A Perfect Day to Take Care for the Babies
Disclaimer : All Naruto Character belongs to Masashi Kishimoto
AU. OC. OOC. OS
"Aaah ... curang!" tuding Airin sembari membanting stik playstation itu ke karpet. Di sebelahnya, Kakashi menyahut tidak terima.
"Heh? Kau saja yang payah, sayang," godanya sambil memamerkan kemenangan. Membuat gadis yang kini berstatus sebagai tunangannya itu merengut kesal, menerjang dan menindih lelaki itu. Kakashi menahan tangan Airin yang hendak menghantam wajahnya, melempar senyum menggoda.
"Jangan marah begitu. Kau tambah lucu," godanya lagi yang memancing rona merah di wajah sang gadis. Ia tertawa puas ketika gadis itu memalingkan wajah.
Kakashi bangkit dan mengubah posisi mereka. Menjadikan dirinya di atas dengan Airin yang terlentang di bawah. Airin meneguk ludah kasar. Amarahnya menguap tergantikan rasa panik yang mendera ketika tangan Kakashi menjelajah wajah berbingkai surai biru itu. Sikut lelaki itu bertumpu, menahan agar tubuhnya tidak menindih sempurna tubuh sang tunangan.
Kakashi mungkin seorang lelaki yang normal—di mana dalam posisi berbahaya ini, ia bisa saja menyerang langsung. Namun, lelaki itu masih ingin hadir di pernikahannya dalam tubuh lengkap tanpa luka. Airin memucat kala melihat seringai licik itu. Wajah sang tunangan perlahan merendah hingga menyentuh bibir gadis itu sempurna. Kemudian ditarik lagi.
Airin terdiam dengan wajah merona. Membuat seringai Kakashi semakin menjadi.
"Curang!" tudingnya lagi. Kakashi terkekeh.
"Aku tidak curang, sayang. Kau saja yang lengah," sahutnya santai. Ia bersiap melayangkan serangan kedua ketika suara ketukan pintu tak sabar menginterupsi kegiatannya. Lelaki itu mendengus jengkel.
Mengganggu saja!
Ia bangkit dari posisinya dan berjalan menuju pintu. Tangannya memutar kunci dan memutar ganggang—pintu terbuka.
"Yo, Kakashi. Maaf mengganggu pagi-pagi begini," ujar sosok di depannya. Kakashi menatap malas tanpa niat membiarkan sang tamu masuk.
"Ada apa, Itachi?" tanya Kakashi. Airin beranjak menghampiri pintu depan ketika Kakashi tak kunjung masuk lagi. Tatapannya langsung bertemu dengan seorang lelaki berambut panjang dengan bocah laki-laki dalam gendongan.
"Itachi?"
Melihat kehadiran tunangan teman kelasnya dulu membuat Itachi semakin merasa tidak enak. Tapi sekarang ia tak punya pilihan. Lelaki itu berdehem.
"Begini, orang tuaku sedang keluar kota untuk beberapa hari dan aku hanya tinggal berdua dengan Sasuke. Lalu, hari ini aku ada ujian masuk pascasarjana, jadi ...," ujarnya menggantung. Kakashi mengerjap lucu. Kemudian seulas senyum jengkel terpatri di wajahnya.
"Kau tidak menyuruhku untuk menjadi pengasuh bayi, 'kan?"
Itachi cengar-cengir. Membuat Kakashi semakin yakin.
"Tolonglah, Kakashi. Kita teman yang baik, 'kan?"
"Satu bocah sepertinya tidak masalah. Benar, 'kan, Sasuke-kun?" celetuk Airin tiba-tiba. Kakashi baru sadar bahwa bocah itu sudah berpindah ke tangan sang tunangan. Menyahut riang ketika gadis itu menggosokkan hidungnya pada hidung mungil sang bocah tiga tahun.
Kakashi mendesah. "Cepatlah kembali," ujarnya jengah. Itachi langsung berterima kasih dan beranjak pergi. Airin membawa Sasuke untuk masuk ke dalam dan bermain bersamanya.
"Airin-nee!" jerit Sasuke girang. Gadis itu langsung memekik gemas, menciumi sang bocah Uchiha tanpa henti. Kakashi menatap kemesraan mereka dengan wajah lesu.
Dia tidak pernah menciumku sampai seperti itu.
Lelaki itu memutuskan untuk membereskan bekas permainan mereka dan menyimpannya dengan baik. Kemudian beranjak dan merebahkan diri di kasur. Tepat di samping Airin yang sedang bermain dengan Sasuke kecil. Kakashi mendengus keras, tetapi tak digubris oleh Airin.
Padahal hari ini ia ingin menghabiskan akhir pekan dengan sang tunangan. Sambil menunggu hari resepsi yang tinggal menghitung jari. Pekerjaan mereka sama-sama menyita waktu. Kadang tak bertemu dalam waktu yang lama. Ini menjengkelkan, bukan, Kakashi?
Ketukan kedua menyusul. Dengan malas, Kakashi beranjak dan membuka pintu.
"Sensei?" pekiknya spontan ketika melihat sosok pirang yang tersenyum kecut di depan pintu.
"Kakachi-nii!"
Kakashi merasakan kakinya dipeluk oleh mahluk kecil yang menerobos masuk. Ia berjongkok untuk menggendong bocah tiga tahun tersebut.
"Maaf ya, Kakashi. Hari ini aku ada pertemuan mendadak dan Kushina sedang pergi. Aku titip Naruto sebentar, ya? Menma akan datang dan menjemputnya saat jam makan siang."
Sejujurnya Kakashi ingin menolak, tapi wajah tidak enak sang mantan guru SMA-nya itu membuat Kakashi tidak tega.
"Baiklah, sensei," jawab Kakashi. Minato mengucap terima kasih singkat kemudian melancong pergi. Kakashi mendesah. Ya, setidaknya dua masih bukan masalah besar. Mungkin.
Ia berjalan masuk setelah menutup pintu. Menghampiri Airin yang bermain dengan Sasuke di kasurnya. Bersama Naruto yang nyaman dalam gendongannya.
"Eh? Dia juga?"
Kakashi mendesah lelah. "Baguslah! Sekarang Sasuke-kun punya teman," ujar Airin ceria. Kakashi menurunkan Naruto di kasur, samping Sasuke. Bocah pirang itu langsung menunjuk Sasuke dengan jari kecilnya.
"Teme!" Kakashi terkejut. Siapa yang mengajarkan bocah ini berkata seperti itu?
"Usuratokanchi!" balas Sasuke sengit dengan aksen cadel. Kakashi memandang kedua bocah itu nelangsa. Mimpi apa ia semalam?
"Hei, hei, Naruto-kun, Sasuke-kun, tidak boleh bicara kasar seperti itu. Tidak baik," ujar Airin menasehati. Kedua bocah itu beralih menatapnya sambil mengerjap imut. Airin mencium mereka secara bergantian. Menatap bingung Kakashi yang ikut menjulurkan wajahnya.
"Apa?"
"Aku juga mau!" tuntut Kakashi yang mendapat jitakan gratis.
"Tidak. Aku tidak mau dua bocah ini ikut-ikutan sifat mesummu!" Kakashi meringis pelan. Merasa depresi.
Dua bocah sialan.
Sementara Kakashi sibuk menonton televisi, Airin bermain dengan dua bocah itu. Mereka tertawa-tawa, mengusik Kakashi yang coba mengalihkan rasa kesal karena sang tunangan lebih memilih dua bocah itu daripada bermesraan dengannya.
"Kakashi, tolong ambilkan air untuk Sasuke-kun," ujar Airin.
Dia bahkan tidak pernah memanggilku dengan akhiran itu.
Lelaki itu beranjak malas ke dapur. Mengisi gelas kecil dengan air mineral kemudian menghampiri Airin yang menjadi babysitter dadakan. Airin menerimanya dengan senyum, menguapkan sedikit kekesalan yang bersarang di hati Kakashi. Lelaki itu memutuskan untuk duduk dan memperhatikan mereka.
Naruto memukulkan penggaris pada kepala Kakashi yang memancing kekeh geli dari Airin. Bocah pirang itu tertawa-tawa sambil memukulkannya berulang-ulang. Melihat keasyikan itu, Sasuke beringsut dan ikut memukulkan sesuatu pada kepala Kakashi.
Lelaki itu mengaduh.
Dua bocah itu kesenangan mengganggunya, membuat Kakashi mendesah. Ia beranjak dan merengkuh mereka tanpa kesulitan, membawa kedua bocah itu seolah terbang.
"Hati-hati, Kakashi. Kau bisa membuat mereka terjatuh."
Naruto dan Sasuke terkikik geli karenanya. Airin mendengus, mencoba menahan tawa.
"Kau tampak seperti seorang Ayah sekarang," komentarnya geli. Kakashi menyeringai jahil padanya.
"Loh? Aku 'kan memang calon Ayah dari anak-anak kita," balasnya sambil memicing geli. Memancing rona merah dari sang tunangan. Airin mendengus kesal.
"Urusai!"
Airin mengambil Sasuke yang tampak kelelahan dari gendongan Kakashi. Bocah itu menguap dan menyamankan diri dalam rengkuhan hangat Airin. Naruto yang berada dalam gendongan Kakashi sudah terlelap, membuat lelaki itu tersentak. Sejak kapan bocah ini tidur?
Dengan hati-hati mereka meletakkan kedua bocah itu di tempat tidur. Kakashi mendesah. Akhirnya satu masalah selesai. Ia memberikan pembatas berupa bantal di sisi tempat tidur untuk mencegah Naruto berguling ke bawah.
"Mereka benar-benar manis," ujar Airin.
"Kalau ingin buat anak sekarang tidak masalah," sahut Kakashi. Airin melayangkan tinju penuh sayangnya pada sang tunangan. "Urusai, pervert!"
Kakashi menghembuskan napas. Ia membungkuk dan mengangkat Airin dengan mudah ala bridal style. Airin meronta, menjerit, tetapi Kakashi berhasil membungkamnya.
"Kau tidak mau membangunkan mereka, 'kan?"
Airin bersumpah akan memukul Kakashi sampai lelaki itu tak sanggup tersenyum licik seperti saat ini.
"Nah, saatnya pembalasan," celetuk Kakashi ceria. Airin merasakan firasat buruk. Berusaha turun tetapi Kakashi bukanlah tandingannya—untuk saat ini.
Lelaki itu membawa gadis itu ke sofa, duduk dengan Airin yang berada di pangkuannya. Ia menghembuskan napas, membuat Airin mendesah tak nyaman. Sensasi menggelitik itu menjebaknya dalam dua situasi. Liar dan menggairahkan.
Ia menahan pekikan ketika merasakan gigitan kecil di telinganya. Sial, Kakashi tidak main-main saat berkata akan membalasnya.
"Kakashi ...," lirihnya pelan kemudian mendesah tertahan lagi.
Kakashi menempelkan telunjuk polosnya pada bibir gadis itu, membuat pikiran Airin semakin kacau. Lelaki itu menatap sang tunangan intens, mendominasi iris biru yang tercermin di bola matanya. Wajah Kakashi meneleng, menghapus jarak dan menggigit bibir bawah yang terlihat menggoda itu. Airin tak melepaskannya begitu saja ketika lelaki itu kembali membuat jarak. Ia balas menggigit bibir bawah yang berjarak kurang dari sejengkal itu.
Hal tersebut memancing Kakashi untuk lebih berani.
"Kau nakal," bisiknya sangat pelan bagai mantra yang mampu membekukan tubuh gadis itu. Airin memejamkan mata ketika bibir itu kembali menghampirinya, merasakan sentuhan lembut yang lama kelamaan mulai mendesak, memaksa sang gadis untuk membuka mulut. Gadis itu mengeratkan pegangan pada pundak Kakashi ketika geliat liar organ tak bertulang itu menyusup masuk ke bibirnya. Menyapu tiap sudut yang mampu dijangkau. Kakashi menarik bibir, menumpukan dahi dengan Airin dengan napas tersengal. AC ruangan seolah hanya pajangan di ruang penuh atmosfer yang terasa memanas itu.
Kakashi kembali memejamkan mata, berniat menyusupi rongga mulut itu sekali lagi. Namun, ketika jarak yang tersisa hanya satu centimeter, sebuah tangisan spontan menginterupsi kegiatannya. Dahinya berkedut jengkel dengan posisi yang beku.
Airin yang panik berhasil keluar dari cengkramannya. Menghampiri dengan tergesa-gesa Naruto yang menangis heboh. Ia mengangkat bocah pirang itu, berusaha menenangkannya.
Tangisan Naruto tentu mengganggu Sasuke yang sedang tidur nyaman. Bibir sang Uchiha mengerucut membuat Airin panik.
"Hei, Kakashi! Cepat kemari yang satunya juga mau nangis!" jeritnya panik. Lelaki itu segera menghampiri. Dan pecahlah tangisan kedua bocah itu.
"Naruto-kun, tenanglah ... kau lapar atau bagaimana?"
Bocah Uchiha tak menangis begitu lama, kini lebih tenang dalam rengkuhan Kakashi. Airin tidak mengerti kenapa tapi itu membuatnya bersyukur.
"Kau punya susu?" tanya Airin.
"Ada di kulkas," jawab Kakashi sambil mengerling ke arah dapur.
"Baguslah, tolong tenangkan Naruto sebentar. Biar kupanaskan susu untuknya," ujar Airin yang langsung menyodorkan bocah Namikaze itu pada sang tunangan. Kakashi menerimanya setelah memindahkan Sasuke pada lengan yang satu.
Airin tak memakan waktu terlalu lama untuk menyiapkan susu. Ia segera kembali dan membiarkan Naruto minum dari gelas kecil karena Kakashi tak memiliki peralatan makan bayi. Bocah itu juga tampak tidak menolak. Airin menghela napas.
Kakashi memicing horor ketika mencium bau-bau kematian.
"Sasuke, jangan bilang kau ..." Lelaki itu memutus ucapan dan langsung menyingkap celana serta popok sang bocah Uchiha. Ia meringis.
Kau akan membayar ini, Uchiha Itachi!
Itachi berpapasan dengan Menma ketika akan menuju apartemen Kakashi. Kedua lelaki itu saling melempar tatapan bingung karena bertemu di tempat ini.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Menma.
"Menjemput Sasuke. Kau?"
"Ayah menyuruhku untuk menjemput Naruto. Dia kata menitipkannya pada Kakashi." Mereka saling mengedik kemudian mengetuk pintu rumah Kakashi.
Mereka langsung disambut oleh Kakashi dengan penampilan berantakan dengan Sasuke dalam gendongannya.
"Nii-chan!" jerit Sasuke girang. Kakashi langsung menyerahkannya pada Menma dan berbalik, mengangkat Naruto dan diserahkan pada Itachi.
"Terima kasih kembali," ujarnya kemudian membanting pintu di hadapan kedua lelaki yang bingung itu.
"Ada apa dengannya?" tanya Menma bingung. Ia dan Itachi saling menatap kemudian melempar pandangan pada seonggok daging imut dalam gendongan mereka.
"Adikku!" seru mereka spontan.
Kakashi menghembuskan napas lega. Ia berjalan lunglai, menghampiri Airin yang terlelap setelah kelelahan bermain dengan Naruto. Ia ikut merebahkan diri di samping sang tunangan sambil mencoba menyusup masuk dalam rengkuhan gadis itu. Airin yang baru saja akan menuju alam mimpi disentak lagi, ia menoleh dan tersenyum geli. Gadis itu lalu memeluknya.
"Airin," panggil Kakashi.
"Ya?" balas gadis itu lembut sembari mengusap helaian perak Kakashi.
"Aku merindukanmu," ujarnya. Airin terkekeh geli, mengecup puncak kepala sang tunangan dengan sayang.
"Aku juga," balasnya.
Suara ketukan kembali menyadarkan kedua manusia itu ke dunia nyata. Kakashi memicing jengkel. Ia mengambil langkah panjang dan membuka pintu.
"Ini bukan tempat penitipan bayi!" serunya tanpa memperhatikan tamu yang datang. Sosok pengantar paket itu mengerjap ketika pintu dibanting tepat di depannya. Tak lama, sesosok gadis membuka pintu sambil melempar senyum bersalah.
"Maaf, mana yang harus kutandatangani?"
Dengan bingung, kurir tersebut menunjuk ke buku dalam genggamannya. Airin menandatanganinya singkat kemudian menerima paket itu setelah seruan Kakashi terdengar dari dalam. Ia kembali melempar senyum kecut pada kurir yang telah terbiasa dengan tabiat pengguna jasanya itu.
Airin kembali menghampiri Kakashi yang tertidur di kasur, merengkuh lelaki itu dan mengusap rambut peraknya lembut.
"Dasar bayi besar," kekehnya.
"Selamat atas pernikahan kalian."
Kedua mempelai menyambut ucapan itu dengan senyum tulus kemudian berterima kasih. Tatapan Airin tertuju pada Sasuke yang berada dalam gendongan Itachi, terlihat tampan dengan setelan tuxedo.
"Kau tampan sekali, Sasuke-kun," ujar Airin. Anak itu membalas terima kasih dengan aksen cadelnya.
"Kakashi, Airin-san, selamat atas pernikahan kalian," ujar Menma yang datang sambil menggendong Naruto. Airin tersenyum.
"Terima kasih, Naruto-kun juga tampan sekali."
"Ayo bilang terima kasih sama kakak, Naruto," ujar Menma pada sang adik. Sama dengan Sasuke, bocah itu mengucap terima kasih dengan cadel. Membuatnya mendapat satu kecupan dari sang mempelai wanita.
"Sama-sama, Naruto-kun," ujar Airin yang memancing kikik geli bocah itu.
"Oh ya, ngomong-ngomong kalian berencana punya anak berapa?" tanya Menma tanpa basa-basi. Kedua mempelai itu terkejut, sesaat merasa bingung.
"Tentu saja dua!" sahut seorang wanita paruh baya. Airin meringis. "Kaa-san!"
"Tidak! Empat lebih baik!" sahut suara dari seberang. Kakashi menoleh horor.
"Tou-san ...," rengeknya. Perdebatan pun berlanjut dan kedua mempelai itu hanya bisa menghembuskan napas dengan bahu yang melemas.
Sudah cukup!
Setelah rangkaian acara yang panjang serta perdebatan kecil, akhirnya semua berakhir. Kini Airin benar-benar telah menyandang marga Hatake di belakang namanya. Tangannya terulur untuk mengambil pakaian tidur ketika sepasang lengan dan dada bidang tanpa alas apapun kecuali handuk yang menggantung di pinggang memeluk wanita itu dari belakang. Airin seolah tersengat listrik.
"Sepertinya aku sudah bisa berhenti menahan diri, eh, Nyonya Hatake?"
Airin merinding dengan ekspresi miris. Tubuhnya yang hanya terlilit handuk di angkat dengan mudah oleh sang suami dan dibanting ke kasur.
"Tu-tunggu! Kakashi, kita bisa bicarakan—"
Airin tak dapat melanjutkan kata-kata ketika bibir itu membungkamnya penuh nafsu. Ia menjerit dalam hati.
Tolong!
Kau akan menikmatinya, Airin. Ikuti saja.
Fin
a.n : jadi sebenarnya ini mau saia masukin ke rate T karena konfliknya tergolong ga bikin mumet, tapi gamau saia dituduh menodai kepolosan anak bangsa gara-gara tulisan ini, makanya M for Save :v
masih ada 2 penpik yg on going, doain bisa lanjut ya, minna-san
ciao~
