.
Naruto milik Masashi Kishimoto
.
PRANG!
PRANG!
Itachi menatap heran pada pintu kamar Sasuke yang tertutup namun terdengar bunyi barang pecah belah. Di apartemen tiga kamar yang lumayan besar ini hanya tinggal Itachi dan Sasuke. Mereka memang hanya tinggal berdua, sejak orang tua mereka meninggal karena kecelakaan yang sangat aneh, mereka memutuskan untuk masuk ke dunia hitam atas bimbingan pamannya, Madara.
Walaupun mereka tinggal berdua, tidak jarang anak buah Itachi dan Sasuke datang dan menginap di sana, seperti saat ini contohnya, Shino dan Lee selalu bersama dengan Sasuke, bisa dibilang mereka adalah orang kepercayaan Sasuke.
Itachi melangkah mendekati kamar Sasuke dan mengetuknya, Sasuke tidak menjawab. Shino dan Lee berusaha membuka pintu namun terkunci, sampai Lee memutuskan untuk -
"HEYYAAAAHH!"
BRAK!
- Mendobrak pintunya.
Terlihat Sasuke sedang tengkurap di atas kasur dan suasana kamar yang sangat berantakan. Itachi menatap kamar Sasuke dengan tatapan syok, ini pertama kalinya Sasuke seperti kehilangan kontrol menahan emosinya.
"Hei," panggil Itachi, namun Sasuke tidak merespon.
"Kenapa hanya dia yang seperti itu..." gumam Sasuke yang terdengar oleh Itachi, Shino dan Lee.
Mereka saling tatap, masih bingung apa yang terjadi pada Sasuke.
"Kau kenapa?" tanya Itachi yang duduk di sampingnya.
Sasuke bangkit dan menatap Itachi kesal, "Kau ... apa Karin ramah padamu?"
Itachi mengerjapkan kedua matanya, "Ramah, tentu saja, kenapa?"
Mendengar jawaban Itachi membuat Sasuke kembali pundung. Di situ Itachi paham, Sasuke sedang mengalami puber nya yang telat. Itachi tersenyum dan menepuk pundak adiknya, "Terkadang percintaan itu memang sulit." Itachi mengedikan mata pada Shino dan Lee, memberi kode agar mereka juga memberikan nasehat pada Sasuke.
Lee menghampiri Sasuke dan jongkok di hadapannya, "Tenang saja, Sasuke-san! Kau sangat tampan, keren dan memesona, kau pewaris kelompok Dragon, wanita mana saja akan senantiasa menerimamu, kau jangan cemas!" ucap Lee sambil mengacungkan jempolnya.
Namun nasehat Lee membuat Sasuke kesal, karena pada kenyataannya Sakura bukan tipe yang seperti itu. Sakura tipe gadis yang menghidari dunia gelap.
"Kalau ada yang menolakmu, itu artinya wanita yang tidak tahu diuntung!" lanjut Lee.
Dan Sasuke makin kesal karena seolah Lee menghina Sasuke.
DUAK!
Lee sukses ditendang Sasuke dari kamarnya.
Itachi dan Shino melihat Sasuke dengan wajah canggung. Sasuke belum pernah jatuh cinta sebelumnya, karena itu kondisi Sasuke saat ini memang merepotkan.
Shino mendekatkan dirinya pada Sasuke dan berbisik, "Mau kuculik?"
Sasuke terpaku atas tawaran Shino.
"Akan kuculik dia, katakan siapa orangnya, akan kusiksa sampai dia mau menerimamu," lanjut Shino.
DUAK!
Shino pun sukses ditendang Sasuke dari kamarnya.
Itachi terkekeh kemudian menepuk kepala sang adik, "Jika kau laki-laki, hadapi dia."
"Masalahnya," ucap Sasuke yang terlentang sambil menutup kedua mata memakai lengannya, "dia membenciku, membenci duniaku."
Itachi masih diam, karena dia tahu Sasuke akan melanjutkan ucapannya.
"Dan aku tidak bisa meninggalkan dunia ini, kau tahu sendiri, nii-san ... aku sangat menyukai dunia ini, aku ingin menguasai dunia gengster, mafia, yakuza, seluruh dunia dengan genggamanku sendiri."
Itachi mengangguk dan bangkit dari duduknya, "Aku paham, paman Madara pun mengakui kemampuanmu sebagai pemimpin."
Sasuke terdiam, "Tapi ..."
"Sasuke..." Itachi memotong, "jika kau menginginkan sesuatu, kau harus berusaha mendapatkannya, jangan pernah menyerah sebelum kau berusaha. Lebih baik menyesal setelah berusaha, daripada tidak ada usaha sama sekali."
Sasuke mencerna setiap kata yang Itachi lontarkan, seolah mendapat pencerahan ... Sasuke tersenyum seperti sudah memutuskan tindakan apa yang akan dia lakukan selanjutnya, "Terima kasih, Nii-san."
Dan Itachi pun tidak terkena tendangan maut Sasuke.
.
.
Sakura membereskan buku-bukunya, dia melihat suasana kelas masih ramai setelah jam pelajaran selesai. jam sekolah pun sebenarnya sudah usai, namun banyak murid yang masih memutuskan untuk tetap di sekolah karena masih ingin bersama teman-temannya. Tidak seperti Karin dan Naruto yang sudah harus serius karena kelas tiga, Sakura masih santai. Dia beranjak membawa tas dan keluar dari kelas, tatapannya tertuju pada gerbang sekolah yang dikelilingi orang-orang.
Karena penasaran, Sakura berlari menuju gerbang utama sekolahan, semakin dia dekat pada kerumunan orang-orang, semakin dia sulit untuk melihat siapa yang datang. Artis kah? atau Model yang akan bersekolah di sini?
"Permisi, permisi," ucap Sakura sambil menerobos kerumunan orang.
Kedua mata Sakura terbelalak ketika tahu siapa yang datang membawa motor dengan bunga satu tangkai serta boneka kelinci yang sangat besar.
"Sakura, akhirnya kau muncul."
Wajah Sakura syok, mulutnya ternganga dan tubuhnya menegang panik.
"A-A-A-APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!"
"Aku menjemputmu- emph!" Sakura menutup mulut Sasuke memakai kedua telapak tangannya, mencium aroma kulit Sakura membuat Sasuke merona.
"Jangan macam-macam! Buat apa kau datang ke sini! Lagipula boneka ini besar sekali untuk apa!? Kan sudah kubilang, jangan-"
"Sehari saja," potong Sasuke dengan wajah serius dan menggenggam tangan Sakura, "sehari saja, luangkan waktumu bersamaku."
Mendengar suara bisikan dari orang-orang yang melihat mereka membuat Sakura panik dan langsung naik ke atas motor, "Cepat jalan! Pergi dari sini!"
Sasuke mengangguk, dari tadi wajahnya tidak berubah, tetap datar dan dingin, namun rona merah di wajahnya tidak bisa ditutupi, ketika Sakura menggenggam jaketnya, jantung Sasuke terasa ingin meledak. Sasuke membuka helm dan menyerahkannya pada Sakura, "Pakai."
"Eh? Kau sendiri?" ucap Sakura ragu.
"Pakai saja, aku sudah biasa," jawab Sasuke tanpa menoleh.
Sakura memakai helm pemberian Sasuke dan kembali memeluk pinggan laki-laki yang kini sedang merona itu, kebiasaan sakura jika naik motor bersama Naruto pasti memeluk pinggang laki-laki pirang itu, namun kebiasaannya ini pasti menimbulkan kesalah pahaman bagi orang yang dipeluknya.
.
.
"Heee? Sasuke? dan Sakura?" tanya Karin yang menerima telepon dari Itachi.
"Ya, sepertinya dia jatuh cinta pada Sakura."
"Haha, susah. Sasuke harus berusaha sekuat tenaga, karena Sakura tidak memikirkan pacar sejak putus dengan pacarnya dulu," ujar Karin sambil mengolesi cat kuku dan menahan ponsel memakai pundaknya.
"Itu urusannya, aku hanya memberikan dukungan. Oh, Karin, apa nanti malam kau ada acara?"
"Tidak, habis belajar aku mau langsung tidur," jawab Karin sambil sesekali meniup kukunya yang basah.
"Datanglah ke bar polaris sebentar, aku ingin mengajakmu balapan liar, kau pasti akan menyukainya."
Kedua mata Karin berbinar-binar, seolah baru saja mendengar kabar gembira atau habis mendapatkan hadiah undian.
"Kau serius!? Aku boleh ikut?" tanya Karin dengan riang.
"Kau akan menjadi penumpang spesialku, sedikit ada pertunjukkan, kita akan melawan kelompok Tiger."
Karin tersenyum tegas, "Kita pasti akan menang."
.
.
Sementara itu Sakura sedang berdiri di tengah kota dengan boneka kelinci yang besarnya hampir setengah badannya sendiri, bersama dengan Sasuke yang masih berada di atas motornya. Mereka berada di taman tengah kota dengan banyak orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka, entah karena Sakura yang manis atau Sasuke yang tampan.
"Mau apa ke sini?" tanya Sakura.
Sasuke melihat jam tangan miliknya kemudian menatap sekeliling seperti sedang mencari seseorang, begitu dia menemukan siapa yang dicari, Sakura melihat dua sosok yang tidak asing, salah satunya melambaikan tangan pada Sasuke.
"Sasuke-saaann!"
"Shino, Lee, bawa motorku ke markas, aku akan jalan dari sini," perintah Sasuke sambil melemparkan kunci pada Shino.
"Baik," jawab Shino.
Sakura merengutkan alis pada tingkah laku yang sok memerintah.
"Hei! Setidaknya kau harus ucapkan tolong pada orang yang akan membawa motormu ini, itu tidak sopan namanya!" tegur Sakura.
Shino dan Lee tertegun melihat Sakura sangat berani menegur Sasuke, dan mereka lebih tertegun lagi ketika Sasuke tidak keberatan ditegur oleh Sakura. Sasuke menggaruk lehernya yang tidak gatal itu dan menatap Shino kemudian ke Lee, "Tolong," ucapnya datar.
Seketika Shino dan Lee merinding mendengar kata tolong terucap dari bibir Sasuke.
"I-iya," jawab mereka dengan nada yang canggung.
Sebenarnya Sasuke tidak pandai mengajak orang untuk bersenang-senang, karena itu saat ini dia menyerahkan semua pada Sakura. Kebetulan Sakura memang sedang ingin main, Sakura membiarkan Sasuke membawa boneka kelinci besar itu dan menarik lengan Sasuke ke pusat permainan. Sakura menantang Sasuke untuk memainkan lempar bola basket, tentu saja Sasuke menerimanya dengan senang hati.
Dengan hasil Sakura yang kalah telak oleh Sasuke, kini Sakura tidak mau kalah, dia mengajar ke suatu permainan yang sangat Sasuke hidnari, yaitu mesin tari biadab. Karena tidak ingin mengecewakan Sakura, akhirnya Sasuke mengikuti setiap gerakan yang Sakura lakukan dengan lincah, namun sangat aneh ketika Sasuke yang melakukan gerakan itu. Sasuke bersumpah, jika anak buahnya melihat dia seperti ini, mereka pasti akan muntah. Dari pada itu, hal ini sepadan untuk bisa melihat wajah tawa yang Sakura ciptakan saat ini.
Mereka duduk di taman sekarang, sambil meminum minuman yang Sasuke belikan untuk Sakura. Saat ini, Sasuke baru teringat sesuatu yang dia bawa dari tadi, "Ah! Bunganya!" Sasuke mengeluarkan bunga dari saku belakang yang sudah rontok.
Melihat kelopak bunga yang tinggal satu membuat Sakura tertawa, "Ahahahahaa! Kau baru ingat sekarang?" ujarnya sambil menerima sisa kelopak bunga itu, "terima kasih."
Sasuke terdiam dan memalingkan wajahnya, "Tidak keren sama sekali!" geramnya kesal.
"Santai saja, aku juga tidak terlalu suka bunga, dan ini bukan kencan, jadi tidak usah serius begitu," ucap Sakura yang mendengar geraman Sasuke.
Sasuke tidak merespon, mereka bermain sangat puas hari ini. Canda tawa yang mereka ciptakan cukup untuk menghilangkan rasa canggung Sakura pada Sasuke. Hari sudah mulai gelap, Sasuke harus mengantar Sakura pulang.
"Kuantar pulang," ucap Sasuke sambil berdiri dan membawa boneka kelinci.
"Aku bisa sendiri," jawab Sakura.
"Jangan ngawur! Ini sudah malam, lagian kau habis jalan denganku, bisa bahaya jika pulang sendirian."
Sakura sangat paham maksud dari apa yang Sasuek ucapkan, dia hanya terdiam tidak merespon, tapi Sakura tidak bisa pungkiri, hari ini memang terasa sangat menyenangkan bersama Sasuke.
.
.
Karin siap-siap memakai celana jeans panjangnya dan jaket hitam, rambutnya ia kuncir ke atas agar tidak berantakkan jika terkena angin kencang saat menegndarai motor bersama Itachi nanti. Ketika Karin sudah di depan pintu, Kushina menahannya, "Karin, ujian sebentar lagi, apa kau sudah mempersiapkannya?"
"Tenang saja bu, aku sudah belajar kok, aku pasti bisa menyeimbangkan kehidupan main dan belajarku," jawab Karin.
"Bagus, jangan pulang larut ya," ucap Kushina.
"Iya ... ah, Sakura belum pulang?" tanya Karin sambil memakai sepatu, "aku tidak melihatnya dari tadi."
"Iya, tadi sih telepon katanya main bersama temannya," jawab Kushina.
"Hmmm, yasudah, aku berangkat ya."
"Hati-hati."
Karin tidak sabar untuk bertemu Itachi, ini pertama kalinya Karin merasakan ketegangan sekaligus menyenangkan, belum apa-apa Karin sudah bersemangat, bagaimana sudah terjadi balapannya?
Sesampainya di bar polaris, penjaga bar sudah mulai mengenali Karin, dia langsung mengantar Karin ke tempat Itachi. Karin menyapa Itachi yang sedang memakai jaket kulit berwarna hitam dengan lambang naga di punggungnya. Karin terpesona melihat sosok Itachi, namun segera ia menggelengkan kepala agar pesona Itachi hilang dari pikirannya.
"Kau siap?" tanya Itachi.
"Sangat siap," jawab Karin.
Itachi membawa Karin ke arena balap dengan perlengkapan keamanan yang lengkap, ini pertama kalinya bagi Karin mengikuti balap liar. Sesampainya di lokasi, banyak yang menatap heran pada Itachi yang membawa Karin di belakang, ini pertama kalinya Itachi mengizinkan ada yang duduk di motornya. Karin terlihat sangat percaya diri bersanding dengan Itachi, aura yang mereka keluarkan membuat siapapun yang melihat mereka merasa kagum dan iri. Padahal, mereka tidak ada hubungan khusus.
"Itachi!" sapa sosok laki-laki yang sedikit terlihat aneh di mata Karin, namun Karin bisa menutupinya dengan baik.
"Kisame, lama tidak bertemu," sapa Itachi balik.
Orang bernama Kisame itu memperhatikan sosok Karin dan mengangkat satu alisnya seperti meledek Itachi, "Hee, jadi kau sudah memutuskan punya pasangan yang tetap, eh?"
"Bukn, bukan," jawab Karin dengan segera, dia tidak ingin Itachi menjadi canggung oleh pernyataan Kisame, dan dia tidak ingin Itachi menganggap Karin pun menginginkan hal lebih darinya, "aku hanya teman biasa."
Itachi terdiam mendapat pengakuan seperti itu dari Karin.
"Teman biasa?" ucap Kisame tidak yakin, "kupikir kau salah satu wanita yang selalu mengikuti Itachi kemana pun dia pergi."
"Enak saja!" protes Karin dengan nada bercanda, "aku hanya teman biasa, aku juga bisa menjadi temanmu seperti itu."
Karin sedikit meninju lengan Kisame dengan pelan, "Hahaha, kau seru sekali, Itachi! Aku menyukainya, dia sangat supel," puji Kisame.
"Hn." Itachi merespon seadanya dan kembali memeriksa keadaan mesinnya.
Karin tidak menyadarinya, namun Kisame yang sudah berteman lama dengan Itachi langsung menyadari suasana hati sahabatnya itu. Kisame menyeringai usil dan membisikkan sesuatu pada Karin, "Mau lihat sesuatu yang lucu?"
"Ng? Apa?" tanya Karin dengan wajah bingung.
"Itachi, kau tahu peraturan balap malam ini?" tanya Kisame.
"Balapan bersama pasangan," jawab Itachi singkat.
"Yang kalah harus menyerahkan pasangannya kepada lawan," lanjut Kisame.
"APAAA!?" Karin terkejut. Kisame melirik Karin dengan wajah syok, harusnya Itachi yang bereaksi, ini kenapa malah Karin?
"Aku tidak mau! Enak saja, memangnya aku barang!" teriak Karin
"Karin." suara Itachi membuat Karin sedikit luluh, suara berat dengan ketegasan nadanya membuat Karin tidak lagi berteriak, "kau sendiri yang bilang, kita pasti menang."
Wajah Karin terlihat ragu dan cemas, "Uuhh, yasudah, aku pasrah~"
Kisame menyeringai usil, "Ayo, siap-siap ke arena!"
Itachi yang sudah memakai perlengkapan keselamatan mulai mengendarai motor dengan Karin yang duduk di belakangnya. Lawannya adalah anggota Tiger, laki-laki yang tidak terlihat wajahnya, yang jelas wanita di belakangnya itu terlihat sangat sexy. Karin sampai memperhatikan kembali penampilannya, sangat biasa. Sial, tahu begini Karin akan mencoba lebih seksi lagi.
"Siap?" Kisame memberikan aba-aba, peserta mulai memanaskan mesin masing-masing, sampai Kisame mengatakan, "Mulai!"
.
.
Sakura sampai di depan rumahnya, bersama Sasuke yang membawakan boneka kelinci. Sesampainya di depan rumah, Sakura membalikkan tubuhnya dan membungkuk pada Sasuke, "Terima kasih untuk hari ini."
"Aa ... iya ... sama-sama."
Keadaan semakin canggung, sebelum mereka saling diam lebih lama, Sakura memutuskan untuk membuka percakapan, "Aku masuk ya." dan hal itu membuat Sasuke kecewa, tapi Sasuke sukses menutupi kekecewaannya.
"Ya, masuklah," jawab Sasuke sambil menyerahkan boneka kelinci pada Sakura.
Sakura terkekeh dan menerima boneka itu, "Terima kasih, selamat malam."
Sebelum Sakura masuk, dia mengambil ponsel di blezer dan memberikannya pada Sasuke, "Tuliskan nomor dan emailmu, kalau sudah bersenang-senang begini, artinya kita teman 'kan?"
Merasa Sakura mulai menerima dirinya, Sasuke mengangguk dan mengetik nomor ponsel beserta emailnya dengan cekatan di ponsel milik Sakura. Selesai itu, Sakura benar-benar masuk dan Sasuke hanya mengepalkan tangan dan menunjukkan ekspresi gembira tanpa ada yang tahu.
Sakura meletakkan boneka di atas kasur dan membuka blezernya, sebelum dia membuka semua seragamnya dia mendengar pintu diketuk. Sakura bergegas membuka pintu dan melihat Naruto yang berdiri membawakan susu hangat, "Mau?"
Sakura terlihat girang, "Waaahh, terima kasih." dan menerima segelas susu hangat itu.
"Hari ini, kau kemana?" tanya Naruto.
"Oh, aku main sama teman, sudah lama aku tidak main," jawab Sakura.
Naruto tidak merespon, dia memperhatikan wajah Sakura yang sedang menikmati susu hangat buatannya itu. Ingin sekali Naruto bertanya, kemana dia pergi, dengan siapa, apa yang dilakukannya di luar sana jika Naruto tidak melihatnya. Pertanyaan posesif itu ditelan mentah-mentah oleh laki-laki pirang yang saat ini tersenyum lembut pada Sakura, "Habis ini kau mandi dan istirahat lah."
"Ng, terima kasih, Naruto nii-san." jika sedang manja, Sakura selalu memanggil Naruto dengan sebutan yang sangat ia benci itu, namun apa boleh buat, Naruto harus berpura-pura menyukai sebutan itu.
Naruto keluar dari kamar Sakura dengan wajah dingin, dia menyenderkan kepalanya di pintu sejenak kemudian melanjutkan langkah ke kamarnya sendiri.
.
.
"BERSULAAAAAANG!"
"Aku tidak menyangka kita akan menang telak!" ucap Deidara sambil meminum bir nya.
"Kau meremehkanku, walau ini yang pertama bagiku, tapi aku sangat menantikannya. Benar-benar memacu adrenalin, apalagi ketika Itachi menutup matanya dan aku mengarahkan jalan padanya, seperti kita harus saling percaya! Kereeen!" ujar Karin masih semangat atas kemenangannya dari balapan liar ini.
Itachi tersenyum bangga dengan lengan yang melingkar di pundak Karin, "Aku tidak salah memilih pasangan untuk balap liar, kau memang hebat," puji Itachi.
Ini pertama kalinya Itachi merasa sangat nyaman menyentuh wanita, biasanya wanita lah yang melignkarkan tangan mereka di lengan Itachi. Anak buah Itachi yang lain merasa sedikti canggung oleh pemandangan ini.
"Kalau begitu... " ucap Kisame, "... sebagai hadiah, kau harus mencium pasanganmu, Itachi!"
"Eehh!?" Karin mengelak, "tidak, nanti-"
"Tidak boleh ada penolakan!" seru Deidara dengan semangat.
"Sebentar lagi akan ada adegan yang sangat langka," ujar Sasori pelan yang menyiapkan ponselnya untuk mengambil foto mereka.
"Cium! Cium! Cium!"
"A-aku ... Itachi-!"
Kalimat Karin terputus oleh tindakan Itachi yang langsung mencium bibirnya, sangat tiba-tiba, di depan umum, membuat Karin syok dan reflek menampar Itachi.
PLAK!
Semua terdiam.
Karin membersihkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca, "Kau pikir aku sama dengan wanita yang pernah kau temui? Di depan banyak orang seperti ini, itu sama saja kau tidak menghargaiku dan merendahkanku sebagai martabat wanita!"
Tanpa menunggu jawaban Itachi, Karin pergi meninggalkan arena. Tidak peduli bagaimana perasaan Itachi yang saat ini terguncang oleh tamparan wanita untuk pertama kalinya. Semua terbungkam, tidak ada yang berani mengeluarkan satu kata pun, bahkan mereka sebisa mungkin menahan diri untuk bernapas.
.
.
TBC.
.
.
A/N : Waahh, ada sesama army jugaaa, haii ahahhahaa, aku baru banget suka BTS, sejak oktober 2019 kemarin hehehee, beruntung banget jadi pas pandemic begini ngga bosan XD
oh iya, di masa karantina ini sering-sering konsumsi vitamin yaaa, jangan sampai sakit, stay at home sampai waktu yg ditentukan gaes.
XoXo
V3 Yagami
