Aizetsu x Genya
Part 10. REINCARNATION DESTINY TERORRIST
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)
Rate: yaoi hentai
.
"Genya, mau kemana?" Tanya Sanemi melihat kearah adiknya yang sedang buru-buru.
"ah, aku ada urusan, mungkin aku tidak pulang" jawab Genya memakai sepatunya. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Aizetsu di taman. Mereka berencana untuk pergi kencan ke laut untuk novel buatan Aizetsu.
"eh? Mendadak sekali?"
"maaf aniki, aku juga lupa bilang" jawabnya dan segera berangkat. "aku berangkat"
Genya berlari kearah taman, tempat dimana Aizetsu tengah menunggu. Pria itu datang lebih cepat dibanding Genya.
"maaf lama menunggu" ucapnya menghampiri pria murung itu. Aizetsu mengelap keringet Genya dan menatap barang bawaan Genya.
"kau bawa banyak sekali? Seperti perempuan saja"
Genya cemberut dan memukul kecil Aizetsu, kesal. "Maaf saja! Aku bawa tugas-tugas liburanku!"
"bukankah seharusnya kau liburan kenaikan semester?"
"setelah liburan ini, aku akan ujian kenaikan semester baru libur panjang dimulai" keluh Genya. "kampusku telat dari kampus lain"
Aizetsu menatap Genya dan membantunya membawakan barangnya
"biar kubantu bawa! Kau santai saja!"
"ah tidak apa-apa! Aku bisa membawanya sendiri"
"nanti anak kita keguguran" ejek Aizetsu jalan lebih dahulu daripada Genya. Genya geram lalu menjitak Aizetsu.
"apaan anak?! Aku ini cowok tulen!" Pekiknya kesal.
Mereka pergi naik kereta kearah laut daerah pedalaman. Dalam perjalanan mereka, mereka bersenda gurau dan bercanda seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Aizetsu menggenggam tangan Genya dan mengkaitkan jari-jemarinya. Genya tidak merasa terganggu dengan tindakan tersebut dan membalas genggaman tersebut. Perasaannya bercampur aduk antara perasaannya dan perasaan di memorynya. Sesampainya di pantai, Genya berlari bahagia melihat laut. Ia begitu senang akhirnya ia bisa merasakan liburan.
"Genya, ke hotel dulu menaruh barang-barangmu!" Ucap Aizetsu menggenggam erat tangan prianya.
Genya cengengesan dan mengambil barangnya. "iya! Ayo check in dulu"
Mereka pergi ke hotel dan check in ke kamar mereka.
"kasurnya tampak empuk" Genya mulai loncat keatas kasur dengan bahagianya. "Aizetsu, ini kasur terempuk yang pernah kurasakan. Kerjaanmu benar-benar menguntungkanmu sekali"
"kerjaanku memang seperti ini, kalau sendirian tidak enak, maka dari itu aku mengajakmu" Aizetsu menaruh barang-barangnya dan lalu menindih Genya dan mengkecup pipi Genya. Ia mengkaitkan jari-jemarinya dan menciumnya penuh kasih. Genya merona dan mengkecupnya balik. Ia menikmati sentuhan-sentuhan itu dengan penuh nafsu. Ia merangkul leher Aizetsu dan membiarkan pria itu mengkulum lidahnya. Memory-memory itu muncul satu per satu melintas di ingatan Genya. Airmatanya keluar seakan rasa rindu itu kembali menyerang perasaannya.
"Aizetsu-" Genya menyentuh pipi pria itu dan meremasnya. "maaf-"
Aizetsu mengkecupnya dan nemeluknya. "maaf kenapa?"
Genya mengelap airmatanya yang mengalir deras dan memeluknya, terbawa suasana. "Kau selalu berusaha, terimakasih, aku tidak pernah sekalipun merasa kekurangan karenamu"
Aizetsu menatap Genya dengan mata yang membelalak, dan mengkecup Genya lebih lagi.
"Genya, aku mencintaimu" ucap pria itu kelu namun Genya tak dapat membalas kalimat tersebut.
Genya merasa bahwa perasaannya yang sekarang bukanlah perasaan miliknya di kehidupan ini. Perasaannya kini adalah perasasaan rindu pada seseorang akibat memorynya. Ia hanya memeluk Aizetsu dan tidak tahu harus berucap apa. Ia terdiam lalu menatap ke jendela.
"ah iya laut! Katanya kau ingin mencari ide!" Genya mendorong Aizetsu dan berjalan cepat kearah jendela.
Aizetsu terdiam dan menatap kearah Genya murung. Ia segera mempersiapkan dirinya dan membantu Genya mempersiapkan dirinya juga. Mereka pergi ke pantai berduaan dan menikmati pemandangan laut.
"indahnya!" Ujar Genya berlari kearah laut dengan ban dipinggulnya. Aizetsu menggelar tiker dan payung ditempat terdekat.
"Genya, hati-hati!" Ucapnya melihat pria itu. Genya hanya tersenyum menatap kearah Aizetsu lalu menghampirinya.
"udaranya sejuk, aku ingin berenang!" Genya membuka bajunya dan menaruhnya di tiker tersebut. "kau ga berenang?"
"aku akan menyusul" Aizetsu menatap ke kalung cincin milik Genya dan sedikit tersenyum. "Genya, kau tidak taruh kalungmu di hotel?"
"eh? Ah, kalung ini tidak pernah kulepaskan, aku khawatir kalau aku tidak memakainya"
'khawatir?"
"a- ah sudahlah! Aku mau berenang!" Seru Genya malu dan berlari kearah laut. Ia begitu malu apabila ia mengatakannya lebih dari itu.
Aizetsu tersenyum kecil namun wajahnya tampak begitu murung. Ia duduk di karpet tersebut dan menatap kearah Genya yang sedang berenang. Ia tampak begitu sedih dan lesu namun ia berpikir bahwa ia harus memanfaatkan hari ini. Aizetsu membuka bajunya dan berlari kearah Genya. Ia mulai berenang kearah Genya.
"akhirnya kau berenang juga" ujar Genya tertawa lepas.
"kau tidak bisa berenang tanpa ban?"
"aku hanya tidak ingin kalung ini hilang, jadi aku -"
Aizetsu menarik kaki Genya agar pria itu lepas dari ban-nya. Genya ketarik kedalam laut dan melihat Aizetsu yang sedang nyengir menatap pria itu. Genya cemberut namun ia berenang mengejar pria itu. Merasa sudah habis nafasnya, mereka mulai memunculkan kepala mereka ke daratan.
"Aizetsu! Lihat saja nanti kubalas kau!" Ucap Genya berusaha nafas dan mengelap wajahnya dengan tangannya.
Aizetsu mengkecupnya dan memeluknya erat. "kalau kau bisa membalasnya"
Genya terdiam merona dan menjitaknya. "tentu saja aku bisa"
Genya tersadar tentang kalungnya dan ia segera mengecek kalung tersebut. Ia dapat bernafas lega saat mengetahui kalung itu masih ada dilehernya beserta dengan cincinnya.
"kau tak perlu terlalu menjaganya, aku sudah ada disini bersamamu" ucap Aizetsu mengelus kepala pria itu. "kalaupun hilang, aku akan membelikannya untukmu"
"tidak bisa! Bagiku cincin ini sangat berharga! Walau aku sudah dapat mengingat memoryku sampai reinkarnasi sebelum-sebelumnya, tapi, ini benda yang kuperoleh darimu yang sangat berharga melebihi nyawaku sendiri"
"Genya-"
"lebih baik kita keluar dari sini" ucap Genya merona. "sudah mulai banyak orang"
Genya berenang sampai daratan dan diikuti oleh Aizetsu. Saat ia berjalan menuju karpetnya, perutnya tampak begitu lapar.
"ngomong-omong, kita cari makan yuk? Aku lapar" ujar Genya.
"disana ada yang jual soba" ucap Aizetsu menunjuk ke toko soba. "mau beli?"
"tampaknya enak, ayo" Genya melangkahkan kakinya ketoko soba tersebut dan memesannya untuk dibawa ke tikernya. mereka ngobrol seperti biasa dan saat sobanya sudah jadi, mereka kembali ke tiker mereka.
"wah lihat, mereka mengkalungkan cincin yang sama" ujar seseorang yang melihat mereka.
"wah, dua cowok itu sudah menikah?" Ucap seseorang lagi. Mereka tertawa kecil melihat kearah Genya dan Aizetsu.
Genya merasa ditertawakan dan dia menatap kesal kepada gadis-gadis tersebut. Namun rona wajahnya begitu memerah padam saat ia merasa digossipi oleh Aizetsu. Ia berjalan lebih cepat dan segera duduk di tikernya. Aizetsu menatap pria itu lalu menghela nafasnya. ia berjalan mengikuti Genya dan duduk disebelahnya.
"Genya-" Aizetsu menatap kearah Genya namun memanggilnya dengan ragu. Genya yang sedang makan sobanya menatap kearah pria itu. Aizetsu terdiam lalu melihat kearah lain. "-tidak jadi"
"kenapa? Ada apa?" Tanya Genya bingung.
"-tidak ada apa-apa" Aizetsu memakan sobanya dan terdiam menatap ke laut.
"ah?!" Genya tiba-tiba tersadar dan lalu mengambil kertas dan pulpennya.
"kau mendapatkan inspirasi?"
Genya hanya menuliskan liriknya dan tidak menjawab Aizetsu. Ia begitu penuh konsentrasi dengan liriknya. Merasa di diamkan, Aizetsu pergi membeli air. Aizetsu menghela nafasnya, ia tahu bahwa Genya yang sekarang hanya memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan memorynya. Ia tahu bahwa Genya yang sekarang hanya menyakitkan dirinya sendiri. Tapi cintanya kepada Genya begitu besar sehingga ia memanfaatkan keadaan ini. Ia memang tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Genya adalah sebatas teman sex, tapi apabila ingatan pria itu semua telah terkumpulkan, apakah Genya yang tidak punya perasaan padanya akan memilih dirinya? Itu membuat dirinya risau. Ia begitu tahu dengan kondisi ini. Ia tahu Genya tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya. Berkali-kali ia berpikir untuk menyerah, namun perasaannya tak dapat berubah begitu saja. Bertahun-tahun, berabad-abad ia mencintai pria itu, ia selalu mengingat pria itu walaupun berkali-kali bereinkarnasi. ia terdiam di depan mesin penjual otomatis dan menghela nafas yang panjang.
"begitu menyedihkannya kisah cintaku" gumamnya dengan nada yang sangat pelan. ia membawa minuman tersebut ke tempat Genya berada. Ia melihat Genya masih menulis lirik dan konsentrasi.
"Genya, kalau aku menghilang, apa kau akan mencariku?" Gumamnya menatap pria itu.
Genya masih menulis lirik tersebut tanpa terasa sudah sejam setengah ia habiskan untuk konsentrasi menulis lirik. Ia merasa puas dengan lirik terbarunya dan mengkoresksi sedikit.
"yah selesai" ujarnya tersenyum lepas. Ia melihat sekelilingnya dan melihat Aizetsu yang duduk disebelahnya. "ah, maaf aku tiba-tiba dapat inspirasi"
"tidak apa-apa" jawab Aizetsu menatap Genya. Ia memeluk kedua kakinya sedari tadi.
"mau berenang lagi?" Tanya Genya.
"kalau kau ingin berenang, berenanglah" ujar Aizetsu. "aku ingin balik ke hotel"
''ah, baiklah" ucap Genya.
"dari tadi kau belum minum, aku sudah belikan minum sampai dinginnya hilang"
"ah, maaf" Genya merasa bersalah namun menggenggam tangan Aizetsu. "Aizetsu, kau marah?"
Aizetsu menatap kearah Genya dengan wajah murungnya. Ia mengelus rambut Genya dan mengkecup bibir pria itu.
"aku tidak marah, aku senang melihat ekspresimu saat memikirkan lirik lagu tersebut" ucap Aizetsu. "-aku hanya-"
Aizetsu terdiam lalu berdiri.
"aku akan ke hotel duluan"
Ia berjalan meninggalkan Genya yang sedang kebingungan. Genya terdiam menatap punggung pria itu dan wajahnya merona padam. Ia memendamkan wajahnya diantara kedua lututnya dan merasa malu.
"te- tentu saja aku akan mencarimu kalau kau menghilang, bodoh!" Gumamnya pelan. Sejak tadi Genya mendengar kalimat-kalimat Aizetsu namun ia tidak dapat berkutik dan berpura-pura untuk konsentrasi dengan liriknya. Pria itu terdiam menatap ke laut dan memikirkan perkataan Tokito.
"jawabannya sudah ada didepanku kan" gumamnya kembali sambil memeluk kedua kakinya.
.
Genya kembali kedalam hotel dan mendapatkan Aizetsu rebahan dikasurnya sambil menonton tv. Ia terdiam diri menatap pria itu seperti tenggalam dalam lautan kasur.
"Genya, kemarilah!" Ujar pria itu menatap Genya.
"ugh, aku mau mandi dulu!" Ucap Genya kesal lalu masuk kedalam kamar mandi.
Aizetsu menatap pria itu dan ia mulai berjalan masuk ke dalam kamar mandi juga.
"oi?! A- apa yang kau lakukan?!" Pekik Genya yang sudah telanjang untuk mandi. Wajahnya memerah padam saat mengetahui Aizetsu masuk kedalam.
Aizetsu mendekati Genya dan memeluknya erat. Ia tidak peduli bahwa bajunya basah dengan air shower yang sejak tadi dibuka oleh Genya. Ia mengkecup bibir Genya dan menyentuh vital Genya. Genya terkesiap dan meronta.
"Aizetsu!" Rintihnya.
"kenapa? Bukankah kalau begini kau bisa mendapatkan memorymu kembali?" Ucap Aizetsu mengkocok vital milik Genya.
"ngh?! Tapi tidak begini!" Genya mendorong pria itu dan menjambaknya menjauh darinya. "AHN?!"
Aizetsu berlutut dan mengkulum vital Genya sehingga Genya merasakan buaian surga duniawi. Genya menatap pria itu dan meremas rambutnya. Ia merasakan nikmat yang tak berujung.
"A- Aizetsu- henti- kan! Hng" Genya merunduk kecil dan memeluk kepala Aizetsu. "Ai chan- ke- keluar-"
Genya menahan untuk tidak mengeluarkannya namun Aizetsu sedikit menggigit kecil vitalnya sehingga Genya tak kuasa. Ia tidak sengaja mengeluarkannya dan melihat pria itu menikmatinya. Genya bersandar ke tembok dan hampir jatuh karena merasa lemas.
"kau demon itu?!" Ucap Genya merasa sedikit kesal. Aizetsu menatap kearahnya dan mengkecup bibirnya.
"iya, aku adalah demon itu" jawabnya sembari mengkaitkan jari-jemarinya ke jari Genya dan menyatukannya di tembok. "sejak itu aku mencintaimu"
Genya menatap kearah pria didepannya dan memukul pria itu tepat di wajahnya.
"kau membunuh banyak manusia saat itu?!"
"aku tahu" jawab Aizetsu. "apa kau membenciku sekarang?"
Genya terdiam menatap kesal kepada Aizetsu namun dirinya teringat dengan memorynya saat di bianglala yang mengatakan ia bersyukur bahwa kini Aizetsu adalah manusia biasa. Genya terdiam dan membalas genggamannya.
"Aizetsu yang sekarang sudah bukan pembunuh, aku tidak membencimu" jawabnya menunduk kecil. Aizetsu mengkecup kembali bibir Genya dan mempererat sentuhannya.
"aku selalu mencintaimu, Genya. Sejak kau menyuruhku mengingat namamu" ujar pria itu. "walau harus berkali-kali reinkarnasi, aku akan tahu kau dimana. Aku akan merebutmu dari orang lain walau aku harus bertaruh nyawa"
Genya merona dan melihat kearah lain dengan malu.
Aizetsu mematikan keran airnya dan membuka bajunya yang basah. Ia mengkecup tubuh Genya dan menggigit kecil tubuh Genya. Genya mendesah pelan dan melingkarkan tangannya ke leher Aizetsu dan menikmati sentuhan itu. Aizetsu mulai memasukkan vitalnya ke lubang dubur Genya dan menggesekkannya dengan pasti. Genya merasakan nikmat tak terperi dan mendesah dengan kencang. Tubuhnya terasa begitu puas menerima sentuhan-sentuhan tersebut.
"A- Aizets- aahn" desah Genya memeluk tubuh Aizetsu. "ah, lagi- kumohon- lebih da- lam- lagi- ngghaaa"
Aizetsu menggeseknya dengan cepat dan semakin dalam. Ia menatap Genya yang sudah tidak berdaya menikmati gesekan tersebut. Wajah Genya yang menggoda membuatnya semakin merangsang. Tubuhnya tak dapat ia kontrol dan ia mengeluarkannya didalam.
Aizetsu melihat wajah Genya yang tengah capai namun begitu menggairahkan. Ia menggendong Genya dan menaruhnya diatas kasur. Genya menatap kearah pria diatasnya dan membuka lebar kakinya agar pria didepannya dapat memasukkan vitalnya lebih gampang.
"Aizetsu, kumohon, masukan!" Ucap Genya dengan wajah yang menggairahkan. Pria itu tak tahan menatap wajah yang menggairahkan milik kekasihnya dan langsung menjebolkan kembali pertahanan kekasihnya.
Genya merangsang dan terkesiap dengan vital Aizetsu. Ia mendesah dan menarik Aizetsu lalu mengkecup bibir pria itu. Ia menikmati gesekan-gesekan dari pria itu dan memeluk pria itu dengan eratnya. Aizetsu menatap Genya dan menggeseknya lebih dalam lagi dan lebih cepat sehingga mereka mengeluarkan bersamaan. Berkali-kali mereka melakukannya dengan berbagai posisi. Berkali-kali Aizetsu mengucapkan kalimat cinta dikuping Genya sehingga Genya merona seperti tomat yang matang.
.
Genya rebahan di kasur dan mengontrol nafasnya yang tersenggal-sengal. Ia merasa sangat puas setelah melakukannya berkali-kali dengan Aizetsu. Tubuhnya lengket dan segera ia ke kamar mandi untuk mandi. Aizetsu menatap pria itu lalu menghela nafasnya. Ia mengikuti Genya dan memeluknya dari belakang. Genya menatap pria itu dengan merona. Ia membuka keran dan membasahi tubuhnya.
"aku ingin mandi! Kau jangan menggangguku!" Ucapnya malu. Tangannya yang satu memegang showernya dan yang satunya lagi menarik tangan Aizetsu. Aizetsu tetap memeluknya dan menatap kearah Genya. Genya merasa ditatap dan membasahi muka pria itu dengan shower sehingga Aizetsu mau tidak mau melepaskan pelukannya. Genya tertawa lepas lalu mengelap wajah Aizetsu.
"makanya jangan mengganggu orang mandi" seru Genya tersenyum kecil. Aizetsu menatapnya dengan wajah murung namun menggenggam tangan Genya dan mengkecup telapak tangan Genya.
"lebih baik mandi bareng lalu kita cari makan keluar"
"asal kau tidak iseng padaku!"Genya terkekeh dan menyiramkan badannya. Ia juga membasuh badan Aizetsu dengan shower tersebut.
"aku duluan, kau selesaikan segera" ucap Aizetsu keluar duluan. Ia segera memakai bajunya dan duduk dilantai sambil merapikan kopernya.
Genya keluar dari kamar mandi dan menatap pria itu duduk di lantai.
"ada apa? Kau aneh sekali hari ini?" Tanya Genya duduk disebelah Aizetsu dan memegang keningnya. "kau sakit?"
"Genya" Aizetsu menarik tangan Genya dan memeluknya erat. "Kita putus saja! Kau tidak perlu bertemu denganku"
"eh?!" Genya tersentak kaget mendengar ucapan pria itu. Ia tidak menyangka pria yang selama ini mengejarnya selama berabad-abad tiba-tiba mengatakan hal yang diluar dugaan.
"ingatanmu sudah kembali semua, kan? Dan sudah tidak ada urusannya denganku" lanjut Aizetsu menatapnya murung. "aku tahu, Genya tidak pernah menyukaiku. Setiap kali reinkarnasi pun, kau tidak pernah mengingatku. Aku tahu aku selalu memaksa Genya untuk mencintaiku karena itu, kali ini aku tak akan memaksamu untuk mencintaiku"
"lagipula kalau kita lanjutkan hubungan kita, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak ingin Genya memaksakan dirimu sendiri"
Genya terdiam lalu tersenyum kecil. Perasaannya begitu sedih dan ia membereskan pakaiannya.
"benar juga, sejak awal, aku yang meminta untuk tidak berpacaran" ucap Genya menahan airmatanya. Ia tahu bahwa dirinya yang salah. Ia menahan airmatanya dan segera beranjak. "lebih baik aku pulang dengan kereta terakhir karena aku sudah tidak ingin melihat wajahmu. Terimakasih atas segalanya. Kau selalu membuatku bahagia dan tidak pernah merasa kurang"
Genya segera bergegas keluar dari kamar. Airmatanya tak dapat ia bendung. Ia segera berlari ke arah stasiun dan menelpon Tokito untuk menjemputnya. Airmatanya tak dapat ia hentikan dan mengalir dengan derasnya. Saat ia bertemu dengan Tokito, ia segera memeluk Tokito dan menangis dipundaknya. Tokito membawanya ke rumahnya dan menemaninya hingga pria itu tertidur karena capai menangis.
"Ai- zetsu-" igaunya dikala tidurnya. airmatanya tersisa dipelupuk matanya.
Tokito terdiam menatap pria itu dan mengelus rambut pria itu.
"Genya" ujarnya yang hanya bisa menatap sedih kearah Genya.
Genya tertidur hingga pagi dan ia tersentak kaget saat membuka matanya, ia melihat Tokito disebelahnya tidur sambil memeluknya. Wajanya merona dan menatap kearah sekeliling. Saat ia baru saja memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat, ia menatap ke arah Kotetsu yang baru saja masuk ke dalam kamar tokito.
"ah, Genya san?!" Ujar Kotetsu dengan wajah yang sedikit syok. Ia masuk kedalam kamar tersebut dan menaruh buku diatas meja Tokito. "kau menginap disini?"
"Ah iya, semalam membuatku bingung sehingga aku tanpa sadar ketiduran disini"
"o- oh? Tumben sekali"
"ah, iya aku telah merepotkan Tokito san" Genya menghela nafasnya memikirkan kejadian kemaren. Ia menatap kearah handphonenya berharap Aizetsu menghubunginya, namun harapannya kandas. Aizetsu tidak menghubunginya satu kalipun. Ia rasanya ingin menangis kembali tapi ia tidak ingin orang lain melihatnya lemah. Ia menahan airmatanya dan mencoba untuk memikirkan yang lain.
"Genya san?" Panggil kotetsu menatap kearah Genya yang tampak tidak semangat. Genya menangis kembali dan memeluk handphonenya dan hal itu membuat Kotetsu panik dan Tokito terbangun.
"kenapa- kenapa dia tidak menghubungiku?" Isaknya sesunggukan. "apakah dia sudah tidak mencintaiku?"
Tokito memeluknya dan menepuk pundak Genya.
"tidak apa Genya, menangislah" ucap Tokito memeluk Genya yang menangis. Ia tidak mempunyai kata penghibur untuk sahabatnya. ia tidak tahu harus mengatakan apa. Genya hanya menangis memeluk balik Tokito sampai dirinya lelah menangis.
Genya terdiam menunduk tampak begitu sedih.
"aku tahu bahwa semua salahku. Aku tidak bisa membedakan perasaanku padanya dengan perasaanku di ingatanku" ucap Genya sedih. "sejak awal aku memang mengatakan bahwa kami tidak berpacaran tapi ini begitu menyakitkan"
"Genya tidak salah" ucap Tokito. "Genya mengatakan hal yang tepat saat itu karena Genya belum menyadari perasaan Genya"
"tapi-" Genya terdiam dan menunduk memeluk kedua kakinya. "-Tokito san, di konser berikutnya, biarkan aku bernyanyi"
Sejak saat itu, Genya lebih sering latihan untuk bandnya dan membuat lirik lagu. Ia memfokuskan dirinya ke latihan bandnya. Ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkan perasaannya yang begitu sakit.
"oi Genya, kita bakal manggung dua minggu lagi, kau benar akan bernyanyi di detik-detik terakhir?"
"iya, untuk pertama dan terakhir kalinya" ucap Genya yang sedang membenarkan senar gitarnya.
Sanemi menggarukkan kepalanya dan menatap adiknya dengan bingung. Tidak pernah ia melihat adiknya bernyanyi, bahkan saat ia disuruh menjadi vocalis di bandnya, adiknya menolak dengan malu-malu. Ia hanya meminum kopinya dan mengacak-acak rambut adiknya. Ia merasa Genya sedikit berubah namun ia tidak bisa bertanya. Bukan tidak bisa bertanya, tapi Genya seakan-akan menghindari pertanyaan tersebut. Sanemi mulai memeluk Genya dari belakang.
"Genya, semoga saat di panggung nanti penontonnya banyak" ucapnya tersenyum kecil. Genya tersenyum dan masih membenarkan senarnya.
"aku juga berharap penontonnya banyak" Genya tersenyum kecil, tapi pikirannya melambung jauh. Ia hanya ingin Aizetsu datang ke konsernya yang berikutnya dan mendengarkan nyanyiannya. Ia keluar ruangan dan menelpon pria itu.
"Oi, Aizetsu" ucapnya. "dua minggu lagi aku akan ada konser di daerah x, aku harap untuk terakhir kalinya kau datang untuk melihatku diatas panggung! Kalau kau tidak datang, aku akan membeberkan rahasiamu kepada publik!"
"kirimkan saja alamatnya, aku akan datang" ucap Aizetsu dari ujung telpon.
Genya terdiam mendengar suaranya. Terasa begitu rindu dirinya mendengar suara tersebut.
"Aizetsu-"
"ada apa?"
"-" Genya terdiam dan menghapus airmatanya yang hampir berjatuhan. "Kau harus benar-benar datang!"
"aku pasti datang demi Genya"
"apa itu demi aku? Kau sendiri yang memutuskan hubungan kita" ucap Genya terkekeh pelan. "ya sudah, yang penting point pentingku sudah kusampaikan"
Genya menutup telponnya dan menghapus airmatanya.
"dasar bodoh! Kenapa aku harus menangis disaat seperti ini?" gumamnya.
Genya berlatih dengan sungguh-sungguh hingga waktu konser. Ia tidak pernah menyerah demi konser yang bagus. Mereka bersiap-siap untuk pentas diatas panggung. ia menggenggam kalung cincinnya dan mengeluarkannya seperti jimat. Genya mulai mengambil posisi dan memainkan gitarnya lalu melihat sekeliling. Saat dilihatnya, penonton yang berkunjung lebih banyak dari biasanya. Genya melihat sekeliling dan mencari sosok pria itu ditengah konsentrasinya bermain gitar. Mereka mulai konser mereka dan memainkan beberapa lagu. Sorak sorai penonton menggema dalam kuping Genya, tapi satu tempat yang dapat ia dengar berbeda. Ia menatap kearah tempat tersebut dan mendapatkan Aizetsu berdiri menatapnya. Genya terdiam memainkan gitarnya namun perasaannya lega saat ia tahu pria itu benar-benar datang demi dirinya. Ia memainkan beberapa lagu demi memuaskan penonton.
"yak lagu terakhir kali ini akan dibawakan oleh gitaris kami, Genya" seru Tokito memberikan micnya kepada Genya. Ia mundur kebelakang dan membiarkan Genya maju ke depan. Genya menatap kearah penontonnya dan sedikit tersenyum malu.
"t- terimakasih telah mendengarkan lagu kami. kali ini aku akan mempersembahkan sebuah lagu yang baru saja kuciptakan. Kupersembahkan untuk seseorang yang begitu penting dibandingkan nyawaku sendiri" Genya memainkan gitarnya dan mulai bernyanyi.
Kutahu cintamu padaku tidaklah bohong.
Kutahu cintamu padaku tidaklah pudar.
berkali-kali kau mengejarku dan dirikupun jatuh kepadamu.
Berkali-kali kau ucapkan kalimat cinta, diriku merasa hanyut dalam gombalanmu.
Berkali-kali kita bereinkarnasi, berkali-kali itu pula aku jatuh padamu.
Setiap sentuhanmu, membuatku kalut.
Setiap nafasmu, membuatku berdebar.
setiap tindakanmu, membuatku ingin memilikimu.
Kutahu usahamu mendatangiku, kali ini biarkan aku yang mendatangimu.
Biarkan ku yang mengejarmu.
Aku mencintaimu setulus hatiku.
Genya menyanyikan lagu tersebut dengan penuh perasaannya. Ia berharap peannya tersampaikan pada pria yang ia sukai. lagunya mendapatkan sorak-sorai dan tepuk tangan dari para penonton. Genya tidak memikirkan keadaan lagi, selesainya ia menyanyi, ia membanting gitarnya dan segera berlari kearah Aizetsu.
"bagaimana laguku?" Tanyanya sedikit cengengesan. Ia berharap pria itu menangkapnya.
"bagaimana bagaimana?" Tanya Aizetsu bingung. "bagus"
Genya merasa kesal dan menarik kerah Aizetsu dan mengkecup bibirnya dalam. Semua orang melihatnya dengan kaget dan tidak percaya, terutama Sanemi. Sanemi begitu shock dan kesal melihat adiknya mencium pria lain di umum.
"dasar bodoh! Lagu itu kubuat khusus untukmu! Aku mencintaimu lebih dari apapun! jangan menyerah mencintaiku! Mungkin aku tidak pernah ingat padamu saat reinkarnasi, tapi kehadiranmu begitu penting bagiku! Kehadiranmu membuatku tidak pernah merasa kurang!"ujar Genya. "kalau kau menyerah, mulai sekarang, aku yang akan mengejarmu! Aku yang akan mencintaimu lebih! Dan aku yang akan mengingatmu saat kita bereinkarnasi"
Aizetsu memandang Genya dengan wajah murungnya. ia lalu memeluk Genya dan mengkecup balik pria itu.
"Genya, ku mencintaimu"
"aku juga mencintaimu, Aizetsu" Genya mengkecup balik dan tidak peduli dengan sekitarnya yang melihatnya atupun menggosipkannya. kini baginya , asal perasannya tersampaikan kepada pria yanng ia kasihi, ia sudah cukup puas.
.
THE END
