Random Talk
.
.
Amato tengah asyik membaca berita sore dari tablet miliknya, ketika sudut matanya menangkap gerakan sekelebat warna hijau. Tadinya, ayah tujuh remaja putra kembar itu berniat melanjutkan bacaannya. Namun, kemudian, salah satu permata hatinya datang mendekat, lantas duduk bersila di karpet ruang keluarga yang lembut. Tepat di hadapannya.
Masih duduk santai di sofa, Amato tetap berusaha fokus membaca. Meskipun demikian, matanya tak mampu berhenti melirik ke arah anak itu. Penasaran, apa yang diinginkan putranya yang sampai detik ini tak kunjung mengatakan apa pun. Hanya menatapnya dalam diam, dengan sepasang matanya yang bulat dan bening.
"Duri?" akhirnya sang ayah tak tahan lagi untuk tetap membisu. "Ada apa, Nak?"
Remaja empat belas tahun berbaju dan bertopi serba hijau-hitam itu tersentak sedikit ketika tiba-tiba ditegur. Kemudian senyum lebarnya terbit. Hati Amato seketika menghangat dan wajahnya berubah seperti orang bodoh. Tanpa dikatakan pun, semua orang tahu dia sedang heboh sendiri berkata dalam hati, 'Anakku manis sekaliii~'
"Ayah?" Akhirnya Duri bicara juga. "Apa perut Ayah sakit?"
Amato mengerjap-ngerjap bingung.
"Hah?"
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta(c)
Fanfiction "Random Talk" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
AU. No plot. Untuk #DrabbleChallengeSpecialRamadhan.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
"Tadi Duri mau ngajak Kak Gem ngobrol, tapi Kak Gem lagi sibuk di dapur. Kata Kak Gem, Duri ngobrol aja sama yang lain, tapi bingung mau ngobrol sama siapa. Semuanya sibuk. Terus, kata Kak Gem suruh coba ngobrol sama Ayah. Pasti seru, soalnya Ayah udah banyak makan asam garam. Lagian, Duri 'kan jarang ngobrol sama Ayah. Jadi gitu, Ayah, ceritanya."
Amato hanya mengangguk-angguk tanpa menyela selama Duri menjelaskan panjang lebar. Tentu saja, dia sangat senang jika salah satu putra kesayangannya ingin mengobrol.
"Tapi ... kenapa Ayah makan asam sama garam?" Duri memiringkan kepalanya. "Memangnya enak? Perut Ayah nggak sakit?"
Ah. Sekarang Amato baru mengerti mengapa Duri menanyakan kondisi perutnya. Pria paruh baya itu terkekeh pelan, lantas meletakkan tablet miliknya begitu saja di sofa. Dia sendiri memilih untuk ikut duduk bersila di karpet, berhadap-hadapan dengan putra keenamnya yang masih duduk dengan tenang di sana.
"Itu hanya ungkapan, Nak," kata Amato kemudian. "Bukan berarti Ayah benar-benar makan asam dan garam."
"Ungkapan?" Duri masih memiringkan kepalanya.
"Makan asam garam, artinya sudah banyak pengalaman hidup."
Sepasang mata beriris zamrud itu berbinar seketika menatap sang ayah.
"Oooh! Iya, iya, betul. Ayah udah banyak pengalaman, soalnya udah punya uban banyak~"
Duri tertawa, sementara Amato hanya terkekeh canggung.
"Sebenarnya nggak ada hubungannya dengan uban, sih." Amato mengesampingkan bahasan itu karena tahu Duri tidak bermaksud buruk. "Nah, sekarang ... Duri mau ngobrol apa sama Ayah?"
"Hmmm ..."
Duri tampak berpikir lama sambil bersedekap. Keningnya berkerut-kerut. Amato sabar menunggu. Hingga nyaris semenit, sinar mata anak itu sudah dipenuhi satu antusiasme lagi. Seolah sudah menemukan pokok bahasan yang menarik.
"Ayah, Ayah!"
"Iya, Nak?"
"Ayah tahu enggak, waktu kecil senyum Ayah aneh sekali!"
Duri kembali tertawa. Dan Amato bingung harus bereaksi bagaimana.
"Tok Aba pernah kasih lihat foto Ayah waktu masih kecil ke Duri." Anak itu masih berusaha menuntaskan tawanya. "Kok Ayah senyumnya gitu, sih?"
"Nggg ... Ahaha ..." Amato tertawa datar. "Nak, kenapa kita nggak ngobrol tentang hal lain saja?"
Duri kembali memiringkan kepalanya dengan wajah tanpa dosa. Tawanya sudah berhenti.
"Soal apa, Ayah?"
Amato berpikir-pikir sebentar. "Oh ya. Kenapa Duri nggak membantu Gempa di dapur?"
"Soalnya, hari ini giliran Kak Gem dan Kak Ice yang masak."
"Oh ya?"
Amato agak terkejut karena menyangka Ice sedang tidur pulas menunggu waktu berbuka puasa seperti biasa. Ternyata anak itu mau juga bergerak, bahkan melakukan hal merepotkan seperti memasak.
"Besok giliran Kak Upan sama Solar yang masak," Duri melanjutkan. "Besoknya baru Duri sama Kak Blaze masak bareng Kak Hali."
Alis Amato terangkat. Pembagian tugas memasak ini sedikit di luar perkiraannya.
"Hoo ... Tumben Duri dan Blaze nggak bareng Taufan?"
"Kata Kak Hali nggak boleh, Ayah. Nanti dapurnya meledak katanya. Ahahahaha ..."
Di akhir kalimat itu, tawa Duri ikut meledak. Amato sweatdrop seketika.
"Duri, Nak. Itu bukan sesuatu yang patut ditertawakan."
Duri menghentikan tawanya sambil menutup mulut dengan kedua tangan selama dua detik. Detik berikutnya lagi, anak itu sudah terkekeh malu-malu.
"Ya sudah, kita ngomongin ungkapan lagi saja, bagaimana?"
Sepertinya Amato pun selalu merasa kehabisan bahan pembicaraan setiap kali berhadapan dengan Duri. Itu kalau ia ingin mencegah putranya yang satu ini untuk mengangkat topik pembicaraan yang terlalu 'ajaib'.
Tadinya Amato khawatir usulnya dirasa membosankan bagi Duri, tapi ternyata anak itu menyambut dengan wajah berbinar.
"Jadi kita belajar?" tanyanya. "Kak Hali juga lagi ngajarin Kak Upan sama Kak Blaze belajar."
"Oh, ya?"
"Soalnya Kak Upan sama Kak Blaze belum ngerjain tugas. Kalau Duri udah tadi pagi, bareng sama Solar, hehehe ..."
"Pinter, anak Ayah."
Amato tersenyum, lantas mengacak pelan rambut putranya. Senyum Duri pun bertambah cerah karenanya.
"Jadi ... kita mau belajar ungkapan apa, Ayah?" Duri menatap ayahnya dengan mata bertanya-tanya, sebelum ia mendapatkan ide sedetik kemudian. "Duri tahu! Ungkapan yang ada kata 'makan'-nya!"
Amato berpikir agaknya Duri masih penasaran dengan ungkapan 'makan asam garam' tadi.
"Kak Hali sering bilang, Kak Upan suka bikin makan hati. Apa itu juga ungkapan?"
Pertanyaan yang cukup menusuk ke hati kalau didengar orang-orang yang bersangkutan.
Duri. Lama-lama kata-katamu juga bisa bikin Ayah makan hati, Naaak~
Begitu jeritan hati Amato, tetapi ia hanya tersenyum saja.
"Iya, betul," akhirnya sang ayah menjawab juga, toh topik ini dialah yang mengusulkan. "Makan hati itu artinya bersedih atau jengkel karena perbuatan orang lain."
Duri mengangguk-angguk. "Hm, hm. Kak Upan memang suka bikin Kak Hali marah-marah. Nanti rambut Kak Hali tambah banyak ubannya gimana dong, Ayah?"
Duri, Naaak ... Ada apa sih, dengan kamu dan ubaaan?
Amato ingin menggaruk tembok sekarang.
"Tapi, Ayah." Duri pasang pose berpikir yang bagaimana pun juga tetap tampak imut. "Kenapa ungkapannya harus 'makan hati'? Kenapa bukan 'makan jantung'? Atau 'makan otak'?"
Amato nyaris tak bisa berkata-kata.
"Duri, Nak ... Itu menyeramkan," katanya kemudian. "Mungkin ... disebut makan hati karena ... berhubungan dengan perasaan. Dengan emosi. Sesuatu yang kita rasakan di dalam sini."
Amato meletakkan telapak tangan kanannya di dada. Dipejamkannya mata sejenak melengkapi ekspresi serius di wajah. Biar kelihatan keren, begitu. Setelah yakin dirinya sudah membuat putranya terkesan, Amato membuka mata kembali. Senyum kecilnya terbit ketika melihat Duri juga tengah meletakkan telapak tangan kanannya di dada.
"Tapi, Ayah ... Hati kan bukan di situ, tapi di sini." Duri menggeser tangannya ke arah perut sebelah kanan, tepat di bawah tulang rusuk. "Solar pernah kasih tahu Duri, jadi nggak mungkin salah. Solar kan pintar."
"Ah ... Hahaha ..." Sang ayah tertawa kering. "Iya, Nak. Nggak salah, kok."
Duri kembali membawa telapak tangan kanannya ke dada. Keningnya berkerut-kerut tak puas.
"Kalau di sini, berarti bener 'makan jantung', dong?"
Amato ngeri waktu tatapan mata Duri yang penuh tanya kembali mencarinya.
Ini kenapa malah jadi materi pelajaran biologi beginiii?
"Ayah. Memangnya 'perasaan' itu adanya di sini?" Tangan kanan Duri masih di atas dadanya. "Yang bilang siapa?"
"Eh? Mmm ..."
Ketika Amato merasa hampir ingin menangis, sekelebat warna merah tampak di sudut matanya. Ia pun cepat-cepat menoleh. Benar saja, si sulung sedang melintas di ruang keluarga yang damai tanpa pertikaian. Sangat kebetulan, sepasang iris delima sang putra pertama bersitatap dengannya.
"Hali?" sang ayah menyapa duluan. "Kata Duri, kamu sedang mengajari Taufan dan Blaze mengerjakan tugas. Sudah selesai?"
Yang ditanya mengangguk pelan. "Aku mau bantuin Gempa di dapur."
"Lho, bukannya jadwal pembagian tugasnya kamu masih lusa masaknya? Kemarilah, ngobrol sama Ayah dan Duri."
Halilintar menatap ayahnya, lantas ganti menatap Duri yang balas memandangnya dengan tatapan polos. Entah kenapa, Halilintar malah merasakan firasat yang tidak enak. Ia pun menatap sang ayah sekali lagi, dan senyuman ragu sang ayah sontak menguatkan kecurigaannya.
"Kalian lagi ngobrol apa memangnya?"
Halilintar masih enggan mendekat. Matanya berkilat waspada.
"Ngobrolin ungkapan." Duri tersenyum cerah. "Aku lagi nanya Ayah, apa benar 'perasaan' adanya di sini?"
Halilintar melihat adiknya meletakkan tangan di dada. Sang kakak sulung mengernyit, seketika mengendus sesuatu yang akan sangat merepotkan.
"Hmm ... Kalau begitu, kau lanjutkan saja ngobrol sama Ayah. Aku bantu-bantu Gempa saja di dapur, biar cepat selesai—"
"Halilintar."
Panggilan sang ayah membuat langkah Halilintar yang sudah hampir beranjak, terpaksa terhenti.
"Ayah rasa Gempa dan Ice sebentar lagi selesai. Ayo, sini, kita ngobrol—"
Kali ini kalimat Amato yang terputus. Penyebabnya, tatapan lurus Halilintar yang mendadak menajam berkali-kali lipat.
"Ayah." Entah mengapa, panggilan yang paling disukai Amato daripada apa pun di dunia ini, tiba-tiba terasa begitu menekan. "Ayah 'kan selalu mengajari kami untuk berusaha mengatasi masalah kami sendiri."
Si sulung menjeda satu-dua detik. Amato sampai merasa harus memuji putranya yang mampu menciptakan suasana seintens itu.
"Jadi," Halilintar melanjutkan, "kali ini Ayah juga harus berdikari. Oke?"
Amato membatu. Halilintar berlalu. Sementara Duri tampak memikirkan sesuatu.
"BWAHAHAHAHAHAHA—"
Keheningan pecah oleh suara tawa mendadak dari arah anak tangga yang menuju lantai dua. Ternyata ada Taufan dan Blaze di sana yang saat ini tampak begitu bahagia.
"Ayah! Selamat berdikari~"
Barusan Taufan yang berkata ceria dengan senyum lebar menghias wajah, sambil melambaikan tangan. Di sampingnya, Blaze mengulang kata 'berdikari' beberapa kali sambil tertawa terbahak-bahak.
Oke. Jelas mereka sudah berada di situ sejak tadi dan ikut mendengarkan percakapannya dengan Halilintar. Baru saja Amato berpikir sepertinya percuma mencoba minta bantuan mereka, kedua anak itu sudah memutuskan untuk naik kembali ke kamar mereka di lantai atas.
Amato menghela napas. Pada saat itulah, matanya menangkap sosok serba putih di pojok sofa di sisi yang lain, setengah tersembunyi. Siapa lagi kalau bukan putra bungsunya, yang kini sibuk dengan ponsel pintar di tangan, terarah kepadanya dan Duri.
Tunggu.
Anak ini sedang memotretnya? Atau merekam video?
"Nggg ... Solar?" sang ayah menyapa. "Sejak kapan kamu di situ?"
"Sejak Ayah bertanya ke Duri, 'Ada apa, Nak'." Solar kembali menyembunyikan dirinya ke balik sofa, dengan tetap menjaga posisi yang memungkinkannya mengambil gambar atau merekam video. "Ayah dan Duri lanjutkan saja ngobrolnya. Tidak usah pedulikan aku."
Dilihat dari gerak-geriknya, sepertinya Solar merekam video. Namun, saat ini, Amato melihat keberadaan seorang penolong yang sangat potensial. Seorang Solar yang genius dan telah terbukti paling akrab dengan Duri. Kalau dia, pasti bisa melakukan sesuatu.
"Solar," Amato memulai. "Bagaimana kalau—"
"Ayah."
Amato nyaris merutuk ketika ucapannya dipotong dengan kejam oleh Duri. Akan tetapi, sang ayah tetap menoleh dan tersenyum.
"Pssst." Duri meletakkan jari telunjuknya sejenak di depan bibir. "Solar lagi pura-pura nggak ada di sini. Jadi kita nggak boleh ngajak dia ngobrol."
"H-Hah ...?"
Solar menanggapi kata-kata kakaknya dengan menautkan jari telunjuk dan ibu jari kirinya membentuk huruf O. Sementara ia tetap asyik merekam. Lagi-lagi Amato hanya bisa tertawa datar menyaksikan betapa absurd anak-anaknya tersayang.
"Hei. Kalian sedang apa?"
Suara menyejukkan terdengar dari sosok yang baru saja keluar dari dapur. Amato melihat putra ketiganya, Gempa, datang bersama dengan Ice. Seketika itulah ia mengucap syukur dalam hati.
"Oh, Gempa, Ice. Ayo, ayo. Ikut ngobrol sini."
Tatapan Gempa jatuh kepada Duri. Kemudian, ketika menatap ayahnya lebih seksama, nalurinya yang tajam langsung menangkap sinyal tanda meminta pertolongan. Ia pun saling pandang dengan Ice. Adiknya itu tampaknya juga paham apa yang tengah terjadi.
"Kak Gem. Memang sih, Kak Hali suruh kita istirahat. Tapi kupikir mending kita sekalian bantu Kak Hali aja, deh. Biar cepet."
"Hmmm ... Iya juga, sih. Sebentar lagi sudah Maghrib. Lagian cuma tinggal bikin hot choco sekalian kasih topping-nya."
"Hm-mm."
"Ya udah, yuk. Ayah, kami balik ke dapur bantuin Kak Hali, ya?"
Senyum terakhir Gempa terpatri dalam pandangan Amato sebelum anak itu berbalik bersama Ice. Meninggalkan sang ayah yang masih setengah mengulurkan tangan kanannya ke depan, menjangkau udara kosong.
Tidaaak! Gempaaa! Jangan tinggalkan ayahmu iniii!
"Ayah, Ayah."
Panggilan Duri membuat Amato langsung menoleh dengan antisipasi akan mendapat pertanyaan tak terduga lagi.
"Berdikari itu ungkapan juga, 'kan?" Duri memiringkan kepalanya. "Kenapa namanya 'berdikari'? Berdiri di atas kaki sendiri? Memangnya bisa berdiri pakai kaki orang lain? Terus, terus—"
Sementara Duri terus mencetuskan apa pun yang terlintas di kepalanya, sang ayah hanya bisa pasrah sambil menangis di dalam hati.
"Ah! Ayah? Kalau 'makan bawang' artinya apa?"
.
.
.
TAMAT
.
.
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~!
Ketemu lagi dengan Noir di kisah gaje Amato bersama anak-anak kesayangannya~ uwu
Pertama kalinya coba pakai nama 'Duri' di fic, nih. Yah, berhubung setelah movie kedua, sudah dikonfirmasi nama resmi elemental yang satu ini adalah Duri (untuk versi bahasa Melayu). Masih belum terbiasa, dan kalian nggak tahu seberapa sering diri ini salah nulis jadi 'Daun'. XD *plak*
Btw ada yang tahu jawaban dari pertanyaan terakhir Duri? ;-)
.
Regards,
kurohimeNoir
11.05.2020
