K Project oleh GoRa & GoHands

Change: Yata Misaki Version oleh bellassson

Selamat membaca


Yata Misaki mengeratkan jaket dan mengenakan topi. Memakai sepatu di genkan(#1) kemudian meraih skateboard. Misaki mengunci pintu apartemennyaーdengan seseorangーyang baru tiga minggu ditempati. Yata sempat melirik jam di tangan. Jam delapan lebih tiga puluh menit.

"Sial aku terlambat!" ia berlari menuruni tangga kemudian memacu skateboard-nya.

Jam sembilan pagi hingga tiga sore, jadwal Misaki kerja paruh waktu di restoran ramen. Baru dua minggu ini ia memulai bekerja, tapi ia sudah menikmati pekerjaan barunya. Pemilik restoran begitu baik, suasana restoran membuat betah dengan pekerjaan ini. Beberapa kali ia menerima ramen secara gratis dari pemilik restoran karena Misaki begitu giat.

Selesai bekerja, Misaki akan mampir ke bar Homra untuk setor wajah. Meskipun tempat tinggalnya sekarang lebih jauh dari Homra, Misaki tetap menyempatkan mampir setelah bekerja.

Misaki membuka pintu bar. Terdengar bunyi kerincing bel.

"Maaf kami belum buka." Suasana Kusanagi sedang menata botol minuman. "Ah! Kau ternyata Yata-chan." panggilnya senang melihat salah satu anggota kesayangan Homra datang.

"Yo!" sapa Misaki.

"Misaki, lama tak jumpa." di sudut ruangan Anna menyapa dengan nada datar seperti biasa. Segelas jus stroberi sisa setengah diletakkan di meja.

"Hai, Anna. Kau sehat?" Misaki mendekati gadis mungil berambut perak panjang setelah meletakkan skateboard kesayangan di sebelah tempat payung. Anna mengangguk sebagai jawaban.

"Misaki... terlihat bahagia." ujar Anna memandang wajah Misaki lekat. Misaki yang tidak biasa bertatap muka dengan perempuan merona kemudian memalingkan wajah. Kusanagi yang diam-diam memperhatikan tersenyum pelan.

Meskipun masih kecil, Anna masih berjenis kelamin perempuan. Kelemahan seorang Yata Misaki.

"Yata-chan, kau sehat?" tanya Kusanagi. Kali ini ia menata gelas-gelas whine.

"Seperti yang kaulihat, Kusanagi-san." ujar Misaki semangat.

"Syukurlah."

Pintu terbuka, tiga orang di dalam ruangan menoleh. Pria gempal berkacamata hitam langsung menyerbu masuk begitu melihat sosok Yata Misaki di ujung ruangan. "Yata-saaan!" teriak Kamamoto memeluk erat Misaki. Anna sudah menyingkir ke dekat counter. Misaki mencoba mendorong pemuda yang hampir menggencet tubuhnya. Misaki juga merasakan aura membunuh tiap kali Kamamoto atau anggota Homra dekat-dekat dengannya,

Mungkin hanya perasaanmu saja, Misaki.

Seseorang dari Scepter 4 pasti sedang bersin saat ini.

Kusanagi mengeratkan lap di tangan saat Kamamoto berlari hampir menyenggol jatuh vas bunga yang dia dapat langka dari Italia. "Kamamoto..." panggil Kusanagi dengan senyuman manis tapi menusuk. "Sudah kukatakan jangan bertindak sembarangan di bar kesayanganku!" teriaknya dengan logat Kansai yang kentara.

"Ma-maafkan kami, Kusanagi-san." ujar Kamamoto dan Misaki.

'Kenapa aku juga ikutan minta maaf?' batin Misaki. Reflek karena sebelumnya mereka berdualah yang sering kena marah oleh Kusanagi Izumo.

Kusanagi kembali tenang. Tangannya kembali bekerja mengelapi gelas menjadi lebih berkilap.

"Tapi Kusanagi-san," kata Kamamoto, "sampai kapan kau akan pacaran dengan bar ini?"

Kalau saja bukan properti bar kesayangan yang sedang dipegang, Kusanagi akan melempar tepat di kepala Kamamoto. Memang cari mati dia dengan Kusanagi.

"Ngomong-ngomong, Yata-san tumben kau kemari?" tanya Kamamoto tak melihat Misaki untuk beberapa hari.

"Hei, aku kesini dua hari yang lalu, kau bilang tumben?" Misaki protes.

"Sejak kau pindah dan bekerja paruh waktu Yata-san jarang kesini. Padahal dulu kau suka menghabiskan waktu di bar ini." Kamamoto menggerutu. Ia jadi kehilangan seseorang yang menemani pergi ke gesen(#2), makan ramen atau sekedar jalan-jalan keliling kota Shizume.

"Maaf, ya sekarang ini aku sudah menjadi orang sibuk." Misaki sedikit menyombongkan diri dengan kehidupan barunya.

"Aku jadi sedikit kesepian." gumam Kamamoto. Misaki merogoh sesuatu dari kantong celana kemudian diperlihatkan dua lembar kertas kecil bentuk persegi panjang di hadapan Kamamoto.

"Nih, kukasih." ujar Misaki. Kamamoto membulatkan kelopak mata di balik kacamata hitam.

"Kupon diskon 20% ramen?" teriaknya senang, "untukku?" tanya Kamamoto dijawab dengan anggukan kepala Misaki. Kamamoto berdiri kemudian membungkuk sembilan puluh derajat di depan Misaki.

"Terima kasih banyak, Yata-san!"

"Hei, Yata-chan, tidak adil 'kan kalau hanya Kamamoto saja yang mendapatkan kupon itu?" ujar Kusanagi. Misaki menggaruk belakang kepala sambil tersenyum ringan.

"Maaf Kusanagi-san, kupon yang kubawa sudah habis. Besok pasti akan kubawakan untukmu, juga untuk Anna dan anggota yang lain." katanya.

"Baiklah."

"Oh iya, ada lagi." Misaki merogoh kantong lain. Dikeluarkan secarik kertas yang dilipat. Sebuah pamflet restoran ramen tempatnya bekerja. "Di restoran sedang ada tantangan makan ramen ukuran jumbo. Kalau bisa menghabiskan tanpa sisa dalam waktu 45 menit, kau tidak perlu membayar."

Kali ini air liur Kamamoto menetes.

"Baiklah Yata-san besok aku akan mampir ke restoranmu!" Kamamoto tak sabar ingin segera menikmati ramen ukuran jumbo yang bisa dilahap secara gratis.

"Aduh sudah jam segini!" Misaki berteriak setelah melihat jam. "Aku harus pergi sekarang."

"Tidak mau tinggal dulu?" tanya Kusanagi, "aku sudah membuatkan jus untukmu." Kusanagi menyodorkan minuman dingin di meja counter.

Misaki mengambil skateboard, kepalanya menoleh ke arah Kusanagi, "Maaf Kusanagi-san, berikan saja pada Kamamoto atau Anna. Aku harus belanja dan memasak makan malam. Bye!" Misaki menghilang dari balik pintu, memacu skateboard-nya. Anna melambai pelan dengan sedotan menempel di mulut. Kusanagi tersenyum menatap kepergian Misaki.

"Yah~ Yata-san pergi deh." Kamamoto mendekat ke counter dimana Kusanagi menawarkan jus yang seharusnya untuk Misaki.

"Tapi aku lebih senang melihat Yata-chan yang sekarang." ujar Kusanagi mendapat tatapan heran dari Kamamoto. "Kau tak menyadari?" tanyanya kepada Kamamoto.

"Menyadari apa?"

"Perubahan kalau Yata-chan sudah lebih bahagia sekarang. Dia memang terlihat tertawa saat bersama dengan anggota Homra, tapi aku merasa jiwanya kosong. Sekarang kekosongan itu sudah terisi. Hidupnya lebih bercahaya." ujar Kusanagi.

"Apa aku salah, Anna-chan?" Kusanagi menoleh ke gadis yang tetap memasang wajah stoic.

Kushina Anna menggeleng pelan, "Tidak. Kau benar, Izumo. Misaki lebih bersinar. Aku juga merasakannya."


Misaki memasuki supermarket di dekat apartemen. Ia berkeliling mencari bahan untuk makan malam hari ini. steak daging dengan irisan nanas, kesukaannya. Misaki berjalan menuju bagian daging, mengambil daging cincang 200 gram kemudian pergi mengambil nanas dalam bentuk kaleng. Tak lupa membeli bumbu dan sayuran segar. Roti dan ramen instan untuk persediaan. Cemilan kripik kentang ukuran jumbo. Misaki melihat kroket baru masak terlihat menggiurkan. Akhirnya ia memasukkan dua kroket sayur ke dalam plastik. Terakhir ia mengambil beberapa kaleng bir.

Meskipun wajahnya tak meyakinkan, tapi Yata Misaki adalah seorang dewasa yang sah menurut hukum Jepang.

Misaki keluar supermarket dengan kantong belanjaan di tangan dan skateboard di tangan. Lumayan untuk persediaan beberapa hari. Misaki berjalan pulang. Tak sampai lima menit ia tiba di apartemen.

Begitu masuk, segera menata belanjaan ke dalam kulkas. Kemudian mulai menyiapkan makan malam.

Pertama Misaki mencincang bawang bombai kemudian ditumis hingga masak. Daging cincang tadi dicampur dengan dengan merica dan garam. Tumis bawang bombai ditambahkan ke adonan daging, juga telur dan tepung roti kemudian dicampur dengan rata menggunakan tangan. Setelah tercampur rata ia bentuk menjadi ukuran sedang. Minyak sayur dioleskan di atas pemanggang. Misaki meletakkan adonan tadi ke atas minyak panas. Selagi menunggu, Misaki membuat saus dan salad.

Setelah matang, ia letakkan steak panas di atas piring yang sudah ditata dengan nasi, irisan selada dan kubis. Menuang saus di atasnya terakhir ditambah irisan nanas. Salad kentang dicampur mayones dimasukkan ke dalam mangkuk kecil. Tak lupa kroket sayur diletakkan di atas piring kecil. Masing-masing ia buat dua porsi.

Misaki menata piring-piring tadi di atas kotatsu(#3). Tinggal menuang bir dingin ke dalam gelas.

Jam menunjukkan pukul enam sore. Sebentar lagi roommate-nya pulang.

Benar saja, tak berapa lama, pintu apartemen terbuka. Seseorang masuk dengan mengucapkan, 'tadaima' Misaki berlari menuju genkan tanpa melepas apron.

"Okaeri, Saruhiko!"


Catatan:

(#1) Genkan: pintu masuk

(#2) Gesen: Game Center

(#3) Kotatsu: meja penghangat


Terima kasih