.

Naruto milik Masashi Kishimoto

.

Sakura menatap layar ponselnya, sesekali dia terkekeh kecil karena apa yang baru saja ia baca. Hal ini membuat Naruto yang sedang duduk di sampingnya penasaran, dengan siapa Sakura mengirim pesan, "Seru sekali," ucap Naruto sambil menyantap sarapannya.

"Ah, ini temanku," jawab Sakura.

Sebelum Naruto bertanya apakah teman itu laki-laki atau perempuan, tatapannya teralihkan oleh kehadiran Karin yang murung dan tidak bersemangat. Naruto mengamati saudara kembarnya itu, "Kau kenapa?" tanya Naruto pada Karin.

Mendapati pertanyaan tiba-tiba membuat Karin salah tingkah, "Tidak apa-apa, hehehe, hanya kurang tidur."

Jawaban Karin menimbulkan curiga pada Sakura yang kini memincingkan matanya. Sakura bertekad, di sekolah nanti, dia harus meng-interogasi kakak angkatnya itu. Suasana pagi ini terasa aneh, Minato memperhatikan ketiga remaja yang saat ini memasang ekspresi berbeda-beda. Naruto yang cemas, Karin yang pundung, dan Sakura yang terlihat senang. Paham suaminya merasa cemas, Kushina tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan kemudian berbisik, "Mereka sudah besar, biarkan mereka mengatasinya masing-masing."

Minato membalas senyuman istrinya. Sesudah itu, ketika ketiga remaja itu telah pergi meninggalkan rumah untuk berangkat ke sekolah, Sakura beberapa kali menatap Karin dengan tatapan curiga, sepanjang perjalanan mata Sakura tertuju pada Karin, sampai Karin merasa risih dan menghentikan langkahnya, "Ada apa, Sakura?"

"Ada yang aneh padamu," jawab Sakura dengan jujur.

Karin memutar kedua bola matanya, "Tidak ada apa-apa, aku hanya lelah."

"Dari mana kau semalam?" tanya Naruto.

"Bukan urusanmu, sebaiknya kau cari pacar sana, daripada mengurusi adik-adikmu," ledek Karin sambil menjulurkan lidah kemudian menarik lengan Sakura untuk kabur dari Naruto.

Naruto belum sempat membalas, Karin sudah masuk ke dalam gedung sekolah bersama Sakura lebih dulu. Laki-lak pirang ini hanya menghela napas, getar ponsel di saku celana membuat Naruto menghentikan langkah dan mengangkatnya.

"Ya?"

"Naruto, apa kau sibuk?"

"Tidak," jawabnya sambil melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya, "kau butuh aku sekarang?"

"Apa kau bisa? Kali ini akan menguntungkan pihak kita."

Naruto menyeringai, "Apapun, asal kedua adikku tetap aman dari preman-preman nakal."

.

.

"Karin, berhenti!" Sakura menahan langkahnya agar Karin berhenti, "kau kenapa?" tanya Sakura sekali lagi, dia sangat yakin Karin sedang mengalami masalah saat ini.

Karin menoleh, wajahnya terlihat pilu, "Sakura ..."

"Ada apa?"

Karin langsung memeluk Sakura dengan sangat erat, air mata mengalir di balik kacamatanya, "Aku ... sepertinya jatuh cinta padanya ..."

Sakura mengernyitkan dahinya, "Pada siapa?"

Tidak ada jawaban, namun Sakura tidak bodoh, Sakura sangat tahu siapa yang Karin maksud, "Karin ... tidak, jangan bilang Ita-"

"Aku juga tidak mau!" potong Karin, "hanya saja ... cara dia memperlakukanku beda sekali dengan -"

"TIDAK!" bentak Sakura dengan wajah kesal, "Karin, kita sama-sama berjanji tidak akan terjebak oleh laki-laki tipe seperti Itachi! Dan-" Sakura menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian mengecilkan suaranya, "-laki-laki berandal seperti Itachi berbahaya, jika ada kesempatan, mereka akan kurang ajar! Jangan pernah lengah!"

Karin merasa tidak terima oleh nasihat Sakura, "Kau sendiri, kau bisa menerima Sasuke tapi aku tidak boleh dengan Itachi?"

"Aku tidak menerima Sasuke, aku hanya berteman dengannya, tidak lebih," jawab Sakura, "lagipula, Itachi menyeramkan, aku ... takut..."

Helaan napas lah yang hanya Karin lakukan, melihat Sakura cemas juga membuat Karin sedih, akhirnya Karin menepuk kepala Sakura dan memutuskan untuk menceritakan apa yang dia dan Sasuke rencanakan "Sebenarnya, aku dimintai tolong oleh Sasuke."

Karin menceritakan semuanya, ekspresi Sakura berubah menjadi sangat marah. Namun, Sakura tidak bisa menyalahkan Karin yang mempunyai jiwa petualang dan bebas. Jam pelajaran telah mulai, Sakura menahan dirinya agar tidak marah pada Karin, namun dia sangat marah pada Sasuke. Semua pesan Sasuke tidak ada yang dibalas satu pun, bahkan Sasuke menelepon Sakura ... gadis itu mengabaikannya.

Sakura yang cuek pada Sasuke membuat laki-laki bermata onyx itu geram, berani-beraninya dia mengabaikan Sasuke, akhirnya Sasuke memutuskan untuk menemui Sakura di sekolah, namun di perjalanan menuju sekolah Sakura, dia menghentikan motor besarnya karena melihat Sakura sedang berjalan ke arah yang berlawanan, arah itu adalah arah ke bar polaris. Sasuke mengikutinya dari belakang dan membunyikan klakson dari belakang ketika mereka sampai di bar polaris.

Mendengar suara klakson membuat Sakura menoleh, yang tadinya kesal karena tidak ada pesan satu pun yang dibalas, amarahnya luntur ketika melihat wajah Sakura. Dia pikir, Sakura datang untuk bermain dengannya, namun ketika Sasuke membuka helm.

PLAK!

Tamparan keras, benar-benar keras mendarat di wajah tampan Sasuke. Sakura menatapnya dengan tatapan benci.

"Sekali lagi kau minta macam-macam pada Karin, aku tidak akan menamparmu dengan telapak tanganku, akan kutampar kau pakai batu." Sakura mengancam.

Ketika Sakura membalikkan tubuhnya dan akan memasuki bar, Sasuke menahan langkahnya dengan mencengkram pergelangan tangan Sakura, "Apa-apaan kau!? Main tampar dan pergi begitu saja!"

"Lepaskan aku!" bentak Sakura.

"Jangan membentakku!" kini Sasuke meninggikan suaranya, tatapan Sasuke terlihat tajam dan menakutkan, membuat Sakura yang tadinya berani sekarang menjadi takut, "Jangan kau pikir kau bisa seenaknya!"

Sasuke menarik Sakura ke dalam bar, dan dilihat tidak ada siapa-siapa di dalam, jelas saja karena saat ini masih sore. Hanya ada beberapa petugas bar yang sudah sangat kenal dengan Sasuke. Sasuke menyeret Sakura ke ruangan khusus dimana tempat dirinya dan Itachi selalu bersantai di sana.

Sasuke membuka pintu dan melempar Sakura ke sofa.

"Kyaaaaa!"

"Aku sudah lumayan bersabar dengan kelakuanmu, apa kau pikir dengan kelakuanmu yang berpura-pura susah untuk didekati itu maka laki-laki akan tertarik? Jangan bercanda, aku sangat membenci wanita seperti itu."

Sakura menatap ngeri pada sosok Sasuke yang kini melepas blezer dan melonggarkan dasinya.

"Kuberitahu satu hal padamu, apa hukumannya jika kau membuat seorang Uchiha Sasuke marah." Sasuke mendekati Sakura, menaiki tubuhnya dan mencengkram pundaknya.

Sakura membuang muak dan bergumam, "Neji ..."

Mendengar nama laki-laki terucap dari bibir mungil itu membuat Sasuke semakin marah, dia memaksa Sakura melepas seragamnya tanpa ada sepatah katapun.

"TIDAAAKK! JANGAAANN!"

Sasuke mengabaikan jeritan Sakura, sampai-

DUK!

"Dinginkan kepalamu, Sasuke."

Tindakan Sasuke terhenti karena Itachi yang datang tiba-tiba memukul kepala Sasuke mamakai tasnya.

"Ada apa ini?"

Sakura merapikan rambut dan seragamnya, kemudian menjauh dari Sasuke dan menghardik Itachi, "Katakan pada adikmu, jika dia menginginkan sebuah permainan, jangan pernah melibatkan perasaan orang lain!"

Mendengar ucapan Sakura, Itachi masih tidak mengerti, dia hanya melirik Sasuke seolah meminta penjelasan, sebelum itu Sakura melanjutkan, "Kalau memang kau tidak memiliki perasaan suka pada Karin, JANGAN MENCIUMNYA!" Akhrinya Sakura menjerit sambil memukul lengan Itachi, "kalian laki-laki tidak akan pernah paham pada perasaan wanita, selalu bertindak seenaknya! Karin bukan wanita murah yang gampang diperlakukan rendah seperti itu! Jika aku menemukan kau berhubungan lagi dengan Karin, aku akan menghajarmu!"

Sakura lari meninggalkan bar, Itachi dan Sasuke saling tatap. Ini pertama kalinya ada orang yang berani mengancam Uchiha, apalagi diancam oleh seorang wanita, kecil, masih polos, bahkan berkelahi pun tidak bisa, entah antara harga diri runtuh atau malah lucu. Namun, yang menjadi perhatian Itachi adalah ucapan Sakura tentang 'permainan'.

"Sasuke," ucap Itachi yang menatap sang adik dengan tatapan serius, "lebih baik kau jujur padaku."

Sasuke menjatuhkan dirinya di sofa dan menjambak rambutnya sendiri, "Ck! Yaaah, aku meminta Karin untuk mendekatimu, agar kau tidak terperangkap lagi oleh Konan."

Kedua mata Itachi terbelalak, "Sasuke, apa kau sadar apa yang telah kaulakukan?"

Sasuke mengangkat kedua bahu-nya, "Dia menyetujuinya, katanya dia juga penasaran dengan kehidupan gengster, dia juga mengincar fasilitas di sini."

Itachi terdiam, sesaat ekspresi Karin malam itu terngiang oleh Itachi. Wajah Karin yang syok dan pilu ketika Itachi menciumnya, benar kata Sakura ... Karin bukan tipe wanita murahan yang bisa dicium siapa saja.

.

.

Sakura menghapus air matanya, membayangkan Karin diperlakukan seperti itu di depan umum membuat Sakura teringat pada masa lalunya yang menyedihkan, dan mengingat lagi Sasuke bisa sekasar itu membuat dirinya memutuskan untuk menjauhi Sasuke. Sakura memang benar-benar tidak bisa berhubungan dengan laki-laki tipe seperti itu, cukup sekali seumur hidup Sakura merasakan hal yang menjengkelkan.

Langkah Sakura memelan, pikirannya melayang ke masa lalu ketika dirinya bersama dengan laki-laki yang berkuasa atas dirinya. Laki-laki yang selalu berjanji akan melindungi dirinya namun mengingkari semua janji-janji itu. Air mata kembali mengalir, kali ini sangat deras. Sakura tidak bisa menahan tangisnya, dia merunduk sambil mencengkram dadanya, menahan tangis sambil bergumam... "Neji... Neji..."

.

.

Beberapa hari terlewati, Sasuke dan Sakura tidak saling menghubungi satu sama lain, sedangkan karin tidak lagi mengunjungi Itachi sama sekali, hal ini membuat Itachi cemas, karena biasanya Karin akan datang mengunjunginya dengan wajah ceria, dan begitu Karin memutuskan untuk jaga jarak, rasanya sangat sepi. Setelah berpikir dengan kepala dingin, Itachi sadar bahwa apa yang telah ia lakukan pada Karin sangat salah.

Itachi melamun sambil memainkan pensilnya, tidak memperhatikan apa yang sedang dijelaskan pada guru yang sedang menjelaskan di depan kelas. Ekspresi Karin pada malam itu terus menghantuinya. Tanpa berpikir lebih banyak lagi, Itachi beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan kelas, jangan ditanya kenapa Itachi tidak mendapat teguran, karena selain Itachi murid jenius yang membanggakan nama sekolah, tidak ada yang berani menegur laki-laki berwajah datar ini.

Beda dengan Sasuke yang melamun memandang ke arah langit, Itachi...walaupun dia bertengkar dengan Karin, setidaknya Karin tidak membenci dunia-nya, beda dengan Sakura yang dari awal sudah membenci dunia mereka, ditambah lagi Sasuke melakukan hal nista pada Sakura, yang sudah dipastika gadis berambut pink itu akan semakin benci padanya.

Sasuke hanya bisa pasrah pada nasib, dia belum bisa berpikir apa yang harus dilakukan agar Sakura mau memaafkannya.

.

.

Karin mengerjakan tugas piketnya bersama teman sekelas, laki-laki ini tampan, tidak sedikit siswi yang jatuh hati padanya. Karin mengangkat tempat sampah bersama laki-laki ini, karena melihat wajah wanita berambut merah ini murung, laki-laki itu memulai pembicaraan.

"Ada masalah?"

Pertanyaan itu cukup membuat Karin menatap teman sekelasnya, "Hah?"

"Wajahmu murung sekali," ucapnya sambil mengangkat tempat sampah dan memasukkan seluruh sampah di tempat pembuangan.

"Tidak..." Karin sempat ragu untuk bertanya sesuatu, karena berhubung temannya ini laki-laki dan populer, maka Karin meneruskan, "Sui... boleh aku bertanya sesuatu?"

"Silakan."

"Jika ada laki-laki mencium perempuan di hadapan teman-temannya, padahal katanya laki-laki itu tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, tapi dengan perempuan ini, laki-laki itu terlihat santai dan... intim?"

"Itu artinya tanpa sadar dia jatuh cinta padamu."

Jawaban singkat dari temannya itu membuat kedua mata Karin terbelalak. Itachi? Jatuh cinta padanya? Mustahil.

"Hahaha... ngaco." karin membalikkan tubuhnya.

"Mau kemana?" Suigetsu menahan rambut Karin sehingga wanita itu menghentikan langkahnya.

"Ah! Ke kelas, ke mana lagi?"

"Masalahmu belum selesai, sini selesaikan dulu."

Karin menurut dan bersender di tembok, "Jadi, siapa laki-laki ini?" tanya Suigetsu langsung pada intinya.

Karin tidak menjawab detail, "Pokoknya... kenalanku," jawab Karin pelan, "aaahhh! Aku sepertinya bermain api, kesal!"

"Ayolah, kau adalah Karin, laki-laki mana yang bisa mengacaukan pikiranmu?" ledek Suigetsu.

Karin tersenyum tipis oleh ucapan Suigetsu, "Kau benar! Aku tidak boleh terpuruk seperti ini! Sui! Kau harus menemaniku pulang sekolah nanti ke pusat permainan! Aku mau main!"

"Belajar, ujian minggu depan."

"Iya, besok aku belajar, hari ini temani aku dulu!"

.

.

Itachi mengemudi motornya dengan kecepatan tinggi, seusai jam sekolah selesai, dia langsung mengambil tindakan yang mungkin akan ditertawakan oleh anak buahnya, namun Itachi tidak peduli, yang dia inginkan saat ini adalah membawa kembali hubungan yang membuatnya nyaman yang diciptakan oleh wanita yang bersekolah di sini, tempat Itachi menunggu Karin di depan gerbang.

Motor besarnya menjadi pusat perhatian, Itachi tidak peduli oleh tatapan orang-orang padanya. Dia menyalakan satu batang rokok sambil menatap intens pada lobi sekolah, mencari sosok Karin dengan kedua mata onyx nya.

Sampai dia mendapatkan sosok Karin yang keluar, kedua mata Itachi memincing untuk melihat dengan siapa Karin bercanda ria, Itachi memanas, dia mencengkram putung rokok yang masih menyala, Karin tertawa lepas dengan lengan laki-laki yang melingkar di lehernya. Tanpa pikir panjang, Itachi bangkit dan meninggalkan motornya untuk menghampiri Karin.

"Hahaha, tapi gaya permainanmu kan norak, Sui... kau yakin bisa mengalahkanku? Aku rasa tidak," ucap Karin sambil mengacak-acak rambut Suigetsu.

"Kau yang norak, karena kau norak, makanya kau selalu menang."

"Norak versi laki-laki, tapi kalau versi-" kalimat Karin terputus, langkah mereka terhenti karena diadang oleh sosok Itachi yang sangat tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

Kedua mata Karin terbelalak, menatap ngeri pada ekspresi Itachi yang seolah ingin membunuh Suigetsu, "I-Itachi..."

Reflek... Karin mendorong tubuh Suigetsu.

Untuk apa dia melakukan itu? Sedangkan Itachi dan dirinya tidak ada hubungan apa-apa.

"Apa ada masalah?" tanya Suigetsu dengan tenang.

BUG!

Seluruh siswi yang melihat adegan itu menjerit, Itachi tiba-tiba memukul Suigetsu hingga terpental. Karin menutup mulutnya menahan teriak, ketika Itachi akan menghampiri Suigetsu, Karin menahan tubuh Itachi.

"Apa-apaan kau!"

Itachi mencengkram pipi Karin memakai satu tangan.

Astaga, tenaga Itachi sangat kuat.

Wajahnya menakutkan, benar kata Sakura, Itachi menakutkan.

Itachi tidak mengatakan apa-apa, dia menarik Karin yang tidak lagi bersuara karena saking takutnya. Dia membawa karin dan menaikan Karin ke atas motor, ketika Itachi menyalan mesin, pergelangan tangannya dicengkram oleh seseorang.

"Bisa kau turunkan adik kembarku, Itachi-san."

Karin semakin terkejut ketika Naruto menghalangi Itachi.

Bagaimana bisa Naruto kenal dengan Itachi?

.

Sakura berlari ke gerbang karena mendapat berita yang sangat cepat dari mulut ke mulut. Wajah Sakura panik, dia berlari sekuat tenaga menuruni anak tangga, bahkan melompat beberapa bagian agar cepat sampai. Begitu sampai, dia melihat Suigetsu yang masih duduk di tanah sambil memegangi pipinya.

"Suigetsu! Apa yang terjadi?" tanya Sakura.

"Akh! Teman kakakmu gila!" kata Suigetsu sambil menunjuk sosok Itachi.

Kedua mata Sakura terbelalak ketika melihat Naruto yang sudah berdiri di hadapan mereka.

"Naruto," panggil Itachi, "kau berani menghalangiku?" tangan Itachi mencengkram kerah Naruto.

"Kalau untuk keselamatan adikku, apapun akan kulakukan," jawab Naruto.

Itachi menatap Naruto dengan dingin, Karin sadar tidak ada kata ampun dari tatapan laki-laki ini. Cemas akan nasib Naruto, Karin memeluk Itachi dari belakang, "Aku... aku akan ikut denganmu, lepaskan kakakku."

"Nii-san!" panggil Sakura.

Langkah Sakura terhenti ketika melihat ekspresi Itachi, lututnya gemetar, rasanya ingin sekali menangis. Di sini Sakura sadar, bahwa mereka telah bermain dengan api.

Naruto memundurkan langkahnya karena paham arti tatapan Karin yang memohon padanya, "Jangan pulang lebih dari jam tujuh," ucap Naruto pada Itachi.

Tanpa basa-basi, Itachi menyalakan mesin dan pergi dari sana, melewati Sakura yang wajahnya sudah pucat. Naruto menyadari kehadiran Sakura dan menghampirinya, "Apa yang telah kalian lakukan?"

"A-aku.. ka-ka-kami..."

"Pulang!" Naruto menarik lengan Sakura dengan kasar.

Ini pertama kalinya Naruto terlihat sangat marah.

.

TBC

.

A/N : Waaah, seneng ada yg suka BTS juga, akhir2 ini aku lagi suka lagu butterfly nya BTS, katanya sih itu lagu dibuat untuk orang2 yg berhasil lepas dari keinginan bunuh diri, hehehee, makanya aku suka banget lagu itu.

Nanti ada kok adegan giliran Sakura yang ngejar Sasuke nya ;)

Makasih yaaa kalian masih mau review di fict aku.

semoga sehat selalu.

XoXo

V3 Yagami