moral coward

disclaimer: identity v (c) netease.

warning: ooc. au. typo/misstypo.

sinopsis: ia menggali kubur untuk dirinya, dan ia mencuri dari kubur itu sebuah nama.

note: ini aturan buat songbirds and rattlesnake tapi dah nembus 2k word haha ups goblok gw keasikan nulisnya maap nyampah

note2: minim riset, maaf kalo rada aneh

.


.

Ketika ia mendengar berita bahwa akan ada proyek galian tambang di atas bukit itu, Chloe hanya mengangguk dua kali tanpa mempertimbangkan baik-buruknya kehadiran proyek itu. Ia menuangkan ekstrak mawar ke dalam botol kaca berisi alkohol, tak lagi memfokuskan inderanya pada serangkai kata yang keluar dari mulut Craig.

Lalu apa urusannya denganku? Ia bertanya dalam hatinya, kala Craig kembali mengungkit pertambangan di atas bukit—ia tidak tahu, dan ia tidak ingin tahu. Ia tidak peduli pada apapun yang terjadi di atas sana.

Ia berfokus pada rangkaian bunga kering di dalam vas kaca, larut dalam pekerjaannya.


Ia mulai menggali kuburnya sendiri pada siang hari kala matahari berada di atas mahkotanya.

Vera tak memiliki prasangka apapun kala ia diminta pergi untuk mengambilkan bunga di puncak bukit itu—bunga itu yang terbaik, khas daerah sini. Dengan naif Vera bilang padanya bahwa ia percaya bahwa hanya talenta Chloe yang dapat menjadikan wewangian bunga itu spesial, dari Grasse dengan penuh cinta.

Ia meminta maaf pada Vera kala tangannya membawa gaya pada punggung kecil saudara perempuannya, memaksa gravitasi menyeretnya jatuh ke dalam jurang di bawah; keterpurukan, seperti apa yang Vera sajikan atasnya dengan membuka toko parfum itu.

Ketika ayahnya bertanya ke mana Chloe pergi, ia membalas, "Apa urusannya denganku?"

Dingin dan tanpa emosi, tak ada simpati ataupun bingung yang ia buat-buat—Craig mengingat pertengkaran hebat mereka kemarin, jadi ia tak mengatakan apapun. Ia mengingat hati yang diremukkan dengan kata-kata yang tak Chloe maksud, mungkin inilah caranya meminta maaf pada Vera, pikirnya. Anak perempuannya memang rumit dalam mengekspresikan dirinya.

Sedangkan Vera tak lagi memikirkan Chloe—ia menggali kubur untuk dirinya, dan ia mencuri dari kubur itu sebuah nama.


Ketika proyek tambangnya meledak, gemuruh perut bumi seolah menolak tim penyelamat yang ingin menggali masuk untuk menyelamatkan mereka yang terjebak di dalamnya. Serangkai keluarga turis yang datang ke tokonya nampak gelisah, jadi Vera membungkuskan geranium kering pada tas kertas belanja mereka, agar mereka melupakan ketidaknyamanan yang adalah tragedi di tengah liburan mereka.

Dua kelopak mawar, lima batang cendana yang disulingkan, setangkai geranium, dan ekstrak bois de rose [1]—ia menyiram lehernya dengan kombinasi itu, mengingatkannya pada Vera yang seharusnya ada di sini, berdiri dengan kaki menapaki tanah (dan bukan seperti penyesalan yang berdiri pada ekor matanya, menghantuinya dengan bertanya, "Mengapa?")

Euforia, ia menyebutnya—karena hanya Vera yang mampu membuatnya merasa demikian. Ia menuangkan minyaknya pada tangannya tiap kali ia mengingat seorang Chloe Nair: borgol yang merantainya dengan realita yang ia bangun dari fantasinya, bahwa ia adalah Vera Nair.

Lama-lama, Vera tak mengingat apakah garis antara karakter saudara itu benar-benar nyata atau hanya imajinasinya.


Jalan setapak di depan tambang dipenuhi banyak orang yang berlalu-lalang, simpatisan dan pengamat memenuhi hingga beberapa orang berdiri pada batu di tepi jurang untuk melihat mulut tambang yang melahap hadirnya regu penyelamat untuk sekali lagi melakukan ekspedisi masuk ke dalam perutnya.

Vera mengambil jalan memutar demi mencapai puncak bukit untuk mengambil bunga-bunga lainnya untuk jajaran produk parfum barunya, hingga ia menyadari tangan manusia tertimbun di antara tanah basah lumpur dan bebatuan.

Awalnya ia hanya berjalan melewatinya—menggumamkan, "Bukan urusanku, kan?"—namun ketika ia pulang dari urusannya, ia menghentikan langkahnya. Vera menegadah dan mengamati langit yang semakin mendung tanda hujan akan turun, dan angin ribut pertanda akan datang badai menyisir rambutnya.

Matanya mengamati tangan itu, bergeming tanpa gerak.

Hingga jari itu mengejang dan menyentak.

Ia mengamatinya, tak tergerak untuk melakukan suatu apa pun. "Anda masih hidup?"

Tak ada jawaban. Vera menghela napas—ia meletakkan keranjangnya dan menanggalkan sarung tangan kainnya (lalu berhenti, dan mengenakannya lagi, ia tidak mau tangannya menjadi kotor). Ia mulai menggali, menyingkirkan bebatuan yang menghalanginya dengan orang yang tertimbun, hingga ia berhenti kala melihat tanah gambus bercampur darah—

Dan mahkota pria itu, tak berbinar megah dengan kehidupan. Ia menarik tangan tersebut. Ia berhenti. Mungkin ia harus menggali lebih lagi karena tubuh pria itu tak bergerak barang satu senti pun dari tempatnya.

Jadi ia kembali menggali.


Ia menarik pria itu keluar dari apa yang seharusnya merupakan peristirahatan terakhirnya.

Napasnya cepat kala kerjanya telah usai, ia membungkukkan tubuhnya, tangannya bertumpu pada lututnya di balik gaun kasualnya selagi ia mengatur napasnya. Ia menyeka peluh dari dahinya, mengamati pria di bawah kakinya. Matanya terpejam erat; nampak tak akan bangun dalam waktu dekat.

Vera berpikir untuk memanggil relawan di depan tambang.

"Jangan..."

Ia menoleh, pria itu telah bangun, matanya satu memandang lemas Vera—cepat sekali. "Jangan laporkan... aku—"

Vera meluruskan kerutan pada pakaiannya—tak lagi peduli pada lumpur yang menempel pada pakaiannya. Ia balas pria itu, "Aku tak akan mampu mengevakuasimu ke tempat yang lebih baik dari ini. Aku akan memanggil mereka untuk mengurusmu."

Ia mengambil keranjangnya dan berjalan melewati pria itu.

Ia nyaris tersandung kakinya sendiri ketika tangan pria itu melingkar pada pergelangan kakinya—menahannya pada posisinya berdiri saat itu. Vera menghentakkan kakinya, menoleh ke belakang untuk bertemu pandang dengan pria itu, wajahnya berlumur darah dan memperlihatkan lapisan dagingnya yang terbuka dan... ah, berdarah. Terbakar. Parah.

Ia meringis.

"Ini bukan urusanku." Vera menekankan padanya.

"Kumohon." Pria itu balas, seolah kelanjutan hidupnya digantungkan oleh keputusan yang akan Vera ambil.

Jadi Vera hanya menghela napas kala itu. "Mengapa kau tidak mati saja di dalam sana?" ia bergumam, lalu dengan volume yang sedikit keras, "Kakimu masih sehat, kan?"


Ia kembali mengenakan euforia kala mengingat bayangan Chloe yang seharusnya adalah dirinya.

Namun yang mengerikan baginya bukanlah bayangan kembar dirinya yang semakin hari semakin sering menampakkan dirinya, yang mengerikan baginya adalah bibir pucat yang pasi tanpa kehidupan, bergerak dan mengatakan, "Aku akan selamanya mencintaimu."

Vera menyerahkan secangkir teh hangat pada pria tambang itu; diterima dengan senang hati, kendati jemari yang gemetaran seolah sedang berusaha menopang seluruh dunia pada ujungnya. "Terima kasih."

"Lekas pergi, aku tidak menerima pasilan dalam kediamanku." Ia bilang, hampa emosi.

"Ah, tapi—" pria itu cepat meraih saku pakaiannya, lalu mengeluarkan keping-demi-keping emas yang berbalut hitam arang; Vera memandangnya, tak tahu harus memaknai gestur demikian seperti apa. "Bagaimana?"

"'Bagaimana' apa maksudmu?"

Pria itu menyesap tehnya, lidahnya terjulur kala ia menjauh dari bibir cangkir—Vera mendelik menyaksikan isyarat tak sopan demikian, namun tak mengatakan apapun. "Izinkan aku tinggal di sini selama beberapa minggu?"

Vera menghela napas. "Enyahlah esok."

"Ayolah—!" pria itu merengek—seperti anak-anak, ia mengayunkan kakinya (bila ia sudah memiliki tenaga untuk itu, seharusnya ia cepat angkat kaki dari sini!) "—tidakkah kau mau membukakan pintu hatimu untuk jiwa malang sepertiku?"

"Terakhir aku melakukan demikian, orang itu mengkhianatiku dan mencampakkanku dari apa yang seharusnya menjadi milikku." Ia mengamati pria itu, menjadi tenang dan larut dalam pikirannya, berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Vera. Pria itu memandangnya, hendak membalas, namun Vera memotong, "Lekas pergi, kubilang."

"Tapi—"

"Tidak."

"Ughhhh." Ia menghela napas, menyerah. Vera pun menjadi lega—pria itu kembali menyesap tehnya, dan Vera berbalik meninggalkannya di ruang tamu kediamannya. Mengundang orang asing ke rumahnya merupakan ide yang buruk, namun mengingat orang ini mematahkan kakinya (membutakan dan menulikan satu mata dan telinganya, nyaris kehilangan jari-jarinya, dan berbagai hal ajaib lain yang entah mengapa gagal membunuhnya) di dalam tambang itu (dan menolak bantuan dari orang yang lebih terkualifikasi untuk menangani lukanya), ia sama saja dengan serigala sakit gigi dalam kandang domba.

"Hei, bagaimana dengan pakaian kotorku? Kau akan cucikan?"

"Panggil saja aku nanti, aku akan mengurusnya." Apapun akan Vera lakukan untuk membuat orang ini buru-buru minggat.

"Dengan apa aku harus memanggilmu? Thérèse Raquin? Estella Havisham? Oh, aku tahu—Wednesday Addams [2]?"

Ia berbalik, memandang pria itu dengan dengki. Ia tidak pernah menyukai perkenalan karena—

"Vera. Namaku Vera."

(Pahit dan menyesakkan.)

Pria itu tidak menunjukkan kecurigaannya pada keragu-raguan yang selalu menjadi konstan kala perkenalannya dengan nama Vera. Bila ia merasa pun, ia menyembunyikannya dengan sangat mahir.

"Norton, kalau begitu."


"Mengapa kau menolak ketika aku ingin mencari bantuan regu penyelamat untukmu?"

Vera meletakkan cangkirnya dan membalikkan sendok dan garpunya di atas piring makan. Ia menyaksikan Norton menggali kentang tumbuk yang telah berada di atas piringnya, lalu berhenti dan memandang Vera. Matanya berkedip dua kali, sebelah kiri lebih lambat dan tak fokus pada objek yang dituju.

"Oh, karena... aku ingin kembali lagi nanti. Ke tambang itu."

"Untuk?"

Norton tersenyum padanya. "Rahasia."

Ia memandang pria itu dengan mata memicing (dijawab dengan Norton yang mengangkat kedua bahunya, senyum lebar masih terkembang), lalu menggulirkan bola matanya dan berdiri dari kursinya, membawa serta alat makan yang harus dicuci.

"Veraaa, bagaimana dengan piringku? Aku masih sulit berdiri—"

"Cuci saja sendiri." Vera menjawab dengan ketus. "Bukan urusanku."


Kala tokonya sepi pengunjung, Vera menghabiskan waktu di belakang kounternya dengan membaca novel picisan yang tangannya dapat raih—sembari mengingatkan dirinya bahwa buku-buku ini adalah miliknya, Vera Nair. Le Fantôme de l'Opéra—Phantom of the Opera, tertulis pada sampulnya; buku ini versi terjemahan bahasa Inggris. Ada pembatas buku dan lipatan di sisi kanan halaman terakhir yang Vera baca.

Vera melanjutkan bacaannya dari baris pertama halaman itu—tidak peduli bahwa paragraf selanjutnya tak dapat ia pahami.

Ia melanjutkan bacaannya, terus menerobos kalimat-demi-kalimat meskipun ia tak memahami apa yang terjadi—ia yakin ia dapat memahaminya nanti, menyatukan keping-demi-keping cerita yang dipaparkan tiap karakternya hingga menjadi garis besar yang utuh.

Hingga—"Hei, Vera!"

Ahli parfum itu membanting rapat buku bacaannya, matanya melotot pada Norton yang melangkah pincang memasuki toko dari pintu belakang. Apapun yang pria itu ingin katakan padanya terbang dibawa angin kala mata Norton mendarat pada buku bacaan yang Vera banting ke atas kounter.

"Oh, Phantom of the Opera! Kau—"

"Tidak, aku tidak menyukainya." Vera bilang, tangannya terkepal. Ia tidak peduli apabila Norton tak ingin menanyakan pertanyaan omong kosong seperti, 'Kau menyukainya?' atau semacam itu—buku ini bukanlah bacaan miliknya. "Apa yang kau lakukan, sesuka hati masuk ke toko."

Norton nampak sedikit tak menyukai Vera yang menyela pertanyaannya, namun ia cepat kembali pada dirinya sedia kala, mengatakan dengan ceria, "Kurasa lukaku kembali terbuka."

"Lalu?"

Pria itu merungut. Vera berkacak pinggang—tidak. Lagi. Orang ini. Pour l'amour du ciel!—lukanya sudah terlalu sering dibalut ulang (ia menghitung dengan jari: tiga kali!), dan itu hanya selama kurang dari satu minggu. Bagaimana minggu depan—asumsikan ia akan tinggal di sini hingga lukanya sembuh total. "Aku sudah bilang, jangan terlalu banyak bergerak, kau ini hiperaktif atau memang idiot, aku tidak bisa membedakannya."

"Tapi—!" Norton melangkah mendekatinya—langkahnya melompat dan berderap (seperti anak-anak, ia pikir menyebalkan—namun sisi lain yang mengkhianatinya melabeli tingkah itu dengan sebutan 'lucu'), lalu menyandarkan tubuhnya pada sisi kounter kayu, memandang Vera diikuti dengan helaan napas frustrasi. "Aku tidak banyak bergerak, sumpah!—hanya saja tadi tubuhku terantuk pinggir bufet, jadi aku sedikit paranoid, siapa tahu kalau lukanya kembali terbuka—"

Vera memelototinya—metode ampuh untuk menghentikan pria itu berceloteh nonstop. "Dengar—kau membayarku, memang, tapi bukan berarti aku harus mendedikasikan tiap jam yang kumiliki untukmu."

"Bagaimana kalau aku mati? Aku belum menikah!"

Ia memijit dahinya, dengan risih mengembalikan pandangannya pada Norton. Vera menenangkan dirinya. "Kau tahu, di tempat ini, ada pepatah yang mengatakan, ce n'est pas mon problème—kau tahu artinya?" ketika Norton menjawab dengan menggelengkan kepalanya, Vera menggebrak kounter dengan sekuat tenaganya mengikuti tiap silabel, matanya tajam memandang Norton. "Itu. Bukan. Urusanku!"

"Anu, maaf..."

Wanita itu menoleh pada mulut pintu toko, di sana, seorang gadis belia berdiri dengan bola mata terbelalak dan ketakutan, tubuhnya sedikit menegang setelah menyaksikan apa yang terjadi. "Um... apa toko anda buka?"

Vera menghela napas. Kepalanya tertunduk—ia menggesturkan seluruh toko dan mengalihkan pandangannya pada gadis di mulut pintu. Kakinya diangkat untuk menopang tubuhnya melangkah pada pelanggannya. "Ya, toko ini buka. Maaf telah mengejutkan anda."

Norton meraih tangannya, menahan Vera agar tak melangkah lebih jauh daripadanya—ketika Vera berbalik, Norton tak mengatakan apapun, hanya memandangnya dengan ekspresi yang tak pernah ia tampilkan sebelumnya. Mata mereka bertemu—ini pertama kalinya ia memandang pria itu, tak lagi dibaluti pesona kanak-kanak yang naif dan ceria.

Ia tersadar dari apapun itu yang menghipnotisnya. Ia mendecih, tangannya ditarik dari cengkeraman Norton lalu langkahnya buru-buru menjauhinya.


"Bersikap lebih ramah pada orang lain tidak akan membunuhmu."

Vera meletakkan sendoknya rata di atas piring porselen yang semula terisi dengan makan malamnya, semuanya telah nyaman di dalam perutnya. "Aku tahu seseorang yang mati karena terlalu ramah."

Ia mengingat saudaranya yang memandangnya lembut, mendengar ceritanya seolah tidak ada hal lain yang lebih penting di dunia ini dan senyum ramah dan naif yang selalu menghiasi wajahnya seolah ia tidak memiliki setitik pun bibit kedengkian dalam hatinya—tapi ia tertawa lantang di dalam hatinya untuk mengisi hampa pada jiwanya, jangan pernah sekalipun menilai buku dari sampulnya, kan?

"Personal?"

Vera menggelengkan kepalanya—tidak ingin mengarahkan Norton pada asumsi yang tepat, ia berdalih, "Orang lain. Kudengar ia berkhianat. Faux-jeton, aku tidak menyukai orang seperti itu."

Norton kembali makan, tidak sepenuhnya tertarik untuk melanjutkan percakapan mereka. Vera mengamati tangannya yang kikuk dan kadang kesulitan mengkoordinasikan sendok dan letak mulutnya, membuatnya tersenyum geli melihat pria itu yang menunjukkan kerisihan akibat cacat temporalnya. Senyumannya tak dilewatkan pria ini, meskipun hanya kecil dan tidak berarti—pria itu membalas senyum yang terkembang dengan seringai lebih lebar, kekanak-kanakan.

"Tersenyumlah sedikit lagi!" ia mendukung, bersorak girang pada Vera yang menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Pria itu berhenti memperhatikan makan malamnya yang belum dihabiskan.

"Aku akan tersenyum bila kau minggat atau meninggal sekarang juga." Balasnya. Ia mengangkat piringnya untuk dicuci, berbalik memunggungi pria itu, berusaha untuk tak tersenyum.


Ketika esok hari ia kembali menemukan Norton melangkah masuk ke tokonya sebelum ia sempat membalikkan tanda buka toko, ia menghentikan pria itu dengan sentakan pada bahunya yang mengendap-endap berusaha memasuki toko, lantas bertanya, "Apa yang kau lakukan?"

Pria itu meringis kesakitan (mungkin salah Vera yang terlalu kasar pada sapaannya), pelan-pelan berbalik dan tersenyum gugup pada Vera. "Jangan parno seperti itulah, aku hanya ingin mencarimu."

"Aku?" Vera bertanya balik, mengharapkan pria itu merespon dengan keluhan-keluhan kecil—'Bantalnya kurang empuk!' atau 'Selimutnya bau iler!' seperti biasanya. "Apa yang kau inginkan?"

"Mesin waktu!"

Tentu saja jawabannya akan melenceng dan absurd; sebenarnya apa yang Vera harapkan dari pria ini? "Apa yang kau inginkan dariku." Ia meralat.

"Aku hanya ingin minta maaf soal yang kemarin, di toko." Norton mengusap tengkuknya, senyumnya sedikit bersalah. Mengingat lagi—pria ini hanya menyulut emosinya di waktu yang kurang tepat. Vera tidak benar-benar membencinya—tapi mungkin ia mendapatkan kesan demikian usai amarah membeludak yang kemarin meledak akibat kata-katanya. "Kurasa aku memang berlebihan."

Vera membuka pintu toko. "Ah, kurasa... aku juga minta maaf. Kau... hanya mengusikku saat aku sedang..."

Tidak stabil, sedikit melankolis akibat ingatan kaburnya terhadap Vera, saudara perempuannya?—di atas buku itu, jejak kehidupannya yang tidak sampai hati ia singkirkan, tak peduli seberapa getir hatinya merasa.

"Yah." Ia menghela napas, tidak—ia tidak perlu mengetahui itu.

Mungkin Norton mengide—apapun itu idenya salah. Mencoba untuk mencerna kalimat yang sebelumnya lari dari mulutnya, rasanya terdengar seperti ia sedang berada di masa-masa yang mencobai itu, tiap 30 hari sekali. Berkat dan kutukan dalam darah—berkat karena ia terbukti sekali lagi masih perawan, dan kutukan karena ia masih perawan.

Itu menyedihkan. Tapi juga menyenangkan.

Vera merasa kebingungan dengan konflik emosinya tiap 30 hari sekali ini (dan yang ini di luar jadwal)—tapi mungkin itu dapat ia rasionalkan lain waktu.

"Oh—! Aku paham, aku paham," pria itu tersenyum lebar. Tangannya dengan karib melingkar pada bahu Vera dan menepuk punggung wanita itu dua kali—"Maaf kalau itu menyakitimu, aku tidak bermaksud..."—lalu tertawa keras-keras. "Syukurlah! Kukira kau membenciku!"

"Apa maksudmu, 'kukira'? Aku memang membencimu."

"Mhm! Tentu, tentu."


Ia melihat Chloe dalam cermin di kamarnya, dan menggunakan euforia membuat permukaan cermin itu memantulkan kembali senyuman Vera yang polos dan natural. Pagi itu, Vera menata rambutnya—bersenandung kecil pada dirinya sendiri karena pagi harinya tidak diganggu oleh Norton yang gelisah karena ia merasa 'sekarat'.

Pagi itu, ia menemukan diari di dalam kompartemen tersembunyi laci mejanya.


Pagi itu, Vera meletakkan sarapan di atas meja, hanya bubur putih.

Ia tidak selera memasak apapun meskipun kemarin sudah berjanji untuk membuat panekuk atau wafel untuk Norton. Ketika ia duduk, Norton bangkit dari peristirahatannya di sofa ruang tengah. Ia meregangkan tubuhnya dan melangkah gontai mendekati meja makan. Ia memandang bubur di atas meja, lalu mengangkat bahunya (sedikit kecewa, namun masih terlalu pagi untuk protes) dan menarik kursi agar ia bisa duduk. Ia menyendoki bubur yang ada ke mulutnya, matanya terpejam dengan koordinasi yang semakin hari semakin baik, belum sepenuhnya bergabung dengan kesadarannya.

Setidaknya, Vera dapat menikmati kesunyian ini.

Ketika Norton membuka matanya dan menyaksikan Vera dan gelagat anehnya, ia bertanya, "Kau habis menangis?" dengan kasual, seolah baru saja menanyakan, 'apa kau sibuk hari ini?'

Vera mengangkat kepalanya dari sarapan yang ia buat setengah hati. "Bukan urusanmu."

Tapi Norton tak memahami itu. Ia mendorong lagi, "Kau tahu, Vera—"

"Aku bukan Vera."

Norton menghentikan kegiatannya dan mengalihkan perhatiannya pada wanita itu. Ia melihat Vera di hadapannya—Vera yang sama seperti yang kemarin membentak dan mencibirnya, mengganti perban dan mengingatkannya untuk meminum aspirin yang telah tersedia—dan tertawa. "Oke, dan aku bukan Norton. Heya, namaku Erik [3]."

Ia menggesturkan wajahnya.

Vera tertawa hampa, berusaha menanggapi pernyataan Norton sama seperti dengan humor yang biasa menyusuri tiap kata yang keluar dari mulutnya—namun ia gagal, dan hanya kesedihan yang mampu menjalar pada hatinya. Ia ingin mengatakannya pada Norton ("Aku tidak bercanda,"), namun pria ini tidak perlu mengetahuinya, kan?—Norton hanya orang luar, ia akan segera angkat kaki dari kehidupan Vera Nair, cepat atau lambat (hati kecilnya berharap secepat mungkin.)

Tapi setelah lama mereka tinggal seatap, Vera tahu bahwa Norton dapat membacanya dengan mudah—kemampuan itu adalah suatu hal yang merampok Vera dari kemungkinan bahwa percakapan ini tidak akan berakhir dengan emosi labilnya yang lepas kendali. Kemudian, tawa pria itu tertahan pada tenggorokannya, dan senyumnya jatuh kala bibirnya kembali melontarkan pertanyaan, "Kau baik-baik saja?"

"Mungkin mesin waktu bukanlah hal yang buruk." Ia bergumam, mengingat apa yang Norton ucapkan kemarin. Ketika ia mendengar Vera mengatakan itu, pria itu seolah memahaminya—segera memahaminya.

"Oh... kau..."

Menyesali sesuatu.

"Kau menemukan kerangka yang tidak kau ketahui ada di dalam almarimu?"

Penambang itu memandang Vera dengan alis bertaut dan tatapan lembut seolah wanita di ujung lain meja makan adalah anak kecil yang perlu disikapi seolah ia adalah cina rapuh. "Ini... memang bukan urusanku, tapi... kau tidak bisa menarik kembali apapun yang telah kau perbuat di masa lalu."

"Kau pernah?" Vera bertanya pada pria itu.

"Tambang itu." ia bilang, ekspresinya muram ketika ingatan masa lalu terbersit dalam kilatan matanya. Pria itu kembali memakan sarapannya dengan kasual—sendoknya meleset sekali dari mulutnya yang menganga. "Tapi, mm—yang bisa kau lakukan adalah melanjutkan kehidupanmu, menerima pasang-surut kehidupan dengan tangan terbuka—hantu hanya akan menghantuimu bila kau merasa bersalah padanya, lagipula, jangan terlalu dipikirkan."

"Kata-katamu enteng sekali."

"Karena bila kau tidak melihatnya, kau tidak akan mengetahuinya, jadi kau tidak akan memikirkannya."

Pria itu menghabiskan sarapannya buru-buru—lalu bilang pada Vera, "Hei, terima kasih, kurasa ini lebih baik dari apa yang kau janjikan tadi malam. Kau... umm... berbakat! Membuat bubur... teksturnya sempurna! Mungkin lebih baik tambahkan sesuatu besok—aku yakin akan lebih nikmat."

Setelah itu, Norton segera pergi meninggalkan Vera di ruang makan—ingin mandi, katanya—tapi Vera tahu pria itu hanya berdalih, karena ia tidak ingin terlibat lebih jauh pada apapun itu pergumulan Vera. Ia tahu pria itu hanya mengatakan omong kosong bahwa sarapan hari ini cukup nikmat untuk menghibur Vera atas apapun yang membebani pikirannya.

Apapun itu yang Norton katakan padanya terbukti efektif karena perlahan-lahan ia kembali mampu menenangkan dirinya.

Vera tertawa kecil usai menyeka air mata yang jatuh pada pipinya. Ia kembali memakan bubur yang mulai dingin—tak ada rasa karena ia tak memberikan bumbu apapun saat memasaknya.

"Norton kau idiot." Ia bergumam. "Bubur ini hambar."


"Mungkin aku akan kembali ke tambang." Norton mengatakan padanya pada saat mereka makan malam dan duduk berhadapan.

Meskipun ia seharusnya senang Norton akan pergi meninggalkan rumahnya, Vera merasa sedikit terusik dengan kalimat itu—mungkin karena tidak adanya pernyataan eksplisit bahwa ia tidak akan kembali ke kediaman Vera. Apapun itu membuat lidahnya bergerak tidak nyaman dalam rongga mulutnya, gatal membalas dengan pertanyaan yang dapat melepaskan simpul yang melilit dadanya.

Norton tersenyum padanya—matanya berbinar girang dan senyumnya jahil. "Aku akan kembali, kau tidak perlu sedih seperti itu!"

"Siapa yang sedih?"

"Hehe—kau." Vera memelototinya—membuat Norton berdehem ('tapi wajahmu memerah!'). "Aku tidak mungkin kan tidak membayarmu atas jasamu yang menjagaku hingga aku pulih total dan sehat seperti ini."

"Memang... ada apa lagi di tambang itu?" Vera bertanya, penasaran. Mengingat kemalangan yang terjadi telah lewat beberapa bulan, perlahan semua orang telah melupakan tambang itu—tapi Norton tetap tak mau pergi meskipun lukanya telah lama pulih. Ia tahu ada emas—mengingat Norton menyogoknya dengan beberapa bongkahan emas yang laku keras dengan harga tinggi—tapi apakah ada hal lain di dalam sana yang membuat Norton tak takut kembali masuk pada gua singa yang nyaris merampas hidupnya?

"Kekayaan."

"Lalu?"

"Pengalaman."

"Itu bukanlah—ugh. Oke, lalu?"

"Emas, tentu saja!" ia bersorak, pria itu, dan Vera merasa tali kesabarannya semakin menipis untuk menghadapi Norton hari itu.

Ia menghela napas, meraih gelas tehnya dan menyesap sedikit. "Jadi kapan kau akan meninggalkan rumahku?"

Vera memutuskan untuk mengabaikan dadanya yang terasa menyempit tiap kali ia mengingat bahwa Norton tidak seharusnya berada di sini. Semenjak Norton mengisi hari-harinya.

"Besok?" Norton bertanya pada dirinya sendiri. "Kurasa besok."

"Tidak, maksudku—kapan kau akan pergi, pergi dari rumah ini?"

Pertanyaan itu membuat Norton memandangnya, lalu berkedip tidak percaya. Ketika ia menyadari apa yang dimaksud, Vera melihat bahunya sedikit turun, dan ekspresinya terlipat menjadi sedikit diliputi lara. "Oh—um, mungkin... setelah aku menyerahkan balas budiku untukmu? Entah."

"Sebentar sekali."

"Memang."

Mereka kembali diam. Sunyi yang ada entah kenapa terasa lebih menusuk dan tak ramah. Vera berusaha mengabaikannya dengan memakan apapun yang ada di atas piring dengan sedikit-sedikit, namun suara denting alat makan yang mengisi sepi membuatnya tak dapat mengabaikan perasaan alien di antara ia dan Norton—rasanya teramat canggung.

"Vera..."

Sang ahli parfum mengangkat kepalanya. "Terima kasih. Kau—aku tidak pernah diperhatikan perempuan sebelumnya, jadi—aku benar-benar menyukainya. Waktuku di sini. Bersamamu."

Ia menelan salivanya. Getir. Sedikit harga dirinya. Pipinya menghangat. "Tetap—perjanjian kita waktu itu, kau harus... pergi."

"Aku ingat itu."

"...maaf."

Esoknya, Norton tidak bergabung bersamanya untuk sarapan. Atau makan siang. Dan makan malam.

Awalnya Vera pikir ini akan mudah, mengembalikan hidupnya yang dahulu sebelum Norton datang merusuh. Ia hanya perlu kembali beradaptasi dengan dinginnya suhu ruangan tiap kali ia menginjakkan kaki ke ruang tengah. Tidak lagi perlu mendengar seseorang tertawa dan komplain tentang apapun itu yang mengusiknya. Tidak perlu menyiapkan piring untuk dua orang. Tidak perlu mencuci baju dan celana ekstra—dan merasa jijik usai harus dihadapkan dengan celana dalam pria yang bekas dipakai, bergabung bersama tornado yang adalah cucian di dalam mesin.

Namun kembali pada kondisi yang dulu berarti kembali mengundang hantu yang menghantuinya tiap kali ia berkedip.

Dan Vera belum siap untuk ditemani hantu itu—sedangkan hantu Vera ada di mana-mana.


Satu minggu berlalu dan kehadiran Norton telah sepenuhnya terhapus dari tiap ruangan rumah yang menjadi dingin—ia membuang sikat giginya, mencuci handuk yang dipakai, mengembalikan piring porselen pada rak dan menunggunya hingga berdebu di atas sana, dan gelas, lalu pakaian yang ia beli untuk Norton selama ia tinggal di sini... mungkin membakarnya. Ia harus membakar kaos ini.

Vera mencubit dirinya saat selimut dan bantal yang ia cuci ia kembali letakkan di atas sofa ruang tengah.

Lalu melihat hantu itu lagi—suara lembutnya masih sama seperti dalam ingatannya, memanggil dengan mengatakan, 'aku mencintaimu,'

Ia tidak merindukan penambang itu.

Ia tidak merindukan sampah itu, koreksinya.

Seharusnya.

Namun malam hari itu—saat ia sedang (tidak) menikmati makan malamnya yang hening dan hambar tanpa adanya cekcok kasual dengan penumpang gratisan di rumahnya—ketika pintu rumahnya didobrak paksa dan seseorang memanggil namanya dengan bising rusuh yang telah familiar membekas dalam kesadarannya, refleks kakinya membuatnya terlonjak amat cepat dan meninggalkan meja makan untuk menyambut suara yang datang.

Menahan segala hasrat untuk meraih pria itu yang kembali mengisi kosong hatinya dengan omong kosong dalam tiap kalimat yang keluar dari mulutnya, napasnya masih berantakan kala ia bilang, "Kau pulang." untuk meyakinkan dirinya bahwa pria itu kembali—raga pria itu telah ada, kembali di sini dan Vera menggali sabit pada telapak tangannya, menyakiti dirinya sendiri untuk mengandaskan dirinya bahwa ini benar terjadi.

Pria itu tersenyum lebar, ia tak melepaskan sepatunya yang masih kotor dengan lumpur dan aspal di solnya—dengan karib melingkarkan tangannya pada bahu Vera yang tak melawan sergapan itu. Ia dapat mencium lumpur dan mineral lain kala hidungnya dikuburkan pada bahunya, tangannya malu-malu merantai punggung Norton dengannya.

"Maaf aku tidak bilang apa-apa saat aku pergi." pria itu bilang. Satu tangannya meninggalkan Vera dan pergi untuk merogoh sakunya—Vera tak peduli, karena apapun itu yang Norton ingin perlihatkan (entah itu benda rongsok yang ia temukan di jalanan atau objek usang yang nampak bernilai di toko antik) nilainya tak seberapa dengan apa yang telah diberikan padanya saat ini.

"Vera."

Tangannya semakin erat mendekap pria itu.

"Hei, lepaskan aku."

Jari-jarinya tertekuk dan mencengkeram pakaian pria itu.

"...maaf, kurasa? Lepaskan aku—kau harus lihat ini. Kau aneh semenjak aku pulang, kau tahu? Kepalamu terbentur atau kenapa?"

Kepalan tangannya memukul pria itu keras, pelan-pelan ia memperlihatkan wajahnya pada Norton—

"Oh." responnya. Vera membuang pandangannya, mengusap matanya dengan lengan pakaiannya. Pria itu meraih pipi Vera unntuk menghapus air mata yang mengalir. Ia tersenyum geli, membuat Vera menepis tangannya dan mendorongnya menjauh, namun Norton tak menghentikan perbuatannya. "Hei—lihat ini, kau perempuan pertama yang menangisiku, kau tahu?"

"Berisik."

"Ah, tapi mungkin ibuku menangisiku. Jadi mungkin kau perempuan kedua—tapi kau satu-satunya perempuan hidup yang menangisiku!" Norton meremas lengan Vera, membuat wanita itu mengangkat pandangannya untuk bertemu dengan pria itu, wajahnya tak berubah; cacat dari ledakan tambang itu masih berbekas, namun jari-jari waktu telah merajut lukanya tertutup. Matanya masih memandang Vera—keduanya fokus dan tak lagi kikuk mencari-cari objek yang ingin ia lihat—memandang lurus pada Vera.

Bila mata adalah jendela jiwa, mungkin Norton telah lari tungganglanggang menjauhinya setelah melihat sedikit keburukan jiwa Vera.

Namun ia tidak meninggalkan Vera, mengetahui seberapa kesepian wanita itu.

"Jadi?" Norton menyeringai.

"'Jadi' apa?" dengan sedikit risih wanita itu menjawab.

"Kau tidak melihat ini?"

Norton memperlihatkan tangannya yang terkepal di hadapan wajah Vera, lalu membukanya seperti bunga terkembang pada musim semi.

"Jangan salah sangka dulu! Aku tidak memintamu untuk menikahiku (bila kau tidak mau), tapi kupikir, karena kau perempuan dan sama sekali tidak imut, aku pikir ini dapat memperimut dirimu—"

Vera memandang objek itu.

"—lagipula, kau bisa menjualnya, juga! Emas murni! Lumayan di pasar. Lihat? Ini ekslusif; satu-satunya di dunia ini, spesial untukmu. Aku membuatnya sendiri dari keping-keping emas yang kutemukan di dalam sana, lalu—"

"Norton." ia memulai, sebelum pria itu mulai berceloteh panjang lebar—dan ia tak dapat menghentikannya karena ia tak memiliki tenaga untuk memelototinya dalam suasana seperti ini. "Tutup mulutmu."

Mendengar permintaan itu membuat seringai pada bibir pria itu semakin lebar. "Kau tidak ingin menutup mulutku dengan mulutmu? Ini momennya loh."

Vera tersenyum.

Ia mempertemukan bibir pria itu dalam sebuah ciuman panas dengan tinjunya.


"Norton."

"Ya?" pria itu menoleh, masih mengaduh kesakitan dengan lebam pada pipinya—Vera memberikannya kompres es untuk meminta maaf—lukanya terjadi karena Norton tak mengetahui apa yang namanya batasan atas kata yang ia luncurkan dari mulut besarnya, jadi mengapa ia yang merasa bersalah?

Ia menghela napas. "Cincin emas. Tidak imut sama sekali." Ia bilang. Mungkin selera Norton yang buruk membuat semua perempuan menjauhinya. Norton menyentuh dadanya, sedikit tersinggung. "Kau memang idiot." Vera menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Norton—ia tersenyum kecil, memandang cincin yang kini melingkari jari manisnya.

Di ruangan yang Vera tinggalkan, Norton menjerit, "Cincin emas sendiri memang tidak imut, tapi kalau kau yang memakainya kan dia juga jadi imut!"


Ketika Norton kembali, mudah sekali bagi Vera untuk kembali pada rutinitasnya selama tinggal seatap dengan Norton—pria itu sekali sedikit tersinggung karena, "Semudah itukah aku hingga kau segera menyingkirkan sikat gigiku?!" namun semuanya telah kembali normal—senormal yang Vera harapkan, minus Norton yang kini semakin gamblang dan agresif dalam mengatakan apa yang ada di pikirannya; tidak ada yang namanya saringan.

"Aku menggunakan sikat gigimu." Norton kembali mengunyah kentang yang Vera sajikan untuk makan malam esok harinya. Wanita di sisi lain meja memelototinya. "Apa? Salahmu membuang sikat gigiku!"

Matanya berkedut kesal.

"Tapi hei, kalau dipikir-pikir lagi, rasanya itu terdengar seperti ciu—"

"Stop. Demi tuhan, stop."

"French ki—"

"Kill. Aku akan membunuhmu."


Beberapa tahun setelah ia nyaman dengan kehidupan Vera, ia mengunci kamar tidurnya sendiri rapat-rapat, dan tidur di kamar Vera—entah apa yang ia kejar dengan memindahkan raganya dari kamar miliknya pada saudara perempuannya, seolah mencuri hidupnya tak cukup, ia pun harus mencuri ruang pribadinya juga. Ia membuka ruangan itu, menyaksikan debu yang berterbangan mengisi ruangan dan sinar matahari yang menembus tirai putih yang telah usang.

Hari ini ia menutup tokonya, berhubung Norton pergi mencari kerja di sekitar Grasse—dan ia tidak mungkin menjalankan tokonya tanpa asistennya (bohong, ia hanya malas melayani pelanggan untuk hari ini)—ia memutuskan untuk merapihkan kamar ini. Karena kamar ini lebih berguna apabila dihuni oleh orang hidup dibandingkan orang mati, kan?

Jadi ia mulai bekerja untuk merapikan apa yang dahulu merupakan kamarnya.

Kadang ia masih mendengar Vera, namun suara Norton yang konstan dalam stereo lebih besar volumenya hingga bayangan Vera menjadi bukan apa-apa. Ia terus merapikan ruangannya, memikirkan menu makan malam nanti dan menyibukkan dirinya dengan berperang melawan debu yang memusuhinya.

Ketika ia selesai dan ruangannya tak lagi memiliki sedikitpun bumbu feminim (mengingat ini adalah ruangannya dulu), ia berbalik—dan bertemu pandang dengan Norton, tersenyum lebar dengan tubuh yang bersandar pada bingkai pintu, tangannya tersilang di depan dadanya.

"Halo."

Vera melangkah meninggalkan ruangan, ia menyerahkan kunci kamar itu pada Norton. "Ini kamarmu mulai hari ini hingga... kau pergi."

Pria itu mengamati kunci pada tangannya. Tidak salah lagi ia melihat sebuah nama pada gantungannya—namun ia tak mengatakan apapun. Norton tahu lebih baik ia tak mengatakan apapun, kecuali bila ingin membuka kembali tabir penyesalan itu, yang telah lama berusaha Vera tutup semenjak malam itu.

Norton menelan rasa penasarannya, lantas hanya bertanya, "Makan apa kita malam ini?"


"Jadi apa kau selesai membacanya?" Norton bertanya siang itu, suasana toko sepi dan usai beberapa minggu mempertimbangkannya, Vera menarik satu kursi kayu agar pria itu bisa duduk menemaninya menjaga toko. Kursi itu ia letakkan di sisi bingkai pintu agar Norton mudah mengaksesnya. Vera mengangkat kepalanya dari buku teka-teki silang di atas kounter—tiga menurun mungkin joué? Karena 11 mendatar adalah soirée.

"Apa?"

"Phantom of the Opera, apa lagi?"

"Hm, oh." Vera menutup buku teka-teki silangnya, tangannya meraih-raih pada laci kounter dan menarik novel tersebut. "Aku akan membacanya dari awal nanti."

"Kau belum selesai membacanya?"

"Norton, aku bahkan belum mulai membacanya." Ia menghela napas. "Aku akan beritahu bila aku selesai."

"Bila kau bosan karena alurnya terlalu dramatis, aku bisa merekomendasikan dan membawakan buku lain untukmu—kau tahu, aku suka membaca buku sejak kecil, jadi kerjaku di perpustakaan kota—"

Norton terus bercerita tentang kecintaannya pada literatur—meskipun ia merasa Vera tak memperhatikannya, ia tetap bercerita, mengisi kekosongan yang ada antara mereka berdua. Vera tersenyum, ia merasa bahwa ia akan baik-baik saja, bila selamanya seperti ini.


[end.]

.


note:

[1]: liat deduction 5 perfumer; bois de rose itu nama lain Aniba rosaeodora (rosewood).

[2]: therese raquin dari novel therese raquin, estella havisham dari novel great expectations, wednesday addams dari addams family—tiga orang yang dimaksud kepribadiannya sedikit-banyak cold/heartless (therese mungkin lebih karena trauma tapi ya moga dipahami)

[3]: erik: mentor/love interest christine daaé di novel the phantom of the opera—buat yang ga tau, wajahnya erik di novelnya dideskripsiin sebagai disfigured/deformed


Maunya nulis mereka cipokan dan nortnort blg kalo dia cinta ama vera, terus chloe rada guilty soalnya terakhir kali orang blg dia cinta (vera) sama chloe, chloe ngebunuh orang itu

judul dipake karena keduanya punya moral kompas ga bener yang berusaha justifikasi aksi mereka dengan berpandangan, kalo mereka ga merasa bersalah, mereka ga bersalah. norton kurang-lebih ngelakuin apa yang ada di deductionnya

novel yang chloe baca mulai dari pertengahan berarti dia ngelanjutin kehidupan vera tanpa memaknainya, pas chloe bilang dia mau baca ulang dari awal, dia mau berusaha buat memaknai hidupnya yang masih ada (sebagai vera)