.

Naruto Milik Masashi Kishimoto

.

Karin memimpin langkah memasuki bar polaris dengan percaya diri yang tinggi. Tubuhnya yang tinggi dan langsing membuat beberapa laki-laki di sana menatapnya dengan tatapan kagum, tidak kalah dengan sosok Sakura yang terlihat lebih manis. Jika Karin terlihat seksi, maka Sakura terlihat imut namun pembawaan Sakura membuat laki-laki malah lebih ingin menggodanya. Karena beberapa kali Sakura sedikit ceroboh, seperti terpeleset atau tersandung.

Sakura melingkarkan tangannya di lengan milik Karin, sedangkan kakak tirinya masih mencari sosok Itachi. Mereka tidak menemukannya, atau jangan-jangan mereka dibohongi? Karin mengepalkan kedua tangannya, sampai ada orang menepuk pundaknya.

"Nona Karin, Nona Sakura?"

Karin dan Sakura menoleh kemudian tubuh mereka menegang melihat sosok pria memakai setelan hitam yang sangat formal.

"I-Iya, itu kami," jawab Karin.

Sedangkan Sakura memeluk lengan Karin lebih kencang dari biasanya.

"Ikut kami, tuan Itachi menunggu kalian."

Sakura dan Karin saling melemparkan pandangan, akhirnya Karin kembali memimpin langkah mengikuti pria tadi. Mereka memasuki ruangan bawah tanah yang kedap suara, Sakura semakin takut ketika melihat ada ukiran-ukiran antik di sekitar dinding. Begitu pintu dibuka, terdengar suara menggelegar dari dalam yang sepertinya sedang bermain sesuatu.

"Hahahaha, kau harus bayar padaku, Dei. Cepat sini!"

"Kau curang, Hidan. Seharusnya ini giliran Sasori!"

"Aku tidak masalah, cepat kau bayar, Dei."

"Brengsek kalian!"

Pria berpakaian setelan itu menuntun Karin dan Sakura ke dalam ruangan lagi. Yang sedang bermain kartu itu adalah orang-orang yang mereka lihat tadi siang bersama Itachi. Kenapa mereka bisa berada di sini?

"Silakan masuk."

Sakura dan Karin memasuki ruangan tersebut. Mereka melihat adegan yang sangat diluar dugaan. Kedua mata Karin dan Sakura terbelalak ketika melihat Itachi yang sedang meminum minumannya dengan satu kaki dia naikkan di atas meja, kemeja setengah terbuka dan tatapannya terasa dingin, lalu di dalam ruangan tersebut ada ruangan lagi yang terdengar suara jeritan laki-laki dan perempuan.

Karin dan Sakura bergidik, namun mereka tidak bisa kabur begitu saja. Itachi menatap Karin dan akhirnya memutuskan untuk berdiri, "Kau sudah datang."

Sakura mengencangkan cengkraman di lengan Karin.

"Selamat datang, Karin."

Karin memundurkan satu langkahnya. Merasakan ketakutan Karin membuat Sakura menutup mata dan menahan tangisnya.

"AAAAAHHHH, HUAAAAAAAA!"

Suara jeritan kembali terdengar, seperti minta ampun.

Itachi memperilakan Karin duduk, namun Sakura tidak bisa beranjak dari situ. Sampai seseorang keluar dari ruangan penuh jeritan tadi ... sosok itu yang menolong Sakura jatuh tadi siang.

"Mereka tidak mau jujur, nii-san."

Itachi melirik Sasuke dan menepuk pundak sang adik, "Temani dulu mereka, biar aku yang urus di dalam."

Melihat Sasuke semakin membuat Sakura takut. Namun aneh, Karin sama sekali tidak takut pada Sasuke, karena dia merasa Itachi jauh lebih menyeramkan dari pada adiknya. Beda dengan Sakura yang memang takut segalanya. Sasuke duduk tanpa menawarkan apa-apa pada kedua gadis yang masih berdiri di depan pintu ini, sampai Itachi keluar penuh dengan darah, membuat Karin dan Sakura semakin tegang.

"Kau apakan mereka?" tanya Sasuke.

"Hanya memotong beberapa jari dari tubuh laki-laki dan mencabut gigi si perempuan," jawab Itachi sambil membersihkan tangannya pakai kain kemudian melempar kain itu ke sembarang arah.

Itachi kembali menatap Karin kemudian berganti pada Sasuke, "Kau tidak menyuruh mereka duduk?"

"Sofa luas, mereka bisa inisiatif duduk sendiri," jawab Sasuke ketus.

Karin masih menahan kesalnya atas sikap Sasuke yang sangat cuek, namun dia berusaha mengabaikan adik dari laki-laki yang menjadi incarannya ini. Tidak, bukan maksudnya Karin mengincar untuk dijadikan miliknya, hanya saja Karin adalah tipe wanita yang sangat penasaran apalagi tentang laki-laki, begitu dia penasaran dengan satu laki-laki, maka tidak ada yang bisa lepas dari pesona wanita berambut merah ini.

Karin mendekati Itachi dan duduk di sampingnya, dia melihat Itachi meneguk segelas alkohol yang ia yakini itu adalah vodka, Karin mengangkat satu alisnya sambil menyeringai, jika alkohol adalah lawannya, makan ucapkan selamat tinggal pada alkohol tersebut.

Karin paling kuat minum alkohol.

Berbeda dengan Sakura yang masih berdiri dan menatap Karin dengan cemas, tatapan emerald itu berpindah pada Sasuke yang sedang melempar-lempar pelan gantungan berbentuk kelinci warna putih, kedua mata Sakura terbelalak.

"AAHHH! ITU PUNYAKU!" jerit Sakura.

Jeritan Sakura membuat Sasuke gagal menangkap lemparan terakhir. Sakura bergegas meraih gantungan miliknya yang tergeletak di lantai dan menatap Sasuke dengan sinis, "Dasar pencuri! Kau selain mesum ternyata punya penyakit klepto!"

"Apa kau bilang!?"

"Ini punyaku! Dari mana kau mencurinya?!" tanya Sakura dengan nada kesal sambil memeluk kelinci itu.

Karin mengerjapkan kedua matanya pada Sakura yang mulai berani. Sakura memang sedikit kekanak-kanakan, namun jika hal itu sudah menyangkut sesuatu yang disayanginya, Sakura akan cerewet sekali.

"Aku memungutnya di jalan! Kau harusnya berterima kasih padaku!" bentak Sasuke.

"Kalau kau memungutnya, seharusnya kau lapor polisi, karena ini bukan milikmu!" jawab Sakura masih dengan wajah sewot, "memang pada dasarnya kau menginginkan benda ini 'kan?" dipikir-pikir, untuk apa Sasuke menginginkan kelinci itu?

Itachi menatap tidak percaya pada Sakura yang berani menghardik sang adik.

"Kalau kau memang sangat menginginkan benda ini, nanti kubelikan yang baru, jangan ambil punyaku, lain kali kau harus teliti jika memungut barang milik orang lain! Kalau kau tidak melaporkannya, itu sama saja mencuri, apa jadinya jika aku tidak melihatmu sedang memainkan gantungan ini tadi, kau pasti tidak ada niatan untuk mengembalikannya 'kan? Iya 'kan!?"

"Sakura, hei ... " Karin berusaha menghentikan saudaranya itu. Namun percuma, Sakura malah berdiri sambil menolak pinggangnya.

"Apalagi kau ini laki-laki, tidak pantas membawa benda seperti ini, ini adalah benda untuk perempuan, bersikap lah selayaknya laki-laki. Kalau kau ingin membawa sesuatu, yang cocok untukmu adalah permen atau bola kecil, mengerti?"

Itachi tidak bisa lagi menahan tawanya.

"Hahaha! Adikmu benar-benar luar biasa, Karin."

Karin melirik Itachi dan tertawa canggung, "Aha-haha-ha ... " kemudian Karin kembali menatap Sakura yang tengah memeriksa kondisi gantungan kelinci itu. Karin tersenyum lembut, ternyata Sakura sangat menjaga barang pemberiannya.

Sementara Sasuke ...

Laki-laki bermata onyx itu kini berdiri dan menghadap Sakura, dengan wajah sinis dan tajam ia memojokkan tubuh Sakura ke tembok.

"A-Apa!? Mau apa!?" protes Sakura.

"Kau. Dari tadi ... mempermalukanku ... " Sasuke menggenggam pelan leher Sakura, membuat gadis itu ketakutan dan menutup kedua matanya.

"Sasuke." satu panggilan sari Itachi membuat Sasuke menghentikan tindakannya.

Dengan kesal, dia melepaskan genggamannya dan kembali duduk di sofa. Itachi tersenyum pada Sakura, "Duduklah, Sakura."

Sakura mengangguk, entah kenapa dengan Itachi dia tidak berani melawan. Sakura memutuskan untuk duduk di samping Karin. Mereka menikmati minuman yang Itachi pesan kemudian.

"Apa yang kaulakukan tadi di dalam?" tanya Karin tanpa basa-basi.

Itachi meletakkan gelas dengan wajah yang datar, kemudian dia menoleh pada Karin dan tersenyum, "Kalian sekolah di mana? Apa kalian tidak dicarikan oleh orang tua malam-malam keluar begini?"

"Orang tua kami sedang tidur, jadi tidak masalah jika kami pulang sebelum pagi," jawab Karin.

"Iya, kami sudah biasa," jawab Sakura.

"Sudah biasa melanggar peraturan, artinya kalian wanita nakal?" kini Sasuke berucap.

"Sembarangan! Kami hanya ingin menikmati masa muda kok!" protes Sakura. Entah sejak kapan rasa takutnya pada Sasuke dan Itachi ini hilang, mungkin karena Sakura merasa sedikit lebih rileks dibanding sebelumnya.

"Ya, ya ... tipikal wanita yang hanya memikirkan kepuasan pribadi," gumam Sasuke.

"Apa sih, dari tadi kau selalu menganggap rendah kami, kau sendiri jam segini masih di bar, itu artinya kalian juga tidak nurut pada orang tua kalian!" ucap Sakura dengan nada kesal.

Itachi dan Sasuke terdiam dan menatap Sakura bersamaan. Sasuke membuang muka kemudian sedangkan Itachi tersenyum lembut, "Orang tua kami sudah tiada, Sakura."

Sesaat, Sakura menyesal melontarkan kalimatnya tadi, "Ma-maaf ... " ucapnya pelan.

"Kalian sekolah di sekolah khusus putra 'kan?" tanya Karin yang berusaha mengubah topik.

"Iya," jawab Itachi.

"Benar-benar tidak ada wanita sama sekali? Bagaimana dengan gurunya?" tanya Karin lagi.

Itachi kembali meneguk satu gelas langsung dan menyenderkan tubuhnya di sofa, "Kau banyak pertanyaan ya, nona." senyuman Itachi membuat Karin merona, namun sebelum terpesona lebih jauh, Karin memalingkan wajahnya.

Tidak, tidak mungkin Karin suka pada Itachi.

"Ng, Sakura, kita pulang yuk," ajak Karin.

Begitu Karin beranjak dari duduknya, Itachi menggenggam pergelangan tangan untuk menahan gadis itu pergi, "Kalian baru sebentar di sini."

"A-aku -"

"Itachi-san!" terdengar suara teriakan dari luar, "ada keributan besar di atas!"

Itachi dan Sasuke saling tatap, tanpa mempedulikan Karin dan Sakura masih ada di sana, mereka bergegas keluar ruangan meninggalkan Karin dan Sakura di ruangan tersebut. Mereka mengikuti Itachi dan Sasuke ke atas, namun karena Karin adalah tipe yang sangat bersemangat jika terjadi keributan, maka langkah Karin jauh lebih cepat dari Sakura, sehingga Sakura tertinggal dan Karin muncul lebih dulu di atas.

Sakura masih di tangga dengan ekspresi bingung dan juga takut, karena suara keributan ini tidak biasa. Suara pecah belah dan orang-orang yang berteriak.

"LEPASKAN ANAK BUAHKU!"

Sakura mendengar kalimat itu dan menghentikan langkahnya. Siapa mereka?

Dengan pelan Sakura mulai sampai di atas dan melihat siapa saja mereka. Kedua mata Sakura terbelalak ketika melihat Karin berada di kerumunan teman-teman Itachi dengan wajah serius, bagaimana bisa Karin sangat tenang menghadapi situasi seperti ini? Sakura merasa sangat takut, dia ingin sekali pulang tapi langkahnya sangat berat, dia tidak bisa melangkah dan lututnya lemas.

Sakura berusaha untuk melangkahkan kakinya, namun dia malah berjalan mundur. Tanpa disengaja Sakura menubruk sosok di belakangnya, ketika gadis berambut pink itu menoleh ... sosok Sasuke sedang memimpin orang-orang yang membawa tahanan, dua sosok yang penuh luka dan darah. Laki-laki kehilangan jari-jarinya, dan wanita yang penuh darah keluar dari mulutnya. Sedangkan ekspresi Sasuke menatap Sakura dengan tatapan datar.

Darah yang Sakura lihat terlalu banyak ...

Tubuh Sakura gemetar, dia sangat ketakutan sampai-sampai pandangannya terasa gelap, dan terakhir yang dia ingat adalah ekspresi wanita yang terlihat sangat kesakitan sambil diikat tubuhnya.

.

.

Kedua emerald itu perlahan terbuka, dia melihat langit-langit yang sangat dikenalnya. Sakura sadar, ruangan ini adalah kamarnya. Dia bangkit dan menyesuaikan tatapan dengan cahaya di kamar. Apakah kejadian tadi malam itu mimpi? Ketika Sakura beranjak dari kasur dan bercermin, dia melihat dirinya masih memakai pakaian tadi malam.

Kedua mata Sakura terbelalak, itu semua bukan mimpi ...

Sakura bergegas membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah, ini sudah pagi, Sakura siap-siap untuk berangkat sekolah. Ini sudah terlambat, Sakura berlari menuju tangga sampai melewati dua anak tangga sekaligus.

"AKU TELAT!"

Sakura menyambar roti yang ada di meja, "Ayah, Ibu, aku berangkat duluan!" sudah pasti Karin berangkat lebih dulu, Sakura tidak memeriksa di dalam kamarnya.

Sakura berlari keluar dan tiba-tiba merasa tubuhnya melayang.

"KYAAAAA!"

Kemudian gerakannya terhenti dan dia mendengar suara tawa.

"Hahaha, kau sangat panik, lupa ya kalau kita satu sekolahan?"

Sakura menoleh dan memasang wajah seperti ingin menangis, "Narutooo~ kupikir siapaaa, aku kageet!"

"Ayo naik, kita berdua terlambat." Naruto melempar helm pada Sakura.

Sakura mengangguk dan menaiki motor besar milik Naruto. Dia memeluk tubuh Naruto dari belakang dengan erat, membuat laki-laki berambut pirang itu tersenyum senang.

"Pegangan yang kencaaang."

"Okee!"

.

.

Suasana kelas terlihat sangat tegang. Itachi tersenyum di depan pintu kelas menatap sang adik yang terlihat sangat kesal sambil mengangkat kedua kakinya di atas meja. Waktu istirahat telah tiba, namun tidak ada yang berani satu orang pun menggerakkan tubuhnya, seolah jika bergerak sedikit saja, maka Sasuke akan mengamuk. Itachi menghampiri Sasuke dan menepuk pundak adiknya, "Tumben sekali pagi-pagi sudah badmood."

"Cih, ini semua gara-gara Nii-san!"

"Aku?"

Sasuke bangkit dari duduknya, "Kenapa kau meladeni dua burung kaka tua itu sih! Pertama, mereka sangat berisik. Kedua, mereka seperti tidak kenal takut pada kita, terutama si kaka tua berambut merah, dia sangat berani menatapmu tanpa rasa takut! Apa lagi si kaka tua berambut pink, suaranya membuatku sakit telinga!"

Itachi menahan tawanya, ini pertama kalinya dia melihat Sasuke banyak bicara.

"Mereka mengganggu pikiranmu?" tanya Itachi.

"Memangnya kau tidak? Mereka pasti akan muncul lagi, menyusahkan!" geram Sasuke.

Itachi melirik Sasuke curiga, "Tadi malam, kenapa kau setuju pada Karin untuk membawa pulang Sakura?"

Sasuke menegang. Sangat sedikit sehingga Itachi tidak merasakan ketegangan dari adiknya itu, "Karena kau juga memintaku."

"Hhhmm." Itachi bergumam.

Tanpa banyak tanya lagi, Itachi meninggalkan Sasuke keluar, namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok wanita yang berjalan melewati dirinya. Wanita berambut biru dengan hiasan di kepalanya, sangat cantik sehingga membuat Itachi sedikit meliriknya. Menyadari reaksi Itachi ... Sasuke menatap wanita itu dengan sinis.

"Nii-san," panggil Sasuke.

"Tenang saja, Sasuke," jawab Itachi tiba-tiba, "aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama," sambungnya sambil tersenyum pada Sasuke kemudian pergi dari kelas.

Sasuke menatap curiga. Tidak mungkin secepat itu, Sasuke yakin kakaknya itu masih memiliki perasaan pada guru mereka. Sasuke berpikir sejenak, guru mereka - Konan - adalah wanita yang sangat dewasa, dia bisa mengontrol laki-laki sesuka hati di bawah kendalinya, termasuk Itachi yang saat itu tidak mengerti apa-apa, sampai Sasuke sendiri tidak paham kenapa mereka berpisah.

Yang jelas, saat itu Itachi terlihat sangat hancur dan hampir membunuh lawannya. Itachi mencari perkara pada kelompok lawan duluan dan ingin membunuh pemimpinnya yang tidak melakukan kesalahan apa-apa, jika saat itu Sasuke tidak ada, entah apa nasib Itachi saat ini, mungkin mendekap di penjara.

Sasuke memutar otak, Itachi saat ini sangat dingin terhadap perempuan, banyak yang ingin menjadi kekasihnya, namun Itachi tidak pernah menanggapinya dengan serius. Itachi mungkin bisa tersenyum pada mereka, namun tidak ada satu pun yang dapat membuat Itachi jatuh cinta, sampai Sasuke teringat pada sosok wanita keras kepala ...

Sasuke memantapkan tekadnya.

Dia mengambil jas seragam dan tasnya, hanya ada satu cara yang dia belum pasti hasilnya. Tapi, Sasuke yakin, wanita itu pasti bisa menerobos masuk ke dalam hati Itachi.

"Shino, Lee, ikut aku."

.

.

TBC

.

A/N : Aahhh, makasih sambutan comebacknya hahahaa iya nih, pandemic ini membuatku kembali ke dunia FFN, ditambah aku lagi suka baca fanfik2 lagi, jadi dorongan untuk bikin fict muncul tiba2 wakakakakaa.

kalian gmn kabarnya? stay at home kan? semoga kalian sekeluarga selalu dilindungi oleh Allah yaaa, sehat selalu juga.

XoXo

V3 Yagami