(A/n) iklan sebagai referensi.
Hetalia punya Himaruya Hikadez
Cerita punya Kopi and Co
Penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari penulisan karya transformatif ini
XXXXX
EMIL POV
"Gini, gaes, waktu aku masih remaja..."
" Percaya loh~ sama yang udah kakek-kakek (cuit wiiit~ )" Ucapan Lukas yang ekstra siul-siul itu...
"Ba- BAKa aniiki! " Seketika ku lemparkan gulungan kertas ke arah Lukas aka Baka Tako itu. Dan Puji Tuhan! Kertasnya kena kepalanya " Harusnya yang lebih kakek-kakek dari pada ane adalah situ, kakak tersayang~ " Balas ku penuh penekanan di sana sini plus, ekstra embel-embel kakak yang bikin aku geli saat mengucapkannya.
" Ck, Adek lucknut. Mau ane kutuk jadi batu biar jadi batu biar kek legenda di timur sana?! "
Kampret doi malah makin ngegas.
" Ahaha jangan patung dong,~ nanti ganteng saya malah ter-abadi-kan- OH TiDaK ! Saya mencium bau-bau fangirl Aaa noooo " Ucapku panjang kali lebar kali extra dramatik ala roy kiyowoo.
" Demi Kerang ajaib pujaannya bikini bottom, Adek gue sarap gak ketulungan! Aaa Mein Gott! Hentikaan ke-gilaan ini!!! Aaaaa " Histeris si Lukas, eh padahal ane cuma bercanda kok malah jadi...
" Ahaha kak, ane cuma bercan- " Ucapanku tercekat ditenggorokan. Sebab detik berikutnya...
" Lu, tanggung jawab! " ( Lukas, narik kerahnya Mathias). " Gara-gara kamu. Adek ku jadi sableng. " Lukas pegang pundaknya Matias, menggoyang-goyang kannya sampai kepalanya Mathias goyang sana, goyang sini. Kebayang pusingnya kek gimana?
Bang Berwald auto pegang bahunya Lukas buat misahin, Bang Alpret narik si Mathias dengan Bang Ivan nyoba misahin duo berantem itu dari tengah.
" Plislah Jangan ribuuuut " Protes Alpret sambil narik-narik Mathias. " Wow yang diem aja! Bantu gue! Berat banget sumpah " Protes Alpret lagi
" Buset dah! Macam permen karet! " Kali ini aku dengar Bang Ivan protes.
" Ini udah Gue bantu, dodol! " Timpalan kali ini dari Bang Ber-Ber
" Masak aer biar mateng! "
" Cakep "
" Sumprit ini berat amat ! " Ucap Ivan mengakhiri pantun dia yang gak ada nyambung-mbungnya.
" Wuuuu gak nyambung! "
Massa pun mulai bergerak dalam rangka melaksanakan misi memisahkan kedua sejoli yang saling bunuh! ( Dalam kasus ini cuma Lukas yang mau ngebunuh. Kalo Mathias mah, pasrah/ pingsan.)
Aku juga mau ikutan berpartisipasi ngebantu. Aku mau jalan ke pusat kerusuhan.
" AW Aw ADAW Aw " Rintihku gegara sebuah tangan menjewer telingaku.
" Mein Gott! Baru ditinggal bentar dah kayak gini. Ish ish tak patut. " Komplain-an dari Gilbert tahu dah main nyosor aja ke telinga aku.
" Mentang-mentang lo tinggal pergi, terus ngomong sembarangan! " Entah dari mana Si Daniel udah metenteng kayak emak-emak.
" Lhah siapa juga yang omong sembarangan? " Ucap Gilbert.
" Dah ngomong sembarangan gak ngaku dasar kamu yaa~ " Sepertinya Daniel dah kzl. Terbukti dari omongannya yang kelihatan banget penekanannya.
Brak bruk brak (mereka berantem persis iklan permen di tivi-tivi.)
" Adaww aww aww " Rintihku makin meringgis gegara kena jeweran lagi.
" Aku dengar ini gara-gara kamu. Bener gak? " Tanya Dimitri super dingin ekstra aura-aura unggu serem.
Glek ( aku menelan ludahku kasar. )
Aku membalikan badan dan disitu aku bertemu dengan sosok manusia tesenyum manis bak malaikat namun ber-aura iblis di belakangnya.
" Ampun emaak~ " Pintaku pada Dimitri sambil bungkuk-bungkuk hormat.
" Sorry, nder. Kamu di hukum." Ucapnya singkat. Masih dengan senyum malaikat mautnya, tangan Dimitri bergerak terangkat. Aku auto tutup mata. Menunggu sesuatu yang terburuk (baca di jewer lagi)
Sedetik, dua detik, tiga detik.
Eh? Jeweran itu tak datang juga. Aku memberanikan diri mengintip melalui sebelah mataku. Tidak terjadi apa-apa. Dimitri masih senyum.
Aku pun membuka kedua mataku. Dan...
Puk ( Dimitri mem- poke dahiku)
Eh? Aku mengkejapkan mata heran. " Lain kali jangan diulangi ya ? " Katanya dengan nada keibuan senyumannya itu loh. Fix dah Dimitri emang aniki idaman.
" Kasihan kakak mu~ " Lanjutnya dengan nada iba, sementara tatapannya lurus ke arah tempat keruhan. Pancaran emosi di bola matanya sungguh lembut, cukup buat daku meleleh dibuatnya.
[Kak Dimitri, kamu aku rekrut jadi kakak ku aja yaa? Mau ya? ya? ] Teriak innerku yang nistanya malu-maluin aja.
" Dah sana, minta maaf ke Lukas gih " Ucap nya menyuruh aku. Tentu saja dengan lembut ala Oppa Dimitri style.
Tak ku pedulikan situasi rusuh di kanan, kiri, depan, belakang, apapun itu aku dah niat mau minta maaf ke baka tako yang sayangnya menjabat jadi kakak aku.
" Kakak~ Kyaa " Teriakku ala ala adegan film india yang di slow motion.
" Kyaaaa adeeek ue udah sembuh kyaaaa~ Sini sama Om " Balas kakak aku sambil lari-lari macam di film kuch-kuch khota hee.
" Kyaaa~ " Balasku senang sebab hati ini rasanya berbunga-bunga- eh tunggu
" Sini sama Om "
" Sini sama OM "
" Sama OM "
" Om-om (ohon hon hon) " (Kenapa tawa orang perancis itu ikutan terputar ? )
Otak ku memutar-mutar kalimat itu. Seketika tubuh Aku merinding disko. Dah mirip kayak kena siram air dingin. Aku auto berhenti berlari.
" Astojim. Demi loker davie Jones yang jonesnya gak sembuh-sembuh! Amit-amit. Gue kagak mau sama om-om! Nooo Fucking way! " Inner gue seketika berteriak, bergejolak, menyumpah serapah!
Aku yang terlalu kalut dalam lamunan pun terlambat buat mengatisipasi serangan pelukan teletabis dari penjahat yang mengaku Om-om yang sayangnya masih akak tercintah.
" Aaaah sini Om peluk " Ucapan aniki bikin aku gak enak, kzl setengah mati.
" Tidaaak! Tidaaak!~"
XXXXXXXXXXX
to be continue...
