Heroic Legend of Arslan/アルスラーン戦記 oleh Yoshiki Tanaka
Egois oleh bellassson
Selamat membaca
Elam menghentikan langkah sebelum sampai ke ruang tidur Narsus. Reflek ia bersembunyi di balik tembok saat melihat tuannya di depan pintu bersama Putri Ketua Klan Zot sedang bergandengan lengan. Lebih tepatnya Alfreed yang terus menempel kepada Narsus.
"Tuan Narsus, susu dan cemilannya nanti dimakan, ya. Aku yang buat sendiri, lho~" Alfreed menggoda riang tanpa melepaskan gandengan. Elam mengeratkan nampan di tangan. Berisi segelas susu hangat dan sepiring kecil kukis buatan sendiri yang seharusnya diberikan kepada Narsus.
Elam berjalan berlawanan arah dengan Narsus dan Alfreed dengan perasaan sedih. Hari ini juga susu dan cemilan malam untuk Tuan Narsus mubazir. Lagi-lagi ia kalah cepat. Biasanya malam sebelum tidur, Narsus akan minta dibawakan kukis dan segelas susu hangat. Hal itu berubah sejak kehadiran Alfreed yang mengetahui kebiasaan Narsus. Alfreed yang menggantikan seenaknya.
Pintu kamar ditutup. Nampan tadi diletakkan di atas meja sebelah kasur. "Apa sebaiknya aku berikan kepada Gieve lagi?" gumamnya tapi kemudian kepalanya digelengkan keras, "tidak, tidak, dua hari berturut-turut aku sudah memberikan kepada penyair itu."
"Atau mungkin kuberikan kepada Yang Mulia Arslan?" gumamnya. Elam menghela napas panjang kemudian menuju pintu yang menghubungkan beranda lantai dua. Seketika angin malam menerbangkan helaian rambut cokelatnya. Saat menengadahkan kepala ke langit, nampak taburan bintang. Cahaya rembulan mengintip dari balik awan. Pemandangan laut kota Gilan begitu gelap, tapi desiran ombak terdengar jelas menenangkan hati Elam yang kalut.
Sejak kemunculan penerus Klan Zot yang mengaku sebagai istri masa depan Narsus, Elam mulai bertindak aneh. Lebih tepatnya, ia merasa cemburu dengan kedekatan Narsus dan Alfreed. Selama tiga tahun belakangan hidup Narsus bergantung kepada Elam. Elam yang mengurusi semua keperluan sehari-hari si mantan penguasa Daylum. Peralatan lukis, senjata sampai dengan urusan perut.
Elam merasa takut. Takut kalau Narsus akan meninggalkannya.
Ia sudah bersumpah akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk Narsus seorang. Pria yang sudah membebaskan orang tua dan Elam dari status gholam. Memberikan pilihan untuk menjalani hidup tanpa belenggu rantai kaki. Tapi akhirnya jalan hidupnya ia pilih untuk mendampingi Narsus.
Namun, mengabdikan hidup tidak sama dengan mengabdikan hatinya untuk Narsus.
Elam menyadari perasaan tiap kali melihat kedekatan Alfreed dengan Narsus. Ia hanya ingin mengabdi untuk Narsus hingga akhir hayat. Lebih tepatnya ia tak ingin melihat Narsus berdampingan dengan orang lain selain dirinya.
Apa perasaan ini salah?
"Apa aku ini egois?"
Elam hanyalah seorang azat yang diberi welas asih oleh seorang dengan seorang yang berhasil mengacaukan pasukan tiga kerajaan yang bersatu akan menyerang Pars. Seorang ahli pedang yang juga pernah menguasai kota Daylum.
Elam bukan seorang yang suka ikut campur urusan politik. Tapi sejauh pengamatan ia mengerti mengapa Narsus meninggalkan semua kekuasaan dan kesuksesan untuk mengasingkan diri menjadi pelukis. Bahkan Elam tahu kalau tuannya ini lebih terampil menggunakan otak daripada tangan.
Pada akhirnya Elam membiarkan tuannya bereksplorasi dengan imajinasinya. Bukan haknya menghalangi impian terpendam Narsus. Ia hanya mendukung apa yang bisa dilakukan.
Elam juga merasa tak sebanding dengan Alfreed yang statusnya sebagai Putri Ketua Klan Zot. Bahkan dikatakan ia terpilih sebagai penerus Klan Zot. Dilihat dari usia, Alfreed lebih tua empat tahun daripada Elam. Narsus lebih layak bersama dengan Alfreed dibandingkan dengannya.
Semua perasaan ini membuat pikiran Elam tak karuan. Selama ini hanya dipendam jauh di dasar hati. Saat ini ia ingin melarikan diri barang sejenak dari perasaan itu.
Tiba-tiba ia teringat ucapan Gieve, "Wanita dan minuman adalah penghilang stres yang ampuh."
Ah kenapa malah kepikiran ucapan penyair mesum yang ditolak Nona Farangis itu. Elam menghela napas panjang untuk kesekian.
Angin laut kembali berhembus. Menusuk permukaan kulit. Elam memutuskan kembali ke kamar dan tidur. Obat lain penghilang stres. Pintu penghubung beranda ditutup untuk menghalangi angin.
Lampu minyak di atas meja dimatikan. Sejenak matanya memperhatikan kukis dan susu yang sudah dingin di atas meja sebelum merebahkan diri di atas kasur. Lagi-lagi benda itu tak tersentuh oleh Tuan Narsus. Tapi yang membuat heran, setiap pagi kukis dan susu tersebut sudah habis dimakan.
Mungkin saja Gieve, yang satu kamar dengannya, atau tikus yang bersyukur makanan hari itu lebih mewah dari biasanya.
"Tapi tempat semewah ini mana ada tikus..." gumam Elam memperhatikan sekeliling ruangan milik Penguasa Kota Gilan.
Ngomong-ngomong tentang Gieve, pemuda mesum itu belum juga kembali ke kamar sejak rapat bersama Pasukan Yang Mulia Arslan. Mungkin sekarang ia sedang menyelinap ke kamar Nona Farangis atau jalan-jalan mencari selir cantik untuk digoda.
"Ah siapa peduli dengannya..." gumam Elam sebelum terlelap dalam buaian.
Malam semakin larut. Elam sudah bermain dalam alam mimpi di balik selimut hangat.
Pintu terbuka pelan, supaya tak menimbulkan suara yang membuat pemilik kamar terbangun. Seorang pria pirang dikuncir di bagian ujung mendekati tempat tidur Elam membawa lampu minyak.
Elam mengerang pelan, mengubah posisi. Seulas senyum tersungging di wajah tampan pria itu.
Narsus menyorot lampu minyak di tangan ke sebuah nampan di atas meja. Diambil sebuah kukis kemudian dimakan.
"Sudah dingin, tapi enak." gumamnya pelan. Kukis kedua ia makan, ketiga, keempat hingga tak tersisa. Segelas susu yang sudah dingin ia minum.
"Memang susu hangat lebih baik." gumamnya lagi.
Lampu minyak ia letakkan di atas meja. Ahli strategi perang itu duduk di pinggir tempat tidur. Tangannya mengelus pelan wajah menggemaskan Elam.
"Kukis buatanmu memang yang paling aku suka, Elam." ujar Narsus pelan.
Narsus menyunggingkan senyu melihat Elam yang mengerang pelan. Memegang tangannya kemudian dipeluk erat sambil menggerang, "Ngh ... Tuan Narsus..."
Narsus mencoba bertahan untuk tidak berbuat macam-macam. Ingin sekali mencumbu wajahnya. Akhirnya ia hanya memajukan wajah untuk mengecup pelan dahi Elam seraya berkata, "Selamat malam, Elam. Mimpi yang indah."
Narsus menjauhkan diri. Mengambil lampu minyak dan berlalu pergi keluar dari kamar.
Terima kasih
