When I Remember Our Stories
Vocaloid Fanfiction
Kaito x Miku
Friendship, Drama, Romance
Warning for OOC, Typo, Kesalahan tempat, kalimat dan lain-lain.
Vocaloid not mine, but this story is mine.
Happy Reading!
Usinya 22 tahun dengan karir bagus sebagai seorang Diva terkenal yang sudah banyak mengelilingi seluruh negara hanya untuk memberitahu pada seluruh orang di dunia bahwa gadis kecil cengeng keras kepala itu, sekarang sudah berubah menjadi wanita bertalenta dengan suara bak malaikat.
Rambut panjang yang sekarang hanya mencapai sepunggung di ikat dengan gaya ponytail hari ini, membiarkan beberapa anak rambut bermain bebas di belakang sana. Poninya sedikit di tata sedemikian rupa. Tidak lupa juga sedikit memoles wajahnya dengan bedak dan lip gloss berwarna merah muda. Tidak perlu terlalu tebal, karena tanpa memakai kedua benda itu juga Ia selalu terlihat menarik dan menawan di mata siapapun.
Ia memakai baju dengan setelan cardigan berwarna navy, baju kaos putih-hitam garis-garis, celana jeans pendek, kaos kaki berwarna senada dengan baju yang di kenakannya, juga sepatu Jenggel berwarna cokelat telah melekat di tubuhnya.
Miku Hatsune, usia 22 tahun, kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak buruk. Batinnya sambil tersenyum puas dengan gaya yang di pakainya hari ini.
Haru libur menjadi dambaan bagi siapapun. Tidak peduli itu pekerja atau hanya seorang pelajar. Mereka butuh libur dari segala kesibukan yang dapat membuat mereka stress bukan? Begitu pula Miku. Wanita yang di juluki Diva dambaan satu dunia ini juga ingin libur dari kesibukan bernyanyi dan jadwal manggungnya. Miku butuh istirahat dari mimpi yang dari dulu di impikannya. Miku butuh refreshing. Maka inilah saatnya.
Miku keluar dari rumah yang telah dia beli di dekat Kyoto, jauh dari keramaian tentu saja. Karena pekerjaannya sebagai bintang, tidak mungkin Ia nekat mencari tempat tinggal di antara para tetangga yang mungkin saja adalah salah satu fansnya.
Tapi meski begitu Miku tidak memerlukan pengawal atau siapapun untuk menemaninya keluar. Miku sudah terbiasa sendiri. Meski awalnya Neru Akita, manager Miku, melarang Miku untuk keluar sendirian dan mati-matian memaksa wanita itu untuk membawa setidaknya satu pengawal saat Ia keluar. Tentu saja lagi, Miku selalu saja berhasil berdalih dan mengatakan alasan apapun yang membuat Neru gigit jari hingga akhirnya menyerah.
"Kabari aku secepat mungkin jika kau dalam bahaya atau masalah. Ingat!"
Hanya itu pesan yang bisa Neru katakan sebelum akhirnya Miku melompat bahagia dan memeluknya seerat mungkin.
Udara pagi yang nenyejukkan di Kyoto. Tempat yang selalu Miku rindukan saat dirinya sedang melakukan tour keluar negeri. Miku lahir dan besar disini, maka disinilah Ia tinggal. Sedikit tambahan, awalnya Neru menyarankan Miku agar tinggal di Tokyo saja. Tapi Miku menolak dengan tiga alasan. Pertama Ia benci suasana berisik, kedua Ia ingin menghindari para fans yang takutnya malah merujuk fanatik. Kalian tahu bukan, Tokyo adalah pusatnya Jepang.
Dan alasan yang yang ketiga menjadi alasan terakhir yang tidak Ia katakan pada Neru meski manager berambut kuning ikat sebelah itu memaksa hingga mengancam akan membuang stok negi yang sudah di sembunyikannya. Bagaimana bisa Neru mengetahuinya? Dia cenayang ya?
Hari ini Miku berencana ingin pergi ke salah satu restoran mahal bintang lima untuk menikmati sarapan. Bukan, bukan Miku bermaksud sombong. Miku sengaja mengincar restoran itu karena tempatnya yang strategis. Memiliki lima lantai, dan lantai teratas menjadi tempat favorit Miku saat sedang makan disana.
Minus yang lain, makananya sih biasa saja bagi Miku. Sungguh, Miku tidak berbohong! Ah, iya tapi memang ada satu makanan yang sangat cocok di lidahnya. Alasan lain Miku memilih makan disini adalah karena makanannya sangat serupa dengan makanan yang pernah Miku makan. Seperti buatan seseorang. Ya, seseorang.
Miku menaiki lift, menekan angka 5 untuk mencapai lantai yang ingin Ia tuju. Miku menatap pantulan dirinya di pintu lift, tertegun sejenak secara tiba-tiba.
Rasanya kangen.
Sebersit memorit tentang kenangan masa sekolah menyusup ke kepalanya, membuatnya bernostalgia sambil menunggu lift sampai di lantai yang Ia tuju.
Miku ingat. Ada saru orang yang dulu memiliki hobi aneh hingga membuatnya harus menjaga kedua rambut twintail-nya setiap saat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"HEIII! LEPASKAN RAMBUTKU, BODOH!"
Tertawa lepas. Tentunya teriakan nyaring bernada kesal itu tidak di hiraukan olehnya. Pasalnya laki-laki berusia 17 tahun itu entah kenapa tetap memegang salah satu dari rambut gadis yang barusan tadi berteriak sambil tertawa, sedikit memainkan rambut tersebut.
"Kaito! Kau apa-apaan sih?! Lepaskan tidak?"
Laki-laki yang baru saja di panggil Kaito tidak membalas, terus saja memainkan rambut Miku dengan jahil. Seperti ada kesenangan tersendiri saat Ia memegang dan memainkan rambut sepanjang betis itu. Rambut halus dan lembut yang malah membuatnya gemas ingin sedikit membuatnya berantakan.
"Aduh—sakit! Hei, lepaskan! Aku mau ke kelas!" Miku kembali berteriak, masih berusaha melepaskan tangan Kaito dari rambutnya.
Kaito nyengir. "Kalau begitu, kita masuk ke kelas bersama-sama saja. Bagaimana?"
"Dengan kau yang terus menarik rambutku begini? TIDAK BISA!"
Kaito tertawa geli. "Kau lucu, Miku." Dan yah, satu kalimat itu cukup membuat seorang Miku Hatsune langsung terdiam dengan wajah semerah rambut Fukase. Miku pun berbalik ke arah depan, menghindari Kaito agar si biru tidak bisa melihat rona sialan di wajahnya.
"Ayo kita ke kelas, Miku."
Kali ini tidak ada jawaban sama sekali dari Miku. Gadis itu berjalan di samping Kaito dengan tangan si biru masih saja sibuk memegangi rambut Miku dengan gemas, tidak ingin melepaskannya sama sekali.
Miku memandang ke arah buku yang Ia bawa, melihat-lihat catatan Biologi yang jujur saja membuat kepalanya berputar. Namun, semua itu tidak masalah, asal kedua matanya tidak jatuh dalam pesona orang di sampingnya ini.
Kaito Shion.
Kelas 2 SMA. Temas sekelas sekaligus sahabatnya sejak kecil. Miku selalu bersama Kaito kemana pun Ia pergi, dan Kaito akan selalu bersama Miku saat Ia ingin. Tapi memang akan selalu bersama sih, buktinya tidak bertemu Miku sehari saja Kaito hanya diam di kursinya, bermain ponsel, tidak ada semangat sama sekali.
Suatu hari Len pernah bertanya seperti ini, "Kau kenapa? Sakit? Atau terjangkit virus, hah?"
"Hm, tidak."
"Lalu?"
"Aku rindu pada Miku."
"Kau bisa datang ke rumahnya, bodoh. Kau dan dia kan tinggal berseberangan." Maki Len kesal, ingin menjitak kepala biru itu tapi di tahan.
"Masalahnya kalau ke rumah Miku, aku tidak bebas memainkan rambut-rambutnya itu—" BLETAK! "YANG KAU RINDUKAN MIKU ATAU RAMBUTNYA SIALAN?!"
Ya, semua orang akan berpikir Kaito itu aneh. Si Aneh yang sayangnya juga menjuluki Si Jenius Tampan. Baiklah, yang mana satu yang benar?
"Hei, Miku,
Miku hanya menjawab dengan gumaman. Masih tidak ingin memalingkan wajahnya dari catatan Biologi yang sebenarnya sudah tidak jelas lagi di kedua matanya.
"Apa yang ingin kau lakukan saat lulus nanti?"
Pertanyaan luar biasa Kaito pun akhirnya membuat Miku menoleh ke arahnya, tanda tanya besar harusnya langsung terlihat di atas kepala Miku dengan kerutan wajah yang tampak jelas di wajahnya.
"Kau makan magic mushroom, Kaito?" Miku bertanya curiga. [Ingatkah kalian tentang postingan yang pernah populer di Twitter mengenai jamur?]
"Hei, gila. Aku tidak suka pada jamur, bagaimana mungkin aku akan memakan jamur halusinasi itu." Kaito bersungut, dia lagi serius, Miku malah bercanda. "Aku bertanya serius padamu, Miku."
Miku nyengir, terus melanjutkan. "Ya, tidak ada yang tahu bukan? Bagaimana jika ada seseorang yang meletakkan beberapa potong jamur itu ke dalam ramen-mu? Lalu kau memakannya tanpa sadar. Dan kau ingat bukan tentang kasus seorang remaja laki-laki yang nekat bertelanjang dengan hanya memakai boxer berdiri di atas rumahnya sendiri sambil berteriak, 'AKU ADALAH PAHLAWAN PENYELAMAT NEGARA! KALIAN SEMUA AKAN KU LINDUNGI!', hingga dia masuk berita? Menjadi trending topic selama sebulan dan perbincangan hangat orang-orang."
Kaito beralih dari rambut ke kepala Miku, mengeluasnya lembut dengan senyuman tidak kalah lembut juga.
"Itu memberiku satu ide menakjubkan. Jadi kau yang membuatku menjadi trending topic selama sebulan itu, Miku?"
Miku bungkam. Aduh, kelepasan.
"Ah—lupakan! Kau tahu, terkadang saat ada seseorang bertanya padaku tentang hal yang berat, membuatku pusing hingga berpikir yang tidak-tidak!"
"Misalnya seperti saat kau yang menangis karena yang tidak bisa menjawab saat Maika-sensei bertanya tentang, Bagaimana caranya agar sumbu x dan y menjadi bertemu di titik koordinat tentu dengan x sebagai titik awalnya?" Kaito menyeringai, menaik-turunkan alisnya, memancing Miku balik.
[A/N : Soalnya cuma ngarang:"]
"Kenapa kau mengungkit kejadian tahun lalu, hah?!"
"Dasar cengeng. Begitu saja menangis."
"Berisik, Kaito! Diamlah!"
Kaito tertawa lebar saat berhasil membuat wajah Miku memerah padam dengan ekspresi kesal juga malu. Tidak ada lagi hal yang menyenangkan baginya selain membuat Miku kesal seperti sekarang.
Kaito kembali memandang lurus ke arah depan. Tawanya mereda, di gantikan ekspresi serius yang terkesan sedikit sendu.
"Tapi aku serius." Miku menoleh saat mendengar ada yang berubah dari nada suara Kaito. "Lulus nanti aku ingin bekerja sebagai Direktur. Terserah Direktur apa, yang penting aku yang memegang perusahan itu. Membangun hotelkah? Perusahaan besarkah? Atau restoran mahal bintang lima."
Miku terdiam. Kaito serius dengan apa yang di katakannya. Dengan berteman bersama Kaito sejak Ia dan Kaito bisa berjalan, Miku hapal betul seperti apa Kaito saat serius. Wajahnya akan terlihat berbeda dari biasanya, tapi sebenarnya itulah saat Kaito mengeluarkan pesonanya yang asli.
"Makanya," Kaito menoleh, tersenyum lebar. "Saat aku sukses nanti, kau akan menjadi orang pertama yang ingin buat bahagia karena kesuksesanku nanti!"
Blush
PLAK!
"ADUH! Kenapa aku malah di pukul sih?!"
"Biarin!"
Miku berlari duluan setelah memukul wajah Kaito dengan buku catatan Biologinya. Meninggalkan Kaito yang berseru kesal, memanggil namanya.
A-Apa-apaan sih anak itu?!
Dia tidak tahu apa bahwa kata-katanya itu sangat berbahaya untuk Miku? Bagaimana jika Miku berharap dan menunggu semua itu? Apa dia mau bertanggung jawab?
Miku menutup wajahnya dengan buku yang Ia pegang, menggigit bibir bawahnya
Bolehkah.. Bolehkah aku menunggu dan berharap semua itu..?
MikuHatsu_ : Kaito kau sudah tidur? Maaf soal tadi, aku tidak sengaja, hehe. Dan oh iya, mengenai cita-citaku, aku ingin jadi seorang Diva terkenal!
Miku sudah duduk di tempat favoritnya. Sudah memesan makanan, sedang menunggu sambil memandang pemandangan Kyoto yang indah dari ketinggian 40 meter. Melihat Matahari yang perlahan mulai meninggi dan menyinari bumi, membuat seorang kembali beraktivitas seperti biasanya.
Miku menghela napas. Kenangannya bersama Kaito beberapa tahun yang lalu kembali memghampirinya, membuatnya bernostalgia tentang sahabat kecilnya itu.
Sekaligus cinta pertamanya. Hingga sekarang tidak pernah tergantikan.
Entah Kaito ingat atau tidak ucapannya waktu itu, tapi Miku tidak pernah melupakannya. Diam-diam selalu berharap dan menunggu itu. Meski sejak mereka lulus dan berpisah, Miku tidak lagi mendengar bagaimana kabar Kaito. Mereka sempurna lost contact. Tidak mengabari sama sekali.
Jika boleh meminta, Miku ingin sekali bertemu dengaan Kaito sekarang. Bertanya apakah dia telah sukses dengan mimpinya atau masih dalam perjalanan.
"Selamat pagi, Nona. Ini pesanan anda. Ramen spesial dengan taburan negi juga Jus alpukat manis yang siap menemani sarapan anda."
Tunggu—negi? Bukankah Ia tidak meminta itu? Lagi pula tidak ada yang seperti itu di daftar menu.
Miku menoleh—
"Ah, anda sangat cantik hari ini, Nona Miku. Bolehkah saya menemani anda disini? Karena rasanya tidak nyaman sekali hanya memandangi anda dari ruangan saya tanpa bisa berbincang seperti biasanya."
Hari ini bukankah hari yang spesial untuk Miku—setidaknya hingga saat ini. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan ekspresi penuh kerinduan, bibirnya tidak bisa berkata apapun. Hanya kedua matanya saja yang mulai di genangi oleh air mata yang siap meluncur kapan saja.
"Ah, Nona jangan menangis. Saya akan sangat sedih melihatnya." Bibir dengan senyuman lebar yang amat di rindukannya pun tercipta. "Ada yang ingin saya tanyakan pada anda mengenai janji saya di masa lalu. Jadi jangan menangis dulu."
Air matanya pun sempurna menetes.
"Baka. Kenapa kau selalu membuatku kesal dan terkejut."
.
.
.
.
.
"Miku Hatsune, ayo menikah. Inilah caraku untuk menebus janjiku padamu, gadis cengeng."
.
.
.
.
.
.
END
