Hetalia punya Himaruya Hikadez
Cerita punya Kopi and Co.
penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari penulisan karya transformatif ini
Peringatan : Panjang
XXXXXX
Emil POV
" Woi woi bangun! "
" Sahur-sahur! "
" Kagak bisa sahur ma~ ayamnya masih hidup. "
" Wakakaka/wkwkwkw "
Aku terbangun dengan suara-suara tidak jelas di sekitarku. Saat aku membuka mata, figur pertama yang mataku lihat adalah wajah kakak ku. Aku mengejapkan mataku. Sekarang pandanganku sudah lebih jelas.
Entah kenapa ada rasa khawatir yang terpampang jelas di mata kakak ku. " Dah bangun? " Tanyanya datar seperti biasa. Puji Tuhan! Ternyata tadi hanya mimpi.
" Sudah. " Kataku tak kalah datar. " Oh, kamu baik aja. Syukurlah. " Lanjutnya sok gak peduli. Sumpah aku dah hafal trademark nya dia. Dasar sok cool.
" Tumben tanya begitu ada apa, kak ? " Tanyaku. Yang di tanya malah buang muka ke arah lain. Seketika otak OOC ku dapat ide untuk mengoda abangku ini.
" Oh, abang meng-khawatir-kan ku ya?" Godaku sambil nahan untuk tidak senyum-senyum gaje.
" Hilih pede amat, amat aja gak pede. " Lanturnya.
" Itu Ahmad, bang. " Koreksi ku.
" Suka-suka abang dong! Yang bikin aja abang ya ter-serah ane. " Kilah Bang Lukas.
" Yaudah. As your wish. " Ucapku.
" Yaudah. " Ucapnya lalu memalingkan wajah. Detik selanjutnya aku peluk deh itu si abang Lukas.
" Bang apapun kilah abang, makasih ya. Makasih udah meng-khawatir-kan Emil. " Kataku. Bang Lukas membalas pelukanku.
" Siapa yang khawa- Samasama. " Katanya. Yah beginilah abangku, sukanya bohong. Lagi dan lagi. Abang yang gak pernah jujur sama perasaannya sendiri.
" Wadoo ada apa ini ? Pagi-pagi dah rukun aja. " Ucap sesorang menyadarkan kami. Dengan cepat aku langsung menjauhi Lukas.
" Waah aku lihat pertanda cuaca baik nih. " Itu yang dikatakan Vladimir. Mas-mas yang selalu menyinggung-nyinggung cuaca. Mas-mas asal Romania itu berkata sembari pamer senyum manis tapi rada menakutkan.
Akhir dari Emil POV.
XXXXXXXXXXX
" Oi jadi ke Cafe gak? " Semua mata tertuju pada Alfred yang barusan koar-koar.
krik krik krik
" Aduh! Sarapan, You know lah. " Katanya dengan suara cempreng yang khas.
" Ayo ayok "
" Bentar aku ambil dompetku dulu!"
Pagi ini semua pada berkumpul di teras depan. Menunggu umat yang masih ada urusan dengan koper-koper.
" Vee~ jauh gak Cafe nya? "
" Engak kok. Cuma dekat aja. Paling satu blok. " Jawab Dimitri santai.
" Uapah?! Satu blok itu jauh loh ! " Protes Alfred.
" Iya jauh karena kamu gemuk muwahahaha " Ejek Mathias sukses.
" Mathias ku bunuh kau sekarang juga " Ucap Alfred seram.
" Ve~ anggap saja GYM biar Kurus, ya kan Fredy~ " Goda Feli yang entah kenapa mode nge-gombal-nya yang biasa muncul pas deket sama cewek-cewek, sekarang ON.
" Kampret lu, Fel. Lu mau gua bunuh ? " Ucap Alfred yang kzl lantaran dibilang gendut.
" Lo berani sama adek gue... " Lovi melotarkan ancamannya dengan peragaan. " Yang ada lo... kekzz ( tangan membentuk gerakan memotong di depan leher) Gue habisin. " Ucapnya dengan aura mengerikan yang sebelas--dua belas sama Mafia Godfather.
" Err kagak kok... tadi bercanda, Lov. Seloow, kalem. " Ucap Alfred kicep.
XXXXXXXXXX
( Narator : Sekarang kita kembali kedalam pondok. Melihat apa yang di kerjakan para umat yang sibuk dengan koper. )
" Aduh aku lupa dimana naruh dompet " Ivan pagi itu.
" Udah kamu cari di tas punggung ? " Sugesti Daniel.
" Sudah da, tapi belum ketemu. " Ucap Ivan lemah.
" Aduuh kakak ini. " Ucap Nikolai mendramatisir. " Kemarin cari kunci sekarang dompet, kak aku ragu kalo kakak bawa dompet. " Lanjut Nikolai sambil memijit hidung.
" Maaf da. " Ucap Ivan lesu.
" Mau gimana lagi, ntar pake uangku aja. " Ucap Nikolai kemudian.
" Bang Berwald dah selesai belom? " Tanya Daniel lagi. Kali ini buat orang yang beda.
" Udah kok. " Jawab Berwald singkat.
Akhirnya mereka berangkat buat bergabung di teras depan.
XXXXXX
Arthur POV
Oh jadi ini Cafe nya. Gaya klasik. Owner-nya Cafe ini pasti orang yang berkelas, taman mini dan detail bagunan nya aja bagus gini.
Klinting Klinting
Aroma kopi yang hangat segera menguar begitu kami memasuki Cafe. Baunya masih berpadu dengan aroma roti yang jelas-jelas baru keluar dari oven.
" Pilihan tempat yang bagus, Van " Komenku pada Ivan.
Dari pintu kami pun langsung menyerbu meja panjang di pojok Cafe. Kami beruntung dapat tempat dengan view yang bagus. Tentu karena dekat cendela.
Setelelah dapat kursi, Kumparjo cs langsung saja ngobrol sana sini. Semua kelihatan larut dalam percakapan santai, tidak seperti aku.
Ku abaikan rangkaian kata-kata yang mereka yang terlontar ke udara. Aku lebih tertarik mengamati setiap sudut bangunan, mengamati dekorasi, mungkin? Atau aku malah mengamati pelanggan lain kemudian iseng men-deduksi mereka layaknya tokoh Sherlock ?
Waktu menunggu pesanan menjadi berkali lipat lebih lama di karenakan rasa jemu yang menghinggapi. Oh Good Mister Kirkland! Bahkan sekarang aku tak ada tertarik-tariknya untuk menyimak apalagi untuk ngobrol.
tak tak tak
Sudah berapa detik berlalu? Rasa bosan ini kian menjadi-jadi, tahulah rasa bosan itu kayak gimana apa lagi harus menunggu. Waktu sedetik rasanya kayak nungguin subuh sampai magrib. Dengan kesal aku meniup-niup poniku, memutar bola mataku... Ketika-
' Ya Lord, saya tidak bermimpi kan? Jika saya bermimpi, kumohon bangunkanlah saya dari mimpi ini ya Lord. ' Jerit batinku.
Kupejamkan mata dan geleng-geleng kepala agar gambaran yang barusan ku lihat itu hilang. Ketika ku buka mata, sama saja. Asli ini tidak hilang. Aku kucek-kucek mataku, tetep gak hilang.
Brak!
Saya secara mandiri men-sledingkan kepala saya ke meja. "Ya Lord~ Apes bener saya hari ini " Hati saya meratap.
" Thur, Kamu kenapa, oi ? "
" Kamu pusing ? "
" Eh jangan pingsan disini, plis "
Kuangkat kepalaku dengan ogahnya. Ku tunjukan senyumku yang biasanya. " Ah, maaf. Aku sedikit mengantuk. Ane gak papa kok. " Jawabku setanggap mungkin. Pokoknya jangan sampai ketahuan.
Obrolan lanjut lagi. Karena mereka gak dapat clue untuk mengkawatirkan aku. Saya bersyukur sebab, tadi itu hampir saja.
Setelah aku rasain pada acuh semua, aku curi-curi pandang ke arah orang yang ada di meja barista. Ku amati si orang ini, gestur-nya lah, gerak-gerik-nya lah, sampai style pakaian nya aku amati... Satu yang belum aku amati, wajahnya.
Ya iyalah, gimana mau liat wajahnya kalau dari tadi aku di kasih punggung terus-
"Eh ? Si doi berbalik arah " Kata otakku. Secepat kilat aku alihkan pandanganku ke objek lain, bisa gawat kalau dia tahu lagi di amat-amati. Ntar di kira mau nge- stalk.
Baru aja selesai deg-degan gegara takut ketahuan.
" Maaf, Ini pesanan... " Pelayan itu gak lanjutin kata-katanyan soalnya aku tahu.
" Lhoh, Arthur ada dua??! " Celuk Alfred dengan suara cemprengnya yang pas di telingaku.
" Kamu kok ada di sini, seh?? " Tanyaku yang aku akui gak kalah cempreng dari Alpret kampret.
" Kok kamu kenal sih, Thur ? "
" Siapa dia? "
Dah jelek semua. Ilang semua mood bagus aku. Sial! sial! sial! Kenapa mesti ketemu dia sih.
" Waaa dunia ini sempit ya, Thur ? " Ucap si pelayan aka Oliver ceria pake suara cemprengnya. (Berbeda denganku, suara cempreng-nya Oliver itu asli dari sononya mirip kek si Alfred, cuma lebih Annoying! )
" Iya. Aku sampai heran ketemu kamu di sini. " Ucapku datar.
" Waa Arthur~ kok datar banget sih? kamu lagi acting jadi robot ya? hihi " Katanya lagi bikin aku tidak bisa buat tidak memutar bolamataku.
" Arthur kalo lagi bareng kalian dingin kek gitu ? " Pertanyaan Oliver yang super duper kepo bikin alisku berkedut.
" Enggaklah! Arthur sukanya marah-maraaaah mulu wkwk " Langsung ku Sleding deh kepala si Alfred. " Sakit..." Rintihnya.
" Dah lah, Pulang pulang sana " Ucapku mengusir Oliver.
" Tuh kan, baru aja di bilang. Wkwk Terus terus dia bakalan berubah jadi Siluman "
" WOI! Gak baik ngomongin orang! Woi " Percuma aku gak di pedulikan. Protesku cuma dianggap angin lalu.
" Eh siluman? " Oliver binggung
" Kagak usah di teruskan WOi, Vlad! " Protesku
" ihihi... Iya siluman hihihi tepatnya siluman- "
" ULAT BULU! Wkwkwk " Sialan, semua pada ngucapin secara serempak layaknya anak TK yang baru di ajari sama bu guru.
" Waaa pintarnya anak Bapak! Awokwkwk " Selamat! Vampir gadungan itu malah memper-buruk suasana.
Cih! Mana ketawa semua lagi. Huh ini kan jahat baget. Senang diatas penderita an orang lain!
" Woi woi itu Gak beber anjer! Mana ada orang jadi ulat bulu ?? Heh mana ada! Imposebel ! "
" impossible. " Koreksi mereka.
" Iye iye itu maksudnya. "
" Iya aku yakin itu gak bener... " Wah Lukas mendukung ku tuh! Salut aku. Terharu hati haryanto ini.
" TaPI, keyakinan ku berubah sejak aku ketemu denganmu, Arthur ! " Kampret lu, Kas! Kagak jadi salut sama loh.
" HUwahahaha "
Semua tertawaan ini buat aku gila. Hayati tak tahan lagi, aku tak sanggup lagi mas! Bu Susi! Tenggelamkan hayati di lautan, plis.
Dengan gerakan cepat aku genggam tangan Oliver yang kebetulan lagi di meja. Kugenggam tangannya layaknya mengenggap tanggan pacar, (huek ) ku panggil namanya dengan lembut bak kertas amplas.
" Liv, apa salah Mas padamu, Liv? Sampai sampai kau tega mempermalukan abang mu ini, di depan teman-teman lagi hiks...hiks.. " Peduli setan! Aku dianggap cenggeng.
" Waa jangan nagis mas... Salahnya Mas banyak banget kok! Wkwk " Jawabnya santai. Si kampret olive oil ini lalu melepaskan genggan tanganku tanpa bisa aku gapai lagi.
" Anyway, bye bye Mas-mas sekalian, senang bisa ngobrol sama kalian bye~ " Dan dia pun kabur setelah membuat kami semua ter-benggong dengan tidak elitnya.
" Oh, Arthur~ Kasihan sekali nasipmu nak. Wkwkw "
" Diam kau, Mathias! "
" Ku usahakan~"
" Dan lo, Kas, kau menyebalkan sekali. "
" Ahaha terimakasih pujiannya. "
Ucapan Lukas yang kalem bikin moodku makin jelek. Aku pun cemberut dan memalingkan muka, tak sudi aku melihat muka dia. "
" Jangan marah lah, kami kan cuma bercanda. Peace " Halah ngeles lagi.
" Bercandanya jelek! Sleketep!" Ucapku cepat.
Semua tertawa, entah kenapa aku pun ikutan ketawa. Yah menang inilah yang bikin kita semua akrab. Saling ejek, usil, tapi saling memaafkan.
XXXXXX
" Thur. "
"Hm?"
"Aku meragukan fakta si Oliver itu saudara kamu. "
Kalimat pernyataan yang terlontar dari mulut Berwald itu hampir bikin aku tersedak teh.
" Kenapa? Bukankah kami mirip? " Kataku.
" Hm hm ya juga sih"
" Mirip ya? Hm hm "
Was wis wos (anggap aja komentar lainya)
Suara dengungan lebah terdengar lagi dari meja kami. Namun, aku mengabaikannya. Tepatnya mengaggapnya hanya sebagai backsound.
Pria berkacamata itu tidak mengubah ekspresi mukanya. Tetap datar sedatar kaca hp. Meski begitu, pria itu geleng-geleng kecil.
" Alasan ? " Tanyaku
" Well, kalian mirip, tapi ada sesuatu yang membedakan...kepribadian misalnya? "
" Saudaranya lebih... manis." Komen Yao.
" Oh itu... Dulu aku belum cerita ya? " Sekarang semua mata tertuju padaku.
" Belum. " Kata Vash kemudian menyeruput kopi.
" Well, untuk itu...Aku gak bisa menyangkal ato menyalahkan kalian. " Semuanya menyimak, aku men-sruput teh ku.
" Hei jangan pasang raut sedih begitu,kay ? Ini gak seburuk yang kalian kira percayalah! " Lalu aku tertawa garing untuk meng-cairkan suasana.
"(Ahem) Jadi habis pisahan, aku ikutan Papah. Nah si Olive oil binti pinky Jelek disana itu, ikutan Mami akueh. " Ucapku sambil nunjuk ke arah si cowok berambut strawberry blonde.
" Hm... masih belum percaya kamu saudaranya... Kalau sepupu sih... masih. "
Kali ini apa lagi? Daniel yang gak percaya. Uh baiklah " Kamu juga gak percaya, Dan? "
" Hm...tidak kurasa."
" What?! " Celuk ku spontan
Daniel kelihatan kaget " Err.. bukan gitu... aku percaya kok...hanya setengahnya masih belum. "
" Mami aku kan, orang Scotlandia. Si Olive itu emang mirip Mami sih. Jadi itu aja. "
" Ooo begituuuu " Ucap mereka mirip koor paduan suara. Dasar mereka ya, dah ku jelasin panjang lebar malah cuma komen kek gini, huh kan gak fair.
" Anjay kalian tuuu, komen nya masa begitu doang."
"Ooooh terus gue/ane mesti bilang WOW gituuu? " Seruan kompak satu komando itu bikin aku memutar bola mataku.
" Ok cukup. Kalian bikin aku kesel. " Ucap ku. Dan reader tahu apa yang mereka lakukan selanjutnya.
" YAAAY si Arthur sebel. HORE! " Celuk Peter yang lagi-lagi bikin aku kesel banget setengah hidup.
"We did it! " Apa-apan si Feli malah ikutan.
" HORE! "
Demi kapal selam U-Board yang hilang di samudera, sejuta topan badai halilintar! Mereka emang temen-temen ngeselin! Dimana mereka belajar bikin orang esmosi level pedas sepedas M.I.E GOR- ENG A-Yam GEP-REK ??!
Itu yang innerku katakan.Tapi apapun yang innerku katakan, itu gak ngaruh di real life, gaes. Kalau di real sih, yang aku lakukan cuma angguk-angguk, jariku aku ketuk-ketukan di meja, sekalian praktek nge-drum (awokawokwkw)
"Dah puas tertawa gaes? Ok kalo udah tolonglah hentikan membahas topik ini. Capek tauk, hayati lelah hati. " Ucapku melas. Yah aku dah bosan topik ini, masa dikit-dikit olive, dikit-dikit olive.
" Whooo wooo " Apaan si albino itu. Dah tahu dia kagak bisa siul, eh sekarang sok sokan.
" Apaan ? " Kataku judes tingkat dewa. Gak ada kejadian apa-apa. Si albino itu malah lirik-lirikan sama bang Dimitri. Apaan pulak dengan tatapan Gilbert yang seolah bilang Apa kamu berpikir seperti yang aku pikirkan?
Dan Dimitri membalas Gilbert lewat lirikan mata yang berkata " Oh, ya, tentu aku tahu. " Terus apa-apaan maksud lemparan senyum smik Dimitri ke albino bin kampret itu?
Eh- What de hell yang otakku pikirkan? Astojim apakah otakku sudah berubah jadi mesin meme-maker tenaga gabut ??! Kenapa juga di saat begini aku masih sempat mem-meme-kan tatapan mereka? Apakah aku tertular hobi kelamnya Daniel ? Omo omo ottoke Tidaaaak!
Untuk menguji apakan otakku masih normal tidak konslet, terterlontarlah sebuah pernyataan yang tidak ku duga keluar dari mulut ini.
" Whooo woo lirik-lirikan aja niiih, awas hatinya kesambet setan lope lope " Godaku. Semuanya minus aku langsung menatapku.
" Kok liatin aku sih? Lihat ke mereka dong " Tunjuku ke arah Albino baka itu.
Dan suwer reaksi mereka lucu banget! Gilbert natap aku horror gitu, Dimitri natap aku dengan polosnya yang seolah berkata -lah ada apa?-
" Eh Sumpah gaes kita gak ada apa-apa? Suer! " Ucapan Gilbert yang kelabakan itu bikin aku ngakak dalam hati.
" Gak ada apa-apa kok lirik-lirikan begitu~ " Terserah pokoknya aku komporin sekalian.
" Verdamm! Kagak ya. "
" Ooo Ini toh..."
" Pantes aja jonesnya gak sembuh-sembuh "
" Awokwkwkw film 13 Reason Why Lu Jones udah terkuak, Gaes! wkwkwkwk. " Batinku yang nistah sekarang sependapat dengan Alfred. ' Sip Al! Komporanmu cocok banget. Lanjooot! ' Teriak innerku.
" Huuuu Spoiler, Aru ! "
" AwokWokwkwkwkwk" Kali ini aku tertawa nistah bareng anak-anak. Tepatnya sedang menertawakan komenan cityzen dari kos-kosan hetalia ini.
" mwahaha mwahaha" Ini bocah(Daniel) kok tertawanya rada lucknut gitu sih.
" Gaes ini salah paham, gaes. " Gilbert bilang gitu sambil pasang muka kayak anak kecil yang gak tahan ngampet pipis.
Muwahahaha apa ini yang namanya pembalasan ? Rasanya manis karena bisa mbalas mereka yang mbuli aku.
Bagi yang belom, yang lain tunggu saja pembalasan dariku.
Akhir dari Arthur POV
XXXXXXXX
" Gaes? Kemarin itu malam sakral kumparjo diadakan gak sih? " Tanya Emil ke anggota kumparjo lain.
" Hm kemarin itu ya... Enggak kok. " Kata Vash.
" Gimana ngejelasinnya ya? Errr... Kemarin pas aku datang dari beli lilin, eh dah pada tidur. " Kata Dimitri.
" Jadi kita auto ikutan tidur deh, belanjaan-nya belum di apa-apain. Kemarin langsung ku taruh di meja. " Lanjut Gilbert menimpali.
" Oh begitu toh.. "
" Iya. Emil agak kecewa dengan acara yang gagal ya? " Tanya si Mathias yang tumben-tumbennya peka.
" Enggak kok, Mat. " Jawab Emil sambil sweat drop.
" Oh, Lha terus? Tumben banget loh, biasanya kamu kan acuh sama hal beginian? " Serang Mathias. Habis Mathias kepo sih.
" Well, semalam aku bermimpi ikut malam sakral. " Jawab Emil.
" Mau cerita, desu yo? " Teriak Peter yang mirip bocah TK.
Setelah mendengar apa kata Peter, otak Emil pun langsung memutar memori mimpi malam itu...
sini sama OM
sini sama OM
Kyaa sini Om peluk ohonhon
"Kyaaaa tidak! Tidak! " Jerit batin Emil. Secara tidak sadar Emil mengeleng-gelengkan kepalanya mirip kucing kebasahan.
" Maaf. Aku tak bisa cerita. " Kata Emil akhirnya.
" Yaaaa sayang sekali. " Kata Peter sedih, kemudian pasang raut cemberut.
XXXXXXXXX
skip time~
Kumparjo cs sudah selesai dengan acara makan pagi. Sekarang saat nya untuk membayar dan pulang. Namun, bagaimana bisa Kumparjo cs masih berada di Cafe ??
Flashback
Kumparjo cs datang ke kasir dengan mengutus Arthur, Alfred, dan Feli untuk membayar pesanan mereka.
Karena Arthur kebetulan kenal sama staff Cafe(padahal doi cuma kenal sama Oliver) ditambah duo AmeIta yang supel, jadilah mereka terjebak dalam Coffe talk di Cafe itu.
Kok yang anggota kumparjo lain setuju sih? Jawabannya karena salah satu staff Cafe itu bilang mau neraktir mereka. Jadi lah jiwa-jiwa gratisan personil kumparjo bergejolak! Tanpa babibu lagi mereka langsung setuju.
Flashback selesai.
" Uwaaah kenapa dari sekian banyak orang yang ku hindari... Kenapa harus kau berdua sih ? " Komplain Arthur hari itu.
" Takdir/Hitsuzen. Eh? ahaha" Jawab dan tawa mereka bersama.
" Ayolah, Bertemu dengan mu saja dah bikin kzl apa lagi ini tambah dia " Arthur yang bicara pada Oliver itu menunjuk Catherine.
" Wkwkw ada apa? Oww kamu kangen aku ya? " Balas Catherine santai.
" Ihir ihir CLBK ni yee " Cibir Alfred
" Waw inikah gebentannya alis tebal? " Komen Vash gak percaya
" Waaa berasa jadi obat nyamuk nih. " Cibir seorang Emil
" Pindah aja yok " Ajak Yao
" Gombalin, Thur! "
" Woi woi kalian salah paham. Siapa juga yang suka sama tante-tante macam dia ? " Ucap seorang Arthur Kirkland yang bikin Catherine kzl bukan main.
Gimana kagak kzl kalau lo masih muda, modis bin cantik gini dibilang tante-tante. Kagak terimalah. Perempatan imajiner pun muncul di dahi Catherine.
" Ohohoho Kalau aku tante-tante, berati kamu itu Om-om dong, Thur " Balas Catherine sambil naik-turunkan alisnya.
" Buwahahaha. Epik sekalee kwkwk "
" Akuilah kamu itu sudah Om-Om. " Lanjut Catherine.
" AH, hampir lupa bentar ya~ Aku ambilkan cemilanya. " Kata Catherine undur diri. Catherine pun masuk ke Cafe.
" Ahaha Om Arthur wkwkw " Canda Alfred sambil nyikut-nyikut Arthur beberapa saat setelah Catherine menghilang di balik pintu. Arthur mah jangan di tanya, dah merah padam.
" Jangan Om Arthur, Om Iggy lebih lucu. "
" Diam Kamu Peter! " Ucap Arthur garang.
" Lebih cocok lagi Tante Iggy hihihi." Kali ini Oliver menambahi sambil menahan tawa.
" Shut Up! Pinky lucknut! " Teriak Arthur dengan muka memerah. Tampang kzl-nya sudah ketara sekali.
" Om, Om, alisnya tolong dikondisikan. "
Ctak! Komentar yang keluar dari mulut Lovino sukses bikin sumbu pendek Arthur habis.
" Ku seperti bom atom siap meledaaak, karna mu~ uuuu "
Itulah petikan lagu yang cocok untuk mewakili suasana hati dan pikiran Arthur yang sedang terbakar kzl. Yup, lagu "Parasit " dari Gita Gutawa sangat highly recommended buat readers yang mau mendalami, bagaiman sih perasaan Bang Arthur sekarang.
" Demi jenggot kambing! Wedhus lo, No! " Sumpah si Arthur setelah mengebrak meja.
Tanpa meninggalkan meja, Arthur berdiri menghadap ke arah Lovino duduk. Matanya menggelap, aura ungu yang 11 12 dengan punya Ivan menguar dari tubuhnya.
" Lovino, lu mau gue sleding ato sleding mandiri hah ?! Kampret lo. " Tanya Arthur dengan suara demonic layaknya tokoh yandere. Tangannya udah main tunjuk-tunjuk muka Lovino.
Situasi makin tegang. Sementara muka Lovino udah pucat mirip mayat. Dengan gagap-nya Lovi minta ampun ke Arthur. Lovi bilang dia milih sleding secara mandiri. Tapi Arthur antara kagak terima permintaan maaf dari si Lovi ato gak setuju dengan pilihan jawaban Lovi. Intinya si Arthur makin ngegas setelah dengar jawaban Lovino.
" Buset! kampret mu malah semakin menjadi-jadi! Ni anak emang minta di sleding "
" Savar bang, savar. Ingat tempat bang. " Ucap Alfred yang berusaha meredam amarah Arthur.
" Kalem Thur. Kalem. " Sambung Yao.
" Kalem! Kalem pala lo peang?! Sumbu ku dah habis. W gak urusan sama yang lain! " Kata Arthur setengah berteriak.
Sekarang Alfred dan Ivan udah meggangin Arthur biar gak pergi dari tempanya. Mereka berdua maksa Arthur biar duduk
" Duduk Thur! " Ucap mereka biar si Alis itu duduk.
" Gak Mau! W mau nyeleding tu anak dulu! "
" Ih lu persis anak kecil. Tentu aja kagak bisa dodol. Berhenti merengek! " Ucap si Ivan pedas.
Si Arthur masih keras kepala aja. Dia masih gak terima di ejek Lovi. Arthur meronta dan misuh misuh gak jelas. Karena tidak tahan, akhirnya Vash ambil tindakan mengebrak meja.
Semua menoleh ke arah Vash. " Woi Thur! Udahan berantemnya. Kalo gak mau, FINE! Gak papa. Lapangan-nya masih luas. "
Vash berbicara begitu, tanpa peduli kanan-kiri. Dia bertindak seperti gak terjadi apa-apa.
Sementara Arthur langsung kicep. Mukanya pucat kayak Lovino. Seketika bahunya melemas akibat kemarahannya yang menguap di telan udara. Hal ini membuat Alfred dan Ivan lega, mereka berdua lepas, bebas dari tugas menahan Arthur agar tidak lari.
Setelah megamati gelagat Arthur yang bisa di pastikan tidak akan berulah, Vash pun membungkuk dan meminta maaf ke lainnya. Kemudian dia duduk dengan elegan-nya seolah ia sedang menghadiri acara pesta minum teh.
Sementara anggota lain tak terkecuali Oliver, melihat tingkah Vash dengan tatapan horror. Beruntunglah saat kejadian itu pesosisi mereka sedang menjadi satu-satunya tamu di Cafe itu. Sehingga situasi canggung pun tidak terlalu berpengaruh besar.
XXXXXX
to be continue...
(a/n) Terimakasih kepada para reader-san yang sudah menyempatkan diri memberikan review-review -nya. Sungguh! Review2 dari Anda sekalian membuat author terharu dan jadi semangat 45 untuk melanjutkan fic ini! (Yay)
