Aizetsu x Genya
Part 10.5 REINCARNATION DESTINY TERORRIST
Canon x canon, canon x genderbend, genderbend x canon (pusing? Ga usah dipikirin)
Rate: yaoi hentai
Cerita tambahan
.
Sanemi menatap adiknya dan Aizetsu dengan tatapan ingin membunuh. Ia begitu marah dengan hubungan kedua orang ini. Ia meminta penjelasan kepada mereka tentang apa yang terjadi. Ia duduk sambil dipegangi Himejima agar tidak mengamuk. Genya keringat dingin melihat kakaknya yang menatapnya seakan-akan ingin membunuh mereka.
"jadi sejak kapan kalian berhubungan?" Tanya Sanemi dengan wajah sangarnya.
"uhm- se- setahunan" jawab Genya takut-takut.
"lalu?"
"la- lalu kenapa, aniki?"
"aku memang ingin kau punya pacar dan akhirnya menikah! Tapi kenapa harus bersama cowok?" Geram Sanemi. Ia hampir membanting meja didepannya namun ditahan oleh Himejima dan Tokito.
"maaf aniki" jawab Genya merasa takut. "Biarkan aku bercerita?"
"cerita? Cerita apa? Kau akan mengarang bebas?"
"tidak! Ini ada hubungannya dengan cincin jimatku"
Sanemi terdiam dan menatap kearah Genya dengan emosi yang turun. Ia tahu adiknya mempunyai cincin yang dijadikan jimat sedari lahir.
"aniki tahu kan bahwa aku selalu menjaga cincin ini? Dan aku pernah menangis saat cincin ini hampir hilang dari tanganku walau aku juga saat itu tidak tahu mengapa aku menjaga sekali cincin ini?" Tanya Genya. "cincin ini memiliki pasangan dan Aizetsu pemilik pasangannya"sanemi terdiam sementara namun ia lalu menggebrak meja.
"cincin seperti itu dimanapun bisa kau dapatkan dan bisa saja pria ini mengkelabuimu dan mengatakan kalau ia adalah pasanganmu!"
"tidak aniki! Ia benar-benar pasanganku!" Bantah Genya. "Aku dapat mengingat saat-saat sebelum bereinkarnasi jauh ke belakang, saat kami melakukan sex-"
Genya terdiam dan keceplosan mengatakannya. Sanemi semakin kesal mendengar kalimat adiknya.
"sex? Sex katamu?" Ucapnya dengan aura membunuh. "KALIAN MELAKUKAN SEX?"
"- ta- tapi-"
"JADI KALIAN TIDAK HANYA BERPACARAN LAYAKNYA PASANGAN KEKASIH BIASA SAJA, TAPI KALIAN JUGA MELAKUKAN SEX? SEJAK KAPAN?"
"se- sejak kami jadian? Ah nggak, kami tidak jadian sebelumnya" Genya menyentuh kepalanya seakan dirinya pusing dan ia teringat bahwa dia sendiri yang meminta untuk tidak pacaran.
"JADI KALIAN MELAKUKAN SEX TANPA STATUS PACARAN? KALIAN BENAR-BENAR MELAKUKANNYA?!"
"ma- maaf aniki, tapi aku-"
''KEPARAT KAU MENODAI ADIK KESAYANGANKU! KUBUNUH KAU!" Sanemi semakin menggebrak meja sehingga mejanya retak. Meja itu akan patah apabila Himejima dan Tokito tidak menghentikannya.
"Namu, Sanemi tenang!" ujar Himejima menahan tangan Sanemi.
"A- aniki, kumohon! Aku benar-benar dapat mengingat kehidupan lalu saat aku bersama dengannya, karena itu ia tidak berbohong padaku" ucap Genya meyakinkan kakaknya. "sejak dulu kita selalu bareng. Aniki dan Himejima san dikehidupan sebelumnya pernah menjadi guru, dikehidupan sebelumnya lagi pernah menjadi pemburu iblis bersama dengan Tokito san"
"Pemburu iblis?" Mereka menatap Genya bertiga.
"iya, kita sama-sama ingin melawan Muzan karena ia merubah orang menjadi iblis dan para iblis membunuh keluarga kita" ucap Genya meyakinkan. "aku dapat mengingatnya jelas berkatnya"
Genya menggenggam tangan Aizetsu erat dan menatap Sanemi dengan pandangan mata yang serius. Sanemi melihat wajah Genya yang tampak serius itu dan ia mengendurkan amarahnya.
"kalau aniki tidak merestui kami, aku akan pergi dari rumah dan tinggal bersamanya" ucap Genya.
"kalau kau ragu untuk biaya kuliah Genya, aku bisa mengurusnya" ucap Aizetsu.
"eh? Ga sampai begitu juga!" Ujar Genya merasa tidak enak.
"tidak masalah kan? Kalau kau tinggal bersamaku, aku tidak akan membuatmu merasa kekurangan"
"tapi tidak begitu juga"
Sanemi menghela nafasnya panjang dan menurunkan emosinya. Ia menunduk dan memegang keningnya.
"jadi kalian serius?"
"serius!" Jawab Genya dan Aizetsu berbarengan menatap kearah Sanemi.
Sanemi kembali menghela nafasnya dan menatap mereka.
"kalau memang kalian serius, aku tak masalah. Tapi kalau pria ini membuatmu sedih, aku akan benar-benar menghajarnya" Sanemi berdiri dari duduknya dan segera meninggalkan mereka dan diikuti oleh Himejima.
Genya merasa lega saat tau kakaknya tidak jadi menghajar dirinya dan Aizetsu. Ia terduduk lemas di bangkunya.
"aku kira aniki akan menghajar kita" ujarnya lemas. Aizetsu menatapnya dan memeluk prianya.
"Genya, aku senang kau memperjuangkanku. Terimakasih" ucapnya memeluk Genya.
Genya menatap kearah pria itu merona dan memeluknya balik.
"aku yang seharusnya berterimakasih padamu, Aizetsu. Kau selalu berjuang dan bersabar denganku" wajah Genya kini benar-benar memerah padam. "Kali ini biarkan aku yang membuatmu bahagia"
Aizetsu mencium bibir pria itu dan mengelus wajah pria itu dengan penuh kasih.
"aku mencintaimu, Genya"
"aku juga mencintaimu, Aizetsu" Genya tersenyum lepas dan menyentuh wajah prianya dengan bahagia.
"anu, kalau tidak keberatan, bisakah kalian tunda mesra-mesraan kalian? Kalian bikin iri saja" ujar Tokito yang sejak tadi menyaksikan mereka. Genya tersentak kaget dan menatap Tokito dengan panik.
"a- ah, maaf" jawab pria itu panik.
"tapi aku tak menyangka kalau kau akan memperjuangkan pria ini, Genya" ucap Tokito menatap Aizetsu. "pria ini yang kau tangisi saat itu kan?"
"i- iya" Genya mulai malu namun mengangguk panik.
"kalau gitu kau tidak keberatan kan kalau aku menghajarnya sekali karena telah membuatmu menangis saat itu?" Tokito tersenyum lebar namun dalam hatinya begitu kesal.
"e- eeehh? Ja- jangan-"
"Tokito san!" Panggil Kotetsu menghampiri. "kukira kau dimana dari tadi kucari-cari"
Tokito melihat Kotetsu dan memeluk pria itu segera. Genya melihat kearah Kotetsu yang malu-malu saat dipeluk dan Tokito yang begitu manja kepada Kotetsu.
"eh? Tokito san? Kalian? Sejak kapan?"
"eh? Ah! Sudah dua bulan yang lalu" ujar Tokito tersenyum bahagia. "Akhirnya aku mencoba untuk menyatakan perasaanku dan ternyata Kotetsu kun mepunyai perasaan yang sama denganku"
"tunggu! Jadi Genya san tahu hubungan kita?!" Kotetsu memerah padam dan panik. Ia lalu berlari keluar "aaaaaaaaa Tokito san bodoh!"
"ah?! Kotetsu kun!" Tokito mengejar Kotetsu keluar dari ruangan.
Genya dan Aizetsu berduaan dan saling pandang.
"ka- kalau gitu, mau gimana sekarang?" Tanya Genya malu-malu.
"Genya, kau menangis saat aku meninggalkanmu?" Aizetsu menanyakan saat Tokito bilang ingin memukulnya. Wajah Genya memerah padam dan menatap kearah lain.
"bi- bilang apa kamu? Aku tidak tahu!"
"Genya!" Aizetsu menarik tangan prianya dan menahannya.
"t- tidak mungkin aku tidak menangis kan? A- aku berasa seperti ditolak! Bodoh!" Ucap Genya menatap kearah lain dengan malu-malu. Ia begitu malu untuk mengatakan bahwa dirinya benar-benar mengharapkan selalu bersama dengan pria itu.
"pfft" Aizetsu tertawa lepas melihat kearah Genya. "kau bilang kau akan mengejarku mulai sekarang, tapi kau masih dibawah standar untuk mengejarku, sungguh menyedihkan!"
"be- berisik! Kau sendiri akhirnya melepaskanku dengan menyedihkannya" Genya merasa begitu malu dan menarik kerah baju Aizetsu. "Lalu saat itu kau ngapain memangnya? Aku ga yakin kau bersenang-senang setelah kepulanganku!"
Aizetsu menatap kearah lain dengan malu-malu. "ung, aku yakin kau tak akan mau mendengar apa yang kulakukan setelahnya"
"apa?" Genya memicingkan matanya kesal.
"karena di loby ada yang jual bir, aku membelinya banyak dan yah kau tahu aku tepar"
"karena birnya?"
"kecapaian menangis" ucap Aizetsu Dengan wajah yang memerah padam.
"-" Genya terdiam lalu menonjok wajah prianya. "kau benar-benar tega!"
Aizetsu mencengkram wajah Genya kesal. "beginikah caramu memperlakukan orang yang kau cinta?"
Genya mengerang dan menggenggam tangan prianya. Ia menyeringai "untuk mantan iblis sepertimu, iya"
Aizetsu tersenyum layaknya iblis dan memeluk prianya. "kalau gitu mulai sekarang aku akan berlaku layaknya seperti yang kumau"
Ia mecium bibir Genya dan mengigit bibir bawah pria itu sehingga Genya merintih dan menjambak Aizetsu.
"Heh, kau pikir kau bisa memperlakukanku seperti yang kau mau?" Genya menyeringai dan melingkarkan tangannya ke leher Aizetsu. Mereka saling pandang lalu tertawa bareng.
"dasar bodoh" ujar Genya mengelus pipi prianya yang sedari tadi ia tonjok dan mengkecupnya. "Aku lapar, mau makan sesuatu?"
"aku ingin makan Genya"
"bodoh! Kau tak akan kuberikan diriku malam ini!" Genya berjalan keluar ruangan dan diikuti oleh Aizetsu. Ia menggandeng tangan Aizetsu tanpa ragu dan malu.
Mereka menghampiri Sanemi yang sedang bersama Himejima dan Tokito juga Kotetsu, memesan makanan dan bir.
"kau mau makan apa?" Tanya Sanemi kepada Genya dan memberikan menunya. Genya duduk disebelah Himejima dan Aizetsu duduk disebelah Genya. Mereka melihat menu bersama dan memilih makanan yang sama dengan spontan. Sanemi memesankan menu tersebut kepada pelayan disitu lalu menatap kearah Aizetsu.
"kau sudah kerja?"
"aku seorang novelis"
"hmm, ga buruk" Sanemi meminum birnya dan mencemili kentang gorengnya. "apakah novelmu laku?"
"sampai sekarang novelku sedang naik daun" Aizetsu mengeluarkan novelnya dari tas yang ia bawa sejak tadi. "ini novel buatanku. Berkat Genya, novel ini laku berat"
"eh? Berkatku?"
"aku memasukan kisah cintaku padamu"
"eh?! I- itu memalukan!"
"ah novel ini yang sedang ramai-ramai diributkan oleh gadis-gadis di sekolahku" ucap Kotetsu menatap novel tersebut. "kau yang menulis buku ini?"
"iya ini novel buatanku"
Kotetsu menatap Aizetsu tidak percaya. Ia lalu mengambil kertas dan pulpen.
"tolong tanda tangan disini" ujarnya.
"kau fansnya juga?" Tanya Tokito kaget.
"uhm, aku ingin buat pamer ke teman-temanku dong!"
"sejak kapan kau jadi anak nakal?!" Tokito menjitak Kotetsu.
Aizetsu menanda tangani buku Kotetsu dan tersenyum kecil.
"tidak apa-apa kan?!" Jelas Kotetsu mengambil kembali bukunya.
Makanan mereka datang dan Genya mulai memakan makanannya. Sanemi memandang adiknya dengan perasaan yang sedikit sedih karena adiknya diambil oleh orang lain.
"Genya, hari ini aku akan pergi bersama Himejima dan tidak akan pulang dulu" ujar Sanemi mendadak dan Himejima hampir tersentak namun ia mengerti kondisi Sanemi.
"eh? Kenapa? Aku ikut!"
"namu, ini urusan orang dewasa" ucap Himejima menangis. "Genya lebih baik menunggu rumah menjadi anak baik"
Genya terdiam dan cemberut. "sampai kapan kalian menganggapku seperti anak kecil?"
"kalau sikapmu masih begitu, kau tetap anak kecil" jawab Himejima tersenyum.
"anak kecil tetap anak kecil!" Sanggah Sanemi.
Genya terdiam namun ia menurut. Ia hanya memakan makanannya dengan lahap. Mereka makan sambil Ngobrol-ngobrol sehingga akhirnya mereka harus pulang.
"Tokito, kami akan mengantarmu" ujar Sanemi.
"eh? Kami bisa pulang sendiri" ujar Tokito.
"kalian masih kecil dan ini sudah malam!" Jelas Sanemi kesal melihat wajah Tokito yang cemberut.
"tapi Genya juga masih kecil!"
"Genya ada Aizetsu yang menemaninya!" Sanemi menatap Aizetsu. "ayo pulang, Tokito!"
"dah, Genya!" Ucap Tokito sembari memeluk Kotetsu dari belakang dan mereka berjalan bersama dengan keluhan-keluhan Kotetsu karena dipeluk.
Genya melambaikan tangannya dan tersenyum kepada Tokito. Ia lalu menggenggam tangan Aizetsu dan berjalan kearah rumahnya.
"kau tak apa sendirian dirumah?"
"aku tak apa, biasanya aniki pergi meninggalkanku dinas"
Aizetsu menatapnya dan menggenggam tangan Genya erat. "kalau kau kesepian, kau bisa menghubungiku"
Genya terkekeh "kau pikir aku anak kecil?"
"kakakmu mengatakan demikian"
"kau ingin gelud denganku?"
"Aku ingin memakanmu di kasur"
"bodoh!"
"Saat aku jadi demon, terlintas rasa penasaran bagaimana rasamu, dan kini aku tahu rasamu begitu nikmat dan sedap"
"dasar mesum!" Tawa Genya meninju lengan Aizetsu pelan. "-kau ingin menginap?"
"kenapa? Kau takut sendirian?"
"-melanjutkan yang dulu tertunda?"
Aizetsu menatap Genya dengan lekatnya. "Kalau kau memang menginginkannya" Aizetsu menarik kepala Genya dan menempelkannya ke kepalanya.
Genya terkekeh dan berjalan bersamanya hingga kerumahnya. Ia membuka pintu rumahnya dan segera mssuk ke kamarnya bersam Aizetsu.
"kau pake baju aniki saja ya?" Ujar Genya beranjak ke kamar Sanemi untuk mengambilkan baju ganti.
Aizetsu menunggu dikamar tersebut dan melihat isi kamar prianya. Begitu banyak tulisan-tulisan lirik yang dibuat olehnya dan kaset-kaset lagu. Genya balik membawa baju milik Sanemi dan memberikannya pada Aizetsu.
"kau ingin mandi atau langsung ganti baju?" Tanya Genya menatap pacarnya.
"aku mandi saja"
"kamar mandinya disini' Genya memandu Aizetsu dan memberitahukan sabun dan samponya.
"kau tidak mandi?" Tanya Aizetsu.
"aku mandi setelahmu saja"
"kita mandi bersama?" Aizetsu melingkarkan tangannya di pinggul Genya.
"sebelum kau melakukan sexual harassement, aku tolak!" Genya mencubit pipi prianya. "ngomong-omong, pipimu tampak bengkak, nanti kompres saja-, maaf aku menonjokmu tadi"
"Aku tidak masalah asal Genya puas"
"kau masokis?!" Pekik Genya mengelus pipi Aizetsu.
"kalau Genya merasa bersalah, maka mandi bareng aku"
"aku tunggu kau dikasur saja!" Geram Genya pergi keluar dn menutup pintunya.
Aizetsu mulai membilas tubuhnya setelah ia membuka bajunya. Genya menunggunya sambil menyediakan minuman dan es batu untuk pipi pacarnya yang tadi ia tonjok. Ia merasa sedikit bersalah namun tidak menyesali sedikitpun. Ia sibuk mengurus perlengkapan tamunya hingga tnpa sadar, ia dipeluk oleh kekasihnya dari belakang.
"wah?!" Genya hampir menjatuhkan es batunya. Aizetsu mengenduskan hidungnya dileher Genya dan memeluknya erat. Genya merona lalu segera menempelkan es batu yang ia pegang ke pipi pria itu. "tak bisakah kau bicara dulu sebelum memelukku?"
"Genya tampak begitu sibuk jadi aku iseng" jawab Aizetsu yang masih memeluk kekasihnya. "Kau mandi?"
"Pegang es batu ini, aku mandi dulu" ucap genya memberikan es batu yang tertempel di wajah Aizetsu.
Aizetsu memegang es batu tersebut dan meminum teh yang disediakan oleh Genya. Ia menunggu sambil duduk di ruang TV dan menikmati tehnya. Ia menatap ke sekeliling dan akhirnya masuk ke kamar Genya bersama tehnya. Ia duduk dilantai kamar Genya dan menaruh tehnya disebelahnya. Genya masuk keruangan sambil mengeringkan rambut mohaknya dan membawa camilan miliknya.
"aku punya puding, makan saja kalau mau"ia menaruhnya di meja kecilnya.
Genya duduk disebelah Aizetsu dan memakan pudingnya. Ia menikmati sensasi puding tersebut. Aizetsu menatapnya lalu memeluk prianya.
"Genya, mau pergi ke suatu tempat untuk mengisi liburanmu nanti?"
"aku ingin pergi jalan-jalan ke kampung halamanmu"
"eh? Kampung halamanku? Ngapain?" Aizetsu menatap Genya bingung.
"yah bertemu dengan keluargamu dan melihat pemandangan" Genya menghabiskan pudingnya dan menaruhnya diatas meja. Ia lalu mendekati Aizetsu dan duduk dipangkuan pria itu sambil menghadap ke pria itu.
"kau tidak berniat memperkenalkanku kepada saudaramu kali ini?" Tanya Genya menatap Aizetsu manja. Aizetsu merangkul pinggulnya dan mencium Genya.
"kau ingin sekali bertemu mereka?"
"mereka juga tidak mengingatku ini kan?"
"yah kau benar" Aizetsu mengangkat Genya dan menaruhnya diatas tempat tidur. Ia menghimpit tubuh Genya.
Genya melingkarkan tangannya dan mencium prianya. Ia dapat merasakan vital Aizetsu di vitalnya dan ia membuka pakaian Aizetsu. Genya mendorong Aizetsu ke kasur dan menghimpitnya. Ia mengkecupi tubuh prianya dan terkadang menggigitnya kecil.
"Genya, tak apa kalau kau tidak bisa, biar aku sa-" Genya menaruh jari tangannya dibibir Aizetsu dan merona.
"bi- biarkan aku yang melakukannya! Kau diam saja disitu!" Wajahnya tampak seperti tomat yang merekah. ia kembali menjilati tubuh Aizetsu sehingga Aizetsu melihatnya dengan malu-malu.
"ngh, Genya" Aizetsu merasakan nikmat dan mengelus rambut Genya. "kau belajar darimana?!"
Genya tetap menjilatinya hingga kebagian bawah milik Aizetsu. Ia membuka celana pria itu perlahan demi perlahan hingga vital pria itu tampak. Genya merona menatap milik Aizetsu. Ia menyentuhnya dengan gemetaran. Pertama kalinya ia berusaha memuaskan pria itu. Ia mengkocoknya dan mulai menjilati ujug vital Aizetu.
"ngh?!" Aizetsu menahan desahannya dan menggenggam kedua pipi Genya dengan kedua tangannya. "Genya"
Genya menghisap vital Aizetsu dan mengkulumnya. Ia berkali-kali mengeluar-masukan vital tersebut ke mulutnya, membuat Aizetsu semakin merasakan nikmat dan menahannya keluar. Genya menatap wajah Aizetsu dan mengharapkan pria itu merasakan kenikmatan yang biasa ia lakukan terhadapnya. Ia menggigit kecil sehingga Aizetsu tak kuasa menahannya. Ia tidak sengaja mengeluarkannya di dalam mulut Genya. Genya tersentak dan menelannya dengan kaget.
"ah, maaf" ucap Aizetsu. "lepehkan saja!"
Aizetsu berusaha untuk duduk dan menyentuh wajah kekasihnya. Genya mendorong pria itu jatuh ke kasurnya kembali.
"sudah diam saja disitu!" Ujar Genya duduk diatas perut prianya. Ia berusaha membuka celananya dan memasukan vital Aizetsu ke lubang duburnya. Karena pertama kalinya ia melakukannya sendiri, ia sedikit ragu untuk memasukannya. Aizetsu menyentuh pinggul Genya membantu kekasihnya memasukkannya.
"kau sudah diam saja! Biar aku saja!" Ucap Genya kesal memukul tangan prianya. Ia begitu malu merasa begitu bodoh. Ia memegang vital Aizetsu dan memasukannya kedalam miliknya.
"ahn" Genya merasakan vital tersebut mulai masuk dan mencengkram bahu Aizetsu dengan eratnya. Ia memasukan lebih dalam dan merasakan nikmat. Wajahnya tampak begitu memerah dan airmatanya keluar. Ia berusaha menggenjot dirinya untuk merasakan kenikmatan tersebut. Aizetsu menatapnya dan menggenggam jari-jemarinya.
"ingin kubantu?"
"di- diam sa- ahn- ja" Genya menggenjot kembali dan mencium Aizetsu. Ia merasakan nikmat dan mendesah dengan kencang. wajahnya begitu menggoda dan menatap kearah Aizetsu. "- ahn A- Ai- Aizetsu"
Aizetsu menatap prianya dan tersenyum kecil menatap Genya. Ia lalu merubah posisinya, meniduri prianya dan menggenjot lebih kencang. Genya mendesah kencang dan memcakar punggung Aizetsu.
"a- ah- Ke- kelua- kelu- keluar- keluar aaaah" Genya keluar saat Aizetsu keluar didalam. Aizetsu memeluk tubuh Genya dan mengkecupnya.
Genya menarik napasnya dalam-dalam lalu menjambak rambut Aizetsu.
"a- aku kan sudah bilang kamu diam saja!" Geram Genya kesal.
"maaf, aku tidak tahan melihat wajah manismu"
Genya menutup wajahnya yang memerah padam.
"apa aku tidak bisa membuatmu nikmat?" Wajahnya begitu kecewa dan sedih.
Aizetsu tersenyum dan menggenggam tangan Genya dan mengkecup tangannya.
"kau sukses membuatku ingin melakukannya berkali-kali" Aizetsu menaruh tangan Genya kepipinya dan menyodok lebih dalam vitalnya sehingga Genya mendesah kembali.
"ah!" Genya menatap kearah Aizetsu dengan tatapan yang menggairahkan dan tangannya yang satunya menggenggam seprai dengan kuat. "Ai-aaaaaahhnn"
Aizetsu tersenyum lembut menatap prianya dan menggesekannya lebih cepat. Mereka melakukannya hingga berkali-kali sampai mereka merasa capai.
.
Genya merasa begitu lelah dan merebahkan diri di kasurnya sambil mengatur nafasnya. Ia menatap Aizetsu lalu memeluknya.
"aku padahal ingin memuaskanmu" jelasnya cemberut. "tapi aku memang payah"
Aizetsu mengkecup kening Genya dan memeluknya.
"kau sudah sangat membuatku puas, Genya" ucap Aizetsu. "Terimakasih, kau telah berusaha"
Genya menatapnya dan tersenyum. "Aku bahagia bisa mengenalmu, Aizetsu"
Aizetsu memeluknya semakin erat.
'Genya, menikahlah denganku"
Genya terdiam wajahnya begitu memerah padam. Ia mengangguk kecil dan memendamkan wajahnya ke dada Aizetsu. Ia tidak menyangka akan dilamar secepat ini.
"tapi aku ingin menunggu sampai lulus"
"tidak apa-apa, cincin kita sudah menjadi saksi kita"
Genya tersenyum lembut dan mengkecup Aizetsu. Ia dapat merasakan bahagia setelah berabad-abad jatuh hati kepada orang yang mengejarnya selama berabad-abad tanpa mengenal lelah.
"Aizetsu, terimakasih kau tidak menyerah padaku. Kslau sedari awal kau menyerah, mungkin aku tidak akan mengingat usahamu selama ini"
Aizetsu terdiam dan mengkecup bibir Genya.
"sejak awal aku memang tidak berniat, menyerah, tapi aku sadar, bahwa mungkin memang kau selama ini memaksakan dirimu untuk bersamaku, karena itu saat itu aku melepaskanmu"
"aku berpikir kembali, memaksakan dirimu mungkin bukanlah hal yang tepat. Aku berpikir bahwa mungkin engkau memang lebih memilih yang lain. aku cukup menderita saat kuberpikir seperti itu. Aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain"
"selama hidupku, aku tidak pernah merasa terpaksa bersamamu. Mungkin memang awal aku berpikir bahwa kau selalu memaksaku, tapi berhubungan denganmu, aku sangat menikmatinya. Kau sudah berusaha dan kau mendapatkan hasilnya"
Aizetsu tersenyum diwajah murungnya dan mendekap lebih erat.
"Genya, aku ingin memakanmu" ia melumat bibir Genya dan mengkulum lidahnya.
"he- hei! Aku sudah capai! beri aku waktu!"
Wajah Genya merona dan ia mendorong kecil prianya. "bakatare!"
mereka memulainya kembali dan menikmati masa-masa bersamanya.
.
THE END
