Pair : Dazai x Chuuya of BSD

Genre : - Romance

- Hurt/Comfort

- Drama

- BoysLove

- AU

Rate : T

Warn : Bahasa yang digunakan tidak sesuai kaedah penulisan yang baik dan benar, tulisan berantakan dan banyak typo berteberan, kemungkinan OOC


*Bungo Stray Dogs and all of the characters belong to Asagiri Kafka and Harukawa Sango*

.

.

.

.

.

Nakahara Chuuya bukanlah manusia pada umumnya. Atau begitulah sudut pandangnya menyatakan tentang bagaimana seharusnya manusia berasal. Dia tidak pernah ingat keluar dari rahim wanita manapun, atau kehadiran seseorang untuk bercerita kepadanya. Safir biru itu tidak menemukan serpihan masa lalu dari tempatnya berada. Kegelapan yang terlalu melekat telah berperan dengan sangat baik sebagai barikade informasi luar untuk sampai dalam ruang lingkupnya. Apa ya namanya ... 'segel'?

Entahlah ... Chuuya yang saat itu tidak terlalu mengerti apa artinya. Berlaku sama juga untuk semua kosa kata. Dan apakah keadaan saat itu benar-benar dapat dengan sembrono dianggapnya sebagai 'gelap', mengingat dia tidak memiliki perbandingan spesifik untuk menyatakan sifat tempat itu. Tidak. Dia tidak memiliki apapun.

Sejak awal memang sesuatu seperti akal dan kepribadian itu tidak dianugerahkan kepadanya. Agaknya Chuuya sedikit beruntung karena dirinya jadi tidak perlu memusingkan hal tidak penting. Lagipula bukan hal yang lazim bagi sebuah wadah untuk memiliki pemikiran sendiri. Itu bukan hal yang benar.

Selama itu dirinya hanyalah bagian dari kekuatan penghancur yang diasingkan. Noda penuh penderitaan. Sebuah cangkang berisi entah itu apa —namun sangat penting juga berbahaya yang membuat berakhir seperti ini. Chuuya memegang kepercayaan itu. Kemudian tiba-tiba saja sebuah tangan menariknya, membawa serta kegelapan dan mencemari ketenangannya.

Surga yang hancur.

Nafas Chuuya memburu, dan bersamaan dengan itu sesuatu menyeruak keluar dari wadahnya. Cangkangnya telah pecah. Dan dirinya mendapat julukan baru.

Oh sungguh orang-orang telah salah paham.

Apa-apaan itu? Hanya sekali kedipan dan 'dewa' sudah dielu-elukan padanya? Karena menghacurkan satu kota... ?

Entah darimana datangnya inspirasi itu... Tapi ada satu sisi dimana sebutan itu memiliki kecacatan.

Dia tidak pernah memiliki kekuasaan apapun untuk mengubah takdir. Tidak dulu, maupun sekarang. Atas dirinya saja, sebuah pemikiran tak sanggup menjamahnya. Mereka tidak berpikir jika dirinya sama tidak berdaya dengan mereka. Semua sama saja. Tapi memang manusia memberi nama semacam itu pada hal-hal di luar pengetahuan mereka. Setidaknya itu bukan yang terburuk.

Baiklah, sudah cukup cerita masa lalunya.

Sekarang sudah hampir tahun kelima Chuuya menjabat eksekutif Port Mafia. Banyak yang dilaluinya. Dan kali ini sebagai manusia —lebih mudah jika dianggap begitu. Bahkan dia memiliki satu hari dalam setahun yang didedikasikan untuknya. Dengan begini dia dapat berpura-pura memiliki masa lalu yang normal.

Bagus!

Ngomong-ngomong soal hari itu, terdapat satu orang yang mengambil peran sebagai pencetus. "Ini untuk merayakan kebebasan Chuuya", begitu katanya. Dan tanggal 29 April pun ditetapkan. Memang beberapa hal tampak membingungkan jika kau hanya menyimak penggalannya saja, tapi jika dijalani tidak terlalu rumit juga.

Ah iya, Chuuya jadi kepikiran. Dia pernah mendengar sesuatu seperti kelahiran yang selalu diikuti dengan kematian. Dua hal yang tidak pernah terlepas memang. Kabar mengatakan jika ada kelahiran di suatu tempat, maka saat itu juga akan ada yang meninggal di tempat lain. Entahlah, mungkin juga sekedar mitos. Atau hasil karangan tanpa arah dan dasar. Hal yang tampak seperti skenario buatan penulis tingkat tiga seperti itu, bahkan tidak akan masuk dalam selera Chuuya.

Tapi karena Chuuya sudah terlanjur memikirkan hal ini, maka biarlah pikirannya meracau lebih jauh lagi. Bekerja untuk Port Mafia berarti dirinya sudah melihat mayat setidaknya lebih dari satu atau dua kali, dan tidak jarang jika dirinya terlibat langsung dalam hal itu jika mempertimbangkan posisinya sebagai bagian sebuah organisasi kriminal. Setidaknya ada komando penyerangan atau bisnis yang memerlukan penanganan 'khusus' di bawah namanya. Jadi Chuuya cukup akrab dengan kematian itu sendiri. Dan bukan hal yang tabu juga.

Tetap wajar untuk merasakan perasaan tak enak ketika menemukan darah mengucur dari salah satu kepala atau tubuh yang terbujur kaku dengan bola mata membuka, bahkan untuk orang seperti Chuuya sekalipun —yang notabenenya dulu bekerja untuk melindungi anak-anak jalanan. Tidak masalah untuk memiliki sedikit nurani, dengan syarat itu tidak menumpulkan akalmu. Namun jika untuk beberapa alasan, muncul pertanyaan seperti "apa kau bahkan mengingat kematian seseorang?" ditujukan untuk seorang eksekutif kriminal —diantara sekian ribu yang telah disaksikannya. Maka Chuuya tidak bisa tahan untuk menyebut yang satu itu.

Mungkin tidak ada sangkut pautnya. Chuuya bahkan sangat jarang berinteraksi dengan orang yang dimaksud. Karena memang selama hidupnya bukanlah sesuatu yang akan terlalu Chuuya perhatikan. Tidak bermaksud buruk, tapi memang pada dasarnya Chuuya tidak mengenal orang itu melebihi nama. Pada pekerjaan pun, sangat jarang mereka terlibat kontribusi yang sama. Ralat, tidak pernah ada keterlibatan antar dua orang itu bahkan ketika mereka dalam organisasi yang sama. Port Mafia memiliki terlalu banyak anggota dan divisi.

Namun ketika salah satu kenalan —lebih seperti rekan yang kurang ajar— menjalin hubungan terlampau baik dengan orang itu, itu persoalan lain. Dia membuat Chuuya kagum tentu saja, siapapun yang dapat betah dengan si maniak, dan dalam beberapa kasus telah membuat perban sialan itu menyematkan gelar 'teman baik' adalah seorang yang suci. Bahkan pemimpin Port Mafia —yang sekaligus pengawas pribadi maniak perban— tidak bisa melakukannya. Yahh ... tuan pimpinan memang tidak bisa disebut orang suci untuk memulainya di tempat awal.

Oda Sakunosuke. Cerita itu cukup populer. Seorang dengan tingkatan terendah dalam Port Mafia, dimana pekerjaan yang diberikan biasanya berupa patroli di gang belakang gedung, atau menagih pajak pada toko yang membayar sewa. Ah! ada juga yang lumayan seru seperti menjinakkan bom. Ya, Seseorang yang seperti itu. Mampu menjalin tali pertemanan yang ramah dengan salah satu eksekutif organisasi. Dan bukan yang biasa diantara kelima yang lain, rekam jejaknya dapat dengan akurat memastikannya.

Para bawahannya terlihat memiliki banyak kesenggangan sehingga Chuuya beberapa kali menemui nama itu terselip dalam beberapa bisikan —yang tidak cukup pelan untuk tidak terdengar— diantara misi-misi mereka. Membicarakan betapa dramanya hal itu. Juga opini tanpa dasar yang dengan sangat frontal menolak kecocokan antara dua orang bersangkutan.

Sok tahu.

Jadi dengan adanya semua itu, nama Oda Sakunosuke menjadikannya cukup akrab di telinga Chuuya. Seolah satu dua ocehan seorang maniak perban tidak membantu nama itu tertanam dalam akal sehatnya. Chuuya mendapatinya sebagai orang yang dipanggil 'Odasaku'.

"Odasaku itu orang yang hebat, dan kau akan tahu ketika sedikit saja menghabiskan waktu dengannya"

Dan—

"Itu kalau otakmu dapat kau gunakan dengan baik"

Atas kalimat yang terakhir itu, kening Chuuya berkedut. Juga muncul keinginan untuk menerbangkan rekannya sampai Mesir. Biar dia jadi mumi sungguhan dan diawetkan saja. Ah, tapi untuk apa diawetkan? Tidak akan ada yang mau barang seperti itu.

Percakapan mengenai si 'Odasaku' ini memang jarang terjadi, bahkan bisa dibilang hampir nol kemungkinan jika tanpa pemicu. Chuuya juga tidak mau repot-repot memulainya. Tidak ada urusan. Namun, ketika nama itu terselip diantara dua bibir tipis rekan menyebalkannya, selalu ada kehebatan di sana.

Sudut pandang sang 'teman baik' memang berbeda... .

Dan Chuuya tidak perlu mempertanyakan siapa yang harus dipercaya.

Meski dalam hatinya ada perasaan janggal ketika percakapan dengan nol kemungkinan itu terjadi. Entahlah ... Chuuya juga tidak tahu dengan pasti. Mungkin, karena bukan hal yang lumrah ketika mendengar kebaikan bersuara dengan mulut itu. Mungkin juga hal yang lain.

Hingga beberapa hari kemudian, terdengar kabar Odasaku telah meregang nyawa. Chuuya terkejut bukan main. Kakinya dengan tergesa membawanya mencari entitas berbalut perban. Terpikir olehnya untuk mengunjungi bar yang diketahuinya sebagai tempat favorit mereka, namun mungkin lebih baik jika ia memeriksa kantor pusat dulu. Kabar ini masih baru. Dan dari yang didengarnya, kematian menghampiri orang itu dalam bentuk undangan. Sebuah pancingan emosi. Hal berikutnya adalah, organisasi musuh menyusup ke Yokohama telah diberantas, dan berakhir dengan lisensi pengakuan secara legal atas seluruh aktivitas Port Mafia. Odasaku telah berhasil, pemimpin organisasi musuh telah dikalahkan. Begitu juga dengan dirinya... .

Chuuya mendapati orang yang dicarinya, tergesa-gesa ke arah pintu keluar, tanpa repot-repot mempermasalahkan dirinya yang berulang kali tersandung langkahnya sendiri. Yang ada di wajah itu, bukan raut tenang atau semacamnya, pun mata ikan mati di manik kakao. Tidak. Untuk sekarang tidak ada sama sekali.

Sekali lihat Chuuya langsung tahu. Arti dari keberadaan Odasaku. Bagaimana hari-hari yang berlalu dengan adanya sosok itu. Dan memang ... Odasaku dan 'teman baik' ... bukanlah gurauan belaka... .

Punggungnya semakin menjauh. Chuuya harus menelan kenyataan bahwa bahkan dirinya tidak bisa mendekat meski sudah berlarian seperti ini. Aura berat yang entah dari mana tidak mampu membuah langkah kecil itu mengayun. Apalagi mengucap "Kau sudah terlambat", demi Tuhan Chuuya tidak akan berani!

Mungkin dia akan merutuki hal ini nanti. Tapi sungguh, ruang diantara orang itu dengan Odasaku bukanlah tempatnya. Tidak ada yang tersisa untuknya dalam lingkup itu. Chuuya terlalu tahu hal itu hingga membuatnya tidak punya pilihan selain menatap kibaran mantel hitam yang semakin mengecil.

'Hei ... kau tak mau menoleh ke belakang?'

.

.

.

Satu kematian.

Satu kematian yang berdampak lebih dari ekspetasi Nakahara Chuuya. Hanya satu yang itu, diantara lusinan yang orang itu telah sebabkan. Sungguh lucu... .

Bagaimana Chuuya bisa lupa?

———

Sudah lewat beberapa tahun sejak kejadian itu. Tidak ada perubahan spesifik yang terjadi. Tapi ketika memikirkan bagaimana mantel hitam yang melambai padanya, yang semakin menciut sementara lubang di hati Chuuya makin membesar, Chuuya sadar hidupnya tidak akan sama lagi.

Kehidupan 'manusia'nya tidak pernah sama. Selalu berubah dari penjaga anak jalanan, pemburu lagenda, hingga eksekutif Port Mafia. Dan di atas semua itu, selalu ada orang menyebalkan yang bernapas di sekitarnya.

Baiklah, sebenarnya hanya satu. Dan telah seenaknya mengajukan diri untuk memberi Chuuya kebebasan —sangat menyebalkan mengingat itu hanyalah alasan untuk mencemooh Chuuya dan kelompoknya. Namun memang ucapannya kala itu yang mengisi kekosongan hati Chuuya ketika merasakan pengkhianatan pertamanya. Membiarkan masuk ke ranah baru yang disiapkan olehnya.

Sekarang orang itu juga sudah tidak ada.

Si pemberi alasan sudah pergi.

Menciptakan kembali lubang yang sebelumnya sudah tertambal. Benar-benar aneh. Juga janggal. Sebenarnya ada apa dengannya? Satu eksistansi dan keadaan Chuuya telah benar-benar berantakan. Hal serumit ini tidak pernah dirasakannya ketika ia masih terkukung dalam segel dan menjadi dewa. Meski begitu Chuuya masihlah di sini. Dia tidak ingin perasaan membawanya terlalu jauh dan meninggalkan satu-satunya tempat yang dia miliki. Tidak ingin lagi.

Hingga akhirnya di tengah semua itu, sebuah kabar kembali terdengar. Sebuah organisasi lain yang mendapat anggota baru. Bukan organisasi kriminal, apalagi ilegal. Tempat itu jauh dari dua kata itu. Idealisme yang mereka anut jelas keterbalikan dengan yang dimiliki Port Mafia.

... hati Chuuya mencelos... .

Satu kematian. Satu kematian dan perubahannya sudah sangat begitu menarik. Ini bisa jadi tidak masuk akal dan masuk akal di saat bersamaan. Rasanya untuk sekilas tadi Chuuya dapat merasakan dunia berputar akibat berbagai kontradiksi yang menghantam kepalanya beberapa tahun terakhir.

"Orang ini benar-benar lelucon... .", dan senyuman lembut akhirnya dapat terukir pada putihnya porselen.

Tidak lama.

Karena setelahnya dering ponsel berbunyi tanpa tahu suasana. Dari nomor yang tak dikenal pula. Chuuya sudah akan mengabaikan siapa saja yang mengiriminya, ketika tangan yang bergetar mulai mencengkeram ponsel lipat di sana.

.

.

From : 81-45-XXXX-XXXX

Subject :

Pemakaman kota, datanglah ke sini...

.

.

Chuuya menghela napas. Terlalu jelas baginya untuk menebak sang pengirim pesan. Dan kenapa juga harus hari ini... ?

Ah tidak, hari ini hari yang tepat... .

Lalu kenapa dia masih ragu?

Beberapa menit dilewatinya hanya dengan menatap langit-langit ruangan. Dia ingin pergi. Tapi juga tidak ingin. Perasaan janggal itu kembali menahannya. Sama seperti terakhir kali mantel hitam melewatinya tanpa ampun.

Dia tahu sekalinya melewati pintu itu, serpihan kecil hatinya akan menyesal. Ketika dia menemui orang itu, semuanya akan bertambah rumit lagi. Tidak akan ada ketenangan. Dan yang menanti di depan hanyalah ketidakpastian yang berulang-ulang.

Tapi mungkin Chuuya memang suka menyiksa diri seperti itu. Jadi ketika hembusan nafasnya yang kesekian kali, tahu-tahu kakinya sudah menapak pada rerumputan tanah pemakaman. Chuuya merutuk dalam hati.

Orang itu ada di sana. Duduk membelakanginya dengan kepala menunduk. Mantel krem yang dipakainya menyapu lantai rumput, dan tali belakangnya menari tertiup angin musim semi. Sama sekali bukan mantel yang sama dengan yang terakhir menyapa pandangannya... .

Kali ini Chuuya berani mengambil langkah. Dengan empat tangkai lathyrus bergabung dalam sambungan warna dedalu di tangan kanan, mendekati langit tenang sebelum badai. Ya, Chuuya sempat berkunjung ke toko bunga sebelum ke sini tadi. Sungguh baik... .

Meletakkannya di depan nisan, Chuuya mengatupkan kedua telapaknya. Setidaknya ada tata krama ketika berziarah, dia tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahuinya. Orang di sampingnya mulai memberi perhatian pada Chuuya. Namun dia tidak keberatan untuk menunggu Chuuya menyelesaikan urusannya terlebih dulu.

Iris safirnya membuka. Chuuya bukannya tidak merasa kalau sedari tadi dirinya jadi obyek penatapan, dan lumayan risih juga sebenarnya. Jadi ketika pihak lawan mulai berdiri, Chuuya tidak bisa menolak untuk bergabung dalam adu pandang.

Surai ikal kecoklatan. Dua manik besar senada. Juga perban-perban konyol yang tak diketahui maunya apa juga masih sama. Hanya saja penampilannya memang berbeda dari yang terakhir kali, tapi masih dengan gaya yang sama.

Ah! Dan dia juga jadi lebih tinggi. Kini perbedaannya hanya menyisakan ujung kepala Chuuya yang sebatas bahu lawan mainnya. Ironi... .

Chuuya tidak akan menyukai bagian terakhir itu.

Dan untuk beberapa alasan, hal ini seolah memaparkan bagaimana Chuuya yang tidak ikut bergerak bersama waktu. Seolah selama ini Chuuya hanya mengamati punggung-punggung yang membelakanginya dengan kedua kaki dipasak ke lantai. Suara klise di belakangnya meneriakkan soal ketertinggalan.

Oh sungguhan!!

Ini tidak akan berhasil!

Terhitung tidak sampai semenit mereka bertatapan tanpa kata dan telah mengacaukan pikiran Chuuya —ditambah dengan perdebatan batin yang dilaluinya untuk sampai ke sini. Kemungkinan dengan hitungan mundur, mentalnya akan jatuh ke hal yang sama.

"Kupikir kau tidak akan datang", senyum nostalgia menyapa pandangan Chuuya pada detik berikutnya, memecah keheningan.

"Dan kupikir kau sudah menerjunkan diri entah dimana dan mayatmu tidak ditemukan. Aku hampir saja bahagia"

'Syukurlah kau masih hidup... .'

"Odasaku menyuruhku untuk melanjutkan hidup dan berbuat kebaikan. Menolong banyak orang, katanya..."

'Oh'

"Maaf mengecewakanmu ya... ." Senyum itu masih ada di sana.

"Tentu. Dan kaupikir bisa menghapus dosa dengan memberikan jasa seumur hidupmu. Semoga beruntung!"

"Chuuya, karena inilah kau tidak pernah punya teman sungguhan, kau tahu~"

"Kalau yang dimaksud 'teman' itu adalah orang sepertimu, maka aku tidak akan sudi"

'Aku tidak pernah mau hubungan seperti itu denganmu!'

"Aku juga tidak mau dengan makhluk bersel satu macam Chuuya, haha... ."

Tawa itu mengambang di udara. Rasanya seperti ikut terbawa angin, sebelum keduanya benar-benar menutup mulut. Sebuah pikiran melabuhkan keduanya jauh dari tanah pemakaman. Masih misteri apakah itu hal yang menyenangkan atau justru membuat dada sesak. Atau bahkan keduanya.

Kenyataannya memang bukan hanya Chuuya yang merasa pening di kepala bertambah berkali-kali lipat, atau udara sekitar yang menjadi hampa secara mendadak.

Selama selang waktu yang terlewati ... tidak, bahkan sebelum itu! Siang ataupun malam ... orang di sampingnya ini juga... .

"Selamat ulang tahun", senyumannya kembali. Chuuya tidak tahu harus senang atau susah sekarang. Tapi dia ingin sekali melayangkan tinju pada wajah berjarak 20 senti di atasnya itu.

"Aku tidak butuh!", meski hanya ucapan ketus yang keluar, tinjunya tidak.

Sumpah, bukan itu yang ingin Chuuya ucapkan. Tapi kebiasaan telah mengambil ahli sistem motoriknya. Apa boleh buat... .

"Kau tidak menghargaiku, Chuuya ... Menurutmu siapa yang membuat hari ini ada pada awalnya, hmm?"

Menyebalkan!

"Kau hanya berbuat seenaknya seperti yang sudah-sudah, tuan Dazai Osamu yang terhormat!", balasan penuh sarkasme itu datang dengan penekanan di setiap katanya. Seolah intonasi biasa tidak akan pernah dimengerti oleh otak cerdas Dazai Osamu.

"Kau selalu begitu... ."

Untuk yang terakhir tadi, nada suaranya benar-benar pelan. Lebih seperti kata yang ingin dipendam saja tanpa maksud muncul ke permukaan ... tapi berakhir seperti bom waktu... .

Dazai Osamu menjadi orang pertama yang memotong jarak ketika manik safir yang menatapnya telah banyak dipenuhi mendung. Menimbulkan nyeri pada ulu hati yang membawa pikirannya pada sosok meringkuk di sudut-sudut gelap.

Dirinya sendiri... .

Nakahara Chuuya sungguh terlihat rapuh. Dan Dazai Osamu tidak ada bedanya... .

"Mungkin karena setiap orang selalu begitu, jadi aku pun tidak ada bedanya... .", bahkan rasa sakit yang aneh tidak dapat menghentikannya. Tangan itu memberanikan diri untuk meraih senja di hadapannya.

Sementara yang lain tidak memberikan balasan. Lengan berbalut perbah telah memberi kontak pada dagu yang lebih mungil. Hingga beberapa detik setelahnya adalah sang jarak yang melenyapkan eksistensi canggung diantara kedua insan.

.

.

.

.

.

-fin-

-Iryss-

May, 11th 2020


NOTE :

Jadi ini dipersembahkan untuk ulang tahun Nakahara Chuuya tanggal 29 April kemari yang telat hampir 2 minggu, maaafkaaaannnn (﹏)

Daaan... kalau ada yang mau baca ini, saya sungguh berterimakasih dan semoga suka... :'3 ini juga merupakan fanfic pertama saya di ffn hehe... (๑•﹏•) jadi kalau ada yang tidak berkenan atau tidak sesuai selera, mohon kritik dan sarannya...

Terimakasih

Happy late birthday for our petite mafia UwU~~