Chara-nya belong to Masashi Kishimoto sensei
Story-nya belong to me!!!
Pairing ; Shikamaru x femNaruto
Warning ; Typo bertrbaran di manan-mana!!
Tadaima (I'm Back)
Brakkkk
Kedatangan kepala keluarga Uchiha mengaget sang istri yang tengah berkutat di dapur. Suara sesuatu yang di banting kasar, menimbulkan tanya besar di benak Uchiha Mikoto istri dari Uchiha Fugaku. Mikoto dengan cepat menghampiri suaminya.
"Ada apa?"
"Di mana Sasuke?"
"Di kamarnya, kenapa?" lagi, rasa keingin tahuan Mikoto tak di gubris oleh Fugaku.
"Panggil dia kemari!"
Tanpa menunggu perintah dua kali, Mikoto segera melangkahkan kakinya ke kamar si bungsu. Yang Mikoto tahu, suaminya tengah menahan emosinya.
"Ada apa ayah memanggil ku?" setelah mendudukkan dirinya di ruang keluarga di mana Fugaku berada. Sasuke langsung bertanya tentang tujuan Fugaku, yang secara garis kecil sudah ia ketahui.
"Akibat ulah mu, perusahaan mengalami kerugian besar. Apa yang sudah kamu lakukan pada Naruto membuat Minato ikut turun tangan. Kamu tahu, ratusan juta yen perusahaan mengalami kerugian."
Mikoto mengerutkan alisnya tidak mengerti, "Memang apa yang Sasuke lakukan, bukankah mereka baik-naik saja?"
"Kamu bisa lihat semuanya di map itu Mikoto. Anak mu sudah keterlaluan, bikin malu keluarga!"
Mata Mikoto terbelalak melihat isi dari map yang di banting Fugaku tadi. Map itu berisi, semua photo-photo intim Sasuke dengan wanita berambut pink. Photo saat mereka mulai berciuman sampai yang sudah bertelanjang dada terpampang di sana. Mikoto tidak habis pikir, kurang apa Naruto sampai anaknya tega berbuat seperti ini pada gadis itu. Yang Mikoto tahu, gadis itu sangat baik, lembut dan perhatian.
"Memang tidak ada jalan keluar dari masalah ini Fugaku, Minato sahabat baikmu setidaknya kita bisa bicarakan ini secara kekeluargaan?" tanya Mikoto pada suaminya. Fugaku memijat pangkal hidungnya. Ia ingin melakukannya, tapi Fugaku sangat tahu tabiat Minato. Tak akan mudah untuk membuka jalan damai antar keluarga.
"Jangan salahkan aku! kalau aku bermain di luar sana. Naruto terlalu munafik! Sudahlah aku tidak ingin membahas perempuan itu lagi. Aku capek!" setelah mengatakan itu, Sasuke kemudian bangkit dari tempat duduknya. Melangkah lebar menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.
"SASUKE AYAH BELUM SELSAI BICARA. DASAR ANAK KURANG AJAR!" seruan Fugaku tak mendapat respon dari Sasuke.
Brakkk
Suara pintu yang di banting kasar lagi-lagi membuat Mikoto mengelus dadanya. Tidak anak tidak suami kelakuannya sama saja.
"SIALL, BERENGSEK!!" berbagai umpetan kasar ia lampiaskan pada semua perabotan yang tidak bersalah di dalam kamar bercat abu-abu itu. Semua buku, serta benda lainnya yang tertata rapi kini sudah tak karuan bentuknya seperti apa. Kamar besar itu, kini ia sulap bak renruntuhan tak terurus. Mata hitam legam itu berkilat penuh amarah dan dendam. Bagaimanapun, jauh di dalam lubuk hatinya ia masih sangat mencintai Naruto.
Naruto mengisi hari-harinya tak sebentar. Canda tawa gadis itu berputar-putar di dalam bayangannya. Sasuke tidak akan pernah rela kehilangan gadis mataharinya. Gadis yang membawa kehangatan dalam dunia bersaljunya. Tekat itu datang. Obsesi untuk memiliki kembali menguar dalam diri Sasuke. Apapun akan Sasuke lakukan untuk mendapatkan Naruto kembali.
Waktu demi waktu berlalu. Hampir tiga bulan Shikamaru menetap di mansion Namikaze. Kedekatannya pun dengan Naruto semakin hari semakin memberi Shika harapan baru.
Banyak yang Shikamaru perhatikan selama kedekatannya dengan Naruto. Di dalam kediaman Namikaze gadis yang berusia dua puluh satu tahun itu akan menjadi gadis manja, cerewet, dan hiperaktif. Sementara di luar sana, pernah Suatu hari Shikamaru menjemput gadis itu di kampusnya--Naruto saat ini memang sedang menempuh pedidikan untuk mengambil gelar Magisternya di fakultas bisnis konoha university. Kenyataan yang Shikamaru dapat saat itu, Naruto gadis pendiam, datar, dan tak tersentu. Shikamaru termasuk orang yang beruntung, bisa melihat berbagai ekspresi dari gadis pujaannya itu, kala bersamanya dan anggota keluarganya.
Pemuda dua puluh lima tahun itu, tersenyum sendiri mengingat semua hal-hal konyol yang ia lakukan dengan Naruto. Bermain ice skating, menatap awan, dan berlarian di pingir pantai mereka lakukan penuh canda tawa. Apa yang menjadi kesukaan Shikamaru seakan menular kepada Naruto. Pun sebaliknya Shikamaru, secara sadar, apa yang menjadi kebiasaan Naruto menjadi kebiasaannya.
Hari-hari mereka mungkin akan terasa sangat sempurna apa bila status mereka di perjelas dengan sebuah hubungan. Mungkin kali ini ia akan memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Naruto. Seakan takdir memihak padanya. Suara deringan ponsel yang sudah sangat ia hapal nada panggilan yang di khususkan untuk Naruto, membuat ia mengembangkan senyum khas di wajah pemalas nan tampan itu.
"Iya... Hallo, ada apa Naru?"
"Shika-nii, bisa jemput Naru di kampus? Mobil Naru mogok." Shika merindukan suara manja ini. Padahal baru tadi pagi mereka bertatap muka.
"Ok, tunggu aku dua puluh menit. Aku harus minta ijin dulu pada Minato-san."
"Cepat Shika-nii! Naru bosan di sini, banyak cowok genit soalnya!" andai saja Naruto ada dihadapannya sekarang, sudah di pastikan pipi chubbynya akan jadi sasaran empuk Shikamaru.
Setelah mendapat izin dari Minato. Shikamaru kemudian melengang pergi dari perusaan Namikaze. Ia tak ingin gadis manis di sana menunggunya terlalu lama.
Sementara di tempat lain. Naruto mengerutu bosan atas tatapan pria-pria tak tahu diri. Meskipun selama ini muka datar selalu menjadi tameng Naruto, bukan berarti pria-pria itu akan melewatkan kesempatan memandang mahluk manis bersurai pirang itu. Belum lagi ia di ganggu oleh iblis ayam penghuni kampus itu. Dan sialnya iblis itu mantan tunangannya.
"Ayo ku antar pulang?"
"Tidak terima kasih!" Naruto benci berurusan dengan Sasuke. Keras kepala dan pemakasa.
"Kenapa, bukannya mobilmu mogok?" Sasuke masi kekuh dengan keinginannya. Ingat, jika Uchiha sudah berkeinginan harus terpenuhi. Tapi, itu tidak akan berlaku untuk Naruto.
"Dijemput!"
"Siapa? Rusa pemalas kebanggaanmu itu?"
"Iyah, jangan banyak tanya! Aku muak melihat mukamu! Itu pacarmu menunggu, lebih baik kamu antar dia sebelum dia berbuat ulah." Naruto memang tak sengaja melihat Sakura yang sudah bersender di pintu mobil Sasuke. Naruto terlalu males meladeni orang-orang seperti Sasuke. Sudah tahu salah, masih saja mencari pembenaran.
Sasuke yang sudah tidak tahan lagi dengan penolakan Naruto, kemudian meraih pergelangan tangan Naruto. Iris hitamnya berkilat menahan emosi. "Ikut aku!" tanpa perduli Naruto yang merintih kesakitan akibat cekalan tangannya yang kuat. Langkah lebarnya itu menyeret Naruto mendekati mobil yang sedari tadi terdapat Sakura di sampingnya.
Srettt
Sasuke yang hendak memasukkan Naruto ke dalam mobilnya terhenti, akibat cekalan lain. "Maaf tuan, dia milik saya!"
Mata kuaci itu menatap nyalang Sasuke, pun iris mata Sasuke yang tidak suka akan pengakuan pria di hadapannya ini. "Sejak kapan?"
"Sejak anda memutuskan untuk berselingkuh! Jadi lepaskan tangan Naruto." Shikamaru mendesis marah.
"Cih... Hari ini kau menang, tunggu pembalasanku!"
Sementara Naruto yang mendengar pengakuan Shikamaru masi mematung di tempatnya. Yah, orang yang memyelamatkan Naruto adalah Shikamaru.
"Ayo Naru kita pulang," tangan besar Shikamaru mengegam lembut tangan mungil Naruto. Ia menuntun Naruto ke arah mobil yang di parkirnya sembarangan. Tadi, begitu sampai di pelantara kampus Naruto, ia melihat interaksi yang tidak mengenakkan antara Naruto dan Sasuke. Bagai orang kesetanan Shikamaru langsung memarkirkan mobilnya.
Mobil yang dikendarai Shikamaru membelah jalanan Konoha dengan kecepatan sedang. Hari ini ia bertekat menyatakan perasaannya pada Naruto. Dulu memang ia hanya sekedar merasakan nyaman, tapi setelah kedekatan mereka yang begitu intens membuat perasaan lain tumbuh secara perlahan di hatinya. Cinta—dan cinta itu perlahan mengakar kuat di sudut terdalam hati Shikamaru. Ia tidak ingin kehilangan gadis awannya!
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di sebuah gedung bertingkat.
"Nii, kenapa kita kemari?" Naruto memutuskan untuk bertanya, sebab dari tadi ia hanya diam di dalam mobil Shikamaru. Sepanjang perjalanan tidak ada yang mengeluarkan suara barang satu kata. Mereka asik dengan pikirannya masing-masing.
"Nanti kamu juga tahu. Ayo!"
Mereka berdua melangkah menuju lift gedung itu. Lantai teratas gedung itu menjadi tujuan mereka. Sepanjang jalan tangan mereka saling mengengam satu sama lain. Setibanya di rooftop gedung itu, Shikamaru melepaskan tautan tangan mereka.
Naruto takjub dengan pemandangan yang di sugguhkan alam di sore ini. Ia bahkan sampai menutup mata, menikmati semilir angin menerpa wajahnya. Surai pirangnya berterbangan indah di belai oleh sang angin. Saat ini, langit biru berangsur menjadi keoranyean. Sebentar lagi bulan jingga akan menampakkan biasnya. Tidak pernah Naruto bayangkan, akan ada hal semenakjubkan ini di kota yang sudah berepolusi menjadi kota modern.
Shikamaru yang melihat itu, hanya tersenyum miring. Perlahan ia langkahkan kakinya mendekati Naruto yang masih memejamkan matanya. Dengan lembut, ia tarik sedikit tubuh ramping Naruto agar bersandar di dadanya. Tangan Shikamaru kini melingkar sempurna di perut ramping Naruto. Pun dagunya ia sandarkan di pucuk surai pirang itu.
Nyaman
Irama jantung mereka berdetak melawan kenormalannya.
"Nii..."
"Biarkan seperti ini!"
"Kamu bisa merasakan detak jantungku yang berdetak tak norma?" lembut, suara Shikamaru seperti melodi baru yang Naruto temukan.
"Iya..."
"Kamu tahu, ia hanya berdetak seperti itu hanya waktu bedekatan denganmu. Kamu pasti tau alasannya kenapa. Pertama kali kita bertemu aku sudah merasakan ketertarikan padamu. Waktu mata kita saling bersibobok, saat itu jantungku mulai mengila. Nyaman yang kurasakan sejak pelukan pertamamu, saat itu aku sangat ingin merasakannya lebih lama sampai ku putuskan untuk mulai mendekatimu secara perlahan.
Seiring berjalannyaa waktu, rasa sayang menyelinap masuk ke relung hatiku. Ahh—kamu percaya, tiga bulan kedekatan kita menumbuhkan rasa lain yang melebihi kata sayang. Cinta! Yah, aku mencintaimu. Bahkan cinta itu sudah mengakar di hatiku tanpa ada kata permisi. Aku tidak akan memaksakan kehendakku pada mu. Aku cuman ingin kamu tahu apa yang aku rasakan selama ini." haa... Shikamaru menembuskan napas sejenak, sebelum ia mengeluarkan suaranyaa lagi, "Aku bukan pria romantis yang bisa melakukan hal-hal romantis untuk..." belum ia menyelsaikan kata-katanya suara lain sudah menyela lebih dulu.
"Nii, aku tidak akan menjadi perempuan munafik. Sejujurnya waktu pertama kita saling memandang. Ada sesuatu perasaan aneh menerobos ke hati aku. Perasaan ingin mengenalmu, perasaan ingin dekat dengan kamu. Aku juga tidak tahu saat itu, tubuhku melangkah dengan sendirinya ingin mendekapmu. Nyaman yang kurasakan saat itu membuat ku tidak bisa tidur semalaman. Seiring berjalannya kedekatan kita, aku merasakan hal yang sama terhadap niisan. Aku juga mencintaimu niisaan!" Naruto tidak ingin menjadi orang yang menyesal di kemudian hari. Kenapa harus munafik, kalau memang itu kenyataan yang ia rasakan selama kedekatannya dengan Shikamaru.
Sementara Shikamaru yang mendengar penyataan Naruto, tersenyum indah di atas pucuk kelapa perempuan tercintanya. Ia melepaskan tangan sejanak, guna mengambil sesuatu di dalam kantong jasnya.
"Pejamkan matamu sebentar!"
"Hnn... Sudah."
Dengan lembut, Shikamaru menyisihkan rambut panjang Naruto kesamping. Sebuah liontin berbandul cincin emas dan hitam terpasang indah di leher jenjang Naruto. Bandul cincin itu saling mengikat satu sama lain! Sederhan, namun penuh akan makna dan ketulusan mendalam.
"Sekarang buka matamu!"
Perlahan tangan tan itu, meraba lehernya. Naruto tak bisa berkata apa-apa. Liquid bening seakan ingin keluar dari tempatnya. Serasa mimpi, cinta tulus dari Shikamaru dapat ia rasakan di setiap perlakuan pria itu.
Perlahan ia berbalik menghadap Shikamaru tanpa melepaskan tautan tangan pria itu dari tubuhnya. Naruto ingin memandang wajah pria itu. Senyum khas seorang Shikamaru terpampang indah di wajah malas nan menawan itu. Dua iris berbeda warna saling bersibobok. Kuaci itu menatap intens wajah indah Naruto. Dari mata, hidung, pipi yang dihiasi tiga garis tipis menambahkan kesan manis. Belum lagi bibir semerah buah cherry. Hanya lelaki bodoh yang pernah menyia-nyiakan mahluk seindah Naruto.
Sementara Naruto yang di tatap intens oleh Shikamaru mulai menengang. Bagaimana tidak, wajah pria itu semakin mendekat, mata kuacinya terus saja menatap bibir Naruto.
"Boleh?" Naruto seakan tahu kemana arah pertanyaan itu mengangguk ragu.
"Tidak apa, kalau belum si...,"
Sebuah benda kenyal menempel pada bibir Shikamaru menghentikan ucapannya. Seakan mendapatkan lampu hijau, perlahan Shika mengerakkan bibirnya. Lembut, sangat lembut! Bunyi khas orang berciuman di saksi langit jingga dan sunset. Lumatan-lumatan kecil seakan memanjakan bibir Naruto. Jilatan lembut pada setiap sisi bibirnya mebuat perasaan Naruto berdesir panas.
"Mmhh..." desahan kecil mulai terdengar dari mulut Naruto. Ia seakan lupa, ini kali pertamanya ia benar-benar merasakan berciuman dengan seorang pria.
Senyum miring tersunging di bibir Shikamaru, kala mendenagar suara desahan kecil dari mulut gadis tercintanya. Perlahan, lidah Shikamaru menerobos masuk melalui sela-sela gigi Naruto yang terbuka spontan. Lidah Shikamaru mengabsen setiap pangkal gigi putih Naruto, mengepos setiap ronga dalam mulut Naruto. Lidah mereka saling beradu bermain lembut dan nyaman untuk saling bertukar saliva. Tangannya pun tak tinggal diam di belakang tubuh Naruto. Tangan Shikamaru mengusap lembut punggung Naruto lembut. Cukup! Naruto sekarang butuh oksigen. Perlahan mereka melapaskan tautan bibir itu guna menghirup udara.
"Terima kasih..." setalah sekian detik kediaman di antara mereka, Shikamaru membuka sauaranya. Shikamaru menatap intens wajah Naruto yang sudah tampak memerah karena ulahnya.
Naruto hanya dapat menganggukan kepalanya sebagai respon. Ia menunduk malu. Ini sesutu yang sangat mengejutkan. Selama ini ia tak pernah lepas kontrol. Tapi sekarang, bagai terbuai ia seakan lupa akan dunianya.
"Hei, tatap aku!" dengan lembut jari Shikamaru mengangkat dagu Naruto. Iris samudra dan kuaci itu saling bertatapan penuh cinta. Menyalurkan apa yang mereka rasakan satu sama lain. Pancaran mata mereka mengisyaratkan betapa mereka saling mencintai satu sama lain. Perlahan Shikamaru mengecup lembut dahi Naruto, seolah-seolah ia menyatakan betapa berharganya gadis ini untuk kehidupan Shikamaru.
"Ayo, pulang. Kita harus ada di rumah sebelum makan malam." Shikamaru kemudian mengengam tangan Naruto. Menuntun gadis itu menuju pelantara basement di mana ia memarkirkan mobilnya.
Mobil hitam Shikamaru melaju mulus di jalan kota yang sengang. Senyum tak pernah lepas dari kedua insan yamg sedang di mabuk cinta itu. Tidak mereka sadari ada mobil lain yang mengikuti di belakang. Namun bukan Shikamaru namanya, yang merasakan ada keganjelan sedari mereka keluar dari basement tadi. Shikamaru dengan sengera menambah kecepatan mobilnya.
"Shitttt..." Mata kuacinya harap-harap cemas memandang kaca spion, memperhatikan mobil yang mengikuti mereka di belakang.
"Niisan kenapa?" ada nada ketakutan yang di keluarkan Naruto. "Jangan ngebut nii, aku takut!"
"Tenang yah, ada yang mengikuti kita." tangan kiri Shikamaru mengusap lembut surai pirang Naruto. Ia berusaha menenangkan gadis itu.
"Shitt, remnya blong Naru." spontan Shikamaru melepaskan jasnya, kemudian ia berikan pada Naruto. "Gunakan jas itu untuk melindungi kepalamu. Dalam hitungan ketiga kamu lompat dari mobil ini, ok!"
"Naru tidak mau, bagaimanaa dengan niisan?"
"Tidak ada bantahan. Nyawa mu lebih penting!"
"Tapi, tapi..."
"Please... Naru, ikuti kata-kata niisan yah!"
"Ok, janji sama Naru, niisan harus selamat!"
"Niisan janji. Niisan akan selamat demi Naru!" ada jeda sejenak "Niisan sudah bukakan kunci pintunya, dalam hitungan tiga Naru harus lompat!"
Satu
Dua
Tiga
Brak
Suara benturan keras mengalihkan atensi pengendara lainnya. Naruto terjatuh di pembatas jalan dengan kepala yang terbentur. Ia sempat memandang mobil yang di kendarai Shikamaru yang mulai samar sebelum kesadarannya menghilang. Sementara Shikamaru sendiri selang beberapa menit Naruto melompat, ia mulai berpinda ke sebela kiri dengan tangan yang masih memegang kendali kemudi mobilnya. Pintu samping kiri masi terbuka. Kala ia melihat kondisi di depannya sepi, ia langsung melompat keluar dari mobilnya.
Mobil itu ringsek ke kiri, menabrak pembatas jalan sepanjang lima meter sebelum suara letusan hebat terdengar.
Konoha hospital kini sedang di hebohkan dengan suara raungan keras perempuan bersurai merah. Dua orang yang sangat berharga untuk mereka sedang berjuang di ruangan operasi yang berbeda.
Tengang
Was-was
Cemas
Takut
Itu yang sedang di rasakan Minato dan Kushina saat ini. Setelah mereka mendapatkan kabar dari pihak hospital akan kondisi Shikamaru dan Naruto dalam keadaan sekarat. Doa tak henti-hentinya mereka utarakan pada Kami-sama akan keselamat anak-anak mereka di dalam sana.
Setalah dua jam menunggu. Dokter yang melakukan operasi pada anak-anak mereka keluar secara bersamaan.
"Tuan dan nyonya Namikaze."
"Yah dok, saya sendiri. Dan ini istri saya, bagaimanaa keadaan anak-anak kami dok?"
"Syukurlah, anak-anak tuan dan nyonya dalam kondisi baik. Masa kritis telah mereka lewati. Kemungkinan dalam waktu dua puluh empat jam mereka berdua baru akan sadar," ada jeda sejenak "Naruto mengalami geger otak ringan. Sementara Shikamaru cukup parah, ia mengalami geger otak ringan, serta tulang lengan kiri dan kaki kirinya mengalami keretakan. Tuan dan nyonya tenang saja. Keretakannya masi bisa puli seperti semula dengan melakukan terapi rutin."
"Terima kasih dok."
"Sama-sama, tuan dan nyonya! Mari, saya permisi dulu memeriksa pasien yang lainya."
TBC
Nurul Hdiyah
11 May 2020
