aizetsu menatap balik kearahnya.
"ah, bukan, kami baru saja kenal" jawab Genya berdiri. Saat ia berdiri, Aizetsu menggenggam tangannya, sehingga Genya menatapnya heran.
"bolehkah aku meminta kontakmu?"
Genya terdiam menatap pria itu. Rasa penasaran terhadap pria itu begitu besar. Ia segera mengeluarkan handphonenya dan memberikan nomornya.
"ini nomorku"
"-kau gampang sekali memberikan nomormu pada orang yang tidak kau kenal"
Genya terdiam menatap bingung namun wajahnya merona menahan malu. "aku- penasaran padamu"
Aizetsu melihatnya dengan tak percaya namun ia segera tersenyum kecil.
"akan kuhubungi"
"Genya, makan dulu!" Ujar Sanemi memeluk leher adiknya.
Genya mengikuti Sanemi dan tersenyum kepada kakaknya sambil menceritakan kesuksesan mereka hari ini.
.
Sejak hari itu, pria bernama Aizetsu sering menghubungi Genya. Genya sering bertanya tentang pria itu namun pria itu tidak mudah untuk menceritakan tentang dirinya, terutama saat Genya menanyakan tentang mengapa ia bisa mengenal dirinya.
Kini mereka tengah makan siang berdua di sebuah restauran instan dua puluh empat jam.
"serius kau mengajakku makan disini?" Tanya Aizetsu murung.
"memang kau ingin makan dimana? Lagipula aku masih kuliah! Uangku tidak cukup apabila makan direstauran mahal!" Kesal Genya.
Aizetsu terdiam menatap kearah lawan bicaranya. "sungguh menyedihkan uang sakumu sedikit sekali"
"maaf saja ya kalau uang sakuku sedikit" geramnya sambil memakan burgernya. "sudahlah malan saja, manusia kaya tidak tahu berterimakasih"
Aizetsu terdiam dan mengambil burgernya.
"aku tidak bermaksud menyombongkan diriku" Jawabnya. "dulu akupun bekerja sangat keras sehingga aku bisa seperti sekarang ini"
Genya menatapnya sambil memakan burgernya.
"lalu, kau sudah kerja? Kau kerja apa? Setelah ini kau langsung ke kantor lagi kan?"
"- iya" Aizetsu memakan burgernya. "- aku hanya pembuat novel biasa"
"pembuat novel?" Genya menatap tidak percaya. "tapi kau pakai jas"
"aku akan bertemu manajerku setelah ini"
"lalu kau mengapa kenal aku?"
"- kau masih membahas itu?"
"tentu saja kan? Aku penasaran mengapa kau bisa tahu namaku dan kau bilang kau lebih dari penggemarku. Aku ingin tahu"
Aizetsu menatapnya murung.
"selalu seperti ini" ujarnya. "kenapa kau selalu melupakanku setiap kita telah lama todak bertemu"
"eh? Kita pernah bertemu sebelumnya?" Genya semakin penasaran dan melihat kearah Aizetsu dengan wajah polosnya.
"- ah, maaf aku menggerutu sendiri" Aizetsu menghela nafasnya panjang sambil berfikir bahwa kali ini ada sedikit peekembangan. Ia tidak menyangka bahwa Genya begitu penasaran dengannya. Ia memakan burgernya lalu menatap Genya. "Genya, tampak manis saat konsentrasi menulis lirik-lirik tersebut, aku sering melihatmu bersama teman-temanmu"
"eh? Be-begitukah?" Genya terdiam.
"Aku selalu berpikir, apa yang kau bayangkan saat kau menulis lirik itu?" lanjut Aizetsu. "aku jadi ingin dekat denganmu dan menjadi temanmu"
Genya merona dan senyuman kecil terburat di wajahnya. "begitukah?"
"Iya"
"yah, aku sih tidak masalah kalau kau mau jadi temanku" ujar Genya tersenyum lebar.
Aizetsu menatap kearah Genya namun ia berpikir untuk bersabar dengan hubungannya kali ini. Ia tidak masalah untuk menjadi temannya dahulu.
Setiap kali ada kesempatan, mereka selalu bertemu. Aizetsu berusaha untuk bersabar tidak menyentuh pria itu secara brutal seperti sebelum-sebelumnya. Ia menjaganya agar Genya tidak merasa takut padanya. Ia berpikir untuk membuat pria itu merasa nyaman.
"setelah ini kau akan kemana?" Tanya Aizetsu meminum kopinya.
"aku sih tidak ada urusan lagi sih. Hari ini kampusku libur dan tugaskupun sudah selesai"
"biasanya anak seumuranmu, sering bermain misalnya game center?"
"ah aku tidak terlalu tertarik kecuali main tembak-tembakan sih"
"ah keahlianmu" ujar Aizetsu.
"aku pernah bilang ya?" Tanya Genya menatap pria didepannya sambil memegang gelas kopinya.
"nggak" ucap Aizetsu menatap kearah lain. "mau adu tembak?"
"kau tidak ada acara?"
"kebetulan novelku sudah selesai, jadi aku bebas"
"kalau gitu, mau adu?" Ujar Genya menantang pria didepannya dengan semangat.
"siapa takut?" Jawab Aizetsu tertantang.
"kalau aku menang, kamu harus jujur padaku satu hal"
"kalau aku yang menang?"
"Terserah kamu mau ngapain aku"
"boleh" Aizetsu tertantang dan mereka pergi ke tempat latihan tembak. Mereka bersaing menjadi yang terbaik mendapatkan point yang banyak. Aizetsu merasa ia tidak bisa menang dari pria disebelahnya dan ia sedikit menggoda Genya.
"Genya, kamu pernah berpacaran dengan wanita?'' Ia menggoda pria itu sambil menembak ke sasaran.
"hmm? Nggak, aku ga pernah, Aizetsu sendiri?"
"nggak" Aizetsu mengenai sasarannya. "Tidak pernah terpikirkan untuk pacaran?"
"ng-" Genya masih menembak namun konsentrasinya hilang untuk berpikir. "aku tidak tahu, aku begitu payah untuk berbicara dengan wanita"
"kalau ada pria yang menyatakan perasaan kepadamu?"
Genya meleset dari sasaran akibat bingung dengan kalimat Aizetsu. "hah?"
"itu hanya misal"
Genya bergidik "tidak mungkin kan?"
Aizetsu membidik kembali dan mengenai sasarannya.
"aku menang" serunya. "Genya meleset dua kali"
"aaaahh! Padahal ini keahlianku" ujar Genya. "jadi kau mau apa?"
"akan kupikirkan dulu" ujar Aizetsu tersenyum kecil. "uh main ini membuatku jadi haus, mau minum di kafe sekitar sini?"
"boleh" ujar Genya yang masih kesal bahwa dia kalah dalam game keahliannya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah terkalahkan satu kalipun.
Mereka berjalan kearah kafe tersebut, namun ditengah jalan, hujan turun dengan lebatnya mendadak sehingga baju mereka basah dan mereka berteduh ditempat terdekat.
"kau tidak apa?" tanya Aizetsu menatap Genya, khawatir. Ia mengelap wajah Genya yang basah.
"ah tidak apa" Genya terdiam menatap Aizetsu dan membiarkan pria didepannya mengelapnya, namun ia kembali berpikir apakah hal ini wajar?
"rumahku di dekat sini, lebih baik kita kerumahku dulu dan mengganti baju" ucap Aizetsu menepuk kecil kepala Genya. ia menggandeng Genya dan berlari kearah rumahnya ditengah hujan yang deras itu. Mereka tertawa dan bercanda bersama sambil berlari kearah rumah Aizetsu. sesampainya dirumah tersebut, Aizetsu menyiapkan airpanas untuk Genya mandi.
"buka bajumu, biar dikeringkan dahulu" ucap pria itu memberikan baju ganti dan handuk untuknya.
Genya membuka bajunya dan mulai menaruhnya di dekat mesin cuci. Aizetsu melihat kearah cincin yang dikalungkan oleh pria itu dengan tidak percaya. Namun ia membiarkan pria itu mandi duluan dan ia ganti bajunya lalu menyiapkan teh hangat untuk tamunya. Ia menunggu Genya keluar dari kamar mandi sambil nonton tv.
"aku sudah selesai" ujar Genya menghampiri pria itu dan duduk di sampingnya.
"ini teh untukmu" ucap Aizetsu menyodorkan teh milik Genya.
"terimakasih" Genya menyeruput tehnya dengan tenang.
"cincin itu-" Aizetsu menanyakannya dengan ragu.
"ah? Cincin ini?" Genya mengeluarkan kalungnya. "entahlah, kata ibuku, saat aku lahir, aku telah menggenggam cincin ini dan orang tuakumenganggap itu sebuah keajaiban"
"apakah itu berarti untukmu?"
"saat kulihat cincin ini, aku merasa begitu sangat berharga, aku merasa tidak ingin kehilangan cincin ini" ujar Genya dengan senyuman lembut. "rasanya ada seseorang yang sangat berharga yang sedang menungguku"
Aizetsu hanya menatapnya lekat dan terdiam terpaku.
"rasa yang begitu merindukan dan penuh kasih" lanjutnya.
"kau percaya bahwa akan ada orang memilikinya juga sepasang denganmu?" Tanya Aizetsu memastikan.
Genya tersenyum kecil. "ah, mana mungkin ada hal seperti itu"
"kalau memang ternyata ada?"
Genya terdiam menatap Aizetsu merasa suasana menjadi aneh.
"a- ah, kau sudah menentukan hukuman buatku karena kekalahanku?" Tanya Genya mencari topik baru.
Aizetsu begitu tahu lawan bicaranya menghindari point-point pentingnya akibat malu. Ia mengangguk pasti dan menatap Genya.
"aku sudah memutuskannya" ujarnya serius. "jadilah pacarku, Genya"
Genya terdiam menatap Aizetsu dengan bingung. "hah?!"
"kurang jelaskah? Jadilah pacarku!"
"tu- tunggu! Hah?! Eh? Apa?!" Genya merasa panik dan bingung sendiri. Ia merasa aneh demgan pernyataan hukuman seperti itu. "HAH?!"
"aku serius" seru Aizetsu menatap lekat Genya. "akulah orang yang selalu menantikanmu dan aku juga mempunyai cincin yang sama denganmu"
"tu- tunggu dulu! Ki- kita sama-sama cowok!" ucap Genya memucat pasi.
"tapi cincin itu, aku juga mempunyainya" Aizetsu mengeluarkan cincin itu dari lehernya. "saat lahirpun, aku menggenggam cincin ini dan aku mengingat kehidupan lalu kita. Aku percaya kau adalah takdirku, Genya"
Genya terdiam memucat pasi namun saat ia melihat cincin Aizetsu, ia merasa seakan ia merindukan seseorang dan sesuatu. Aizetsu menatap Genya dan mengkecup bibir pria itu dengan tiba-tiba. Genya tersentak kaget dan ia meronta menjauhkan Aizetsu dari dirinya. Ia menjambak Aizetsu dan mendorong pria itu. Aizetsu tetap mengkecup bibir Genya dan menggenggam tangan pria itu dengan erat. Ia mulai mengulum lidah Genya sehingga Genya dibuat tidak berdaya dan menikmati kecupan tersebut. Terasa begitu nostalgia yang tidak dapat diingat oleh Genya. Ia terbawa dengan ciuman tersebut dan pertahanannya mengendur. Ia menatap Aizetsu dengan pasrah dan airmatanya tak dapat ia bendung.
"Genya?!" Aizetsu tersentak kaget melihat pria didepannya.
"ja-jangan lihat!" Ucap Genya merona malu dan menutupi wajahnya dengan tangannya ia mengelap airmatanya yang mengalir satu persatu dari matanya. "Loh? Ke- kenapa airmataku tidak dapat berhenti?"
Aizetsu memeluknya dan mengkecup rambutnya.
"menyedihkan" ucapnya memeluk erat. Kalimat yang membuat Genya merasa seakan-akan ia pernah mendengarnya disuatu tempat. "aku mencintaimu, Genya. Aku selalu mencarimu kesana-kemari"
Airmata Genya tak kunjung berhenti. Ia menghiraukan kalimat-kalimat cinta Aizetsu dan hanya mengelap airmatanya. Ia merasakan pelukan Aizetsu dan sentuhannya begitu membuat dia emosional seperti ini.
"A- Aizetsu-" panggilnya mendorong kecil pria didepannya. "ku- kumohon lepaskan"
Aizetsu menatap pria itu dan mengkecup bibirnya kembali. Genya merasa begitu lemah seakan mabuk terbuai dengan kecupan itu. Kecupan yang terasa seperti ia pernah mengalaminya. Aizetsu mengkaitkan jari-jemarinya dengan jari-jemari Genya. Ia memanfaatkan keadaan ini dan ia mulai mengkecup leher Genya. Genya merona seperti tomat yang matang. Ia hanya bisa menikmati sentuhan tersebut. Tubuhnya bereaksi seakan-akan rindu dengan sentuhan tersebut.
"Ai- ahn?!" Genya mendesah saat lehernya dihisap dan digigit lembut oleh Aizetsu. Tubuhnya bereaksi seakan-akan ini adalah hal yang sering terjadi sebelumnya.
Aizetsu menatap kearah Genya dan memeluknya erat. Begitu cintanya dirinya pada lelaki didepannya. Tangannya masuk kedalam celana Genya dan menggocok vitalnya sehingga Genya semakin terbuai dengan sentuhan itu. Aizetsu mengkecupnya sembari mengkocoknya. Genya yang terbuai, hanya menggenggam erat lengan baju Aizetsu.
"Ai- Aizetsu! He- hen- hentikan!" Genya menatap Aizetsu penuh dengan permohonan, tapi melihat wajah Genya yang menggoda, membuat Aizetsu tak dapat menghentikannya. Hasratnya ingin menyentuh Genya begitu kuat. genya hanya dapat mendesah dan mencengkram lengan baju pria itu. Ia begitu kebingungan saat merasakan tubuhnya tidak dapat ia kontrol dan menerima perlakuan dari Aizetsu seakan terbiasa dengan semua ini. Perasaannya bergemuruh seakan Aizetsu adalah pria yang telah lama ia cari. Ia menatap Aizetsu yang kini tengah menjilati vitalnya dan menyedotnya. Wajahnya memerah padam dan meremas rambut pria itu. Bibirnya kelu dan hanya dapat mendesah menikmati cumbuan-cumbuan pria didepannya.
"a-aah, ke- keluar! A- aizetsu" kelu Genya merasakan nikmat saat pria itu menyedot vitalnya. "i- ini kotor!"
Aizetsu mempercepat sedotnya dan menjilatinya terus sehingga Genya tak kuasa mengeluarkannya didalam mulut pria itu. Genya menatap pria itu dengan nafas yang tidak stabil. Aizetsu membuka celananya dan memasukan vitalnya ke lubang pantat milik Genya. Genya begitu panik dan menggeliat.
"hen- hentikan! Tidak akan muat!" ucapnya menatap vital itu. Ia meringis saat merasakan vital itu masuk kedalam pantatnya. Airmatanya mengalir kembali dan ia hanya bisa menggenggam Aizetsu dengan eratnya.
Aizetsu memeluknya erat dan menggesekan vitalnya keluar-masuk dilubang pantat Genya dengan cepat tapi pasti. ia mengkecup bibir Genya dengan penuh kasih dan memberikan kissmark diseluruh tubuh Genya. Genya tak kuasa ia hanya dapat menikmati dan meremas rambut milik pasangannya hingga akhirnya mereka keluar bersama.
.
.
"Genya, kau tak apa?" tanya Aizetsu megkecup pria yang sedang mundung diatas sofa. Genya rebahan dan merasakan sakit dipinggulnya akibat kejadian tadi. "Genya, jadilah milikku, aku akan membahagiakanmu"
Genya menatap pria itu dan menggamparnya dengan kesal. Ia begitu kesal terhadap pria itu namun ia merasakan ada yang aneh dari dirinya. Saat pria itu menyentuhnya, terlintas sekilas sebuah memory namun ia tidak dapat mengingatnya dengan jelas.
"aku mau pulang!" Kesal Genya berusaha berdiri dari sofa tersebut, namun pinggulnya tak kuasa hingga akhirnya ia terjatuh.
Aizetsu melihatnya dengan seksama dan menggendongnya seperti putri, kearah kamarnya. Genya meronta dan menjambak Aizetsu dengan kesalnya dan minta dilepaskan.
"lepaskan! Kau mau bawa kemana?" Pekiknya kesal.
"menyedihkan sekali kau tidak bisa jalan" Aizetsu menaruhnya dikasurnya dan memakaikan baju untuknya. Genya melihat cincin yang dikalungkan milik Aizetsu. Ia cemberut namun begitu penasaran.
"oi!" Panggil Genya kesal. Aizetsu menatapnya dan menghampirinya.
"kenapa?"
Genya menatap kearah cincin milik Aizetsu dan menyentuhnya. "benarkah kau dapat cincin ini sejak kau lahir?" Genya menatapnya lekat.
"untuk apa aku berbohong? Aku tak akan mengeluarkannya kalau aku tidak melihat cincinmu"
"i-iya juga sih" Genya cemberut lalu menatap kearah Aizetsu. "kau bilang, kau ingat kehidupan lalu kita?"
"aku mengingatnya dengan jelas"
Genya terdiam dan menunduk pelan. "aku- saat kau melakukannya padaku, aku melihat shiloutte gadis yang murung didepan mataku, apakah kamu pernah menjadi seorang gadis yang mendekatiku?"
"kita telah menikah" Aizetsu menambahkan. Genya terdiam berpikir lalu menatap pria itu. "kita pernah menjadi sesama cewek dan menikah"
"ME-MENIKAH?!"
Aizetsu mengangguk lalu mengkecup pipi Genya. Genya sedikit syock namun ia mencoba untuk mengingat.
"Genya, kau mengingatnya?"
"aku tidak tahu" ujarnya bingung. "ini begitu mendadak"
"kalau begitu pacaranlah denganku, pelan-pelan kita gali ingatanmu"
Genya terdiam dan menatap Aizetsu. "ke- kenapa harus berpacaran denganmu?"
"karena kau milikku Genya dan tidak ada orang yang bisa membahagiakanmu kecuali aku"
Aizetsu kembali mngkecup bibir Genya dan Genya menerimanya tnpa paksa.
"aku hanya ingin tahu apa yang terjadi sebelumnnya, jadi kita tidak berpacaran, tapi aku mau jalan denganmu"
Aizetsu menatapnya murung lalu memeluk Genya erat.
"kau boleh memiliki tubuhku, tapi kau tak akan mendapatkan hatiku"
"begitupun tidak masalah" aizetsu memeluknya semakin erat dan merasa begitu sedih, namun asl bisa bersama Genya, ia tidak mempermasalahkan statusnya. "aku akan membuatmu mencintaiku pelan-pelan"
.
sejak saat itu, Mereka sering bertemu dan melakukannya disetiap tempat yang sepi, entah didalam rumah Aizetsu ataupun tempat umum yang sepi. setiap kali melakukan, siluet memory kehidupan sebelum-sebelumnya, terlintas dalam ingatan Genya. bahkan ia menyadari bahwa cincin yang ia punya memang cincin pernikahannya dengan Aizetsu.
Ia menatap kearah cincin tersebut dan terdiam merenunginya. Ia tidak pernah berpikir akan melakukan hal gila dalam hidupnya bersama seorang cowok. Ia pun mulai terbiasa dengan perlakuan-perlakuan Aizetsu terhadapnya, walau ia tahu, ia sedang menipu dirinya sendiri.
"Genya" panggil Tokito masuk kekamarnya.
Genya memasukan kalungnya segera dan menatap kearah Tokito.
"Tokito san? Ada apa?"
Tokito memeluk Genya dan menangis dalam pelukan Genya sehingga Genya merasa sangat bingung.
"e-eh? Ada apa, Tokito san?" Genya mengelus rambut Tokito yang halus itu.
Tokito hanya menangis memeluk Genya erat. Genya memeluk balik Tokito dan membiarkan pria itu menangis dipelukannya. Berjam-jam Tokito menangis tanpa bicara sehingga akhirnya ia merasa capai untuk menangis. Baju Genya basah akibat airmata Tokito.
"Maaf, Genya" ucap Tokito mengelap airmatanya. Genya tersenyum dan mengelus rambut pria di depannya.
"tidak apa-apa"
"Kotetsu akhirnya punya cewek" ucap Tokito sesunggukan. "aku melihatnya jalan berdua dengan seorang cewek"
Genya hanya bisa terdiam menatap kearah Tokito. Ia tidak tahu kata penghibur apa yang harus ia ucapkan.
"Aku tahu bahwa cintaku tidak akan dapat diraih, ini menyesakan dadaku" ucap Tokito.
"kenapaTokito san tidak bilang saja pada Kotetsu kun?" Tanya Genya memastikan. "Asal Tokito san mengatakannya, perasaan Tokito san akan lega"
"Genya enak sekali bicara seperti itu" jawab Tokito menunduk. "Genya tidak akan tahu perasaanku"
"aku tahu, Tokito san. Aku begitu tahu" Genya menyentuh kalungnya dan menatap kearah lain.
"Genya?"
"Ya?" Ia menatap kearah Tokito.
"Genya mencintai seseorang?"
"eh?!" Wajah Genya merona dan ia menutupi wajahnya dengan tangannya. "ke-kenapa bertanya seperti itu?!"
"karena Genya tidak pernah seperti ini"
Genya terdiam dan menunduk lesu. Ia tidak pernah berpikir bahwa hidupnya akan serumit ini.
"-aku menjalani hubungan dengan seorang pria, tapi kami tidak berpacaran" ucap Genya seketika. "dia adalah takdirku dikehidupan sebelumnya"
Genya menggenggam cincinnya. "kini aku tahu mengapa cincin ini bisa ada saat aku lahir. Bagiku dikehidupan sebelum-sebelumnya, dia adalah orang yang sangat berharga, dan dia selalu berjuang untuk mendapatkanku. Kita adalah pasangan kekasih hingga dikehidupan sebelum ini, kami menikah dengan gender wanita"
Tokito mendengarkan kalimat Genya dengan seksama.
"tapi aku yang sekarang, aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak" lanjut Genya. "tapi aku salut padanya, ia selalu mengingatku walau berksli-kali kami bereinkarnasi. Sedangkan aku, aku melupakannya. Melupakan dirinya dan perasaanku padanya"
"Genya sendiri ingin bersamanya atau tidak?"
"aku tidak tahu, ini begitu complicated" ujarnya. "aku bersamanya melakukan sebuah hububgan hanya untuk melihat nemoryku. Setiap kali kami berhubungan, memoryku muncul semakin ke belakang. ke memory reinkarnasi sebelum-sebelumnya juga"
Genya terdiam sejenak. "aku ingin ia pergi dari kehidupanku, namun aku tidak rela kalau ia meninggalkanku"
Ia memainkan cincinnya dengan perssaan yang sangat bingung. "padahal, bisa saja kan dikehidupan yang ini, takdirku bersama orang lain"
Tokito menatap kearah Genya dan memeluknya.
"Genya, jawaban Genya sebenarnya sudah ada di depan mata" seru Tokito. "Aku akan mendukung keputusan Genya"
"eh? Tokito san?"
"Dia mencintai Genya kan? keputusan Genya mau dengannya atau tidak, semua ditangan Genya. Sedangkan aku, aku tidak yakin bahwa Kotetsu kun punya perasaan yang sama sepertiku" lanjut Tokito. "tapi aku akan mencoba untuk mengutarakan perasaanku"
.
TBC
