RUNNING
Kiyoko tidak pernah berlari sejauh ini pada musim gugur yang berangin pada tahun sebelumnya. Ia lebih memilih diam di rumah, seorang diri menunggu ayahnya pulang kerja atau lebih memilih menunggu latihan voli selesai sampai gym benar-benar dikunci oleh Daichi.
Hari ini ia tidak memiliki keduanya. Meski ia yakin para pemain voli sedang berlatih dengan keras sebelum kejuaraan nasional beberapa pekan lagi, meski ia yakin hari ini ayahnya belum pulang dan harus ia tunggu kedatangannya seorang diri seperti biasanya.
Hari ini ia benar-benar tidak memiliki alasan untuk melakukan keduanya.
Ia sudah berlari puluhan menit tanpa berhenti, tanpa merasa harus berhenti. Mungkin ia juga tidak punya alasan untuk berhenti. Fisiknya kuat, ia yakin walaupun sesuatu dalam dadanya sesak sampai ia merasa sedikit sakit.
Ia tidak ingin berhenti seolah-olah ketika berhenti ia akan membiarkan dirinya dikejar oleh realita yang ada. Ia akan terus berlari.
Meski hari sudah mulai senja, meski ia mungkin tidak mudah menemukan jalannya pulang kembali.
.
.
.
Wakatoshi sangat bosan berlari seorang diri, teman-temannya tertinggal begitu jauh, ia yakin sangat jauh sekali sampai suara Tendou yang mengeluh tidak terdengar lagi.
Biasanya ia akan dengan cepat berlari ke arah Shiratorizawa, namun ia malah berbelok ke arah sebaliknya. Hari ini sepertinya dia sedang tidak memiliki alasan untuk berlatih di gym. Dia merasa bukan hari ini, mungkin besok atau lusa ia akan berlatih seperti biasa.
Hari ini ia hanya ingin berlari, meninggalkan bayang-bayang kekalahan mereka atas Karasuno tempo hari.
Tidak ada interhigh hari ini. Ia merasa tidak marah. Hanya sesuatu berdenyut sakit dalam dadanya ketika teringat raut wajah penuh kekecewaan dari rekan-rekan satu timnya.
.
A Fanfiction
Haikyuu! © Haruchi Furudate
Ushijima Wakatoshi x Shimizu Kiyoko
Rated T
Running by Chololo II
.
Wakatoshi merasa familiar dengan gadis yang tidak jauh dari tempatnya berlari, ia berhenti sejenak sambil menyipitkan mata melihat dua orang pemuda yang mungkin seusianya tengah memegang tangan gadis itu sementara sang gadis memberontak.
Ia tidak terlalu peduli sejujurnya, ia tidak pernah benar-benar mempedulikan sesuatu.
Tapi hari ini ia tidak punya alasan untuk tidak peduli.
"Apa temanku membuat masalah?" Wakatoshi bertanya pada dua orang pemuda yang ternyata hanya setinggi telinganya saja.
"Oh!" Salah seorang pemuda berseru sambil menepuk dahinya sendiri seperti tengah melupakan sesuatu, "Tidak, kami permisi dulu Ushijima-san, temanmu sepertinya tersesat. Maaf. Kami pergi dulu."
Setelah dua orang pemuda itu pergi, ia melirik ke arah Kiyoko yang tengah menatapnya dengan raut datar yang sama dengan dirinya.
"Terima kasih Ushijima, mereka temanmu?"
"Bukan."
"Tapi dia bilang dari Shiratorizawa juga."
"Aku tidak terlalu banyak mengenal siswa di sana."
Kiyoko mengangguk paham, ia lantas menatap Ushijima Wakatoshi sekali lagi. Memperhatikan baju olahraga dan sepatu lari yang dipakai oleh kapten Shiratorizawa tersebut.
"Arah lari kita sama, sebaiknya kita teruskan lagi."
Wakatoshi melirik gadis itu sekilas lalu mengangguk kemudian berlari tanpa mengurangi kecepatannya. Ia agak terkejut karena gadis itu mampu mengimbangi tempo larinya yang bahkan tidak mampu diimbangi oleh rekan satu timnya.
.
.
.
"Ke mana arah larimu?"
Wakatoshi menoleh, gadis itu masih berlari bersamanya. Rabutnya bergoyang dan keringat meluncur dari pelipisnya, membasahi kerah kaos olahraga yang gadis itu gunakan.
Kalo tidak salah namanya Shimizu Kiyoko, rekan-rekan satu timnya membicarakan manager karasuno ini berhari-hari di gym setelah mereka kalah melawan karasuno.
"Aa, aku juga hanya mengikuti kakiku saja."
Jawab Wakatoshi jujur, ia memang tidak tahu harus ke mana atau alasannya berlari ke arah ini. Ia hanya ingin berlari saja, hari ini ia ingin pergi tapi bukan gym yang dituju. Ia ingin ke arah lain, memutar menghindari realita yang ada.
"Oke."
Kiyoko mengangguk lantas tetap di samping Wakatoshi bahkan ketika lembanyung mulai menguasai langit saat ini.
.
.
.
Mereka berhenti untuk membeli minum, dalam diam. Tidak ada yang bertanya mereka akan ke mana setelah ini, atau alasan mereka berlari sejauh ini bersama-sama. Tidak ada yang bertanya, seolah-olah mereka memang berusaha untuk tidak bertanya sebuah alasan tentang sesuatu hari ini.
Mereka sama-sama tidak tahu bahwa mereka sedang sama-sama berlari menghindari realita sore hari ini.
"Sudah gelap sepertinya kau harus kembali."
Mereka saling bertatapan, mencoba mencari sebuah ekspresi dari wajah yang sama datarnya dibawah lampu jalan depan minimarket yang menyala. Tapi tidak ada yang mereka temukan selain seperti melihat diri masing-masing.
"Rumahmu?"
Kiyoko membuang muka, ia menyesap air mineral yang tadi akhirnya dibayar oleh Ushijima setelah mereka saling menatap satu sama lain di depan kasir.
"Aku tidak ingin pulang."
Wakatoshi tercengang di balik wajah datarnya, ia melihat ke arah langit yang benar-benar sudah mulai gelap. Dia tidak tahu apakah dirinya yang berlari ke sembarang arah karena tidak ingin ke gym nampak seperti perempuan ini atau tidak. Karena sepertinya alasan perempuan di sampingnya sama dengan dirinya, mereka sama-sama sedang berlari ke arah yang tidak biasa untuk masing-masing karena sedang menghindari sesuatu hal.
Wakatoshi tidak pernah benar-benar berbicara banyak hal dengan perempuan, ia tidak tahu harus berkata apa pada gadis yang tengah duduk di trotoar dengannya dan mereka hanya berpisah selebar rentangan tangan orang dewasa.
Hanya mereka berdua saja. Oh, dan mungkin juga bersama dengan masalah di pundak mereka berdua.
"Ushijima tidak usah sungkan, aku bisa pulang sendiri nanti. Kau boleh pergi dulu."
Kiyoko menoleh ke arah Wakatoshi, membuat Wakatoshi melihat guratan lelah pada wajah gadis itu. Keringat di pelipisnya belum kering.
"Hm."
Wakatoshi mengangguk lantas berdiri, ia kemudian berlari ke arah Shiratorizawa.
Kiyoko masih duduk di trotoar, kepalanya kosong. Ia berharap ingatannya pudar seiring dengan langkah kakinya tadi, atau ingatan-ingatan itu akan berjatuhan di sepanjang jalan jangan-jangan?
Bagaimana kalau dia berlari melewatinya justru ingatan itu akan kembali mengisi kepalanya?
Tidak, tidak, tentu saja tidak boleh.
Kiyoko melihat ke depan. Mungkin ia sebaiknya berlari lagi.
Maka ia berdiri, dalam genggamannya ia punya sebotol air mineral, dan perlahan ia mulai melangkahkan kaki. Mengabaikan lalu lalang kendaraan yang jumlahnya tidak banyak, juga abai pada langit yang benar-benar gelap gulita. Ia akan terus berlari meski kakinya mulai terasa pegal luar biasa. Toh sakit itu tidak sebanding dengan sakit dalam dadanya.
Tidak lama ia merasa tangannya ditarik dari belakang, Kiyoko terpaksa menoleh dan melihat Ushijima Wakatoshi menggengam tangannya sambil menatapnya datar.
"Aku antar pulang."
"Aku tidak punya rumah, Ushijima."
Kemudian mereka sama-sama diam, Kiyoko melihat pergelangan tangannya yang masih dalam genggaman pemilik nomor punggung satu itu.
"Kau bisa lari lagi besok." Wakatoshi merasa kata-kata itu juga berlaku untuk dirinya sendiri, ia akan berlari lagi besok. Belum cukup satu hari untuk pergi dari realita, ia butuh hari yang lain.
Kiyoko kemudian berjalan ke arah dari mana Wakatoshi muncul, ia menggenggam tangan pemuda itu tanpa alasan lantas berjalan sambil menarik tangan yang terasa lebih besar dari tangan miliknya.
"Aku bisa pulang sendiri. Ayo kita harus buru-buru sebelum benar-benar malam."
Wakatoshi diam dan mengikuti langkah Kiyoko, gadis itu tiba-tiba melepas tautan mereka lantas mulai berlari kecil, menstimulus kaki-kaki Wakatoshi untuk mengikuti gadis itu dari belakang. Ia sekilas melihat beberapa memar di kaki Shimizu Kiyoko yang mengenakan celana olahraga sebatas lututnya.
"Kakimu luka."
"Aku dulu adalah atlet lari halang rintang, itu sudah ada di sana sejak dulu."
"Aa."
Mereka kembali berlari hingga berada di pertigaan yang menuju ke arah yang akan membawanya ke karasuno dan Shiratorizawa.
"Oke terima kasih untuk air mineralnya Ushijima, aku—"
Wakatoshi menarik tangan gadis itu, membawanya ke arah Shiratorizawa.
"Aku bawa kendaraan."
Ucapnya sebelum gadis di belakangnya bertanya banyak hal. Ia tidak memiliki alasan untuk ini semua, ia hanya mengikuti kaki dan tangannya. Tendou pasti akan menertawakannya habis-habisan jika tahu ia menghilang sore ini lantaran berlari ke arah tidak menentu bersama manger tim yang jelas-jelasan mengalahnya untuk pergi ke tingkat nasional.
.
.
.
Kiyoko turun dari motor milik Ushijima lengkap dengan jaket club milik lelaki itu menempel pada tubuhnya. Ia memang memakai kaos lengan pendek tadi sebelum Wakatoshi muncul dari balik pintu gym dengan jaket juga kunci motor di tangannya. Mereka menuju ke parkiran sekolah (sungguh Kiyoko tidak tahu bagaimana mungkin pelajar boleh membawa motor mereka sendiri ke sekolah), samar-samar ia mendengar gelak tawa Satori Tendou yang mengintip di balik pintu gym bersama dengan beberapa rekan club laki-laki di sampingnya.
Wakatoshi tidak menoleh sama sekali juga tidak terganggu dengan celotehan mereka.
"Terima kasih, um, jaketmu akan aku cuci dulu karena kerahnya basah terkena keringatku. Maaf ya."
Wakatoshi mengangguk di balik helm hitam yang menutup seluruh kepala kecuali mata datarnya.
"Kau boleh membawanya lusa kalau lari ke atas lagi. Kalau tidak kau boleh membawanya kapan saja ke gym Shiratorizawa."
Kiyoko menatap mata datar Ushijima agak lama, ia kemudian tersenyum tipis. Senyum yang biasanya akan membuat Tanaka dan Noya berteriak-teriak tidak jelas.
"Oke, lusa. Hati-hati di jalan, terima kasih Ushijima."
"Aa, sama-sama." Ucapnya ragu, seolah mengerti kemudian Kiyoko membungkuk sedikit, "Shimizu Kiyoko. Maaf, aku belum menyebutkan namaku."
Wakatoshi tersenyum tipis, yang mungkin tidak tergolong sebuah senyuman jika dilakukan oleh orang lain. Ia mengangguk sambil bergumam rendah, ia ingin sekali mengatakan bahwa ia sudah sering mendengar nama gadis itu dari mulut rekan-rekannya. Namun ia tidak menemukan alasan untuk itu semua. Maka ia lalu menyalakan motornya, meninggalkan seseorang yang berdiri memakai jaket clubnya. Untuk pertama kalinya jaket itu digunakan oleh orang lain.
.
.
.
Shimizu Kiyoko tidak muncul setelah hari itu, mungkin karena Karasuno mempersiapkan kematangan mereka untuk interhigh beberapa minggu lagi.
Namun semua pemikiran itu luruh ketika melihat gadis itu ada di gereja dalam acara pernikahan kerabatnya. Kiyoko memakai gaun putih lengan pendek dengan bawahan memanjang hinggal mata kaki, gadis itu memakai lipstik maroon yang kontras dengan wajah putih tanpa make up miliknya. Ia tidak mengenakan kacamata.
Dan ketika pandangan mereka bertemu, ia dapat melihat genangan air pada pelupuk mata hitamnya.
Wakatoshi diam seribu bahasa ketika pastor menyebut nama Shimizu Arashi sebagai mempelai pria, bersanding dengan kerabatnya hari ini.
Wakatoshi menghela napas pendek ketika ibunya berkata bahwa gadis dengan gaun putih berambut kebiruan tidak jauh dari mereka adalah putri dari suami kerabatnya. Mungkin itu sebabnya Shimizu Kiyoko enggan pulang hari itu.
.
.
.
"Aku belum sempat mengembalikan jaketmu, Ushijima. Aku benar-benar sibuk mempersiapkan pernikahan ayahku."
Mereka duduk bersama di salah satu kursi taman belakang gereja yang menjadi tempat resepsi. Berdua saja dengan minuman dingin di tangan masing-masing.
"Aku mengerti, kau bisa mengembalikannya kapan-kapan."
Kiyoko mengangguk lantas minum dalam satu kali tegukan.
"Aku benar-benar tidak ingin pulang. Aku belum siap berada dalam satu atap dengan ibuku yang baru. Maaf, bukan maksudku menyinggung kerabatmu."
Wakatoshi mengangguk paham, ia lantas memandang gadis itu seksama.
"Kita bisa pergi joging setelah acara ini."
Kiyoko menoleh tidak percaya dengan lelaki di sampingnya yang nampak gagah dengan setelan kemeja coktelat tua. Ia melirik sekilas kancing kemeja laki-laki itu yang tidak dikaitkan.
Wajahnya bersemu merah, Wakatoshi menyadarinya namun ia tidak bereaksi apapun.
"Aku tidak mungkin joging dengan baju seperti ini." Ia tertawa kecil. Wakatoshi masih dengan wajah datarnya mengangguk paham.
Ia melirik Kiyoko yang memandang ayahnya dengan tatapan sedih, ia tidak tahu banyak hal tentang kejadian ini. Tapi tiba-tiba muncul alasan ambigu dalam kepalanya, ia tiba-tiba tidak nyaman dengan raut sedih gadis di sampingnya. Ia ingin menawarkan sesuatu.
"Aku bawa mobil, kita bisa jalan-jalan sebentar."
Kiyoko menatap Ushijima Wakatoshi dengan tatapan tidak percaya sekali lagi.
.
.
.
Ushijima Wakatoshi diam sepanjang jalan menuju ke arah yang pernah mereka lewati ketika lari bersama-sama tempo hari. Kiyoko diam saja, sedikit banyak sejujurnya ia merasa lega bisa pergi dari pesta itu berkat Wakatoshi. Ayah dan ibu barunya tersenyum penuh arti ketika tahu Kiyoko akan pergi berjalan-jalan dengan Wakatoshi.
Ibu lelaki itu pun langsung mengiayakan ketika anak semata wayang mereka hendak pergi bersamanya untuk berjalan-jalan.
Di balik sifat dingin Waktoshi ia tidak menyangka lelaki itu memiliki ayah dan ibu yang ramah dan banyak tersenyum.
"Sudah sampai."
Wakatoshi memberhentikan mobilnya di sebuah tanah lapang yang luas sekaligus sepi. Banyak bunga-bunga dandelion tumbuh di segala sisi, juga pohon-pohon yang menjulang tinggi di sekitar mereka.
"Di ujung jalan setapak ini ada sungai yang jernih sekali, tapi aku tidak yakin gaun putihmu akan tetap bersih jika kita ke sana."
Kiyoko tersenyum tipis. Ia melepas sepatu hak tingginya lantas mulai berjalan melewati jalan setapak yang ada di depan mereka. Ujung gaun putihnya menyentuh tanah dengan lembut, ia berjalan pelan dan dapat ia rasakan ujung dari gaunnya bergesekan dengan tanah dan rerumputan.
Wakatoshi mengamati gadis itu dari belakang. Sore ini ia habiskan untuk memandang punggung rapuh seorang Shimizu Kiyoko yang bergetar si pinggiran sungai. Gaun putih dan rambutnya yang halus bergerak bersama angin, seolah-olah dia adalah peri yang akan terbang kapan saja.
Pergi dari semuanya.
Ketika hari mulai gelap. Gadis itu berbalik lantas duduk di samping Wakatoshi yang diam saja sejak tadi. Lelaki tidak bertanya mengapa punggungnya bergetar, atau mengapa hidung dan matanya memerah setelah berdiri lama di samping sungai.
"Aku akan mengantarmu pulang?" Tanyanya tidak yakin, ia tidak pernah dihadapkan dengan gadis yang menangis. Ia tidak tahu apa yang biasanya laki-laki lakukan untuk membuat suasana menjadi lebih baik dari sekarang.
"Ibuku meninggal tiga tahun lalu karena usus buntu. Aku tidak percaya ayahku melukapannya secepat ini." Wakatoshi menatap langsung kedua mata Kiyoko yang benar-benar merah. Luka kentara dari sana.
"Bibiku ditinggal pergi oleh pamanku ketika usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Kami semua kira beliau akan menikah lagi, namun nyatanya dia tidak pernah bisa melupakan pamanku," Mereka bertatapan seolah-olah segalanya akan lebih baik dengan menatap satu sama lain saat ini, "Akhirnya tiga bulan yang lalu beliau menelpon ibuku, memberitahu bahwa ia akan menikah. Kami semua turut bahagia, akhirnya, setelah belasan tahun, dia mampu membuka hatinya kembali."
Kiyoko meninggalkan mata lelaki itu, ia kembali terdiam menunduk. Kepalanya kosong.
"Dengar, tidak ada orang yang benar-benar bisa hidup sendiri di dunia ini, juga tidak ada yang bisa bertahan selamanya."
Shimizu Kiyoko menangkupkan kedua telapak tangan pada wajahnya, ia menangis dengan keras di samping Wakatoshi.
Wakatoshi menghela napas pelan. Ia mungkin salah mengucapkan sesuatu. Maka ia meminta maaf sambil membawa tubuh Kiyoko yang masih gemetar ke dalam pelukannya.
.
.
.
Pukul tujuh malam rumah gadis itu masih di penuhi oleh keluarga mereka, pun ia yakin ibunya ada di sana. Acara resepsi di belakang gereja selesai pukul satu siang, ibunya mengirim pesan bahwa acara khusus keluarga di adakan di kediaman Shimizu pukul enam sore.
Ia tidak tega membangunkan gadis yang tertidur di sampingnya, maka ia berinisiatif menemui ayah dari gadis itu untuk menyampaikan bahwa putrinya tertidur di dalam mobil setelah selesai jalan-jalan tadi.
Shimizu Arashi tertawa pelan lantas meminta maaf karena putrinya merepotkan, tidak lama ibunya berdiri di antara mereka dan justru menyarankan agar Wakatoshi membawa gadis itu masuk ke dalam karena Shimizu Arashi pasti cukup lelah untuk acara hari ini.
Wakatoshi benar-benar menggendong teman barunya itu ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Setelahnya ia menikmati jamuan makan malam bersama keluarga di lantai dasar.
.
.
.
Shimizu memakan sarapannya dengan perasaan canggung. Ayahnya sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Menyisakan dirinya dan sang ibu baru di meja makan berdua.
"Kiyoko-chan, ibu sudah membuatkanmu bekal. Jangan lupa di makan ya nanti?"
Kiyoko mengangguk patuh lantas kembali memakan makanannya dengan tenang. Ibunya sekarang menyandang marga Shimizu sama sepertinya, sejujurnya wanita itu cantik, ia memiliki rambut panjang kecoklatan yang terlihat halus dan kulit wajah yang nampak awet muda. Tidak salah kenapa ayahnya menyukai wanita yang sekarang menjadi ibunya tersebut.
Kiyoko kembali teringat perkataan Wakatoshi, ia memang seharusnya mengerti bahwa ayahnya juga kesepian semenjak ibunya meniggal. Tidak seharusnya ia bersikap kekanakan dengan mendiamkan ayahnya begitu tahu pria itu akan menikah.
Ayahnya juga berhak bahagia dengan kehidupan pribadinya.
"Kiyoko-chan sudah lama berteman dengan Wakatoshi-kun? Aish, aku tidak menyangka anak itu punya teman perempuan." Shimizu Ryoko—ibunya, tertawa renyah.
"Kami kebetulan pernah jogging bersama."
"Ara ara, kudengar Kiyoko-chan adalah manager tim voli ya? Ayahmu banyak bercertia tentanmu."
Kiyoko mengangguk sambil tersenyum tipis, "Terima kasih sarapannya,bu. Aku berangkat dulu."
Kiyoko lantas berdiri, ia mengambil sepatunya lantas memakai di dekat pintu. Ibunya mendekat lalu mengusap rambut anak gadisnya, "Hati-hati, ibu juga akan berangkat sebentar lagi. Ada operasi jam sepuluh nanti."
Kiyoko menoleh lantas tersenyum ke arah ibunya.
.
.
.
Hari ini dia lelah sekali, Tanaka dan Nishinoya menumpahkan tepung alih-alih tepung sebanyak lima kilo itu kan digunkan untuk menyiram Sugawara yang hari ini ulang tahun justru tumpah begitu saja di lantai gym akibat kebodohan mereka berdua.
Latihan hari ini dibatalkan karena tepung memenuhi ruangan akibat kipas di dalam gym sedang menyala.
Daichi marah habis-habisan hari ini.
"Kiyoko-san, kami benar-benar menyesal." Tanaka duduk di hadapannya dengan posisi bersila. Nishinoya di sampingnya duduk dengan wajah menyesal luar biasa.
"Gara-gara kami Kiyoko-san jadi lelah hari ini."
"Berisik kalian berdua dasar tidak punya otak!" Daichi berteriak dari dekat pintu dengan wajah lelah luar biasa, mendekati Tanaka dan Noya yang berdiri lalu berlari keluar gym.
Sedangkan yang lain sudah terkapar di tengah lapangan setelah lantai bersih seperti semula.
.
.
.
Kiyoko melirik laki-laki yang berjalan di sampingnya, lalu ia menoleh ke belakang.
Tanaka, Nishinoya, Asahi, Sugawara dan Daichi mengikutinya sambil sesekali mereka terlihat tertawa kaku.
Ia jadi ingat wajah kelas satu begitu melihat Ushijima Wakatoshi berada di gerbang sekolah berdiri memainkan ponselnya. Lelaki itu memakai celana training panjang dan kaos lengan pendek berwarna hijau lumut, senada dengan warna rambutnya.
Hinata berteriak histeris sambil menunjuk-nunjuk Wakatoshi yang terlihat tidak terganggu sama sekali. Dengan tenang lelaki itu berjalan ke arah Daichi, ia membungkuk singkat lalu meminta ijin untuk menjemput Kiyoko atas perintah ibu gadis itu.
Daichi terkejut, pun semuanya. Daichi mengangguk kaku. Kiyoko tersenyum kecil ketika Ushijima meliriknya singkat.
"Ibu menyuruhmu menjemputku karena apa?"
"Keluargaku ada di sana untuk makan malam bersama keluargamu."
"Oh, terima kasih untuk yang kemarin."
Wakatoshi menoleh ke arah 'teman' barunya, ia tersenyum tipis. Sebelah tangannya terangkat untuk menggenggam tangan gadis itu, "Ayo sebelum hujan."
Kiyoko terkejut bukan main, bukan karena tangan besar yang sedang menggenggam tangannya, melainkan suara teriakan yang memekakkan telinga berasal dari Daichi, Sugawara, Asahi, Noya dan Tanaka yang ternyata masih ada di belakang mereka. Ia melirik Wakatoshi, lelaki itu tidak menoleh atau terganggu sama sekali.
END
.
.
.
.
Halo!
Sebenarnya aku mau bikin beberapa chapter tapi akhirnya aku memutuskan untuk membuatnya jadi oneshot, soon aku mungkin akan bikin squelnya saja ketika sudah sama-sama dewasa.
Mungkin kerasanya aneh kenapa mereka jadi deket hanya karena beberapa kali bertemu, tapi aku lihat dari karakter mereka dalam manga maupun anime, Kiyoko dan Wakatoshi memang tidak memiliki sikap yang berbelit-belit khas remaja pada umumnya. Menurutku sih hehe.
Uweee aku bener-bener lagi tergila-gila nulis haikyuu gara-gara animenya masih istirahat sementara manganya terus berjalan dan itu membuat imajinasiku semakin ke mana-mana hueee
Terima kasih sudah membaca :*
sign,
chocho
