"Kak elo udah punya cewe?"

"Belum."

"Gw udah."

"Dan gw gak nanya."

"Kak gw kebelet kawin."

"Nikah dulu pe'a," Sasuke yang tadi menyandarkan kepala di punggung sofa single—menatap langit-langi— menoleh untuk menatap lekat kakak semata wayang yang sekarang tengah tiduran di sofa panjang. Acuh tak acuh membaca majalah remaja.

"Elo gak tahu sih, kids jaman now banyakan kawinan dulu baru nikah."

"Lalu, apa elo bakal ngikuti mereka gitu, elo itu manusia bukan binatang," sinis Itachi, mengalihkan mata dari majalah sejenak, hanya untuk memberi tatapan enek—menurut Sasuke—pada adiknya.

"Pakai tuh otak jangan hanya mikirin selangkangan. Nambah populasi aja. Rumpet tau, bumi cepet penuh dan imbasnya apa? Alam jugakan yang kehilangan eksistensi," Itachi mendadak ceramah membuat Sasuke bengong bentar.

"Ngomong sama orang kolot emang beda. Gak nyambung," dengus Sasuke, bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur.

"Biarpun semua orang jadi gila, tidaknya harus ada yang waras," Itachi masih saja ngoceh.

"Dan elo yang gila."

Dan sebuah bantal sofa mendarat mulus di wajah tamvan Sasuke. Pelakunya Itachi tentu saja. Sasuke melotot karena bibir gelas yang hampir sampai di mulutnya jadi meleset dan berakhir air putih dingin didalamnya menumpahi kaos biru gelapnya, baju kesayangannya pula. Itachi? Dia tidak perduli akan tatapan mematikan adiknya yang baginya tidak mempan sama sekali.

"Emangnya elo gak pernah denger istilah jadul? Ya elo orangnya."

"Sasuke, ayam kita udah nelur dibelakang." Ucap Itachi keluar dari topik, menatap jendela ruang tengah mereka saat mendengar kokokkan riuh ayam-ayam milik Uchiha.

"Tuhkan ayam aja udah tancap gas, padahal kita baru bahas tadi, tepatnya beberapa detik lalu."

"Somplak lo ya. Ambil keranjang sono, pungutin tuh telur."

"Elo aja sana, gw sih ogah," Sasuke ngacir ke kamar. Dia ngambek karena kakaknya belum ngizinin dia kawin. Dan malah kasih ceramah macam seorang saint. Mau bagaimana lagi, kakaknya orang tua tunggalnya saat ini. Jangan di tanya kemana bokap nyokapnya, tentu saja sedang bekerja. Kalian pikir apa.

Itachi masih nyantai. Dia sudah biasa akan tingkah nyolot dan semaunya milik sang adik. Pemuda ganteng itu bangun dari posisi santainya, memakai sandal dan pergi ke halaman belakang, tepatnya ke kandang Ayam. Bukan mau bertelur ya, apalagi kawinan, Itachi cuma mau memunguti telur saja kok. Setengah jam nungging-nungging, Itachi akhirnya mengeluarkan kepalanya dari bingkai kecil yang disebut pintu bagi para ayam. Itachi terlihat berbeda dari sebelumnya. Kini kepala ravennya bermahkota bulu ayam, makin ganteng saja pokoknya. Baunya? Jangan di tanya, tentulah bau Sasuke.

Kenapa Sasuke? Itu karena nama ayamnya memang di namai Sasuke oleh Itachi. Itu yang babon. Lain lagi yang jantan, namanya Itachi pemberi nama Sasuke. Alasan pemberian nama belum di ketahui, itu masih rahasia dua Uchiha fenomenal.

"Gw baru tau kalau Musang bisa bersikap manis seperti ini sama Ayam. Legenda udah berubah kali ya."

Itachi menoleh dan menemukan si kuning bermata biru samudera berkuncir dua sebahu anak tetangga teman sepermainan adiknya pamer senyum sejuta watt. Baru melihat senyumnya saja sudah serasa minum gula. Gigi Itachi mendadak ngilu.

"Sewenang-wenang lo ngubah legenda, emang mau di kutuk. Dasar curut kuning."

Si gadis mlongo, cengo.

"KAK GW BUKAN CURUT!"