"Kekenyangan" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Warn : AU, 9 y.o!ApiAir, OOC, gaje, alur berantakan, nggak sesuai EYD, dll.

Prompt : Makan Enak Kenyang Perut Senang Hati

#DrabbleChallengeSpesialRamadhan #Ramabblec

Happy Reading!

.

.

.

Jam menunjukkan pukul 16.37 ketika Air membuka matanya. Ia menguap sebentar, sebelum menyadari Api tertidur pulas di hadapannya. Air bangkit duduk. Menatap sekitar mereka yang dikelilingi dengan berbagai macam mainan. Ah, Air baru ingat ia dan sang kembaran bermain bersama tadi karena bosan sebelum ketiduran di karpet ruang keluarga rumahnya.

Tenggorakan Air begitu kering dan rasanya ingin menenggak minuman dingin jika saja tidak ingat puasa. Air melengos panjang. Masih ada waktu sekitar sejam lebih untuk adzan maghrib diperdengarkan. Air bingung ingin melakukan apa untuk membunuh waktu sekaligus mengalihkannya pada hawa nafsu. Ia sempat berpikiran ingin tidur lagi saat telinganya mendengar suara pisau beradu dengan talenan dari arah dapur.

Air bangkit berdiri. Lantas mengambil langkah menuju ruangan yang hanya beberapa meter dari ruang keluarga. Tiba di ambang pintu dapur, kedua iris matanya mendapati sosok sang mama tengah memotong beberapa sayuran di meja makan siang. Air mengucek mata sembari mendekat ke mamanya.

"Eh? Anak mama udah bangun," Mamanya tersenyum tipis menemukan dirinya duduk di hadapan wanita itu. Air menatap meja makan yang dipenuhi banyak bahan makanan, memancing perutnya meronta kelaparan lagi. Tanpa sadar, Air meneguk ludah ngiler.

"Mama masak apa?" tanyanya penasaran.

Sang mama menaruh hasil potongan kecil sosisnya ke dalam wadah yang sudah diisi wortel dan buncis. "Martabak telor isi sayur sama sosis. Air suka, 'kan?" balas mamanya.

Air mengangguk mengiakan. Ia memerhatikan mamanya yang menggabungkan telor bersama bahan makanan tadi. Mengaduknya hingga rata, sampai memasukkannya ke dalam kulkas.

"Mama udah beli gorengan juga. Air mau apa lagi?" kata sang mama sambil duduk kembali di depannya.

Air diam beberapa saat sebelum menjawab. "Air mau es buah. Sama ayam kecap buatan Mama." ujarnya polos.

Mamanya terkekeh geli. "Boleh, tapi nanti minum es buahnya jangan kebanyakan. Entar kembung, lho,"

Air mengangguk kecil. Baru saja mamanya ingin menyiapkan makanan yang lain, Air kembali bersuara.

"Eh, Air juga mau kolak pisang deh, Ma."

Sang mama hanya tersenyum geli.


Adzan maghrib sudah berkumandang. Air, Api, dan sang mama sudah duduk di kursi meja makan, bersiap menyantap hidangan di depan mereka. Api yang baru tahu menu hari ini langsung melongo kaget mendapati banyaknya makanan di depannya.

"Mama masak banyak banget?" Mata Api mengabsen satu per satu aneka makanan di sana. Ada gorengan seperti bakwan, risol, lontong, tahu, lalu martabak isi sayur, es buah, kolak pisang, dan yang terakhir ayam kecap.

Sang mama hanya terkekeh. "Adik kamu yang minta. Yaudah, mama turutin."

"Tapi kan–" Api masih belum bisa percaya. Ia beralih menatap adik kembarnya yang tengah meminum es buahnya. "Air emangnya kuat ngabisin semua ini?" tanya Api sangsi. Mengingat mereka hanya bertiga di rumah ini, Api jadi ragu semua makanan ini akan habis malam ini juga.

Air menelan sebentar buah semangka dari es buahnya. "Kuat, lah. 'Kan Air belum makan dari pagi," jawabnya kalem. Kemudian menyendok lagi potongan buah di gelasnya.

"Ya kita semua belum makan dari pagi, Aiiiir," ucap Api gemas.

"Sudah, sudah. Nanti kalo nggak abis 'kan bisa dihangatkan buat dimakan besok. Sekarang kalian makan aja, nggak usah ribut." kata mamanya menginterupsi mereka. "Nggak baik lho, berantem di depan rezeki."

Air mengangguk setuju. Dengan cuek, ia kembali menyantap es buahnya.

Meski masih ingin melontarkan pendapatnya, Api akhirnya kembali memakan lontongnya yang tersisa setengah di tangan. Ia menatap tidak yakin makanan di meja, lalu melirik Air. Adiknya itu sudah menghabiskan es buahnya, dan kini mulai beralih mencicipi kolak pisang sang mama.

Api memandangnya takjub. Barusan Air menandaskan dua gelas es buah, sekarang sudah memakan kolaknya? Dirinya yang baru memakan dua lontong saja sudah kenyang. Bagaimana bisa Air tetap menyantap makananannya sesantai ini?

"Air, jangan dimakan semua sekarang. Nanti kekenyangan." peringat mamanya mewakili Api. Keduanya menatap Air yang masih semangat mengunyah pisangnya.

"Iya." katanya. "Nggak akan kekenyangan kok."

Tangan Air menyomot risol di piring tak jauh darinya, memakannya dengan santai.

"Awas lho, kalo kekenyangan. Ntar kamu nggak bisa solat." tegur Api sekali lagi.

"Iya, cerewet deh." gerutu Air.

Mamanya terkekeh melihat kelakuan mereka berdua. "Jangan lupa solat ya, anak-anak Mama." ucapnya. Wanita itu kemudian membingkas dari duduknya.

Tak lama, Api menyusul. Ia berhenti sejenak dulu untuk memanjakan perutnya. Sesuai perkataan mamanya, Api menuju kamarnya untuk solat. Sehingga hanya menyisakan Air seorang di dapur.

Air terus melanjutkan kegiatan makannya. Tidak menuruti teguran mama dan saudaranya. Ia berpuas-puas mengisi perutnya sampai tak ingat setengah jam telah terlewati. Kini Air meneguk kembali es buahnya, mengucap 'ah' saat dirasa tenggorakannya tidak lagi sebab martabak yang ia telan tadi.

Ia kemudian bangkit. Namun, Air refleks memegang perutnya yang terasa sangat penuh. Sambil meringis, Air berjalan ke arah ruang keluarga, lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa. Ia melirik perutnya yang entah sejak kapan sudah buncit.

"Tuh, kan." Tiba-tiba saja Api muncul sembari berkacak pinggang. Ia memang sudah menduga ini akan terjadi. Air memang sangat ngeyel. "Kekenyangan, 'kan? Apa aku bilang tadi." omelnya.

Air cemberut. Merasa dirinya yang salah di sini, ia memilih diam. Toh, Air juga lagi engap karena rasa begahnya. Jadi lebih baik diam daripada semakin menguras tenaganya dengan berdebat dengan Api. Ia hanya memerhatikan sang kakak mendekat menghampiri, lalu memegang perutnya yang seperti balon habis ditiup.

"Air, sumpah! Kamu kayak orang hamil!" seru Api ngawur.

"Mana ada, ih! Api boong!" sungut Air tidak terima. Ia mencebikkan bibirnya kesal.

Api hanya terkekeh. Ia menepuk-nepuk perut adiknya iseng dengan pelan. "Makanya, kalo dibilangin tuh nurut. Ngeyel, sih."

Bibir Air semakin manyun diceramahi seperti itu. "Yaudah iya maaf." gumamnya lesu.

Api lagi-lagi terbahak. Ia tidak peduli dengan delikan mata tajam adiknya. Meledek Air habis-habisan sangat membuatnya merasa puas dan senang.

"Hahahaha! Kamu jadi gendut, Yir. Kayak bakpau." ledeknya sekali lagi.

"ISH, API!"

Air bersumpah, ia tidak akan makan banyak lagi saat berbuka puasa. Tidak akan.

.

.

.

Finizh


a/n :

kok aku ngerasa tulisan aku aneh ya? :")

kayanya gara2 lagi unmood pas nulis. yah, maafin ya gaes kalo gajelas ;_;