Disclaimer : Hypnosis Microphone milik King Records, Otomate, Idea Factory.
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari karya ini.
"Saburo! Kamu sudah beli kuenya?"
Seruan keras Jiro menyambut kedatangan Saburo. Yang ditanyai balas berseru.
"Kaupikir aku bakal lupa, hah?"
Saburo melepas sepatunya lalu memasuki rumah. Aroma karē menguar dari dapur. Lapar Saburo di buatnya.
"Nih." Pemuda 17 tahun itu menaruh bungkusan kue di sebelah Jiro, yang tengah mengaduk karē di panci, sumber aroma lezat yang tercium sampai seluruh penjuru rumah.
"Bagus. Anak pinter."
Saburo menghindar kala tangan Jiro teraih untuk mengusap kepalanya. "Apaan, sih. Gue bukan anak kecil lagi."
Jiro hanya terkekeh. Benar, terkadang dia lupa Saburo sudah 17 tahun. Sudah SMA kelas 2, bukan bocah lagi. Tapi di mata Jiro, adik satu-satunya itu masih imut-imut menggemaskan.
"Saburo, tolong pindahin alat makannya ke meja, dong."
Jiro melirik jam dinding, beberapa menit sebelum jam 7 malam. Pasti sebentar lagi dia sampai.
Saburo mengangguk, dibawanya 3 set sendok, garpu, dan sumpit ke meja makan. "Ada lagi nggak yang bisa gue bantu?"
"Udah," Jiro menjawab sembari mencicip rasa karē. "Kamu ganti baju dulu aja, Bur."
Saburo menatap kaos oblong dan jaket kuning yang ia kenakan. Sudah cukup sopan, kok? Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin bajunya terlalu usang untuk dipakai di hari spesial ini.
Jiro mematikan kompor, lalu mengambil nasi yang sudah dimasak dari penanak, tidak lupa sayur yang sudah dipotong-potong ia masukkan ke dalam mangkok.
Ditatanya sedemikian rupa masakan itu ke atas meja, sudah dihitung cukup untuk tiga porsi orang dewasa. Jiro sengaja menyisakan tempat kosong di tengah meja, untuk kue ulang tahun, tentunya. Diambilnya kue dari dapur lalu dibuka kotaknya. Kue tart cokelat dengan hiasan merah sesuai warna kesukaan Ichiro. Senyum terbit di bibir Jiro kala melihat nama kakaknya tertulis dengan icing merah di atas kue tersebut.
Perayaan ulang tahun itu sederhana, tidak ada kado maupun dekorasi meriah. Hanya makan malam di rumah, dengan hidangan yang biasa-biasa pula. Benar-benar sederhana.
Lagipula untuk apa perayaan heboh jika orangnya sendiri tidak bisa hadir?
Pintu depan diketuk bersamaan dengan kemunculan Saburo, yang kini mengenakan sweater kuning-putih dengan celana kain. Jiro bergegas membukakan pintu.
"Selamat datang, Samatoki-san."
Berdiri di ambang pintu, lelaki berambut putih itu tersenyum. "Lama tidak jumpa, bocah."
"Ayo masuk, Samatoki-san, makanannya sudah siap."
Samatoki mengikuti Jiro masuk ke dalam rumah. Dilepas jaket hitam dan disampirkannya ke kursi.
"Nih, untuk kalian."
Samatoki menyodorkan dua paper bag kepada dua kakak beradik itu, masing-masing berisi hadiah yang sudah disiapkannya.
"Kan yang ulang tahun bukan kita, gimana sih."
"Heh, Saburo!" Sebuah sikutan melayang ke rusuk Saburo. "Ah, makasih banyak, lho, Samatoki-san."
"Yo. Cuma hadiah biasa kok, gue beli di jalan tadi."
Ketiganya sudah duduk. Namun kursi yang berhadapan dengan Samatoki kosong. Kursi yang seharusnya diisi Ichiro. Sesaat sunyi, tak ada yang berbicara.
Jiro berdeham.
"Mari kita berdoa untuk kakak dan sahabat kita tercinta, Ichiro Yamada. Semoga dia tenang di Surga. Selamat ulang tahun, kak."
Hening lagi, ketiganya memanjatkan doa dalam diam. Foto Ichiro yang dipajang di altar seolah memandangi mereka.
Ichiro wafat tiga tahun yang lalu di medan perang melawan Chuuoku. Dia meninggal bukan di pelukan Jiro maupun Saburo. Melainkan Samatoki.
"Nah, mari potong kuenya!"
Tidak ada lilin yang menyala, ketiganya tahu tak ada gunanya.
Ini kali ketiga Samatoki merayakan ulang tahun Ichiro di kediaman Yamada. Sudah seperti kebiasaan, mereka yang ditinggalkan berkumpul bersama, saling menguatkan.
Sedikit banyak Jiro dan Saburo tahu tentang perasaan Samatoki kepada Ichiro. Mereka menyaksikan air mata serta amukan Samatoki kala mengetahui Ichiro tidak bernapas lagi. Barulah mereka sadar, kehadiran Ichiro dalam kehidupan Samatoki bukanlah sekadar rekan atau sahabat biasa.
Setelah dinding simbol supremasi runtuh dan kemenangan telah digapai, Samatoki bersumpah untuk melanjutkan peran Ichiro mengurus Jiro serta Saburo. Samatoki bukannya ingin menggantikan Ichiro, melainkan karena–siapa lagi yang akan mengurus mereka?
Setelah melewati masa-masa paling buruk, kedua adiknya akhirnya dapat melepaskan Ichiro. Tentu saja tidak mudah sama sekali. Tapi mereka adik Ichiro, mereka kuat.
Jiro dan Saburo masih muda, meskipun Ichiro telah tiada, masa depan mereka masih panjang. Dengan atau tanpa kakak sekalipun, mereka harus tetap hidup merawat impian, memperjuangkan cita dan asa yang ditinggalkannya.
Keadaan sudah damai, persis sebelum era hypnosis microphone, jauh sebelum perang dikumandang, keadaan yang sama sekali belum pernah dicecap Jiro maupun Saburo.
Meski Samatoki masih bertahan menjadi yakuza–revolusi sekalipun, satu-satunya cara keluar hanyalah mati–selama tiga tahun ini sudah banyak perubahan. Saburo mendapat peringkat pertama di ujian akhir sekolahnya, masuk SMA favorit dan segera saja menyabet banyak piala. Jiro melanjutkan ke universitas, jurusan teknik, sambil kuliah ia merintis bandnya, dengan salah satu anggota berasal jauh dari Nagoya.
Nyawanya, hanyalah sebuah pengorbanan kecil saja, untuk masa depan cerah bagi orang-orang yang dicintainya.
Bukankah itu yang paling diinginkan Ichiro?
.
.
.
end.
.
.
.
a/n: eheheheheheheh:)
ah, kemarin ada yg rikues bb kalo nda salah? ini sudah saya buat tapi–random banget, tbtb aja kepikiran gini;(
terima kasih telah menyempatkan membaca! silakan beri kritik, saran, maupun komentar jika berkenan!
—11/5/2020
