.

Naruto milik Masashi Kishimoto

.

Kedua mata Sakura terbelalak, mulutnya menganga melihat sosok yang kini duduk di atas motor di depan gerbang sekolahnya. Karin pun tidak kalah kagetnya dengan Sakura, namun kedua mata Karin malah melihat ke arah lain seolah mencari sosok yang tidak ada di sana.

"Dia tidak ikut," ucap Sasuke yang seolah mengerti siapa yang Karin cari.

"Sok tahu," geram Karin dengan wajah yang memerah, "mau apa kau datang ke sini?"

"Aku tidak akan menyerahkan gantungan kelinciku!" ujar Sakura sambil melindungi tasnya.

Sasuke menatap sakura dan memalingkan wajahnya, ada rona merah sedikit di wajah Sasuke, hanya Karin yang menyadari rona merah tersebut. Karin terkejut kemudian melirik ke arah Sakura dan kembali pada Sasuke bergantian. Apa yang terjadi diantara mereka ketika Karin meminta tolong Sasuke untuk membawa Sakura ke kamarnya tadi malam lewat jendela.

Sasuke mengabaikan Sakura dan turun dari motornya, secara seksama dia memperhatikan Karin dari kepala sampai ujung kaki. Karin memundurkan satu langkah dan mengangkat satu tangan dengan tujuan untuk memukul Sasuke, namun laki-laki berambut raven yang tampan ini tahu gerak-gerik Karin, dengan cekatan Sasuke mencengkram pelan pergelangan tangan Karin.

"Kau," ujar Sasuke sambil menatap Karin dengan intens, "aku butuh bantuanmu."

Melihat Sasuke menarik Karin dan membawanya menjauh dari Sakura membuat gadis berambut pink itu geram, Sakura mengikuti mereka sampai Sasuke melirik ke arah emerald yang kini menatapnya kesal, "Aku tidak menginginkan gantungan kelincimu, pergi sana."

"Tapi kau membawa kakakku! Kembalikan dia!" Sakura menarik lengan Sasuke dengan paksa, namun Sasuke menahannya.

"Lepaskan aku, aku butuh bicara dengannya. Lagipula jangan mengada-ada, kalian tidak mirip, mana mungkin kau adiknya!" bantah Sasuke.

Kesal atas pernyataan itu ... Sakura menggigit lengan Sasuke sekuat tenaga.

"AAHHH!"

Hingga cengkraman Sasuke pada Karin terlepas.

"Ayo Karin, kita pulang!"

Karin menahan tawa melihat hubungan Sasuke dan Sakura yang seperti kucing dan anjing ini.

Karin menghentikan langkahnya sehingga Sakura pun ikut terhenti, "Tunggu, Sakura. Aku yakin dia punya alasan sampai-sampai datang ke sini."

Sakura tidak menjawab Karin, dia malah menyipitkan matanya curiga menatap Sasuke yang sedang mengusap lengan bekas gigitan.

"Asal Sakura boleh mendengarnya, maka aku akan mendengarkanmu," ucap Karin yang menghampiri Sasuke.

Sasuke menatap jengkel sosok Sakura yang sekarang berlindung dibalik sosok Karin, "Baiklah, langsung saja pada intinya. Aku ingin kau mendekati Itachi."

...

...

"Ya, aku ingin kau membuat Itachi jatuh cinta padamu atau apalah ... semacam itu," ucap Sasuke sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.

"Tu-Tunggu, kenapa aku?! Apa yang telah kulakukan?" ucap Karin dengan anda gugup.

"Karena diantara semua wanita yang pernah kulihat, hanya kau yang berani mendekati dan menatap mata Itachi-nii. Dengan siapa lagi aku minta tolong? Dia?" tanya Sasuke sambil menunjuk Sakura, "amatir, dan bukan tipe nii-san."

"Dia juga bukan tipe-ku!" sewot Sakura.

"Tunggu, sebentar ... aku masih tidak paham," ucap Karin.

"Pokoknya, dekati nii-san, bantu dia untuk melupakan wanita sialan itu," ujar Sasuke dengan wajah kesal.

Melihat ekspresi Sasuke membuat Sakura terdiam, kenapa wajah laki-laki ini mengingatkan pada dirinya yang menyayangi Karin dan Naruto? Kenapa Sasuke sausah payah mencari Karin hanya untuk membuat Itachi melupakan seseorang? Sakura masih tidak mengerti apa-apa, satu hal yang dia pasti ... Sasuke menyayangi kakaknya.

Karena Sakura mengerti perasaan itu, maka hatinya pun melunak, "Baiklah, apa rencanamu?" tanya Sakura tiba-tiba yang membuat Sasuke dan Karin menatapnya bingung.

"Sakura, kau baik-baik saja?" tanya Karin yang aneh melihat perubahan sikap Sakura.

Sakura menghela napas, "Hhhh, awalnya aku sangat tidak setuju, tapi ... " Sakura menatap Sasuke kemudian memalingkan wajahnya, membuat Sasuke mengeluarkan tanda empat siku di keningnya, " ... sepertinya pantat ayam ini sangat khawatir pada kakaknya, aku bisa mengerti, kasihan juga sih," lanjut Sakura sambil menunjuk ke arah Sasuke.

"Apa kau bilang?!" Sasuke mengangkat dagu Sakura, "kau tipe yang kalau didiamkan akan terus-" kalimatnya terputus begitu melihat wajah Sakura dari dekat dan semakin jelas. Wajah Sasuke merona dan memalingkan wajah Sakura dengan paksa.

"Apaan sih!" protes Sakura.

"Kau! Jangan pikir aku tertipu olehmu! Setelah kau -" Sasuke menghentikan kalimatnya karena Karin masih ada di sana, "ehem, lupakan. Jadi, apa kau bersedia?"

Karin terdiam sebentar. Jika dia berhasil membuat Itachi jatuh cinta padanya, maka ruangan khusus di bar malam itu bisa dia gunakan, dan juga bar polaris bisa menjadi kekuasaan Karin. Gadis berambut merah itu menyeringai, "Baiklah! Aku akan membantumu, dengan satu syarat!"

Sakura menunggu perkataan Karin berikutnya.

"Aku ingin tahu, siapa kalian sebenarnya, kenapa bisa memakai ruangan khusus di bar polaris pada malam itu." Karin berkata sambil melipat kedua tangannya.

Sasuke terdiam, melihat kedua gadis di hadapannya ini menatap dirinya dengan tatapan penasaran, laki-laki bermata onyx ini hanya menghela napas tanpa membalas tatapan mereka, "Nii-san adalah ketua gengster bagian utara, barat sampai pusat. Aku hanya tangan kanannya."

Jawaban Sasuke sukses membuat Sakura kembali menganga, Karin terbelalak mendengar jawaban itu. Kemudian, kedua gadis itu saling tatap dan kembali menatap Sasuke, "Kau ... serius?"

Sasuke mengangguk.

Sakura bisa merasakan dirinya gemetar.

Gengster?

Yang benar saja, Sakura tidak siap untuk berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Ditambah lagi, Sakura sudah sangat berani terhadap Sasuke. Jika Sasuke kehilangan kesabaran, bisa-bisa Sakura dibunuh olehnya. Sakura terdiam dan menunduk, membuat Sasuke menyeringai kecil melihatnyta.

"Heh, takut?" ejek Sasuke.

Sakura tersentak mendengar suara Sasuke, gadis itu tidak menjawab, bahkan tidak memandang sosok Sasuke sama sekali, membuat Sasuke mengernyitkan dahi, "Kemana keberanianmu membentakku tadi?"

Sakura mencengkram seragam Karin, melihat saudaranya sudah mulai tidak nyaman, Karin memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini, dia mengambil kertas dari dalam tas dan pulpen lalu menuliskan sesuatu, "Ini, nomor ponselku, kita bisa diskusikannya melalui surel."

Sasuke menerima kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku, "Akan kuhubungi kau."

Sebelum Sasuke pergi dari tempat itu, dia menatap Sakura dengan tatapan penasaran. Yang ditatap merasa risih lalu menolak pinggang, "Apa!?"

Wajah Sasuke berubah jadi jengkel, "Dasar, menyebalkan," gumamnya pelan kemudian pergi meninggalkan Sakura dan Karin.

Ketika Sasuke sudah pergi, Karin menatap Sakura penuh curiga, "Sakura," panggilan Karin sukses membuat Sakura menoleh ke arahnya, Karin pun melanjutkan, "apa terjadi sesuatu diantara kau dan Sasuke?"

Sakura mengerjapkan kedua mata berkali-kali, "Hah? Terjadi sesuatu?"

"Iya, kalian bertengkar hebat misalnya, atau apa lah."

Sakura kembali mengerjapkan kedua matanya, "Sepertinya tidak, aku dan Sasuke memang tidak pernah saling suka."

"Apa kau ingat sesuatu, setelah kejadian di bar pada malam itu?" tanya Karin lagi.

Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak, yang kuingat aku melihat dua orang yang berlumuran darah lalu aku ada di kamar."

Karin masih berpikir bahwa terjadi sesuatu antara Sasuke dan adik tirinya ini, namun Karin sepertinya hanya bisa bertanya pada Sasuke.

"Karin," panggil Sakura dengan nada cemas, "kau tidak akan berhubungan dengan mereka 'kan? Maksudku ... sepertinya mereka orang-orang yang bahaya."

Karin tersenyum manis pada Sakura, "Tenang saja, aku bisa hati-hati kok."

Karin tidak akan mungkin mengatakan pada Sakura bahwa dirinya ingin sekali mengenal dunia yang Itachi miliki. Sejak mengunjungi bar polaris, Karin terus menerus berpikir, apa jadinya jika dia bisa mengontrol beberapa anak buah Itachi dan menjadi ratu di sana. Selain itu, dunia yang menegangkan benar-benar sangat pas buat jiwa Karin yang sangat menyukai tantangan. Beda dengan Sakura yang hanya sekadar mengikuti kemana Karin melangkah.

.

.

Karin berendam di kamar mandi, pikirannya masih terus pada persoalan Sasuke yang meminta tolong padanya tentang Itachi. Rasa penasaran dalam diri Karin benar-benar bergejolak, sampai akhirnya gadis berambut merah ini memutuskan untuk mengakhiri acara berendam favoritnya, kemudian begitu sampai di kamar, Karin langsung memeriksa ponselnya, dan benar saja ... Sasuke sudah mengirim surel.

'Besok malam datang ke bar polaris, Itachi ulang tahun, pastikan datang sendiri, jangan bawa si kaka tua pink.'

Karin terkekeh membaca julukan yang Sasuke berikan untuk Sakura. Karin membalas 'ok' pada Sasuke kemudian melempar ponselnya ke atas kasur, dia tidak sabar untuk besok, apa yang akan terjadi jika dia datang, dan apa yang harus ia bawa untuk Itachi?

.

.

Pulang sekolah, Sakura mencari Karin di mana-mana namun tidak ditemukan, sampai akhirnya Sakura melihat sosok Naruto yang sedang bersiap-siap untuk latihan basket, "Naruto!" panggil Sakura.

Naruto menoleh dan memberikan cengiran khasnya, "Sakura-chaan!" lambainya.

Sakura berlari ke arah Naruto, "Apa kau melihat Karin?"

"Eh? Tumben kalian tidak bareng," jawab Naruto.

"Tadi sampai istirahat terakhir sih kita terus bareng, tapi sekarang dia tidak ada," ucap Sakura.

"Sudah coba telepon dia?" tanya Sakura sambil mengetuk kepala Sakura.

"Belum, ponselku tertinggal di rumah."

"Hhhmm." Naruto berpikir sejenak, "mau pulang denganku? Aku bisa bolos latihan."

"Eh, jangan! Pertandingan terakhirmu sebentar lagi 'kan, kau janji mau menang, kau harus banyak latihan," tolak Sakura.

"Hahaha, iya ya, aku janji padamu untuk menang." Naruto melepaskan ikat rambut yang Sakura pakai untuk menguncir kuda rambut pinknya, "kupinjam, untuk jimat."

"Ok," jawab Sakura dengan riang, "kalau begitu, aku pulang duluan, bye!"

Naruto tersenyum lembut pada Sakura yang mulai berlari menjauh darinya. Dia mencium lembut ikat rambut milik Sakura kemudian memakainya untuk mencegah poni menusuk kedua mata.

Sakura bergegas pulang ke rumah, perasaannya tidak enak tentang Karin. Tidak biasanya Karin pergi tanpa memberitahukan dirinya. Kemana Karin pergi? Sakura hanya takut Karin terjerumus ke dunia menyeramkan yang Sakura lihat ketika malam itu di bar polaris.

Waktu tidak terasa sudah malam, karin belum juga pulang, Sakura keluar dari kamar dan menemui Kushina yang sedang menyaksikan acara di televisi bersama Minato, "Ibu, Karin belum pulang?"

"Oh, tadi sudah pulang sebentar, dia pamit ke acara ulang tahun temannya," jawab Kushina.

Sakura membatu, perasaannya mengatakan bahwa Karin pergi ke bar polaris tanpa sepengetahuannya. Sakura kembali ke kamar, memilih baju dan bergegas keluar lagi, "Aku pergi dulu!" pamit Sakura.

"Hati-hati!" kata Kushina dari dalam, "hhh, anak muda."

.

.

Karin berdiri di depan pintu masuk bar polaris yang dijaga oleh beberapa penjaga dengan tubuh yang sangat besar. Karin dipersilakan masuk dan diantar ke ruangan yang biasa Itachi berada. Hari ini lebih banyak orang dari hari terakhir dia datang bersama Sakura. Karin tidak melihat sosok Sasuke, kemana laki-laki yang menyuruhnya datang sekarang ini? Karin melepas coat miliknya kemudian ia peluk, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Beberapa laki-laki mendekati Karin namun gadis berambut merah indah ini menolak mentah-mentah, penolakan yang sangat tegas bahkan terlihat tidak ramah, membuat sosok laki-laki yang memperhatikannya dari tadi itu sedikit terkekeh.

"Itachi, apa yang kaulihat?" tanya wanita berambut coklat panjang sambil memeluk lehernya.

Itachi tersenyum sambil meneguk minumannya, dia tidak menjawab pertanyaan wanita di sampingnya itu. Itachi tetap memperhatikan Karin yang seperti mencari seseorang di bar ini. Sebentar lagi, Itachi akan menolongnya jika dia melihat Karin mengalami kesulitan. Karin membuka ponsel dan menelepon Sasuke, sayang sekali Sasuke tidak mengangkat telepon dari Karin.

"Brengsek! Lalu buat apa aku di sini kalau sendirian!? Bodoh!" sewot Karin.

Itachi kembali terkekeh, dia menebak bahwa Karin dicampakkan oleh orang yang membuat janji dengannya. Itachi meletakkan gelas dan melepaskan pelukan wanita itu, "Itachi, mau ke mana?"

Dengan percaya diri, Itachi mendekati Karin dan mengabaikan wanita tadi, "Kau dicampakkan?"

Karin menoleh ke arah Itachi di belakangnya, "Enak saja!" tapi Karin teringat, dia ke sini janjian dengan Sasuke dan Itachi tidak boleh sampai tahu tentang rencana Sasuke dan dirinya, akhirnya Karin berbohong, "err, ya ... dia tidak datang ternyata."

"Sayang sekali," ucap Itachi sambil berdiri mendekat pada Karin, "jadi, kau sendirian malam ini?"

"Yaa ... mungkin aku pulang saja," ucap Karin yang menguji Itachi akan menghentikannya atau tidak.

"Tunggu," cegah Itachi. Karin menyeringai, "kau bisa menjadi tamuku, kebetulan hari ini acara ulang tahunku."

Karin menoleh dengan wajah seolah tidak mengerti apa-apa, "Eh? Ulang tahunmu?"

Itachi mengulurkan tangan untuk meuntun Karin menuju ruangannya, Karind engan senang hati meraih tangan Itachi. Namun langkah mereka terhenti oleh wanita yang sebelumnya bersama Itachi, "Kau meninggalkanku hanya karena wanita ini?"

Wajah Karin terlihat tidak senang dengan wanita berambut coklat panjang itu.

"Izumi, jangan halangi jalanku," ucap Itachi dengan tenang.

"Kau janji hari ini khusus untukku! Tapi-" ucapannya terhenti oleh tatapan tajam Itachi.

Itachi melanjutkan langkahnya bersama Karin. Karin menoleh sedikit untuk melihat keadaan wanita yang tiba-tiba terdiam itu, kedua matanya berkaca-kaca, sepertinya wanita itu benar-benar menyukai Itachi, "Apa tidak apa-apa?" tanya Karin, "dia sepertinya ingin bersamamu."

"Aku tidak suka ditempel, aku suka kebebasan," ujar Itachi.

Karin tersenyum riang, "Loh, kau sama denganku, aku juga suka kebebasan, aku tidak suka terikat oleh siapapun."

Karin duduk di soa yang Itachi siapkan untuknya, dan Itachi duduk di samping Karin sambil menawarkan minuman yang tersedia di meja itu, "Oh ya? Bagaimana dengan pacarmu?"

Karin menjawab setelah meneguk beberapa kali, "Ah, aku tidak pernah lama menjalin hubungan, mereka selalu mengatur dan manja. Sebentar-sebentar harus mengabari, kemana-mana aku harus izin, memangnya mereka orang tuaku?"

Itachi terkekeh, "Kau unik sekali, baru kali ini aku bertemu wanita yang sangat cuek."

"Habis, kita kan pacaran ingin bersenang-senang, bukan menderita," jawab Karin lagi.

"Hahaha, kau benar-benar berbeda ya." Itachi menuangkan lagi minuman di gelas Karin yang kosong.

Karin mengangkat gelas itu dan mengarahkannya pada Itachi, "Ayo, bersulang untukmu yang ulang tahun," ucapnya dengan wajah riang.

Melihat keceriaan Karin membuat Itachi ikut tersenyum dan mengangkat gelasnya, "Bersulang, untuk hubungan kita yang semakin dekat-"

"Sebagai teman," potong Karin dengan kedipan sebelah matanya. Karin tidak mau Itachi salah paham atas kedekatan mereka malam ini.

"Hahaha, ya, sebagai teman."

Mereka menikmati suasana dan saling berbincang satu sama lain. Karin semakin mengerti karakter Itachi, dia adalah laki-laki yang tidak suka tipe wanita manja dan cerewet tidak jelas. Karin juga bisa melihat betapa berkuasanya Itachi atas tempat ini. Tatapan Itachi beberapa kali membuat anak buahnya takut menginterupsi percakapan mereka. Karin juga menganggap bahwa Itachi sebenarnya adalah laki-laki yang sopan, namun sekalinya dia tidak suka satu hal, dia akan tegas, mau itu hal tentang temannya atau wanita.

Sedangkan Itachi, walau banyak wanita yang ingin berada di sampingnya, ini pertama kali Itachi merasa nyaman ngobrol dengan lawan jenis dengan sangat santai tanpa harus ada embel-embel seksualitas. Karin bisa menjadi lawan bicara tentang hal apa saja, bahkan Itachi merasa bahwa Karin tidak takut sama sekali tentang dunia yang ia jalani sekarang. Tidak mungkin Karin tidak sadar oleh kejadian kemarin.

Namun, Itachi masih penasaran, kenapa Karin tidak bertanya apa-apa tentang perkumpulannya ini?

.

.

Sakura memakai kacamata dengan rambut yang ia kepang dua, dress putih yang ia pakai sangat mini, dengan syal warna pink yang melindungi leher dari dinginnya malam. Dia memasuki bar polaris dengan pelan-pelan, memastikan bahwa Karin benar-benar ada di sini. Satu penyakit yang Sakura punya ... dia seperti ikan dori, dia sulit mengingat suatu tempat, karena itu Sakura hanya berdiri di depan meja bar sambil memutar otak, kemana arah menuju tempat Itachi.

"Hei, kau sendirian saja?"

Sakura menoleh, laki-laki aneh dengan aroma alkohol yang menyengat mendekati Sakura, "Kalau kau sendirian, temani aku ya."

"Ma-maaf, aku janjian dengan orang," tolak Sakura berusaha sopan.

"Bohong, dari tadi kau berdiri sendirian di sini, kau pasti sedang mencari pelanggan 'kan?" kata orang itu sambil meraba dada Sakura.

"Kyaaaaaa!' Sakura menjerti kemudian menghajar laki-laki itu sekuat tenaga.

Laki-laki berkacamata itu terpental, rambut putih yang dikuncir kebelakang terlihat acak-acakan, dan keluar darah dari hidungnya.

"O-ow..." gumam Sakura pelan.

"Kau... BERANI-BERANINYA MERUSAK WAJAH TAMPANKU!"

Sakura melihat laki-laki itu bangkit dan akan menghajarnya. Dengan cekatan, Sakura lari keluar sebelum laki-laki itu menangkapnya. Tidak ada yang peduli dengan Sakura karena orang-orang di bar polaris tidak ingin membawa keributan. Ingin rasanya menangis, Sakura berhasil keluar dari bar dan menubruk seseorang.

"Akh!"

"Kau lagi! Sedang apa di sini?!"

Sakura mendongakan kepalanya dan melihat sosok Sasuke. Rambut raven yang berbentuk seperti pantat ayam itu membuat Sakura bisa langsung mengenalinya.

"Sa-Sasuke, tolong aku ..."

"Kemari kau!" Laki-laki yang Sakura hajar tadi mulai muncul.

"Kabuto?" tanya Sasuke bingung dengan wajah sinis.

"Cih, Uchiha bungsu."

Sakura menoleh ke arah Kabuto kemudian ke arah Sasuke. Mereka saling kenal?

"Serahkan wanita itu, aku ada urusan dengannya. Kau tidak ingin kan Tiger perang dengan Dragon?"

Sasuke melirik ke arah Sakura yang sudah berada di samping mencengkram lengannya. Wajah Sakura saat ini terlihat sangat manis, dan otomatis tatapan Sasuke tertuju pada bibir itu ... bibir yang pernah menyentuh bibirnya ketika Sasuke membawa pulang Sakura ke kamar. Tanpa sadar, Sakura menarik leher Sasuke dan menciumnya. Kejadian itu Sasuke sangat tahu, bahwa itu adalah kecelakaan, tapi tetap saja ... itu ciuman pertamanya.

Dan tida tidak menyangka, bibir wanita selembut itu ...

Bukan saatnya mengenang hal itu ...

"Dia cari gara-gara denganku, aku harus menghukumnya," geram Kabuto.

Sakura mencengkram lengan Sasuke semakin kencang, tangannya gemetar. Sasuke menghela napas, "Hhhh, dia kan perempuan, kau mengalah sedikit lah."

"Jadi kau lebih memilih melindungi wanita itu daripada menjaga hubungan antara Tiger dan Dragon?" ucap Kabuto dengan geram.

"Apanya yang cari gara-gara denganmu! Kau duluan yang meraba dadaku! Kau laki-laki mesum sialan! Aku sudah bilang tidak mau, tapi kau memaksaku!" bentak Sakura.

"Meraba dadamu!?" Sasuke terkejut, entah ada perasaan tidak suka di hati laki-laki yang saat ini memakai jaket hitam dengan gambar naga di belakangnya.

"Kau yang memancingku!" Kabuto mengelak.

"Enak saja! Aku sedang diam, tidak melakukan apa-apa, aku saja yang tidak bisa menjaga mata dan napsu karena melihat wanita cantik sepertiku sedang sendirian!"

Kabuto semakin kesal, dia memberi sinyal dengan mengangkat satu tangannya, dan tiba-tiba segerombolan laki-laki dengan jaket putih bermunculan.

"Kau akan menyesali ini semua, Sasuke," ucap Kabuto dengan tatapan kesal.

Sasuke memasang pose siap-siap untuk bertarung, sedangkan Sakura di belakang Sasuke masih terlihat bingung, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Beberapa laki-laki menyerang Sasuke, namun Sasuke dengan mudahnya menjatuhkan mereka. Sakura terbelalak melihat kemampuan bertarung Sasuke yang sangat hebat. Dia memundurkan langkahnya perlahan sampai bisa bersembunyi dibalik tempat sampah. Sakura melihat ada musuh yang akan menyerang Sasuke dari belakang dengan membawa balok. Ingin rasanya teriak, namun percuma, teriakan tidak akan membantu apa-apa, akhirnya Sakura mengambil botol kosong di dalam tempat sampah dan berlari lalu memukul kepala musuh yang sudah berada di belakang Sasuke.

"Hiyaaaahhh!"

Sasuke menoleh dan tertegun melihat tindakan Sakura. Musuh pingsan di tempat, dan sepertinya luka fatal. Sakura gemetar dan menatap Sasuke dengan sangat panik campur takut. Sakura menggelengkan kepalanya, seolah memberitahu Sasuke bahwa Sakura tidak bermaksud melukai orang itu. Merasa musuh semakin banyak, Sasuke kabur menyeret Sakura.

"Ayo lari!"

"KEJAR MEREKA!" seru Kabuto.

.

.

Langkah lari itu terdengar sangat cepat. Sasuke masih menyeret Sakura agar menjauh dari kerumunan kelompok Tiger. Merasa jalan yang mereka lewati saat ini buntu, Sasuke menarik Sakura lagi ke tempat lain, mereka melewati jembatan sungai yang tidak terlalu panjang. Tiba-tiba Sasuke menghentikan langkahnya, dia memeriksa di bawah jembatan, begitu merasa aman ... Sasuke menarik lagi tangan Sakura dan membawanya turun ke bawah jembatan yang jaraknya lumayan tinggi dari atas.

Sasuke membawa Sakura ke bawah jembatan hingga membuat setengah tubuh mereka basah. Terdengar kelompok Tiger bergerumuh mencari mereka, ada yang berteriak, ada juga yang membawa motor. Ketika Sasuke sudah merasa aman di sini, dia melihat ke arah Sakura yang kini memasang wajah takut.

"Hei ..." Sasuke memanggilnya pelan.

Sakura menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bermaksud," jawab Sakura dengan cepat, "aku lihat dia akan menyerangmu dari belakang, makanya ... makanya ..."

"Iya aku tahu, kau berusaha melindungiku," ucap Sasuke sambil menepuk kepala Sakura.

Sakura hanya terdiam, kemudian dia memeluk dirinya sendiri, "Apa orang tadi akan baik-baik saja?"

Sasuke mengangkat satu alisnya, "Kau tidak bisa menanyakan kondisi musuh baik-baik saja atau tidak."

"Musuh? Dia bukan musuhku!" bentak Sakura, "dia hanya manusia biasa yang terlibat oleh kelompok bodoh seperti kalian! Andaikan saja dia tidak terjerumus pada kelompok itu, dia pasti akan baik-baik saja!"

"Tapi kau melindungiku!" Sasuke balas membentak, "itu artinya secara tidak langsung kau sudah jadi musuh mereka! Bodoh!"

Sakura menahan tangisnya, kemudian ia memalingkan wajahnya dari Sasuke, "Bodoh ... aku memang bodoh, tau begini lebih baik kubiarkan saja dia melukaimu, setidaknya aku tidak mengotori tanganku," gumam sakura, "aku menyesal menolongmu."

Sasuke menatap kesal pada Sakura, namun dipikir lagi ... Sakura adalah gadis biasa yang tidak terbiasa oleh perkelahian seperti ini. Hanya helaan napas yang sasuke lakukan, dai menyender di tembok yang kotor, Sasuke melihat tubuh Sakura gemetar, sudah pasti gadis itu kedinginan, malam-malam harus masuk ke dalam sungai yang dingin. Sasuke melepas jaketnya dan membungkus pundak Sakura.

"Pakailah," ujar Sasuke.

Sakura sedikit terkejut oleh tindakan Sasuke, dia menoleh ke arah laki-laki yang sedang menyalakan rokoknya sambil menatap bulan. Wajah Sasuke sangat tampan, namun sayang dunia Sasuke tidak disukai oleh Sakura.

Sakura sangat sedih malam ini, pertama dia tidak bertemu dengan Karin, kedua dia harus mengalami perkelahian antar kelompok yang entah apa yang sebenarnya telah terjadi antar dua kelompok itu.

"Aku mau pulang," ucap Sakura pelan sambil keluar dari sungai.

Sasuke merasa sudah aman, "Kuantar."

"Tidak usah," tolak Sakura.

"Kau memakai jaketku, bisa bahaya jika Tiger melihatmu memakai jaket dengan ciri khasku, lagipula penampilanmu mereka sudah hapal."

Sakura menghentikan langkahnya, dia melepaskan jaket yang Sasuke berikan dan dikembalikannya pada Sasuke, "Terima kasih jaketnya," ucap Sakura.

Sasuke menatap heran pada Sakura yang mengembalikan jaketnya, dengan geram dia berucap, "Kau tahu, di luar sana, banyak wanita yang antri untuk memakai jaket ini."

"Kalau begitu berikan saja pada mereka," jawab Sakura sambil melepas kacamata dan kepangan rambutnya. Sakura membuka syal warna pinknya dan menjadikannya ikatan rambut, sehingga sekarang rambut Sakura dikuncir kuda, "maaf, anggap saja kita tidak pernah saling kenal."

Begitu Sakura pergi, Sasuke mengepalkan kedua tangannya. Ini pertama kalinya ada wanita yang benar-benar menolak dekat dengannya, karena sebelumnya .. Sasuke lah yang menolak mereka.

.

TBC

.

A/N : Aku lagi suka banget sama BTS hahahahaa selama pandemic ini aku ngikutin perjalanan mereka, selama pandemic, kalian ngelakuin apa aja?

Semoga hari ini pun kalian sehat-sehat yaaaa.

XoXo

V3 Yagami