Chara-nya belong to Masashi Kishimoto sensei

Story-nya belong to me!!!

Pairing ; Shikamaru x femNaruto

Warning ; Typo bertrbaran di manan-mana!!

Tadaima (I'm Back)


"Sebaiknya kita akhiri hubungan ini Sasuke!"

"Apa maksud mu, ha?!"

"Aku hanya ingin memperlancar hubungan gelapmu dengan sahabatku!" iris birunya berkilat marah kala mendapatkan fakta. Tunangan yang ia cintai tega merusak kepercayaannya dengan bermain belakang, ah--yang lebih parahnya tunangan maksudnya mantan tunangannya itu selingkuh dengan sahabatnya sendiri.

"Ma... maksud mu apa? aa... aku tidak pernah punya hubungan gelap di luaran sana! Bilang saja ini hanya alasanmu, kamu sendiri mungkin yang punya hubungan diluar sana Uzumaki Naruto!"

Uzumaki Naruto dan Uciha Sasuke telah bertunangan sebulan yang lalu, setelah melalui proses pacaran selama dua tahun lebih. Tapi, walaupun sudah sampai pada tahap ini, salah satu dari mereka goyah di tengah jalan karena dengan tanpa permisinya seorang sahabat merusak segala mimpi Naruto. Sahabat yang Naruto percaya, bahkan dianggap keluarga. Haruno Sakura, datang dengan senyum lebarnya untuk mengoda Sasuke, bahkan ia merelakan tubuhnya demi untuk memiliki Sasuke. Hal yang paling mejijikan menurut Naruto, meski menjalin hubungan lama dengan Sasuke Naruto tidak pernah melebihi batasan! Ia hanya sekedar menempelkan bibirnya di bibir Sasuke. Begitu pun sebaliknya. Tak pernah ada yang namanya saling bertukar saliva, apa lagi sex.

"Terserah, yang jelas semua bukti sudah ku pegang. Dan itu akan mempermudah ku untuk berbicara di depan orangtuaku, maupun orangtuamu! Selamat tinggal, jangan pernah menganggu ku lagi!" setelah mengeluarkan isi hatinya. Naruto menjauh dari tempat Sasuke berada. Sasuke saat ini memandangnya tanpa bisa berbuat apa-apa untuk saat ini... Yah, saat ini! Setidaknya ia akan biarkan Naruto menikmati kebebasan sesaatnya.

...

"Tadaima..." suara lengkingan keras gadis berambut matahari itu membuat orang-orang yang ada di dalam mansion Namikaze mengelus dada mereka. Dengan langkah lebarnya ia menghampiri Kushina selaku ibunya yang sedang menikmati teh hijaunya sembari memangku sebuah majalah bisnis.

Sesampainya di tempat Kushina, ia mendudukan pantatnya sembari memeluk Kushina dari samping, lengkap dengan muka yang ditekuk. "Mama, aku ingin mengakhiri hubungan ku dengan Sasuke. Mama bisa melihat semua alasannya di ponselku!" Naruto kemudian memberikan smartphonenya pada Kushina. Sementara Kushina yang melihat semua kenyataan, apa yang sudah di perbuat oleh calon menantunya berkilat marah. Kushina tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluarganya, apa lagi anak semata wayangnya. Orang itu akan menerima akibatnya dalam beberapa jam atau bahkan dalam hitungan menit kemudian.

Uzumaki Kushina, istri dari pengusaha sukses Namikaze Minato. Namikaze company adalah salah satu perusahaan IT terkemuka di jepang, oh—bukan hanya di jepang, bahkan cabang-cabang perusahaannya telah mengusai sebagian besar pasar IT dunia. Sementara Kushina sendiri, ia terlahir di dalam keluarga Seju dan Uzumaki. Semua orang jepang tahu betul akan kekuasaan yang dimiliki Uzumaki dan Senju. Tanpa, bertanya pada Naruto, Kushina tau apa yang harus ia lakukan. Dari pada membiarkan Naruto sendiri yang turun tangan. Lebih baik ia melakukannya terlebih dahulu.

...

"Selamat sore Minato Sama, semua jadwal anda untuk esok sudah saya susun ulang."

"Terimakasih Shikamaru."

"Itu sudah kewajiban saya Minato Sama."

Nara Shikamaru; sekretaris, sekaligus tangan tangan kanan yang sangat di percaya Minato dalam hal apapun. Shikamaru terlahir dari keluarga yang tidak berkucukapan; ia anak satu-satunya Pasangan Nara Shikaku dan Nara Yoshino, bahkan Shikamaru tidak punya sanak saudara. Dulu, ia pernah berjuang mati-matian bersama kedua orangtuanya untuk tetap bertahan hidup dan biaya sekolahnya. Namun kejadian nahas menimpa Shikamaru di usianya yang ke empat belas tahun ia di tinggal oleh kedua orangtuanya ke pangkuan tuhan. Kecelakaan yang merengut nyawa kedua orangtuanya di suna, mengaharuskan Shikamaru bertahan hidup sendirian dan melarikan diri ke konoha untuk memulai hidup baru.

Lagi, nasib baik menimpanya kala ia bertemu Minato di sebuah Halte bus. Pertemuannya dengan Minato membawanya pada kesuksesan yang tak pernah ia impikan! Minato dan Kushina mempermuda semua jalan hidupnya. Ia bahkan disekolakan sampai ke jenjang Magister. Dan berkat otak jeniusnya ia menyelsaikan pendidikannya di usia 19 tahun dengan nilai sempurna. Kushina yang menjadi pendampingnya saat itu bahkan sangat banga dengan hasil yang diraih Shikamaru. Minato dan Kushina sangat ingin mengadopsi Shikamaru menjadi anak mereka. Tapi, ada hal lain yang mereka takutkan--anak semata wayangnya. Naruto tidak pernah di beritahu tentang keberadaan Shikamaru.

Suara deringan ponsel menyadarkan Shikamaru dari masa kelam hidupnya.

"Yah, Kushina ada apa?"

"Kamu sudah melihat email yang ku kirim?"

"Sudah, dan aku tau apa yang harus aku lakukan. Kamu tenang saja. Hari ini juga akan ku selsaikan!" jawab Minato tegas. Semua demi anak semata wayangnya, apapun akan Minato lakukan.

"baiklah, aku tunggu berita baiknyaa!"

Setelah mematikan ponselnya, seringaian iblis nampak jelas di wajah Minato.

"Shikamaru, siapkan semua dokumen kerja sama kita dengan pihak Uchiha company. Dalam lima belas menit semuanya harus sudah selsai."

"Baik Minato sama."

Empat puluh lima menit berlalu, Minato dan Shikamaru menginjakkan kaki mereka di ruangan DIRUT Uchiha company. Tanpa barus berbasa-basi, Minato menyerahkan semua dokumen kerja sama antar perusahaan Namikaze dan Uchiha ke tangan Fugaku.

"Semua kerja sama kita batal. Aku sangat menyayangkan semua perlakuan anakmu terhadap putri tunggalku. Aku menjaga Naruto dengan baik. Tidak pernah menyakitinya! Bahkan aku rela kehilangan semua hartaku demi kebahagian keluargaku. Dan dengan tanpa permisinya anakmu, UCHIHA SASUKE MELUKAI ANAK KU DENGAN SANGAT DALAM. Hebat sekali!

Terimakasih atas semua yang anakmu lakukan. Hubungan persahabatan kita tidak akan putus. Tapi, hubungan kerja sama kita maupun impian kita menjadi keluarga besar, kita sudahi sampai di sini. Ah... yah satu lagi, jangan bertanya pada ku kenapa aku seperti ini. Tapi, tanyakan pada anak bungsu mu Fugaku. Terimakasih atas waktu anda. Kami permisi!" setiap nada yang di keluarkan Minato penuh penekanan. Seakan-seakan tidak ada celah untuk mendapatkan kata maaf atas apa yang di lakukan Uchiha Sasuke terhadap anaknya. Tunggu waktunya Haruno akan mendapatkan jatanya sendiri.

Langkah tegas Minato menggema di dalam perusahaan Uchiha. Shikamaru yang sedari tadi mengikutinya hanya dapat bungkam atas apa yang di lakukan Minato. Mungkin itu juga akan berlaku kepadanya, jika di masa depan ada yang menyakiti keluarga kecilnya.

"Shikamaru, kamu ikut makan malam di rumah malam ini!"

"Tapi Minato-sama..."

Belum selsai Shikamaru mengutarakan pendapatnya, Minato sudah angkat bicara terlebih dahulu, "Tidak ada tapi-tapian! Lagian kamu sudah lama tidak bertemu Kushina. Ia merindukan mu."

"Ahh--baiklah, saya juga sangat merindukan Kushina-san."

...

"Mama, kapan ayah pulang?"

"Sebentar lagi, Minato sudah di jalan mungkin sepuluh menit lagi sampai."

Derap langkah kaki mengiringgi dua lelaki itu--Minato dan Shikamaru, membawa mereka ketempat dua perempuan yang Minato sayangi. Surai merah dan surai pirang yang tengah asyik bercanda di ruang tamu kontan menghadap kearahnya kala mereka mengetahui orang yang di tunggu sudah mendekat.

"Ayah..." Surai pirang itu berlari kearah Minato, memeluk pria paruh baya itu dengan sayang. Ia mengetahui semua apa yang telah dilakukan Minato hari ini. Ia teramat sangat berterima kasih pada ayahnya itu.

Tanpa ia sadari, mata kuaci pemuda yang ada di belakang Minato memperhatikan setiap gerak geriknya. Cara manjanya menyapa Minato, bagaikan alunan melodi indah di telingan Shikamaru. Tangapan pemuda itu, manis, imut, ah--mungkin gadis ini satu-satunya mahluk terindah yang membuat mata kuaci itu betah memandaginya. Selama ini, mata kuaci itu hanya menganggap mahluk yang bernama perampuan itu 'merepotkan'. Namun Samudra biru irisnya, mengingatkan Shika pada awan kesukaannya. 'Shika sadar kamu tidak pantas untuk dia, ingat dia siapa, kamu siapa!' seakan di perintah oleh otaknya jeniusnya untuk sadar akan dunia yang baru saja ia kagumi. Tak ia sadari, Kushina diam-diam mengamati mata pemuda yang ia besarkan dengan kasih sayang itu menatap putrinya kagum. Kushina menyeringai senang akan hal itu.

"Sudah-sudah, ada tamu Ayah ini, kenalan dulu sama dia." safir birunya kini beradu pandang denga kuaci hitam lengam milik pemuda tegap berkuncir atas yang ada di belakang Minato.

Deg

Deg

Deg

Apa-apaan jantung ini. Tidak-tidak, ini tidak normal. Naruto bermonolog di dalam pikirannya. Meraka, belum berkenalan satu sama lain, tapi kenapa jantungnya terasa mempunyai ikatan dengan pemuda itu.

"Uzumaki Naruto, salam kenal Niisan." Naruto membungkuk tubuhnya sedikit, kebiasaan yang selalu diajarkan orang tuanya untuk menghormati orang lain.

"Nara Shikamaru." begitu pun Shikamaru yang hidup dalam ajaran Minato selama bertahun-tahun, melakukan hal yang sama pada Naruto.

"Tidak usah sungkan-sungkan Shika-kun anggap saja rumah sendiri. Atau kamu sekalian tinggal di sini kalau perlu." sang nyonya rumah angkat bicara melihat interaksi antara dua anak manusia yang berbeda jenis itu.

Naruto yang mendengarkan ucapan ibunya, kontan mebelalakkan matanya. Tidak biasa ibunya akan muda akrab dengan orang baru. Kalau mereka sudah sedekat ini, berarti kedua orangtuanya sudah lama mengenal Shikamaru. Akan Naruto cari informasinya.

"Ahh--benar, bahagaimana Shika, kamu mau tinggal di sini?" Minato menambahkan kesan mengoda kepada Shikamaru.

Shikamaru sangat ingin menengelamkan dirinya sekarang! mendengar nada godaan yang di lontarkan oleh dua orang yang teramat dia hormati itu

"Ano... Ano... Akan saya pikirkan Minato san, Kushina san."

Hahahahahaha

Tawa Kushina dan Minato pecah seketika melihat Shikamaru yang keluar dari karekter biasanya. Rencana telah tersusun matang di kepala dua orang paruh baya itu.

"Shika, kamu ikut saya ke lantai atas sebentar." Minato bermain mata dengan istrinya memberi kode agar dia ikut serta dalam permbicaraannya dan Shikamaru.

Sesampainya di ruangan kerja Minato mereka duduk saling berhadapan di sofa yang memang tersedia di dalam ruangan itu. Tak lama suara decitan pintu, menandakan sang nyonya rumah memasuki ruangan itu.

"Baiklah, apa pendapatmu tentang Natuto?" Minato menatap Shikamaru yang sudah menengang di hadapannya.

"Tidak usah tegang Shika-kun, santai saja! jawab apa adanya menurut penglihatanmu." Kushina bertanya lembut pada Shikamaru. Ia sangat merindukan perempuan ini. Perempuan yang berperan secara tak langsung sebagai ibu kedua baginya.

"Manis, imut, cerewet mungkin. Meskin saya ingin mendekatinya tapi saya tahu posisi saya. Dan saya tidak akan pernah bisa membuat kalian berdua murka kepada saya karena hal-hal yang tidak sepantasnya saya inginkan." ia sebenarnya takut untuk jujur akan isi hatinya. Tapi mengingat ia tak permah berbohong kepada dua orang ini... Lebih baik ia memilih jujur. Ini yang Minato dan Kushina sukai dari pemuda ini, jujur!

"Kami merestuimu. Dekati dia. Kami sangat ingin kamu menjadi anggota keluarga ini sejak dulu! Untuk memperlancar usahamu, pidahlah ke rumah ini masih ada banyak kamar kosong atau kalau perlu kamu sekalian saja satu kamar dengan Naruto." Ahh buah tomat kalah merahnya dengan muka Shikamaru saat ini. Restu sudah ia kantongi, tinggal maju ke medan perang, untuk mendekati singa betina yang belum ia pahami karekternya. Strategi pun akan mulai ia susun mulai sekarang.

"Ayo kita turun untuk makan malam, makanan sudah siap. Atau kalian ingin mandi dulu?" Kushina angkat bicara dari kediaman beberapa saat di antara mereka.

"Lebih baik kami mandi dulu." pandangan Minato terarahkan pada Shikamaru, "Dan kamu Shika, lebih baik menginap di sini. Tidak ada penolakan, ok. Kamar mu di sebelah kiri kamarnya Naruto, tunggu akan ku panggilkan iruka agar mengantar mu kesana."

"Terima kasih Minato san."

"Tidak perlu berterima kasih, lakukan bagianmu." Minato mengedipkan mata pada shikamaru. Shika yang perlakukan seperti itu sudah sangat-sangat memerah sejak tadi.

Dengan apa Shikamaru harus membalas semua kebaikan keluarga ini. Minato dan Kushina bahkan memberikan harta berharga mereka untuk ia jaga. Padahal ada banyak orang-orang terpandang diluar sana yang jauh lebih pantas berdampingan dengan Naruto. Dia bukan apa-apa, dia hanya segelintir orang beruntung yang di pungut lalu di angkat derajadnya oleh keluarga Minato. Bahkan nyawanya sendiri mungkin takkan setimpal untuk mebalas semua kebaikan yang Minato berikan kepadanya.

Suasa ruang makan keluarga Namikaze saat ini terasa hangat. Interaksi dua anak manusia itu mendapatkan perhatian lebih dari dua orang paruh baya itu. Dulu, waktu Naruto berpacaran dengan Sasuke ia tak pernah secerewet saat ini. Namun sekarang, ada saja hal yang membuat ia ingin tau lebih banyak tentang pemuda nanas itu. Pemuda nanas itu, akan dengan senang hati menjawab semua pertanyaan Naruto. Termasuk bercerita kehidupan pribadinya, dan bagaimana ia bisa dekat dengan Minato dan Kushina.

"Niisan, berapa lama kenal dengan orangtuaku?"

"Sebelas tahun yang lalu."

"WOOWW, kenapa niisan tidak pernah kerumah, kenapa baru sekarang datangnya."

"Itu... niisan kan dulu masi sekolah, niisan dulu sekolahnya di osaka makanya tidak sempat berkunjung kesini. Lagian ada kantor cabang Namikaze company yang harus niisan urus di osaka."

"Ooo... pantas saja mama sering ke osaka dulu... Hmmm bertemu niisan ternyata!" Naruto sekarang mengerti.

Naruto kontan menatap intens sang mama. "Mama curang, ngak pernah ajak Naru bertemu niisan!" mode ngambek anak Minato ini, sungguh mengemaskan.

"Eh jangan salahkan mama dong, tanya ayah mu coba!"

"Jangan bawa-bawa aku koi!"

"Sudah-sudah, niisan yang salah. Niisan saat itu harus fokus juga dengan pendidikan niisan. Untuk membayar semuanya, bagaimana kalau niisan tinggal di sini?" Shikamaru menengahi acara sahut menyahut keluarga ini. Restu sudah ia dapat. Kenapa harus mundur.

"Bener nii?"

"Iyah..." Saking senangnya, Naruto tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Shikamaru yang sedang asyik melahap makanannya. Sebuah pelukan spontan dari Naruto, membuat Shikamaru tersedak. Andai saja tidak ada orangtua Naruto di sini, sudah dipastikan Shikamaru akan mendengkap tubuh ramping Naruto sangat erat.

Nyaman

Satu kata yang akan membuat mereka semakin dekat di kemudian hari. Detakkan jantung, berpacuh melawan irama normalnya. Kedekatan yang baru tejalin, akan membuat mereka melawan derasnya arus yang sudah menanti mereka di persimpangan kehidupan yang akan datang.

TBC

Nurul Hidayah

10 May 2020